Pengirim Surat Misterius
Teen
23 Dec 2025

Pengirim Surat Misterius

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2025-12-23T204734.184.jfif

download - 2025-12-23T204734.184.jfif

23 Dec 2025, 13:47

download - 2025-12-23T204730.568.jfif

download - 2025-12-23T204730.568.jfif

23 Dec 2025, 13:47

Mencintaimu bagaikan berpegang pada akar yang berduri tajam,

Memilih untuk jatuh ke jurang yang dalam,,

Atau tetap bertahan dengan perih yang teramat sangat...

Kata-kata Itulah yang aku rasakan setiap saat aku mengingatmu. Aku sadar aku takkan pernah bisa menggapaimu karna memang aku tak pantas berada di sebelahmu. Kau begitu sempurna untukku, tapi hatiku tak mampu memahami semua itu. Hatiku tak mampu untuk menyingkirkanmu dari sana, kau memiliki tempat yang sangat luas di dalamnya dan jika kau keluar dari hati ini maka hatiku pasti akan kosong.

Namaku Wulandari, aku biasa dipanggil Wulan. Kini aku duduk di kelas 2 SMA favorit di kotaku. Sudah dua tahun belakangan ini aku jatuh cinta pada idola sekolah. namanya Ravid. Dia tampan, Ketua basket, peringkat dua di sekolah, serta status sosial tinggi, membuatnya terkenal di sekolah.

Banyak wanita yang menyukainya, tentu saja termasuk aku. Tak sedikit pula yang memberikannya surat cinta atau hadiah karena Kak Ravid yang keren dan hebat. Aku tak tau sejak kapan tepatnya aku mulai menyukai Kak Ravid.

Meskipun banyak wanita yang menyukainya tapi kak Ravid tak pernah menjadikan salah satu dari mereka sebagai pelabuhan hatinya. Padahal banyak wanita yang mengejar cintanya bahkan tak jarang mereka secara terang-terangan mengungkapkannya. Namun kak Ravid belum juga melabuhkan hatinya pada salah satu dari mereka.

Aku merasa senang dengan semua itu meskipun aku sadar aku takkan pernah menjadi pelabuhan hatinya. Banyak cewek yang lebih cantik dan lebih pintar saja di tolak oleh Kak Ravid apalagi gadis biasa seperti diriku. Tak mungkin dia akan melirikku. Duh jangan mimpi ketinggian kali Lan.

“Lan buruan ke lapangan.” Panggil Pak Doni.

“Baik Pak.” Jawabku sambil berjalan menuju lapangan basket.

Aku memang salah satu pengurus organisasi basket. Aku baru bergabung seminggu yang lalu. Alasanku bergabung dengan club basket sudah jelas karena Kak Ravid. Berada di club basket memang melelahkan apalagi aku adalah satu-satunya anggota perempuan di club ini. Apalagi pekerjaannya cukup berat, membawa bola-bola basket untuk anak-anak latihan dan setelah latihan harus menbereskan bola-bola itu untuk disimpan kembali serta mengurus konsumsi untuk seluruh anggota selama latihan berlangsung, aku juga bertanggung jawab jika ada bola basket yang hilang.

“Sini Gue bantu.” Seseorang mengagetkanku. Aku terkejut mengetahui bahwa orang tersebut adalah Kak Ravid.

Aku hanya diam karena tak percaya bahwa Kak Ravid mau membantuku. Aku jadi salah tingkah di hadapannya.

“Gak usah Kak, ini udah tugas saya.” Kataku dan mengambil kembali keranjang berisi bola yang direbutnya dari tanganku barusan.

“Udah biar Gue bantuin aja, lagian itu berat loh.” Lagi-lagi dia merebut keranjang itu.

“Ya udah.” Aku berjalan menuju lapangan tanpa menghiraukan Kak Ravid lagi. Aku merasa sangat gugup di depannya barusan. Ku harap dia tak tau kalau aku tadi salting.

