Gambar dalam Cerita
"Hanya bermodalkan selalu ada akan kalah dengan yang selalu mengatakan Cinta ."
"Gue bener bener yakin tuh cewek bakal masuk kelas ini," seseorang berambut cokelat mengacungkan dua jarinya dengan penuh keyakinan.
"Cantik?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh Tino pun langsung di iyakan oleh seseorang berambut cokelat bernama Anggra itu.
"Elah kita liat aja nanti, lagian gue juga belum liat tuh cewek gimana bentuknya," kali ini Rico angkat bicara.
"Eh tapi bener loh katanya si Anggra barusan, cewe yang tadi dia liat itu emang cantik kok," Pian mulai berandai andai.
"Lo nggk usah ngayal mulu Yan, lo nyapa cewe aja masih ngompol apalagi mau nembak," timpal Anggra diikuti oleh kedua temanya yang tertawa setuju.
"Eh tapi kalo aja nih cewek yang lo lo pada bilang itu beneran sexy fuyuu gue bakal kejar dah," Riko memainkan alisnya naik turun dengan senyum manis, membuat teman temannya mengernyitkan kening jijik.
"Terserah lo deh, kalo cantik harus jadi punya gue titik." Kata Pian bersih keras.
Kelas yang tadinya rame kini mendadak sepi karena kedatangan guru sejarah mereka. "Selamat pagi anak anak!" sapanya dengan tegas.
"Pagi juga bu!" jawab anak anak serentak.
"Wih liat ko bulu matanya Mak Erot makin tebel aja," kata Anggra yang duduk disampingnya.
"Iya apalagi alisnya udah kaya jalan tol," timpal Rico keduanya menahan tawa.
'Gubrak!'
Mereka berdua tersentak tatapannya langsung lurus ke depan disana Guru yang sering mereka sebut Mak Erot tengah menggebrak meja, nafasnya sudah naik turun tak beraturan.
"Bisa tidak sehari saja tidak buat onar dikelas!" Serunya kemudian. Sementara Riko dan Anggra hanya menunduk, dibawah meja kaki mereka saling menendang satu sama lain.
"Oke, kita kembali ke topik utama, jadi anak-anak!" suaranya yang nyaring terdengar sangat keras. "Kalian kedatangan teman baru," senyumnya mengembang kearah luar kelas "masuk sya," ucapnya lagi . Dengan hati menggebu gebu keempat orang itu melongok keluar kelas, ujung sepatu wanita mulai terlihat dan...
"Wow" Pian menganga.
Anggra berdecak kecewa namun kemudian tersenyum lebar, Tino tidak bergumam apapun dia hanya tersenyum, sedangkan Rico dia memandang penampilan wanita itu dari ujung kaki sampai ujung rambut.
Dia Memakai flat berwarna abu abu, dengan khas baju SMA serta rambut panjang terurai. Wajahnya berbentuk oval matanya berwarna cokelat madu ditambah bibir tipis dibalut dengan senyum manis.
"Enggak buruk kan ko, cuman dia enggak punya body sesuai selera lo, wah si Pian kesem sem tuh," Anggra melirik Pian yang berada di pojok kanan nya.
"Gue bakal dapetin dia." Rico tersenyum miring, sedangkan Anggra hanya menatap wajah Rico aneh.
"Alsya silahkan perkenalkan dirimu." ucap Bu Mira yang hanya di jawab Alsya dengan anggukan, dia maju selangkah lebih dekat.
"Selamat pagi. Nama gue Alsya Putriana. Gue pindahan dari SMA Cendana. Salam kenal semuanya," Alsya memperkenalkan diri.
"Hay Alsya salam kenal juga, gue Rico Permana siswa terkeren di SMA karang bintang," sorakan siswa kelas XI IPS 1 pun langsung terdengar ricuh mereka menjerit histeris terutama kaum hawa yang tidak menyangka bahwa Rico bisa se-PD itu. Bu Mira langsung menenangkan suasana yang gaduh dan mempersilahkan Alsya duduk.
"Sudah sudah diam semua. Kamu duduk di belakangnya Rico ya Alsya," Bu Mira menunjuk sepasang kursi kosong dibelakang Rico. Alaya pun mengangguk lalu berjalan menuju tempat duduknya. "Oke sekarang kita lanjutkan materi kemarin."
🌺🌺🌺
Bel sekolah berbunyi sebagai tanda berakhirnya pelajaran, siswa maupun siswi SMA karang bintang mulai terlihat berhamburan keluar kelas, tak terkecuali Alsya dia berjalan pelan menuju gerbang sekolah. Langkahnya terhenti saat suara seseorang yang tidak asing menyapanya. "Hai Alsya" Alsya menolehkan kepalanya mendapati seorang lelaki bertubuh tinggi tengah berdiri di sampingnya mata cokelat kayunya menatap Alsya lekat.
