Siang itu matahari tampak malu-malu menyinari bumi karena tertutup awan yang siap menitikkan air. Gue berjalan gontai karena kelelahan berjalan dari sekolah. Ini adalah hari tersial dalam hidup gue karena motor gue tiba-tiba saja mogok di tengah jalan sehingga gue terpaksa berjalan kaki sampai rumah yang jaraknya lumayan jauh.
"Desi kamu kok baru pulang. Terus motor kamu mana kok pulangnya jalan kaki?" tanya mama panik ketika gue sampai di depan pintu.
"Motor aku mogok di tengah jalan ma makanya aku terpaksa jalan kaki." Jawab gue dengan malas.
"Kenapa kamu gak telpon mama? Mama kan bisa jemput kamu sayang."
"Hp aku mati ma. Jadi gak bisa ngabarin pulang." Gue mekangkah menuju kamar dengan langkah yang dipaksakan karena kaki gue sudah terasa pegal kalau harus berjalan lagi.
"Ya sudah kamu ganti baju dulu lalu makan. Mama udah siapin makanan kesukaan kamu." Kata mama.
gue bergegas ke kamar dan mengganti pakaian beberapa menit kemudian gue sudah berada di meja makan di temani oleh mama.
"Ma mas Afin kapan pulang sih?" gue menanyakan kakak sematawayang gue yang beberapa hari lalu pergi berkemah untuk acara kampusnya.
"Mama juga belum tau tuh. Kenapa kamu kangen ya di jahilin sama kakak kamu itu?" tanya mama.
"Ah mama bisa aja. Aku kan Cuma pengen tau."
"Ya sudah kamu makan dulu keburu dingin tuh makananya kalau kamu ngomong terus."
"Iya deh ma. Tapi mama temanin aku makan ya."
Mama menemani gue makan siang sambil mengobrol kecil.
"Assalamualaikum" terdengar salam dari pintu.
"Waalaikumsalam." jawab gue dan mama hampir bersamaan. Gue bergegas menuju pintu dan membukakan pintu untuk tamu itu.
"Mas Afin. Kok baru pulang sih aku kan kangen." Gue langsung menghambur ke dalam pelukan kakak kesayangan gue ini walaupun terkadang dia sangat menyebalkan.
"Duh so sweetnya ternyata ada yang kangen toh." Canda mas Afin. Gue buru-buru melepaskan pelukan gue dari mas Afin.
"Ah mas Afin aku serius tauk." gue memasang wajah sok imut gue.
"Mas Afin juga serius dedek bahkan dua rius." Jawab mas Afin.
"Sudah sudah, Desi jangan ganggu masmu dulu dia pasti capek baru pulang udah diberondong dengan seribu pertanyaan." Kata mama melerai perdebatan kami.
"Ya udah masku tersayang mandi dulu sana udah bau asam kayak gitu untung tadi aku gak pingsan." Ujar gue pada mas Afin.
"Ah tadi aja dipeluk-peluk sekarang malah dikatain bau dasar kamu." Kecam mas Afin geram.
"Udah buruan sana mandi." Kata gue sambil menutup hidung.
"Iya bawel." Jawab mas Afin berlalu. Mama hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah gue sama mas Afin yang gak ada ubahnya kayak anak kecil.
Pagi ini gue harus berangkat sekolah dengan angkutan umum karena motor gue masih belum selesai diperbaiki dan mas Afin tidak dapat mengantar gue karena sekolah gue dan kampus mas Afin berlawanan arah.
Sampai di sekolah gue langsung menuju kelas. Hari masih terlalu pagi saat gue sampai di sekolah.
"Tumben Lo datang cepat." Suara itu adalah suara yang amat gue kenali. Itu adalah suara Bintang anak sok cool dan tengil di sekolah ini dan dia selalu tidak menyukai gue entah apa dosa gue padanya hingga dia begitu membenci gue.
"Maksud Lo apa?" kecam gue.
"Alah gue tau pasti Lo mau dibilang anak rajin kan. Heh julukan itu Cuma pantas buat gue dan gak ada yang bisa ngambil julukan itu dari gue." Sumpah nih anak selalu terobsesi buat jadi nomor satu di sekolahan.
