Bukan Takdirku
Teen
21 Dec 2025

Bukan Takdirku

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2025-12-21T205756.795.jfif

download - 2025-12-21T205756.795.jfif

21 Dec 2025, 13:58

download - 2025-12-21T205750.604.jfif

download - 2025-12-21T205750.604.jfif

21 Dec 2025, 13:58

Seorang gadis berpenampilan sangat sederhana tengah memasuki kelas barunya, ia adalah murid pindahan sekolah dari Surabaya yang pindah ke Jakarta ke salah satu sma Favorit di sana, salah satunya adalah SMA CAHAYA ABADI salah satu sekolah terkenal di Jakarta.

Saat memasuki area parkiran banyak sekali yang menggodanya karena memiliki wajah yang rupawan, baru saja selesai memarkir sepeda motornya sudah banyak sahutan sahutan yang terdengar.

Dimisya Alena, nama gadis cantik tersebut namun sifat cueknya tidak sepadan dengan wajah cantiknya. Dengan langkah kesal ia melangkah ke ruangan Kepala Sekolah untuk mengetahui di kelas mana ia di tempatkan, namun langkahnya harus berhenti saat seseorang dengan tidak sengaja menabraknya.

Alena terpental ke belakang saat bertubrukan sedangkan lelaki tersebut hanya diam di tempatnya tidak bergerak sedikitpun.

Alena nyaris saja mengira ia adalah patung yang sangat kokoh jika saja ia tidak langsung berbicara.

"Maaf maaf gue ga sengaja gue buru buru tadi," kata seorang lelaki yang menabraknya.

"Iya gue gapapa ko, lo jangan khawatir," kata Alena menimpali.

Karena Alena terburu-buru ingin ke ruang Kepsek, iapun langsung saja pamit ke lelaki tersebut buru buru melangkah pergi.

"Eh tunggu nama lo siapa? Tanya lelaki tersebut.

"Nama gue Dimisya Alena, panggil aja Alena," teriak Alena, pasalnya saat mengatakannya jaraknya sudah lumayan jauh dengan laki laki tersebut.

"Kita pasti bertemu kembali alena," Kata laki-laki itu seraya tersenyum miring.

Gadis cuek tersebut mendapat informasi dari Kepsek bahwa ia berada pada kelas 11 IPA 3, langsung saja Alena mencari kelasnya dan menyusuri banyak koridor. Saat di kelas bisa di lihat bahwa teman sekelasnya menerimanya dengan sangat baik,tanpa ada cibiran pedas yang sering aku baca pada cerita Wattpad.

Entah mengapa Alena jadi kepikiran dengan seorang lelaki yang menabraknya tadi pagi, ia sendiri aneh dengan pikirannya ini, kenapa ia jadi memikirkan anak itu sih.

Saat jam istirahat Alena berniat ingin mengantri bakso karena entah mengapa mendengar kata bakso membuat air liurnya ingin keluar saking sukanya dengan makanan bulat itu.

Tiba-tiba ada seorang yang mendekat kearahnya dan ia mengenal siapa orang itu, dia adalah orang yang di tabraknya tadi pagi.

Laki laki itu tiba-tiba saja menarik tangan Alena untuk menuju salah satu bangku yang kosong yang terdapat di salah satu pojok kantin.

"Hay kita ketemu lagi girl," ucap laki laki itu.

"Ko lo narik gue ke sini sih, gue kan mau pesen bakso" Kesal Alena pada laki-laki yang menabrak ya tadi pagi.

Pasalnya Alena sudah tidak tahan ingin mencicipi bakso yang menggiurkan lidah tersebut.

"Maaf ya nanti aku pesenin deh baksonya," Kata laki-laki itu menenangkan Alena yang kesal karena di tarik duduk.

Dan Alena hanya diam saja tidak merespon.

"Oh ya tadi pagi kan lo belum sempet nanya nama gue kan, jadi gue mau perkenalan dulu sama lo sekarang, nama gue Aditya Satria Bagaskara. Gue ketua basket sekaligus ketos di sekolah ini," kata laki-laki tersebut memperkenalkan diri.