"Ck Lo lagi lo lagi nggk capek apa lo dihukum lari lapangan tadi," dengan kesal Alsya mempercepat langkahnya namun dengan mudah Rico dapat menjajarkan langkahnya agar seimbang dengan Alsya.
"Mau lo sebenernya apa sih," Alsya kembali berhenti diikuti Rico yang melirik kearah Alsya yang lebih pendek darinya.
"Gue mau kenalan sama lo, salah ya" ucapnya to the poin.
"Lo kan tadi udah kenalan sama gue!" seru Alsya membuat para siswa yang berjalan menoleh kearah mereka.
"Yeee tadi kan nggk resmi kenalannya, gue Rico," Rico mengulurkan tangannya untuk bersalaman alih alih menerima uluran tangan Rico Alsya malah berlalu begitu saja tanpa sutas kata pun.
"Huaaaaah lo dikacangin ko gila enggak nyangka gue," Anggra dan teman temannya datang menghampiri Rico.
"Haha sukurin lo makanya jangan suka nikungin cewek orang,"
Pian tertawa terbahak-bahak. "Heh Yan lo bilang si Alsya cewe lo? Mimpi!" sahut Rico kesal.
"Yaelah ko gimana sih, katanya lo enggak suka sama cewe yang bodynya tipis," Anggra merapatkan bibirnya.
"Jangan bilang cewe gue tipis ya, dia emang enggak sebohay yang gue idam idamkan tapi gue suka dia," Rico memuji Alsya sedangkan Pian menyebikkan bibirnya.
Alsya berjalan menuju indekosnya namun langkahnya terhenti saat melihat sebuah mobil hitam terparkir nyaman tepat didepan indekosnya, dia mengernyit sesaat lalu matanya menangkap sosok lelaki bertubuh tinggi sedang duduk bersampingan dengan Ibu kosnya, dengan cepat Alsya berjalan menghampiri mereka berdua. "Faiz!" seru Alsya langsung memeluk lelaki itu dari belakang Faiz dan ibu kosnya menoleh bersamaan.
"Alsya ibu pulang dulu ya, kamu sama nak Faiz lanjut aja ngobrolnya, oh ya satu lagi jangan sampai pulang larut malam ya nak Faiz," Ibu Nia mengingatkan sebelum akhirnya undur diri.
"Siap Bu," ucap Faiz dan Alsya serentak.
"Faiz gue kangen banget sama lo," dengan manja Alsya duduk di samping Faiz.
"iya sya gue juga kangen sama lo," ucap Faiz sembari mengacak-acak rambut Alsya.
"Gimana hari pertama lo masuk sekolah baru, temen temennya rese enggak?" Faiz menatap Alsya yang sedang menyisir rambutnya dengan jari.
"Rese banget," pikirannya melayang pada sosok Rico teman sekelas nya yang tadi membuat naik darah.
"Ngapain lo duduk disini," kata Alsya risih sedangkan Rico hanya memandangnya lekat kemudian bergumam
"mana mungkin sih gue biarin bidadari surga duduk sendirian tanpa pendamping." Alsya membulatkan matanya.
"apaan sih lo, dasar cowo aneh." ucap Alsya sembari meninggalkan tempat duduknya.
"Sya," walau lirih tapi mampu menyadarkan Alsya dari lamunannya.
"Eh iya iz,"ucap Alsya gugup.
Faiz menaikkan salah satu alisnya "Gue tadi nanya malah bengong".
Alsya menghembuskan nafasnya berat "Hari pertama gue sekolah enggak buruk buruk banget si, ya cuman tadi ada cowo yang bikin gue kesel".
"Namanya siapa?" tanya Faiz ingin tahu.
"Rico," sesaat setelah mengucapkan namanya bayangan wajah Rico berkelebat di matanya membuat Alsya memajukan mulut.
"Lo bener bener enggak suka sama tuh cowok ya, sampe muka maju gitu,".
"Iya gue enggak suka sama dia, bener bener nggk suka." Alsya menyandarkan kepalanya di bahu Faiz.
"Ya udah besok gue bakal cari tuh cowok biar gue kasih pelajaran. Udah lo jangan kesel lagi oke," Faiz mengelus rambut panjang Alsya dengan sayang.
