Gambar dalam Cerita
XI IPS 1
Gilvan Sanjaya :
ASSALAMUALAIKUM WR.WB. SALAM SEJAHTERA DAN SELAMAT SORE. TABIK PUN.
KEPADA YTH. BAPAK IBU GURU DAN STAF TU SERTA PESERTA DIDIK KELAS X, XI DAN XII SMAN 1 PENAWARTAMA ATAS DASAR SURAT PETSETUJUAN BELAJAR TATAP MUKA TERSEBUT MAKA MULAI BESOK: SELASA, 4 AGUSTUS 2020. KITA MULAI KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR TATAP MUKA.
DENGAN JADWAL NEW NORMAL YANG SUDAH ADA (2 SIP )TERIMA KASIH.
Ahul gans : Wanjay gurinjayy ini beneran bosque?
Arlan : PRANK nih PRANK! Ya kan @Gilvan Sanjaya?
Aksara : @Gilvan Sanjaya @Gilvan Sanjaya tolong dong jangan gantungin dedek:(
Ahul : @Aksara Najisun
Gilvan Sanjaya : Itu Chat dari Pak Suyadi selaku kepala sekolah di SMAnsa
Sintya : Allhamdulilah uang saku lancar lagi:)
Selin : 2 bosen njir di rumah rebahan teros:(
Gilvan Sanjaya : Jadwal nanti di share wali kelas masing2. Karena di bagi 2 sesuai nomor absen. Jngan lupa besok pakai masker, bawa handsanitaizer, bawa bekal karena wacananya kantin blm boleh buka, bawa air minum juga
Sintya : Siyap sayang @Gilvan Sanjaya
Ahul : Ahsiap pak ketos gans tapi masih gans an gua hahah
Aksara : sedang mengetik....
Ahul : sedang mengetik....
Hanya admin yang dapat mengirim pesan
Hanya admin yang dapat mengirim pesan
***
Seperti pengumuman yang diberikan Gilvan selaku ketua osis Smansa peta, tahun ajaran baru di mulai hari ini.
Ahul in the geng sudah nangkring di parkiran sambil melirik para murid baru yang masuk sif pagi.
"Adek kelas kita bening-bening banget asli, jadi pengen halalin," gumam Aksara pada ketiga temannya sambil bersiul bahagia.
"Percuma glowing kalo ga bisa cetik geni," celetuk Arlan.
"Kalian apaan sih, baru masuk sekolah udah ngegosip aja. Harusnya kalian itu bersyukur di saat yang lain belum di izinkan tatap muka, kita udah bisa face to face kaya gini walaupun harus selalu mematuhi protokol kesehatan."
"Sosial distancing minimal satu meter bege!" Ahul kesal karena keempat temannya itu malah berkumpul bagaikan semut mengelilingi gula, Ahul yang jadi gula tentunya.
"Eh, Van mau kemana?"
"Kelas."
"Buset, dari tadi diem aja giliran mau cabut ga ngajak-ngajak ngerti lagi gua." Ingin rasanya Ahul menenggelamkan wajah gans Gilvan ke comberan saat ini juga.
"Ah lama." Kedua temannya Aksara dan Arlan sudah berjalan menyusul Gilvan, meninggalkan Ahul yang masih mendumel tidak jelas.
"Suek! Njir tungguin guee...."
Gubrak!
"Aish!"
"Monyet." Ahul menabrak benda hidup!
"Kalo jalan liat-liat dong, kak," keluh adik kelas Ahul.
Ahul melirik name tag di sisi baju gadis di depannya Chaca .
"Sorry, Cha. Buru-buru soalnya telor gue mau netes."
Chaca menaikkan sebelah alisnya sebelum akhirnya ia tertawa keras.
"Telor kakak netes? Huwah congrats kak! Telor apa btw?" Wajah innocent Chaca membuat Ahul menyadari sesuatu.
"Telor buwung puyuh." Ahul menggaruk tengkuknya. Chaca terkikik di tempatnya.
"Lo, kenapa ga pake masker?" Gadis di depannya memang berbeda dari kebanyakan murid lainnya yang mematuhi peraturan pemerintah. Memakai masker.
