Serena
Romance
21 Dec 2025

Serena

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2025-12-21T204826.042.jfif

download - 2025-12-21T204826.042.jfif

21 Dec 2025, 13:48

download - 2025-12-21T204823.203.jfif

download - 2025-12-21T204823.203.jfif

21 Dec 2025, 13:48

Kerap terjadi, ketika kita menyukai seseorang ia malah berpaling muka seolah tidak perduli tetapi ketika kita sudah menjauh ia malah balik mengejar, memang benar cinta butuh kesepakatan namun apa lantas bisa aku jatuh cinta kepadanya yang sedingin kutub Utara? "

S erena


🍅🍅🍅

"Sebenernya lo itu cantik, deh Ser. Mata lo hazel, bibir lo mungil, senyum lo manis." Aci duduk khidmat di samping temannya itu sambil menatap lekat wajah Serena.

"Baru sadar lo?" Jawab Serena tidak menanggapi lebih lanjut perkataan Aci, karena ia tengah sibuk menata bungkusan camilan yang ia beli tadi.

"Ya seharusnya lo bisa nyari cowok yang menganggap lo ada, yang bangga punya elo."

Serena melirik Aci sinis tanpa menolehkan kepalanya, "Kenapa lo ngurusin urusan gue? Kenapa lo nggak nyelesaiin masalah lo sama kak Ramond yang playboy itu?"

"Kalo gue jadi elo ya, Ci. Si Ramond udah gue tendang jauh-jauh dari hidup gue."

"Bisa-bisanya dia jalan sama cewek lain, terus masih sempat-sempatnya selfie bareng!" Serena bergidik membayangkannya.

"Urusan gue sama kak Ramond udah kelar kok, malah gue sempet ketemu sama ceweknya." Nada suara Aci yang terlihat santai membuat serena gemas.

"Gila lo?! Berarti lo putus dong sekarang?" Sontak Serena memutar badannya 360° menghadap Aci.

Aci menggelengkan kepalanya, "Bukan putus tapi baikan."

Serena langsung menoyor kepala sahabatnya, "Bego! Gue kasih tau ya sama lo, cowok kalo udah berani selingkuh selamanya dia enggak akan berubah!"

"Lebih begoan mana sama lo yang hobinya ngejar Dendra padahal dia ga respect sama lo." Aci mengulum senyumnya melihat serena memutar bola matanya malas.

For you information, ya Serena. Yang kemarin jalan sama kak Ramond itu saudara kembarnya yang baru balik dari jogja bukan selingkuhannya, mana ada spek bidadari semacam gue di selingkuhin."

"Serah!"

🍅🍅🍅

"Pagi sayang!!!" Sapa Serena renyah kepada pemuda yang berdiri tidak jauh di depannya.

"Sayang, tadi aku bangunin kamu kesiangan enggak?" Pemuda yang di panggil sayang itu hanya melirik Serena yang sekarang sudah ada di sebelahnya tanpa berniat menjawabnya.

"Yaudah deh, besok aku bangunin kamu lebih pagi lagi. Belajar yang pinter ya, sampai ketemu istirahat nanti!" Senyum di bibir Serena tidak pernah surut jika sudah bertemu dengan kekasih hatinya.

"Iya." Dendra langsung memasuki ruang kelasnya tanpa menghiraukan gadis yang berdiri di depan kelasnya sambil melambai-lambaikan tangannya.

"Woe, udah lonceng!" Tepukan tangan di pundaknya membuat Serena mengumpat kesal.

"Apasih! Rival!"

"Biasalah, Rival kan emang gajelas," sahut Wildan yang berkata lebih kalem kepada Serena.

"Makanya otak sering-sering di cuci biar kelakuan lo ga kaya ...." Ucapan Serena menggantung di udara ketika pandangan matanya bertemu dengan Dendra.

"Ssst ... Udah, bubar, masuk kelas masing-masing," kali ini Joy yang bersuara.

Sejurus kemudian rival langsung menarik lengan Serena menjauh dari kelas XII ipa 1.

"Ngapain, sih, Val!" Serena menepiskan tangannya kesal.

"Mau nganterin lo ke kelas lo, lah."

"Heh, ubi jalar, lo gausah sok pahlawan! minggir!" Jo dengan sengaja menabrak tubuh Rival lalu berdiri di depan Serena.

