Buah Cinta
Fantasy
23 Dec 2025

Buah Cinta

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2025-12-23T202535.616.jfif

download - 2025-12-23T202535.616.jfif

23 Dec 2025, 13:25

download - 2025-12-23T202529.401.jfif

download - 2025-12-23T202529.401.jfif

23 Dec 2025, 13:25

“Untuk kau yang lahir dari sehelai bulu.”

Hidup dalam hutan terselubung dari dunia, pohon itu tumbuh penuh dengan beragam bulu dari sayap entah siapa pemiliknya. Layaknya buah-buahan, tumbuh subur di bawah sinar yang terbenam dari ufuk barat, cahaya jingga lembut, hangatkan helaian bulu yang menghiasi pohon. Mereka tidak biasa warnanya, jingga, merah, hijau, dan beragam warna bersinar dengan cahaya dari dalam, sekadar pemanis pandangan dan barangkali... kelezatan. Setiap helai menyimpan bisikan dari jiwa terkubur dalam tanah hutan. Beristirahat dalam damai, menjelma menjadi helaian bulu pada pohon itu, katanya sebagai bagian siklus kehidupan di hutan ini.

Helaian bulu penghias pohon hanya satu dari bagian hutan. Ada pula bunga-bunga berwarna terang bersinar dalam kegelapan malam dan seperti helaian bulu pada pohon, tumbuhannya juga tampak lezat. Seekor elang menukik, warna tubuhnya keperakan memantul pada sinar jingga sore itu. Dia hinggap pada sebuah batang pohon, ingat betul bagaimana rasa buah itu. Saat induknya menyuapi sekali, wajahnya berkerut. Rasanya aneh, manis dan pahit sekaligus. Meski saat itu dia mencuit kencang, berharap makanan aneh itu segera disingkirkan, sang elang betina tetap saja menyuapinya.

“Ini sehat.” Dia berdalih. Waktu telah berlalu, dan elang itu masih ingat suara ibunya. Elang yang merawatnya saat dia bahkan belum bisa mengoyak daging sendiri.

Dia mengingat kisah yang telah lampau, waktu dia bahkan belum bisa melihat dunia. Menetas dalam pohon kosong lagi dingin, dunia masih begitu gelap. Tidak tahu apa yang terjadi di sekitar. Tubuh begitu lemah sementara paruhnya berjuang mengeluarkan cuitan menyeru induk yang tidak juga menghampiri. Kakinya perlahan berdiri, mencari sumber makanan sekiranya dapat menganjal perut. Akan tetapi, dalam sarang yang tidak jelas rupanya ini, dia hanya bisa mencuit tanpa menyadari kenyataan. Tanpa bulu dan penglihatan, dia tidak akan bertahan hingga beberapa saat lagi. Harus pergi. Harus mencari.

Ciutan menggema, berharap cemas ada induknya. Tubuhnya belum berbulu, gemetar merangkak sekeliling sarang. Tanpa sengaja kakinya melangkah keluar dari lubang pada sarang dalam pohon, tubuh oleng dan jatuh. Dia menjerit, jantung berdebar menakuti hal yang tidak dia tahu. Tepat tubuhnya nyaris terempas tanah, sesuatu mencengkeram. Tumpukkan bulu yang agak keras, mengingatkan dia akan sarang kosong itu. Ciutan terhenti, tubuh menggigil dalam balutan sayap kelabu yang mendekapnya, tubuhnya yang lemah kini berada pada sayap seekor elang. Aroma dedaunan tercium di antara sayapnya. Hanya sekali entak, mereka melesat kembali ke udara. Tidak sempat bergerak apalagi bersuara, burung kecil itu menggigil dalam punggung elang yang membawanya. Perlahan embusan udara makin lembut, dia diturunkan hingga menggelinding.

Burung kecil langsung menciut meminta makan. Rasa takut dan bingung kini dikuasai lapar. Kebingungan dia rasakan. Tekstur keras pada sarang asing dan bau bulu yang tidak dikenal membuatnya gemetar. Tidak tahu harus berharap diberi makan atau meratapi diri.

Tidak lama setelahnya, dia dengar suara-suara dari elang lain. “Ayo, siapa di sini yang bisa menyuapinya?” Suara berat dari seekor elang terdengar sangat dekat dengannya, sayapnya yang kelabu bergerak pelan mendorong tubuh burung itu. Burung kecil itu mengenali bau pepohonan padanya, yakin dia yang membawanya tadi.

Keheningan tidak berlangsung lama karena seekor elang betina menyahut. “Sini, biar aku suapi dia.” Dia dengar langkah itu semakin dekat. Sayap yang kelabu itu mengelus pelan tubuh burung kecil itu.