"Gue gak ngerti maksud Lo apa."
"Ah udah lah Lo itu selalu pengen bersaing sama gue dan gue gak akan biarin Lo ngalahin gue."
Gue benar-benar gak ngerti sama makhluk satu ini. Padahal gue gak pernah pengen bermusuhan dengan siapaun di dunia ini. Tapi dia selalu mandang gue sebagai musuhnya yang harus dia kalahkan. Mungkin itu karena nilai gue yang lebih tinggi dari dia hingga membuat dia tambah membenci gue. Memang Bintang adalah sosok yang dibangga- banggakan di sekolah ini. Dia selalu menjadi yang terbaik dalam segala bidang baik akademik maupun non akademik tapi itu sebelum gue pindah ke sekolah ini. Setelah gue pindah ke sekolah ini dia merasa gue menyaingi dia untuk menjadi yang terbaik di bidang akademik karena nilai-nilai gue lebih tinggi dari nilainya.
"Udah deh. Gue udah jelasinkan sama Lo kalau gue gak pengen musuhan sama siapapun."
"Tapi sekarang Lo adalah musuh gue."
"Plis deh Bin. Gue sekolah bukan buat nyari musuh tapi buat nyari ilmu." Jelas gue walaupun sebenarnya gue tau gak ada gunanya gue ngejelasin ini sama makhluk yang bernama Bintang karena sampai seribu kalipun gue jelasin dia akan tetap musuhin gue tapi gue gak akan nyerah gitu aja buat jelasin sama dia.
"Gue gak percaya sama Lo." Dia berlalu pergi meninggalkan gue yang kini terpaku.
Seharusnya gue sadar yang akan terjadi. Dia memang tak pernah suka gue sekolah di sini karena gue bisa mengancam juara umumnya di sekolah itulah kata teman-teman gue.
"Lo kenapa Des?" suara itu mengagetkan gue.
"Lo Din, gue bingung harus gimana sama Bintang Din."
"Udah lah Des gak usah Lo pikirin tuh anak."
"Tapi dia kayaknya benci banget sama gue Din."
"Dia emang kayak gitu jadi Lo gak usah pikirin lagi ok?" Dinda adalah sahabat terbaik gue. Dia selalu kasih gue semangat dan selalu dukung gue dalam kondisi apapun.
"Tapi kenapa dia selalu terobsesi buat jadi nomor satu Din? Gue benar-benar gak ngerti apa hebatnya jadi nomor satu kalau gak punya teman yang ngertiin kita?" Dinda tersenyum mendengar pertanyaan gue.
"Bintang itu orang tuanya kurang mampu itu sebabnya dia ingin jadi yang terbaik di sekolah supaya dia bisa mendapatkan beasiswa ke universitas yang bagus agar dia bisa ngerubah kehidupan keluarganya." Jelas Dinda. Sungguh mulia hati anak itu dia ingin membahagiakan keluarganya gue jadi malu karena selama ini berpikir dia ingin menjadi yang terbaik hanya untuk ongeh-ongehan.
Seketika pandangan gue terhadap Bintang berubah. Gue pengen banget bantu dia, dia selalu lemah di nilai kimia mungkin karena terlalu banyak rumus yang harus dihafalkannya belum lagi dia harus mengurus banyak hal. Gue bertekad akan membantu Bintang agar dia bisa meraih impian mulianya itu. Kalau dia berhasil gue pasti akan ikut bahagia.
"Bintang tunggu." Gue menghentikan langkah Bintang sepulang sekolah. Dia membalikkan badan tapi setelah melihat gue dia kembali berjalan menjauhi gue bahkan mempercepat langkahnya.
"Bintang tunggu." Gue mengejar Bintang dan menghadang langkahnya hingga dia tak punya pilihan lain selain menanggapi gue.
"Lo mau apa?" dia bicara setengah membentak.
"Gue mau bantuin Lo." Dia terlihat kaget mendengar perkataan gue barusan. Gue sendiri aja kaget kenapa gue ngomong gitu.
"Seingat gue, gue gak pernah minta bantuan sama Lo."