"Gue aja yang nganterin lo ke kelas, ya?" Ucap Jo lembut. Sedangkan Rival yang mendengarkan langsung berlagak ingin muntah.

Serena berdecak kesal, "Ga perlu, gue masih punya kaki, dan masih normal. jadi, gue bisa jalan ke kelas tanpa bantuan kalian."

Wildan yang sedari tadi diam kini ikut angkat bicara, "Iya, kita semua tau Ser. tapi yang jadi masalah lo itu deket sama Dendra. Lo tau kan hampir 95% cewek gasuka sama orang yang ngedeketin dia."

"Kita takut lo di apa-apain."

Serena mengerutkan alisnya tidak terima, "Buktinya hampir tiga bulan gue sama Dendra, adem ayem aja. Mereka cuma berani ngatain gue di belakang dan itu ga masalah."

"Hati-hati aja, Ser. Kalo lo butuh, gue akan selalu ada kok.'

"Aseek piwwit, cuit ... cuit ...," teriak Rival heboh lantaran melihat Dendra yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik mereka dari dalam kelas.

"Dahlah, gue balik dulu papay sayaaang ...." Serena memberikan kiss bye pada Dendra membuat pemuda itu mengalihkan pandangannya dengan raut datar.

***

Dendra, Rival, Jo, dan Wildan baru saja sampai di sebuah kafe milik Dendra.

"Widih makin rame aja, nih kafe." Rival sudah mulai tebar pesona pada perempuan-perempuan yang ada di kafe tersebut.

Mereka duduk di salah satu kursi pengunjung sedangkan Dendra sedang berbicara kepada waiters kepercayannya.

"Lo mau ngapain?" Tanya Jo pada Rival yang seolah sedang menelpon seseorang.

"Nyuruh pacar kesini," jawabnya enteng.

"Tumben, pacar yang mana Val?"

"Ayang Bila."

"lo ga takut Bila naksir gue?" Jo menaikkan sebelah alisnya menggoda Rival.

"Enggak lah, kan stoknya masih banyak, ambil aja kalo lo emang naksir."

"Dasar buaya!" seru Jo.

"Heh, buaya teriak buaya. Sakit lo pada." Dendra yang baru ikut bergabung langsung angkat bicara.

Wildan yang sejatinya tidak memiliki mulut comel hanya bisa tersenyum melihat ketiga temannya.

"Nah, gini kan enak. Damai."

"Ndra?" panggil Wildan pelan

"Paan?"

"Lo sebenernya suka kan sama Serena."

Dendra diam sejenak sebelum berkata, "Pertanyaan lo itu nggak bermutu."

"Bukan apa-apa kalo lo ga bisa buat Serena bahagia, gue siap kok gantiin posisi lo." Dendra yang duduk di depan Wildan langsung melayangkan tatapan tajamnya.

Ditatap seperti itu Wildan langsung mengulum senyum, "bercanda elah."

Dendra langsung mengalihkan pandangannya pada ponselnya yang terus memberinya singal nontifikasi.

Serena

Sayang lagi dimana?

Kata Rival kalian lagi nongkrong

Ada Bila juga ya katanya?

Dendra hanya membaca chat dari Serena tanpa membalasnya, tidak lama Dendra mendapatkan panggilan video dari Serena. Ia membiarkannya tanpa ada niatan sedikit pun untuk mengangkatnya, ia malah lanjut mengobrol bersama Wildan.

Berkali-kali panggilan video masuk di ponsel Dendra membuat pemiliknya kesal.

Sayangkuuh

Kenapa

Serena

Kangeeeen

Mau ketemu:(

Dendra

Iya

Serena

Aku dataaang mwah

Serena berjingkrak senang akhirnya ia bisa bertemu dengan kekasih hatinya. Ia segera berganti pakaian lalu menelpon Aci untuk menemaninya pergi ke kafe milik Dendra.

Di sepanjang perjalanan Serena hanya membahas Dendra, Dendra, dan Dendra membuat kepala Aci pening rasanya. Tadi saja ia memaksa Aci untuk menemaninya meskipun Aci sudah menolak sekuat tenaga tetapi tetap saja, Serena sudah berada di depan rumah menjemputnya.

