Kisah Enam Orang Buta Melihat Gajah
Folklore
17 Dec 2025

Kisah Enam Orang Buta Melihat Gajah

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (95).jfif

download (95).jfif

17 Dec 2025, 12:48

download (94).jfif

download (94).jfif

17 Dec 2025, 12:48

Seorang wanita duduk di pelataran rumahnya, sepi. Itulah yang ada. Sebab kedua orang tuanya telah pindah.

"Sepi sekali disini, dulu enak ramai semua berkumpul"

Ditelinga kirinya berbisik "Sudah kamu mati saja, pasti tenang"

Iya, ya apa aku mati saja . Ucapnya dalam hati lalu menggeleng usai tersadar.

Nickyta, begitu mereka menyebutnya. Sosok gadis cantik yang ramah juga baik hati. Siapa saja yang mengenalnya, pasti akan nyaman berteman dengannya. Tapi dibalik itu, ada suatu kisah yang sampai saat ini membekas diingatannya layaknya sebuah rekaman yang terus dia simpan.

Mira dan Ardi, mereka adalah sepasang kekasih yang telah menjalin kasih sejak duduk di bangku SMP. Jarak rumah mereka berdekatan, dengan kata lain mereka tinggal di desa yang sama. Meski hubungan mereka tidak direstui, nyatanya hingga kini mereka masih menjalin kasih.

Ardi berasal dari keluarga yang kaya di desa itu sementara Mira dari keluarga sederhana. Mungkin, dengan dalih seperti itu mereka tidak direstui. Sebagai ibu Mira, Tira tidak ingin Mira mengalami kesulitan jika ia tetap memaksakan bersama Ardi tanpa restu di keluarga Ardi.

Pernah suatu hari Mira dikirim ibundanya mengungsi ke suatu tempat yang cukup jauh dari desanya guna memisahkan ia dengan Ardi.

Mereka sempat beberapa kali berjauhan, di tempat yang jauh mereka akan memiliki pasangan masing-masing juga memiliki kehidupan masing-masing namun jika mereka kembali, maka mereka juga akan kembali menjalani kisah mereka kembali. Begitu seterusnya.

Dulu saat Mira kembali di desa pernah memiliki kekasih lain, karena ia berpikir mungkin ia tidak bisa bersama dengan Ardi tapi nyatanya Ardi tidak bisa menerimanya, ia mengancam setiap lelaki yang menemui Mira. Semenjak saat itu pula tak ada satupun pria yang mau menemui Mira. Dan Mira akan selalu bersama Ardi.

Kini mereka sudah menikah, tahun pertama di pernikahannya cukup sulit untuk Mira karena Mira ikut tinggal bersama mertuanya, ibu dari Ardi, Tika sebab Tika tinggal sendirian. Sementara ayah Mira meninggal 2 hari kemudian setelah Mira dan Ardi menikah.

Setelah menikah mereka tetap menjadi pasangan yang harmonis, perekonomian lancar bahkan bisa dikatakan berlebih.

Tapi dibalik itu semua, ada sesuatu yang disimpannya.

Pada mertuanya, Mira tidak boleh makan sebelum menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Meski menahan peluh akibat lelah ia tetap melakukannya.

Bahkan ia pernah menyapu rumah tapi disapu kembali oleh ibunya.

Yang lebih menyakitkan ketika ada seorang perempuan yang bertandang kerumahnya, yakni suka pada Ardi dengan profesi bidan.

Tika dengan ramahnya menyapa "Eh ayo masuk.. Sudah makan belum?" Sementara Mira belum makan dari pagi.

Dwi, adik dari Ardi. Mira dan Dwi merupakan sahahat baik semasa sekolah. Dwi juga merupakan adik Ardi. Tapi semenjak Mira dan Ardi menikah, Dwi menjadi tidak menyukai Mira, sifatnya yang terlihat memusuhi membuat Mira enggan bercerita keluh kesahnya.

Kabarnya, Dwi tidak menyukai keharmonisan yang terjadi pada sahabatnya. Ia merasa tidak adil karena memiliki suami yang pemarah, pemabuk juga suka main perempuan dan tidak ingin bekerja. Selain itu, salah satu tetangga mereka juga ada yang iri pada keharmonisan rumah tangga Mira dan Ardi.

Beberapa tahun telah terlewati, Mira dan Ardi dikarunia 2 putri cantik. Anak pertamanya bernama Nickyta dan adiknya bernama Zahra. Saat itu Nickyta telah berumur 8 tahun dan Zahra 2 tahun. Semenjak saat itu, ujian rumah tangga mereka mulai diuji.

