HOROR RUMAH WARISAN
Horror
20 Dec 2025

HOROR RUMAH WARISAN

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2025-12-20T191659.546.jfif

download - 2025-12-20T191659.546.jfif

20 Dec 2025, 12:17

download - 2025-12-20T191644.018.jfif

download - 2025-12-20T191644.018.jfif

20 Dec 2025, 12:17

Dela hari ini berencana pulang cepat dari kantornya, dikarenakan hari ini dia dan tiga kakak lainnya akan berpergian ke Bandung, baru saja sebulan yang lalu Mamah dan Papah Dela meninggal karena kecelakaan mobil yang dikendarai mereka saat ingin berlibur ke luar kota.

Duka yang mendalam masih sangat terasa di keluarga Dela, sampai Pak Habib kemarin datang ke rumah, dan memberitahu bahwa ada wasiat dari kedua orang tua mereka jika mereka meninggal dunia.

"Jadi saya awali terlebih dahulu dengan ucapan belasungkawa sebesar-besarnya untuk kalian" ucap Pak Habib

"Iya pak Terimakasih" ucap Kakak Dela Rio

"Ada apa ya pak, sampai bapak malam-malam kemari?" tanya Kak Shinta Kakak Dela yang tertua

"Jadi begini, saya dan papah kalian sudah berteman lama sekali, kebetulan om ini kan pengacara, papah dan mamah kalian sudah memikirkan keadaan kalian saat kalian masih kecil, dengan membuat surat wasiat untuk kalian, ada beberapa asset yang dimiiliki Bapak dan Ibu kalian, dan saya akan membacakannya saat ini"

Hampir semua yang dibacakan oleh Pak Habib kami semua mengetahui aset yang dimiliki oleh orang tua kami, tapi ada satu wasiat yang sama sekali kami tidak mengetahui.

"Bapak dan Ibu kalian memiliki rumah dan tanah di Bandung sekitar 2 hektar dan luas rumah 500 meter, dan ini untuk kalian bertiga" ucap Pak Habib

"2 hektar?" ucap Rio

"rumah 500 meter?" ucap Shinta

"Kenapa mamah dan papah gak pernah ajak kita kesana ya?" tanya Dela

"Mungkin karena orang tua kalian sangat sibuk, dan tidak sempat kesana" Ucap Pak Habib sambil memberikan sertifikat tanah dan rumah tersebut.

Oleh karena itu hari ini kami berencana untuk berangkat kesana, untuk melihat warisan tanah dan rumah yang kami tidak tahu sama sekali, kebetulan besok ada tanggal merah dibarengi dengan hari libur, jadi kami bisa lebih banyak waktu melihat kondisi rumah dan tanah di Bandung.

Saat diperjalanan, karena ini sudah mulai malam kami berhenti beberapa kali di rest area untuk beristirahat, dan ternyata daerah tanah yang dimaksud cukup jauh diperkampungan, kami harus bertanya kepada beberapa orang untuk ke tempat itu.

Setelah akhirnya kami bertanya, akhirnya tepat pukul 7 pagi kami sampai juga di kampung yang dimaksud, Kampung nyageng Cibeunyit, saat kami memasuki area perkampungan itu suasana perkebunan STrawberry dan area persawahan sangat menyejukkan mata, kami sempat berhenti sebentar di rumah makan sederhana.

Sambil memesan beberapa menu Dela bertanya kepada ibu tua yang sudah berwarna abu abu disemua rambutnya.

"Punten bu? kami sedang cari alamat ini?"tanya Dela sambil memberikan kertas kepada sang ibu

"Ini teh masih Satu setengah jam lagi neng, tepatnya diatas bukit itu" ucap sang Ibu

"Oh begitu bu, berarti dari sini hanya tinggal mengikuti arah bukit itu?"tanya Rio sambil menunjuk bukit kecil yang terlihat dari arah warung tersebut

"Iya pak" ucap sang ibu sambil tersenyum

"Makanan yang enak ya kak?" ucap Dela saat di mobil sambil mengelus perutnya

"Iya karena semua dipakai dari bahan yang alami, gak kaya di Jakarta udah kebanyakan pengawetnya" jawab Shinta ketus

"Menurut kalian, apakah mamah dan papah mungkin sudah lupa dengan rumah dan tanah ini ya? " tanya kak Rio

"Masa tanah sebesar itu bisa lupa sih ka?" ucap Shinta

Dan setelah menempuh satu setengah jam perjalanan mereka akhirnya sampai juga tepat ucapan ibu tadi.

