Yang Tidak Bisa Dimiliki
Teen
28 Dec 2025 29 Dec 2025

Yang Tidak Bisa Dimiliki

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2025-12-29T080114.604.jfif

download - 2025-12-29T080114.604.jfif

29 Dec 2025, 03:49

download - 2025-12-29T080109.520.jfif

download - 2025-12-29T080109.520.jfif

29 Dec 2025, 03:49


Setelah terdengar pluit wasit berbunyi, dengan santai gue berjalan ke kursi penonton, dimana banyak temen-temen gue duduk. Gue mengambil botol minum dan meneguk airnya, setelah selesai gue seka dengan punggung tangan gue.

Gue melirik rombongan anak-anak cewek yang juga masih satu sekolah dengan gue. Gue kenal dengan beberapa di antata mereka. Ada satu geng yang isinya cantik semua, mereka berempat, dan gue tertarik dengan salah satu dari mereka. Gue melihatnya cukup lama, dia sedang berbincang dengan teman-temannya, senyumnya mampu membuat bibir gue ikutan tersenyum.

Sampai akhirnya salah seorang temen gue menepuk pundak gue, "Yang mana, Bas?" tanyanya. Gue hanya menunjuk ke arahnya dengan dagu gue. "Kenny?"

"Namanya Kenny?"gue memastikan.

"Iya, dia emang imut sih, ngegemesin."

Namanya Kenny, CATET!

Keesokan harinya, pas jam istirahat, seperti biasa, gue dan temen-temen gue makan di kantin, tiba-tiba anak basket tim cewek minta ikut gabung satu meja dengan kami. Di depan gue duduk seorang cewek, cantik memang, salah satu dari geng yang isinya cewek cantik yang gue ceritain itu.

"Hallo, Bas!" sapanya.

"Hallo." balas gue sekenanya.

"Kemarin Bastian ini ngeliatin lo terus, Ken, sampe gak kedip, sampe senyum-senyum sendiri." sahut Ian, temen basket gue.

Ken? Kenny? Jadi yang namanya Kenny bukan cewek yang gue taksir? SHIT! Salah orang!

"Serius, Bas?" tanya Kenny memastikan.

Posisi gue sekarang? Kikuk lah! Gue kan harus menjaga harga diri dia. Masa iya gue harus bilang 'Kenny, si Ian salah orang' itu bukan ide yang bagus.

"Ri! Riri!"

Si Kenny ini setengah teriak memanggil nama seseorang, karena cukup mengganggu, gue ikutan nengok kan!

Dia! Dia! Itu dia! Riri!

"Sini, Ri!" panggil Kenny lagi. Cewek bernama Riri ini datang mendekat. Entah kenapa jantung gue yang biasanya anteng ini mendadak brutal.

"Apa, Ken?"

"Kok sendiri?"

"Yang lain OSIS."

"Gabung aja." gue melontarkan saran yang ada di hati gue tanpa sempat di saring otak gue.

"Eh iya, gabung aja sini, Ri. Daripada sendirian."

Setelah mendapat persetujuan dari banyak pihak, Riri setuju untuk gabung. Kenny menggeser posisi duduknya, hingga sekarang Riri duduk di depan gue. Entah kenapa senyaman itu cuma duduk depan-depanan sama Riri.

Waktu pun berlalu, setiap hari gue selalu mencari informasi soal Riri. Namanya Arinda, di panggil Riri, anaknya ramah banget, ke semua orang tepatnya. Banyak fansnya, baru putus sama cowoknya, lagi deket sama Kakak Kelas, dan ternyata banyak anak-anak basket yang naksir sama dia termasuk Ian.

"Ya sebenernya gue udah feeling kalo lo bakalan naksirnya sama Riri, cuma dari pada nambah-nambahin saingan ya gue belokin aja ke Kenny. Tapi gue pikir lo emang sukanya sama Kenny, soalnya selain suka sama Riri, gue juga suka sama Kenny, dia imut banget, tapi kalo gue salah ya maaf, lagian kan sekarang lo jadi deket sama Kenny."

Iya, gue emang jadi deket sama Kenny, tapi supaya Riri ngeliat adanya gue di hidup dia. Karena kalo gak karena Kenny, mungkin dia bisa secuek itu ke gue. Sekarang kita sering tegur sapa kalo ketemu, kadang dia juga ketawa kalo gue ajak becanda. Sederhana, tapi bikin bahagia.

Malem ini malem minggu, gue dateng ke ulang tahun Megan, anggota tim basket cewek. Penampilan udah gue bikin sekeren mungkin karena gue tau pasti ada Riri. Dan bener aja, dia dateng, sekarang lagi ngobrol sama anak-anak cewek. Seperti biasa, jantung gue selalu brutal tiap ngeliat dia.