Ardi yang semula bersikap sangat baik berubah menjadi pemarah dan arogan, masalah kecil selalu diperbesar hingga terjadi pertengkaran hebat antara keduanya. Jika Mira atau Nickyta melakukan sedikit kesalahan saja, Ardi marah besar dan bisa memukuli mereka, mata dan hatinya tertutup untuk mengiba kasih pada keluarganya.

Tidak sampai disitu, pernah Mira dan anak-anaknya tidur di dapur tanpa alas. Juga sering diusir oleh Ardi. Tapi keesokan harinya maka semua akan kembali seperti semua tanpa pernah terjadi apa-apa begitu seterusnya.

Saat itu hanyalah pancaran amarah benci yang dilakukan Nickyta pada ayahnya karena selalu bersikap kasar pada mereka terlebih pada ibunya.

Anak mana yang tidak sakit hati. Bukankah cinta pertama seorang wanita adalah ayahnya? Namun pria itu pula yang menorehkan luka dalam padanya juga ibunya.

Hingga Nickyta telah tumbuh menjadi wanita yang cantik. Selama itu pula ia selalu meyakini bahwa ayahnya adalah orang yang baik. Saat Nickyta memasuki bangku SMA perlahan amarah ayahnya mulai mereda hingga akhirnya ia lulus SMA. Kemudian berlanjut kuliah, namun tiba-tiba ayahnya mengatakan akan pergi merantau ke Jambi tanpa tahu alasannya namun tekadnya sudah bulat ingin pindah kesana.

POV Nickyta

Sekitar satu tahun ayahku pergi merantau ke Jambi, ibukupun ikut ke jambi. Kemudian setelah dua tahun adikku juga ikut ke Jambi. Kini menyisakan aku seorang diri dirumah.

Namun dari sinilah kisahku dimulai, kejadian-kejadian aneh mulai kurasakan. Mulai dari sakit perut, sakit kepala hingga kurang darah padahal semula aku selalu sehat. Juga ibuku mengatakan aku sedari kecil tidak pernah sakit-sakitan.

Tapi aku selalu meyakinkan diriku bahwa ini semua baik-baik saja, mungkin memang kondisiku yang kurang sehat.

Singkat cerita, aku sudah duduk di semester delapan perkuliahan menyusun skripsi sembari bekerja di salah satu kantor pemerintahan. Disini banyak persaingan untuk saling menjatuhkan satu dengan lainnya.

Di sini juga aku bertemu dengan seorang perempuan bernama Sekar. Sekar adalah teman sekantorku yang berperilaku semena-mena, sombong hingga angkuh, suka marah-marah hingga apapun pekerjaan serba salah dimatanya, jika kita membela diri ia akan mengata-ngatain kita secara fisik dan materi. Belum lagi dia suka melabrak orang jika ia tidak suka.

Iuhh... Sungguh menyebalkan!

Tapi anehnya, semua atasan terlihat tunduk seolah itu bukanlah masalah sehingga ia merajalela.

Ia pernah mengatakan "Silahkan adukan ke bapak, memangnya apa yang bisa dia lakukan padaku?"

Iuhh... Sudah aku katakan dia memang semenyebalkan itu.

Hingga suatu hari kami, aku dengan dua orang temanku, Dila Dan Dara bertengkar dengannya diluar kantor. Karena memang sudah tidak sepaham, tidak suka melihatnya berprilaku buruk.

Bibirnya yang di poles lipstik merah bak biduan itu memaki-maki kami, cacian kata pedas dilontarkan padaku sambil menunjuk-nunjuk mukaku. Sejatinya aku juga manusia biasa yang memiliki batas kesabaran.

Namun lagi dan lagi atasan kami semua seolah takut dan tunduk pada Sekar. Hanya kami -Aku, Dara dan Dila- yang berani. Muncul ide gila di kepala kami untuk pergi ke dukun untuk menjawab rasa penasaranku. Kebetulan aku punya saudara yang memiliki kemampuan khusus. Sekali lagi, dari sini menghantarkanku pada suatu rahasia.

Nando, selaku kekasihku yang kebetulan di kotaku ada janji temu denganku. Maklum jarak rumah kami cukup jauh, sekitar 2 jam perjalanan. Ikut bersama kami.

Sampai disana, ternyata dia sudah meninggal. Jujur aku tidak tahu perihal ini.

Tiba-tiba Nando berkata "Bagaimana jika kita kerumah bibiku saja?" Tawarnya pada kami.

