Gambar dalam Cerita
Ponselku berdering berulang kali, aku belum sempat mengangkat sebab aku sedang berusaha membopong temanku, Nayla ke rumahnya karena ia terjatuh.
"Hallo" ucapku mengangkat panggilan itu namun tak ada suara
"Hallo" ucapku kembali
"Hallo, pak... Are you okay? " Ucapku kembali dengan nada sejenaka mungkin
"Gea" jawab suara diseberang dengan lesu
Aku langsung menegakkan badanku dan menjawab dengan nada khawatir "Kamu dimana?" Sambil berjalan keluar rumah mengambil kunci mobil di dalam tas dengan tergesa memasuki mobil
"Gea" ucap suara itu kembali
"Iya.. Kamu dimana?" Aku mulai melajukan mobilku ke apartementnya
Tanpa menjawab panggilan terputus, bukan apa-apa aku hanya takut dia melakukan hal yang tidak diinginkan. Usai kebanyakan nonton film menghasilkan cemasku berlebih. Dan dia juga pernah menyiksa dirinya sendiri hanya karena kesalahan yang bukan dirinya lakukan. Orang tuanya.
Sialan kamu Arman, gimana sih?
Memakan perjalanan 15 menit sampai disana, aku berjalan tergesa ke unitnya memencet bel berulang kali tanpa jawaban. Persetan tidak ada jawaban aku langsung memencet sandinya namun di dalam tak ku temukan siapapun.
"Arman kamu dimana?" Panggilku
Seketika aku mengingat tempat yang sering dikunjunginya apalagi saat dia ingin mencari udara segar.
Aku bergegas kembali menaiki lift disana menuju lantai paling atas, kembali bergegas jalan dengan tergesa menaiki undakan tangga menuju rooftop.
Aku bernafas lega menemukannya di sudut sambil menekuk lututnya, menetralkan nafas yang tak beraturan.
Kemudian aku mendekat ke arahnya, berdiri tepat di depannya.
"Gea" ucapnya parau, kemejanya yang biasa rapi kini 2 kancingnya sudah terbuka, lengan kemeja di gulung hingga siku. Rambutnya yang biasa di tata dengan rapi kini juga terurai berantakan.
Tapi sungguh, Arman tetap terlihat tampan dan em... Seksi. Ah maksudku bagaimanapun dia tampan.
"Aku tahu, pasti kamu menemukanku. Lagi"
Aku menghela nafas sejenak, kemudian ikut berjongkok dan memeluknya yang ia balas tak kalah erat memelukku.
"Ge.. Hatiku sakit melihat mama sedih. Papa Ge, akhirnya papa kembali."
Aku menepuk mengusap-usapnya perlahan "Semua pasti akan baik-baik saja"
Dia menggeleng di dalam pelukanku "Akan lebih baik dia gak kembalikan daripada mengusik kehidupanku dengan mama yang sudah tentram"
Aku hanya berusaha menenangkannya karena kehidupannya sudah pelik. Dulu sekali ia pernah menyayat lengannya dengan silet hanya karena tidak tahu harus bagaimana saat melihat ibunya seperti ingin bunuh diri.
Papanya yang suka marah tanpa tentu arah.
"Mama kamu pasti sekarang sudah lebih kuatkan, buktinya mama kamu berusaha kuat meski di depan kamu. Tidak histeris seperti dulu"
Ia mengangguk kemudian mengangkat wajahnya "Terima kasih"
"Tadinya rasanya tidak nyaman, tapi lihat kamu disini jadi lebih baik" ucapnya lagi.
Aku tersenyum lalu mengangguk "Oke sekarang gimana? Betah banget peluk aku terus ni?" Tanyaku dengan meledek
Ia terkekeh geli "Yasudah usap ni air matanya" ucapku sambil mengusap air matanya dengan ibu jariku.
Arman yang sekarangku kenalkan berbeda, sekarang dia lebih ke galak gak sih? Karena mengingat dia sedang jadi dosen di kampusku. Salah satu kampus ternama di kotaku.
Dia juga adalah pimpinan di perusahaan, milik mamanya. Aku tahu ini dari dia yang bercerita, yah sepertinya dia ingin pamer padaku.
