Perasaan Baru
Romance
27 Dec 2025

Perasaan Baru

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2025-12-27T105056.380.jfif

download - 2025-12-27T105056.380.jfif

27 Dec 2025, 03:51

download - 2025-12-27T105045.364.jfif

download - 2025-12-27T105045.364.jfif

27 Dec 2025, 03:51

POV Wina

Pada akhirnya gue disini, duduk bersama seorang pria yang gak gue kenal, baru kenalan hari ini tepatnya. Orangnya ganteng sih! Tapi terakhir kali gue putus sama seseorang, gue punya keinginan kalau gue gak akan pernah mau pacaran lagi. Kalo bisa gue gak usah nikah sekalian. Toh sekarang kayaknya gue hanya perlu menghabiskan waktu gue untuk bekerja supaya gue tetep hidup, lanjutin kuliah sampai selesai supaya bisa dapet pekerjaan yang gajinya lumayan.

Semua ini gara-gara gue cerita sama Wulan, salah satu sahabat gue di kampus, kalo gue putus sama pacar gue kemarin karena gue udah gak punya apa-apa sejak orang tua gue meninggal kecelakaan. Lalu dia mulai mandang gue sebelah mata dan mulai bersikap kasar.

Bener kata orang, kalo lo akan tahu sifat asli seseorang saat lo udah gak punya apa-apa. Lo akan tahu mana orang yang pura-pura baik dan mana yang baik beneran baik sama lo. Salah satu orang yang masih mau berteman sama gue adalah Wulan. Dan dengan sok ngide, dia malah memperkenalkan gue dengan temennya yang lain.

Pria ganteng yang saat ini duduk di depan gue namanya Tara. Kuliah di salah satu Universitas yang terkenal orang-orang berada. Padahal Wulan tahu, ketika semuanya terjadi, gue jadi anti dengan orang-orang berada.

Tanpa gue duga, obrolan gue dengan Tara cukup menarik. Menurut gue Tara adalah tipe orang yang peka. Karena pada awalnya dia membahas tentang kisah percintaan dan melihat gue gak tertarik, dia menggiring pembicaraan kita ke hal-hal yang menarik.

"Lo mendingan kerja aja di kafe gue, Win, kebetulan gue butuh orang untuk ngatur pembukuan di kafe gue. Terus lo juga bisa jadi kasir, kebetulan juga kasir gue resign kemarin. Karena lo double job, fee-nya juga lumayan. Jadi lo bisa bayar kuliah juga kan dari gaji lo." katanya.

* * *

POV Tara

Ada kalanya lo harus bersabar untuk mendapatkan seseorang yang benar-benar lo butuh dan lo ingin. Buat gue, orang itu adalah Wina. Sudah hampir 2 tahun dia kerja di kafe gue sebagai bagian keuangan merangkap kasir. Kerjanya rajin, dia juga tekun. Mungkin emang semangat berjuangnya tinggi. Padahal dulunya dia anak dari keluarga berada.

Wina. Dari awal gue ngeliat dia, gue udah suka. Anaknya cantik, gak neko-neko. Tapi satu yang gue tahu, dia lagi anti banget sama hubungan percintaan sejak putus sama cowoknya yang katanya kasar itu. Jangan tanya gue tau darimana, yang jelas Wina gak pernah mau cerita tentang hubungan asmaranya. Wulan yang cerita sama gue di awal dia mau ngenalin gue sama Wina.

Gue jadi penasaran, kira-kira cowok brengs*k kayak apa yang tega ke cewek secantik Wina. Ditambah Wina itu ternyata pinter. Dia selalu seneng banget kalo nilai dia itu bagus. Dan kalo dia udah seneng gitu, biasanya kerjanya jadi makin rajin. Katanya itu bentuk terima kasih ke gue karena gue udah banyak bantu dia. Padahal dia juga bantu gue.

Dan kalo ditanya effort apa yang udah gue lakuin buat ngambil hati Wina? Sebenernya gue gak perlu effort apa-apa selain ngasih perhatian secukupnya ke dia. Karena dia juga terlihat risih kalo ada orang yang ngasih perhatian berlebihan ke dia.

