Cetak Rindu
Romance
19 Dec 2025

Cetak Rindu

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2025-12-19T194458.456.jfif

download - 2025-12-19T194458.456.jfif

19 Dec 2025, 12:45

download - 2025-12-19T194454.387.jfif

download - 2025-12-19T194454.387.jfif

19 Dec 2025, 12:45

Gajah di depan mata tak tampak, semut di ujung jalan nampak



Yuk yang mau ralat, author lupa itu pepatahnya. Mon maap! Ye ya nggak usah ngegad bisa kan Thor?

Huhu so pasti bisa. Lama nggak update nih lagi dilanda sejuta kemiskinan imajinasi huhu. Cus lanjut aja! Siap, mulai ...

Malam ini bener bener gabut. Orangtua ke luar kota, do'i nge-game mulu kerjaannya, temen pas butuh doang muncul. Sedangkan aku, aku tertinggal disini dikamar sendirian tanpa makanan.

"enaknya ngapain, nih, njir." Ucapku pada diri sendiri. Yang kulakukan saat ini adalah rebahan di samping stop kontak, yah you know lah apa yang sedang aku lakuin.

Layar ponselku menyala, Azril, nama itu tertera di layar ponselku. Dengan gerakan malas aku membuka chat darinya.

Azril : Woi bukain pintu .

Seutas kata namun berhasil mengembangkan senyumku. Akupun membalas chat darinya dengan sigap.

Gue : Gue bakal bukain, asal lo beliin gue nasi Padang:)

Akupun mengklik send.

Azril : gue ga beli nasi Padang, tapi gue beli ayam bakar lo mau nggak?

Pemberitahuan itu masuk dengan cepat di layar ponselku.

Gue : Ok! karena lo baik hati, gue meluncur sekarang.

Dengan girang akupun turun dari tangga untuk membukakan pintu untuknya.

Ckleak...

Bunyi pintu yang ku buka perlahan. Kulihat Azril tengah berdiri di teras, bajunya basah kuyup dan OMG! gue bener bener ga sadar kalo di luar lagi...

"Ehm ...." Azril berdehem melihat ku melamun.

"Eh, ya udah yuk, masuk." Akupun mengambil kantong plastik yang ada ditangannya.

"Lo bego banget si Zril, udah tauk ujan kenapa nekat kesini," Ucapku kesal.

"Karena gue tauk lo lagi kelaparan sekarang," Ucapnya sembari menoyor kepalaku.

"Ya udah tunggu sini, gue ambilin handuk dulu, lo jangan duduk di sofa ntar basah lagi sofa gue." Tidak ada jawaban tapi sekilas ku lihat dia menggelengkan kepalanya.

"Nih keringin dulu badan lo, abis itu lo ganti baju di kamar tamu." Akupun kembali sambil menyodorkan handuk dan pakaian untuknya.

"Baju siapa nih." Azril mengerutkan keningnya mihat kaos oblong berwarna hitam.

"Itu baju Kenzo, kemaren dia nginep sini," Jawabku santai.

"Hm." Aku tidak memperdulikan dia lagi karena sekarang perhatian ku sepenuhnya tertuju pada kantong plastik yang tergeletak di atas meja. Dengan cepat aku membuka kantong plastik itu, aroma ayam yang menggiurkan langsung membuat cacing di perutku meronta-ronta minta jatah.

"Ck ck ck, udah makannya?" Suara Azril mengagetkan ku.

"Mau?" Ucapku lirih karena tidak rela aku berbagi makanan dengannya.

"Enggak buat lo aja." Huft... Untung aja Azril nolak, nih, ayam bakar karena yang tersisa hanya tulangnya saja.

selesai makan akupun duduk di samping Azril, "Kenyang?" Tanyanya padaku, dengan cepat aku mengangguk.

"Thanks, ya lo baik banget hari ini," kataku tulus sambil bersandar di bahunya. Kebiasaanku untuk bersandar di bahunya sudah seperti candu, karena setiap kali aku dan Azril duduk berdampingan, aku selalu tertarik untuk meletakkan kepalaku di bahunya. Toh dia pun tidak bergeming.

"Sya?" Suaranya menggugah lamunanku.

"Hm..." Jawabku malas

"Lo ngantuk ya?"

"Dikit doang," Sahutku lirih.

"Tidur gih gue mau pulang, lagian dirumah ga ada siapa siapa ntar gue digebukin massa lagi." Mendengar itu akupun menegakkan kepala.

"Ya udah deh, pulang sono oh ya besok lo mau nganterin gue ke mall gak?" Tanyaku padanya.

"Besok?" Tanyanya memastikan.