"Memang gak pernah tapi ini adalah inisiatif gue sendiri buat bantuin Lo." Dia tambah heran dengan jawaban gue.
"Bantuin apa ya?" dia bertanya serius banget sambil mandang lekat mata gue bikin gue salting aja nih anak.
"Gue pengen bantuin Lo buat jadi nomor satu di sekolah." Jawab gue. Dia kembali memandang gue lekat kemudian dia tertawa.
"Lo mau ngejek gue. Mau buktiin kalau gue udah kalah dari Lo?"
"Gak. gak gue sama sekali gak bermaksud kayak gitu Bin. Gue serius pengen bantuin Lo."
"Kenapa. Gue kan saingan Lo."
"Gue kan udah pernah bilang sama Lo kalau gue gak pernah nganggap Lo saingan gue. Jadi izinin gue buat buktiin kata-kata gue itu."
"Ok. Tapi gimana cara Lo buat bantuin gue?"
"Nilai Lo selalu dibawah gue ketika pelajaran kimia dan bahasa inggris jadi gue akan bantuin Lo dalam dua pelajaran itu."
"Maksud Lo, Lo mau ngajarin gue?" tanya nya.
"Yap." Jawab gue mantap.
"Ok gue akan lihat kemampuan Lo kenapa gue bisa kalah dari Lo dalam pelajaran itu dan sehebat apakah Lo sebagai seorang guru." Tantang Bintang.
"OK gue akan buktiian sama Lo semuanya hingga rasa penasaran Lo terhadap gue hilang."
Bintang tersenyum melihat kepercayaan diri gue. Dan entah kenapa gue jadi gugup bukan karena tantangan dari Bintang tapi karena pemuda ini tersenyum sangat indah.
Ini adalah hari pertama gue bantuin Bintang dan kebetulan jam pertama pagi ini adalah kimia. Setelah pelajaran kimia selesai dan semua anak berlarian pergi ke kantin Bintang menghampiri gue. Gue jadi gugup sendiri dan gak tau apa penyebabnya.
"Kenapa?" tanya gue pada pemuda tampan di hadapan gue.
"Tadi ada yang belum gue pahami. Lo bisa jelasin lagi gak sama gue?" tanya Bintang.
"Oh ok. Yang mana yang Lo kurang paham?" tanya gue. Bintang langsung duduk di sebelah gue dan gue menjelaskan materi yang belum di pahaminya tersebut. Dinda yang melihat kejadian itu heran kenapa Bintang bisa beda banget sama gue hari ini. Setelah Bintang pergi Dinda mewaancarai gue. Ya apa lagi namanya kalau bukan wawancara.
"Kenapa Bintang bisa baik sama Lo gitu?" tanya Dinda memulai wawancaranya.
"Jadi ceritanya gue lagi di wawancara nih." Canda gue pada sahabat gue itu.
"Udah jawab aja kenapa sih. mau wawancara kek mau introgasi terserah Lo yang jelas jawab pertanyaan gue." Dia malah marahin gue.
"Iya deh. Pertanyaannya apa barusan?"
"Kenapa Bintang bisa baik gitu sama Lo. Lo guna-gunain dia ya karena Lo sakit hati sama dia?" dia malah nuduh gue. Wah parah nih anak.
"Tega amat sih Lo nuduh sahabat Lo sendiri kayak gitu Din."
"Ya trus kenapa Lo pasti ada apa-apakan sama dia?"
"Gak ada apa-apa kok. Tadi dia Cuma nanya sama gue karena dia belum paham sama penjelasan Buk Ani." Jelas gue.
"Kok gue ngerasa aneh ya. Kemaren-kemaren kan dia benci banget sama Lo."
"Mana gue tau Dinda sayang. Lo tanya langsung aja sama orangnya. Kenapa Lo malah nanya sama gue?"
Entah kenapa gue jadi sering mikirin Bintang apa jangan-jangan gue udah jatuh cinta kali ya sama Bintang. Duh mikir apaan sih gue, gue mukul jidat sendiri.
"Kenapa Dek lagi galau yah?" mas Afin datang ngagetin gue.
