Gambar dalam Cerita
Aleta menghempaskan bokongnya ke jok mobil Tiara, mulutnya sudah menguap berulang kali.
"Yuk, gas," Serunya tak bertenaga.
"Kasian banget, sih lo. Udah gue bilang nggak usah dateng ke tempat kek gini masih aja ngeyel." Tiara yang memegang kemudi hanya bisa mendengus kesal melihat temannya tepar.
"Tiara, gue juga mau kaya lo. Gue mau kaya anak cewek pada umumnya."
"Tapi nggak gini juga!"
"Lo beda, Let. Lo cewek baik-baik."
Tidak ada sahutan, karena selanjutnya dengkuran haluslah yang Tiara dengar. Memang salah Tiara mengajak temannya yang masih bau popok emaknya itu ke tempat party. Tiara menggeleng pelan mengingat Aleta yang banyak meminum minuman beralkohol, mungkin malam ini Aleta akan ia ajak pulang ke indekosnya.
****
"Huaa...!"
Seisi penghuni kos berlari tergopoh-gopoh menuju sumber teriakan.
"Ada apa yak?"
"Enek opo to?"
"Ana apa kue?"
Hening. Sampai kemudian Tiara muncul dengan handuk yang melilit di atas kepalanya.
"Eh, kenapa pada ke sini?" Tanyanya bingung ketika melihat tiga orang temannya berdiri di depan kamarnya.
"Itu, ada yang tereak di kamar lu."
"Aleta!" Tiara segera menggedor pintu kamarnya.
"Leta! Buka Ta! Lo nggak papa kan?"
"Huaaa....!" Teriakan kembali terdengar membuat empat gadis di depan pintu kamar Tiara kembali gaduh.
"Jangan jangan koncomu arep bundir?"
"Hus, lambene lah nik ngomong ora
di saring sik."
"Minggir!" gadis keturunan betawi mengusir teman-temannya agar menyingkir dari depan pintu. Tiara lupa jika Neli punya bakat bela diri.
Satu
Dua
Tiga
Dan...
Gubrak!
Neli terjerembab ke lantai, seluruh temannya hanya terpaku lantaran terkejut melihat pemandangan di depannya.
"Bwahahahaha! Ngapain lo?
"Aleta?" Tiara ikut menahan senyum pasalnya ketika Neli mendobrak pintu tiba-tiba saja Aleta membukanya.
"Aduh, sealan!" Umpat Neli lantas berdiri sambil mengusap-usap wajahnya.
"Sorry, sorry. Lagian lo ngapain main dobrak kamar orang?" Aleta masih cekikikan melihat wajah Neli yang kini membiru akibat ulahnya sendiri. Ralat akibat ulah Aleta. Sebenarnya.
"Oke, balik ke topik awal. Lo ngapain teriak-teriak, Let?" Tiara berkacak pinggang sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Gue... Gue berubah jadi ayam!"
Tiara hanya mengedikkan bahunya, "Mungkin efek karena semalem lo minum terlalu banyak. Fine, sekarang kenapa kalian masih pada di sini?" Ketiganya menyengir lantas membubarkan diri. Menyisakan Tiara dan Aleta.
"Yaudah masuk, gue mau ganti baju." Tiara mendorong tubuh Aleta kembali masuk ke dalam kamarnya.
****
Pasca kejadian semalam. Aleta di buat mengantuk pagi ini. Dia mendengarkan materi pelajaran sambil sesekali menguap. Bahkan kondisinya saat ini sangat mengenaskan. Rambutnya awut-awutan di tambah lingkaran hitam di sekeliling matanya membuatnya seperti Mak lampir. Boro-boro make up-an, mandi aja enggak!
What the...Fuck
Tuk! Kepala Aleta terkatuk meja. Ia hanya meringis lalu kembali memejamkan matanya sampai sebuah suara mengerikan bergaung.
"Leta, cuci muka. Sekarang!"
"Leta!" Melihat siswinya itu hanya mengangguk-angguk tanpa arti akhirnya Pak Jojon pun bertindak.
