Eidelweiss
Romance
16 Dec 2025 17 Dec 2025

Eidelweiss

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (63).jfif

download (63).jfif

17 Dec 2025, 08:34

download (62).jfif

download (62).jfif

17 Dec 2025, 08:34

Aku duduk sambil menatap monitor, mataku dengan sigap menelisik deretan nama disana mencari hal yang ditanyakan wanita paruh baya di depanku.

"Maaf, bu. Sudah saya periksa namun memang tidak ada." ucapku menjelaskan karena wanita di depan ini menanyakan seseorang yang informasinya ada di rumah sakit ini.

"Coba tolong periksa lagi," ia menjedanya sebentar "Ana.. Tolong saya. Informasi yang saya terima begitu"

Aku tersenyum tipis karena wanita paruh baya ini memanggil namaku, tidak heran karena seluruh petugas disini menggunakan nametag "Mohon maaf, bu. Namun nama yang ibu sebutkan tidak terdaftar" Jelasku kembali untuk kesekian kalinya. Begini memang jika bekerja dibagian admin yang ada di rumah sakit.

Sudah terhitung 3 tahun lamanya aku bekerja disini, rumah sakit yang ada di kotaku yang dapat dikatakan kota kecil, dan tidak heran jika ada pertanyaan yang ditemui beragam seperti pertanyaan wanita paruh baya itu yang menanyakan keberadaan anaknya namun tak satupun ku temui nama itu di catatan kami.

Ku lihat wanita itu menghela nafasnya "Baiklah.. Terima kasih" sebelum ia melangkahkan kakinya.

Aku kembali mendudukkan diri pada bangku, sebenarnya aku rindu pada seseorang.

Seseorang yang telah berjanji untuk menunaikan niat baik kami. Aku percaya, kepergiannya untuk kebaikan kami.

Dia yang selalu berkata "Sabar ya"

Aku melihat jam yang melingkar dipergelangan tanganku sudah pukul setengah 4 sore itu artinya setengah jam lagi jam kerjaku akan segera berakhir dan aku bisa istirahat di rumah. Dan ini adalah hari sabtu, malam minggu.

Ponselku berdering tanda sebuah pesan masuk, menghela nafas ternyata pesan dari provider bukan seseorang yang ku rindukan.

Andrew, seorang pria yang berhasil mencuri hatiku. Menjalani kisah empat tahun lamanya lalu berjanji untuk menikahiku. Lebih tepatnya, kepergiannya untuk mencari pundi rupiah agar kami dapat bersatu.

Sudah ku katakan kepergiannya untuk kebaikan kami bukan?

Telah terhitung pula dua tahun kami menjalani komunikasi jarak jauh. Bahkan aku bekerja disinipun, untuk membantunya mencari uang agar kami dapat bersatu.

Awalnya aku tidak ingin menjalani hubungan jarak jauh, seperti kata kebanyakan orang. Long distance relationship hanyalah omong kosong belaka. Namun Ia selalu meyakinkanku dengan ucapannya "Kamu harus percaya"

Atau ucapannya "Aku pergi untuk menunaikan janji kita bersama"

Atau bahkan yang paling membekas diingatan "Aku pergi tidak dengan sebenar-benarnya. Aku akan kembali kepadamu"

Namun sudah sepekan ini ia belum memberiku kabar. Sebenarnya, ia memang jarang memberiku kabar dalam waktu dekat ini tapi aku memakluminya, bagaimanapun ia pergi untuk bekerja. Aku memilih mempercayainya.

Terlebih omongan tetangga yang selalu mengatakan tidak ada hubungan komunikasi jarak jauh yang berhasil, bahkan para tetangga sering membandingkan dengan kata-kata "Lihat tu si A, ternyata pacarnya selingkuh. Bilangnya pergi cari kerja tapi malah selingkuh"

Yang paling sadisnya "Pacaran tidak pernah bertemu, barangkali hanya mainan"

Juga jajaran para temanku selalu mengatakan "Tidak ada hubungan yang baik jika dia jarang memberimu kabar"

"Dia tidak memberimu kabar itu karena dia juga lagi sibuk sama perempuan lain" merupakan kata yang juga membuatku sedikit gelisah disini. Bagaimanapun kami sudah merencanakan pernikahan.

Bukan aku tidak pernah mengutarakan itu pada kekasihku hanya saja ia selalu memiliki kalimat penenang untukku yang berakhir aku memilih kembali mempercayainya.

Apakah aku sudah mengatakan bahwa aku begitu mencintai kekasihku itu? Yang anehnya belum memberiku kabar selama sepekan ini dan membuatku gelisah.

