Potret Usang Tentang Kita
Romance
22 Dec 2025

Potret Usang Tentang Kita

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2025-12-22T203713.601.jfif

download - 2025-12-22T203713.601.jfif

22 Dec 2025, 13:37

download - 2025-12-22T203707.954.jfif

download - 2025-12-22T203707.954.jfif

22 Dec 2025, 13:37

Ali :

Dulu, aku selalu memandang wajahnya. Wajahnya yang penuh bahagia dan girang. Dan hingga membuatku ingin sekali bersamanya untuk selamanya.

Akan tetapi, seiring waktu berlalu dan pergi meninggalkanku. Takdir mengatakan kami harus berpisah. Aku tak bisa memilikinya.

Aku hanya bisa menahan kerinduan terbata ini dengannya. Aku mengurungkan semua niat nekadku agar aku bisa bertemu dengannya. Aku tak ingin Milan curiga.

“Ehh.. Milan. How are you, bro?” sapaku setelah aku sadar bahwa Milan sedari tadi sedang mengintaiku.

Semuanya seakan hanyalah angin lewat baginya. Dia tidak mengacuhkanku dan hanya terdiam. Memandangku dengan murung.

“Ali..”

“Ya, mil?”

“Sekali lagi, lo lirik-lirik Nila nanti. Gue gak segan-segan bunuh lo nanti.” ancamnya seakan menjadi sebuah batu besar yang menimpaku.

“Ingat itu!” Aku meneguk ludahku, ketakutan.

Ketahuilah, diantara Milan denganku. Milanlah yang paling kuat daripadaku. Paling tampan mungkin aku. Tapi jika paling jago berantam yaitu dia.

Aku mengangguk mengerti. Hanya itulah salah satu cara agar selamat darinya. Hanya itu pula caraku agar bisa mempertahankan hidupku.

Nila :

Setiap hari, dia selalu memarahiku, mengintaiku saat pergi bersama teman-temanku, dan selalu berlebihan dalam menanggapi pesan dari teman-teman lamaku yang bergender laki-laki. Aku risih! Aku tak suka lelaki posesif seperti Milan ini! Aku lebih menyukai lelaki jenaka daripada lelaki ke-overproctetive-an seperti Milan.

Seandainya, aku melihat Ali disini. Saat ini! Kalau bisa kami bisa dinner bareng disini.

Ali, kamu apa kabar, ya, disana?

Aku mengambil ponselku dan memeriksa sesuatu.

Ali :

“Halo?” aku mengambil bantal gulingku dan duduk di sofa. “Ini siapa?”

Hening.

Aku hanya menyandarkan diri dan hanya termangu tak paham. “Halo?”

Hening kembali.

Aku tak suka berlama-lama tanpa bicara. Langsung ke intinya saja, aku langsung memutuskan panggilan itu dan membiarkan ponselku terdiam di atas sofa.

Aku mau ambil cheeky-cheeky kesayanganku di kulkas.

Ponsel masih berbunyi. Hmm, siapa sih itu?

Aku menghampiri ponselku dan mengangkatnya lagi.

“Ali? Ini aku Nila.”

Aku terpaku. Semuanya tampak seperti jatuh berbalik di mataku.

“Ali, aku kangen sama kamu.”

Aku masih terdiam.

“Ali? Aku kangen sama kamu. Kamu kangen juga kan?”

Aku harus tahan! Tahankan niatmu! Jangan nekad!

Tanpa membuang waktu, aku langsung mematikan ponselku dan menjauhkan diri dari ponselku.

Nila :

Dia tidak mengangkat telepon aku? Kenapa Ali tidak mengangkatnya?

Sudah berkali-kali. Dan sudah puluhan kali kulakukan. Dia tetap tidak mengangkat ponselku. Walaupun hanya sekali, tapi dia tampak bisu. Tak berbicara apapun padaku.

Aku nyerah sajalah! Untuk malam ini, aku tak usah meneleponnya lagi. Mungkin dia sibuk dengan pekerjaannya.

Aku menyandarkan diri pada sofaku. Aku hela napasku.

Ali, aku kangen sama kamu.

Aku mengambil sepucuk amplop coklat dari dalam laci lemariku.

For Nila Septiany Claudyana. Ini seperangkat potret cinta antara kita berdua untuk dirimu. Meskipun nanti akan usang, tapi ini akan tetap menjadi potret cinta kita berdua untuk selamanya.

Aku tersenyum.

Aku membuka amplop itu dan mengambil potret kami berdua.