Kami sempat berpikir sejenak namun mengiyakan. Tiba disana kami sedikit berbincang hingga menyampaikan masalah yang sedang kami hadapi. Bi Tari, berprofesi dokter bedah yang memiliki kemampuan khusus.

"Anehnya, Bi. Semua atasan tidak ada yang berani padanya." Ucap Dila dengan menggebu, aku mengangguk mengiyakan

Bibi itu tersenyum singkat lalu berkata "Iya, selama ini dia menggunakan susuk semar mesem sehingga tidak ada yang berani membantahnya"

Kami semua terkejut, "Astaghfirullah..." Ucap kami berbarengan saling pandang

"Setiap malam ia selalu mandi bunga juga memandikan krisnya sembari menyebut nama mangsanya" tambahnya yang membuat bulu kuduk kami meremang seketika.

Lalu tatapan bibi itu beralih padaku, tatapannya cukup dalam hingga ia mengatakan "Aku kasihan melihatmu, orang tuamu sering bertengkar, bukan?"

"Hanya hal kecil tapi dibesar-besarkan, orang tuamu pernah ingin berceraikan?" Tambahnya

Dengan spontan aku langsung menjawab "Iya. Kok bibi tahu?"

Lalu ia tersenyum, "Mau aku beritahu rahasia?"

Aku menaikkan alisku tanda tidak mengerti maksudnya. Kenapa ia bisa tahu namun aku hanya mengangguk.

"Banyak yang iri pada keluargamu."

Dalam hati aku bingung, ada apa dengan kami.

Kemudian bibi itu kembali berucap "Di rumahmu, sudah di guna-guna orang. 3 orang yang membuatnya dan sudah 3 tempat yang sudah di tanam. Pelakunya orang terdekatmu, saudaramu. Mereka ingin menghancurkan keluargamu. Mempermalukan keluargamu, menghabisi keluargamu. Dan mereka juga ingin membuatmu gila, menutup auramu agar tidak menikah sampai tua sekalipun. Bahkan pikiranmu mudah berubah-ubah, satu menit begini dua menit begini. Tanpa sebab bisa menangis, merasa hidup tidak berguna. Berujung kamu lampiaskan pada Nando, kamu marah-marahin dia, segala amarah yang ada di dirimu kamu lampiaskan padanya." Jedanya sambil ia meneguk teh di sampingnya

"Kamu meminta putus sama Nando, padahal kamu sayang sekali padanya. Tapi hatimu selalu berkata, udalah tidak usah menikah sampai tua. Benar tidak?" Tanyanya

Sungguh aku terperangah mendengar penuturannya. Aku bahkan belum mengucapkan satu katapun.

Aku mengangguk "Iya benar, Bi. Semuanya benar" Jawabku

"Baiklah, nanti kamu bibi syaratin. Mulai sekarang jangan seperti itu lagi. Jika bibi lihat dari bintang kalian cocok, kemanapun kalian pergi bahkan ke lubang semut sekalipun, tetap Nando yang pas untukmu begitupun sebaliknya" jelasnya kemudian

Mendengar ucapan di kalimat terakhirnya aku tertawa kecil, tak ayal aku saling curi pandang pada Nando.

"Jadi mereka hingga kini masih mengganggu kami ya, bi?" Tanyaku

Bibi itu mengangguk "Syukurlah orang tuamu sudah pindah, jika masih disini mungkin akan pecah perang. Bahkan salah satu dari mereka akan sakit parah."

Lagi, aku belum mengatakan apapun mengenai keluargaku tapi ia sudah tahu orang tuaku pindah.

"Tapi apa salahku dan keluargaku, bi?"

"Tidak ada. Hanya mereka iri pada keluargamu."

Kami sedikit berbincang-bincang, kamipun bergegas kembali karena jarak yang lumayan jauh untuk ditempuh.

"Sebaiknya kalian pulang saja. Besok kembali lagi, bibi tunggu jam 2 ya" pesannya sebelum kami pulang.

Keesokan harinya kami berempat kembali, sedikit berbincang.

"Tadi malam bibi sholat tahajud, saat bibi berdzikir bibi di datangi makhluk itu. Wujudnya tinggi, besar, hitam dan berbulu. Dia marah pada bibi karena ingin membantu keluargamu. Dia mengatakan bahwa jangan ikut campur, itu bukan urusanmu tapi bibi tetap melanjutkan dzikir itu."

Kemudian aku diberikan tangkal berupa 2 buah bambu kuning yang di tanam di belakang dan depan rumah. Mencari aman agar tidak terlihat orang kami menanamnya pada tengah malam.