Alsya menegakkan kepalanya "Btw baru dua hari gue pindah bawaannya pengen meluk mulu," Alsya menatap Faiz manja membuat Faiz gemas dan langsung mencubit kedua pipinya yang chubby.
"Gue juga kangen sama lo sya."
"Kenapa sih lo tuh nggak pindah sekolah aja ikut gue". Ujar Alsya.
"Sya gue sih mau mau aja ya pindah sekolah ngikutin lo, jagain lo tapi gue enggak bisa pindah secepat ini lo kan tauk gue ketua OSIS disana," Faiz menyandarkan kepalanya di kepala Alsya.
"Eh iz udah malem nih. Entar ibu kos gue marah marah lagi ngeliat lo masih disini, lo pulang gih lumayan jauh sekarang kan rumah lo," Alsya langsung berdiri lalu menarik tangsn Faiz agar ikut berdiri.
"ya udah gue pulang ya, besok gue kesini lagi lo mau gue bawain apa," ucapannya langsung membuat Alsya kegirangan luar biasa.
"Eum..." Dia tampak berpikir lalu menyimpulkan. "Gue mau es krim rasa cokelat sama vanila masing masing empat bungkus, sama nasi Padang. Udah dua hari enggan makan nasi Padang gue belum sempet beli enggak punya uang juga. Suruh lo aja nggk papa kan?" Alsya mengedipkan matanya manja, Faiz tersenyum lalu mengacak acak rambut Alsya.
"Iya gue bawain deh, dasar tukang morotin orang," Faiz mengelus rambut Alsya lembut.
"Apa apaan kan lo sendiri yang bilang kalo gue mau dibawain apa! nah gue kan cuma minta lo bawain itu doang dan denger gue bukan tipe orang yang suka morotin orang ya." Alsya menyisir rambutnya yang berantakan karena ulah Faiz.
🌺🌺🌺
"Pagi ini gue mau maen ke kosan lo boleh?" Naya menyantap nasi goreng di depannya bersama Alsya.
"Em siang ini sih boleh boleh aja," jawab Alsya sesudah menengguk segelas air putih.
"Ya udah ntar gue langsung bareng Lo aja ya?" Naya melahap suapan terakhir nasi gorengnya.
"Siap ya udah yuk cabut " ucap Alsya sembari mengelap mulutnya dengan tissue.
Alsya dan Naya pun berjalan menuju kelasnya. Naya berjalan lambat karena asyik berkaca sembari membenarkan make up nya, sedangkan Alsya tengah membalas chat dari Faiz. Tiba-tiba ponselnya ditarik paksa oleh seseorang. Alsya sangat terkejut hampir berteriak namun tertahan karena mulutnya dibungkam oleh sebuah tangan.
"Eh apa apaan nih," gerutu Naya yang melihat Alsya dibungkam mulutnya oleh Rico. Rico hanya meringis sedangkan Alsya langsung menampar pipi Rico.
"Heh lo tu enggam punya otak atau gimana sih, untung aja jantung gue enggak copot," setelah puas menampar pipi Rico dengan santai Alsya mengambil kembali ponselnya kemudian berlalu begitu saja.
"Eh Co lo nggk papa kan," Naya mendekati Rico yang memegangi pipinya.
"Gue nggk papa".Tidak berlangsung lama Rico kembali mengejar Alsya diikuti oleh Naya.
"Sya sya tunggu!" Seru Rico yang berjalan mendekati Alsya.
"Apa! Kurang tamparannya?" Ujar Alsya sembari mengangkat salah satu tangannya hendak menampar Rico.
"Sakit nih masa mau ditambah lagi," Rico berlagak kesakitan agar mendapat perhatian Alsya.
"Duh Rico kenceng banget larinya capek gue ngejar, gimana pipi lo." Naya yang baru datang pun mendekati Rico.
"Nah udah ada Naya kan sekarang, Nay lo urusin tuh katanya dia kesakitan," ucap Alsya sebelum melenggang pergi.
"Alsya!" Seru Rico namun tak dihiraukan oleh Alsya yang berjalan menjauh.
"Udah ko, mending kita ke UKS dulu pipi kamu merah itu," Naya memeriksa pipi Rico.
"Udah gue enggak papa," ucap Rico acuh lalu meninggalkan Naya.
Cuaca sangat panas seluruh siswa siswi SMAN2 karang bintang berhamburan untuk pulang kerumahnya.
"Sya naik mobil gue aja ya," ucap Naya sebelum keluar gerbang.
"Gue sih ngga nolak hehe," gumam Alsya.
"Oke deh," Naya dan Alsya pun pergi ke indekosnya.