"Apaan sih mas. Kalau mau masuk kamar orang itu ketuk pintu dulu jangan nyelonong aja kayak maling." Omel gue pada mas Afin.
"Kayaknya ada yang beneran galau nih." Mas Afin malah ledekin gue bikin gue geram aja.
"Siapa lagi yang galau? Gak tuh aku mah biasa aja. Ada apa mas tumben kesini pasti mau curhat yah?" gue segera mengalihkan pembicaraan kalau gak bisa sampai pagi mas Afin ledekin gue.
"Tau aja sih." jawab mas Afin cengengesan.
"Ada apa?" tanya gue. Mas Afin memang sering banget curhat sama gue kalau dia lagi ada masalah sama teman ataupun pacarnya. Gue juga gak tau kenapa dia milih curhat sama gue tapi karena hal itu gue sama mas Afin jadi sangat dekat.
***
Ada perasaan aneh yang menyelimuti hati gue saat gue dengan Bintang tapi gue gak bisa memahami hati gue sendiri. Gue merasa senang saat di dekat Bintang dan kalau jauh darinya gue merasa rindu. Entah ini hanya karena akhir-akhir ini gue sering ngabisin waktu bareng Bintang atau gue udah jatuh cinta sama Bintang. Entahlah yang jelas gue selalu kepikiran Bintang dimanapun gue berada. Gue akui sejak awal gue emang udah merasakan getaran tertentu pada Bintang bahkan saat pertama kali gue ngeliat dia di sekolah ini tapi saat itu Bintang masih membenci gue dan menganggap gue adalah musuhnya tidak seperti sekarang.
"Bin Lo pernah jatuh cinta gak?" tiba-tiba saja gue punya keberanian buat menanyakan pertanyaan itu sama Bintang gak tau keberanian dari mana. Gue udah nahan napas sejenak karena belum siap menerima jawabannya nanti.
"hmm.. jatuh cinta?" dia seperti tengah berpikir.
"Iya." jawab gue cepat, gak sabar ingin segera mendengar pendapatnya. Apakah dia juga merasakan getaran aneh yang gue rasakan atau malah dia gak merasa apa-apa.
"Kalau menurut gue jatuh cinta itu gak ada gunanya. Gak penting. Jatuh cinta hanya akan membuat kita gak fokus sama belajar dan malah mikirin hal-hal gak penting seperti malam mingguan fungsinya apa coba? Cuma buang-buang waktu lebih baik belajar dirumah lebih bermanfaat." Ujar Bintang. Gue tertegun mendengar penuturan Bintang. Itu artinya dia gak ngerasain hal yang sama kayak yang gue rasa dan hal itu membuat gue sedih. Entah kenapa gue merasa hati gue perih mendengar penuturan Bintang.
"Kenapa Lo tiba-tiba nanya kayak gitu? Apa mungkin Lo sedang jatuh cinta?" Bintang menatap gue curiga.
"Apaan sih Lo." Gue mengelak, gue gak mau dia sampai sadar kalau gue emang lagi jatuh cinta dan itu padanya.
"Sama siapa sih?" tanya Bintang. Gue jadi bingung harus menjawab apa, gak mungkin gue jujur dan bilang kalau gue lagi jatuh cinta sama dia kan? Orang dia aja gak ngerasain apa-apa.
"Ada deh. Gue rasa Lo juga kenal sama orangnya." hanya jawaban ini lah yang terpikirkan di otak gue.
"Kenapa Lo bisa suka sama dia?" gue berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan itu.
"Karena dia tampan?"
"Gue udah tau lo akan jawab gitu."
"Karena dia baik, dia lucu dia juga pintar dan anaknya rajin banget lagi. Pokoknya dia perfect di mata gue."
"Kayaknya dia tipe ideal Lo ya?"
"Yap." Gue gak tau kenapa hati gue sakit kalau harus mengetahui bahwa Bintang gak memiliki perasaan apa-apa sama gue. Tapi gue gak bisa memperlihatkan kekecewaan gue karena dia gak salah, di sini hanya gue sendiri yang salah karena menaruh hati pada tempat yang salah.