Pada saat yang sama, burung kecil merasakan sesuatu masuk ke dalam mulut. Makanan pertama. Begitu lahap. Keheningan kembali menyambut, hanya suara tegukan dari burung kelaparan yang samar terdengar. Ketika usai makan, dia langsung tidur, kepala terbaring pada sarang yang keras. Begitu burung kecil hendak menyambut mimpi, sayap besar mendekapnya, membuat dia hangat sepanjang malam.

Beberapa hari berlalu dalam keheningan, hanya elusan sayap hangat dan makanan masuk sebelum kembali tidur. Perlahan, dia dapat melihat dunia. Mata menyambut sinar matahari dari sarang yang membesarkannya. Begitu sadar telah melihat dunia, dia bergegas mengeluarkan kepala dari sarang untuk sekadar melihat matahari lebih dekat.

“Horia, hati-hati!” seru elang betina yang kini ibu baginya. “Jangan sampai satu helai bulu milikmu terlepas!”

Ah, masa lalu itu. Kini dia paham, dia diasuh sepasang elang yang kebetulan menginginkan seekor anak. Dia tidak tahu apa pun waktu itu, hanya mengira jika dia selama ini anak mereka.

Kini, sebelum kegelapan menguasai pandangannya, dia tahu di balik kisah sederhana lagi hangat itu ada segelintir kejadian pula. Dia tahu itu sejak dia kepakkan sayap pertamanya.



+++

Pada tengah hutan, bulu berkilauan terbaring di antara tanah saat musim gugur, para burung kecil penuh warna terang juga terbang, sesekali membaringkan diri di tengah helaian bulu yang terlepas dari dahan. Ciutan dan tawa menggema darinya. Antara pohon-pohon yang menjulang tinggi dan dedaunan yang melambai lembut, dia sebut dirinya seekor elang juga. Perak itu warna sayapnya, seperti elang lain. Dia makan dan bertingkah seperti elang di sekitarnya pula. Horia, elang yang kini hidup dalam keluarga itu, memandangi mereka dalam diam. Dia tidak pernah menanyakan pada induknya apa gerangan. Sesuatu yang menempel pada setiap raga elang, tumbuh pada pohon, helai yang lepas juga dimainkan. Dari mana asalnya? Kini dia mulai resah. Horia menoleh, memandang pada dekat bawah pohon, pada gerbang tua dari kayu hitam, dihiasi ukiran-ukiran memanjang, mulai terbuka.

“Jangan ke sana, belum waktunya.” Begitulah yang pernah ibunya katakan. Lagi-lagi... “Jangan sampai helai bulu milikmu terlepas.”

Horia tahu, sebagai pemilik raga maka mesti dia jaga. Tidak pernah keluar dari sarang hingga sayapnya mulai tumbuh, hanya berani mengepakkan sayap bila ibunya melemparnya dari pohon. Perlahan belajar, perlahan tahu. Dunia belum sepenuhnya dia jelajahi, dia pula tidak tahu pasti mana saja yang aman selain dari ibunya.

Horia kembali merenung di sudut hutan di antara helai bulu pohon. Dia tahu dirinya tidak beda jauh, termasuk ibunya, dari helai sayap di pohon tadi. Mereka barangkali seperti mereka, hidup dan terbang bebas. Hingga tiba saatnya hanya menyisakan sehelai bulu. Horia angkat sayapnya, mengelus bulu kemerahan yang halus. Sama lembutnya. Aromanya juga. “Ibu tidak pernah cerita.” Dia hanya tahu, ibunya meminta untuk menjaga setiap helai bulu dalam raganya. Apa bakal jadi bulu-bulu itu, beristirahat sebagai bagian dari tanah ini?

Kepakan sayap terdengar. Seekor elang betina keperakan bertengger di sisi Horia. Dia sedikit lebih besar, sayapnya terlipat saat dia mendekat. Mui, sang induk. Dia dengar suara anaknya. Ah, tentang menjaga setiap helai hingga tiba saatnya. Belum pernah dia bercerita panjang, tentang bulu, pohon, apalagi masa lalu elang yang tumbuh di bawah asuhannya.

“Horia.” Suaranya halus di antara angin, membiarkan Horia tetap pada pikirannya selagi dia lanjut bicara. “Kita sama-sama elang. Terbang, makan, dan asal kita sama. Begitu juga dengan akhir.” Dia menunggu, berharap anaknya bakal bertanya lebih.