Naya mengernyit sesaat karena melihat mobil hitam bermerek BMW X5.
"Sya itu siapa didepan indekos lo," Naya menyenggol lengan Alsya yang asyik membaca artikel. Alsya pun mendongak.
"Mantap nih, itu sahabat gue Faiz." Mobil Naya pun berhenti di belakang mobil Faiz. Mereka pun turun bersamaan.
"Tuh Alsya udah dateng, ibu tinggal dulu ya," ibu Nia tersenyum memberikan isyarat kepada Alsya sebelum melenggang pergi.
"Hai Iz," Alsya langsung menghambur ke pelukan lelaki itu. Sesaat Naya tercengang dengan kejadian di hadapannya. Lelaki tampan dengan almamater SMA yang masih menempel pas di tubuhnya, kulitnya kuning, matanya sipit, rambutnya berkilauan karena minyak rambut.
"How are you today my heart," ujarnya pada Alsya yang masih memeluk erat tubuh Faiz.
"Im fine beloved," kemudian tawa mereka pecah.
"Gila gila alay banget gue, eh iz kenalin ini Naya temen gue. Nay kenalin dia sahabat gue Faiz." Alsya melepas pelukannya lalu memperkenalkan kedua temanya. Naya dan Faiz pun bersalaman.
"Naya," ucap Naya nervous.
"Faiz," gumam Faiz tenang.
"Iz kemana nih titipan gue,"Alsya celingak-celinguk mencari makanannya.
"Itu di mobil bentar gue ambilin," selepas kepergian Faiz Naya pun bergumam.
"Syaa itu Faiz. Cute banget," Naya meleleh dibuatnya.
"Kenapa lo naksir?" Alsya menaikkan salah satu alisnya.
"Iya tapi dia punya lo," Naya menyebikkan bibirnya.
"Yaelah ambil aja sih, gue sama Faiz itu enggak ada apa apa. Gue jadian sama dia udah kaya ayam ngelahirin bayi kodok tauk nggak. Gue udah anggep dia itu kaya saudara kandung gue. Jadi santai aja," diam diam Faiz mendengarkan percakapan mereka berdua. Ada raut wajah kecewa dan terluka namun berhasil di tutupinya.
"Eh Faiz," Naya yang menyadari keberadaan Faiz pun terlihat gugup.
"Alsya gue cabut dulu ya, hari ini gue mau nganterin nyokap cake up." Ujar Faiz tenang. "Dan nih titipan lo," Faiz memberikan bungkusan itu pada Alsya lalu berjalan menuju mobilnya.
"Oke! Thanks ya iz," seru Alsya hanya dibalas dengan anggukan dan senyum manis oleh Faiz.
🌺🌺🌺
"Eh sya lo bisa berenang enggak?" tanya Anggra pada Alsya yang duduk berdua dengan Naya.
"Enggak kenapa emng?" ucap Alsya cuek.
"Rico mau ngajarin lo renang gimana?" ujar Anggra langsung mendapat pelototan dari Alsya dan Naya.
"Enggak sudi gue diajarin sama dia, engga ada untungnya juga gue bisa renang."
"Lo belum tau aja Sya," Sahut Naya.
"Maksud lo?" Alsya mengerutkan keningnya bingung.
"Jum'at ada latihan renang di sekolah, pak Jojo yang ngelatih. Dan buat yang bener bener enggak bisa harus diusahakan bisa Sya. Kalo enggak lo nggak bakal dapet nilai dari dia." kata Naya menjelaskan.
"Gila! Duh gimana dong," Alsya menyebikkan bibirnya.
"Udah lo minta ajarin Rico aja, dia itu ikut ekskul renang," ujar Anggra meyakinkan.
"Eh eh apa ini ngomongin gue, gue denger nih," Rico muncul dari balik pintu.
"Gini Co si Alsya minta ajarin lo berenang," Sahut Anggra santai. Yang langsung mendapat senggolan dari Alsya.
"Eh apaan sih Nggra," bisiknya ketus.
"Hah berenang!" seru Rico.
"Iya berenang," Anggra memberikan kode melalui kedipan mata.
"em.. Lo mau Saya?" tanya Rico pada Alsya yang terlihat kebingungan.
"Iyain Sya," Anggra meyakinkan lagi.
"iya Sya daripada lo nggak dapet nilai." Naya juga meyakinkan.
"Huh oke oke, Rico gue mau." Ucap Alsya setengah hati.
"Hah serius nih," Rico hampir melonjak kegirangan.
"Iye," Alsya memutar bola matanya malas.
"Besok kita latihan, di kolam renang rumah gue aja gimana?"
