Gambar dalam Cerita
Widi senang sekali saat mengetahui kalau liburan sekolah kali ini mereka akan berlibur ke Bandung, mama sudah mempersiapkan semuanya untuk perjalanan. Adik kecil Widi yang bernama Niko juga sudah tidak sabaran untuk segera berangkat sore ini menunggu ayah pulang.
Tidak lama, suara mobil ayah terdengar, merekapun segera menyambut Ayah dengan gembira.
Mama mengambikan ayah secangkir kopi.
"Kita mau jalan jam berapa yah?" Tanya mama
"Sehabis maghrib ya, ayah mau istirahat sebentar" jawab ayah.
"Hotelnya udah ayah pesan?" Tanya mama
"Belum sempat mah, nanti aja sekalian pas disana, mungkin harganya malah lebih murah" jawab ayah dengan santainya.
"Bagaimana si ayah, kalau nanti susah dapet hotelnya bagaimana?" Tanya mama sedikit kecewa.
"Ini kan Bandung mah, hotel ada dimana mana" jawab ayah dengan santainya.
Akhirnya setelah sholat maghrib mereka semua berangkat dari Jakarta menuju ke Bandung.
Mereka tidak menyangka jalanan menuju ke Bandung sangat padat, bahkan dari tol saja sudah tidak bergerak, mereka lupa bahwa ini libur sekolah, pasti banyak yang berpergian atau pulang kekampungnya.
Sudah hampir jam 12 malam mereka baru bisa keluar dari pintu tol dan jalanan pun tersendat sendat.
Akhirnya ayah memilih untuk masuk ke jalan kecil dan menyalakan Google MAP mencari hotel terdekat.
Saat diperjalanan Widi merasa ada yang aneh karena jalanan yang mereka lewati semakin mengecil.
"Ayah yakin bisa jalan lewat sini?" Tanya Widi
"Ayah kan ikutin map saja sayang, kalau menurut map ini sekitar 20 menit lagi ada hotel terdekat, kita bisa menginap disana dulu untuk beristjrahat, ayah sudah merasa lelah menyetir" jawab ayah.
"Lagian ayah juga, mama kan sudah bilang booking hotel dari jauh hari" ucap mama kesal.
"Kamu lihat saja jalanan macet begitu, bagaimana juga kalau kita booking hotel, entah kapan sampainya" jawab ayah.
Tiba tiba di depan jalan semua lampu mati, jalanan sangat gelap hanya terlihat lampu dari mobil yang membantu mereka melihat kondisi jalanan.
Didepan ayah mengerem, sepertinya ayah menabrak sesuatu karena jalanan yang sangat gelap.
"Duk" suaranya cukup kencang
Ayah pun menghentikan mobilnya, dan berusaha melihat dari dekat apa yang menabraknya.
Ternyata ada seorang pemuda sedang merintih kesakitan.
"Maaf kang, saya tidak lihat soalnya jalanannya gelap sekali" ucap ayah merasa bersalah
"Iya tidak apa apa pak, memang sedang mati lampu" ucap pemuda itu sambil memegang kakinya.
"Apa ada yang terluka? Saya bantu kerumah sakit ya?" Ucap ayah
"Tidak usah pak, saya mau masuk.kerja" jawab lelaki itu
"Ya sudah saya antar ya, kerja dimana?" Tanya ayah.
"Di hotel ceria pak" jawab pemuda itu
"Hotel? Apakah dekat dari sini?" Tanya ayah.
"Kurang lebih 10 menit lagi pak kalau naik mobil" jawab lelaki tadi
"Baguslah kami memang sedang mencari hotel, kamu bisa antarkan kami kesana? Ucap Ayah
Akhirnya lelaki itu ikut bersama di mobil kami, dan dia memperkenalkan dirinya bernama Yadi, dia pun menunjukkan jalan untuk menuju ke hotel.
Diujung jalan sempit itu terlihat cahaya lampu yang menyorot tajam, setelah lebih dekat ternyata itu adalah papan signage yang terpampang besar didepan pintu masuk "TAMAN WISATA KAMPUNG CERIA" padahal ini sudah lewat tengah malam.tetapi saat masuk ke dalam suasana lampu, orang dan hingar bingar musik dari mainan anak masih terlihat jelas, ternyata ini adalah tempat wisata yang sangat besar di Bandung, banyak orang menggunakan kostum, ada badut, ada banyak.atraksi yang menarik.