Kalau begini aku jadi ingat awal pertemuan kami, dimana saat itu ia sedang berdiri di pinggir jembatan saat malam hari. Aku yang kebetulan pulang dari rumah Eriska teman SMP ku melewati jembatan itu melihatnya sedang berdiri dengan posisi kaki naik ke pembatas.
Spontanitasku sebagus itu dan menghentikan laju mobil dengan segera ku tarik dan ku dekap sambil berkata "Mas... Please mas.. jangan gegabah. Hidup ini memang berat tapi semua pasti ada hikmahnya"
"Ha?" Jawabnya
"Iya, mas. Percaya deh. Aku gak bohong. Dengan mas bunuh diri bukan berarti masalah mas selesai. Ih gak tau aja ntar di akhirat serem loh mas."
Tapi jawabannya malah tertawa "Kamu mikir saya mau bunuh diri?"
Aku mengangguk "Iya, jangan ya mas ya. Setidaknya jangan ada saya bunuh dirinya. Kan jadi pertanggungjawaban saya juga di akhirat nanti"
"Ntar malaikat nanya gini, heh kamu kenapa gak mencoba menolongnya gitu gimana dong?" Tambahku
Dia semakin tertawa dengan keras "Kamu kebanyakan nonton tv deh, korban sinetron. Saya gak mau bunuh diri."
Aku tertawa kecil mengingat awal pertemuan kami itu yang berlanjut bertemu sebagai dosen yang kini dia mengajar di kampusku. Saat bertemu bukannya tidak syok, aku sengaja menghindar awalnya tapi dia mulai merecokiku dengan mengingatkan kejadian itu. Hih.. gemes. Lama-lama ntah bagaimana kami jadi dekat. Mungkin juga karena sering terpergokku kala ia sedang dalam masa sulit.
"Kamu mikir apa sih?" Tanya Arman menarikku dari ingatan masa lalu, kini kami sudah berada di unitnya dengan teh hangat.
Aku menggeleng sambil tersenyum "Ingat dulu lucu aja. Aku kira kamu bakalan bunuh diri"
"Enggaklah. Gak sependek itu juga"
"Lah terus dulu pernah..."
"Kan gak bunuh diri." Potongnya
"Tapi nyakitin diri sendiri tau gak" balasku ketus
"Kan sudah berubah" jawabnya kalem
Tanganku terangkat merapikan rambutnya, yang terasa halus di jemariku. Lalu ku usap pipinya perlahan tangannya juga merangkum tanganku di pipinya.
"Semua pasti akan baik-baik saja." Ucapku lalu ku tarik tanganku lalu ia mengangguk
"Oke, aku balik dulu ya kalau gitu dah malam ini"
"Karena itu, menginap disini saja"
"Besok akutuh ada kuliah pagi"
"Dosennya aku juga"
Aku memang beberapa kali pernah menginap disini salah satunya saat ia begini tapi jangan salah paham loh ya, kamar kan gak cuma satu.
"Bajunya kan di kos. Gak bawa baju" kilahku
"Perasaan kamu selalu bawa persediaan baju deh di mobil"
Aku tertawa, bangkit dari kursi setelah sebelumnya melempar bantal sofa ke arahnya yang di balas dengan tawanya juga.
"Duh.. Aku ngantuk banget deh" berjalan memasuki kamar ke dua di unit apartemen milih Arman.
----------
"Ngeliatin apa sih Ge?" Suara Nayla mengingatkanku, saat ini kami sedang di kantin kampus.
Aku menggaruk tengkukku "Enggak, lihat Kevin gak muncul ya" kilahku
Padahal di depan sana aku melihat Arman sedang berbincang dengan bu Rani. Sepertinya seru sekali.
Mendadak makanannya jadi gak enak.
Tak lama ponselku berdenting, pesan dari Arman mengajakku nonton bioskop.
Mas Arman
Ntar ketemu di parkiran, kita nonton bioskop ada yang mau aku lihat bareng kamu
Wah... Asik nih nonton dan makan gratis. Ku tatap ia yang duduk di depan sana yang ternyata juga menatapku sambil tersenyum. Ku peringatkan, nama Mas Arman di ponsel, dialah yang memberi nama itu.