Jam kerja telah usai, saatnya aku bergegas kembali kerumah. Aku langsung merebahkan tubuhku lalu melihat notifikasi pada ponsel yang sialnya untuk kesekian kalinya tidak ku dapati kabar darinya.

Kalau dipikir-pikir hubungan ini melelahkan, juga rutinitas keseharianku yang melelahkan.

Tak lama ponselku berdering menampilkan nama yang kutunggu sejak sepekan ini, senyumku terulas dengan mengatakan "Halo"

Halo.. Sudah pulang kerja, sayang?" tanya suara di seberang yang kudengar masih sama.

Aku mengangguk seolah lupa yang tengah berbicara tak bisa melihat itu dengan cepat aku mengatakan "Sudah, sayang. Kamu sedang apa?"

Aku.." ia menjeda suaranya, sayup-sayup terdengar suara seperti seorang perempuan. Tapi siapa? Andrew tengah berbicara dengan siapa

"Sayang" panggilku namun belum kudapati jawaban dari seberang, seketika hening. Ku tarik ponsel dari telinga untuk memeriksa ternyata panggilannya masih terhubung.

Sayang, nanti aku hubungi lagi ya" ucapnya kemudian setelah hening dan memutus panggilan tanpa respon dariku.

Aku menghembuskan nafas lelah.

Begini, sudah dua bulan belakangan ini dia begitu. Meskipun sedari dulu ia memang tidak pernah romantis terhadapku.

Jika pacar kalian datang dengan membawa bunga atau coklat, jangan ditanya, Andrew tidak akan pernah membawakan itu padaku.

Jika pacar kalian mengajak kalian diner romantis, dengan berat hati aku tertawa miris. Andrew sama sekali tidak pernah membawaku terbang seperti kalian.

Tapi itu sisi romantisnya. Aku menyukai sikapnya yang begitu.

Menggelengkan kepala menepiskan segala pemikiran buruk yang terlintas di kepala, dengan merapalkan kalimat "Aku cinta Andrew, ia bekerja"

Dahulu aku juga pernah malam minggu bersama Andrew, malam minggu yang berjalan biasa saja. Hanya sekedar berbincang bersama.

------

Hari ini kembali seperti rutinitas biasa, bekerja. Aku berangkat menggunakan sepeda motor yang telah ku parkirkan. Hari ini aku sengaja datang lebih awal, karena ingin sarapan dulu di dekat rumah sakit karena tidak ingin sarapan di rumah.

Aku memilih memakan sarapan di pedagang kaki lima di sekitar rumah sakit, duduk sembari menunggu pesananku datang. Seorang pria, bernama Jason duduk di seberangku. Pria ini memerhatikanku yang ku balas dengan senyuman.

"Belum sarapan juga, Ana?"

"Belum, pak" jawabku

"Panggil Jason saja kita tidak sedang bekerja" balasnya dengan cepat yang hanya ku angguki. Jason adalah seorang dokter bedah yang belakangan ini mendekatiku, bukan aku baper. Dan aku bukan tidak tahu bahwa Jason sebenarnya menyukaiku namun aku memilih untuk menutup mata karena sudah bersama Andrew.

"Sepulang kerja ingin berkeliling kota?" tanya lagi dan seperti biasa maka aku menjawab

"Maaf, mungkin lain kali ya" tolakku halus dan untuk kesekian kalinya ia hanya mengangguk dan tersenyum lalu kami hanya diam.

Tak sengaja aku menatap sepasang remaja yang begitu romantis. Melihatnya aku jadi ingin, Andrew cepat pulang aku ingin seperti mereka.

Ah aku jadi ingat, dulu aku pernah makan bersama Andrew berharap kami melakukan hal romantis seperti pasangan lainnya namun untuk kesekian kalinya aku hanya tertawa miris. Mustahil.

Kata orang, perut kenyang hatipun senang tapi tidak denganku karena setelah sambungan telepon terputus kemarin hingga kini Andrew belum juga menghubungiku.

Ditambah dengan adanya suara perempuan disana, apa yang sedang terjadi?

Aku berjalan ke tempat dimana aku bekerja, melakukan hal yang seharusnya ku lakukan.

"Kusut banget tuh muka" ucap Tiara rekan kerjaku seraya menekuni ponselnya

Aku tertawa rasanya ingin menjemput Andrew pulang. Rinduku belum tertuntaskan. Bahkan aku sudah berusaha menghubunginya namun belum ada jawaban.

"An.. Kamu sudah putus ya?"

Aku menoleh "Maksudnya?"

