Gambar dalam Cerita
HE IS A GHOST
"Maksud lo, lo itu indigo?" Tanya Sephia pada Larasati yang dibalas gadis itu dengan dengusan.
"Gue gak ngomong gitu loh Ya, gue itu cuma bisa lihat mereka kadang-kadang doang. Lagian gue gak bisa liat masa depan ataupun masa lalu" Larasati mengelak. Lalu dia bangun dari posisi duduknya kemudian meninggalkan Sephia dengan dua mangkok bakso yang belum tersentuh.
Setelah meninggalkan kantin, Larasati menyusuri koridor menuju kelasnya. Gadis itu baru saja bercerita dengan teman sebangkunya perihal dia melihat sosok perempuan bergaun putih dengan rambut menjuntai melewati pinggang dikamar nya semalam.
Namun, respon Sephia membuatnya jengah. Dia bukan anak indigo, dia tidak bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Lagipula dia yakin itu hanya imajinasi.
Larasati lagi lagi menghela nafas dengan kasar. Dia jenuh, sangat. Kenapa bisa akhir-akhir ini dia sering melihat penampakan. Padahal dia bukan anak yang dibilang spesial.
Larasati mendongak kalau mendengar suara sepatu mendekatinya. Suasana kelas saat itu sepi karena masih jam istirahat.
Gadis itu menaikkan sebelah alisnya ketika seseorang mendekatinya.
"Apa?" Tanya Larasati sarkastik. Dia sedang pusing, dan cowok ini brani sekali mendekatinya.
"Kamu jutek banget ya ternyata," Balas cowok itu sambil menyunggingkan senyum.
"Saya Aldy, kalau kamu pengen tau" Lanjutnya.
Mata Larasati berotasi. Ada apa dengan cowok ini? Kenapa tiba-tiba dia memperkenalkan diri begitu tiba-tiba pikir Larasati.
"Gak penting"
"Kamu jutek banget ya?" Senyum Aldy belum juga terlepas dari bibirnya dan itu membuat Larasati muak.
"Lu gila ya?" Tanya Larasati tak segan segan.
Aldy menggeleng lalu dia menarik kursi yang berada didepan Larasati dan duduk dengan posisi berhadapan dengan Larasati.
"Trus kenapa dari tadi senyum senyum gak jelas? Sori ya, lo emang ganteng. Tapi senyum lo gak mempan buat ngegaet hati gue," Terang Larasati.
"Ternyata kamu gak jutek aja ya, tapi pede juga. Saya boleh tau nama kamu gak?"
"Kalo gak?"
"Gak papa. Saya gak maksa" Kembali senyum merekah dibibir Aldy.
"Larasati. Lo ada perlu apa kesini? Dan cari siapa?
Sebelum Aldy sempat menjawab. Larasati mendengar pintu berderit, iapun menoleh ke asal suara.
"Ngomong sama siapa tadi Ras?" Tanya Sephia.
Ia baru saja kembali dari kantin. Setelah menghabiskan dua mangkok bakso miliknya dan milik Larasati.
"Sama..." Ucapan Larasati terpotong ketika mendapati kursi didepan nya kosong.
"Loh, dia kemana?" Tanyanya heran.
"Dia siapa?"
"Gak penting," Ketus Larasati sambil mengeluarkan novel dari ranselnya.
"Gue punya novel baru nih. Lo mau baca?" Tawar Larasati yang dibalas anggukan oleh Sephia.
Dengan cepat ia mengambil novel tersebut dari tangan Larasati sembari membuka halaman demi halaman dengan antusias.
"Gue mau ke perpus. Kalo guru masuk, bilang sama dia gue izin. Kayanya gue gak masuk sampe beli pulang berbunyi" Larasati berkata sambil mengemasi buku yang berserakan diatas meja dan memasukkannya ke dalam ransel berwarna pinknya.
