Bita, bakso dan Arya
Teen
20 Dec 2025

Bita, bakso dan Arya

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2025-12-20T194800.348.jfif

download - 2025-12-20T194800.348.jfif

20 Dec 2025, 12:48

download - 2025-12-20T194738.057.jfif

download - 2025-12-20T194738.057.jfif

20 Dec 2025, 12:48

"Jatuh cinta itu seperti menancapkan belati ke ulu hati, semakin dalam tusukannya akan semakin dalam lukanya dan akan semakin lama juga pulihnya"

Ting ... Ting ... Ting ...

Suara sendok yang di ketukkan pada mangkuk terdengar nyaring, seperti biasa Bita gadis berambut Curly langsung berlari keluar rumah untuk menghampiri sesosok tukang bakso bakar langganannya.

"Pak!" Gadis itu tersenyum dengan mata berbinar ketika melihat bola bola bakso yang sedang ditusuk oleh pak Bolang. Pemilik gerobak bertuliskan BAKSO BOLANG itu langsung dengan sigap menyiapkan pesanan Bita seperti biasanya tanpa bertanya terlebih dahulu.

Hidung Bita melebar menghirup dalam-dalam aroma beberapa tusuk bakso yang di panggang.

"Wah, tumben baksonya jam segini tinggal sedikit, pak." Bita baru menyadari kalau bola bola bakso yang biasanya di tata di balik kaca gerobak menumpuk kini sudah nyaris habis.

"Allhamdulilah neng Bit, tadi ada pemuda seumuran neng yang borong bakso bolangnya bapak," jawab pak Bolang dengan raut tak kalah ceria.

"Laris manis tanjung kimpul, bakso bolang abis duit terkumpul!" Tiba-tiba Bita berteriak seolah ialah yang menjual bakso bakar tersebut.

Pak Bolang menggeleng sambil tersenyum lantas menyodorkan lima puluh tusuk bakso bakar yang sudah matang.

"Ini neng bit, baksonya."

"Ini pak Bol, uangnya." Keduanya langsung berpisah melanjutkan aktivitasnya masing-masing.

***

Bita baru selesai mandi, handuk masih melilit tubuhnya namun ia belum ada niatan untuk berganti baju malah berjalan mendekati meja dekat ranjang dimana sepiring bakso bakar miliknya berada.

"Tanggung, gue abisin dulu deh," gumamnya pada diri sendiri.

Di saat ia sedang asyik mengunyah Bita teringat ucapan pak Bolang sore tadi yang sedikit mengganjal.

"Siapa yang borong bakso bakarnya pak bolang ya? Selain gue mana ada! Gabisa di biarin gue harus cari tau. Kalo ketemu, gue ajak mukbang bakso bakar bolang!!" Serunya ambisius.

***

Suara riuh di kelas membuat Bita langsung merasa lapar, sayangnya jam istirahat masih kurang satu jam lagi ditambah ia harus mengisi tugas yang di berikan oleh guru matematikanya, karena beliau sedang sakit maka ia hanya mengirimkan segudang tugas untuk para muridnya.

Bita mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan tidak ada yang bisa ia andalkan kecuali pemuda yang duduk di bangku pojok kanannya, siswa pindahan beberapa hari lalu. Dia cukup pandai di bidang akademik, tanpa menunggu lama Bita pun menghampirinya.

"Hei," sapa Bita sedikit ragu.

Mata cokelat madu yang tadinya menunduk kini mendongak menatap Bita.

"Gue boleh nyontek?" Tanyanya to the to the point

"Kalo lo bisa ngerjain sendiri kenapa harus bergantung sama orang lain?"

Bita mengerutkan dahinya, pasalnya pemuda yang ia kira kalem ternyata memiliki lidah setajam silet.

"Gue gabisa, makanya gue minta bantuan lo." Ia tidak mau kalah.

"Bantuan buat lo tambah bodoh?"

"Arya!" Seru Bita sebal ia tidak terima di katai bodoh, dia tidak bodoh hanya saja ia malas berpikir.

Tanpa aba-aba Bita menyerbu Arya dengan pukulan beruntun.

"Dasar ya lo, cowok belagu! Sok pintar! Rasain, nih!"

"Sialan!" Arya melindungi wajahnya dari tangan Bita lalu dengan mudahnya ia menangkap kedua tangan gadis itu.

Nafas Bita terengah-engah menahan rasa kesalnya, rambut Curly miliknya yang hanya di urai jatuh sebagian di pipi Arya.

"Lepasin!"

"Gue enggak berteman sama spesies kaya lo." Setelah mengatakan itu Bita langsung keluar dari kelasnya, tanpa mereka sadari banyak yang diam-diam mengamati kejadian tersebut.

***

"Lo tadi kenapa bisa ribut sama Bita?"

"Dia itu cewek aneh, masa dateng-dateng minta contekan."

"Kenapa ga lo kasih aja ketimbang bonyok tuh muka."

"Alvin, kalo dia doang mah ga ada apa-apanya," ucap Arya meremehkan.

"Pokoknya lo harus minta maaf daripada lo nyesel. Daripada lo bonyok beneran."

"Harus banget?"