"Oh, lupa ga kebawa tadi."
"Nih, pake punya gue." Ahul segera melepas maskernya lantas memberikannya kepada Chaca.
"Hidih ogah, bau jigong."
"Ahahahaha mana ada, cogan kaya gue bau jigong."
Jika di lihat-lihat Ahul memang ga burik-burik amat. Rambutnya berantakan yang malah terkesan sexy, matanya sipit, kulitnya sawo matang ditambah bau parfumnya yang anti badai yang di pake sekali wanginya berhari-hari.
"Gaje lo kak, dahlah." Tanpa permisi Chaca segera meninggalkan Ahul.
Ia baru sadar jika ketiga temannya sudah sampai di kelas membuktikan jika kesetia kawanan mereka lemah!
***
Sepulang sekolah tadi, Ahul menyeret ketiga temannya untuk mampir ke rumahnya sekedar makan siang katanya.
"Kalian pernah denger nama Chaca ga di SMAnsa?" Tanya Ahul pada ketiganya.
"Gak." Gilvan to the point.
"Sama, gue juga ga pernah denger, gue pernah sih denger tapi yang gini nih. Chaca maricha hehey, Chaca maricha hehey, Chaca maricha ada di kampung baru...."
Krik krik...
"Anak kelas XI IPA bukan? Satu-satunya Chaca yang gue tau cuma itu," kata Erza tanpa menghiraukan Aksara yang mulai ga waras.
"Maybe, ciri-cirinya kulitnya putih, putih banget sampe terkesan pucet terus rambutnya pendek."
"Iya, bener Chaca anak XI IPA 1."
"Kenapa, Hul? Lo naksir?"
"Enggak, dia yang naksir gue," jawabnya sambil ngupil.
"Halu tingkat dewa!"
"Cowok tukang ngupil, siapa yang doyan?" Ketiganya tertawa keras kecuali Ahul. Untung saja ayah dan ibu Ahul tidak sedang berada di rumah kalau ada sudah ribet urusannya.
Kampret!
***
"Len, lo tau kakel kita yang namanya Ahul gak?"
Arlen yang tadinya rebah di atas kasur pun langsung bangkit duduk di samping Chaca.
"Ahul upil maksud lo?" Chaca mengernyit tidak mengerti.
"Upil apaan?"
"Kakel kita, anak XI IPS 1."
"Ga tau sih."
"Wait."
Arlen mengotak-atik ponselnya setelah beberapa lama ia menyodorkan layar ponselnya ke arah Chaca.
"Ini kan?"
"Nah, iya!"
Melihat reaksi Chaca yang begitu berlebihan, Arlen jadi penasaran dong.
"Kenapa emangnya sama dia?"
"Ga kenapa-napa, gue tadi di tabrak sama dia. Wanjir wangi banget...."
"Halah percuma wangi kalo suka ngupil, lagian kak Ahul ga mungkin mau sama cewek bandel kaya lo."
"Bandel gapapa yang penting cantik."
Arlen memutar bola matanya malas, "BODO AMAT!"
***
Tidak terasa face to face sudah memasuki bulan ke delapan, dimana kelahiran Indonesia tercipta.
"Gue peringatin, sebelum Bu Henny bertindak kalian harus sadar diri. Apa susahnya sih make masker di muka kalian?" Gilvan jengah melihat beberapa siswa maupun siswi yang kerap melanggar aturan. Sekali lagi tidak mematuhi anjuran pemerintah.
"Jangan mentang-mentang kita berada di zona hijau, kita selamat. Belum tentu, siapa tau nanti kamu," Gilvan menunjuk gadis berambut pendek yang berada di depannya.
"Yang kena covid-19."
"Hih, amit-amit." Gadis yang ditunjuk hanya menyaut acuh seperti biasanya.
"Hukuman buat kalian hari ini adalah ngepel Mushola." Finish. Gilvan berbalik melenggang pergi.
"Aish, yang kena Corona kan gue, kenapa situ yang repot!" Chaca gadis yang sempat di tunjuk Gilvan kembali mendumel.
"Bentar lagi 17 Agustus, bakal ada kegiatan apaan Van?"