"Demi apa coba? Pak Arman senyum coy" pekikan Nayla heboh "Dan sama lo senyumnya"
Aku tertawa kecil menanggapinya
"Seriusan gue kepo, lo gak pacaran sama pak Arman?"
"Enggak" balasku
"Gila ya.. sedekat itu bisa gak jadian"
"Emang gimana sih?" Balasku tak ramah
"Ya gimana ya, Ge. Saling berbagi kasih tapi kek gada apa-apa gitu. Pahamlah maksudnya ya"
"Ya jalanin aja sih, Nay. Belum mau nikah cepat juga"
"Gaya lo. Lo bilang mau nikah muda. Makanya dipepet Kevin mau aja. Tapi Kevin juga ganteng dan kaya sih. Cocok buat lo yang banyak maunya"
"Kakak gue kan belum menikah"
"Gampanglah. Langkahin aja. Dah gak zaman bahela ini. Lengkapin permintaannya yang minta emas 24 karat itukan? Halah.. bisa di aturlah itu" papar Nayla panjang lebar
Tapi masalahnya, aku gak cinta sama Kevin. Dia memang baik tapi hati gak bisa di paksakan.
Ponselku kembali berdering menampilkan nama kak Ayasha
"Ya hallo kak"
" Dek jadi pulangkan minggu depan?"
"Kenapa kak?"
" Kan sudah janji. Libur semester pulang "
"Iya kak. Aku pulang kok. Sampaikan salam sama mama papa ya kak."
" Telpon dong mereka "
"Nanti aku di introgasi pacar mana pacar mana kak. Ah bosan"
Kak ayasha tertawa " Ya sudah, kakak cuma mau mengingatkan saja "
Dan sambungannya terputus, aku mendesah pelan.
"Kenapa sih?" Desak Nayla
"Lo taukan, Nay. Salah satu alasan gue kuliah jauh karena kak Ayasha juga. Gue gak tega kak Ayasha di pojokkan selalu harus cepat menikah lalu ujungnya ke gue, karena gue belum punya pasangan kak Ayasha jadi bersantai dengan pasangannya karena karir mereka"
Kak Ayasha memang sedang bagus-bagusnya berkarir. Dia baru saja di angkat menjadi manajer pemasaran di perusahaan ternama, memang usianya hanya terpaut 4 tahun dariku. Saat ini usiaku 22 tahun.
"Lagipula kak Ayasha masih 26 tahun ya kenapa di buru nikah terus sih?"
"Sebenarnya bukan itu pokok permasalahnnya, Nay. Karena Mas Brendon sudah 2 tahun belum pulang dari London. Mama cuma gak mau kakak di gantungin gitu"
Aku mengerti maksud orang tuaku, mereka memang berhubungan dengan serius tapi bisa sajakan waktu yang berkhianat.
Misal ni mereka saling cinta tapi tiba-tiba mas Brendon dijodohkan mamanya. Seperti di novel yang pernah kita baca. Orang tuaku hanya tidak ingin kak Ayasha mendapat harapan palsu yang berujung patah hati.
Mengenai tunangan? Mas Brendon tidak ingin ada lamaran, ia ingin langsung menikah saja.
Nayla mengangguk-angguk "Sebenernya alasan lo aja kan libur semester, kita juga cuma nyusun skripsian doang ini. Yah kalau mau kabur bisa aja" balas Nayla sambil tertawa kecil.
---------
"Ya ampun pak Arman romantis syekali ya" ucapku kemudian setelah keluar dari bioskop dan membelokkan langkah ke tempat makan, masih di mall yang sama tempat kami menonton film.
Bagaimana tidak? Aku itu penakutkan, katanya tadi mau lihat film romantis, eh taunya malah film horor, sepanjang film aku sibuk menutup mata dan Arman sibuk dengan tawa nya menertawakan aku.
"Serukan filmnya? Teman-temanku banyak bilang ini seru makanya aku mengajakmu"
"Bodo amat, pak."
"Yasudah pesan, mau apa?" Dia menyodorkan menunya padaku
"Mm.. yang paling mahal ya" balasku dengan tawa kecil tapi aku hanya bercanda, nyatanya aku hanya pesan nasi goreng pataya dengan segelas lemon tea saja.