"Secepat itu kah?" Anggra menatap Rico tak percaya.
"iya lah, iya kan Sya." Rico tersenyum lebar.
"Hm," gumam Alsya.
Sepulang sekolah Naya tidak pulang ke rumah, dia memilih untuk ikut Alsya ke indekosnya.
"Sya besok gue jemput lo jam berapa nih?" Naya duduk di tepi ranjang melihat temannya yang sedang menyisir rambut.
"terserah lo," jawab Alsya tenang.
"jam 10 lo harus siap, ehm... Bakal ketemu sama calon mertua dah," Naya menahan tawanya.
"Dih amit amit," Alsya bergidik.
"Tuan Puteri lagi ngobrolin apa sih, seru amat keliatannya?" tiba tiba suara laki laki terdengar di ambang pintu. Sedikit mengejutkan Naya dan Alsya.
"Eh Faiz," gumam Naya malu malu.
"Faiz lo ngapain disini, keluar keluar ibu kos gue murka entar!" berbeda dengan Naya yang malu malu Alsya malah berteriak mengusir Faiz.
"Gue udah izin kok," Faiz masuk ke dalam kosnya lalu duduk di samping Naya.
"terus di izinin gitu?" Naya melotot tak percaya.
"Menurut lo," dengan senyum sumringah Faiz menatap Naya di sampingnya.
"Ck ck bener bener gila lo," Alsya menggelengkan kepalanya pelan tak percaya Faiz berani melakukan ini.
"Iz besok lo sibuk nggak?" tanya Naya malu malu.
"Enggak sih, kenapa emang Nay?"
"Besok Alsya mau belajar renang sama calonnya," Naya tersenyum manis.
Faiz sedikit bingung "Hah?"
"Pokoknya lo ikut aja, jam 10 lo udah harus ada di sini oke," melihat tingkah Naya Alsya benar benar geram dilempar nya sisir yang sedari tadi ia pegang dan tepat mengenai kepala Naya.
"Au.." rintih Naya kesakitan.
"Rasain lo," Alsya mendengus kesal.
"Lo nggak papa Nay?" wajah Faiz yang melembut perhatian membuat pipi Naya memerah.
"udah udah kalian jadian aja!" seru Alsya yang langsung mendapat pelototan dari Faiz dan Naya.
"Alsya!" seru keduanya.
"Tuh kan kalian jodoh, teriak aja pakek barengan," Alsya mengejek.
Naya hanya menunduk malu. 'huh kenapa sih itu mulut enggak bisa di jaga, blak blakan banget,' batin Naya geram.
🌺🌺🌺
"Nggra lo gimana sih. Lo kan tauk gue enggak terlalu bisa renang," gumam Rico yang duduk di ruang tamu.
"Biar lo jadi pria sejati Co, karena pria sejati itu harus bisa melakukan hal hal yang ekstrim," ujar Anggra yang sibuk meminum jus jeruk.
"Tapi lo enggak boleh kaya gitu, kalo si Alsya kelelep gimana?"
"Ya itu tanggungan lo. Lo suka sama Alsya ya buat dia suka sama lo. Lo mau Alsya direbut sama si Pian? Enggk kan. Makanya lo harus berani berkorban," Rico menimbang nimbang ucapan Anggra.
Rico mangut mangut setuju "Iya juga sih,"
"Nah! Gitu dong itu baru temen gue. Gue cuman enggak suka aja kalo Alsya jadian sama Pian," Rico meringis ngeri.
"Jangan Sampek dah,"
"Makanya, ya udah gue cabut yak. Selamat berjuang buat cinta lo bro," kata Anggra sembari menepuk pundak Rico lalu melenggang pergi.
"Alsya!" Naya sudah berada di depan indekos Alsya. "Alsya!" serunya lagi tapi tidak mendapat jawaban.
Tok... Tok... Tok...
Naya kembali mengetuk ngetuk pintu indekosnya sedikit lebih keras. Setelah menunggu beberapa saat dia pun mengambil handphone dari tasnya.
Tangannya dengan lihai memencet nomor Alsya. "Enggk aktif, kemana sih tu bocah." gumam Naya pelan.
Sebuah mobil hitam berhenti di depan indekos Alsya. Naya mengernyit sepertinya dia tau itu mobil siapa. 'Faiz hampir terlonjak saat pemilik mobil itu turun.
"Eh Faiz," gumam Naya mencoba menahan detak jantungnya yang berdegup kencang.
"Hay, Alsya nya mana?" melihat pintu indekos mungil itu tertutup rapat Faiz bertanya pada Naya.
