Lonte Bulan
Fantasy
18 Dec 2025

Lonte Bulan

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2025-12-18T092405.580.jfif

download - 2025-12-18T092405.580.jfif

18 Dec 2025, 02:24

Malam terang menemani kesunyianku. Ini sangat syahdu. Aku tengah berbaring dengan cantik di kasur dengan permadani beledu marun dilengkapi dengan parfum khas Kerajaan Sentosa.

Aku memalingkan tubuh indahku menghadap jendela yang terbuka lebar agar semua makhluk di semesta bisa menyaksikan keindahanku.

Huhuhu ...

Huhuhu ...

Aku terbangun karena mendengar suara merdu dari balik jendela.

Aku kira, itu pertanda musim kawin. Ternyata, itu suara panggilan turun menurun yang terus didoktrin kepada anak-anak.

Ibuku pernah bercerita tentang legenda, tapi aku abaikan karena aku spesial.

Namaku Astra, tapi aku bukan makhluk astral. Bukan pula anak pajangan yang tinggal di rumah manusia seperti anak-anak lain.

Seperti makhluk lain–agak kontradiktif memang–diriku ini menjalani hidup dengan biasa saja. Tidak dibenci, tidak pula disayang. Makan, tidur, ke luar rumah untuk ngelon–berjalan-jalan, sampai akhirnya kembali tidur baru kemudian bangun dan makan lagi.

Huhuhu ...

Suara itu kembali terdengar. Begitu lembut layaknya rocker . Aku yang penasaran pun lantas menengok ke luar jendela. Maunya sih, menebas tengkuknya pakai sendal sultan impor langsung dari Saturnus. Tapi, lagi-lagi, mana ada orang gila bernyanyi di tengah malam begini.

Kukira, itu perbuatan salah satu musangku, tetapi semua peliharaanku berjenis kelamin lelaki dan tidak satu pun bersuara di saat santuy begini.



Huhuhu–

Suara itu berhenti tepat ketika aku menengok. Begitu menunduk, oh sunguh mengejutkan!

Tanah istana kini dipenuhi kopi gemoi!

Aku lantas berlari memanggil dayang-dayangku. Mereka biasanya menghibah dari pagi hingga jam penyihir alias jam tiga dini. Dari merekalah aku tahu ternyata aku bukan anak haram tukang sayur seperti yang selir katakan.

"Oh, dayang-dayangku, kemarilah?" seruku dengan tanda tanya. "Majikanmu membutuhkanmu."

Kulihat dayang-dayangku masih bersenda gemoi di harem. Meski tempat itu diperuntukan bagiku dan kedua ayahku. Karena ibuku tidak mungkin bersantai di harem.

"Wahai, dayang-dayang! Mari bersiap!" seruku lagi. Tapi, tidak digubris.

Ternyata, mereka tidak takut akan terjadinya banjir. Karena mereka jelmaan ikan mujair.

Sebelum menjelma jadi ikan salmon, aku biasanya memberi mereka makanan. Namun, kali ini tidak ada persiapan sehingga dayang-dayangku pun pergi tanpa makan dan berenang dengan syahdu.

Ya, sudahlah, setidaknya mereka bisa cari sendiri dengan melont–meminta dengan kerajaan sebelah.

Huft , menyebalkan!

Karena istana sudah sepi dan para pengawal pada main kartu Remi di kerajaan sebelah, aku mau tidak mau mencari tahu sendiri penyebabnya.

Ternyata, oh, ternyata.

Rahasia itu! Doktrin keluarga yang aku abaikan selama seribu purnama!

Aku bergegas ke perpustakaan istana sebelum digenangi banjir. Di antara tumpukan buku yang sudah basi, aku berhasil menemukan buku yang dimaksud. Tidak hanya dengan mengetahui umurnya yang tua, aku juga harus mencemoi-cemoi badannya untuk memastikan tekstur yang benar.

Unch , lembut!

Ternyata, penyebab kopi menggenang di istanaku rupanya air dari bulan. Satu-satunya yang bisa mengendalikan bulan tidak lain adalah si Lonte Bulan.

Lonte diambil dari nama serangga Kuwawung atau Lonthe. Serangga gemoi ini memiliki warna cokelat manis, biasa keluar saat senja, memiliki bau harum polos, dan suka gemerlapnya dunia malam.

Si Lonte Bulan yang dimaksud bukanlah sosok kumbang atau pria malam. Melainkan ...

Huhuhu ...

Seorang biduan liar.

Aku tidak yakin makhluk macam apa yang berani dengan sosok gemoi seperti aku. Tega benar mereka menganggu tidur manisku.