Horia menoleh sesaat. Mereka sama, akhir bisa sama. Namun, dia tidak tahu apa selain tanda pada helai demi helai yang berkilau di antara dahan pohon. Matanya yang perak bergerak tertuju pada sinar jingga matahari yang terpantul dari bulu itu. “Bulu-bulu ini membingungkan. Aku tidak yakin itu berasal dari elang.”

Mui mengepakkan sayapnya dengan pelan, helai demi helai bulu pada pohon perlahan bergoyang. “Kamu ingat ini siapa saja?” Perak dan kelabu. Dua warna yang pasti mereka ingat.

Horia menatap, kakinya bergerak mundur. Dia kenal bau dedaunan dari sisa helai itu. Aroma yang membawanya ke sarang. Dia tidak pernah bicara langsung pada elang itu. Namun, sedikit sisa dari hatinya berbisik gemetar.

Mui tersenyum tipis, dia gerakkan sedikit paruhnya pada sehelai bulu keperakan yang menggantung. “Kita berasal dari hutan ini, dari jiwa-jiwa yang beristirahat. Kamu ... juga dari cintaku sebagai ibu. Suatu saat, kamu akan kembali padanya.”

Horia terdiam, mencerna kata-kata ibunya. Dia menatap lagi beberapa helai bulu beragam warna di sekelilingnya. Berayun pelan diterpa angin. Dia masih mengenali beberapa aroma khas. Para elang yang pernah hinggap pada pohon yang sama tempat dia tumbuh besar. “Kenapa... Harus di pohon ini?”

“Karena dari situ juga, kamu sebenarnya lahir. Ibu kandungmu hadir sebagai wadah untukmu menetas, sebelum dia kembali ke pohon ini.” Mui mengangkat sayap, mengarahkan pada sehelai bulu keperakan itu. Tanpa perlu dia sebutkan, dia yakin Horia tahu betul siapa itu.

Horia menggeleng. “Aku tidak siap. Terlalu cepat. Aku masih ingin terbang bebas.”

Mui menatapnya. “Kau bisa, tapi jika meninggalkan hutan ini, kau kehilangan apa yang membuatmu istimewa. Luar sana, kau akan jadi elang biasa, tanpa ikatan antara kita. Hati-hati dengan pilihanmu, Horia.” Dia menatap ke bawah, memandang pada helai bulu yang telah dijatuhkan angin. “Setiap elang akan memberi sehelai jiwanya, untuk kehidupan hutan. Dia yang membawamu ke dunia, juga dia yang layak menjemputmu.”

Sudah lama Horia tidak menanggapi ucapan Mui sejak saat itu. Sang induk elang hanya membiarkan, tahu jika dia butuh beberapa saat mencerna. Angin terus berembus pelan, membiarkan beberapa helai bulu yang sebelumnya menempel pada dahan, perlahan jatuh dan kembali ke tanah. Mui mengamati, jantungnya berdegup kencang menunggu saatnya. Saat helai itu menyentuh dirinya, Mui merasakan dirinya lebih berat. Sesuatu menunggu, seperti saat elang kecil itu tiba. Dia menarik napas, mempersiapkan diri. Jika induk dari Horia sempat melihat anaknya sebelum waktunya, dia akan jadikan ini sekaligus perpisahan.

Sehelai bulu kelabu. Melayang perlahan mendekati mereka. Mui menatap ke arah Horia, paruhnya bergerak mendekati kepala elang yang dulu dia suapi dalam pelukannya. Mengelus, merasakan Horia sedikit gemetar. “Selama ini, aku yang menyuapi, merindukan cuitan lamu yang rewel menghiasi sunyinya sarang.” Matanya terbuka lebih lebar, bersama paruhnya. “Horia, Ibu minta temani sebentar.”

Dia sudah merasakannya. Dia terduduk pada tengah pohon, satu-satunya tempat paling bisa mereka jadikan untuk beristirahat sejenak saat tiba saatnya. Menyisakan sehelai bulu perak di bawah kakinya. Sebelumnya utuh. Sebelumnya bernyawa.

“Jaga dirimu.”



Angin bertiup lebih menusuk, awan-awan perlahan menutupi langit yang kian gelap. Horia merasa jantungnya berdetak lebih kencang, meskipun tidak sepenuhnya yakin jika itu jantung miliknya atau sekadar gema kehidupan yang diberikan ibunya. Kejadian dalam sekejap. Hanya sempat melihat senyum ibunya. Mui hanya menyisakan sehelai bulu.