"Terserah lo!" Alvin lalu bangkit meninggalkan Arya sendirian.

***

Ting ... Ting ... Ting ...

Bakso bakar bolang lewat di jam yang sama seperti biasanya. Bita yang memang sedang tidak ada kerjaan sengaja duduk di teras rumahnya menunggu pak Bolang lewat sambil mendengarkan musik.

"Pak!" Serunya lantas bangkit berlari mendekati gerobak pak bolang.

"Duh neng, maaf banget baksonya sudah habis." Pak bolang berkata dengan nada sedih begitupun dengan Bita, mata yang tadinya berbinar seketika meredup. Padahal seharusnya pak bolang senang karena dagangannya habis terjual tetapi karena pelanggan setianya menjadi murung ia ikut bersedih.

"Yah, kok bisa sih. Bisanya juga enggak."

"Pemuda yang kemarin borong bakso bolang bapak, tadi dia beli lagi dan di borong deh semuanya," jelas pak Bolang dengan menyebikkan bibir.

"Yaudah deh pak, gapapa. Makasih." Bita berbalik kembali ke rumahnya sementara itu pak Bolang masih menatap kasihan gadis yang hidup sebatang kara itu setelahnya pak Bolang mendorong gerobak kembali kerumahnya.

Bita sudah memegang handle pintu bersiap untuk mendorongnya tetapi sebuah suara familier menginterupsi gerakannya.

"Bit."

Bita menoleh, sedetik kemudian ia menatap tajam kearah pemuda yang memegangi kantong plastik.

"Ngapain lo kesini?!"

"Gue mau minta maaf, salah?"

"Gaperlu." Bita sudah hampir masuk kedalam rumahnya namun di cegah oleh Arya.

"Maafin gue Bit."

"Gamau dan ga akan pernah mau. Gue udah bilang kan, gue enggak temanan sama spesies kaya lo, Minggir!" Ketusnya.

Arya mendorong Bita masuk kedalam rumah bersama dirinya.

"Gue minta maaf, gue nggak akan ngelakuin hal bodoh itu lagi." Arya menatap teduh wajah Bita.

"Nggak!"

"Ini, sebagai permintaan maaf gue." Arya menyodorkan bakso bakar yang ia borong tadi kepada Bita.

"Oh, jadi lo yang udah ngeborong dagangannya pak Bolang."

"Nih, buat lo."

"Eit, tapi janji lo harus maafin gue." Sambungnya ketika tangan Bita hampir mengambil bakso bakar darinya.

"Berisik lo!"

Bita langsung menyaut lantas memakan tusuk pertusuk bakso bakar favoritnya sedangkan Arya mengamati bagaimana lahapnya gadis itu melahap bakso. Diam-diam ia mengaguminya.

Semenjak kejadian itu mereka lebih sering berdua, mukbang bakso berdua, jalan-jalan berdua, bermain berdua sampai akhirnya Arya mengungkapkan perasaannya.

"Bita, gue enggak tau sejak kapan perasaan ini muncul. Tapi semenjak ada lo hidup gue lebih berwarna, gue rasa lo harus jadi pacar gue."

Bita tersenyum sampai matanya membentuk bulan sabit, "Bahkan cinta pun harus butuh kesepakatan, kalo cuma kamu yang suka bakalan berat sebelah dan bakalan sakit sendiri."

Arya menggembungkan pipinya, sangat menggemaskan.

"Tapi kan lo suka gue?"

Bita kembali tersenyum namun kali ini sambil menggeleng.

"Mungkin iya dan mungkin enggak."

"Kenapa? Setelah apa yang terjadi lo nggak ada rasa sama gue?" Arya menatap penuh tanya, terlihat sekali kekhawatiran di wajahnya.

"Sama sekali enggak ada, kalo dengan berteman bisa menumbuhkan rasa cinta lebih baik kita akhiri ini."

"Tapi?"

"Kita nggak pacaran, kita juga nggak temenan. Kita kembali ke awal yang nggak saling mengenal."

"Kenapa Bit?" Arya meraih kedua tangan Bita berharap ini hanya lelucon.

"Gue cuma nggak mau kita sama-sama sakit. Yah, walaupun gue tau lo sakit sekarang tapi seenggaknya nggak terlalu dalam." Perlahan Bita melepaskan genggaman tangannya dari Arya lalu melenggang pergi.

***

Arya berjalan seorang diri melewati koridor sekolah yang masih sepi, ia sengaja berangkat awal agar bisa dengan cepat menemui Bita. Ia meyakinkan dirinya jika yang terjadi semalam hanyalah sebuah mimpi.

Namun, sampai jam istirahat selesai Bita belum juga muncul. Sampai pak Harto memberikan informasi mengejutkan Arya.

"Maaf mengganggu waktunya sebentar, mulai hari ini dan seterusnya teman kita Bita cahyani pindah sekolah ke luar kota. Sekian terimakasih."

Seluruh murid Xl IPA 1 bertanya-tanya, pasalnya kemarin Bita tidak sedang terjadi apa-apa. Begitupun Arya tanpa sadar setetes air mata jatuh di pipinya.

TAMAT

Kembali ke Beranda