"Lo yakin? Abis ini guru Fisika loh Ras, gue gak tanggung jawab kalo lo dibuat cabut lagi sama tuh guru killer" Sephia mencoba mengingatkan.
Larasati menoleh pada Sephia yang berada disampingnya sebentar. Lalu kembali mengecek isi ranselnya.
"Bodo amat," Cetusnya cuek.
Sambil menggendong ransel yang haya berisikan beberapa buku, Larasati melangkah keluar kelas tanpa memperdulikan temannya yang telah tenggelam didalam fantasi novel.
Koridor masih ramai ketika Larasati melewatinya. Ia melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Masih 5 menit lagi bel masuk berbunyi. Dengan langkah cepat ia segera menaiki tangga yang menghubungkan kelasnya dengan perpustakaan.
Larasati sampai didepan pintu perpustakaan ketika bel pertanda masuk berbunyi. Setelah melepas sepatunya, ia masuk sambil mengucapkan salam pada pengawas perpus. Sementara pengawas hanya melirik sekilas dan kembali lagi dengan rutinitasnya.
Larasati menyusuri rak mulai dari buku pelajaran, majalah hingga novel dan komik. Kali ini pilihannya jatuh pada komik serial kartun dari negeri sakura.
Ketika ia berbalik, ia dikejutkan oleh seseorang yang baru ditemuinya beberapa menit yang lalu dikelasnya.
"Lu bikin kaget aja," Desis Larasati.
"Lu ngapain disini?"Tanya gadis tiba tiba bernada curiga.
" Kamu mau baca buku apa?" Tanya Aldy.
Ya, orang yang membuat Larasati kaget itu Aldy.
"Ohh. Doraemon," Ucapnya sambil melihat sekilas pada buku yang ada digenggaman nya.
Larasati pun berlalu dan berjalan menuju meja yang berderet dibalik rak rak buku. Meja tersebut merupakan tempat ternyaman bagi Larasati karena jauh dari meja pengawas.
Sementara Aldy juga duduk disebelahnya. Cowok itu tampak misterius bagi Larasati karena kehadirannya yang tak dapat ditebak.
"Kamu kayak lagi bete. Kalau boleh tau, kenapa? Kamu bisa cerita ke saya" Cowok itu menatap Larasati tak henti sementara gadis itu sibuk dengan buku bacaannya.
"Bacod" Sepenggal kata tersebut mampu membungkam Aldy.
Namun senyum tak memudarkan senyum di wajah tampannya.
Tak terasa bel pulang berbunyi. Larasati menatap heran sekitar. Bertanya dalam hati kapan cowok itu pergi. Lalu mengangkat bahu pertanda dia tidak peduli. Mungkin saja karna dia terlalu asik dengan bacaannya Aldy pun pergi tanpa pamit.
°°°
Hari berganti minggu berlalu begitu saja tanpa terasa, rutinitas Larasati tetap tak berubah. Kecuali kehadiran Aldy yang kerap kali membuat matanya berotasi dan menghela nafas panjang.
Pada hari ini saja, cowok itu kembali menghampirinya ketika ia sibuk mengerjakan latihan kimia.
"Ada apa lagi?" Tanya Larasati tanpa basa basi sementara tangan nya masih sibuk mencoret buku buramnya.
"Pengen ketemu aja," Ucap cowok itu lirih.
"Tiap hari lo nyamperin gue. Emang lo gak bosen? Gue yakin, dengan tampang lo yang mirip artis barat gini banyak cewek diluar sana yang ngejar ngejar lo"
"Jadi kamu mengakui kalau saya itu ganteng?" Demi mendengar penuturan beserta pertanyaan yang meluncur dari bibir Aldy, Larasati menghentikan kegiatan menulisnya ia menatap wajah Aldy dengan seksama lalu kembali berkutat dengan soal soal.
" Sedikit," Ucap gadis itu jujur.
Karena tak ada balasan, Larasati kembali mendongakkan kepalanya. Heran. Cowok itu kembali menghilang tanpa pamit padanya.