"Alah paling cuma daring di rumah," Aksara meremehkan.
"Semoga aja enggak, bosen weh di rumah terus."
"Van, astaga! Gue nanya elu bor. Muka lenturin dikit napa kaku amat kaya kanebo kering." Ahul menyebik.
"Belum ada."
"Lo kenapa sih, Van? Gabut segitunya."
"Gue ga gabut. Gue cuma kesel sama anak yang selalu ngelanggar aturan sekolah. New normal ga akan berjalan lancar kalau anak-anak semacam Chaca terus berkeliaran bebas seenaknya."
"Urusin tuh, gebetan lo. Ahul upil." Aksara tertawa kecil melihat ekspresi datar Ahul.
Memang sekarang Chaca dan Ahul semakin dekat, tapi Ahul belum ada rencana tuh buat nembak Chaca.
***
"Kak, jalan yuk."
"Lah kamu pikir kita ini lagi apa? Ngesot?"
Chaca berdecak sebal, "maksud aku jalan-jalan."
"Mau kemana?"
"Pokoknya jalan-jalan. Bosen tau di rumah terus berasa di kurung."
"Harusnya emang gitu, oke kita jalan."
"Yes!"
"Kita bakal beli masker dan peralatan lain buat kamu, jangan bandel Cha. Kasian temen aku."
"Aku ga bandel, kak Gilvan aja yang galak."
"Gue anterin pulang, besok gue jemput jam sepuluh."
"Okeee."
***
Seperti yang di janjikan, Chaca sudah menaiki beat putih milik Ahul. Mereka akan jalan-jalan sekedar melepas bosan, meskipun itu sebenarnya di larang pemerintah karena tidak memiliki kepentingan untuk keluar rumah.
"Kak," panggil Chaca.
"Apa, Cha?"
"Ke pasar yuk."
"Gamau."
"Ih, kenapa?"
"Ribet. Banyak orang. Gaboleh."
"Aish, ayo dong kak. Bentar aja."
"Kamu ga pake masker Cha."
"Tapi aku kan pake helm, janji deh helmnya ga aku lepas."
"Enggak usah, kita ke Alfamart aja."
"Gamau!"
"Cha."
"Gamau, gamau, gamau."
Ahul terpaksa menepikan motornya, lantas membuka helm full face nya lalu menoleh ke belakang.
"Bentar aja," kata Ahul lembut.
"Huwah, siap makasih kakak sayang."
Meskipun berat namun Ahul tetap menuruti kemauan gadis yang telah mencuri perhatiannya itu.
Suara bising khas orang yang saling tawar menawar serta ramainya pengunjung pasar membuat Ahul berdecak lantas meraih tangan Chaca.
Setelah satu jam berkeliling, mereka akhirnya bergegas kembali ke motor. Chaca sudah repot membawa belanjaannya, dia membeli beberapa plastik sayuran dan makanan. Berbeda dengan Ahul yang langsung menunggangi kuda besinya mengajak Chaca pulang.
"Kamu tadi romantis banget," kata Chaca ketika mereka sampai di depan rumah Chaca.
"Romantis kenapa?"
"Romantis karena tadi pas di pasar kamu megangin tangan aku terus."
"Romantis apanya, aku cuma ga mau kamu belok ke toko baju."
Seketika Chaca menyebikkan bibirnya.
"Aku ga suka baju, Ahul. Aku sukanya sayuran, seblak, sama kamu doang."
"Iya udah sana masuk, nih maskernya besok sekolah jangan lupa di pake. Love you."
***
Gilvan berdiri memperhatikan wajah bandel yang sudah sangat ia hapal beberapa bulan lalu.
"Chaca indira, mana masker lo."
"Ketinggalan, kak."
"Klasik." Gilvan berdecih.
"Hari ini cuma lo yang ngelanggar aturan jadi...."
"Hacih... Maaf kak," kata Chaca dengan suara yang sedikit berbeda. Hidungnya gatal luar biasa.
"Oke, hukuman lo...."
"Hacih... Hacih... Maaf kak."