Pandangan gue yang melihat Riri dari jauh, terhalang Kenny yang sekarang berdiri di depan gue. Dia cantik. Dan tersenyum.

"Bas, boleh ngomong sebentar?" pintanya pelan. Gue mengangguk. Riri melihat ke arah gue dan melempar senyum, temen-temennya juga.

Coba tebak apa yang mau di omongin Kenny ke gue? DIA NEMBAK GUE!

Gue terjebak! Dari awal gue emang udah salah langkah!

"Tengkyu ya, Ken, udah suka sama gue, udah berani nyatain perasaan, tapi sorry, Ken, gue suka sama cewek lain. Sorryyyy banget gak bisa terima perasaan lo." Gue berusaha untuk mengatur nada bicara gue selembut mungkin supaya Kenny gak marah.

Dia diam sesaat. Ekspresinta agak kaget, lalu berusaha tersenyum, matanya berkaca-kaca.

"Oh? Ya? Uhm, it's okay! Gak apa-apa, Bas, gue ngerti. Yaudah kalo gitu gue gabung sama yang lain dulu ya. Daaah"

Kenny berlari ke arah cewek-cewek dimana disitu ada Riri, tanpa di kasih tau, gue yakin mereka sekarang ngeliat ke arah gue dengan tatapan kesal. Gak lama Kenny pergi meninggalkan kumpulan itu, hanya tersisa Riri dan Vina.

Acara pesta ulang tahun Megan selesai. Ian mengajak gue nginep di rumahnya, kebetulan kami membawa kendaraan masing-masing, Ian pergi duluan karena gue harus pamit dengan Megan. Ketika gue pamit, masih ada Riri dan Vina.

"Kebetulan masih ada lo! Bas, anterin Riri pulang ya. Tadi dia kesini bareng Kenny, tapi Kenny pulang duluan. Vina mau nginep di rumah gue"

"Oh? Ririnya mau?"

"Ngerepotin gak, Bas?"

"Engga kok, Ri, santai. Lagian udah malem juga kan."

Yes! Akhirnya kesempatan itu datang! Gue bisa berduaan sama Riri. Gue sengaja membawa mobil gue pelan-pelan, supaya bisa lama sama Riri.

Awalnya kami berbincang asik. Membahas basket, pelajaran, masa kecil, dan masih banyak. Sampai akhirnya.

"Kenapa, Bas?"

"Apanya?"

"Kenapa nolak Kenny?"

Gue diam sesaat, "Karena emang bukan Kenny yang gue suka, Ri."

"Bukannya waktu itu lo nitip salam buat Kenny?"

SHIT! Pasti Ian!

"Sebenernya salah paham, Ri,"

"Salah paham gimana?"

"Cewek yang gue suka itu..." kalimat gue terputus, gue takut. Gue takut Riri jadi benci sama gue. Gue menghela nafas, memberanikan diri, "cewek yang gue suka itu lo, Ri!"

Riri menoleh. Gue membalas pandangannya, untuk menyakinkan kalau gue gak bohong. Riri mengalihkan pandangannya.

"Waktu itu yang gue liat lo, tapi Ian mikirnya gue ngeliatin Kenny! Gue bener-bener suka sama lo, Ri!"

Riri terdiam. Sejak saat itu, suasana kami menjadi hening. Sampai akhirnya kita sampai di depan rumah Riri.

"Makasih ya, Bas, udah repot nganterin gue." ucap Riri. Gue mengangguk sambil tersenyum. Riri terlihat kikuk, seperti ingin membicarakan sesuatu, "Uhm, Bas, gue tau situasinya salah paham, gue juga tau lo gak bermaksud untuk nyakitin Kenny, tapi Kenny itu sahabat gue, Bas! Gue sayang sama Kenny!"

Kalimat tersirat Riri barusan sudah cukup menjelaskan kalau gue harus memupus harapan gue untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Riri. Ternyata sesakit ini rasanya di tolak meskipun gue tidak meminta apapun dari dia.

Dia yang tidak bisa dimiliki, bukan karena gue tidak berusaha, tapi langkah gue yang udah salah di awal. Ternyata bener-bener sesakit ini.

Dan sejak malam itu, gue cuma bisa mandangin Riri yang tertawa dengan teman-temannya, sampai terakhir gue melihat dia waktu kami lulus SMA, setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi.

Sampai akhirnya, setelah hampir 15 tahun tidak pernah ada kabar tentang dia, Vina merepost postingan Riri...

END....

* * *

Kembali ke Beranda