Jangan Rubah Takdirku
Romance
25 Dec 2025

Jangan Rubah Takdirku

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2025-12-25T123409.809.jfif

download - 2025-12-25T123409.809.jfif

25 Dec 2025, 05:34

download - 2025-12-25T123353.713.jfif

download - 2025-12-25T123353.713.jfif

25 Dec 2025, 05:34

Jangan pernah bilang jika kamu tidak pernah butuh bantuan orang lain. I ngatlah kita ini manusia, ma kh luk sosial yang selalu membutuhkan bantuan orang lain. Dan kamu sangat membutuhkan bantuan aku untuk membuat dongeng ini menjadi lebih indah .

***

Impian adalah sebuah angan-angan yang dimiliki semua orang. Percaya atau tidak, kita adalah manusia hebat. Semenjak kita lahir di dunia, kita sudah termasuk orang-orang yang hebat. Dari dalam rahim Ibu kita, yang dulunya kita adalah kumpulan sperma yang memperebutkan sel telur, tantangan demi tantangan kita lalui dan sampai akhirnya kita tumbuh dan lahir di dunia.

Betapa nikmatnya hidup itu, walaupun dalam hidup selalu ada masalah yang terkadang sangat berat, tetapi seberat apa pun itu kita lalui semuanya dengan senyuman. Hidup adalah sebuah proses antara harus memilih melepaskan atau bertahan dengan kondisi apa pun.

***

Yogi Sandy Pratama. Cowok yang memiliki sejuta impian. Cowok jangkung nan putih itu sering dipanggil dengan nama Sandy. Seorang introver , yang memiliki tatapan dingin.

Di keluarganya, Sandy di perlakukan seperti robot. Semua kegiatan ataupun aktivitasnya selalu di atur oleh orang tua Sandy. Jika Sandy melawan atau tetap dengan pendiriannya yang selalu bertentangan dengan isi pikiran orang tuanya, ia akan merasa, telah menyakiti hati mereka.

Di sekolah, Sandy selalu membuat masalah. Sejatinya, semua kenakalan yang ia lakukan ada tujuan yang sangat dalam yang ingin Sandy sampaikan.

Sandy berjalan di koridor sekolahnya, dengan tangan di masukan ke dalam saku celananya. Lagi dan lagi Sandy bolos dari mata pelajaran yang menurutnya sangat membosankan yaitu otomatisasi perkantoran. Bukan tanpa alasan Sandy tidak menyukai mata pelajaran itu, ia di paksa oleh orang tuanya untuk masuk di jurusan perkantoran, yang sama sekali tidak ia minati. Dengan menggunakan alasan klasik untuk pergi dari kelas, kini Sandy sudah berada di rooftop sekolahan. Ia duduk di pinggir pembatas membiarkan angin meniup rambut nya yang sedikit panjang itu. Melihat langit biru yang begitu cerah, ia tersenyum ngejek pada dirinya sendiri.

"Mau sampai kapan kau berdrama, San!" ucap Sandy pada dirinya sendiri. Sebenarnya ia sudah capek dengan semua ini, tapi ia terlalu pengecut untuk menyampaikan semuanya.

Brak

Suara pintu terbuka dengan keras, Sandy yang duduk di pinggir pembatas itu terkejut dan hampir terjatuh, kalau saja dia tidak memegang pembatas itu. Sandy melihat kearah sumber masalah itu.

"Apa lo mandang-mandang?" tanya cewek mungil dengan galak, ia menutup pintu yang ia buka tadi dengan kuat. Cewek itu berjalan berlawan arah dari tempat Sandy.

"Ih, sebel, sebel, sebel, masa iya gue cuman memberi kritikan terus di suruh keluar, tidak boleh ikut pelajaran. Dasar guru aneh!" teriak cewek mungil itu di seberang sana. Sandy benar-benar merasa terganggu dengan teriakan dan hentakan kaki yang cewek itu ciptakan. Sandy berjalan ke arah cewek mungil itu. Cewek itu melihat Sandy dengan tatapan kesel.