Tak lama pesanan kami datang dan mulai memakannya perlahan.
"Akhir pekan mau kemana?"
"Pulang ke Bandung, mama nyuruh pulang"
"Kenapa? Mau di jodohkan"
Aku mengangkat bahu, "Kakakku kan belum menikah. Masih menunggu pacarnya. Gak yakin juga jodohku bisa nyanggupin permintaannya ketika di langkahin kan" jelasku sambil menyuapkan sesendok nasi
Arman mengangguk-angguk lalu berkata "Tapi aku bisa nyanggupin permintaannya kalau cuma perihal materi"
"Iya iyaa orang kaya mah bebas ya" balasku sambil meledeknya. Jangan baper, ini sudah biasa terjadi.
Ia melihat ponselnya sebentar sebelum kembali berkata padaku "Wah. Kebetulan dong, aku juga mau kesana. Bareng aja bagaimana?"
"Kemana?" Tanyaku
"Semarang"
"Jangan deh, merepotkan gak sih"
"Enggak kok"
"Nanti aku pikir-pikir dulu"
"Ge, kayaknya aku lagi tertarik deh sama seseorang"
Aku mengangkat wajahku ke arahnya "Siapa?" Balasku
"Nanti aku beritahu, mungkin karena nyaman bicara aja sih. Aku ketemu dia saat ke Semarang bulan lalu, ketemuannya juga gak sengaja ternyata dia bekerja di kantor...."
"Oh jadi nanti ke Semarang sekalian mau bertemu dengannya?" Potongku
"Tidak juga. Mama barusan kabarin aku disuruh mengecek ke sana, jadi yasudah sekalian ajakan. Kamu juga mau ke Semarang."
Aku mengangguk, "Iya sih" tapi aku masih penasaran sih "Kamu... Suka sama perempuan itu?" Tambahku
"Gak bisa dikatakan begitu juga." Aku hanya diam sambil menganggukkan kepala.
"Sudah selesaikan? Kamu ikut aku dulu ya. Aku ambil berkas di rumah dulu ada yang tertinggal. Sekalian ketemu sama mama. Aku belum pernah ajak kamu ketemu langsungkan?"
"Wah.. gak bisa berkata-kata akutuh sama pak Arman." Balasku tapi dia hanya tertawa
Lalu kamipun keluar menuju perjalanan ke rumahnya. Hanya perasaanku saja atau bagaimana ya, ia terus memegang tanganku. Aku menatapnya lamat-lamat.
Ku perhatikan wajahnya saat fokus mengemudi lalu beralih ke tangannya yang memegang tanganku.
Bolehkah aku jatuh hati padanya Tuhan?
Bahkan sebelum meminta izin aku sudah jatuh hati duluan padanya tanpa ku sadari. Ya mau bagaimana jika keseharianku selalu banyak diisi oleh kehadirannya.
"Kenapa sih?" Tanyanya padaku
"Ha? Tidak apa-apa" balasku sambil menarik tanganku darinya
"Ohiya mama kamu galak gak?" Tambahku
Dia tertawa "Mungkin lebih ke cerewet kali ya"
Tiba di rumahnya kami berjalan mulai memasuki rumah, tiba di pintu utama ia terdiam aku yang di belakangnya bingung.
Menyentuh lengannya aku bertanya "Arman, ada apa?" Dia diam menatapku lalu menatap ke dalam. Ku ikuti arah pandangnya terdapat pria paruhbaya yang sedang menatapnya juga. Yang kuyakini itu adalah papanya.
"Ayo" ajaknya
"Mm.. Arman, aku tunggu di sini saja ya"
Ia menaikkan alis tanda tak mengerti. Maksudnya gimana ya aku juga bingung, kayak akutuh orang lain. Gak enak aja gitu.
Ia menarik tanganku membimbingku masuk ke dalam rumahnya yang besar, wah ku ralat ini besar sekali.
Aku menganggukkan kepalaku saat melewati papanya Arman dan beliau tersenyum ramah padaku.
