Gambar dalam Cerita
Suara langkah kaki dari ujung koridor membuat seorang gadis mempercepat langkahnya, bahkan kini ia mulai berlari untuk menghindari orang yang baru saja membuat keributan itu.
"Gisel!"
Gisel seolah menulikan telinganya, ia lelah, lelah dengan Andra yang masih berstatus sebagai pacarnya itu.
Grep!
Andra berhasil memegang lengan Gisel dan menghentikan cewek itu, mereka terengah-engah.
Saat di rasa sudah cukup untuk terdiam, Gisel membalikkan badan, menatap Andra dengan wajah galaknya.
"Kamu marah sama aku cuma karena cowok itu?" tanya Andra, rahangnya mengeras, pertanda ia marah besar, tetapi bukan Gisel namanya kalau menurut dengan Andra.
"Andra, aku sama dia cuma temen. Dia baik sama aku karena dia udah bantuin aku nyelesain proposal buat event sekolah."
"Kan masih ada anak OSIS yang lain, kenapa harus cowok? Ini nih yang aku nggak suka kalo kamu ikut organisasi kaya gitu."
"Anak OSIS lain juga pada sibuk ngurus seksi yang dia urus, masih untung aku di kasih bantuan, lagian mau aku ikut organisasi atau nggak ya itu urusanku!"
Andra menggeram, ia marah dan kesal karena semakin hari Gisel semakin berani melawannya dan membantah setiap ucapannya.
"Aku nggak suka ya kamu ngelawan aku kayak gini," ucap Andra. Menekankan setiap kalimat yang terucap dari bibirnya.
"Aku juga nggak suka kamu buat keributan kayak tadi sampe mukul Rian!" sentak Gisel, menyebut nama cowok yang menjadi inti dari permasalahan mereka.
"Sebut namanya sekali lagi!"
"Rian! Rian! Rian!" Gisel mengangkat wajahnya dengan angkuh, seolah berkata, 'mau apa lo?' dengan sangar.
Andra menarik Gisel menuju parkiran sekolah, membuat cewek itu kelabakan sendiri.
"Andra! Ngapain ke parkiran? Bentar lagi aku ada kuis dari Bu Lidia!" Di antara semua hal, Gisel paling tidak suka melewatkan nilai tambahan atau apapun yang dapat mengurangi nilainya, itu sebabnya Gisel selalu menjadi murid teladan, kesayangan para guru.
Gisel terus meronta tetapi tenaga Andra lebih besar dari dirinya, hingga mereka sampai di depan mobil mewah milik Andra.
Tanpa banyak bicara, Andra memaksa Gisel untuk masuk ke dalam mobilnya, diikuti dengan Andra.
"Aku mau turun! Aku nggak mau jadi urakan dan sering bolos kayak kamu ya Andra!" jerit Gisel.
"Orang yang kamu sebut urakan dan sering bolos itu pacar kamu," desis Andra. Ia melajukan mobilnya, menyogok Pak satpam dengan beberapa lembaran merah di dalam dompetnya.
Gisel mendengus kesal saat mereka sudah berhasil keluar dari kawasan sekolah mereka, rasanya ia ingin mengumpat keras-keras.
Bukan salahnya memilih Andra, salah kan Andra yang dulu sangat manis hingga ia menerimanya menjadi pacar. Tetapi entah kenapa, semakin ke sini, Andra malah semakin possessive dan pencemburu.
Gisel benci di kekang seperti ini, jika saja ia tau akhirnya akan seperti ini, mungkin ia akan memilih tidak mengenal Andra.
Mobil Andra berhenti di jalan yang sepi, membuat Gisel sedikit ketakutan, ia kemudian menatap Andra dengan horor.
"Kita ngapain berhenti disini?! Kalau kamu nggak mau nganter aku balik ke sekolah, yaudah. Aku bisa sendiri kok." Gisel hendak membuka pintu mobil itu tetapi dengan cepat Andra menahan pergerakannya.
Napas Andra terasa di leher Gisel karena saking dekatnya wajah mereka, Gisel tau seperti apa Andra jika sedang marah, cowok itu seperti orang yang kesetanan, melampiaskannya pada siapa saja termasuk Rian, salah satu anggota OSIS yang paling dekat dengan Gisel.