Dalam dirimu dia tetap ada. Helai itu terbang menjauh diterpa angin, menyapu sejenak wajsh Horia. Belum sempat paruhnya mencoba mengambil sisa dari raga induk yang membesarkannya, kini tersisa sehelai bulu perak pada pohon.

Setetes. Horia segera menggelengkan kepala, menyapu sisa cairan yang menetes dari paruhnya. Merah. Lidahnya masih merasa aneh. Sisa dari ibunya masih melekat di paruh. Dia yang dulunya menyuapi.

“Apa yang harus kulakukan?” Horia bertanya, hampir bergetar. Lebih pada ibunya yang sebelumnya ada. “Bagaimana aku bisa... Pergi.” Dia meragukan ucapannya. Horia tahu Mui ingin dia terus terbang, melanjutkan kisahnya.

Horia menoleh pada dedaunan... Lebih tepatnya helai demi helai bulu menghias pohon itu, bergoyang diterpa angin. Bersamaan dengan jiwa-jiwa penghuni hutan. Hanya keheningan. Entah mengapa Horia merasa seakan ada yang bersuara untuknya.

“Suatu saat, kamu akan tumbuh dan terbang bebas.”

Sekilas senyum muncul pada Horia. Sapuan angin yang halus membuatnya membentangkan sayap. Setetes. Masih merah. Masih basah. Suatu saat dia akan menyusulnya.

Suara halus, persis suara Mui kembali terdengar. “Ikuti jejak kami, Horia. Itulah satu-satunya arah yang kau andalkan. Ingat, suatu saat kau akan kembali pada pohon itu.”

Horia mengepakkan sayapnya. Dia memberiku makan. Dia arahkan pandangan pada sinar bulan. Satu-satunya arah...

Sehelai bulu perak jatuh pada kepalanya. Horia tahu tandanya. Jantungnya berdegup kencang. Belum. Belum. Dia berharap cemas. Sapuan angin semakin menusuk di antara helai bulu keperakan pada tubuhnya. Harus pergi. Harus mencari. Dia dengar seekor burung kecil yang mencuit kelaparan, melengking suaranya dalam kesunyian malam. Horia mendengarnya. Semua terasa kembali.

Sayapnya berkepak. Tubuhnya perlahan terangkat. Tidak seperti biasanya, detak jantungnya bergema. Horia merasakan begitu tubuhnya melayang di antara awan, tubuhnya yang terbuat dari bagian hutan terasa amat ringan. Horia merasa kosong, napasnya perlahan terisap. Dia kepakkan sayap sekali lagi, melanjutkan kisahnya, tapi tubuh Horia semakin ringan. Tidak bisa lagi mengangkatnya. Horia jatuh menghantam tanah, merasakan jiwanya terkikis.

Saat pandangannya menyatu dalam kegelapan, Horia sadar tubuhnya menyusut. Dia tidak bisa hidup tanpa hutan itu. Dia bagian darinya dan akan kembali padanya. Begitu kesadaran menyelimuti dirinya, Horia tersenyum saat helai demi helai bulu pada pohon perlahan berguguran menjemputnya.

“Waktunya kembali.”

“Aku ... pulang,” bisiknya dalam napas terakhir.

Seekor elang betina mengepakkan sayap, merasakan kematian di dekatnya. Dia menukik, melihat sehelai bulu keperakan tergeletak di tanah. Bersiap untuk menyatu kembali dengan dahan. Elang betina itu tersenyum. Dengan paruhnya, dia ambil sehelai bulu itu. Berbisik sembari berharap empunya sisa raga itu mendengar. “Kamu kembali.”

Dengan sehelai bulu keperakan di paruhnya, dia bawa ke sarangnya. Bulu yang menyimpan jiwa Horia, kini berada dalam pohon itu. Elang betina itu kembali mengingat kejadian sebelumnya. Peristiwa yang terulang dalam ribuan malam. Suatu saat dia akan kembali. Suatu saat, aku akan merasakannya lagi.

Sayapnya berkepak menepuk bulu keperakan di sentuhannya. Sinar perak berpendar. Elang betina itu tersenyum. Menyaksikan cahaya itu perlahan jadi kemerahan. Helai demi helai bulu kecil beterbangan keluar darinya.

Cuitan terdengar.

Elang betina itu mendekatkan paruhnya. “Selamat datang kembali, Horia.”

Dia akan kembali dengan nama indah itu. Mui. Dia perkenalkan nama itu padanya. Akan dia kenalkan dunia singkat itu pada burung kecil di sayapnya. Untuk dia beri makan. Untuk dimakan kembali. Untuk dia kembali.

“Untuk dia yang lahir dari sehelai bulu.”

Tamat


Kembali ke Beranda