"Lo sakit? Kenapa masuk sekolah?" Melihat mata Chaca yang mendadak teduh serta hidungnya yang memerah membuat Gilvan sedikit khawatir.
"Tadi enggak sak... Uhuk... Uhuk... it kak."
"Tapi sekarang Uhuk... Uhuk.... Tenggorokan gue sakit, badan gue juga rasanya demam."
"Ada yang nggak beres," gumam Gilvan.
"Lo tunggu di sini, jangan kemana-mana dan nyentuh apapun di sini."
Gilvan segera pergi ke ruang guru dan memberitahu kepada guru BK.
"Halo, Ahul, cewek lo sakit ke depan kantor sekarang." Setelah menghubungi Ahul, Gilvan segera menyusul Bu Henny yang sudah terlebih dahulu menemui Chaca.
"Chacha ayo ke UKS." Belum sempat Bu Henny memapah Chaca suara Gilvan membuat Bu Henny mengurungkan niatnya.
"Kenapa, Van?"
"Apa ga sebaiknya Chaca di bawa ke dokter langsung aja, takutnya ada sesuatu yang ga diinginkan."
Benar juga batin Bu Henny.
"Ya sudah Chaca ayo ibu antar ke puskesmas."
"Tunggu!"
Ahul datang tergopoh-gopoh sampai napasnya naik turun tak beraturan.
"Chaca kamu beneran sakit?" Chaca hanya mengangguk sesekali ia bersin sesekali pula ia batuk-batuk.
"Gue jadi ngeri, ya," bisik Arlan yang membuntuti Ahul bersama Aksara dan Erzan.
"Jangan-jangan kena Corona lagi." Suara Aksara membuat Bu Henny, Gilvan, Ahul dan Chaca sendiri menoleh ke arahnya.
"Hust! Gaboleh ngejudge sembarangan. Ayo Cha." Bu Henny berjalan mendahului Chaca memasuki mobil. Untuk berjaga-jaga, Chaca di tempatkan di bangku tengah seorang diri sedangkan Ahul, Gilvan, Aksara, Erzan, dan Arlan membuntuti di belakang membawa motornya masing-masing.
***
Dokter yang menangani Chaca mendadak pucat pasi, ia bungkam enggan berbicara. Namun Ahul terus memaksa dokter berperawakan gemuk itu untuk berbicara.
"Chaca demam biasa, kan Dok?"
"Dok tegang amat, lemesin dikit dong," keluh Aksara gemas.
"Dok, gimana hasilnya?" Kali ini Bu Henny yang berbicara.
"Siswi atas nama Chaca ternyata positif Corona."
"Astaghfirullah halazim."
"Ya Allah."
"Subhanallah."
Mendadak suasana mencekam bak sedang menonton film horor.
"Kita harus segera menangani pasien suapaya yang lain tidak terjangkit, silahkan kalian semua bersih-bersih diri dahulu lalu kita bicarakan ini lagi. Oh, ya, orang tua pasien tolong segera di beritahukan." Dokter tersebut lalu bergegas pergi, ikut membersihkan diri barangkali.
Sedangkan Ahul sudah seperti orang gila. Ia ngupil dengan tatapan kosong.
"Gue mau ketemu Chaca sebentar."
"Enak aja! Enggak-enggak, kita harus bersihin diri dulu baru bisa kesini lagi."
"Ayo." Bu Henny terlihat lemas pasalnya sudah dapat di pastikan jika sekolah akan di tutup kembali.
***
"Chaca," bisik Ahul.
"Kak Ahul, maafin Chaca, ini akibat dari kesalahan yang Chaca buat sendiri. Chaca nganggep Corona ga berbahaya ternyata dia bisa memisahkan kita...." Air mata Chaca mengalir deras. Ia benar benar menyesal namun mau bagaimana lagi nasi sudah jadi rengginang. Chaca harus segera di pindahkan ke rumah sakit khusus penampung pasien corona.
Maka dari itu sebelum semuanya terlambat, baik zona hijau, kuning, orsnge, bahkan merah, jangan sampai menyepelekan aturan yang sudah di tetapkan oleh pak Jokowi. Karena itu demi kebaikan dan kebahagiaan bersama
End