"Oh," Kata Alena singkat.

"Et dah singkat amat jawabnya, gue udah ngomong panjang kali lebar dari tadi lo cuma jawab 'oh' doang ckckckck," kata laki-laki di depan gue.

"Iya mang napa? " kata Alena ketus.

"huffff" terdengar helaan nafas panjang dari depan. Ternyata dari laki-laki tersebut.

"Gini ya aku cuma mau kamu jadi temen aku, tapi kenapa kamu ketus banget sama aku,aku ga ada niat buat nyakitin kamu ko tenang aja," kata Bagas laki-laki di depan ku.

Aku mengguk saja walaupun di hatiku masih sedikit tidak percaya, dan menerima ajakan pertemanan yang bagas katakan kepadaku.

Dan mulai pada hari di mana Bagas memperkenalkan diri padaku hingga sekarang kami menjadi sangat dekat. Aku dan Bagas sering kali jalan bersama, diner romantis serta kemana-mana sering kali bersama sampai orang-orang bilang kami adalah pasangan kekasih yang sedang jatuh cinta.

Aku juga sering berpikiran begitu kadang aku baper sendiri saat di gombalin dia, dan entah mengapa jika berdekatan dengan dia aku merasa jantungku berdetak dengan sangat cepat tidak seperti biasanya. Aku pun mulai merasakan perasaan aneh tersebut sekarang dan aku menyadari aku telah jatuh cinta kepada temanku sendiri.

Saat itu kami sedang bergandengan tangan berjalan menuju kelas ku di lantai dua, tiba-tiba saja langkahku dan Bagas di cegat oleh seorang gadis cantik bermata hazel, gadis itu ingin berbicara berdua dengan Bagas dan aku pun membiarkan kedua orang itu berbicara.

Aku merasa heran akhir-akhir ini Bagas terkesan menjauhiku, entah hanya perasaan ku saja mungkin. Awalnya aku ingin mengungkapkan perasaan ku pada nya keesokan harinya saat sebelum seorang gadis tempo hari lalu menemui Bagas. Tetapi semenjak hari itu Bagas berlagat seperti menjauhiku jadi rasa ini harus terpendam lagi.

Keesokan harinya aku bertemu dengan Bagas di luar kelasnya, akupun menarik tangan nya sebelum benar-benar pergi, dia awalnya kaget melihat kehadiranku mungkin tapi segera mengganti ekspresi wajahnya menjadi datar tidak seperti biasanya yang ceria, aku jadi heran dia kenapa ya? batinku.

"Kamu kenapa jadi jauhin aku si gas,apa aku punya salah sama kamu?" Tanyaku meminta penjelasan.

"Kamu ga ada salah,tapi jangan lagi temui aku," Ucapnya datar dan terkesan cuek.

Aku terkejut mendengar nada bicaranya sangat dingin barusan, dan aku tersadar dari terkejutanku saat dia berjalan menjauhiku, niatnya aku ingin memanggilnya tetepi aku merutuki mulutku sendiri yang tiba tiba saja tidak bisa berbicara.

Di rumah aku pusing memikirkan sikap Bagas yang berubah akhirnya aku memutuskan untuk menemuinya di rumahnya saja meminta penjelasan sekaligus mengatakan perasaanku yang sebenarnya.

Aku pun memutuskan untuk pergi ke rumah Bagas malam ini saja mungkin sekitar jam 07:00. Ku langkahkan kaki ku menuju alamat yang pernah aku terima dari Bagas waktu itu, aku mengeryit saat akan memasuki pagar rumah Bagas saat selesai memarkirkan motor di seberang jalan rumah Bagas.

Karena aku penasaran kenapa banyak sekali orang yang berdatangan ke rumah ini, akupun memberanikan diri bertanya kepada satpam yang menjaga di sana.

"Pak ini ada acara apa ya pak?" tanyaku penasaran pada pria paruh baya di depanku ini.

"Oh eneng ini temennya Aden kan ya?" tanya satpam itu balik.