"Udah berapa kali aku bilang, turutin aku, kamu aman," ucap Andra tepat di telinga Gisel, membuat gadis itu sedikit meremang.
Gisel mendorong Andra dengan kasar.
"Cukup ya, selama ini aku udah ngalah buat keegoisan kamu, aku juga udah sabar sama sikap posesif kamu, tapi sekarang aku muak, aku benci di kekang!"
Gisel pikir Andra akan melakukan sesuatu yang lebih jauh mengingat sikap cowok itu, tetapi ia salah.
"Oke, kalau kamu ngerasa aku ngekang kamu lebih baik kita ... putus."
Andra memejamkan matanya, menahan hujaman rasa sakit yang ada di hatinya, sedangkan Gisel terbelalak, tak menyangka jika Andra semudah ini memutuskan hubungan mereka.
"Ndra, ka-kamu serius?"
Memang ini yang Gisel inginkan, putus dari Andra dan mendapatkan kebebasannya kembali, tapi ia tak menyangka keinginannya akan terkabul semudah ini.
Kenapa sakit ya?
Gisel dan Andra sama-sama terdiam setelahnya, tak ada yang berbicara, bahkan Gisel pun mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobil itu.
Andra menghela napas, ia menyenderkan kepalanya, enggan menatap Gisel yang kini sedang kebingungan.
"Ndra, kamu ... serius?"
"Kamu mau turun kan? Yaudah turun," ucap Andra, tanpa melihat ke arah Gisel, takut jika pertahanannya runtuh seketika.
Gisel menggeleng tak percaya, kemudian ia keluar dari mobil Andra dengan perasaan campur aduk, kenapa? Kenapa ia tak rela?
***
Satu minggu kemudian .
Gisel termenung di kamarnya, sejak ia putus dengan Andra entah kenapa ia merasakan kehilangan yang amat sangat besar.
Dulu, Gisel tak pernah suka di kekang oleh Andra. Andra yang possessive , cemburuan, dan egois membuat Gisel ingin putus darinya, lalu kenapa sekarang ....
Pandangan Gisel beralih pada sebuah surat berwarna biru yang berada di atas nakasnya.
Surat itu adalah pemberian dari Andra tiga hari sebelum mereka putus, Andra bilang bahwa ia tak boleh membuka surat itu sebelum mereka putus, aneh memang, tetapi itulah Andra, penuh dengan teka-teki.
Setelah mengumpulkan keberaniannya, Gisel mengambil surat itu dan membukanya hingga nampak kalimat yang tersusun rapih dengan tinta hitam.
Hai, Giselove.
Aku Andra, pacarmu atau mungkin udah mantan (?) Aku nggak tau apa yang akan terjadi kedepannya.
Aku ingin kamu tau Gisel, Aku sayang kamu.
Saat kamu nerima aku buat jadi pacar kamu hari itu, aku senang, sangat malah. Sampe rasanya aku pengen bilang kalau kamu itu pacarku.
Tapi, takdir berkata lain, dua bulan setelah kita pacaran, aku punya kelainan jantung. Dokter memvonis aku kalau umurku udah nggak lama lagi.
Kamu tau? Bolosnya aku selama ini karena aku lagi berobat buat menyembuhkan penyakitku. Aku nggak ingin kamu tau, karena aku nggak mau kamu khawatir.
Sayangnya, dokter bilang kalau usiaku tinggal menghitung hari, aku takut, takut kehilanganmu.
Karena itu aku possessive sama kamu, karena aku ingin menggenggam kamu, sampai aku nggak mampu lagi untuk menjaga kamu.
Maaf ya kalo kamu ngga nyaman.
Sekarang, aku udah nggak mampu lagi buat ngejaga dan mempertahanin kamu, kamu berhak lepas dari aku.
Kamu boleh cari pangganti aku, tapi aku mohon.
Jangan lupain aku, karena aku pernah mengisi kebahagian kamu.
Dari : Andranya Giselove
[ E N D ]