Gambar dalam Cerita
Dia sudah pergi. Aku tiada lagi rasa. Jatuh pada tanah di tengah hutan tanpa cahaya bukan sesuatu yang suatu boneka pernah rasakan. Dia yang dulu mendekapku dalam hangatnya pelukan, kini menyatu pada tanah. Aku pandang setiap daun dan hewan-hewan kecil menginjak-injak. Tidak merasakan sakit pada fisik. Meski kapas sudah terlepas dari kain, jahitan telah terlepas sebagian pada tangan, sebelah mata telah lama copot entah di jalanan mana, pandangan kini tersisa kabur dengan tumpukan bekas tanah basah menutupi wajah. Semua itu, aku tetap bisa duduk sejenak memandang. Dalam diri ini dirasa kosong selain angin. Inikah yang terjadi setelah bertahun-tahun dilalui bersama? Aku tidak tahu.
Beberapa waktu saja berlalu sejak terakhir dia masih memeluk, masih bermain, tapi semua dirasa pada dunia berbeda. Hangatnya kamar kontras pada hutan tempatku berada. Sementara bunyi deru mesin yang perlahan memelan jadi pengisi suara selain keheningan. bunyi petak pelan terdengar saat sebuah bungkus jatuh di sisiku. Benda yang sama menemaniku beberapa saat itu.
Apa ini? Aku tidak yakin. Bahkan jika untuk bergerak melihat sekeliling saja sulit jika tidak ada yang menggenggamku. Dia yang dulu membawaku setiap saat kini entah di mana.
“Anika! Kamu di mana?” Suara cempreng kecil yang kurindukan terdengar. Saat itu aku terlempar pada bawah ranjangnya, hanya diam menunggu dia menjemput. Saat kakinya terlihat dari bawah sana, dia membungkuk, bertemunya pandangan kami. “Oh, di sini rupanya!” Dia tarik aku dan bawa diriku berputar-putar pada kamar penuh warna cerah.
Dia pandang aku dengan mata coklat yang berbinar, menepuk-nepuk diriku saat debu menempel pada kain dan kapas. Sudah biasa jika dia sering bermain sampai lupa waktu, sampai lupa mainan mana saja yang terlempar dalam kegirangan. Setelah selesai bermain dan pergi sesaat, sudah pasti akan dicarinya lagi kami.
“Kamu kotor, nih. Mandi, yuk!” Dia terkikik sembaeri berlari menuju kamar mandi dalam kamarnya. Aku sadar kainku juga selain berdebu, juga ada beberapa semut merayap. Bawah kasur sana memang penuh binatang kecil itu sejak awal dia belajar untuk pesta minum teh bersama. Begitu tiba di kamar mandi, kulihat beberapa semut berhasil merayap pada tangannya. Kudengar suara jerit pelan dari gadis itu sebelum menepuk aku lebih kencang, hingga lega saat mereka telah menyingkir.
Dia lalu bawa aku ke baskom warna hijau, membiarkan air menenggelamkan aku. Dia gesek pelan kain menyelimuti diri, mencuci dengan sabun cuci wangi. Cepat-cepat dia kuras saat beberapa semut berhasil mengambang di air. Dia bunga sisa air yang penuh semut tadi ke dalam lubang pembuangan. Begitu saja terus hingga dia yakin makhluk kecil itu sudah minggat. Sudah sering dia bersihkan aku setiap permainan panjang. Entah dia mencoba mainan baru atau hampir melempar dan mengajak makan bersama, meski tahu betul aku tidak butuh itu. Setelah tubuhku penuh air, gadis itu mengangkat dan memeras diriku. Sebelum dia kemudian jemur aku di bawah terik matahari hingga sore tiba. Hingga kami bisa bermain bersama.
Aku hanya boneka berbentuk beruang dengan warna toska. Dulu dipajang pada sebuah toko, berdempetan dengan boneka lain. Saat hari itu dia melihatku, senyumnya hari itu terpatri pada hati. Sejak hari itu, kami bersama selalu. Aku selalu jadi mainan kesayangannya, entah untuk dilempar, dipeluk, diajak meminum teh bersama, maupun hanya mengobrol kecil tentang kejadian hari itu. Walau tidak mampu menyahut suara, ucapannya selalu menerangi kekosongan di antara kapas menyelimuti kain padaku. Setelah kering tadi, aku didudukan pada meja kami, berisi juga beberapa boneka di sisi, sementara dia di seberang sana, memegang teko berisi teh.