Setelah selesai dengan soal soal yang disukainya itu dan telah mengecek bahwa jawaban nya benar, Larasati meninggalkan mejanya untuk mengisi perutnya yang dari tadi sudah mendendangkan suara alam yang menandakan bahwa ia lapar.
Setelah sampai di kantin dan memesan semangkuk bakso, Larasati menghampiri meja dimana Sephia duduk. Teman sebangkunya itu tak sendiri, ia bersama Ovanita.
"Hay Ov, Ya," Sapa Larasati.
Mereka Menghentikan menyendok makanan masing masing lalu menatap gadis itu.
" Hay," Balas mereka serentak.
"Udah selesai ngerjain latihannya Ras? Kalau udah, ntr contek ya," Seru Sephia tanpa rasa malu.
Larasati hanya mengangguk sebangai jawaban atas permintaan itu.
Pesanan Larasati telah datang, asap mengepul menandakan bahwa bakso tersebut masih panas. Setelah memberi saudara dan kecap iapun melahap dengan tenang.
"Ras.." Panggil Ovanita yang dibalas gadis itu dengan mengangkat sebelah alisnya.
Ia tak suka ada orang yang menggangunya ketika sedang makan.
"Gue denger ada desas desus tentang lo Ras. Yakan Ya?" Ovanita menoleh pada Sephia seolah meminta persetujuan yang dibalas anggukan.
Larasati meletakkan sendok dan garpunya. Menatap serius pada dua teman dekatnya itu. Ia tak suka ketika ada yang membicarakannya dibelakang. Jika seseorang ada masalah dengannya, dia siap melayani orang tersebut dengan senang hati.
"Lo suka bicara sendiri," Kata Ovanita pelan, seolah olah ucapannya takut membuat Larasati meledak.
"Maksud lo?" Larasati mengerutkan keningnya.
Ia sungguh tak mengerti dengan ucapan Ovanita. Siapa yang telah mlakukan fitnah seperti itu Padanya.
"Bicara sendiri Ras. Banyak yang udah liat pake mata mereka sendiri. Dari mulai dikelas, perpus bahkan koridor sekolah," Tambah Sephia menjelaskan.
Larasati sempat bergidik ngeri. Bagaimana bisa dia dikatakan seperti itu. Karena jelas jelas dia berbicara jika hanya ada lawan bicara saja.
"Gue gak pernah bicara sendiri Ya, Ov. Percaya sama gue," Ucap Larasati putus asa. Kedua temannya saling berpandangan.
"Kita percaya sama lo kok Ras" Sephia mencoba menenangkan, Ovanita ikut mengangguk sambil tersenyum.
"Tapi ada satu hal yang pengen gue tanyain sama lo," Lanjut Sephia menatap Larasati tanpa berkedip.
"Apa?"
"Lo inget waktu lo ninggalin gue dikantin terus abis itu gue nyamperin lo dikelas" Ucapan Sephia dibalas anggukan oleh Larasati.
" Lo bilang lo ada orang yang ngomong sama lo sebelum gue dateng, itu siapa?" Sambungnya lagi.
"Aldy," Jawab Larasati cepat.
"Kenapa?"
"Hm. Lo yakin dia manusia? Maksud gue ya gitu deh" Sephia menatap Larasati dengan Ovanita secara bergantian.
" Ya ini cuma pemikiran gue aja," Tambahnya.
Larasati tercekat. Lalu dengan cepat ia berdiri dari posisi duduknya lalu meninggalkan kantin tanpa sepatah katapun. Ia berlari disepanjang koridor dengan mata menatap sekitar. Ia mencari seseorang.
Namun, sudah tiga kali ia mengitari sekolah dari mulai halaman, koridor, perpus, ruang olahraga, ruang osis bahkan halaman belajkang sekolah ia tak kunjung menemukan seseorang yang ia cari.