"Nah iya itu. Dari tadi gue nungguin tu bocah masih ngebo kayanya," Naya meringis.
"Alsya, Sya!" seru Faiz hingga ibu kos Alsya menghampirinya.
"Eh nak Faiz, mau nyari adeknya ya?" tanya ibu kos ramah.
"iya Buk, kemana ya?" Faiz balik bertanya.
"Ibu liat tadi Alsya pergi sama cowo,"
"Hah cowo! Siapa Buk?" Naya angkat bicara.
"Kurang tau, tapi kalo nggk salah namanya Pian soalnya tadi Alsya teriakin nama itu," jelas ibu kos.
"What! Pian," Naya cemas.
"Lo kenapa Nay," tanya Faiz ingin tahu.
"Gawat darurat pokonya ini, jangan jangan si Pian mau nembak Alsya lagi," Naya terburu buru masuk mobil. "Makasih ya Bu, saya permisi assalamualaikum." gumam Naya.
"saya juga Bu," ucap Faiz cepat.
"Iya waalaikumsalam," ibu kosnya pun melenggang pergi.
"Ini kenapa lagi mobil gue," Naya pun turun dari mobilnya.
"Kenapa Nay?" tanya Faiz yang mau melaluinya.
"Mobil gue mogok nih," Naya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya udah, naik mobil gue aja," tawar Faiz tenang.
"Eum.. iya deh iya," mereka berdua pun pergi mencari Alsya.
"Hp gue lowbat nih nggra," gumam Alsya yang duduk di bangku depan mobil Anggra. "pasti Naya sama Faiz nyariin gue deh," gumamnya lagi sembari melirik Anggra yang fokus menyetir mobil.
"Udah biarin aja kenapa sih, emng lo mau ntar si Pian nyamperin lo," ujar Anggra yang hanya di jawab dengan gelengan kuat.
"Pokoknya lo harus ke rumah Rico terus belajar renang, masalah Naya sama sahabat lo tu biarin aja mereka pasti lagi PD kate," Anggra tersenyum manis.
Mereka pun sampai di rumah Rico, rumahnya cukup besar dengan dominan warna putih gading.
"Ayo masuk, Rico udah di kolam renang tuh," Anggra mempersilahkan Alsya masuk ke dalam rumah Rico.
"Co Alsya udah dateng nih!" seru Anggra sembari berlari kecil menuju kolam renang. Dilihatnya Rico yang tengah bersantai dengan bertelanjang dada dan celana pendek.
"Sya samperin dah, gue mau nanganin si Pian dulu. Bye," gumam Anggra lalu melenggang pergi.
"Bye," Alsya sedikit tidak nyaman, dia dan Rico hanya berdua saja apa yang akan terjadi pikir Alsya. Perlahan Alsya mendekati Rico yang tengah memejamkan mata, telinganya tertutup earphone.
"Rico!" seru Alsya keras namun Rico tidak bergeming. Di goyangkannya bahu Rico keras membuat Rico berjingkat lalu melepas earphone nya.
"Wih Alsya, kaget gue. Kemana Anggra?" Rico celingak-celinguk mencari Anggra.
"Dia mau nemuin Pian," jawab Alsya ketus.
"hmm... Naya nggk ikut?" tanyanya lagi membuat Alsya mengerutkan kening.
"Ini jadi nggk sih," gumam Alsya to the point.
"Ya jadi dong," jawab Rico semangat. Alsya membalikan badannya hendak mengganti baju tetapi kakinya terpleset hingga ia jatuh ke kolam. Alsya panik dia sama sekali tidak bisa berenang kepalanya muncul di permukaan air namun kembali tenggelam.
Rico yang panik melihat Alsya pun langsung menceburkan diri ke kolam renang, saat dia menarik lengan Alsya spontan Alsya menariknya kuat. Rico yang tidak dapat menyeimbangkan diri pun ikut tenggelam.
Rico berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tepi kolam dengan terus memeluk tubuh Alsya. Alsya tau Rico akan ikut tenggelam bersamanya dia berusaha melepas pegangan tangan Rico tapi Rico tidak melepasnya. Saat Alsya berhasil melepas pegangan tangannya dari Rico, Rico kembali meraih lengannya dan memeganginya erat.
"Alsya! Sya!," seru Naya panik dia yang baru datang spontan berteriak keras saat melihat Rico dan Alsya tenggelam bersamaan.
"Faiz! Alsya nggk bisa berenang!" serunya lagi.
"Iya gue tauk!" Faiz pun tak kalah panik. Dengan cepat Naya yang bisa berenang pun menolong mereka berdua dibantu Faiz yang menariknya ke darat.