Aku pun mencari barang-barang yang ada. Tapi, pertama-tama, aku harus meraup harta orangtuaku. Tidak jadi karena hanya berupa batu mulia. Di kerajaan ini, hanya aku yang paling missqueen .

Sudahlah, kalau memang Lonte ini sedang memikatku, akan kujawab panggilannya.

Perjalanan menuju Lonte ini tidaklah sulit. Aku cukup berjalan kaki menuju bulan dengan kekuatan mistisku.

Tapi ...

Tapi, perjalananku nyaris terhalang akibat para permaisuri ganas yang sedang mencoba memikat Kaisar Rembulan.

Huhuhu ...

Kaisar Rembulan yang tengah duduk di singgasananya, sedang rock 'n roll selagi para permaisuri ganas itu memainkan kecapi.

Kaisar Rembulan tidak ada hubungannya dengan Lonte Bulan karena ia tidak tertarik pada biduan. Untungnya, para permaisuri ganas ini tahu betul selera suami mereka.

Aku berhasil menyelipkan tubuh indahku di antara mereka dan berhasil melampaui sang Kaisar menuju bulan. Ah, betapa lelahnya!

Tibalah aku di sebuah istana di atas awan lalu menyapa seorang bidadari yang sedang rebahan. Aku kira, dia sedang ngopi, tapi ternyata terkena efek sihir Lonte Bulan tadi.

Beberapa langkah aku lalui dengan syahdu, akhirnya tiba di bulan tepat waktu.

Kulihat seorang wanita berambut ungu kotor yang duduk tak beradab di singgasana berupa kardus. Dia memiliki kulit putih bagai kapur barus dan suara merdu seperti bidadari kejepit.

"Mau apa kau ke sini?" tanya biang kerok ini.

Duhai, dia benar-benar cantik sampai aku mual.

Penampilannya begitu nge-JRENG hingga aku keselek seketika. Kekuatannya jauh melampaui Kaisar Rembulan yang bahkan masih asyik menari bersama para permasuri ganasnya.

Lihatlah matanya yang ikemen ini!



[masukin foto mata Gojo]

"Kecantikan tak terbatas!"

Dengan sekali jentikan, awan yang kupijak berubah jadi rangkaian bintang. Kini kami berdiri di tengah bulan, agak jauh sedikit dari Kerajaan Sentosa.

"Hai, Lonte Bulan, jangan banjiri rumahku!" pintaku dengan tulus.

Alasan dia disebut demikian mungkin merujuk pada serangga-serangga peliharaannya yang disebut lonthe tadi.

Ada yang bilang, makhluk berambut ungu-apalah-itu berasal dari negeri antah berantah dan diciptakan untuk memuaskan nafsu penciptanya yang dikabarkan sebagai anak nolep.

Nama Lonte Bulan ini adalah ...

"Aku Astra Maraelsa Miz Coraline Keira Rapunzel Star Sirena d'Gemoi!" Dia menjawab tanpa ditanya. "Mau apa kamu ke sini tadi, kamu kenapa copy namaku?"

Dia memang cebol, sekitar 120 sentimeter dengan tubuh ramping bagai lidi. Rambutnya dari tadi ungu kotor tapi kemudian dicat putih biar mirip bule. Netra merah muda dengan tatapan penuh keganasan ala anak dakjal.

Belum sempat aku menjelaskan, dia langsung menceritakan masa lalunya yang unik itu.

"Aku dilahirkan dari rahim seorang iblis yandere tapi kemudian keluar dari perut ibuku yang seorang ratu siren di Kerajaan Laut Tsunamiwave." Dia jeda untuk memamerkan belahannya yang terbuat dari pensil Ibisp4in.

"Tidak ada yang menyayangiku sejak kecil kecuali ibu tiriku, di sekolah aku disayangi semua orang termasuk dua budak kekasihku." Astra meneteskan air mata entah kenapa. "Suatu ketika, aku bingung harus menikahi siapa antara dua budak nafsuku."

"Ya, pilih salah satu," sahutku. "Mana ada pasangan bertiga?"

Dia mengabaikan pertanyaan itu. "Aku jadi prestasi hingga kampung halamanku, Kerajaan Tsunamiwave, hancur karena Kristal Kehidupan kesenggol adik pajangan kekasihku hingga kerajaan itu runtuh seketika."

Astra roboh ke lantai dan menangis sambil mengusap mata dengan permadani.