Aku pun hanya bisa menganggukkan kepala saat di tanya olehnya, kemudian dia berkata yang akan membuatku sesak nafas selanjutnya.

"Oh Eneng di undang Aden Bagas ke acara tunangannya ya, kok engga langsung masuk aja sih neng," Kata satpam melanjutkan ucapannya.

Bagai di sambar petir berita yang ku dapat malam ini sukses membuat hatiku hancur berkeping keping. Rasa yang ku punya untuknya harus kandas bahkan sebelum aku mengatakan padanya. Tuhan kenapa begitu sakit, kenapa harus di pertemukan dengannya jika ujung-ujungnya akan sesakit ini Tuhan. Lebih baik aku tidak pernah bertemu dengannya jika aku tau keadaannya akan seperti ini Tuhan,sakit.,...sakit sekali....,"Batin Alena merintih.

"Loh Neng kenpa diem doang di situ," Kata satpam itu lagi.

"Ah maaf Pak nanti saya akan ke sini lagi ada yang ketinggalan Pak" alibi Alena pada satpam tersebut.

Satpam itu mengangguk kemudian alena berlari ke seberang jalan kemudian melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata rata.

Saat ini Alena tidak tahu harus pergi kemana untuk menenangkan hatinya. Akhirnya dari kejauhan terlihat sebuah taman indah walaupun malam, cukup dengan penerang lampu pinggir jalan dan kedai yang berada di sekitar taman tersebut cukup membuat taman tersebut terlihat.

Walaupun sudah malam tetapi taman tersebut masih ramai pada jam segini, bahkan anak-anak beserta orang tua mereka masih sangat asik bercanda ria.

Setelah memarkir motornya Alena duduk di sebuah bangku yang ada di sana, memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan hatinya yang sedang tidak baik baik saja, tak terasa air matanya pun menetes dari pelupuk mata indahnya.

Iya menyesali hari-harinya bersama pria yang sudah berhasil membuat hatinya terluka,kenapa? Kenapa harus datang kehidupku seolah memberi harapan pada hubungan kita, kalo pada akhirnya sudah ada yang menempati hatinya.

Kenapa kamu begitu jahat,Tuhann,.....bisakah hati ini tenang Tuhan...kenapa sesakit ini. Tangis batin Alena.

Tak lama kemudian seseorang datang kemudian duduk di samping Alena, dia seorang pria dewasa yang terlihat berwibawa degan tampang di atas rata-rata.

Pria itu tiba tiba saja berbica.

"Hey kamu lagi putus cinta ya?" Tanyanya sok tau.

Aku hanya diam saja mendengarkannya.

"Dengar jika kamu putus cinta bukan berarti kamu harus terus bersedih begini, dia meninggalkan kamu bukan berarti Tuhan telah memberitakun kepadamu sebelum hubungan kalian berlanjut ke hubungan yang lebih serius bahwa dia bukanlah seseorang yang tepat untukmu."

"Berterima kasihlah pada Tuhan bahwa telah memberitahumu yang sebenarnya sebelum semuanya terlambat" Nasehat pria tadi.

Alena yang mendengar nasehat pria tadi tersadar kenapa harus menyalahkan Tuhan yang telah mempertemukan nya denga pria jahat seperti Bagas, seharusnya dia senang dia tuhan telah memberi tahu yang sebenarnya, bukan malah menyalahkan Tuhan bukan.

Dengan segala tekad yang kuat dia harus bangkit tidak boleh terpuruk lagi oleh keadaan ini, Alena harus kuat ya harus kuat. Katanya meyakinkam dalam hatinya yang terdalam.

Alena menjadikan pelajaran kisahnya yang tidak berakhir seperti yang tidak di inginkannya, menjadikannya pelajaran paling berharga jika ingin melangkah di masa depan nantinya.

Ia pun berterimakasih kepada pria tersebut dan hanya di balas dengan anggukan saja, berpamitan kepada pria tersebut untuk pulang dan menata hidupnya dengan awal yang lebih baik tanpa harus memikirkan masalalunya yang telah membuatnya sakit hati.

Kembali ke Beranda