"Andrew. Ini... Andrewkan, pacar kamu?" ucap Tiara sembari memperlihatkan ponselnya padaku

Aku mengernyitkan dahi melihat itu, mengerjabkan mata. Tak sadar mataku sudah berkaca-kaca. Apa maksudnya?

Foto yang memperlihatkan Andrew berkumpul dengan teman-temannya, iya tidak ada yang salah. Lalu apa maksudnya Andrew duduk bersama seorang perempuan dengan saling merangkul.

Memilih tak menjawab Tiara, aku menoleh pada ponselku yang terlihat sepi dan aman tak ada ku dapati satupun pesan dari Andrew.

Pantas saja.

Beberapa waktu ini ia tidak memerhatikanku, tidak memberiku kabar atau sekedar berbincang.

Faktanya ia sedang asik dengan dunianya.

Lagi, aku tertawa miris menertawakan suatu kebodohan yang sepertinya harus segera ku akhiri.

Aku berjuang melawan segala perkataan orang lain, tanggapan miring tentangnya. Namun disana? Ia bermesraan bersama wanita lain.

Inikah balasan yang setimpal akan kesetiaanku padanya?

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Tiara lagi yang ku balas dengan gelengan kepala dan senyum tulusku.

I'm not okay but i'm to be okay.

Segera ku ambil ponselku, membuka media sosial mencari fotonya dengan wanita yang tidak ku ketahui siapa namanya. Menutup segala akses agar ia tak bisa menghubungiku.

Yang sebelumnya ku kirim pesan dengan kalimat perpisahan dan juga alasan berakhirnya hubungan kami.

Dan satu fakta yang seolah menamparku, aku sama sekali tidak mengetahui apa pekerjaannya disana. Jangan salahkan aku karena tidak bertanya itu karena keengganan ia menceritakan pekerjaannya disana.

Ia hanya selalu mengatakan "Jangan khawatir pekerjaanku baik-baik saja". Ternyata jarak kami sejauh itu.

Aku menyerah.

"Ana.. Apa kabar?" ucap suara lembut yang mengalun merdu di telingaku menarikku dari daya ingatan.

"Eh, ibu. Sedang apa?" tanyaku terkejut melihat sosok ibu dari seorang yang kucintai, Ibu Andrew.

Ia tersenyum "Baru kembali jenguk teman, Ana bagaimana kabarnya?"

Aku kembali melukiskan senyum "Sehat, bu. Ibu juga sehatkan?" tanyaku yang dibalas anggukan dan senyuman tulusnya.

"Sudah lama tidak main kerumah ya. Nanti kerumah ya? Ibu masakin makanan kesukaan kamu. Kemungkinan Andrew lusa pulangkan"

Aku tersenyum "Ana tidak janji ya, bu. Ana usahakan karena sedang banyak pekerjaan" Dan bahkan aku sendiri tidak yakin akan sudi datang kerumah itu terlebih bertemu dengan Andrew. Ia menghianatiku bu. Tentu saja itu hanya mampu ku sebutkan dalam hatiku.

Setelah itu ibu Andrew pamit kembali dan aku dengan senang hati mempersilahkannya, karena jika tidak aku takut lepas kendali dan mengatakan sesuatu yang buruk padanya akibat prilaku anaknya yang berkilah bekerja sembari menghianatiku.

-----

Selepas keputusanku untuk menyerah pada hubungan kami aku tidak baik-baik saja. Tentu saja aku bersedih, hubungan yang telah kami jalani harus berakhir dengan adanya pihak ketiga.

Kabar yang disampaikan ibu Andrew benar adanya, ia kembali.

Bahkan saat itu ia tidak memberikanku kabar akan kembali. Ia memang mengunjungiku tapi aku melakukan segala penolakan untuk bertemu dengannya.

Aku belum siap. Nyatanya hatiku masih selalu memihaknya.

Pintu kamarku diketuk menampilkan sosok yang teramat ku cintai masuk

"Bagaimana pekerjaan kamu?" tanya ibuku

"Baik, bu"

Ku lihat ibuku tampak mengatakan sesuatu namun ragu "Katakan saja, bu"

"Andrew sudah pulang" ucap ibu membuka percakapan kami dan langsung ku angguki

"Tadi dia kesini, ingin bertemu dengan kamu. Katanya ada yang ingin di jelaskan padamu"

Aku tahu apa yang ingin di jelaskan olehnya tapi rasanya hatiku sakit, aku sudah terlalu dalam mencintainya tapi ia...

"Dia menghianati Ana, bu" cicitku pada ibuku lalu memeluknya bahkan tak sadar aku menangis di pelukan ibuku.