"Hidupku benar-benar berat, aku mati bersama salah satu kekasihku yang lututnya tertusuk tusuk gigi hingga jantungnya resign . Anak pajangan kami pun jadi yatim piatu, dia kini hanya mau menggenakan pakaian berwarna hitam menyimbolkan hatinya yang gelap seperti dakinya."

"Dengar, aku hanya ingin banjir itu pergi dari rumahku–"

"Kamu tidak tahu rasanya tidak pernah keluar kamar tapi dikeroyok masyarakat!" bentak Astra. "Satu anak pajanganku kini memakai gelang guci merah dan mondar-mandir mencari laki sebagai pelampiasan!"

"Kalau kamu tahu, kenapa tidak bimbing anakmu?" sahutku.

"Aku 'kan mayat!" sahut Astra. "Sekarang, anak pajanganku tinggal bersama suamiku dan adiknya yang juga anak dari suamiku."

"Punya berapa suami kamu?" tanyaku.

"Cuma dua ... Um , satu pacar dan ... Tiga belas?" Dia menghitung-hitung.

Tidak habis pikir. "Siapa?"

"Akan kuceritakan kisah cinta kami yang epik dan bikin kamu ketagihan langsung!" Astra lalu berdiri memamerkan gaunnya yang gemerlap.

Kisahnya pun dimulai.

Astra memiliki suami dari Kerajaan Waffle karena perutnya yang waffle hingga mengundang syahwat. Selain itu, ia secangkir werewolf yang edgy . Namanya Kazutae Hosee Le Jun-Seo Marcopollo Xalamender.

Kazutae ternyata yang membunuh ibu Astra karena sedang badmood dan dia diutus ayah kandungnya untuk membunuh Astra. Namun, kebodohan membuat mereka bersatu dan sekarang jadi pasangan. Tidak ada yang bisa hentikan keduanya, sekarang.

Astra dan Kazutae kini mempunyai anak bernama Mikasa Le Jun-Seo Miz Coraline Sirena d'Gemoi. Dia memang rada edgy dan berpotensi menggoyangkan dunia karena seseorang merebut susunya saat masih bayi.

Nah, Mikasa yang mengurus anak dari Astra. Anak itu hasil hubungan gelapnya dengan seekor iblis bernama Pedotom Kasuari Edgee Lucidor.

Pedotom ini yang mati bersama Astra karena ia hanya kuat saat di ranjang saja. Mereka menghasilkan anak, diberi nama Lusiyana Edgee Lucidor Sirena d'Gemoi. Dialah anak yang selalu memakai pakaian hitam setelah ditelantarkan orangtua.

Kedua anak itu memang tidak berguna bagi alur ceritanya, tapi ditambahkan saja biar pembaca peduli.

"Sekarang, kamu tahu deritaku," ucap Astra lirih.

"Kamu tetap mengotori rumahku, dasar Mary Sue!" Aku mengumpat sambil melempar sendal mahalku yang diimpor dari Saturnus.

CROT!

Aku ditembak dengan kekuatan es berair dari Astra hingga terpental dua kilometer. Menghantam dinding lalu terguling.

"Tidak ada yang menderita di dunia ini selain aku!" seru Astra. "Terima ini, Playing-Victim Blass!"

Hisrot!

Aku terkurung dalam gelembung gelap dipenuhi foto penuh kesedihan edgy dari keluarga vertebrata ini.

"Rasakan amukan edgy -ku! Hiyaaat!"

Seruan Astra disertai dengan amarah dan lonthe-lonthe yang beterbangan. Hm, wangi.

Untungnya, aku tidak terluka akibat gelembung Playing-Victim ini, sehingga kecantikanku masih terawat.

Tidak disangka, aku menemukan sebuah kristal yang kuduga sebagai Kristal Kehidupan tadi. Bentuknya memang seperti batang, tapi ujungnya agak bengkok.

Saat itulah, jeritan syahdu Astra menganggu kuping. Aku menutup telinga dan berjuang meraih kristal yang bentuknya seperti ... Seperti pedang.

"Jangan serang Ibu!"

Siapa itu? Lusiyana?!

Wujudnya memang seperti anak edgy . Serba hitam dilengkapi dengan eyeliners tebal. Muncul petir dan halilintar dari tangannya.

Crot! Aku terlempar lagi.

Krak! Tidak sengaja, menyebabkan Kristal Kehidupan patah batangnya.

Astra terkesiap. "Tidaaak ...!"

Dia meninggal.

"Oh, tidak." Lusiyana berlari ke arah ibunya. Namun, terhalang oleh Mikasa.

"Ibu kita terbebas sekarang," ujar Mikasa, terkesan bijak. "Ikhlaskan saja."