Setelah club basket selesai latihan aku kembali memunguti bola-bola basket yang tadi mereka pakai untuk latihan dan memasukkan bola-bola itu kembali untuk di simpan di ruang penyimpanan.

“Biar Gue aja yang nyimpam bola-bola itu.” Kata seseorang dan orang itu adalah Kak Ravid. Lagi? Ya Tuhan kuatkan lah jantung ini agar tak melompat ke luar.

“Gak usah Kak, biar saya saja. Nanti malah ngerepotin Kakak.” Jawabku berusaha mati-matian meredam rasa gugupku.

“Gak kok. Sama sekali gak repot. Kunci ruangannya sama kamu kan?” Tanya Kak Ravid.

“Iya Kak!” Aku mengangguk, masih merasa gugup berhadapan dengan pemuda tampan yang setiap saat mengisi ruang hatiku.

“Ya udah yuk.” Kak Ravid berjalan mendahuluiku. Aku hanya melangkah canggung di belakangnya, mengikutinya seperti anak ayam yang mengikuti induknya.

“Nama Lo siapa?”

Ya ampun Lan. Dia nanyain nama Lo? Mampus deh Lo sekarang. Apa mungkin Gue lagi mimpi ya sekarang? Makanya Kak Ravid lagi bareng Lo dan ngajak Lo kenalan. Aku mencubit tanganku sendiri sekuat mungkin, untuk memastikan ini mimpi atau bukan.

“Aduhhh...” keluhku. Berarti Lo gak lagi mimpi Lan.

“Lo kenapa?” Tanya Kak Ravid menyejajari langkahku, aku hanya menggeleng kikuk tak tau bagaimana harus menjelaskan padanya situasiku saat ini.

“Oh, gak apa-apa kok Kak.” Jawabku makin gugup, menundukkan kepala dan aku langsung melangkah mendahului Kak Ravid.

“Gue tadi tanya nama Lo. Kok gak dijawab sih?” Kak Ravid ikut mempercepat langkahnya mengimbangi langkahku, sehingga lagi-lagi langkah kakiku kalah oleh langkah lebarnya.

“Wulan Kak, nama saya Wulandari.”

“Oh Wulan, Gue Ravid” jawabnya singkat. Kembali aku mengangguk kikuk, tak menyangka akan mengalami momen seperti saat ini. Berasa lagi syuting sinetron tau gak.

“Saya udah tau kok Kak.” Jawabku pelan, sebisa mungkin agar tak terdengar olehnya.

“Lo tau dari mana nama gue?” Duh kok dia dengar sih? Padahal tadi aku sudah bicara sepelan mungkin ternyata kak Ravid malah mendengarnya.

“Siapa sih Kak yang gak kenal sama kakak, kapten tim basket sekolah ini yang sudah menyumbangkan banyak penghargaan untuk sekolah. Semua orang juga kenal kali sama kakak.” Balasku mencoba tersenyum untuk sedikit menenangkan perasaanku yang gak karuan sejak tadi.

“Gak juga lah. Banyak juga kok yang gak kenal sama gue. Lo gak usah muji ketinggian kayak gitu.” Ujarnya tersenyum manis, membuat debar di dadaku meningkat.

Kalau tiap hari ngeliat senyum semanis itu bisa-bisa gue diabetes nanti. Terus gue jantungan karena jantung gue gak bisa berdetak normal. Duh mikir apaan sih gue sekarang. Nikmatin aja momen indah lo Lan, gak usah kebanyakan mikir. Nikmati aja.

Aku benar-benar gak percaya dengan apa yang aku alami hari ini. Kalau tau akan seperti ini pasti aku akan bergabung dengan club basket sejak lama. Benar-benar berbeda dengan Ravid yang aku lihat selama ini dari kejauhan.