Ini sangat menyesakkan dan aku tidak menyukai perasaan ini.

"Sudah meminta penjelasan padanya?" tanya ibuku sambil merenggangkan pelukan kami. Aku menggelengkan kepalaku dan ibu membantuku mengusap lelehan air mataku.

"Cobalah temui Andrew besok dan meminta penjelasan padanya" saran ibuku.

Haruskah?

"Tiana anak ibu yang bijak, kan?" tanya ibuku tampak tersenyum "Ibu ingat dulu semasa kecil teman kamu pernah berebut mainan lalu kamu menengahi mereka agar tidak bertengkar dengan memberikan solusi menggabungkan mainan bersama dan main bersama" ibu menjedanya dan menatap ke arahku "Ibu yakin kamu bisa mengambil keputusan yang lebih bijak." tambahnya lalu meninggalkanku sendirian di kamar.

Benar-benar sendirian, hanya berteman dengan luka yang menganga ini. Aku mencintai pria itu namun kenapa seperti ini?

Tapi apa itu artinya ibuku menyuruhku menemuinya dan menyadari keputusanku itu juga salah. Aku memang belum mendengar penjelasannya, aku akui itu.

Tak sengaja mataku menangkap bunga pemberiannya padaku semasa dulu awal ia mendaki gunung bersama teman-temannya, mungkin di awal masa pacaran kami.

Bunga Eidelweiss.

Pria itu selepas pulang langsung menemuiku hanya untuk memberikan bunga itu, ia berucap "Kamu tahukan bunga ini?"

"Eidelweiss, orang juga menyebutnya bunga Abadi, kan?" balasku

Ia mengangguk dan tersenyum "Aku hanya berharap semoga cinta kita tetap abadi. Aku pamit pulang ya"

Sialan kamu Andrew! Bisa-bisanya aku tetap memikirkanmu disaat luka yang kamu torehkan ini belum terselesaikan.

----

Tidak dapat dipungkiri percakapanku dengan ibuku sangat mempengaruhi pikiranku.

Aku memang harus mendengarkan penjelasan Andrew terlebih dahulu sebelum memutuskan segala sesuatunya agar tidak menimbulkan penyesalan di akhir nanti, juga sepertinya aku juga masih terlalu dalam mencintainyanya.

Atas dasar itu, kini aku telah duduk di teras rumahku bersamanya, Andrew yang baru saja kusuguhkan teh bahkan cangkir itu masih mengeluarkan kepulan asap. Udara malam ini cukup dingin, sepertinya akan segera hujan padahal waktu masih menunjukkan pukul 7 malam.

"Sayang" panggilnya membuka percakapan yang memang sudah 30 menit terdiam. Pangilannya masih sama, masih juga membuat hatiku bergetar.

"Jadi apa yang mau kamu bicarakan?" aku menjedanya "Aku tidak punya banyak wak.."

"Kamu salah paham." potongnya dengan cepat

Aku langsung menoleh ke arahnya, salah paham kalau dia tidak hanya merangkul wanita lain, begitukah maksudnya.

"Yang pertama, aku ingin memberimu kejutan makanya tidak menghubungi kepulanganku. Dan aku tidak memiliki hubungan apapun dan dengan siapapun. Hanya kamu" jelasnya

Aku berdecih "Lalu? Kamu mau mengatakan kalau kamu tidak sengaja bertemu perempuan itu begitu"

Tatapannya melembut ke arahku "Dengarkan dahulu, setelah itu kamu boleh memutuskannya"

"Jadi maksud kamu memang ingin mengakhiri ini semuakan?"

Ia menggeleng dengan cepat "Tidak begitu, aku hanya ingin menjelaskannya dulu. Kamu salah paham."

"Aku minta maaf, mungkin belakangan ini kita kurang berkomunikasi" tambahnya

"Sudahlah, Ndrew. Aku bahkan tidak mengetahui calon suamiku disana bekerja apa"

Ia memegang tanganku yang segera ku tepis, ia menghela nafasnya sebelum bercerita "Jadi sebenarnya disana aku bekerja sebagai supervisor di sebuah gudang pemasaran produk kosmetik yang cukup ternama. Aku tidak mengatakannya padamu karena aku takut kamu semakin salah paham, aku tahu kamu adalah wanita pencemburu." ia menatap ke arahku yang ku balas menatap ke arahnya.

Iya tepat sekali itu, aku cemburu. Tapi tetap saja siapa perempuan yang dirangkul itu?