Sesampainya di sana, Serena masih dengan hati yang berbunga-bunga. Menebarkan senyum kepada pengunjung yang melihatnya.

"Itu, Dendra." Aci menunjuk menggunakan dagu empat orang yang duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri.

"Sayaaaang." Cicitnya nyaris tidak berbunyi takut mengganggu pengunjung lain. Serena langsung mengambil tempat di samping Dendra lalu mendekap sebelah lengan kekar pemuda tersebut.

"Aaaaa gue juga mau Serena!" Rival berteriak heboh membuat Jo langsung menyumpal mulut Rival menggunakan tissue.

"Ahahaha mampus!" Jo tertawa terbahak-bahak begitupun yang lainnya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya heran.

Terkecuali Wildan, pemuda itu hanya tersenyum tipis alih-alih memandangi Rival yang mendumel kepada Jo. Ia malah memandangi Serena di depannya yang terlihat bahagia.

"Hai baby!" Bila dan antek-anteknya datang ke meja mereka membuat suasana langsung hening.

Bila yang pada dasarnya pernah memiliki hubungan dengan Dendra, ketika di beri kabar oleh Rival jika ia dan Dendra sedang berada di kafe. Ia pun segera datang.

"Hai ayang Bila, baru dateng ya, sini duduk samping aak." Rival menepuk kursi kosong di sebelahnya.

Melihat Bila datang Dendra langsung menyingkirkan tangan Serena yang menggelayut di lengannya sedikit kasar membuat Serena menyebikkan mulutnya.

"Gue maunya duduk di samping Dendra, jadi tolong dong lo cewek yang di samping Dendra minggir."

Aci mengerutkan keningnya merasa tidak nyaman, sedangkan Serena langsung menatap Bila terang-terangan.

"Lo siapa?" Ejeknya sambil tersenyum.

"Gue mau duduk di samping Dendra, lo tuli?!" Bila sedikit nyolot.

"Apa susahnya lo pindah duduk di samping Rival?" Serena pikir kalimat yang Dendra lontarkan untuk Bila tetapi ternyata untuk dirinya.

"Gamau ayaaang." Serena memeluk lengan Dendra merengek seperti anak kecil.

"Minggir!" Bila sudah berdiri di samping Serena yang tengah bergelayut di lengan Dendra.

Suasana langsung memanas, seluruh pengunjung memusatkan perhatiannya kepada mereka.

Tidak ada yang berani angkat bicara, termasuk Rival ia hanya mengamati apa yang selanjutnya akan terjadi.

Serena memejamkan matanya sedikit lama sebelum akhirnya ia bangkit berdiri menghadap Bila, "Lo siapa?! Hah!"

"Lo cuman masalalunya Dendra, hubungan diantara kalian berdua udah selesai! Dan gue, gue pacar sekaligus masa depannya Dendra. Ngerti lo!"

"Jadi, lo ga berhak ngusir gue!"

"Serena!" Jantung Serena terasa berhenti berdetak ketika Dendra berteriak menyebut namanya.

"Malu-maluin aja, sih lo!" Serena berbalik menatap Dendra yang terlihat menahan amarah.

"Sayang, Bila yang mulai duluan. Bukan aku." Serena merengek lagi bahkan sekarang sambil menyebikkan bibirnya terlihat menggemaskan.

"Kita, putus!"

Bila dan antek-anteknya yang mendengarkan langsung tersenyum bahagia.

Sedangkan Rival, Jo, dan Aci mentap tidak percaya.

"Gamau! Pokoknya aku gamau putus." Mata Serena mulai berkaca-kaca ia menahan malu di jadikan bahan tontonan pengunjung kafe.

"Sayang aku gamau putus hiks," Serena mencoba meraih tangan Dendra tetapi langsung di tepis oleh pemiliknya.

"Bisa nggak lo gausah kasar!" Wildan bangkit berdiri lalu menarik tangan Serena menjauh dari Dendra.

"Ucapan gue tadinya cuman bercanda, tapi karena kelakuan lo udah kelewat batas. Gue bakal lakuin apa yang udah gue omongin tadi." Tegas Wildan.

Dendra menatap Wildan dengan tatapan membunuh, "Lepasin, tangan dia."

"Lo siapa?" Tanya Wildan mengejek.

"Lo sama Serena udah putus!"