Byuur...
Nasi sudah menjadi bubur. Aleta terperangah merasakan guyuran hujan menimpa tubuhnya. Aleta mendongak untuk melihat siapa pelakunya yang tak lain adalah guru kimianya sendiri.
"Hehe..." Aleta hanya meringis melihat pak Jojon yang mendelik menatapnya.
"Keluar dari kelas! Murid krucil ini sukanya bikin ulah saja."
Aleta menurutinya tanpa banyak bicara. Lagipula kesadarannya masih belum sempurna. Ia akan tidur di tempat lain yang pastinya lebih nyaman dari ruang kelas. Yap! Perpustakaan. Ide bagus.
Aleta berjalan perlahan menyusuri anak tangga karena perpustakaannya berada di lantai atas. Namun, tiba-tiba suara maskulin menyapanya membuat Aleta terperangah.
"Hai, Aleta."
"Eh, hai!" Aleta semakin canggung ketika melihat pemuda yang baru saja menyamakan langkahnya.
"Lo, mau kemana?" Tanyanya sambil memiringkan kepala menatap Aleta.
"Gu... Gue mau ke... Ke perpustakaan. Lo sendiri?" Aleta menoleh menatap pemuda berkumis tipis di sampingnya.
"Oh, gue mau juga mau ke sana."
"Dih cie... Samaan!"
"Hehe iya. Btw bukannya kelas lo lagi ada guru, ya?"
Keduanya melangkah masuk ke dalam perpustakaan. "Iya ada guru. Gue di suruh belajar sendiri. Gatau itu pak Jojon jahat banget sama gue."
"Eh, curhat?"
"Bukan gitu Rafael. Yaudahlah." Aleta mengibaskan tangannya lantas mengisi daftar hadir diikuti Rafael.
Setelah mengisinya. Mereka berjalan mulai membiak ratusan buku yang tertata rapi di atas rak.
"Lo mau nyari buku apa, sih?"
"Gue?" Tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Hm."
"Mau cari buku yang tebel."
"Buku tebel? Buku apaan?"
"Ya, pokoknya buku yang tebel!"
"Heh, kalian berdua. Udah tau tata tertib di sini, kan?" Petugas perpustakaan mengangkat tongkat panjang yang diacungkan tepat ke arah Aleta dan Rafael.
"Iya, kak. Sorry." Aleta memutar tubuhnya namun malah tersandung kakinya sendiri alhasil tubuhnya limbung, belum sempat punggungnya menyentuh lantai Rafael sudah menyangganya.
Keduanya bertatapan sama-sama canggung sampai deheman penjaga perpustakaan menyadarkan mereka.
"Ehm...."
"Eh."
"Lo, lo, ga papa?" Tanya Rafael gugup.
"Gue... Gapapa kok."
Setelah mengambil buku keduanya berjalan dan duduk di meja melingkar. Semula keduanya hanya diam namun, setelah penjaga perpustakaan keluar dari ruangan barulah Rafael bergumam, "Aleta, semalem lo ke bar, ya?"
Aleta yang masih membaca sambil terkantuk-kantuk pun mendongak lantas menyengir kuda. "Iya hehe lo, tau darimana?"
"Yah, semalem gue juga ada di sana."
Bibir Aleta membentuk huruf O.
"Lo nanti balik sama siapa?"
Aleta menaikkan sebelah alisnya.
' kenapa Rafael jadi care sama gue, duh jadi melting kan!!!'
"Leta..."
"Eh, iya?"
"Gue balik sama Tiara kaya biasanya, lah."
"Oh, kalo baliknya sama gue gimana?"
"Hah?" Terlihat Rafael memutar bola matanya sekilas sambil tersenyum.
"Gue anterin ke kosan lo, Mau?"
"Enggak tau."
"Oke gue anterin."
"Lho?" Aleta memasang wajah cengo sedangkan Rafael hanya tersenyum sekilas.
****
Ketiganya berjalan beriringan menuju parkiran.