"Eh cowok tukang cabut, jangan ikut campur deh," ucap cewek mungil itu pergi berjauhan dari Sandy. Sandy melihat kepergian cewek itu dengan kebingungan. Cewek mungil itu adalah Rahma teman sekelas Sandy, yang dimana Sandy sendiri tidak mengetahui itu.

***

Claudia Valen Dinata, cewek sejuta cahaya. Cewek cantik yang sering di panggil Valen itu adalah seorang wanita yang kuat, dan pandai menjaga perasaan pasangannya, dan tidak lupa kalau Valen itu adalah orang yang peka sekali dengan keadaan.

"Kenapa lagi?" tanya Valen yang duduk di samping Sandy.

"Gue capek Len, gini terus," ujar Sandy menyadarkan kepalanya di bahu Valen. Valen diam, memberi ruang untuk Sandy agar bertenang dan juga berpikir apa yang harus dia lakukan sekarang. Valen tau apa yang membuat Sandy harus berpikir keras dengan keadaannya. Beberapa minggu lagi, Valen dan Sandy akan lulus dari SMK, benar benar hal yang menyenangkan, tapi itu untuk semua orang saja, bukan untuk Sandy yang harus melawan dengan takdir.

Brak

Lagi dan lagi suara pintu di buka dengan keras, oleh pelaku yang sama si Rahma, cewek mungil yang hari-harinya di sekolah selalu kesel dan marah marah.

"Ih, kalian lagi, kalian lagi, nggak bisa apa, mesra-mesranya di tempat lain. Gue itu mau teriak," ucap Rahma yang masih berdiri di ambang pintu, memandang Valen dan Sandy dengan wajah marah.

"Ya udah, teriak aja, lo. Sekalian kalau mau lompat, noh, silakan!" Valen menarik Sandy untuk berdiri dan pergi sana.

***

Di sepanjang perjalanan menuju rumah Sandy, Valen dan Sandy saling berdiam diri, tidak ada yang berani membuka suara. Sampai di depan pagar rumah yang sangat megah itu, Sandy membuka suara dan berkata, "Nanti, kamu jadi diri kamu sendiri, jangan jaga image, bagaimanapun situasinya." Sandy membawa Valen masuk ke dalam rumahnya, yang sudah terdapat orang tua Sandy yang duduk di sofa ruang tamu. Tidak lupa Sandy memberi salam kepada orang tuanya, Sandy membawa Valen duduk di sampingnya.

"Ma, Pa, Sandy mau bicara sama kalian berdua!" orang tua Sandy sudah memasang wajah tidak bersahabat, saat yang melihat Sandy dari ambang pintu sampai ke tempat mereka berdua. Mama Sandy memberi kode kepada Sandy untuk menjelaskan siapa perempuan yang ada di samping Sandy. Sandy menjelaskan terlebih dahulu siapa Valen dalam hidupnya, dengan menunjukkan ekspresi tenang agar orang tuanya bisa memberi ketenangan kepada tamu yang ia bawa ke rumah. Tapi Sandy salah, orang tuanya malah bertambah tidak suka dengan kehadiran Valen. Valen yang menyadari perubahan sikap orang tua Sandy, ia hanya bisa diam, dan akan berbicara jika ia di perlukan.

"Bawa dia keluar sekarang!" Perintah Papa Sandy, yang sudah memasang ekspresi datarnya. Ia benar-benar tidak menyetujui Sandy berpacaran dengan Valen.

"Pa, Ma, jangan pergi dulu!. Bukan itu yang mau Sandy bicarakan dengan kalian berdua." Sandy menghadang orang tuanya untuk pergi, Sandy menundukkan kepalanya, untuk mengumpulkan semua keberanian yang ia miliki.

"Maaf Pa, Ma, Sandy untuk kali ini tidak mau ikut perkataan Papa dan Mama. Lebih tepatnya Sandy tidak mau kuliah di luar negeri." Sandy memberanikan dirinya untuk melihat ke arah depan, ia melihat orang tuanya sudah melihat dirinya dengan wajah yang menahan amarah. "Pasti gara gara cewek itu kan?" Papa Sandy menuju Valen yang berada di samping Sandy.

"Bukan Pa, semua ini tidak ada sangkut-pautnya dengan Valen," bela Sandy kepada Valen.