Wildan mengajak Serena yang menangis sesenggukan meninggalkan kafe tersebut.

"Sabar bro, sabar." Rival menepuk pundak Dendra lalu menuntunnya agar kembali duduk.

🍅🍅🍅

Seminggu setelah kejadian itu. Serena benar-benar merasa kecewa dengan laki-lakinya. Ia bahkan tidak memiliki semangat untuk sekedar makan bahkan bersekolah. Setiap hari Aci lah yang membujuknya tetapi nihil.

Begitupun dengan Wildan ia selalu setia menemani Serena, membelikannya makanan sampai barang kesukaannya. Wildan juga membujuk anak yang hidup jauh dari orangtuanya ini untuk pergi ke sekolah.

"Ke sekolah bareng gue ya?" Serena diam tidak menjawab. Wildan mengelus rambut Serena lembut lalu meninggalkan Serena sendirian di kamarnya untuk bersiap-siap.

Sesampainya di sekolah, tidak sengaja Serena bertemu dengan Dendra, Jo, dan Rival. Pandangan mata Serena dan Dendra bertemu. Serena yang biasanya langsung menghampiri dan bermanja-manja kepada Dendra sekarang hanya diam, sedangkan Wildan di sampingnya menghela nafas lalu mengajak Serena pergi masuk ke dalam kelas.

"Gue ke kelas dulu ya, nanti pulangnya bareng gue. Semangat Serena cantik." Wildan berucap lembut sambil mengelus puncak kepala Serena. Ketika Wildan sudah berlalu tiba-tiba sudut bibir serena terangkat ke atas.

"Aaaaa Serena, akhirnya lo berangkat juga!" Aci yang baru datang langsung menghambur ke pelukan Serena.

Tidak lama segerombol teman sekelasnya yang terkenal julid memasuki kelas.

"Eh, si cewek gatau diri berangkat sekolah guys. Gue kira udah ga berani lagi nunjukin mukanya di sini."

"Ga punya malu, ih."

Serena menatap datar teman-temannya yang dengan terang-terangan mengatainya.

"Mulut lo belum pernah gue gampar ya, Na? Lemes banget perasaan!"

"Upss ... Sorry!" Ketiganya tertawa mengejek.

"Udah gapapa, sabar yaa." Aci mengelus pundak Serena menguatkan.

🍅🍅🍅

Bel sekolah berbunyi seluruh siswa siswi SMA karang bintang menghambur keluar kelas.

Serena berjalan menuju parkiran bersama Aci, entah mengapa ia tidak memiliki semangat sedikitpun bahkan untuk sekedar berjalan.

Ia memandangi ujung kakinya sambi terus berjalan sampai langkahnya terhenti karena ada sesuatu menghalangi.

Serena menatap sepasang sepatu yang pemiliknya begitu ia kenali. Perlahan Serena mendongak menatap datar wajah Dendra yang menampilkan senyum manis.

"Selama lo belum punya pacar, gue masih cowok lo."

"Stres." Serena berlalu begitu saja namun lagi-lagi di hentikan.

"Pulang bareng gue, jauhin Wildan. Gue gasuka lo deket sama dia."

"Apaan sih!"

"Love you serena."

Serena mengedipkan matanya cepat. Berusaha mencerna apa yang baru saja laki-laki ini katakan.

"Maafin Dendra ya Serena. Selama ini belum bisa jadi pacar yang baik buat Serena. Tapi mulai sekarang Dendra bakalan buktiin kalo Dendra pantes buat Serena."

Aci melotot tidak percaya pertama kali ini ia mendengar suara lembut Dendra begitupun dengan Serena.

"Iyain Ser," bisik Aci gemas.

Di satu sisi ada Wildan yang memperhatikan dari jauh, hatinya seperti tercelos sesuatu. Tapi bibirnya tetap tersenyum.

"Gue rela Ser, asal lo bahagia," bisiknya dari kejauhan.

Serena mengangguk bersamaan dengan itu air matanya menetes.

"Aku kangen sama ayang, mau peyuk." Akhirnya Serena bisa merengek lagi namun kali ini rengekannya berujung pelukan, perhatian, serta senyuman.

"Love you, love you Serenaku." Dendra memeluk erat tubuh Serena sambil menghirup aroma strawberry di rambutnya.

End

Kembali ke Beranda