Selama ini aku hanya tau bahwa kak Ravid itu orangnya dingin dan terkesan cuek. Bahkan Dara temanku, yang dulu anggota club basket sebelum aku menggantikannya seminggu yang lalu mengatakan bahwa dia sudah tak tahan lagi dengan sikap cuek kak Ravid. Tapi entah kenapa dia membantuku hari ini bahkan menanyakan namaku segala. Iih pokoknya aku merasa senang bangettt hari ini, ingin rasanya aku meneriakkan pada dunia bahwa aku bahagia.

Waktu pun berlalu dengan cepat. Kak Ravid pun selalu membantuku setiap saat. Aku merasa senang karena hal itu. Dia selalu membantuku membawakan bola-bola basket. Hari ini dia bilang dia ingin curhat padaku. Dia ingin mengajakku ke kantin istirahat nanti. Aku tanpa pikir panjang langsung menyambut ajakan itu dengan senang hati.

DI KANTIN...

“Kak Ravid mau ngomong apa?” tanyaku langsung saking penasaran.

“Gue mau curhat sama Lo Lan” Katanya.

“Mau curhat? Tentang apa kak?” tanyaku penasaran.

“Lan sebenarnya gue lagi naksir sama seseorang, tapi gue takut dia gak balas perasaan gue.”

Deg!! Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Apa maksudnya bilang gini sama aku? Kenapa aku jadi salting gini?

“Sama siapa Kak? Siapa orang yang beruntung itu?” tanyaku pelan. Aku berharap jawabanya adalah aku. Hehe

“Gue rasa Lo kenal kok sama dia. Gue udah suka sama dia sejak lama Lan, dan gue mau dia tau apa yang gue rasain” Jawabnya pelan sambil menyesap es teh manis yang tadi di pesannya.

Pupus sudah harapanku untuk bersama kak Ravid. Sekarang dia sedang jatuh cinta pada seseorang, siapakah dia? apa mungkin kak Lysa teman sekelas kak Ravid yang mendapat peringkat pertama atau Dara yang sering ngejar-ngejar Kak Ravid. Tapi kenapa hatiku terasa sangat perih, seperti ada yang menusuk hatiku dengan jarum yang sangat banyak dan itu rasanya sangat menyakitkan.

Aku mencoba menguatkan diri untuk tidak menangis di depan kak Ravid, aku tak ingin air mataku jatuh di hadapannya. Setidaknya aku harus terlihat baik-baik saja di depan Kak Ravid, aku tak ingin perasaanku malah akan merusak kebahagiaan yang tengah di rasakan Kak Ravid saat ini.

Aku tak ingin Kak Ravid merasa bersalah jika ia tahu bahwa aku menyukainya, bukan! Aku mencintainya. Apalagi jika sampai ia menjauhiku, oh Tuhan jangan sampai hal itu terjadi. Aku sudah cukup bahagia berkesempatan dekat dengan Kak Ravid meski pun aku tak bisa memilikinya. Tak apa.

“Kalau gitu selamat ya kak.” Aku berusaha tersenyum dan menahan air mata ini untuk tidak terjatuh di depan kak Ravid.

“Apa nya yang selamat Lan? Gue juga belum jadian kok sama dia.” Jawabnya sambil tersenyum. Namun senyumnya itu hanya menambah perih di hatiku.

Selera makanku langsung hilang seketika itu. Entah kenapa rasanya aku ingin segera meninggalkan tempat itu secepatnya. Aku tak kuat berlama-lama berada di situ karena mungkin saja air mata yang sejak tadi berusaha aku tahan akan jatuh bercucuran.

“Good Luck ya kak. Aku selalu doain yang terbaik buat kakak.” Aku menguatkan diriku dan mencerna kata-kata yang kuucapkan barusan.

“ Kalau gitu aku mau ke kelas dulu ya kak. Aku lupa tugasku belum siap.” Ujarku dan tanpa menunggu jawaban darinya aku segera berlari meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang sangat hancur.