Larasati menyerah. Ia berjalan gontai menuju kantin. Ia lelah, bahkan ia tidak sempat minum dikantin sebelum pergi tadi. Dan sekarang ia rela bolos demi mencari Aldy.
" Kamu nyari saya?" Tepat didepan ruang musik.
Suara yang amat dikenal Larasati terdengar dari arah belakang. Ia segera memutar badannya 180 derjat. Dan mendengua tertahan.
" Lo darimana aja?" Ucapnya kesal sambil balik badan dan kembali melangkah. Aldy dengan cepat mensejajarkan langkahnya dengan Larasati.
"Kenapa kamu nyari saya? Tumben banget," Ucap cowok itu sambil memainkan gelang nya yang berada ditangan kirinya.
"Atau kamu sudah tau siapa saya?"
Langkah Larasati terhenti. Ia menatap ragu ragu ke arah Aldy yang berada tepat di sampingnya. Ada rasa takut menghampirinya namun dengan cepat ia tepis.
"Kamu ... Beneran hantu?" tanyanya hati hati.
Dengan tenang, Aldy menjawab 'iya' tanpa suara. Ia menatap lekat pada manik abu abu milik Larasati. Larasati meringsut menjauh secara perlahan dari Aldy.
"Kamu takut sama saya?" Tanya Aldy.
Larasati mengangguk pelan. Ia tak berbohong. Ia takut, sangat. Untung saja Aldy tidak Berpenampilan seperti yang kerap ia lihat sehingga ia mampu bertahan bersama Aldy. Jika tidak ia mungkin akan menjerit.
"Saya gak berbahaya. Saya gak bakal ngelukain kamu. Kamu mau ikut saya sebentar? Saya hanya ingin mengobrol. Jujur, kamu orangnya menyenangkan walaupun kamu terkesan cuek tapi saya memakluminya" Larasati hanya terdiam kala Aldy berbicara.
Alih alih mendengarkan, ia hanya sibuk menatap ujung sepatunya dengan pikiran yang entah kemana.
"Larasati," Panggil Aldy lembut seraya hendak menyentuh pundak Larasati.
Namun tangannya hanya menerpa angin, sementara Larasati mendapatkan sensasi dingin hingga bulukuduknya berdiri.
Mata nya melotot menatap Aldy tak percaya.
"Jangan sentuh gue," Ucapnya bergetar.
"Kamu mau ikut?"
"Kemana?" Meski tak percaya sepenuhnya Larasati menjawab dengan nada setenang mungkin.
"Mari," Ujar Aldy.
Ia hanya ingin berbicara dengan Larasati tak lebih tak kurang. Ia mengajak gadis itu keluar dari area sekolah melewati pagar samping. Lalu ia melewati jalan setapak yang terlihat sudah berumout dan sedikit bersemak dikarenakan jarang dilewati. Diujung jalan ada sebuah lama yang terlihat sudah tak berpenghuni.
"Kamu takut?" Tanya Aldy.
Larasati mengangguk patah patah.
" Saya suka kamu. Kamu gadis yang jujur," Ucapnya lagi.
Aldy menatap rumah yang berada 3 meter didepan nya dengan pandangan sendu.
" Itu rumah saya," Ujarnya membuka cerita.
" Namun orangtua saya pindah sejak setahun yang lalu karena kepergian saya. Kuburan saya ada disamping rumah itu" Aldy menghentikan ceritanya seraya menoleh ke sisi kirinya ketika mendapati Larasati tengah menatapnya tanpa berkedip. Gadis itu tampak terkejut karena ketauan mencuri pandang ke Aldy. Aldy terkekeh sesaat.
"Saya tau saya ganteng," Ucapnya percaya diri.
Larasati hanya bisa merutuki diri sendiri. Lalu berucap pelan seperti berbisik
"Iya, gue akui ko kalau lo ganteng"
" Saya dengar Larasati," Balas Aldy. Namun ia kembali melanjutkan cerita yang sempat terputus.
