Fantasy
24 Dec 2025

SURAT DI DALAM BOTOL

Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2025-12-24T235456.156.jfif

download - 2025-12-24T235456.156.jfif

24 Dec 2025, 16:55

download - 2025-12-24T235442.843.jfif

download - 2025-12-24T235442.843.jfif

24 Dec 2025, 16:55

Melanjutkan cerita yang dikirimkan penerbit.

Sani tersandung sesuatu saat ia berjalan tanpa sandal di atas pasir pantai, itu sebuah botol dengan penutup kayu yang kemudian ia perhatikan ada sesuatu di dalamnya. Sebuah surat. Selembar kertas putih kecokelatan, ia pun mengubur kembali botol itu di tempat semula. Namun, entah mengapa ia merasakan sesuatu, dorongan untuk membuka botol itu dan membaca isi suratnya.

Janji tetaplah janji. Begitulah isi surat yang dia baca. Bukan aneh lagi bagi Sani, selama ini dia tumbuh besar di sekitar lautan. Barangkali setelah tiba waktunya dia akan berpulang di dekatnya pula. Berpikir ini hanya cendera mata yang jatuh dan dianggap kini jadi "milik bersama," Sani memungutnya dan mendekapnya ke dada.

"Kayaknya cantik kalau dijadikan hiasan meja belajar. Enaknya yang santai saja dulu." Dia bicara pada dirinya. Dengan senyum di wajah, dia kembali melangkah dalam rumahnya yang hanya berjarak tidak jauh dari lautan itu.

Kayu berderit saat dia buka pintu, mata Sani terbalak melihat rumah yang sejak lama dia tempati. Bunyi gesek. Bukan gesekan pasir seperti setiap langkahnya di pantai. Seperti bunyi decit kulit yang mengesek pada kayu. Dia sendirian sejak lama. Tangannya menggenggam erat botol yang berisi surat itu. Berpikir untuk menghajar siapa saja yang berani menerobos dalam rumahnya.

"Kamu tidak seharusnya tetap di sini." Bisikan menggelitik leher Sani. "Kamu lupa dari mana asalmu? Dari mana surat itu?"

Tubuh Sani bergetar pelan merasakan dingin pada leher. Dia kenal suara itu. Sudah lama tidak terdengar sejak terakhir nyawanya di ujung tanduk.

Sani memberanikan diri membalas. "Aku tidak mau lagi kembali."

Hening sesaat, tapi entah mengapa Sani dapat dengar bisikan itu lagi. "Kamu telah lama terlena sampai lupa janji. Aku hanya menagih."

"Kupikir semua sudah selesai sejak aku menyerahkan nyawa ayam." Sani mencoba untuk tenang meski ucapannya sedikit terbata-bata. "Untuk apa kamu kembali?"

"Janji tetap janji. Aku menuntut apa yang pantas aku terima." Suara itu membalas. "Kamu sudah terlalu enak hidup jauh, jauh dari segala beban." Masih dengan nada tenang, meski Sani dapat merasakan desis pelan padanya.

Sani tidak melihat wujudnya sekarang. Dia masih ingat. Semua hanya terjadi tidak sampai satu dekade. Meski ingatan itu sedikit samar sekarang. Terumbu karang. Air laut memenuhi wajahnya. Sosok kabut mendekat, suara wanita lembut bicara. Dia hanya ingat sampai situ. Walau Sani juga tahu jika dia pasti pernah bicara dengan sosok yang menolongnya. "Aku meminta sesuatu padanya. Tapi, apa ya?" Dia berpikir.

"Sudah kuduga kamu lupa." Suara itu kini mengambil wujud berupa kabut kelabu. Mengelilingi wajah Sani yang gusar. Sedikit embusan dari kabut pekat, dia sentuh wajah gadis itu. "Kamu sudah melakukannya berkali-kali. Kalah terus begini, kamu akan selamanya terjebak."

Sani tepis kabut itu, membuatnya sedikit kabur setelah kena tebas tangannya. "Padahal dulu permintaanku... Aku lupa."