Lalu untuk apa semua kebaikan yang kamu berikan selama ini kalau hanya untuk mempermainkan perasaanku. Untuk apa kak? Aku menangis sejadi-jadinya, aku tak peduli semua mata telah tertuju kepadaku. Aku sedang merasa terluka dan aku tak peduli dengan orang di sekelilingku aku hanya ingin melepaskan kepedihan ini.

Satu minggu kemudian

‘ Mungkin bagi dunia kamu adalah seseorang, tapi bagi seseorang kamu adalah dunianya’ Temui aku di cafe ceria jam 4 sore ini.

-G-

Aku bingung saat menemukan surat itu di dalam tasku, terselip dalam buku catatanku. Bagaimana mungkin surat itu bisa sampai ke dalam tasku. Apa mungkin seseorang salah meletakkan surat ke dalam tasku? Lalu dari siapa surat itu.

Siapa itu G? Apa mungkin Galih si cowok nakal adik kelasku itu atau Gilang anak kepala sekolah atau siapa? Aku sungguh dibuat bingung atau jangan-jangan ada yang pengen ngerjain aku. Kupandangi surat yang ditempel dengan huruf-huruf yang diketik sehingga menjadi beberapa kata dan bagaimana bisa masuk ke dalam tasku.

Apa aku mendatangi cafe yang tertulis di dalam surat itu saja? tapi bagaimana kalau itu hanya orang iseng yang pengen ngerjain aku atau suratnya salah alamat.

Akhirnya karena terlalu penasaran aku tak mempedulikannya dan mendatangi juga cafe itu. Tepat jam 4 sore aku sampai di cafe itu. Aku ngelirak-lirik kesana kemari tapi aku mata ku tak menemukan si pengirim surat misterius itu. Aku hanya mendapati Kak Ravid tengah duduk di kursi dekat pojokan. Dengan spontan aku memanggil namanya.

“Kak Ravid?” Orang yang dipanggil menoleh.

“Wulan? Kamu kok bisa ada di sini?” Tanya Kak Ravid.

“Oh itu,.. aku lagi nunggu seseorang. Kalau Kak Ravid?”

“Gue juga lagi nungguin seseorang.” Kak Ravid tersenyum sangat manis. Aku gak kuat, Oh aku gak boleh terperangkap oleh senyuman itu lagi.

“Kalau gitu aku kesana ya kak.” Kataku menunjuk kursi yang masih kosong yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya sekarang.

“Lan gimana kalau sambil nunggu mereka datang Lo temanin Gue duduk disini dulu.” Ujar Kak Ravid.

Sebenarnya aku ingin menolak tapi gak enak harus ngomong gimana. Padahal kak Ravid gak pernah salah sama aku. Meskipun aku merasa kecewa padanya tapi itu semua bukanlah salah kak Ravid melainkan salahku sendiri yang mengira bahwa dia menyukaiku. Akunya saja yang begitu mengikuti perasaan hingga baper. Padahal kan kak Ravid biasa saja sama aku.

Cukup lama kami menunggu tapi tak seorangpun yang aku kenal masuk ke dalam cafe baik seorang lelaki ataupun seorang wanita. Kalau dia seorang lelaki mungkin dialah sang pengirim surat misterius itu dan kalau dia seorang perempuan mungkin dialah yang sedang ditunggu kak Ravid yang katanya aku mengenal orang itu.

“Sepertinya dia gak akan datang.” Kata kak Ravid perlahan lebih kepada dirinya sendiri.

“Kayaknya yang aku tunggu juga gak akan datang.” Kataku.

“Mungkin dia gak suka sama Gue Lan.” Dia senyum tipis lebih seperti dipaksakan.

Aku sedikit tertawa mendengar kata-katanya. Hanya orang bodoh saja yang tidak menyukai seorang Ravid. Bahkan orang bodoh pun akan jatuh cinta padanya. Dan hanya orang gila yang akan menolak cintanya.

“Kenapa ketawa?” Tanya kak Ravid.

