Harus Pergi
Romance
28 Dec 2025

Harus Pergi

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2025-12-28T211103.522.jfif

download - 2025-12-28T211103.522.jfif

28 Dec 2025, 17:04

download - 2025-12-28T211100.634.jfif

download - 2025-12-28T211100.634.jfif

28 Dec 2025, 17:04

Namaku Carisa. Umurku 22 tahun. Aku baru saja lulus sarjana dan baru saja memulai kerja di salah satu perusahaan BUMN. Aku punya pacar, namanya Daniel. Dia seumuran denganku. Sama-sama baru lulus sarjana dan sama-sama baru memulai kerja. Bedanya dia kerja di sebuah perusahaan swasta.

Hubunganku dan Daniel baik-baik saja. Kami sudah berpacaran sekitar 3 tahun. Kami bertemu di kampus, kenal, dekat, lalu pacaran. Sesimpel itu. Kami saling mengerti satu sama lain, menurutku. Kami juga jarang bertengkar. Banyak orang menyebut kami couple goal. Siapa sih yang tidak senang dengan sebutan itu?

Aku juga sudah kenal dengan keluarga Daniel. Keluarganya harmonis, seperti keluargaku. Mama dan Papanya juga welcome terhadapku. Kadang aku juga sering jalan hanya berdua dengan Mamanya. Mamanya sudah menganggapku seperti anaknya sendiri.

Tapi...

Aku mulai merasa semua berubah. Daniel jauh lebih sibuk dari biasanya. Bahkan kadang sekedar membalas pesanku saja dia tidak sempat. Seperti saat ini. Aku baru saja pulang kerja, kembali mengecek kembali ponselku untuk memastikan Daniel sudah membalas pesanku atau belum.

Me : Pagi sayang

Me : Kamu udah sarapan?

Me : Kamu nanti pulang jam berapa?

Me : Pulang kerja kita nonton yuk, bisa gak?

Beberapa hari ini aku memang terlihat mengantuk di kantor karena tidur cukup larut untuk menunggu balasan pesan dari Daniel yang kadang di balas pada malam hari. Aku membaca chat terakhir dia.

Mine : Maaf aku ketiduran

Hanya itu.

Seperti pagi ini. Bangun tidur, aku buru-buru mengambil ponsel untuk memastikan apakah Daniel membalas pesanku. Jam 1 malam.

Mine : Aku abis nobar bola sama anak2

Lalu kembali aku membalas pesannya dengan semangat.

Me : Kok gak ngabarin?

Yang tentu saja tidak langsung di baca apalagi di balas. Aku juga sambil siap-siap untuk berangkat ke kantor.

Hari ini ternyata aku harus lembur. Kembali aku mengambil ponselku dan berniat memberi kabar pada Daniel. Aku membaca pesan-pesanku dari pagi sampai sore yang tidak di baca sekalipun olehnya.

Me : Kok gak ngabarin?

Me : Selamat makan siang

Me : Kamu pulang kerja ada rencana kemana?

Me : Sayang, hari ini aku lembur, kamu pulang bisa tolong jemput aku?

Aku tersenyum setelah mengirim pesan. Aku berharap apa? Dia datang tiba-tiba? Menjemputku? Tanpa membaca pesanku sebelumnya? Ajaib sekali! Itu hanya ada dalam anganku.

"Ris, lo pulang sendiri? Gue anter aja ya? Udah malem!" tawar Mario, rekan kerjaku.

"Eh, gak usah, Yo, gue naik taksi online aja."

"Udah malem, Ris, bahaya! Pokoknya gue anter!"

Karena Mario setengah memaksa, akhirnya aku pulang di anter Mario. Selama perjalanan kami diam. Tiba-tiba Mario buka suara, mengajakku berbincang. Obrolan kami mendalam.

"Lo pacaran 3 tahun sama cowok lo, pernah ngerasa bosen gak sih, Ris?"

Dari obrolan kami, akhirnya aku sadar, kalau Daniel saat ini sedang bosan. Tidak pernah sekalipun aku berpikir kalau Daniel akhirnya akan merasa bosan dengan hubungan ini. Namun aku memang harus bertemu dan membicarakan hal ini berdua dengan Daniel agar semuanya jelas.

Me : Kamu besok ada waktu?