"Kamu menukar jiwa agar selamat." Suara itu mengingatkan. "Aku hanya meminta menukar raga agar masih bisa tetap di sini. Begitu juga kamu. Kita sepakat untuk mengambil umpan. Kamu malah keasyikan bermain. Padahal sudah lama sekali."

"Sabar sedikit, lah." Sani mundur selangkah, menghindari kabut yang terus dekati wajahnya. Tangannya gemetar, terlepas botol berisi surat itu... Kini jelas siapa penulisnya. "Kamu kira gampang cari orang di tengah pantai begini?"

"Kamu hidup di tempat wisata. Banyak sekali orang di sana." Suara itu terus menyahut. Tahu betul Sani sengaja tidak membawakan satu jiwa tambahan. "Kalau kamu terus begini, nanti-"

Tanpa menunggu lagi, Sani mengibas tangannya. Menyapu habis kabut itu dari pandangan. Tanpa menoleh, dia pacu langkahnya keluar dari rumah kayu kecil yang hatinya sudah terpaut padanya.

Langkahnya tergesa-gesa saat menyentuh pasir dengan sendalnya. Napas terburu, berusaha menghirup udara terus selagi kakinya terus bergerak. Tidak boleh tertangkap.

Sani melompat pada ombak di sampingnya. Dia tahan napas. Lelah benar. Tidak tahu berapa jauh dia berlari. Riak air kembali berbunyi, ombak mengempas di depannya jauh sana. Sani menatap dalam hening, menatap pada lautan yang perlahan menggelap.

"Aku aman sekarang." Sani menutup mata. Setidaknya, itu yang dia harap.

Dorongan keras terasa pada balik punggungnya. Suara pelan Sani tercekik terdengar. Warna merah memenuhi air sekitarnya, beriringan dengan tubuhnya yang mendadak kaku. Pandangannya kabur. Kepalanya terasa berat. Perut terasa amat pedih. Sani membungkuk. Pedih terasa di perutnya yang terbuka.

Tidak. Seharusnya dia selamat sekarang.

Suara gerakan terdengar mendekat. Air bergerak beriringan dengan langkahnya. Kabut itu perlahan mengambil wujud. Sosok wanita. Dia dekatkan kakinya pada wajah Sani. Tidak ada lagi senyum seperti sebelumnya.

Sani gemetar. Tubuhnya menggigil. Darah memenuhi pandangannya dari bawah perutnya yang kini tidak lagi berisi. Meski tangannya dengan gentar terus memeluk perutnya, berharap sedikit saja bisa menjaga nyawanya agar tidak lari dari raga. Suaranya terputus-putus tapi masih jelas bagi sosok yang sudah mengenalnya. "To... Tolong. Jangan... Aku tidak mau." Belum sempat Sani melanjutkan, bibirnya penuh dengan cairan merah dan air. Terasa sesak di dada, pedih pada lehernya.

Wanita itu diam sesaat. Kabut secara samar mengelilingi dirinya. Suaranya tidak lagi samar. Hanya terdengar lebih santai alih-alih marah. "Kamu seharusnya belajar dari kejadian lalu. Ikuti saja syaratnya, kamu tidak akan mengulang kehidupan itu lagi dan lagi."

Sani bersuara. Begitu pelan. Begitu halus. Namun, jelas sekali dia berkata dari lubuk hatinya. "Ya."

Pandangannya kini dari samar jadi kegelapan. Air laut beriak. Ombak menghempas raganya. Sani terguling di antara air laut. Perlahan, Sani rasakan kembali elusan dari desir pasir dan angin lagi. Matanya terbalak. Dia menarik napas. Memastikan tubuhnya masih utuh. Tidak lagi sakit. Dia selamat, kali ini.

Belum sempat Sani menatap ombak yang terempas, dia rasakan sesuatu menggelinding di kakinya. Sebuah botol dengan surat.

Kembali ke Beranda