"Dari gue umur 10 tahun gue udah buat prioritas hidup kalau gue gak akan jatuh cinta sampai gue jadi orang yang berhasil dan bahagiain orang tua gue." Lirih Bintang, gue hanya mendengarkan dalam diam.
"Kenapa Lo gak mau jatuh cinta?" pertanyaan itu spontan keluar dari mulut gue.
"Karena itu akan ngerusak prioritas hidup yang selama ini gue pegang teguh. Jatuh cinta hanya akan membuat kita lemah dan membuat gak fokus sama pelajaran."
"Lo salah Bin, cinta gak membuat seseorang menjadi lemah tapi membuat seseorang menjadi kuat membuat kita semangat dalam menjalani kehidupan."
"Tapi jatuh cinta gak akan membuat gue jadi yang terbaik di sekolah kan?" tanya Bintang.
"Apa gunanya menjadi yang terbaik kalau gak punya seseorang yang menyayangi kita dengan tulus. Apa gunanya menjadi yang terbaik kalau gak punya teman yang selalu ada buat Lo dalam segala situasi?"
"Gue gak butuh semua itu yang gue butuh hanya menjadi yang terbaik." Gue kecewa mendengar jawaban Bintang.
Bukan, gue kecewa bukan karena perasaan gue gak sama seperti yang dia rasa tapi karena pemikiran sempitnya mengenai cinta, dalam hidup gak segalanya akan berjalan seperti harapan kita dan saat itulah kita butuh sosok seseorang yang mendukung kita untuk terus maju.
Gue hanya tertegun mendengar penuturan Bintang, gue gak bisa bicara apa-apa lagi. Bahkan untuk menangis pun gue gak punya hak karena disini hanya gue seorang yang salah dan pantas untuk di salahkan.
Dua minggu yang lalu kepala sekolah minta gue buat jadi perwakilan sekolah dalam olimpiade kimia tingkat provinsi tapi gue belum cerita sama Bintang. Gue takut Bintang akan marah saat tau hal itu. Tapi sekarang gue gak berminat buat ikut olimpiade itu Lagi. Gue bahkan gak berminat lagi buat bersaing sama Bintang, biarlah dia mencapai tujuannya yang sudah ia rencanakan sejak awal dan gue tau betul gue gak termasuk dalam rencana hidupnya itu.
"Maaf pak sepertinya saya gak bisa mewakili sekolah kita untuk olimpiade kimia." Jelas gue pada kepala sekolah. Dia hanya manggut-manggut dengan penolakan gue.
"Tapi sekolah kita membutuhkan kamu Desi." Kata kepala sekolah.
"Sekali lagi saya minta maaf pak. Saya benar-benar gak bisa karena alasan tertentu. Tapi sebagai gantinya bapak bisa ngirim Bintang untuk mewakili sekolah kita."
"Baiklah kalau begitu keputusan kamu." Kepala sekolah menurut apa yang gue sarankan dengan mengirim Bintang untuk mewakili sekolah dalam olimpiade kimia.
Beberapa hari terahkir gue sengaja ngindarin Bintang. Gue udah gak marah sama dia mana tahan sih gue marah lama-lama sama dia, gue hanya belum siap aja ketemu lagi sama dia karena gue belum bisa ngelupain dia.
"Desi Lo bisa ngajarin gue lagi gak?" Tanya Bintang.
"Sorry ya Bin tapi gue mau ke kantin sama Dinda." Itu hanya alasan gue aja.
"Kalau gitu Lo bisa ngajarin gue di kantin kok. Kita ke kanting bareng aja."
"Tapi gue mau ngomongin sesuatu sama Dinda dan ini hanya antara gue dan Dinda." Jelas gue.
"ok gue ngerti." Kata Bintang kemudian.
"Lo lagi marahan ya sama Bintang?" tanya Dinda saat di kantin.
"Gak kok." Elak gue.
"Yakin lagi gak marah sama dia terus kenapa Lo pakai alasan mau ngomong penting sama gue segala? Emangnya Lo mau ngomong apa?" tanya Dinda.