"Lo enggak papa Co?" tanya Naya pada Rico yang terlihat pucat.
"Gue nggk papa, tapi Nay Alsya pingsan," dia melirik wajah Alaya yang pucat pasi.
"Kayaknya dia minum banyak air," gumam Faiz lalu menekan perut Alsya.
"Uek.." air itu keluar dari mulutnya. Alsya mengerutkan kening melihat Rico di depannya.
"Kenapa lo nggak ngelepasin gue?" ucap Alsya lirih.
"G...gu.. gue," suara Rico gemetar.
"Udah udah mending kita ke dalem dulu ayo!" sela Naya cepat. Faiz pun membantu Rico berjalan sedangkan Naya membantu Alsya.
Setelah diberikan handuk dan teh hangat Naya pun bertanya pada Rico.
"Sebenarnya apa yang terjadi Co?"
"Maafin gue Sya, gue emang bisa berenang tapi gue nggak terlalu mahir. Gue hampir bunuh lo," gumam Rico.
"Jadi, Maksud lo!" seru Naya yang tampak emosi.
"Iya, Anggra yang ngerencanain ini semua. Karena Pian mau nembak Alsya. Anggra nggak mau Pian sakit hati karena penolakan dari Alsya, Anggra terpaksa ngelakuin ini," ucap Rico menyesal. Alsya menatap Rico teduh.
"Oke itu kesalahan pertama. Kesalahan kedua kenapa lo bisa ceroboh sampek Alsya tenggelam kaya gini," Naya mengembuskan napasnya berat.
"Itu bukan salah Rico Nay. Itu salah gue, gue yang ceroboh." Rico menatap Alsya tak mengerti.
"Kenapa lo enggak mau ngelepasin tangan gue tadi, lo hampir mati tauk nggak!" seru Alsya geram. Sedangkan Rico hanya diam.
"Jawab gue Co!" serunya lagi.
"Itu karena Rico sayang sama lo Sya," sebuah suara muncul dari balik tembok, rupanya sedari tadi Anggra mendengarkan percakapan mereka.
"Anggra," desis Naya dan Alsya.
"Kalo Rico ngelepasin tangan lo dan memilih buat nyelametin dirinya sendiri, dia bukan pria sejati Sya!" seru Anggra mantap.
"apa bener itu Co?" Alsya memastikan namun Rico tidak menjawab.
"Lo tau Sya Rico rela mempertaruhkan nyawanya demi lo, demi cewe yang dia sayangi," ujar Anggra.
"Udah udah. Alsya ayo pulang," gumam Faiz yang sedari tadi hanya diam dan mulai mengerti. Di gandengnya Alsya masuk ke mobil Faiz diikuti Naya.
Setelah peristiwa itu Rico menjadi pendiam sedangkan Pian dia sudah sadar bahwa cinta memang tidak bisa dipaksakan jadi dia mundur perlahan.
"Thanks bro, lo itu emang sahabat sejati gue," Pian tersenyum bangga kepada Anggra.
"Yaelah santai aja kalik," jawab Anggra tenang.
Rico berjalan di koridor sekolahnya sendirian karena Anggra dan Pian sedang makan di kantin saat itu Rico tidak sengaja berpapasan dengan Alsya.
"Hei Rico!" sapa Alsya ceria. Tidak ada balasan apapun dari Rico.
"Bentar Rico, entar sore kita latihan renang yuk," ajak Alsya semangat, Rico menatap Alsya tenang.
"Kalo gue nggak sibuk," ujarnya sebelum melenggang pergi. Alsya mengerutkan keningnya bingung.
"Hai Rico!" sapa Naya yang berpapasan dengan Rico.
"Hai," jawabnya pelan namun cukup terdengar oleh Alsya.
"Ada yang lagi galau nih hahaha," Naya menghampiri Alsya lalu mereka berdua berjalan beriringan.
"Cie... Yang udah nggak jutek lagi sama Rico, tapi sekarang malah Rico yang jutek hahaha dasar aneh!" gumam Naya.
"Gue juga nggak tau kenapa si Rico jadi berubah ya, semenjak gue tenggelem itu," Alsya menghembuskan nafasnya berat.
"Saran gue sih lo minta maaf ke dia. Gimana kalo ntar sore lo kerumah Rico buat minta maaf sekalian ngajakin dia latihan renang lagi gimana?" Naya tersenyum lebar.
"Nggak segampang itu Nay,"
"Tapi lo harus coba, siapa tau berhasil iya nggak," Naya tak mau kalah.