" Mereka sudah lama tidak melihat saya, membersihkan tempat peristirahatan saya. Saya hanya ingin kamu membantu saya Larasati"
Larasati menelan salivanya kuat kuat.
"Apa?" Tanyanya tak sabaran.
"Tolong temui orangtua saya. Bilang sama mereka bahwa saya sayang banget sama mereka. Bilang kuga sama mereka sering sering jengukin saya," Pintanya.
" Saya tau kamu gadis yang spesial dan baik hati Larasati," Lanjutnya.
" Ayo kita ke sekolah. Berlama lama disini membuat saya sedih," Ujar cowok itu jujur dan dibalas anggukan oleh Larasati.
°°°
Hari hari berlalu, Larasati tak pernah absen mencari keberadaan orangtua Aldy. Dan tak bisa dipungkiri, ia dan Aldy semakin akrab bahkan tak jarang jika pipi Larasati bersemu merah kala Aldy melontarkan candaannya.
"Al..," Panggil Larasati. Mereka tengah berada ditaman belakang sekolah karena disana satu satunya tempat yang tepat untuk bertemu.
Aldy menoleh, ia menatap pemilik mata abu abu itu.
"Apa hubungan kita bisa lebih dari sekedar orang yang minta bantuan dan orang yang ngasih bantuan?" Tanya Larasati.
Mereka saling tatap dalam waktu yang lama, Aldy terdiam sesaat mendengar pertanyaan Larasati.
"Jangan berharap lebih Ras," Ujar Aldy membuat Larasati memalingkan wajahnya ke arah lain.
Tak bisa dipungkiri ada sesak didalam jiwa masing masing. Tak hanya Larasati yang merasakan nya. Aldy juga merasakan hal yang sama.
" Kenapa?" Tanya Larasati sedikit parau.
Ia kembali menatap Aldy, namun Aldy mengarah kan pandangan ke arah lain.
"Ras, kita beda alam. Kamu jangan lupakan itu. Jika kamu ingin diperjelas, saya sudah mati Ras. Kamu gak bisa abaiin fakta itu. Mending kamu fokus aja sama tugas kamu," Ujar Aldy.
"Tapi gue gak bisa boong sama perasaan gue sendiri Al" Larasati tetap bersikeras. Bagaimanapun ia berharap bisa bersama Aldy.
Aldy tak punya pilihan. Tiba tiba dari tangannya keluar darah segar, begitupun kepalanya. Larasati yang melihat itu menjerit ketakutan dan pergi meninggalkan Aldy dengan air mata menetes perlahan.
" Maafkan saya Ras. Andai kamu tau, saya juga mencintai kamu. Tapi saya tau bahwa itu tidak mungkin," Ucap Aldy lirih.
°°°°
Keringat tak henti gentinya membanjiri Larasati sehingga seragamnya sedikit basah. Nafasnya masih menderu, ia segera menuju kelasnya dan mendapatkan Sephia sedang menyalin latihannya.
"Lo kenapa Ras?" Tanya Sephia ketika melihat tampilan sahabatnya yang jauh dari kata rapi.
"Kaya habis ngeliat setan aja" Sambung gadis itu sambil mengangkat bahu.
"Lo tau sama keluarga Yulianchan gak Ya?" Alib alih menjawab pertanyaan Sephia.
Larasati malah melontarkan pertanyaan ke Sephia.
"Keluarga Yulianchan? Ya tau lah Ras, siapa yang gak kenal sama keluarga tajir itu sih. Emang kenapa?" Tanya Sephia menyelidik.
"Lo tau rumah mereka gak? Yang mereka tempati sekarang?" Tanya Larasati dengan nafas memburu.
Ia tak sabar ingin bertemu dengan orangtua Aldy.
"Ayah gue kayanya tau soalnya dua salah satu kolega dari perusahaan Yulianchan," Jawab Sephia santai.