"Itu Din. Sebenarnya mas Afin minta nomer hp Lo boleh gak gue kasih?" beberapa hari lalu mas Afin nanyain Dinda sama gue dan bilang kalau dia suka sama Dinda.
"Hah. Lo bilang mas Afin?" gue hanya mengangguk.
"Trus Lo udah kasih?" tanya Dinda semangat banget.
"Belum makanya gue tanya dulu sama Lo boleh gak?"
"Boleh. Boleh banget malah." Gue tersenyum melihat reaksi sahabat gue ini.
"Jangan-jangan Lo naksir yah sama kakak gue?" tanya gue menyelidik. Yang ditanya malah senyum penuh arti dan gue membalas senyuman itu dengan sedikit ejekan tapi gue senang kalau sampai mas Afin jadian sama Dinda.
Hari ini mas Afin yang ngantar gue sekolah gue tau itu pasti Cuma modus biar bisa ketemuan sama Dinda. Saat sampai di depan gerbang sekolah gue ngeliat Bintang yang melihat gue dengan tatapan tajam yang gak bisa gue artikan. Gue pura-pura gak tau aja kalau dia dari tadi mandangin gue dan mas Afin. Gue segera turun dari motor mas Afin dan berjalan memasuki gerbang sekolah.
"Dek nanti pulang sekolah mas jemput ya." Teriak mas Afin.
"Iya mas." Jawab gue lalu melanjutkan langkah gue menuju kelas. Mas Afin bilang kalau nanti pulang sekolah dia ingin ketemuan sama Dinda makanya dia bikin alasan buat jemput gue padahal mah ada udang dibalik bakwan. Hehehe...
Di kelas gue terus memperhatikan Bintang yang dari tadi terus melamun dan tak memperhatikan penjelasan Pak Hamdan. Gue belum pernah liat Bintang kacau seperi hari ini. Biasanya dia selalu fokus belajar sebesar apapun masalah yang dihadapinya tapi hari ini dia benar-benar tak memperhatikan penjelasan Pak Hamdan sedikitpun. Pikirannya terus menerawang memandang ke luar kelas ke arah gerbang sekolah entah apa yang menarik disana yang mampu mengalihkan perhatiannya.
Saat istirahat berlangsung gue hendak pergi ke perpustakaan dan melewati lapangan basket namun langkah gue terhenti di dekat lapangan basket ada yang menarik perhatian gue di sana.
"Kamu harus fokus, kita bermain sebagai sebuah tim bukan perorangan." Seseorang disana sedang dimarahi oleh pelatih Basket sekolah ini, Pak Samuel.
"Maaf pak." Terdengar sahutan dari anak itu. Suara itu gak asing di telinga gue. Gue mencoba lebih dekat agar bisa melihat siapa yang tengah di tegur oleh pak Sam.
"Apa kamu ada masalah Bintang?" tanya Pak Sam lagi.
Bintang? Barusan pak Sam menyebut nama Bintang? Apa mungkin gue salah dengar ya? Bintang selalu melakukan sesuatu dengan hati-hati mana mungkin dia melakukan sebuah kesalahan. Gue mengintip dari balik dinding dan ternyata orang yang sedang di tegur oleh pak Sam adalah Bintang. Dia benar-benar Bintang. Masalah macam apa yang tengah dihadapi oleh Bintang sehingga dia membuat kesalahan? Dan tadi di kelas dia juga gak memperhatikan pelajaran. Gue ingin mendekati Bintang dan menayakan padanya tapi gue belum siap harus berhadapan lagi dengan pria ini.
"Din Lo tau gak barusan Bintang habis di tegur sama Pak Sam karena dia main gak fokus." Gue langsung cerita sama Dinda saat sampai di kelas.
"Ya terus?"
"Lo coba pikir deh apa mungkin seorang Bintang melakukan kesalahan dia kan selalu terobsesi buat jadi yang terbaik di sekolah. Trus kenapa dia bisa bikin kesalahan dan tadi pagi dia gak dengerin penjelasan Pak Hamdan Din. Pasti dia lagi ada masalah."
"Ciee... perhatian banget sih sama Bintang." Dinda malah ledekin gue. Bukannya ngasih solusi malah bikin gue tambah pusing.