"Waw... sepi kak" ucap Dela saat turun dari mobil

hanya ada area tandus yang luas dan kejauhan ada rumah bertingkat yang terlihat

"Itu pasti rumahnya" ucap Shinta

Dan Rio menyuruh kami semua masuk, dan menuju kerumah tersebut

Rumah tua dan tidak terurus tetapi kondisi rumah tersebut masih sangat kokoh dan kuat

Tidak ada satupun orang yang ada disini, sepertinya rumah dan tanah ini sudah sangat lama ditinggalkan

"Kakak yakin kita akan menginap disini?" ucap Dela

"Tidak apa-apa ini hanya karena kotor saja, karena tidak dibersihkan, kalau sudah rapih dan bersih, akurasa rumah ini akan sangat bagus dan cantik" ucap Shinta bersemangat

"Okey, kita lihat ke atas dulu" ucap Rio

Sambil berjalan ke atas dengan suasanan rumah yang tinggi dan besar, banyak ruangan dengan interior antik dan khas eropa terlihat disana, menambah kesan kokoh pada rumah ini.

"Sayang ya, coba mamah dan papah suruh orang jaga rumah in, pasti kita akan betah main kesini setiap tahunnya" ucap Dela

Ada empat kamar pada rumah tersebut, akhirnya kami memilih satu-satu kamar yang akan kami tempati

Setelah kami berganti pakaian kami langsung bergotong royong membersihkan rumah tersebut, dan waktu pun berjalan tidak terasa sudah hampir jam 3 sore, yang menyadarkan kami adalah perut kami yang keroncongan.

"Sudah ya kita istirahat dulu" ucap Kak Rio

"Iya kak, aku lapar, kayanya kita harus belanja juga untuk keperluan kita menginap" jawab Shinta

"Iya kak, gak terasa udah sore aja" ucap Dela

Setelah mereka mandi dan ganti baju, mereka langsung menuju keperkampungan awal untuk membeli makanan dan kebutuhan lainnya

"Teteh dan aa sepertinya orang kota? saya baru lihat disini?" ucap Bapak tua pemilik warung

"Iya pak, saya lagi nengokin rumah dan tanah saya yang ada di bukit itu" ambil menunjuk ke bukit kecil tadi

"Maksudnya rumah tua yang lama tidak dihuni?" ucap Bapak tua tadi kaget

"Iya pak, itu warisan orang tua kami" ucap Dela

"Kalian akan menginap disana?" tanya Bapak tua tadi

"Iya pak"

"Saya sarankan teteh dan aa menginap dikampung sini saja, biar besok pagi baru kesana lagi, karena rumah itu lama tidak dihuni" ucap Bapak tadi sedikit memaksa

"Iya pak, tadi kami sudah bersihkan dan kondisinya sekarang sudah lebih rapih, makanya kami membeli beberapa lampu penerangan juga pak" ucap Shinta

"Baiklah teteh dan aa tapi hati - hati ya" ucap Bapak tadi

"Hati - Hati kenapa pak?" tanya Rio sambil memakan roti yang ada di tangannya

"Banyak cerita hantu tentang rumah itu" jawab Bapak tua tadi

"Hantu?" ucap Dela

"Iya teh, disana banyak hantunya" kata Bapak tua tadi

Setelah selesai membayar semua keperluan yang dibeli , di mobil suasana jadi sedikit aneh

"Kak, rumah itu berhantu" ucap Dela membuka pembicaraan

"memang kamu percaya sama hantu?" tanya Rio

"Kamu tahu gak Del, itu cara orang-orang kampung biar tanah kita ga cepet dijual" ucap kak Shinta ketus

"Pantesan mamah dan papah ga mau ajak kita kesini, jangan-jangan mamah dan papah percaya sama kabar angin itu" ucap Shinta

"Tapi, kalau memang ada hantunya bagaimana?" tanya Dela

"Ya makanya kita bersihkan, kita pakai sholat, kita ngajiin, biar adem rumahnya" ucap Rio

Dela hanya berfikir, apakah dia bisa tidur dirumah itu malam ini.