"Iya," jawabku. Kemudian Dia menatapku lekat entah apa yang ada di pikirannya.

"Oke, jam delapan gue jemput," katanya final lalu beranjak dari duduknya.

"Oke!" Dengan semangat aku mengikutinya untuk menutup pintu.

"See you," Azril tersenyum manis.

Dan aku? apa yang aku lakukan, aku hanya terpaku melihatnya. Nghehehe.

Who is Azril? Sahabat ku, yah, dia selalu ada untuku setiap saat, setiap waktu, bahkan setiap detiknya rela ia habiskan untuk diriku. Meskipun aku sering sekali membuat dia kecewa, kemarin saja aku membuat dia panas panasan karena menungguiku bersama Kenzo, biasalah mantai sambil foto foto syantiks.

Anehnya setiap aku mulai tidak enak karena sering merepotkannya dia selalu berkata, "Elisya lo nggak perlu sungkan minta tolong ke gue." Akupun menutup pintu lalu beranjak tidur.

"Non, bangun non!" Suara pembantuku menggema memenuhi ruangan.

"Eum..." Aku menggeliat, mataku perlahan terbuka.

"Ehm, iya Bik?" Ucapku malas.

"Azril, nak Azril kecelakaan!" Ucap pembantuku panik. Akupun langsung terduduk dengan mata terbelalak.

"Hah Azril!" Seruku tak percaya dengan cepat aku berlari, mengeluarkan mobil jazz putih ku lalu pergi ke RS. Aku tidak menghiraukan perkataan pembantuku yang aku dengar Faro dilarikan ke RS indah purnama.

Sesampainya di RS aku langsung masuk ke dalam belum sempat aku bertanya kepada resepsionis mataku sudah menangkap sosok lelaki tinggi, putih, dengan luka di kepala, tangan, serta kakinya. Darah mengalir deras di sekitar kepalanya.

"Azril," lirihku, kugunakan sisa tenagaku untuk menghampirinya.

"Azril!!" Tangisku pecah.

Beberapa suster sempat menenangkan ku. Di dorongnya Faro menuju sebuah ruang akupun berhenti sejenak.

Ruang mayat

Tulisan itu tertera di depan pintu masuknya, "Yang sabar ya mbak." seorang suster memelukku erat. Tubuhku lunglai hingga akhirnya kesadaran ku pudar.

"Azril kecelakaan saat ingin menjemput Elisya, mobilnya menabrak mobil truk di depannya, korban mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, hingga akhirnya nyawa korban melayang," keterangan dari Salsa salah seorang saksi mata.

Aku baru saja selesai menaburkan bunga diatas makam sahabatku, Kenzo masih setia menungguiku meratapi kebodohan yang aku buat sendiri. Satu persatu para pelayat sudah melenggang pergi.

Dear Elisya

Gue seneng lo udah mau jadi sahabat gue, gue seneng akhirnya gue bisa lebih deket sama lo. Astaga terserah kalau lo mau bilang gue alay atau apalah itu karena jujur gue bener bener nge-fly ketika kepala cantik lo bersandar di bahu gue. Asal lo tau gue setengah mati nahan detak jantung gue yang melompat lompat mau keluar dari tempatnya, gue ingin nyatain perasaan gue selama ini Sya, perasaan yang terkubur selama 17 tahun tetapi gue nggak bisa, orang bilang cinta gue kejebak friend zone. Entah kenapa gue tiba-tiba bahagia karena berhasil jadi penyelamat lo malam ini. Besok gue akan jujur mengenai perasaan gue, gue tau lo masih punya Kenzo. Tapi, tenang aja karena gue cuma mau lo tau perasaan gue ke elo. Good night Elisya wijaya-,

Diary yang baru saja aku baca ini adalah diary terakhir sebelum Azril meninggalkanku untuk selama lamanya. Selain selembar diary ini masih banyak lembaran lain yang aku sendiri dibuat menangis karenanya. Semua diary ini bertuliskan tentangku, mulai dari aku yang baru saja bertemu dengannya di TK dahulu, aku yang marah karena ingin naik kuda sewaktu SMP, sampai aku yang menangis haru karena Kenzo menembakku, semuanya tertulis jelas disini.

Azril I'm so sorry gue terlalu cupu buat peka terhadap perasaan lo. Gue bahkan nggak menangkap singal singal yang lo kasih. Azril, lo sadar kalau lo pergi dengan membawa perasaan yang terpendam? Kamu pergi tanpa ucapan selamat tinggal dan kamu pergi meninggalkan aku yang kini hanya bisa menyesal.

End

Kembali ke Beranda