Kayak sekarang, gue baru aja sampe kafe dan gue ngeliat kalo di jam segini, Wina masih ngelayanin orang dengan senyum ramahnya seakan itu anak gak kenal capek. Itu alasan gue kenapa tiap gue pulang kerja, gue selalu sempetin diri untuk mampir ke kafe, supaya gue bisa belajar dari Wina kalo lo harus tetap bersyukur meskipun lo capek.

"Minum dulu, Bos!" kata Rio sambil meletakkan secangkir kopi di atas meja gue.

"Tengkyu, Yo! Gimana hari ini? Rame?"

"Lumayan, Bos!"

"Udah close kan ya? Yaudah lo lanjut beres-beres dulu deh. Nanti kalo udah beres, bilangin ke anak-anak ada yang mau gue omongin."

"Oke, Bos!"

Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Mereka semua beberes, sedangkan gue masih di tempat yang sama, duduk, baca pembukuan minggu lalu, sambil sesekali curi-curi pandang kea rah Wina yang masih sibuk nyocokin struk sama sistem. Dan sesekali juga mata kami bertemu, biasanya dia ngasih senyum duluan ke gue. Senyumnya itu bikin penat gue hilang.

"Jadi gini, besok rencana gue sama temen-temen gue mau kumpul. Di kafe ini. Mulainya malem sih, sekitar jam 7 gitu. Karena besok juga malem minggu, kemungkinan rame. Kalian besok pasti bakalan capek banget. Tapi yang gue harap kalian tetep hati-hati."

"Baik, Mas Tara!"

"Oh iya, Win, besok lo ujian jam berapa?"

"Pagi sih, Mas, siang juga udah selesai kok!"

"Yaudah, lo juga jaga kondisi ya. Good luck ujiannya."

"Makasih, Mas Tara."

Meskipun interaksi gue dan Wina hanya sebatas itu di tempat kerja, tapi gue tetep bersyukur bisa denger suara dia hari ini. Setelah selesai, gue membiarkan mereka semua pulang. Dan seperti biasa, gue nganterin Wina pulang karena ini udah malem dan dia emang satu-satunya perempuan yang kerja di kafe gue.

* * *

POV Wina

Akhirnya selesai juga ujian hari ini. Gue harus optimis kalo nilai gue bakalan bagus juga semester ini. Gue gak boleh ngecewain Tara yang udah banyak bantu gue.

Sebenarnya salah satu motivasi gue adalah Tara. Dia semuda itu udah bisa ngembangin usahanya sendiri, orangnya juga gak sombong sama karyawan-karyawannya, dan dia selalu bantu karyawannya sebaik mungkin.

Dan salah satu motivasi gue harus belajar sebaik mungkin adalah karena Tara emang udah niat bantuin gue dari awal. Supaya gue bisa kuliah dan bisa hidup lebih baik. Supaya gue gak di anggap sebelah mata sama orang lain. Dan dalam proses ini, Tara juga bener-bener gak anggap gue sebelah mata. Makanya gue selalu ngasih tau Tara nilai gue supaya dia merasa kalo bantuannya itu gak sia-sia.

Hari ini mungkin gue harus kerja lebih ekstra dari sebelumnya. Benar kata Tara. Ketika gue baru aja sampai, kafe udah rame banget karena jam makan siang di tambah promo cashback karena Tara baru saja kerjasama dengan salah satu lembaga keuangan.

Kami semua baru bisa agak lenggang setelah sore. Dan sore itu, Tara baru datang lagi setelah siang tadi dia pulang. Tara datang dengan setelan kemeja hitam lengan panjang yang di gulung, serta celana panjang berwarna cream. Dia masih ganteng seperti dulu. Wangi parfumnya mendominasi ruangan yang awalnya wangi kopi memang.

Dia datang ke depan gue, tersenyum, dan

"Gimana ujiannya?" tanyanya.

"Lancar, Mas Tara."