"Rafael mau nganterin gue balik, lo beneran, nih gapapa nyopir sendirian?"
"Gapapa lah, yaudah sono. Rafael tiati bawa ni bocah."
Rafael menyengir sambil mengacungkan jempolnya. "Siap, gue duluan ya."
"Bye."
Keduanya meninggalkan Tiara menuju mobil Rafael. Rafael sendiri hanya senyam-senyum sedari tadi.
"Lo, kenapa, sih, Raf senyum-senyum sendiri?"
"Gapapa, cuma gatau kenapa gue gemesh sendiri sama muka lo."
"Hah! Muka gue?"
"Iya muka lo itu imut jadi pengen gigit tau."
Aleta menggembungkan pipinya.
Masa gue mau di gigit sih, mending juga di tium terus di coyong coyong ya kan:(
Rafael yang masih mengemudi sekilas menoleh. "Ngambek?"
"Kagak, siapa juga yang ngambek!"
"Lah itu ngegas, berarti lo ngambek."
"Enggak Rafael."
"Kok berhenti?" Aleta berkedip pelan ketika Rafael mematikan mesin mobilnya.
"Donat."
"Hah?!"
"Gue mau beli donat."
"Oh."
"Lo suka donat?"
Enggak, gue gasuka donat, gue sukanya Lo
"Aleta, kok malah ngelamun, sih?"
"Lo gasuka donat?"
Enggak! Dibilangin gue sukanya elo bukan donat ga peka banget sih_-
"Leta," panggil Rafael untuk kesekian kalinya, namun kali ini sambil menepuk lengan Aleta.
"Iya kenapa? Gimana?"
"Gue nanya, lo suka donat enggak?"
"Oh, gue sih ga terlalu suka."
"Yaudah kalo gitu, lo tunggu sini bentar."
Setelahnya Rafael pun keluar dari mobilnya lalu berjalan memasuki sebuah
Bakery cake yang cukup terkenal.
Aleta menghembuskan nafasnya berat.
"Dua tahun lebih gue suka sama lo, Raf dan sekarang lo datang tanpa gue minta," lirihnya.
Aleta menoleh ketika Rafael masuk kembali ke dalam mobil sambil membawa selusin donat kacang di tangannya.
Ternyata lo ga perduli sama gue yang ga terlalu suka donat. Buktinya tuh lo beli donatnya, selusin lagi!
"Sorry, ya lama nunggu."
Aleta mengangguk. Rafael kemudian melanjutkan perjalanan mereka.
Setelah beberapa lama, Rafael kembali membanting setir menepikan mobilnya ke pinggir jalan.
"Kenapa lagi?"
"Lo suka bunga kan?"
Senyum Aleta mengembang, matanya memancarkan harapan yang teramat besar. Ia mengangguk, "Gue suka... elo Banget."
"Yaudah, yuk turun."
Aleta dan Rafael melihat lihat berbagai macam bunga, Aleta nyaris berteriak ketika matanya melihat bunga berwarna putih
"Daisy!"
"Apa, Let?" Rafael menoleh melihat Aleta yang sudah berlari memeluk bunga berwarna putih itu.
"Gue mau ini!" Katanya setengah berseru.
"Oke."
"Mbak bunganya yang itu, ya. Dua."
Alis Aleta berkerut, "Dua?"
Rafael tersenyum sambil mengangguk, "Lo mau nemenin gue sebentar nanti?"
"Kemana?"
"Secret...."
Aleta mendengus namun kembali tersenyum ketika pegawai toko menyodorkan bunga Daisy kesukaannya.
Aleta berjalan membawa dua bunga sekaligus, hatinya berbunga-bunga.
"Let."
Aleta yang baru saja menutup pintu mobil pun menoleh.
"Kenapa?"
"E... Jangan jauh dari gue ya nanti."
Mata mereka bertemu, pipi Aleta memanas ketika Rafael mendekatkan kepalanya ke kepala Aleta. Aleta memejamkan matanya dan...