"Aku tahu, sekarang bukan itu pertanyaanmu. Mengenai perempuan itu, ia salah satu karyawan disana juga yang tidak sengaja baru putus dari pacarnya dan berencana akan bunuh diri. Jadi kami menolongnya. Bahkan kamu mungkin pernah mendengar suaranya saat aku menghubungimu, itu karena ada kendala di pekerjaan."

Aku tertawa remeh, itu jelas sekali berbohong "Andrew, kalian sedang berkumpul disalah satu tempat makan. Lalu kamu merangkul wanita itu, apa aku harus percaya?" balasku tak mau kalah

Ia menggeleng "Benar kami berkumpul. Tepat saat itu ia ingin bunuh diri. Sebagai rekan kerja, apakah aku akan membiarkannya mati begitu saja?"

"Tetap saja. Aku..." aku kehabisa kata-kata, karena jauh dalam lubuk hatiku berteriak ingin kembali kepelukannya tapi aku cemburu.

"Komunikasi kita memang buruk belakangan ini tapi itu murni karena pekerjaan dan kendala disana. Bukan karena wanita lain." ia menggamit tanganku namun kali ini tidakku tolak dengan tatapan memohon ia melanjutkan ucapannya"Beri aku kesempatan ya"

Tentu saja. Tapi, mungkin sedikit memberinya pelajaran boleh juga.

"Aku akan memberimu kesempatan dengan satu syarat" ucapku dengan menyeringai

Ia mengerutkan glabelnya "Apa?" tanyanya

Aku menahan tawa melihat ekspresinya "Buatkan 1000 candi dalam satu malam" pintaku

"Hah?" ia melongo di tempat sebelum berucap " Imposible . Kamu pikir aku Bandung Bondowoso?"

Lagi, aku menahan tawa saat ia menyebutkan karakter laki-laki di dalam dongeng roro jonggrang.

Aku mengangkat bahu acuh "Ya sudah, kalau kamu tidak ingin kuberi kesempatan"

Ia tampak gelagapan "1000 candi?" tanyanya dan aku mengangguk.

"Dalam semalam?" tanyanya lagi dan aku mengangguk

Bahunya yang tegap menjadi lemas, ya ampun lucu sekali dia. Kira-kira apa yang akan dia lakukan ya? Ah aku tidak sabar.

"Besok pagi sebelum aku berangkat bekerja kamu sudah harus sampai disini. Siap?"

Ia menghela nafas "Kalau tidak bisa bagaimana?" ah ternyara Andrew belum patah semangat, ia ingin bernegosiasi ternyata. Tidak akan kubiarkan. Biarkan saja ia kelimpungan memikirkan itu, lagipula itu hukuman untuknya.

"Aku akan memikirkannya besok" tutupku pada akhirnya dan ku lihat ia mengangguk lalu mengusap puncak kepalaku

"Baiklah. Aku pamit pulang" ucapnya melangkahkan kaki lalu kembali berjalan ke arahku lalu berkata "Tapi buka dulu blokirnya ya, Sayang" dan ku balas dengan dengkusan.

Apa yang akan dilakukannya besok ya? Membayangkannya saja sudah membuatku tertawa

Seperti ucapanku tadi malam, Andrew benar-benar datang di pagi hari sebelum aku berangkat bekerja.

Tapi ada yang aneh, wajahnya kenapa cerah sekali?

Tersenyum dengan sumringah menghampiriku dan berkata " I'm coming kesempatan!" sapanya kelewat bahagia

Mau tidak mau senyum itu menular padaku "Pede sekali" cibirku

"Tentu saja. Ini yang kamu mintakan, Sayang" ucapnya dengan menekankan kata sayang dan menunjukkan maha karyanya yang membuatku seketika terbahak.

Kalian tahu apa? Ia menggambarkanku gambar seribu candi di dalam sebuah kertas berukuran jumbo.

"Coba kamu hitung, pasti ada seribu." ucapnya dengan menaik turunkan alisnya "Beruntungnya aku memahami kalimat perintahmu 'buatkan', makanya aku membuat gambar coba kalau kamu bilang bangunkan bakalan ribet dong" tambahnya

Dan membuatku tidak habis pikir dan terus tertawa, aku bahkan tidak seserius itu menyuruhnya. Hanya ingin mengerjainya. Andrew diluar ekspektasiku!

"Lalu kita jadi menikahkan, sayang?"

Aku tertawa lalu mengangguk "Tapi antarkan aku kerja dulu ya" pintaku lagi dan ia langsung berlari ke arah motornya dan memakaikan kepalaku dengan helm.

Ah.. Aku sungguh begitu teramat mencintainya pria ini.




End



Kembali ke Beranda