"Ini kan sudah tengah malam, kenapa ramai sekali?" Tanya Widi
"Oh kalau lagi liburan sekolah begini taman wisata kami buka 24 jam" jawab Yadi
"Wah seru banget, aku mau main" ujar Niko
"Besok pagi ya Niko, ayah sudah capek sekali" jawab ayah dengan wajah lelah.
Akhirnya mereka sampai di hotel ceria, terdiri dari beberapa kabin terpisah, setelah mendaftar ke resepsionis diantar Yadi, mereka pun akhirnya berpisah dan masuk ke dalam kamar.
"Aduh seneng banget lihat kasur, badanku pegel banget mah" ucap ayah.
"Iya pah aku juga" jawab mama
Dan setelah mencuci muka mereka akhirnya langsung tertidur lelap.
Begitupun Niko saat merebahkan badannya dikasur juga langsung tertidur.
Widi melihat mereka sangat kelelahan, Widi pun mencuci muka, tapi anehnya dia tidak merasakan kantuk.
Widi membuka jendela, melihat cahaya lampu dan kemeriahan diluar yang penuh warna.
"Aneh" fikir Widi tempat wisata buka 24 jam.
Tidak lama ternyata Widipun tertidur pulas.
Cahaya matahari yang masuk kekamar membangunkan Widi.
Dia melihat Ayah, ibu dan Niko sudah siap dan sudah mandi.
"Ayo kak, cepat aku mau sarapan habis itu mau berenang, terus mau main di wahana" ujar Niko.
"Cepat kamu ganti baju, ga usah mandi dulu" ayah menyuruh Widi bergegas.
Mereka menuju restauran hotel untuk sarapan, dengan aneka masakan khas sunda dan roti rotian, mereka sarapan sambil menikmati hari tersebut suasana sarapan kali ini sangat sepi tidak seramai malam kemarin.
Akhirnya mereka menuju kolam renang, dengan area yang luas dan wahana yang menarik, Niko langsung menyebur kekolam tersebut, Widi sedang bersiap siap berganti baju, dia mencari ruang ganti, tetapi dia tidak ketemu, tiba tiba dia bertemu lagi dengan Yadi.
"Mencari apa teh" ucap Yadi
"Eh kamu Yadi, aku lagi cari ruang ganti" jawab Widi
"Ayu saya antar" ucap Yadi
Widi mengikuti Yadi naik ke tebingan jalan dan lumayan jauh dari area kolam renang dan dia menemukan pintu seperti gua.
"Ini ruang gantinya" ucap Yadi
"Ini seperti Goa" jawab Widi dan setelah masuk.memang sangat gelap
"Temanya memang tentang alam" jawab Yadi keluar ruangan setelah mengantarkan Widi.
Akhirnya Widi dan Niko bersenang senang, walaupun hanya mereka berdua dikolam renang itu, Widi hanya berfikir mungkin mereka datang terlalu pagi.
Setelah berenang mereka memainkan semua atraksi wahana, tetapi anehnya Widi.merasa orang-orang bertopeng itu selalu melihat ke arah mereka, dan sekali lagi hanya merekalah yang ada disini.
Tidak terasa mereka bermain seharian sampai malam, begitu mereka merasa lelah dan ingin kembali ke hotel, suasana lampu dan orang orang mulai ramai lagi seperti semalam, oh mungkin ini memang ramai dimalam hari seperti suasana pasar malam, fikir Widi kembali.
Akhirnya mereka sampai di hotel, ayah, ibu dan Niko langsung tertidur lelap.
Tapi Widi sama.sekali tidak bisa memejamkan matanya, akhirmya Widi memutuskan untuk keluar, melihat keramaian tengah malam.di Taman Wisata Kampung Ceria ini.
Anehnya saat melintasi.keramaian bulu kuduk Widi berdiri, mereka semua seperti tidak menghiraukan kehadiran Widi, sampai akhirnya Widi ke area kolam renang tadi, sangat ramai orang berenang tidak seperti pagi tadi, tiba-tiba Widi dikejutkan dengan laki-laki tua dengan rambut penuh uban memanggilnya.