"Lo jangan ngurusin gue deh, btw gimana Lo sama Faiz?" Alsya duduk di taman sekolahnya diikuti Naya.
"Hehe ntar sore gue mau diajak jalan sama dia," Naya mengedipkan matanya sembari tersenyum lebar.
"sukur deh kalian cocok," gumam Alsya dingin.
"ih kok lo gitu sih, kaya nggak suka gue sama si Faiz."
"hem ya mau gimana suruh sorak sorak gitu?"
"Bodo ah, entar sore lo kerumah Rico sendirian ya gue kan mau jalan," ujar Naya sembari nyengir kuda.
"Hem makasih ya sarannya gue balik dulu bye." Gumam Alsya dengan senyum yang dipaksakan.
"Lah Sya lo nggak bareng gue!" Naya hanya tercengang melihat punggung Alsya yang semakin menjauh. Sedangkan Alsya tidak menghiraukannya.
Alsya duduk di tepi ranjangnya pikirannya melayang pada ucapan Naya.
'Ck apa gue kerumah Rico aja kali ya,'
'Tapii ntar dia ke GR an lagi, gue kerumah dia minta maaf terus langsung pulang gitu kali ya.' Pikiran-pikiran itu berkecamuk di otak Alsya.
"Ah bodo ah, gue nggak betah lama lama kek gini," Alsya pun langsung mengambil tasnya lalu pergi ke rumah Rico.
Sesampainya di sana Alsya sedikit ragu, namun dia bertekad untuk meminta maaf.
"Pak Rico nya ada?" tanyanya pada satpam.
"Ada silahkan masuk," ucapnya ramah.
"Oh gitu iya pak makasih," Alsya tersenyum manis sebelum melenggang masuk.
Alsya memanggil manggil Rico tapi tidak ada jawaban, Alsya berjalan melalui pintu belakang dan di kolam renang Alsya melihat Rico yang sedang berenang disana. Alsya tersenyum manis melihat Rico yang berenang gaya dada sembari memejamkan mata. Alsya pun menghampirinya.
"Rico," gumamnya pelan. Mendengar ada yang memanggil Rico pun membuka matanya dan melihat Alsya.
"Lo ngapain disini," rico mengernyit heran.
"Naik dulu gue mau ngomong," mereka pun duduk di tepi kolam.
"Jadi gini Co gue kesini mau minta maaf," Alsya sedikit ragu dia bahkan terlihat gugup.
'Sebelumnya gue enggak pernah kaya gini kalo deket sama rico. Batin Alsya.
"Yelah santai aja gue udah maafin lo kok, gue juga minta maaf ya," Alsya menghembuskan nafasnya lega.
"Huft iya gue udah maafin lo juga kok," Alsya tersenyum manis diikuti oleh Rico.
"Mulai sekarang Damai ya," gumam Rico sembari mengacungkan jari kelingkingnya.
"Eum... Iya damai," ucap Alsya mantap lalu mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Rico.
"Cie... Cie... Alsya, Rico udah jadian," seru Anggra, Faiz, dan Naya muncul dari balik pintu mereka sengaja menguping pembicaraan mereka berdua.
"Ih apaan sih kalian tu," Alsya menunduk malu.
"Co gaskeun," Anggra memberikan kode.
"Sya gue mau jujur sama lo," Rico menatap wajah Alsya dalam. "Gue mau jujur kalo gue sayang sama lo Sya," ucapnya kemudian.
"Ehm...ehm..." Faiz berdehem melihat mereka berdua.
"Lo mau kan jadi cewe gue," gumam Rico mantap.
"G gu gue gue," Alsya merasakan tubuhnya gemetar hebat serta jantungnya yang berdetak tidak normal.
"iya gue mauk," ucap Alsya cepat lalu tersenyum manis.
"Mau apa Sya," Rico ingin memastikan apa yang didengarnya ini adalah nyata.
"Iya gue mau Co jadi cewe Lo," Alsya memejamkan matanya. Senyum manis tercetak di bibirnya.
Rico tersenyum manis dengan nafas lega. Dibawanya Alsya kedalam pelukannya.
"Thanks Sya," gumam Rico lirih yang hanya mendapat anggukan kecil dari Alsya.
Anggra, Faiz dan Naya tersenyum bahagia mereka menyaksikan kedua insan bersatu hanya karena hak sepele.
"pelan pelan Sya, jangan buru buru. Tangannya ngayun ke depan," Rico memberi aba aba.
Faiz dan Naya diam diam berpegangan tangan. Anggra dan Pian menyaksikan Rico dan Alsya latihan renang sembari nyemil.
End