"Pipi ke tempelan daun."
Yah gue kira mau di cium
Hup...
Kening Aleta terasa panas oleh benda kenyal yang tak lain adalah bibir Rafael yang menempel di sana.
Jantungnya sudah berlari kesana kemari bahkan perutnya terasa mual mungkin ini yang di sebut butterfly syndrome?
***
"Kita mau kemana, sih Raf?"
Mereka sampai di sebuah apartemen. Rafael tidak menjawab hanya saja ia langsung menyuruh Aleta turun, tidak lupa ia mengambil donat yang tadi ia beli.
Rafael mengotak-atik ponselnya, tidak lama kemudian seorang cewek berpipi chubby keluar dalam apartemen tersebut.
"Rafael?" Cewek itu tersenyum membuat matanya menyipit.
Rafael balas tersenyum, ia menoleh ke arah Aleta yang hanya mematung di tempat dengan wajah penuh tanda tanya.
Selanjutnya, Rafael menggandeng tangan Aleta mendekati cewek berpipi chubby tersebut.
Rafael melepaskan tangannya dari tangan Aleta ketika mereka sudah berdiri tepat di depan cewek itu.
"Kenalin ini Aleta, temen aku."
"Aleta ini pacar gue, Wulan."
Aleta mendengus, "Wulan kan punyanya Joko, ngapain lo pacarin!"
Kenapa, kenapa Rafael setega ini!
"Garing tau Let."
Rafael menganggap ini guyonan?! Enggak enggak gue ga bisa ngalah lagi sekarang.
"Nama gue Wulan intan Nuraini, kalo menurut lo Wulan itu punyanya Joko, lo bisa panggil gue Intan karena Intan itu punyanya Rafael." Cewek itu tersenyum manis membuat Aleta jengah bahkan ingin menangis sekarang.
Aleta tidak menjawab, hatinya dongkol pada makhluk mungil bantat di hadapannya. Saat ini ia benar-benar bernafsu untuk mencabik-cabik serta memolor pipinya yang tembam itu.
"Kamu udah makan?" Wulan menggeleng.
"Makan donat dulu nih buat ganjel perut, aku masakin gurame ya?" Wulan mengangguk.
"Pinter." Rafael tersenyum lalu mencubit pipi Wulan gemas.
Aleta mendengus, bisa-bisanya dia diajak ke sini hanya untuk menyaksikan ke-uWuan mereka berdua.
"Aku ke mobil sebentar ada yang ketinggalan."
Aleta mengedikkan bahunya acuh, sementara Wulan mengangguk.
"Lo anggep Rafael pacar Lo?" Kali ini Aleta bersuara.
"Iya, ada masalah?"
"Lo anggep dia budak atau pacar? Bisa-bisanya dia mau repot masakin lo."
"Rafael itu... kerjaannya ngurusin gue, macarin gue, ngedate sama gue, ngurusin gue, jalan bareng gue, ngurusin gue, merhatiin gue, ngurusin gue," terangnya polos.
"Lo...." Aleta menahan ucapannya ketika Rafael datang dan langsung menyodorkan bunga Daisy kepada Wulan.
"Wah indah banget." Wulan terkagum-kagum melihat satu buket bunga di tangannya.
"Iya, Aleta yang milihin."
Aleta memutar bola matanya malas, kalau saja dia tau akhirnya akan seperti ini tidak akan dia memilih bunga Daisy untuk cewek ini.
"Gue mau balik."
"Aleta, kenapa?" Rafael menarik lengan Aleta, mencegahnya untuk pergi.
"Terlalu berharap sama orang itu... Ribet!" Aleta menepis tangan Rafael kasar sebelum akhirnya ia berlari meninggalkan apartemen Wulan.
Gue ga sedih, gue ga kecewa, cuma nyesek aja kenapa bisa Rafael milih wulannya Joko ketimbang gue, cewek bantat kaya dia yang bisanya cuma ngerepoti doang. The right, gue bakalan nyari yang lebih pantes dari lo Rafae l.
End