“Nanti pas aku ulang tahun, Anika bakal punya teman baru.” Dia ambil teh dengan cangkir kecil dan menyeruput sedikit. “Kalau warnamu hijau biru begitu, bagusnya temannya warna apa ya?”
Aku tidak bisa menjawab. Walau mulut ingin menyahut, meski hanya berupa garis hitam melengkung ke atas. Senyum selalu, apa pun kejadian menimpa. Gadis itu hanya tersenyum, dia tuangkan teh lagi pada cangkirku, meski nyatanya aku bahkan tidak butuh makan apalagi minum. Dia kadang biarkan makanan dan minuman bercecer dekatku, tapi begitu kotor pun segera dia mandikan aku. Selama ibunya tidak datang mengomel, kami anggap semua itu aman.
Akulah yang dia punya. Padanya hanya tempatku merasa gembira. Akan tetapi, sembari mengenang semua tadi, suara deru mesin yang kini semakin pelan kembali terdengar, embusan angin dan bunyi kotak dan plastik bertepuk-tepuk mengisi kesunyian.
Aku ingat kembali, saat mereka bawa aku ke mobil sang ibu, entah mau pergi ke mana. Dia pasti angkut aku di antara barang lain. Sembari menunggu di antara tumpukan kardus dan bungkusan, aku biarkan bunyi mesin mengisi suasana sore itu.
Lalu, suara kecil itu kembali terdengar. “Ma, kalau aku ulang tahun nanti, hadiahnya mainan baru, ya!” Aku senang mendengarnya masih ingin menambah teman untukku. Ibunya hanya mengiakan tanpa banyak kata. Kukira ini jadi hal biasa. Dia beli mainan baru bukan suatu yang aku cemaskan. Asalkan tidak ditinggalkan.
Begitu pandanganku berbalik pada gelapnya malam, aku sadar diri ini ditinggalkan. Dengan badan rusak, meski tidak merasa, tapi kehampaan dirasa pada hati yang sebelumnya ada untuknya. Terakhir dilihat hanya pandanganku kabur, diangkat seperti biasa oleh gadis kecil itu, sebelum aku dilempar ke kotak penuh bungkusan lain. Kukira kami akan pindah. Kukira kami akan pergi bersama dan jalani kembali hidup layaknya teman selamanya.
Dia tinggalkan aku pada tempat asing. Tidak ada bantal, kasur, apalagi mainan. Hanya dedaunan kering dan tanah basah memenuhi kain. Aku tidak bisa bergerak, apalagi mencoba bangkit dan lari. Jika benar dia telah pergi, aku harus mencari. Tidak boleh meninggalkanku.
Dia pernah bilang. “Kamu hadiah terindah, sahabat terbaik.” Nyatanya saat dia bungkus aku dalam kotak penuh bungkusan itu, aku dilempar begitu saja. Aku yang dulu dibersihkan begitu tampak sedikit noda, kini penuh dengannya. Tanpa suara kecil menyebutku kotor dan membersihkan, kini hanya sunyi.
Namun, hewan-hewan kecil seperti semut dan lalat beterbangan masih di udara. Sejak tadi menunggu entah apa. Aku memandang, bertanya-tanya apa yang mereka cari pada suatu boneka. Makhluk kecil sama yang sering dikeluhkan sang ibu, juga gadis yang sering mengibas tangan menyingkirkan para binatang itu.
“Mereka hanya datang kalau ada yang enak,” ujar sang ibu saat gadis itu menjerit melihat seekor semut merayap pada gelas teh punyaku. “Namanya juga minuman manis, pasti semut suka. Kamu harusnya habiskan sebelum mereka datang.”
Aku di pelukan gadis itu, suara masih gemetar saat ceritakan kembali bagaimana hewan kecil itu tiba-tiba saja berada dalam pesta minuman kami. “Padahal tehnya untuk Anika. Kenapa mereka ambil, sih?”