Ajaibnya usai kami tanam, selang 5 menit terdengar bunyi letusan yang kuat baik dari depan maupun belakang. Akupun lega, mungkin setelah ini akan tenang tanpa gangguan.

Namun aku salah, setelah 3 atau 4 bulan kemudian gangguan itu kembali. Bedanya, saat ini lebih peka. Di telingaku seperti ada bisikan seperti jangan tidur, jika ku lanjutkan maka aku akan ketindihan.

Hari itu aku yang lelah sepulang kerja sekitar pukul satu siang bermain ponsel hingga ketiduran. Aku sering ketindihan tapi kali ini berbeda.

Aku ingat posisi tidurku miring ke kanan menghadap arah jendela. Ketika aku ketindihan mukaku berasa ditutup ingin membuka mata tapi tidak bisa.

Suara nafas menggeram terdengar di telinga "khkhhkhh"

Doa dan segala upaya ku lakukan tapi sia-sia. Beberapa saat aku bisa bergerak membuka mata, ternyata sudah pukul 3 sore. Seluruh tubuhku meremang menghantar sensasi mengerihkan ditubuh.

Ku tatap tangan dan kakiku menghitam bagai terkena arang. Aneh.

Ponselku berdering menampilkan panggilan video dari Nando yang segera ku angkat.

Aku menceritakannya diapun menasehati untuk sholat ashar yang saat itu sudah memasuki waktu sholat.

Saat aku ingin memulai sholatku, terlihat dari ekor mataku sosok itu. Sosok hitam, tinggi dan besar berada di depan pintu kamarku berlari ingin menerkamku tapi seoalah tak bisa, tak sampai padaku.

Desau angin membuat buluku naik ditambah keringat dingin membanjiri tubuhku, namun tetapku lanjutkan sholatku meski rasa takutku kian mencekam. Lantunan ayatpun sudah tak fokus kala ku rapalkan, namun tetap ku selesaikan sholatku.

Usai sholat aku bergegas pergi kerumah nenek dari ibuku, jaraknya tak jauh sekitar 300 m saja dari rumahku. Disana aku langsung menelpon kedua orang tuaku menceritakan yang terjadi.

Di jambi ada kakek yang kebetulan bisa hal seperti itu. Tak lama ibuku menelponku sambil menangis menceritakan bahwa benar ada yang jahat menggangu dengan niatan membunuhku, ia sudah 3 hari di rumahku menunggu waktu yang tepat, saat aku tertidur tadi.

"Jadi aku harus bagaimana?" Tanyaku penuh kekhawatiran, namun kakek dengan lantang menjawab

"Maaf, kakek tidak bisa mengobati hanya bisa melihat" ucapnya diseberang sana.

"Kalau kakek boleh saran, sebaiknya pergi berobat ke orang karo juga sebab yang melakukan orang karo juga." Tambahnya

Kemudian aku bercerita ke Nando, kamipun kembali pada Bibi.

Menceritakan padanya, dengan lugas ia menjawab "Sebenarnya dia sudah keterlaluan padamu. Saat ini dia membeli beguganjang untuk membunuhmu. Yang ketindihan, tanganmu hitam itu ulahnya, bekas bulunya semua." Jedanya

"Jika leluhurmu tidak ada yang menjagamu, sudah pasti kamu akan tiada. Taringnya sudah menancap di nadimu, dia hanya perlu menghisap darahmu. Apabila masih selamat, kamu akan sakit terus menerus sampai menghabiskan uang tanpa sisa. Sebenarnya bukan kamu target mereka tapi orang tuamu, karena orang tuamu jauh maka kena padamu yang dekat disini." Jelasnya

Dan mereka ini pintar, ingat pada awal kami sudah menanam bambu?

Yap. Bibi berkata awalnya melalui tanah, kemudian melalui angin.

"Sering mendengar bunyi berjalan atau lainnya di atap rumah?"

Aku refleks mengangguk "Aku berpikir itu kucing, bi."

"Saat ini mereka ada di atas bubungan rumahmu, oleh sebab itu kamu sering mendengar seperti orang berjalan di atap dan sebagainya." Bibi itu tersenyum sebelum melanjutkan "Ya sudah tidak apa, nanti kita syaratin lagi ya."

Dan syukurlah setelah disaratin bibi rumahku kembali damai dan aman.

Tidak berhenti disini, selang beberapa bulan ternyata aku seperti diikutin saat kerumah nenekku, dari mulai ketindihan, aktivitas mandi seperti di awasi hingga nenekku sakit.

