Gambar dalam Cerita
"Lari! Lari!"
Jeritan memenuhi udara ketika aku masih sibuk menyapu ruang kerja raja. Bukannya turut mencari tempat berlindung, aku justru diam dan kembali bekerja. Inilah waktu yang selama ini kutunggu.
"Lari, Blair! Gajimu tetap akan dibayar!"
Seruan dari rekan sesama pelayan ini tidak pula aku dengarkan. Bukan perkara gaji, melainkan rasa penasaran akan kejadian selanjutnya. Aku tahu ini terdengar bodoh, tapi ada satu hal yang harus aku lihat setelah sekian lama.
"Lari! Selamatkan diri kalian!"
Seruan itu tidak juga aku gubris. Kembali menyapu ruang kerja baginda raja, aku dengan tenang melanjutkan pekerjaan selagi pelayan lain kalang kabut dalam istana. Mereka mungkin akan tewas juga terinjak kerumunan akibat panik. Sebagian lagi ada yang memilih menunggu sejenak membiarkan yang lain berlalu daripada menyatu dengan karpet nantinya.
Keadaan semakin parah ketika terdengar kabar tidak kalah mengerikannya.
"Drystan dari Utara telah memasuki gerbang!"
Drystan dari Utara, itukah namanya sekarang? Terdengar menarik.
Dia bocah dari negeri di utara yang desanya dihancurkan dua dekade lalu. Drystan bisa dibilang satu-satunya yang selamat dari tragedi tersebut. Kini, dia menjelma menjadi sosok pria yang dipenuhi amarah dan dendam kepada raja kami, Raja Brone.
"Keluarlah, Brone! Hadapi aku dan jangan jadi pengecut!"
Wah, cepat sekali dia sampai ke depan gerbang.
Tentu saja momen ini yang aku tunggu. Ketika sang pahlawan berasal dari kaum yang paling tersakiti kini berdiri tegak mengarahkan pedang pada leher sang tiran.
Ah, ungkapan tiran terkesan terlalu kejam. Tapi, biarlah. Toh, begitulah Raja Brone di mata Drystan, bukan?
"Berakhir sudah eramu!" ucap Dyrstan dengan sorot mata layaknya api membara.
Tanpa aba-aba, kulihat Drystan sudah mendekatkan pedangnya ke leher Raja Brone. Bahkan dari jendela istana saja aku merasakan hawa dingin menusuk hingga membuatku gemetar, antara takut sekaligus penasaran.
"Engkau merenggut semua yang aku miliki!" Drystan menatapnya tajam. "Kini, aku ingin membalas ribuan nyawa yang engkau renggut!"
Raja Brone tentu mengetahui, dia juga yang terlebih dahulu merencanakan misi kabur bagi para penghuni istana ini, kecuali para jenderal dan pasukannya, setelah mendengar kabar Drystan dalam perjalanan menuju istana.
Tragedi dua dekade yang lalu sebenarnya cukup sederhana. Ada tiga ekor naga penghancur massal dari istana yang menyerang tiga negeri sekaligus, termasuk daerah Drystan berasal. Akibatnya, kami kehilangan banyak sekali rakyat dan harta.
Raja Brone tidak bertindak banyak atas tragedi tadi, dia justru sibuk menyembuhkan jiwanya dengan bertamasya di sebuah gunung bersama para jenderal. Dan aku harus tetap membersihkan ruang kerjanya selama seminggu meski tidak ada yang mengotori selain debu yang tidak jelas asal-usulnya.
"Engkau harusnya menahan diri, Drystan dari Utara," balas Raja Brone dengan nada tenang.
"Menahan diri?" beo Drystan dengan nada mengejek. "Kaukira ribuan nyawa itu tiada harganya, begitu? Oh, rakyat kecil mana pernah berharga di matamu."
"Engkau terlalu cepat menilai."
Nah, di situasi seperti ini Raja Brone yang usianya setengah abad tetap bersikap tenang. Bahkan tidak tampak gentar. Dia berani menatap langsung ke mata hitam Drystan yang memancarkan api kebencian.
"Lantas, siapa yang membebaskan Tiga Naga Penghancur dua dekade lalu?" balas Drystan. "Asalnya dari istanamu! Dari mana lagi?"
Raja Brone masih tidak mengubah nada suaranya. "Percayalah, waktu itu aku masih di gunung bersama para jenderal. Kalau tidak percaya, tanyakan saja pada mereka!"
Dia tunjuk para jenderal yang berbaris di depan pasukan. Semua secara serempak menyatakan bahwa memang betul apa yang raja mereka katakan. Memang benar, bersantai di gunung merupakan kegiatan bulanan Raja Brone bersama beberapa jenderal yang dia pilih. Tidak jarang juga dia ajak beberapa pelayan dan staff istana lain untuk turut serta.
Drystan berdecak. "Yang benar saja! Para jenderal bisa kamu ancam agar mau berbohong, bukan?"
Tidak ada yang membalas.
Drystan mengangkat pedangnya, bersiap membelah Raja Brone. "Siapa lagi yang membebaskan para naga itu selain engkau, he?"
Pada akhirnya, Raja Brone mengepalkan tinju hingga keluar aura keunguan di balik tangannya. Bertepatan dengan itu, sihirnya berhasil menahan tebasan pedang Drystan.
Di situlah pertempuran pecah.