"Neng..neng.." ucapnya sambil melambai ke arah Widi
Widi berlari ketakutan, menuju ke arah hotel.
Tiba-tiba laki laki tua itu sudah berada didepannya.
"Apa.yang kamu lakukan?" Tanyanya
"Jangan macam-macam pak, saya akan teriak kalau bapak.mengganggu saya" ucap Widi
"Neng jangan takut, saya justru mau menolong neng, neng tersesat?" Tanya bapak itu
"Tidak pak, saya ingin kembali ke hotel" ucap Widi
"Hotel apa neng?" Tanya bapak tua tadi
"Ya hotel ceria lah" jawab Widi masih dengan nada ketakutan
"Neng tahu sekarang neng dimana?" Tanya bapak tua tadi
"Di taman wisata kampung ceria lah pak" jawab Widi
"Neng coba lihat sekali lagi sekeliling" jawab bapak tua tadi
Tiba-tiba Widi menyadari bahwa suasana sepi tidak ada orang sama sekali, tidak ada lampu, tidak ada wahana bermain, semua yang dia lihat adalah taman bermain tua yang sudah tidak berpenghuni ditumbuhi tanaman rambat dan tidak ada orang sama sekali.
"Tadi ramai pak" jawab Widi ketakutan
"Kamu sama siapa kesini?" Tanya bapak tua tadi
"Sama keluarga saya pak" jawab Widi
"Ayo antar bapak ke kekeluargamu" jawab bapak tua tadi.
Widi berjalan dengan bapak tua tadi menuju ke arah kamar, betapa kaget Widi, ternyata dia melihat ayah, ibu dan Niko sedang tertidur pulas di rumput dibawah pohon beringin yamg besar.
"Ayah, ibu, Niko bangun kita harus segera pergi dari sini" ucap Widi
Mereka akhirnya membuka mata mereka, dan menyadari bahwa sekeliling mereka hanyalah kebun kosong, didekat mereka seperti ada kantor hotel yang sudah tua dan tidak terurus.
"Kenapa jadi begini tempatnya" ujar Niko kebingungan
"Kamu siapa?" Tanya ayah kepada lelaki tua itu
" Saya Jajang pak, penduduk sini, rumah saya dekat dengan taman wisata ini, tadi pas saya mau pulang kerumah, saya lihat anak bapak tengah malam jalan sendirian, saya yakin pasti ada yang aneh, makanya saya menghampirinya pak" jawab Jajang
Tanpa berfikir lama mereka segera menuju mobil dan pergi meninggalkan taman wisata tersebut, dan Jajang menawarkan mereka untuk menginap dirumahnya sambil menunggu pagi.
Disitulah Jajang bercerita kalau taman wisata kampung ceria ini, dua puluh tahun yang lalu adalah taman wisata terbesar di wilayah Bandung, ramai dan penuh atraksi. Sampai pemiliknya mengalami kebangkrutan bisnis dan tidak bisa mengelola taman wisata ini lagi, dan akhirnya taman wisata ini menjadi terbengkalai dan menjadi penuh misteri.
"Bagaimana kalian bisa sampai kesini?" Tanya Jajang
Diceritakan oleh ayah pertemuan mereka dengan Yadi dan dialah yang mengantarkan mereka ke taman wisata kampung ceria.
"Yadi ciri-cirinya seperti apa? Tanya Jajang penasaran
Setelah ayah jawab, Jajang pun memberitahu kalau Yadi dulu adalah penjaga kolam renang di kampung ceria, dan dia ditemukan meninggal dikolam renang tersebut sekitar 15 tahun yang lalu, bersamaan dengan mulai ditutupnya kampung ceria ini,dan mayatnya dikuburkan di atas tebing dekat kolam renang, Widi jadi teringat tempat Yadi mengajaknya ke ruang ganti, jangan-jangan itu adalah tempat kuburannya Yadi.
Widi tidak menyangka dengan kejadian yang dialaminya, semua tampak terasa nyata.
Pagi hari saat mereka berpamitan, mereka melewati gerbang taman wisata kampung ceria, disitu mereka lihat gerbang sudah ditumbuhi daun jalar dengan kondisi rusak dan menyeramkan.
Tiba tiba Widi melihat sosok wajah yadi di pos gerbang melihat ke arah mereka.