"Kamu tunggu di sini dulu ya" ia menyuruhku duduk di ruang tamunya dan aku mengangguk. Memangnya mau kemana lagi?
Lalu papa Arman tiba-tiba datang, "Kamu kekasih Arman?"
"Ah? Bukan, om. Hanya teman"
Papa Arman tersenyum "Saya berharap kamu yang mendampinginya." Lalu ia pergi dari sana
Tak lama seorang wanita yang ku yakini adalah mama Arman masuk berjalan ke arahku, dengan segera aku bangkit.
"Hallo, tante. Aku temannya Arman"
Ia menatapku sekilas tersenyum lalu pergi menyusul Arman ke suatu ruangan yang dimasuki Arman tadi. Tampak terburu-buru.
Aku menghela nafas, meminum jus jeruk yang di buatkan oleh ART.
Lalu tak lama Arman keluar dari ruangan itu diikuti mamanya.
"Arman" ucap papanya
Jadi kini situasinya aku sedang menyaksikan drama keluarga ini. Pahamkan maksudnya bagaimana? Tentu tidak enak
Terlihat Arman menghela nafas sejenak, lalu mengangguk mengikuti langkah papanya.
Mamanya datang duduk di sebelahku "Kamu Gea, kan?"
Aku tersenyum "Iya, tante"
"Arman banyak cerita soal kamu. Tante senang" Mama Arman memegang tanganku "Terima kasih sudah bersama Arman selama tiga tahun terakhir ini, tante berharap kamu terus bersamanya"
"Mm... Tante, aku sama Arman gak punya hubungan apa-apa kok" jawabku kalem
Ia tertawa "Arman sama seperti papanya. Ia hanya belum menyadari mungkin. Mengenai hubungan kami, pasti Arman banyak cerita sama Gea. Tapi sebenarnya papa Arman baik. Mungkin lebih tepatnya sudah berubah menjadi lebih baik"
Aku tidak tahu seperti apa wanita di hadapanku ini tapi dia sungguh baik sekali. Bisa berbijaksana memaafkan keadaan yang sudah-sudah.
Perasaan Arman yang tak menyadari aku tidak ingin berharap, karena Arman baru saja mengatakan tertarik pada seseorang.
Juga... Aku tidak ingin mengakui perasaanku padanya.
Aku dan mama Arman berbincang kecil tak jarang kami tertawa, rasanya baru sebentar saja kami sudah terlihat akrab. Mama Arman sungguh ramah dan terlihat hangat padaku.
"Kalian bicarakan apa?" Arman datang lalu duduk di sebelahku.
"Ah rahasia ya, Ge" balas mamanya "Sudah bicara pada papa?" Tanyanya lagi
Arman mengangguk singkat
"Mama harap, semoga bisa mengubah pandanganmu, nak. Papa tidak seperti yang kamu pikirkan"
Arman menunduk seperti sedang memikirkan sesuatu, aku menggenggam tangannya lembut dan ia mendongak. Tersenyum padaku lalu mengangguk.
"Kalian mau kemana? Makan malam disini aja bagaimana" tawar mamanya
"Tidak, ma. Kami mau pulang saja. Gea juga sibuk. Iyakan?"
Aku mengerutkan kening tapi mengangguk juga.
Mama Arman tertawa "Kamu posesif sekali, Arman"
"Ayo" ajaknya padaku. Akupun mengikutinya setelah sebelumnya berpamitan pada orang tuanya.
Arman melajukan mobilnya perlahan keluar dari komplek perumahan itu.
"Ke apartemenku ya, Ge?"
"Mm.. lain kali ya. Aku mau berkemas. Besok aku mau ke Semarang"
"Bukannya akhir pekan ya?" Tanyanya
"Tadinya. Tapi orang tuaku menyuruh segera. Katanya mereka kangen"
Arman diam sebentar sebelum menjawab "Oke. Kalau begitu, minggu depan setelah aku tiba disana. Aku akan menemuimu lalu kita jalan-jalan"
Aku tersenyum lalu mengangguk ke arahnya "aye.. aye, Capten!"
Tiba Arman menghentikan laju mobilnya, aku melirik sekitar tidak ada apa-apa hanta jalanan biasa. Tadinya aku pikir ia ingin membeli sesuatu.