Suasana gelap mulai terasa, kak Rio memasang lampu lentera dibeberapa titik agar rumah menjadi sedikit lebih terang.

"Kak Shinta, aku tidur sama kakak ya?" ucap Dela

"Ya udah, kamu tidur sama kakak saja, daripada kamu ketakutan kaya gitu" ucap Shinta

Rio sedang asyik main game dan mencharge handphonenya

tiba-tiba datang semilir angin kencang, dan memadamkan semua lampu yang Rio nyalakan

"Kak Shinta.. kak Rio" teriak Dela

"Sabar Del" sebekas sinar putih menyala dari handphone Kak Rio menenangkan hati Dela

Kak Rio mencoba menyalakan kembali semua lampu yang telah padam

"Aneh, padahal pintu dan jendela tertutup tadi" ucap Rio

"Tuh kan benar ada hantunya" ucap Dela ketakutan

"Angin Del, bukan hantu" jawab Shinta

tiba - tiba ada suara "Brukkkkk" dari atas seperti ada benda yang jatuh keras ke lantai

"Kak... suara pa itu" ucap Dela

"Coba kau cek Rio" ucap Shinta

Beberapa menit Rio kembali "Tidak ada apa-apa kok

"Aneh, kok suaranya kencang beul" fikir Shinta

"Tuh kan kak, kita ke kampung dibawah saja yuk, aku ga mau disini" ucap Dela

"Inget Del, tujuan kita kesini untuk menajga rumah dan tanah peninggalan warisan orang tua kita, masa baru begini saja kamu sudah nyerah" ucap Shinta marah

tiba-tiba ada suara ketukan dipintu

"Tok...Tok..." suara cukup keras

Rio membuka pintu tersebut, dan melihat ada seorang pemuda desa didepan rumahnya

"Maaf nama saya Derajat, saya disuruh Bapak Haji buat temenin kalian disini" ucapnya

"Pak Haji?" tanya Rio bingung

"Iya, yang punya warung dikampung bawah" ucapnya

"Oh iya, silahkan masuk" jawab Rio

Pemuda itu cukup tampan, dengan pakaian sederhana baju kok dan sarung dia duduk ditengah-tengah kakak Rio, Shinta dan Dela.

"Jadi maksud pak haji mengirim kamu kesini apa ya?" tanya Shinta

"Kata pak Haji untuk menjaga kalian saja, khawatir kalau ada apa-apa" ucapnya

"Alhamdulillah" ucap Dela

"Tadi Nama kamu siapa?" tanya Shinta

"Nama saya Derajat teh" jawabnya

Dan kini mereka semua berada di ruang tamu

Dan benar saja ternyata semakin banyak kejadian aneh, mulai dari barang-barang yang melayang dan terjatuh, bayangan wanita setengah baya di balik jendela, dan juga suara anak-anak berlarian di lantai atas, bahkan saat ini mereka semua tidak ada yang berani beranjak ke kamar masing-masing

mulut Derajat komat kamit, dan matanya terpejam seolah dia sedang membacakan sesuatu, dan setelah Derajat membacakan memang hantu-hantu tadi akan berhenti, tetapi tidak berapa lama akan muncul lagi, dan bayang-bayang itu semakin banyak terdengar dari luar pintu.