Aku menunggu hampir setengah jam dan berharap Daniel menbaca pesanku dan membalasnya. Sambil menunggu membalas pesannya, aku membuka sosial media, melihat akun Daniel, dan melihat foto-foto yang di tandai oleh temannya. Ternyata ada beberapa foto terbaru yang ditandai oleh sebuah akun bernama Miranda. Seminggu yang lalu dia foto bersama Miranda di sebuah kafe, besoknya kumpul bersama teman-teman, sampai ternyata Miranda ikut nonton bola bareng bersama teman-teman Daniel. Yang membuat Carisa kesal adalah Carisa tidak tahu dan tidak kenal dengan perempuan bernama Miranda ini, namun dia memang cantik.

Me : Kamu besok ada waktu?

Me : Aku mau kamu luangin waktu besok, ada hal penting yang mau aku omongin

Mine : Oke, dimana?

Me : Kafe biasa

Pulang kerja, aku langsung buru-buru dateng ke kafe tempat kami biasa bertemu. Disitu sudah ada Daniel dengan pakaian kerjanya yang sudah sedikit berantakan. Kami hanya memesan minuman untuk kami saja.

"Aku langsung ke intinya aja ya, Ris, aku rasa hubungan kita udah hambar gak sih? Aku ngerasa monoton, gini-gini aja. Udah gak ada hal-hal baru di hubungan kita. Kita udah sama-sama sibuk, buat ketemu aja susah kan? Kamu sependapat gak?"

"Sependapat."

Daniel cukup terkejut melihat reaksiku. Panjang lebar dia berbicara, namun aku hanya mengeluarkan satu kata. Lalu aku tersenyum.

"Karena gak ada yang namanya sibuk untuk sekedar membalas pesan kalo kita adalah prioritas. Jadi pertanyaannya adalah apakah aku masih prioritas kamu atau engga?" tanyaku pelan.

Daniel terdiam. Menunduk.

"Kamu mau kita gimana? Putus?" lanjutku.

"Ya aku rasa baiknya gitu. Aku yakin kamu bakalan dapet yang lebih baik dari aku."

"Aamiin."

"Atau memang udah ada penggantinya?"

Aku tersenyum. Mengapa pertanyaannya seolah-olah penyebab hubungan ini kandas adalah aku?

"Syukurlah kalo gitu." ucapnya.

"Makasih ya, Niel, buat 3 tahunnya. Sama kamu aku bahagia. Kamu banyak ngasih tau aku hal baru. Maaf kalo aku banyak kurangnya selama 3 tahun ini. Aku berdoa supaya kamu selalu bahagia. Aku pamit ya, Niel. Salam buat keluarga kamu, dan Miranda."

Ada raut wajah terkejut saat aku menyebut nama perempuan itu. Namun aku hanya tersenyum dan meninggalkan tempat itu setelah aku pamit.

Memang rasanya sakit, begitu banyak kenangan yang kami ukir selama itu. Suka duka kami lewati. Kalau ditanya obat paling ampuh untuk patah hati adalah jatuh cinta lagi, aku belum siap untuk itu.

Bagiku, saat kamu siap untuk jatuh cinta lagi adalah saat kamu sudah memaafkan dirimu dan masa lalumu agar kamu bisa jatuh cinta dengan orang yang baru, bersama dirimu yang baru.

"Ris, gue sebenernya udah lama merhatiin lo, suka sama lo." kata Mario.

"Maaf, Yo, gue belum siap nerima orang baru, gue gak mau lo cuma jadi pelampiasan."

Mario tersenyum, "Oke, gue tunggu kapanpun itu."

Beberapa bulan setelah kabarku dan Daniel putus, Mario datang membawakan cinta yang baru. Aku sudah menolaknya dengan halus dan dia terima. Dia bilang akan menunggu sampai aku siap menerima orang baru.

Setahun kemudian, aku melihat foto Mario bersama kekasihnya.

"Selamat ya, Yo." ucapku sungguh-sungguh.

"Makasih ya, Ris, semoga lo bisa ketemu orang yang tepat buat lo."

"Makasih ya, Yo."

Benar kata, Mario. Aku tidak harus menjadi terburu-buru untuk menemukan seseorang yang tepat, tapi seseorang yang tepat akan bertemu denganku di waktu yang tepat.

* * *

END

Kembali ke Beranda