"Alah, jangan banyak alasan kamu, Papa sudah tau, ini semua pasti sudah kamu rencanakan dengan perempuan itu kan! membujuk Papa agar kamu tidak kuliah luar negeri, agar kalian bisa bersama-sama. Pujukan kalian tidak akan mempan buat saya! mau kalian sudah pacaran 1 tahun lebih, ingat! Papa tidak peduli. Dan kamu Sandy putusi segera cewek itu," Papa Sandy pergi dari hadapan Sandy membawa istrinya untuk pergi dari sana.

"Om, Tante, maaf jika saya lancang berbicara. Disini saya cuman mau membantu Sandy, bukan bermaksud apa apa. Jika Om, Tante tidak menyukai saya, itu wajar, kita baru ketemu 1 kali ini dan di dalam situasi seperti ini, saya maklumin. Tapi tolong kalian dengarin dulu apa alasan Sandy untuk tidak mau kuliah di luar negeri. Dia hanya ingin selalu bersama dengan Om dan Tante. Ia tidak mau pisah dengan kalian, selama ini Sandy membuat kenakalan di sekolah, ia hanya ingin Om dan Tante datang ke sekolahan untuk mendengar apa yang mau Sandy katakan, tapi apa Om dan Tante malah menyuruh Assisten untuk mengurus semua keperluan Sandy sesuai dengan rencana yang sudah kalian buat. Sandy itu ingin bebas dan selalu mau bersama Om dan Tante. Dia bukan robot yang semau Om dan Tante atur semua aktivitasnya dan impian dia. selama belasan tahun ini Sandy sudah bercerita kepada saya kalau dia itu stres dengan semuanya, ia seperti tahanan yang selalu di awasi. Dia hanya mau satu hal, tolong jangan membatasi semua aktivitas yang mau Sandy lakukan. Jika Om dan Tante tidak memperbolehkan Sandy untuk berpacaran, ok saya siap putus dari Sandy, tapi asalkan Om dan Tante mengizinkan Sandy untuk berteman dengan siapa pun, jangan membuat Sandy seorang diri di dunia ini." ucap Valen sangat lantang, membuat orang tua Sandy yang ingin masuk ke dalam kamar, berhenti dan mendengar perkataan Valen. Tanpa ingin membalikan badan ke arah anak satu satunya yaitu Sandy, air mata keduanya mengalir dengan deras mendengar perkataan Valen yang mewakili isi hati Sandy. Sandy hanya diam, menundukkan kepalanya lagi, ia tidak berani melihat ke arah depan.

"Om, Tante, Valen permisi dulu," pamit Valen kepada orang tua Sandy yang masih dengan posisi yang sama. Valen menepuk bahu Sandy yang masih terdiam itu, Valen memberi senyuman semangat buat Sandy agar dia bisa melanjutkan dengan mulut nya sendiri tanpa di wakilkan oleh orang lain.

"Valen!" Valen memberhentikan langkahnya, ia melihat Sandy yang mengejar dirinya. "Jangan pergi!" ucap Sandy yang sudah berdiri di depan pintu mobil Valen.

"Aku memang harus pergi, San. Dalam situasi seperti ini, aku tidak berhak ada di sini. Tenang kita pasti akan berjumpa jika Tuhan mengizinkan, aku tidak apa-apa, dan ingat jangan nangisi orang yang belum tentu menjadi milik mu."

"Tante, Om, sekali lagi Valen pamit ya," pamit Valen dengan senyuman, Valen memasuk kedalam mobilnya, melihat dari arah cermin mobilnya Sandy dan kedua orang tuanya berpelukan, Valen tersenyum melihat itu. biarlah dirinya berpisah dari Sandy, asalkan Sandy tidak berpisah dari keluarganya. Valen merasa beruntung mendapatkan Sandy dalam kehidupannya. Benar benar butuh perjuangan ia mendapatkan Sandy yang begitu dingin dengan lawan jenis. Walaupun dengan segala kekurangan yang ada pada diri Sandy, tapi Valen tidak pernah mempersalahkan masalah itu. Ia lebih bahagia jika ia bisa memberi cahaya dan kebahagian pada orang orang yang ia sayangi.

TAMAT.

Kembali ke Beranda