Ia menarik tubuhku, memeluknya menyandarkan kepalanya pada bahuku.
"Ge.. "
"Ya?"
"Ternyata selama ini aku salah paham. Aku pikir papa dengan sengaja beberapa tahun belakangan ini menyakiti mama. Tapi ternyata papa punya misi khusus"
Sungguh aku tidak mengerti maksudnya tapi karena dia membutuhkan pelukan maka akan kuberikan, padahal jika ia meminta ciuman manis pasti aku akan berikan juga.
Aduhh.. pikiran kotorku ini. Mungkin efek cuaca yang mendadak turun rintik ya
"Ge"
"Ya?"
"Sekarang tugas papaku sudah selesai, misi yang dikatakannya sudah selesai dengan baik. Dia sengaja melakukan itu demi melindungi kami. Bahkan mamaku yang seperti berniat membunuh diri diluar kendali papa. Intinya adalah papa begini demi pekerjaannya"
"Aku gak mengerti kamu bicarakan apa. Misi atau apapun itu. Tapi, Ar. Bukankah papa kamu bekerja sebagai Arsitektur"
"Yang orang tahu" balasnya "Sebenarnya papa juga anggota BIN"
" Whatt !" Pekikku lalu melepaskan pelukan darinya kemudian menatapnya "Beneran?"
Dia merengut sebal melihatku lalu kembali memelukku.
"Beneran?" Tanyaku lagi, ia mengangguk "Aku cuma cerita ini ke kamu"
"Oke. Tapi aku gak ngerti kenapa bisa begitu" aku mendesah kesal bercampur tidak percaya lalu berkata "Lihat apa yang kamu dan mama kamu laluin selama ini"
Arnan mengangguk "Tapi aku bersyukur juga. Ternyata pandanganku terhadap papaku tidak seburuk itu."
Aku ikut mengangguk, mengusap rambutnya dengan lembut "Hikmahnya, kamu sudah jadi yang terbaik untuk mama kamu"
"Ah, Arman!" Protesku, bagaimana tidak jika ia mengecup leherku. Mendadak begini membuatku aneh.
Lalu tangannya mengusap pipiku perlahan "Ge, boleh aku cium kamu?"
Ha? Apa aku tidak salah dengar. Ini untuk pertama kalinya, sungguh.
Belum sempat aku melayangkan jawaban tapi dia sudah membungkamku dengan ciumannya. Awalnya hanya diam sejenak lalu perlahan bibirnya bergerak, aroma mint dan rasa manis dari bibirnya menyapaku dan kegilaan dari mana akupun membalasnya. Membalas ciuman manisnya.
Ia menarik diri membuatku merasa kehilangan, ia menyatukan kening kami memberi jeda mengambil nafas karena terengah. Tapi nyatanya belum usai, ia kembali menyatukan bibirnya padaku mencecap kembali melumat hingga sebagian akalku hilang di telan cecapan manisnya padaku.
Ia menarik diri mengusapkan wajahnya yang nampak frustasi atas apa yang dia lakukan padaku. Aku membuang wajah ke arah luar. Menghindarinya.
Menunduk dan memegang kemudi lalu menjalankan kembali mobilnya.
Tangannya menggemgam tanganku melirikku singkat lalu berkata
" Sorry , Ge. Tapi aku gak menyesal uda cium kamu"
---------
Sudah seminggu ini aku di Semarang tapi kejadian tempo lalu yang terjadi padaku dengan Arman masih terasa manis. Entahlah, harusnya tidak boleh beginikan.
Aku ingat ketika turun dari mobil yang mengantarkan aku ke kos-kosan saat itu. Ia berkata " Aku ingin sekali mengantarmu besok. Tapi pekerjaanku tidak bisa tinggal begitu saja. Jadi, sampai bertemu di Semarang, Ge." Ucapnya padaku lalu mengusap rambutku.
Aku berguling-guling di tempat tidurku, sudah mandi dan rapi tapi yang ku lakukan seminggu ini memang hanya di rumah saja. Hanya beberapa kali menyapa tetangga dan teman dekat di sekitar. Tidak ada kegiatan khusus.