"Bukan gitu Din. Gue Cuma penasaran aja masalah macam apa yang tengah di hadapinya hingga membuat semangatnya jadi hilang gitu?" gue berpikir keras tapi gue tetap gak nemuin jawabanya.
"Mungkin dia lagi patah hati Des. Cuma orang yang lagi galau yang kehilangan semangat hidup." Jawaban Dinda sungguh membuat gue terkejut. Galau? Apa mungkin Bintang lagi galau yah.
"Udahlah ngapain sih mikirin hal itu. Mas Afin gimana kabarnya?" tanya Dinda bersemangat.
"Dia mau jemput gue pulang sekolah. Tapi gue yakin itu Cuma modus biar bisa ngeliat Lo."
"Ya udah nanti kita keluar bareng ya?"
"Siap bos."
Gue masih memikirkan Bintang. Apa benar dia lagi patah hati tapi sama siapa bukankan dia bilang dia gak mau jatuh cinta karena hanya akan membuat kita gak fokus belajar? Tapi kenapa dia galau sekarang. Siapa wanita yang berhasil membuat dia gak fokus belajar. Huh lihat saja gue gak akan maafin tuh anak karena udah bikin Bintang sedih dan kacau hari ini.
"Desi!" terdengar suara memanggil nama gue, gue mengentikan langkah gue sejenak dan orang yang tadi manggil gue mensejajari langkah gue dan berjalan beriringan dengan gue. Orang itu adalah Bintang.
"Ada apa?" tanya gue tanpa menoleh pada lawan bicara gue.
"Lo berhutang maaf sama gue." Gue menghentikan langkah gue mendengar kata-kata itu.
"Hutang maaf? Maksud Lo?" gue heran apa kesalahan yang gue lakukan sama Bintang sampai di bilang kalau gue berhutang maaf sama dia.
"Iya sekarang Lo harus ikut sama gue kalau Lo mau gue maafin."
"Tapi gue udah di jemput." Gue melihat mas Afin yang melambaikan tangan ke arah gue.
"Ok itu artinya gue gak akan maafin Lo." Bintang berjalan menjauhi gue tapi entah kenapa gue gak rela dia pergi.
"Bintang tunggu. Gue akan ikut sama Lo." Gue berjalan mendekati mas Afin dan bilang kalau gue akan pergi dengan Bintang. Untung mas Afin ngerti dan gue nyuruh dia jalan-jalan dulu sama Dinda tentu saja mereka setuju.
Bintang membawa gue ke sebuah taman di tepi danau tempat ini sungguh indah dan sejuk. Gue duduk di kursi kayu yang berada di bawah sebuah pohon.
"Kenapa Lo bawa gue kesini?" gue membuka pembicaraan.
"Bukankah gue udah bilang. Gue bawa Lo kesini karena Lo berhutang maaf sama gue?"
"Kesalahan apa yang udah gue perbuat sama Lo sehingga gue harus minta maaf?"
"Lo gak sadar udah ngelakuin kesalahan?" Dia malah balik bertanya sama gue. Gue menggelengkan kepala gue karena gue benar-benar gak tau salah gue dimana.
"Memang ya cewek itu gak peka." Dia berbicara setengah berbisik tapi gue mendengar cukup jelas.
"Maksud Lo?"
"Tadi pagi Lo berangkat sekolah sama siapa?" gue heran kenapa dia malah balik bertanya sama gue.
"Lo belum jawab pertanyaan gue." Ujar gue.
"Sebelum Lo jawab pertanyaan gue maka gue gak akan jawab pertanyaan Lo." Gue hanya bisa geleng-geleng kepala karena tingkah Bintang hari ini.
"Ok gue jawab. Tadi pagi gue sekolah sama mas Afin." Jawab gue.
"Kenapa?"
"Tadi mas Afin nawarin buat nganterin gue yah gue mau mau aja. Emang kenapa sih?"
"Trus Afin itu siapa?" gue udah muak sama semua pertanyaan Bintang. Tapi gue tetap bersikap baik karena gue ingin tau kesalahan apa yang udah gue perbuat sama dia.