“Hanya orang yang tidak waras saja yang akan menolakmu kak.” Kataku masih tertawa kecil.

“Memang apa alasan seseorang tidak akan menolakku Lan?” dia bertanya sungguh-sugguh sambil menatapku datar.

“Kak Ravid ganteng, kapten basket, kak Ravid juga baik pintar lagi. Pokoknya gak akan ada alasan seorang wanita untuk menolak cinta kakak. Ya kecuali cewek itu gak waras.” Jawabku.

Dia menatapku tajam. Aku jadi salah tingkah dibuat olehnya. Tiba-tiba dia menggenggam tanganku lembut. Dia menatap kedua mataku yang membuat aku tertunduk tak sanggup beradu pandang dengannya.

Secepat kilat aku menarik tanganku dari genggamannya. Aku takut terjebak lagi oleh perasaanku yang saat ini pun aku sendiri belum bisa keluar dari perasaan itu.

Kak Ravid terkekeh. Sungguh pemandangan yang langka dari seorang Ravid. Aku menatapnya tajam mendengar dia tertawa. Apanya yang lucu? Batinku.

“Sekarang aku sudah tau siapa orang yang tidak waras itu.” Katanya sambil tertawa kecil.

Aku bingung mendengar ucapannya, apa maksudnya? Tunggu barusan dia bilang aku bukan Gue? Masih dalam kebingunganku dia mengatakan sesuatu yang benar-benar membungkam mulutku tak mampu berkata-kata lagi.

“Mungkin bagi dunia kamu adalah seseorang, tapi bagi seseorang kamulah dunianya.” Aku tersedak mendengar kata-kata itu. Jangan-jangan surat itu...?

“Surat itu dari aku. Wulandari aku suka sama kamu. Aku harap kamu adalah orang waras.” Katanya lagi. Kurang ajar berarti selama ini Gue gak baper.

Aku tak tau harus bicara apa. Mulutku benar-benar terkunci rapat. Apa mungkin aku masih mimpi? Aku menatap pemuda tampan di hadapanku, apa mungkin dia sedang bercanda. Tapi aku tak berhasil menemukan candaan dari dua mata indah itu.

“Apa sekarang kita sudah bisa pacaran?” tanya kak Ravid.

Aku lagi lagi tak menjawab pertanyaan itu. Aku masih belum mempercayai semua ini.

“Aku tau kamu bingung dengan semua ini, tapi jujur sebenarnya aku sudah memperhatikanmu sejak lama. Aku juga tau kalau kamu sering memperhatikan aku kalau aku sedang main basket dari kejauhan.” Sekarang kedua pipiku sudah memerah mungkin lebih merah dari kepiting yang sedang ada di depanku mendengar ucapanya barusan.

“Gimana apa kamu mau menerima aku jadi pacarmu?” kak Ravid tersenyum sangat manis semanis madu.

Sekarang kedua mataku sudah berkaca-kaca dan siap menjatuhkan dua butir bening yang sejak tadi tertahan disana. Aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaan barusan.

Dia kembali tersenyum manis sekali dan mengacak rambut hitam milikku, dan aku membiarkan kejadian itu berlangsung. Hari ini adalah hari yang paling indah di dalam hidupku dan sampai mati aku takkan pernah melupakan hari ini.

Aku merasa sangat senang hari ini. Tak kusangka kini mimpiku jadi kenyataan. Yah, awalnya aku hanya memiliki kak Ravid dalam mimpi-mimpi malamku tapi sekarang Ravid adalah pacarku. Dia adalah milikku. Dan aku takkan pernah melepaskannya. Ternyata -G- adalah Gusti Ravid, orang yang aku cintai sejak lama. Si pengirim surat misterius.

Mungkin bagi dunia kamu adalah seseorang, tapi bagi seseorang kamu adalah dunianya. Dan sekarang duniaku adalah Gusti Ravidku.


=TAMAT=

Kembali ke Beranda