Larasati mengangguk mantap.
"Lo hubungin ayah lo sekarang, tanyain. Pulang sekolah kita pergi ke alamat yang dikasih ayah lo" Meski sempat heran dengan Larasati, Sephia tetap mengangguk.
°°°°
Setelah mengecek alamat yang dikirim ayah Sephia dengan alamat yang tertera, mereka mengetuk pintu sembari mengucapkan salam. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pintu besar denan ukiran rumit itu terbuka.
"Cari siapa?" Tanyanya. Sepertinya ia asisten rumah tangga dirumah tersebut. Dan berusia lebih dari 40 an dilihat dari wajahnya.
"Tante Charolina ada?" Tanya Laras sopan.
" Ada. Kalian siapa ya? Ada perlu Apa ingin menemui nyonya?" Tanya ART tersebut. Sepertinya ia enggan menerima tamu untuk nyonyanya.
"Penting. Bisa kami bertemu?" Tanya Larasati lagi. ART tersebut mengangguk sembari kembali masuk kedalam rumah besar itu. Beberapa saat kemudian ia kembali dan mempersilahkan Larasati dan Sephia masuk.
"Kalian siapa ya?" Itu pertanyaan pertama dari wanita cantik yang duduk dengan anggun disofa ruang tamu itu.
" Saya Larasati tante. Ini teman saya Sephia. Kami temannya Aldy" Sedikit tersentak mendengar penuturan Larasati namun Charolina kembali tenang meski ada sorot sedih dimatanya.
"Ada perlu apa menemui saya?" Tanya Charoline to the point.
"Aldy berpesan ke saya..." Belum sempat Larasati menyelesaikan ucapan nya namun Charollina telah memotong dengan kalut.
"Gak mungkin. Gak. Gak mungkin. Aldy udah meninggal. Dia gak mungkin temuin kalian," Ujarnya sambil berteriak.
"Tenang tante tenang. Teman saya ini memiliki kemampuan istimewa meski ia tak mengakuinya. Ia Indigo tante" Sephia mencoba menjelaskan, Larasati menyikut dengan sikunya yang dibalas cengiran oleh Larasati.
Charolina tampak sedikit tenang dengan penuturan itu. Keadaan nya lebih stabil.
"Apa pesannya?" Tanya wanita paru baya itu.
"Dia sayang sama tante sama om. Katanya, tolong seringjengukin dia. Bersihin pemakaman nya. Dia sedih melihat tante gak pernah ketempat istirahat terakhir nya," Jelas Larasati.
Seketika butiran kristal menggenangi mata Charolina dan perlahan jatuh setetes demi setetes. Ia menyadari kesalahannya itu.
"Baik, mulai saat ini tante akan sering kesana. Terimakasih telah menyampaikan pesan dari Aldy. Tante juga menyayangi nya dan tante menyesal karena jarang ke pemakaman nya. Jujur, tante sangar sedih jika mengingat Aldy. Maka dari itu, tante jarang mendatanginya. Tante gak nyangka kalau itu bikin Aldy sedih," Tutur Charolina sambil terisak.
"Sama sama Tante. Yaudah ikhlasin Aldy tante. Biarin dia tenang." Charolina mengangguk menyetujui ucapan Larasati.
Setelah berbasa basi dan makan malam bersama akhirnya Larasati dan Sephia pamit pulang dengan alasan sudah malam. Meski sempat ditawarkan menginap mereka menolak ajakan itu dengan lembut.
°°°
Larasati datang terlambat hari ini. Ia berlari menyusuri koridor dengan cepat. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Aldy dengan bersandar di dinding koridor.
"Jangan temui gue lagi," Ucap Larasati dingin. Ia berbalik dan hendak pergi ketika ucapan Aldy menahannya untuk tetap bertahan disana.