"Syukur deh! Oh ya, Win, gue lupa kasih tau lo ya?"

"Soal apa?"

"Kalo gue udah suka sama lo dari awal. Tapi lo gak usah khawatir, gue gak akan maksa lo. Hari ini lo lakuin aja kerjaan kayak biasa, gak usah terbebani sama temen-temen gue. Kalo ada dari mereka nanya-nanya nomor hape lo, gak usah lo kasih ya. Inget, jangan lo kasih! Ini perintah!"

Gue gak tahu kenapa gue deg-degan denger pernyataan Tara yang tiba-tiba itu. Mungkin aja gue terbawa suasana karena Tara hari ini lebih ganteng dari biasanya. Di tambah lagi sikap posesifnya itu. Tapi di balik itu, dia gak maksa atau minta jawaban ke gue, dan itu bikin gue merasa lega.

* * *

POV Author

Waktu kini menunjukkan pukul 7, beberapa dari teman-teman Tara sudah datang. Meskipun teman-temannya, Tara meminta mereka untuk langsung pesan di kasir. Setiap ada salah satu temannya ke kasir, pandangan Tara selalu kesana. Memantau kalau temannya meminta nomor Wina. Benar saja, beberapa dari mereka memang meminta nomor Wina.

"Kasir lo oke juga! Minta nomornya dong!" ucap Angga, salah satu temannya. Tara hanya tersenyum.

"Tar, ini dari tadi gue selidikin, mata lo kayaknya selalu kesana tiap kali ada kita yang mau ke kasir. Jangan bilang lo naksir kan sama kasir lo. Siapa namanya tadi? Wina ya?" sahut Willy.

"Eh iya, gue juga sadar sebenernya. Bener kan, Tar? Ngaku lo!" Andri menimpali.

"Nah, ini dia! Bro kita yang suka telat dateng!" ujar Angga.

Seorang pria yang baru saja datang langsung duduk di antara mereka semua. Wajahnya tidak kalah tampan dengan Tara.

"Kok gue gak di pesenin sih?" tanya pria itu. Namanya Byan.

"Nih, yang punya kafe bilang kalo kita harus pesen sendiri kesana." jawab Willy.

Byan bangkit dan mendekati kasir. Seperti biasa pandangan Tara ke arah sana, membuat teman-temannya tambah yakin kalau Tara menyukai kasirnya.

Tara mengerutkan kening melihat ekspresi wajah Wina yang pucat. Dia terlihat tegang.

"Hai, Win! Ternyata sekarang kerja jadi kasir! Capek ya? Pegel dong ya sekarang kerjanya berdiri! Masih mending jadi pacar gue kan?"

Wina berusaha tersenyum meskipun saat ini kakinya lemas. Kenapa dirinya harus bertemu lagi dengan orang yang tidak ingin di temuinya, di tempat kerjanya, dan terlebih dia adalah salah satu teman Tara, pemilik kafe tempatnya bekerja.

"Halo, selamat malam, Kak, mau pesen apa?"

Byan setengah tertawa, "Wah, masih bisa pura-pura, Win? Apa karena Bos lo ngeliatin dari sana?"

Tara semakin yakin ada yang tidak beres disana.

"... Wina itu dulu putus sama pacarnya karena pacarnya udah semena-mena sama dia. Mungkin semakin kesini semakin kasar. Wina paling takut kalo suatu saat ketemu cowok itu lagi. Tapi lo cukup tau aja ya, Tar, jangan di konfirmasi lagi ke Wina. Soalnya ini rahasia dia. Tapi gue rasa, kalo lo emang mau ungkapin perasaan lo ke dia, minimal sedikit lo tau tentang masa lalunya." ujar Wulan mengingatkan tentang kisah percintaan Wina yang tidak indah itu semalam saat Tara bilang ingin menyatakan rasa pada Wina.

Tara bangkit, mendekati Wina dan Byan.

"Ada apa ini? Win, you okay?"

"Gak apa-apa, Mas Tara." jawab Wina.

"Americano satu ya, Win!" ucap Byan.