Kupandang wajah kami berdua saling tersenyum bersama. Riang bersama. Dia memelukku dengan erat dan aku memegang sebuah bouquet bunga mawar yang terikat indah dengan pita merah muda.

Aku ingat, potret ini diambil pada hari valentine pertama kami. Sudah lama kami tidak bersama lagi.

Sekarang potret ini semakin menguning. Tampak usang dan tak terurus lagi.

Sekarang aku sadar. Semuanya hilang begitu saja, ketika Milan membuatku buta akan cinta dan membuatku terperosok atas cintanya. Dan akhirnya aku menyesal sekarang.

“Ali, aku kangen bertemu denganmu. Aku ingin meminta maaf padamu.”

Ali :

“Ali!”

Aku masih meminum pop ice kesayanganku dengan santai. Siapa sih yang sudah menggonggong siang-siang bolong gini? Sudah tahu aku haus!

Aku berbalik. Dan tanpa kusadari, sebuah gumpalan batu keras kini menghampiri pipiku yang semakin lama semakin menembem.

“Auww.” Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Wajahku mungkin semakin lebam untuk kali ini.

“Lo sudah berani, ya? Dekatin cewek gue seenaknya!” aku memandang Milan dengan tidak mengerti. Masalah ceweknya lagi?

“Apaan, mil? Aku dekatin Nila?”

“Iya! Gue punya buktinya. Lo nelpon Nila kan kemarin?”

Aku terdiam.

Dan semuanya seakan menjadi kecam. Semakin lama mereka semakin menghimpitku. Milan dan teman-temannya yang dulu sahabatku kini menghantamku dengan beribu gumpalan batu keras. Aku tak tahu, entah nasib apa yang kualami pada saat ini? Semuanya seakan membuatku menjadi manusia paling malang dari semua manusia yang berada di dunia ini.

Aku tak tahu, entah sudah berapa kali pukulan yang menghantam wajahku. Tapi, aku tak bisa bertahan lagi. Perlahan, tanpa sepengetahuanku, aku merasa lemah dan ingin tidur lama disini.

“ALI!”

Nila :

“Kau gila?” aku menampar wajahnya dengan keras di depan ruang gawat darurat.

“Kau tak waras lagi? Kenapa harus Ali yang kau incar duluan? Bukan dia yang menelponku duluan! Malahan aku, Mil! Aku!” Dia berlutut. Tapi aku menendangnya.

“Aku minta maaf, Nil.”

“Aku gak butuh!”

“Tapi, aku mencintai kamu, Nil.”

“Cinta? Ini yang namanya cinta? Untuk mempertahankan sebuah hubungan, kau harus pakai kekerasan fisik dengan orang yang dulu pernah menjadi orang yang kusayangi? Kau pecundang! Bukan pahlawan cinta! Aku tak suka sama orang yang kayak dirimu ini!”

“Tapi..”

“Aku tak peduli!"

“Kau tetaplah pecundang di mataku!”

“Nila, aku mohon sama kamu.”

“Aku tak butuh! KITA PUTUS!”

Ali :

Aku merasa ada sebuah sentuhan hangat di tangan kananku. Perlahan, aku membuka mataku. Dan…

“Ali? Kamu sudah sadar?”

Nila sudah berdiri memandangku dan memegang tangan kananku.

“Nila?”

Dia memandangku dengan sedih.

“Ali, untunglah kamu sudah sadar sekarang. Aku bersyukur. Kamu masih bisa diberi kesempatan hidup untuk kali ini.”

Aku masih terpaku.

“Ali! Aku kangen sama kamu, Li.” Dia memelukku.

“Aku kangen sama kamu, Ali!”

Aku ingin menangis tapi tak bisa.

Dia melepaskan diri dariku dan mengambil sebuah amplop dan…

“Aku ingin menjadi kita seperti di potret usang ini, Li.”

Aku tersenyum ketika melihat potret usang itu. Potret usang tentang kami. Dia masih mengingatku.

“Ayo, kita menjadi kita dahulu lagi.”

Aku mengangguk.

“Kau ingin?”

Dia tersenyum dan mengangguk.

“Iya, Li. Aku menyesal karena meninggalkanmu. Aku minta maaf, Li.”

Aku berusaha duduk dan menyandarkan diri pada dinding kamar perawatanku. Aku memandangnya dan memeluknya.

“Tidak apa-apa. Yang penting sekarang, waktu dan cinta sudah membuatmu tersadar bahwa masih ada hati yang sedang merindukanmu disini. Yaitu diriku, Nil.”

Kini kami saling memandang dan tersenyum bersama.

Aku mencintaimu, Nila!

Kembali ke Beranda