"Argh!" Lusiyana mengeluarkan petir dari segala penjuru badannya. "Aku kecewa!"

"Auuu ...!"

Lolongan serigala menginterupsi drama keluarga ini. Muncul sosok kekar dengan penutup mata layaknya seorang Chūnibyō. Rambutnya berbeda dari punya Mikasa, ia turquoise sementara Mikasa berambut ungu pucat dengan hijau daun. Jangan-jangan ...

"Ayah!" panggil Mikasa.

"Siapa yang membunuh rembulanku?!" bentak pria yang kuduga sebagai Kazutae. Netra kelabunya menatapku tajam.

Aku serta merta menjawab, "Kaisar Rembulan!"

Kazutae melolong liar. Ia melepas baju dan menampilkan waffle di perutnya. Lantas menjelma jadi anjing puddle dan menyerang ke arah antara awan dan bulan, menuju Kaisar Rembulan.

Sebenarnya, Kaisar Rembulan secara de facto yang menguasai bulan. Tapi kekuatan lon–cinta Astra berhasil mengusirnya. Meski Kaisar Rembulan-lah yang duluan mengalah karena ia lebih waras.

Aku dan dua anak pajangan Astra berlari menyusul Kazutae yang bahkan tidak berpikir panjang untuk menghabisi sosok penguasa bulan sesungguhnya.

Aku dan Mikasa berhasil masuk duluan ke Kekasairan Rembulan, mendahului Lusiyana yang tiba-tiba berhenti untuk menangis karena serangan masa edgy -nya.

"Kaisar Rembulan!" seruku.

Kulihat Kaisar Rembulan sedang breakdance di hadapan para permaisurinya. Ia disoraki lalu kembali menggoyangkan tubuh indahnya depan para wanita itu.

"Kaisar Rembulan!"

Seruanku lantas menghentikan acara seketika.

Berbeda dengan Astra yang mengaku-ngaku sebagai penguasa bulan, ia mendekat dengan tatapan seakan aku tidak diundang ke acara ini. "Ya?"

Mikasa menyenggolku. "Ratu Rembulan Astra meninggal!"

Kaisar Rembulan kembali memakai kacamata lopenya yang merah muda. "Lanjot!"

Ia kembali breakdance bersama para permaisurinya.

"Auuu ...!"

Kazutae masuk dari jendela dan menendang salah satu permaisuri ganas Kaisar Rembulan.

"Kamu membunuh biniku!" Kazutae menarik kerah baju kekaisaran sang Kaisar. Menatapnya tajam.

"Eh?" Hanya itu balasan sang Kaisar. "Kau punya bini?"

"Dia sosok terindah yang pernah kutemukan!" Kazutae membentak sang Kaisar.

Sang Kaisar berhasil meloloskan diri. " Ew, ih! Dasar mesum!"

Tindakan Kazutae ini mengundang amarah dari Kaisar Rembulan.

Seketika terjadi guncangan di bulan dan muncul petir entah dari mana.

Ternyata, Lusiyana mencoba membunuh Kaisar Rembulan karena dia edgy dan badmoo d , tapi tidak disangka sosok yang diburu masih berdiri dengan tatapan kesal tertuju pada Kazutae.

Kaisar Rembulan melepas kacamata lopenya. "Cukup! Kalian merusak suasana!"

DUAR!

Kaisar Rembulan menggerahkan tenaganya menyerang Kazutae. Semburat cahaya putih yang berhasil memukul mundur anjing jadi-jadian itu.

"Uhuk!" Kazutae memuntahkan kecap merah.

"Ayaaah!" seru Lusiyana dan Mikasa, menghampiri gary stu itu.

Wujud Kaisar Rembulan kini menjelma jadi sosok kesatria berzirah putih sekarang. Ia menghantamkan palunya ke arah Kazutae.

"Jangan sakiti Ayah!" seru Mikasa frustrasi. "Ia memiliki masa lalu yang kelam dan sedih, belum lagi sekarang dia memiliki penyakit yang tidak bisa disembuhkan!"

Mikasa pun menangis selagi mendekap ayahnya yang terbatuk-batuk manja.

"Bacot!" Kaisar Rembulan menghantam mereka bertiga dengan palunya dan ...

BUUUM!

Kami semua terlempar.

Para tokoh pemuas nafsu itu telah mati gepeng di tangan Kaisar Rembulan.

Sementara aku tercebur di kopi gemoi yang pelahan menjelma jadi kasur.

Akhirnya aku jadi penguasa bulan setelah Kaisar Rembulan karena itu yang diinginkan author .

TAMAT


Kembali ke Beranda