Ibunya saat itu tidak menyahut banyak selain menyuruhnya kembali bersihkan sisa pesta minuman kami. “Kalau bawa makanan ke kamar, ya harus dibersihkan. Nanti mereka datang terus. Anika juga tidak butuh minum, adanya nanti semut kira buat mereka.”
Hanya dengus pelan dari gadis itu yang kudengar. Sebelum dia gendong aku kembali ke kamar. Saat menutup pintu, hela napasnya kembali didengar. Dia kembali bilang padaku. “Aku tidak mau nanti semut malah gigit aku, atau Anika.” Dia peluk erat aku.
Terpaan angin menyapu wajahku, kain yang kini basah penuh lumpur. Tidak sanggup bergerak, mengenang semua yang telah kami lalui. Memperhatikan semut berbaris melewati, aku tahu mereka tidak akan gigit aku seperti yang dia khawatirkan. Sementara lalat berkerumun pada satu tempat.
Aku arahkan pandangan, pastikan mata dari plastik tidak memudarkan pandangan. Tumpukan kardus, bungkusan plastik, makan dan minuman berceceran pada sudut lain hutan. Aku terheran-heran, bagaimana bisa mereka tinggalkan juga barang-barang ini? Aku hanya boneka, mereka bisa buang aku jika benar telah bosan, tapi semua yang di mobil... Dibuang juga?
Barisan semut tadi melangkah menuntun arah pandangku kian dekat. Barulah jelas apa yang aku lihat. Mereka berkumpul di bawah pohon yang penuh retak kayu dan kaca. Tetesan merah terlihat di antara dahan yang bengkok. Pada bawahnya, aku barulah melihat. Oh, sahabatku...
Dia hanya terbaring di sebelah ibunya. Mata terpejam, dengan tubuh sama retaknya sepertiku. Berpelukan mereka di bawah pohon dekat mobil yang kini terpecah depannya. Aku hanya bisa memandang. Jika aku bisa, kupanggil dia seperti dia biasa memanggilku saat hilang. Tidak ada suara keluar dari mulut yang hanya menutup, hanya garis melengkung ke atas. Senyum saja. Apa pun yang terjadi.
Saat barisan semut telah merayap di tubuhnya, dia tidak menjerit, ibunya tidak mengeluh. Hanya diam terus memejamkan mata. Aku ingin menepuk-nepuk, menjauhkan hewan yang mereka takuti. Jangan... Dia tidak suka semut menggigitnya.... Sementara mereka terus berkerumun di atas mereka. Suara kecilnya kini berganti sunyi, tatapan mata berbinar telah pudar. Sementara tubuhnya penuh warna merah. Dulu, dia selalu mencuci diriku saat kotor. Bagaimana caraku membersihkannya?
Terbaring berseberangan, dengan bunyi degung lalat menyelubungi mereka, mata kian kabur penuh warna cokelat dari tanah. Perlahan diriku pun menyatu pada tanah. Apa aku akan dibersihkan lagi setelahnya? Dia juga? Apa hanya berakhir pada tanah yang akan menutupi kami selamanya?
Semut-semut yang tertinggal di barisan belakang mulai mendekatiku. Satu demi satu menggeser boneka ini. Entah karena demi mendorong jauh penghalang jalan mereka atau barangkali sadar boneka itu bukan makanan. Tetaplah aku dikerubungi, terseret kian dekat padanya. Begitu tubuh dia tertempel padaku, tanganku dari sisa kain yang nyaris copot, jahitan kian longgar, melingkari tangan kecil yang kini begitu kaku, dingin .
Terbaring bersama kini, aku bersandar pada pipinya, tidak ada lagi pelukan, permainan, apalagi obrolan. Hanya bunyi desir angin terasa. Gelapnya malam selalu jadi rasa takut baginya. Jika aku bisa lakukan sebagai boneka, biarlah aku temani dia. Memeluknya, menjaga dari setiap monster seram dalam kegelapan.
Jangan takut. Aku akan menjagamu.
Tamat