Aku menjauh dari jendela, takut jika ada sesuatu yang menabrak hingga membuat jantungku meledak. Sebagai satu-satunya pelayan lelaki yang bertahan di dalam istana, aku kembali membersihkan ruang kerja baginda raja. Menghindari segala jenis keributan seperti yang terjadi di luar.
"Aku tidak memberi apa pun. Tapi, engkau seenaknya mengambil segala yang aku miliki!"
Seruan Drystan dari luar disertai dentingan pedang dan perisai membuat bulu kudukku meremang. Menyadari tekadnya yang kuat serta aura membunuh darinya membuatku ingin segera melayang ke langit dan duduk di antara para malaikat. Namun, nyawaku tidak juga dicabut dan terpaksa aku terima saja takdir ini.
"Brone! Enyahlah di neraka!" Seruan Drystan menciptakan kericuhan yang lebih parah.
Untungnya, Raja Brone masih utuh di dalam tameng ungu ciptaannya dan membiarkan Drystan mengamuk di luar sambil menebas pedangnya.
Drystan tidak lelah menyeru kalimat yang sama.
"Pembunuh! Perampas! Tiran!"
Tentu aku tidak bisa membiarkan Drystan terus tenggelam dalam bayangan palsu akan kejadian di balik semua ini. Dia mungkin tidak siap mengetahui fakta di balik tragedi yang merenggut nyawa keluarga serta temannya.
Semua ini terjadi karena satu hal. Aku benci mengakuinya, tapi inilah saat yang tepat untuk menyampaikan kebenaran.
Banyak orang yang tahu bahwa dalam istana ini, lebih tepatnya di ruang ini, ada ruang rahasia yang hanya bisa dimasuki oleh raja dan aku–sebagai tukang kebersihan. Ruangan itu harus selalu dijaga agar tidak jatuh ke tangan yang salah apalagi sampai menciptakan keributan seperti di luar.
Tunggu, memang seperti itu kejadiannya.
***
Dua dekade yang lalu, waktu aku masih baru saja dilantik sebagai tukang kebersihan ruang kerja raja, aku diutus untuk menjaga ruang ini selagi raja bersama para jenderal berlibur eh, maksudnya bertugas mengasah kemampuan berburu mereka di gunung.
Aku bersihkan setiap jengkal yang ada, termasuk lukisan keluarga sang raja yang ukurannya luar biasa besar. Belum lagi aku perlu menyusun rak buku, memungut dan merapikan berkas berhamburan, hingga memeriksa tinta jikalau kosong.
"Bersihkan setiap jengkal ruangan ini atau kupenggal gajimu!"
Tentu, ancaman dari Raja Brone tadi membuatku takut seribu satu kali. Hingga ketika membersihkan ruangan, tiada lagi bekas noda yang tersisa.
Ketika hendak beristirahat, aku menyadari ada satu ruang yang belum disentuh. Maka terpaksa aku bangkit dari tempat duduk kemudian berjalan mengarah ke ruangan rahasia tadi. Kunci yang Raja Brone berikan memang ajaib, karena ruang mana saja bisa dimasuki termasuk ruang rahasia sekalipun.
Raja Brone memiliki tiga ekor naga yang dia rampas dari sebuah kerajaan beberapa dekade sebelumnya. Kini naga-naga itu sudah pasti tumbuh besar dan semakin kuat. Tentu akan sangat berguna nanti. Tidak heran mengapa dia sangat menjaga binatang buas ini, meski nyawa taruhannya.
Jika Raja ingin naga itu tetap terawat selama dia pergi, maka tidak menutup kemungkinan bahwa dia juga ingin aku setidaknya membersihkan ruangan ketiga peliharaannya.
Maka tanpa ragu aku buka pintu besar itu dengan harapan dapat membersihkannya. Namun ketika pintu terbuka, aku menyadari kesalahan kecil ini.
"ROOOAAARRR ....!"
Aku menjerit dan jatuh. Dunia bergetar kala raungan dari ruangan tadi menggelegar menggetarkan istana.
"Naga! Naga!" Aku menjerit.
Para pelayan yang masih di istana juga turut menjerit. Apalagi ketika dentuman bersahutan mulai meruntuhkan bagian dalam maupun luar istana. Tidak ada yang lolos dari semburan api, gigitan naga, bahkan yang lolos dari keduanya pun tetap akan mati terinjak kaki naga. Tanda makhluk itu benar-benar ingin memusnahkan setiap apa yang mereka lihat.
Anehnya, para naga yang berfungsi sebagai pemusnah massal ini tidak menggubrisku ketika lepas. Mereka membiarkanku terbaring sambil melongo menyaksikan kepergian mereka. Barangkali tidak melihatku akibat terlalu bersemangat ingin memusnahkan umat. Bagaimanapun juga, aku tetap menyesal dan membawa perasaan ini hingga sekarang.
***
Saat itulah aku menyadari, aku telah membebaskan senjata pemusnah massal yang berakibatkan perang ini. Akulah penyebab kematian ribuan nyawa tidak bersalah. Dan kini raja di negeriku menjadi taruhannya pula. Sekarang, seorang pria pemarah yang tampaknya akan menjelma menjadi naga pemusnah massal tadi, mungkin akan membunuh setiap pelayan di istana yang tersisa, hingga sampai padaku.
Lalu di sinilah aku, di ruangan yang memulai tragedi ini, sedang menanti takdir.
TAMAT