Di telinga kiriku sering berbisik,

"Coba lihat ke dalam sumur" tapi di telinga kanan "Jangan lihat, ayo cepat selesaikan dan keluar"

Pernah juga, mandi dilihatin hanya kepalanya saja yang kelihatan bak manusia mengintip padahal aku hanya sendiri di rumah nenek yang kebetulan ia sedang ada urusan.

Bayangan hitam berlalu lalang di sampingku.

Karena masih terus mengalami kejanggalam aku kembali pada bibi bersama Nando, bibi itu mengatakan

"Sungguh luar biasa, mereka tidak bisa dirumahmu lagi makanya mengikutimu kerumah nenek yang akhir-akhir ini kamu lebih sering disana. Kasihan nenekmu, dia sudah tua tetapi malah jadi kena akibatnya."

"Sebenarnya siapa yang tega melakukan seperti ini, bi?" Tapi bibi hanya diam, enggan menjawabnya, sudah entah berapa kali ia tidak ingin menjawabnya

"Ayolah, bi. Ku mohon beritahu aku" pintaku bersikeras.

"Bibi tidak bisa menjawabnya karena tidak memiliki bukti nyata. Tapi baiklah, bibi beritahu cirinya saja padamu." Akunya pada akhirnya

Akupun mendengarkan dengan seksama.

"Ia memiliki hubungan sedarah dengan ayahmu (senina dalam bahasa karo), rumahnya di seberang rumahmu, kemudian dua orang lagi laki-laki dan perempuan usianya sekitar kurang lebih 70 tahun tetapi laki-laki inilah yang menjadi tangan kanannya karena dia yang menanam." Jelasnya

Mendengar itu aku jadi paham siapa mereka. Sudahlah cukup aku saja yang mengetahui ini.

Bibi juga syaratin rumah nenekku seperti rumahku.

Pantas saja selama ini, mereka seperti membenciku sementara aku tak pernah melakukan apapun pada mereka. Mereka bertiga juga selalu menghindar jika kami sedang bersitatap.

Belum lagi aku yang selalu berbarengan dengan Nando, mereka yang melihatnya seperti kami telah melanggar norma.

Padahal kami juga tahu batasan, bahkan kami selalu pulang tak lebih dari jam 10 malam.

Ah hampir terlewatkan, sebelum aku kerumah bibi ataupun rumah nenek di syaratin. Saat aku tidur dirumah nenekku, ada satu kejadian aneh.

Saat malam ada suara aneh seperti orang berjalan dan memukul atap beberapa kali, kala itu nenekku sedang di dapur sedangkan aku sudah lebih dulu di dalam kamar.

Kebetulan kami tidur mengenakan kelambu, aku mendengar suaranya cukup jelas. Tak lama nenekku masuk, aku langsung bertanya

"Nenek dengar suaranya kan?" Tanyaku

Nenekku mengangguk, "Sudahlah tidur saja" ucapnya

Tak lama ada burung hantu terbang di atas kelambu kami, berputar mengelilingi kelambu kami.

Kami saling melempar pandang merasa aneh bagaimana bisa masuk, nenekku bergegas keluar mengambil spatula memukul burung tersebut. Burung dan darahnya berserakan di lantai, karena sudah tengah malam nenekku meminggirkannya untuk dibuang besok pagi.

Ketika aku bangun tidur ku lihat di lantai sudah bersih, mungkin nenekku sudah membersihkannya subuh tadi.

Akan tetapi saat aku keluar kamar nenekku malah bertanya, "Tadi pagi niki yang bersihkan burung tadi malam?"

Tentu saja aku bingung, "Tidak, nek. Aku malah baru aja bangun"

Kamipun kembali memeriksa, dan benar saja di lantai bersih tanpa sisa. Hanya di spatula tersisa sedikit bercak darah bekas pukulan. Aneh.

Dan saat ini jika ditanya bagaimana kondisi keluargaku, syukurlah semua aman dan terkendali. Disana, Orang tuaku semakin harmonis, perekonomian juga semakin naik. Sakitku perlahan mulai berkurang. Tetapi aku jadi sedikit lebih peka, baik dari bisikan maupun penglihatan.




------------------------------------


Sengaja gak bikin end, karena emang hidupnya masih berlanjut hehe

Kisah yang ini berbeda, bestie..

Gimana? Mungkin kita bisa gak percaya tapi jika sudah mengalami pasti akan percaya. Dan ini hanya sedikit yang tercerita, belum lagi ranjangnya digoyang tengah malam saat ia tidur, dll.

Kembali ke Beranda