"Kak... ada yang mau buka pintu, bagaimana ini?" tanya Dela

"tenang saja kak, sebentar lagi subuh, mereka akan pergi dengan sendirinya" ucap Derajat

Dengan perasaan sangat ketakutan, suara-suara yang berada di luar, akhirnya kumandang azan subuh terdengar senyap senyap, dan matahari mulai terbit memancarkan cahayanya

"Alhamdulillah, kak hari ini kita pulang ya" ucap Dela merengek kepada kakak-kakaknya

"iya Del, aku juga tidak akan mau datang ke rumah ini lagi" jawab Rio

"Pantas saja orang tua kita tidak mau cerita tentang rumah ini kepada kita, mungkin mereka sudah tahu dan tidak ingin kita kenapa-kenapa" jawab Ka Shinta

Akhirnya mereka berpamitan kepada Derajat, setelah membereskan semua pakaiannya dan siap-siap menuju ke mobil

"Terimakasih ya Derajat atas bantuannya" ucap mereka semua

"Iya sama-sama kalian jangan khawatir saya akan menjaga rumah ini seperti rumah saya sendiri" ucapnya

"Tidak usah, rumah ini angker, kamu jangan sering-sering kesini" ucap Dela

Derajat hanya tersenyum dan itu menjadi perpisahan terakhirnya

Setelah sampai di toko klontong Pak Haji, mereka semua turun untuk berpamitan dan menyampaikan terima kasih karena sudah mengirimkan Derajat ke rumah kemarin

"Assalamualaikum" ucap Rio, Dela dan Shinta

"waalaikumsalam, Alhamdulillah kalian baik-baik saja" jawab Pak Haji melihat kedatangan mereka "Bagaimana kalian menemui hal aneh-aneh disana?" tanya Pak Haji

"Iya pak, tenyata rumah itu memang sangat angker, kami bahkan tidak bisa tidur, untung saja ada Derajat, makanya kami ucapkan terima kasih atas bantuannya mengirimkan Derajat" jawab Rio

"Derajat?" jawab Pak Haji kaget "Bagaimana kalian bisa kenal dengan Derajat?" tanya Pak Haji

"Iya pak kemarin malam dia datang, membantu kami dari teror hantu-hantu tersebut" ucap Shinta

"Silahkan duduk dulu" jawab Pak Haji "Derajat itu anak saya, dan dia sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu" jawb pak Haji dengan raut sedih

"Meninggal" kami semua bertatapan keheranan

"Iya, jadi Derajat itu anak saya, suka membantu saya di kebun orang tua teteh, dan pada hari naas itu, ada sekumpulan perampok sedang berada disana, Derajat melihat perampok itu dan berusaha untuk mencegahnya, tetapi naasnya perampok itu membunuh Derajat dengan kejam bahkan dia di gantung dipohon besar samping rumah tersebut" ceita Pak Haji sambil menangis sedih mengingat kejadian itu

"Kami semua hampir tidak ada yang berani ke rumah tersebut sejak kejadian itu, karena beberapa kali terjadi pembunuhan yang serupa disana, bahkan ada wanita yang diperkosa sampai meninggal, itulah yang menyebabkan rumah dan kebun kosong teteh sangat angker sampai saat ini" cerita pak Haji

"Astagfirullah" kamis emua kaget mendengar cerita itu, bahkan Dela sampai tidak bisa berkata-kata, orang sebaik Derajat adalah hantu penghuni rumah tersebut

"Saya rasa baiknya rumah dan kebun orangtua kami, kami hibahkan untuk dibangun rumahh ibadah pak haji, dan bisa digunakan masyarakat sini untuk keperluan warga, agar semua kejadian tersebut tidak terjadi lagi dan bisa menjadi ladang pahala untuk orang tua kami" ucap Rio bijaksana "bagaimana menurut kalian?" tanya Rio

"Iya kak, aku setuju, karena memang itu yang terbaik" jawab Shinta dan Dela

"Terimakasih teh, Aa Insyaallah amanat akan kami laksanakan, terimakasih atas kebaikan kalian" ucap Pak Haji

Setelah beberapa jam bertemu, mereka pun melanjutkan perjalanan kembali, saat Rio melihat kaca spion, bayangan Derajat sedang tersenyum kepada mereka.


Kembali ke Beranda