Aku memekik perlahan ketika mendapati Arman menelponku.
"Halo"
" Ge, tebak aku dimana?"
Aku diam seperti berpikir sejenak "Di kampus?" Balasku
Dia tertawa " Salah. Aku di Semarang"
"Wahh beneran, pak?"
" Sudah 4 hari yang lalu tapi aku belum bisa menemuimu. Banyak sekali yang harus aku cek disini "
Aku mengangguk paham "Mau aku yang kesana menemuimu?" Ucapku
" Ini bukan di Jakarta, Ge ." Balasnya ambigu tapi memang benar, dia punya pekerjaan di Semarang tapi tidak pernah terlibat langsung padaku atau main ke rumahku, misalnya. Kami juga baru kali ini bisa di Semarang secara bersamaan. Itupun lagi-lagi karena pekerjaannya.
"Iya deh "
" Kamu kira-kira kapan balik ke Jakarta?"
"Hari kamis rencanya sih"
" 4 hari lagi. Oke aku usahakan segera selesai kerjaanku ."
"Memangnya mau kemana? Kalau gak bisa ketemu, di Jakartakan juga bertemu."
" Mana bisa begitu, Ah iya, Ge, nanti aku hubungi lagi. Aku sudah tiba di kantor ni"
"Sebentar" ucapku cepat
" Ya ?"
"Kamu sudah bertemu dengan cewe itu?" Tanyaku ragu
Arman tertawa sebelum menjawab " Sudah "
" Tapi aku lebih gak sabar bertemu kamu sih" tambahnya. Lalu panggilan terputus, aku menatap ponselku lalu tersenyum.
"Seneng banget kayaknya anak mama" celetukan khas suara mamaku yang super kepo menyapa indraku, aku menoleh langsung berkata
"Iya dong"
"Pacar kamu?"
Aku terkekeh kecil "Belum sih, ma"
Mamaku duduk di atas ranjang bersebelahan denganku "Ayo ceritakan sama mama"
Aku nampak berpikir tapi kami berdua tertawa "Dia dosen di kampus, ma. Tapi juga mengurus perusahaan."
"Sudah tua dong?"
"Ih, mama.. ya gak gitu juga. Beda... 6 tahun gak terlalu tua kan?"
Mama mengangguk "Memangnya dia sudah bilang suka sama kamu? Sampai kamu sesenang ini"
Ah aku melupakan fakta, bukankah dia mengatakan padaku tertarik dengan seseorang. Di Semarang apa dia juga bertemu dengan perempuan itu.
Melihat ekspresiku agak murung, mama memegang pergelangan tanganku. "Tidak apa-apa. Kita boleh berharap tapi jangan terlalu ya, nak. Mama khawatir kamu patah hati. Sama seperti mama khawatir terhadap kak Ayasha, dia setia sekali dengan Brendon."
"Iya, ma"
Begitulah mamaku....
Usai berbincang sedikit dengan mamaku, ia keluar dari kamarku. Aku memainkan ponsel di kamar, hanya sekedar lihat-lihat medsos.
Ku lirik jam dinding menunjukkan pukul 4. Tidak tahu mau melakukan apa, berjalan menuju pekarangan depan lalu menghidupkan keran air untuk menyiram bunga-bunga milih mamaku yang tersusun rapi di pekarangan.
Seingatku pagi tadi tidak di siramkan? Cuaca juga lumayan terik jadi lumayan kerjaan untuk menghilangkan kebosananku.
Ku lihat ada mobil berhenti, kak Ayasha turun dari mobil itu. Ah mungkin dia naik taksi online, tapi berikutnya melihat yang turun membuatku mengumpat tertahan. Mematikan keran, aku berbalik ingin menyapa tapi keberadaan kak Ayasha ditengah-tengah membuatku kembali bungkam.
Aku menatap penuh minat pada Arman, tapi...
"Mm... Mas kenalin. Ini adik aku, Gea. Dan Gea, ini Arman." oke, mas. Kata yang disematkan kak Ayasha membuatku bingung
Dia tersenyum canggung, menaikkan tangannya "Hallo. Aku Arman."
Aku mendengus tidak percaya tapi juga menjabat tangannya "Gea" ucapku
THE END