"Bro, gue mau ngomong sebentar." kata Tara pada Byan.

Tara membawa Byan ke balkon atas. Byan menyalakan sebatang rokoknya, dan menawarkan kepada Tara yang di tolak pria itu.

"Kenapa, Bro?" tanya Byan.

"Lo mantannya Wina?"

Byan tersenyum, "Dia cerita?"

"Gue nebak aja. Karena dia sama sekali gak pernah cerita tentang kehidupan percintaannya ke gue." jawab Tara. "Wina, dia orangnya rajin, ceria, pinter. Tapi orang yang seperti itu bisa keliatan pucet waktu ngadepin lo tadi, gue yakin ada yang gak beres."

"Iya, dia mantan gue."

"Kenapa, Bro? kenapa putus?"

"Ya, karena udah gak suka aja, Bro."

"Yaudah. Karena lo udah gak suka, dan lo udah gak ada hubungan apa-apa lagi, berarti gue boleh maju tanpa persetujuan lo kan? Lagian lo juga udah punya pacar baru kan?"

Byan tersenyum, "Ambil aja, Bro! Lagian apa bagusnya Wina selain cantik?"

Tara tersenyum, "Gue bersyukur karena lo gak tau apa bagusnya dia, Bro! Yaudah, lanjutin nyudutnya. Nanti kalo udah selesai ke bawah lagi ya, Bro!"

"Oke!"

"Oh iya, lo sekarang pacaran sama Kenny kan?"

"Iya, kenapa, Bro?"

"Cuma mau bilang ati-ati aja. Kalo lo mau tau watak asli Kenny, lo cukup nolak bayarin belanjaan dia, minimal tiga kali."

Setelah turun, Tara meminta Wina untuk berbicara empat mata dengannya di belakang.

"Win, mungkin gue belum tau banyak soal masa lalu percintaan lo yang kelam itu. Karena lo selalu menghindar kalo gue udah mulai membahas sesuatu yang berurusan sama cinta. Tapi please, kali ini lo dengerin gue. Cukup satu kali. Gue udah suka sama lo dari awal. Semakin kesini gue ngerasa beruntung karena lo hadir di hidup gue. Mengenal lo itu membuat gue merasa kalo gue harus bersyukur dengan apa yang udah gue raih. Itu salah satu motivasi gue untuk bekerja lebih keras dan berusaha gak ngeluh. Dan dengan adanya lo, gue jadi tau kalo yang namanya usaha gak akan menghianati hasil. Lo kerja, lo belajar mati-matian supaya nilai lo bagus, dan waktu nilai lo bagus, gue adalah orang pertama yang lo kasih tau. Gue suka dengan kebersamaan kita yang sederhana seperti itu. Bersama lo gak harus mahal, tapi justru itu yang membuat nilai lo di mata gue jadi mahal. Gue menawarkan lo sebuah hubungan special atas dasar cinta. Kapanpun lo siap, lo bisa bilang ke gue. Gue gak ngasih batas waktu. Karena gue harap hubungan kita juga gak ada batas waktu."

"Lo serius, Tar?" tanya Wina. Tara mengangguk yakin, "Tara, gue gak punya apa-apa, gue gak bisa buat lo bangga dengan punya gue. Gue gak..."

"Cukup lo pertimbangkan aja tawaran gue!" potong Tara.

"Kalo lo siap dengan konsekuensi itu, gue terima tawarannya."

Tara tersenyum, dia langsung menggandeng Wina dan membawanya ke hadapan teman-temannya.

"Bro, kenalin! Wina, kasir dan bagian keuangan di kafe gue. Sekarang jadi pacar gue!"

Tara tersenyum. Gue gak perlu orang-orang tahu tentang kelebihan Wina dari mulut gue. Cukup mereka melihat dan menilai Wina dengan sudut pandang mereka. Karena menurut gue, nilai Wina di mata gue sangat tinggi. Dan beruntungnya gue, sekarang dia ada di sisi gue . Batin Tara.

* * *

SELESAI ...

Kembali ke Beranda