"Saya tau kamu udah benci sama saya sekarang. Tapi saya pengen bilang makasih sama kamu. Mama udah bersihin pemakaman saya. Saya senang akan hal itu. Dan itu semua karna kamu. Saya pengen sehari ini saya ngabisin waktu bareng kamu Ras. Semua terserah kamu. Kalau kamu gak mau juga gak papa saya gak maksa"
Hari itu Larasati tidak masuk kelas. Ia bolos dan menerima ajakan Aldy. Mereka menghabiskan waktu seharian hingga sore menjelang. Banyak hal yang mereka lakukan. Dari bercerita, main dan banyak hal lainnya.
"Udah sore. Kamu harus pulang. Saya yakin kamu gak mau lihat saya berubah lagi" Larasati mengangguk patuh. Meski setengah hatinya tidak menyetujui hal itu.
" Saya akan pergi jauh. Jiwa saya sekarang lebih tenang. Makasih buat sepenggal kisah ini" Aldy masih tetap berbicara ketika mereka melintasi lorong koridor sekolah. Sementara Larasati hanya diam mendengar penuturan Aldy.
"Jujur, saya gak bisa bohongi perasaan saya. Saya nyaman sama kamu" Langkah Larasati terhenti demi mendengar sepenggal kalimat tersebut ia menatap Aldy dengan sedikit tersenyum.
"Gue pulang dulu ya. Udah sore," Ujar Larasati kemudian.Gadis itu berjalan menunduk meninggalkan Aldy, dan Aldy tau Larasati tengah menangis.
°°°°
Waktu begitu cepat. Seminggu tak terasa telah dilalui Larasati tanpa bertemu Aldy, ada sepercik rindu tertanam didalam diri Larasati meski mati matian ia menguburnya. Ia menyadari hal yang tak mungkin terjadi, ini Salahnya. Mencintai makluk tak kasat mata. Bermain dengan kenyamanan yang diberikan Aldy padanya.
Walau tak bisa ia pungkiri. Setiap malam ia menangis kalau memikirkan Aldy.
Tepat ke hari sepuluh. Ia mendatangi pemakaman Aldy sendirian. Ia memberanikan diri mendekati rumah tak berpenghuni dan berjalan menuju pemakaman Aldy.
Larasati meletakkan sebuket bunga. Pemakaman itu bersih, tidak ada rumput atau tanaman liar disana. Setelah membaca doa, Larasati menatap nisan Aldy dengan perasaan rindu bergejolak.
"Hay," Sapa Larasati seolah ia tengah berbicara dengan orang sungguhan.
"Aku kangen," Ujarnya. Untuk kali pertama Larasati memakai kata aku ketika berbicara.
"Kamu tau? Seminggu ini aku ngerasa sepi tanpa kamu. Aku kangen ngobrol sama kamu. Becanda. Apalagi lihat senyum kamu. Itu bagian terfavorit buat aku. Andai kamu tau Al. Meski aku kenal kamu sebatas imajinasiku aku sangat mencintai kamu Al. Semoga kamu tenang ya disana. Dan aku selalu berharap kita akan bertemu lagi. Dan disatuin ditempat yang abadi nanti. Lucu sebenarnya. Tapi itu yang aku inginkan Al." Setelah mengatakan itu. Larasati berdiri. Untuk terakhir kalinya ia menatap nisan Aldy. Lalu beranjak pergi.
"Larasati," Panggil seseorang dengan suara familiar. Larasati terhenti. Ia menoleh dan mendapatkan Aldy berada tak jauh darinya.
"Saya juga merindukanmu Ras. Dan saya juga sangat mencintai kamu Ras. Semoga tuhan mempersatukan kita," Sambungnya. Senyum merekah dibibir Aldy usai mengatakan itu. Begitupun Larasati ikut tersenyum menatap lembut kepada pemilik hatinya itu. Rindu pun meluruh seiring memudarnya bayangan Aldy.
"Selamat jalan sayangku," Bisik Larasati.