"Dia kakak gue. Memangnya ada apa sih Bin? Gue udah jawab pertanyaan Lo sekarang Lo juga harus jawab pertanyaan gue." Sikap anak ini lama-lama bikin gue panas.
Bukannya menjawab pertanyaan gue Bintang malah menyeringai gak jelas sambil memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Dia memandang gue dengan tatapan seperti seorang anak kecil yang habis melakukan kesalahan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang gue yakin gak gatal.
"Jawab Bin. Apa kesalahan gue?" Gue berbicara dengan nada yang keras membuat Bintang terlonjak kaget.
"Karena hari ini Lo udah bikin gue kacau." Dia berujar lirih tanpa memandang wajah gue.
"Gue? Memangnya apa yang udah gue perbuat?"
Bintang diam tak menjawab pertanyaan gue. Dia terus memandang gumpalan awan yang berarak menuju suatu tempat untuk menumpahkan segala beban yang di bawanya. Bintang sama sekali tak melihat gue membuat gue jadi risih. Kenapa gue membuat harinya jadi kacau? Hal apa yang telah gue perbuat hari ini? Gue coba mengingat hal yang gue lakukan yang mungkin membuat Bintang jadi merasa kacau tapi gue gak menemukan jawabannya.
"Bintang apa yang sudah gue lakukan Bin. Hal apa yang gue lakukan sehingga membuat hari Lo jadi kacau?" Bintang memandang wajah gue dipandangi seperti itu membuat gue jadi gugup.
"Kesalahan Lo adalah Lo udah bikin gue jatuh Des." Gue benar-benar gak ngerti seingat gue, gue gak pernah tuh bikin dia jatuh. Kapan dan dimana? Gue benar-benar gak bisa ngungat itu.
"Lo itu udah bikin gue jatuh cinta sama Lo." Kini mulut gue benar-benar terkunci mendengar kata-kata Bintang. Gue gak percaya Bintang bilang hal ini sama gue.
"Hari ini gue kacau karena gue ngeliat Lo di boncengin sama cowok dan itu bikin hati gue sakit kayak di tusuk pakai panah beracun. Gue cemburu ngeliat Lo sama orang itu. Maaf ya gue udah salah sangka sama Lo. Gue kira dia adalah pacar baru Lo taunya kakak Lo." Dia cengengesan dan garuk-garuk kepala yang gak gatal.
Gue masih diam bagai patung. Tak sepatah katapun yang berhasil keluar dari mulut gue meskipun gue udah berusaha keras. Kini tangan Bintang menggenggam tangan gue hasilnya tubuh gue gemetar karena genggaman itu.
"Gue gak tau sejak kapan tepatnya gue ngerasain hal ini. Tapi sejak Lo ngejauhin gue seperti ada yang hilang dari hati gue. Separuh dari hati gue terbawa sama Lo Des. Gue jatuh cinta sama Lo. Lo mau gak jadi kekasih gue. Lo mau gak jadiin gue yang terbaik di hati Lo?" tak terasa pipi gue udah panas dan merasakan cairan hangat membanjiri pipi gue.
"Bukankah Lo harus jadi yang terbaik di sekolah? Dan jatuh cinta hanya akan membuat Lo gak fokus belajar." tanya gue
"Buat apa jadi yang terbaik kalau gak memiliki seseorang yang akan menyayangi kita dan mendampingi kita saat senang dan susah? Gue udah sadar Des kalau yang terbaik buat gue itu Lo." Gue udah gak peduli lagi air mata yang membanjiri pipi gue. Gue langsung menghambur ke pelukan Bintang.
"Gue juga tau kalau orang yang Lo ceritain waktu itu adalah gue. Karena ciri-ciri yang Lo bilang persis kayak gue." Bisik Bintang tepat di telinga gue yang membuat gue melepaskan pelukan gue.
"Kok dilepas sih?" Bintang menarik gue kembali ke pelukannya.
"Biarin aja kayak gini. Aku sayanggg banget sama kamu Desi." Bintang kembali berbisik di telinga gue namun kali ini gue tak akan melepaskannya lagi untuk selamanya.
Selesai.