Gambar dalam Cerita
Rinai menari-nari di nabastala. Memancarkan mega rucita. Dayita gata meninggalkan bekas di indurasmi. Headphone telah terpasang di kedua telinganya, tiada terpengaruh kampa di sekitarnya.
Memandangi halaman depannya membuatnya bernapas lelah. Dia sadar, hidupnya tidak lama lagi. Tetapi, dia berusaha terlihat baik dan kuat walau sebenarnya dia sangat rapuh. Bahkan, tidak ada kata kokoh lagi di hatinya.
Lampu merah berubah ke warna kuning, menandakan khalayak umum boleh melewatinya tanpa merasakan takut akan kecelakaan nantinya. Dia mulai melangkahkan kakinya dengan kekuatan setengahnya.
Dia tidak bisa memaksakan hasratnya. Dia harus bisa membagi waktu antara atma dan kampusnya. Terlihat sepele, tetapi baginya itu butuh kekuatan dan kesabaran untuk menahan sakitnya yang dia derita tersebut.
Kini, kampus terlihat seperti pasar. Iya, pasar, di sana tempatnya sangat ramai. Ada yang berbahagia, tertawa, tersenyum, bahkan gila di tempatnya. Namun, untuknya? Ha-ha, terasa konyol.
"Selamat pagi, bro," sapanya.
Aku menoleh ke belakang. Anggukan kecilku, dia memahaminya. Bisa dikatakan, dialah yang dekat denganku. Namun, dekat-dekatnya denganku. Dia juga tidak tahu kalau aku memiliki penyakit.
"Ngomong-ngomong, kamu sudah selesai tugas yang diberikan Pak Ardan?" tanyanya.
"Pasti. Belum?" tanyaku.
Terlihat giginya putih bersih membuatku mengangkat kedua bahu acuh. Dia itu pintar sebenarnya cuman ... entahlah. Aku akan menunggunya untuk merubah pola pikirnya itu.
Bel kampus terdengar di telinga kami. Kami mempercepat langkah kami agar tidak terlambat di ruangan nantinya. Tepat bel ketiga, kami tiba di sana. Jangan lupakan seseorang yang akan mengisi hari ini.
Bapak Pandiwijaya, dipanggil Pak Jaya. Siapa yang tidak mengenalinya? Jangan harap kampus sini tidak mengenalinya. Pasti kenal dengan beliau. Beliau termasuk jajaran dosen killer di kampus Gandaria.
Bagi mereka, bagiku dan Charlie, temanku. Pak Jaya adalah dosen yang paling kami sayangi dan banggakan. Ditanyakan, alasannya? Apakah harus ada alasan untuk menaruh perhatian dan kasih di sana? Tidak, bukan?
Tidak hanya Pak Jaya saja. Ada dosen yang membuatku kagum dengan beliau. Namanya adalah Bapak Zein Ahmad, dipanggil Sen Mad. Lucu, bukan? Bagi kalian, bagiku, tidak. Mengapa beliau dipanggil begitu? Kata beliau, teman-temannya sering memanggilnya dengan sebutan Mad. Sedangkan, Sen diambil nama ujung gelar dari 'Dosen', yaitu 'Sen'. Jadi, kalian pikirkan saja.
Bianglala memenuhi atma. Chandra menampakkan visus nya. Harsa sahaja sudah aku miliki tanpa dari orang lain melainkan dari diriku sendiri. Usai kampus, aku jalan-jalan sebentar. Ingin memberikan ruang untuk jiwaku.
Mataku menangkap seorang anak kecil. Ditangannya ada setangkai bunga anggrek. Teringat temanku, Rena. Dia sangat mencintai bunga anggrek. Eh, sebentar. Aku melupakannya. Di manakah dia sekarang? Dia juga teman terdekatku.
Saking nyamannya di bawah akara. Ujung kaos oblongku ditarik-tarik oleh seseorang. Aku menyadarkan kepalaku dengan gelengan kecil dan menoleh ke bawah. Anak kecil ini? Barusan aku bicarakan tadi. Mengapa dia mendekatiku?
Aku berjongkok guna mensejajarkan diriku dengannya. Lalu, aku berkata, "Halo, manis. Ada yang bisa Kakak bantu?" tanyaku sambil tersenyum tipis.
Dia juga membalas senyumanku. Tiba-tiba, dia menyerahkan sebuah kotak kecil yang biasanya terisi oleh cincin. Mengernyit heran, jelas. Aku tidak mengerti apa-apa dengan kotak kecil ini. Lagian, buat apa aku menyimpannya?
"Simpan ini baik-baik, Kak. Ini akan berguna nantinya, Kak. Kalau boleh tahu, nama Kakak siapa, ya?" tanyanya.
Wajahnya bulat, putih dan bersih. Aku melihatnya jadi lucu sendiri. Sebentar, wajahnya mirip seseorang. Tetapi, siapa? Oh ya, apakah dia sendirian di sini? Mana orang tuanya?
"Panggil kakak, Rel, okay? Ngomong-ngomong, kotak kecil ini kok buat Kakak, sih? Lalu, kamu sama siapa di sini?" tanyaku sedikit penasaran.
Dia tersenyum dan berkata, "Kakak lupa denganku, ya? Aku adiknya Anty Rena, Kak. Kalau masalah kotak kecil ini. Aku tidak tahu, Kak. Ini itu pesan dari Anty Rena, Kak," jawabnya.
Sebentar, Rena? Rena memiliki adik perempuan. Sejak kapan? Kok aku baru tahu? Terus, pesan dari Rena. Di mana dia sekarang? Jantungku sedikit berdebar mendengar penjelasannya.
"Hm, begitu. Anty Rena-nya, di mana, Dek?" tanyaku pelan seolah-olah ada sesuatu yang hinggap di benakku. Namun, aku tangkis dan yakin sepenuhnya.
"Anty Rena sudah tiada, Kak Rel," ucapnya.
Wajahku tegang. Duniaku seolah-olah terhenti dan meninggalkan retisalya. Ba-bagaimana bisa? Bukankah dia sehat-sehat saja, apakah dia menyembunyikan sesuatu dariku? Mengapa dia menutupinya? Ataukah, dia tidak ingin aku kesepian walau sebenarnya aku kesepian. Bahkan, sangat kehilangan saat dirinya tidak bersamaku lagi.
"Maksudmu, Anty Rena telah meninggal, Dek?" tanyaku pelan. Bahkan, tidak kedengaran lagi.
"Benar, Kak Rel. Oleh karena itu, aku sebagai adiknya harus melaksanakan amanahnya. Sudah dulu ya, Kak Rel. Aku mau pulang. Takut Bunda mencariku. Ingat, simpan baik-baik, jumpa lagi, Kak Rel," pamitnya.
~~~
Apa kabar, hawk!
Jangan menyembunyikan sesuatu dariku, hawk.
Aku tahu, kamu memiliki penyakit.
Parahnya, penyakit kita sama, hawk.
Huh', udaranya sangat dingin di sini, hawk.
Oh ya, berapa tahun kita tidak bertemu, hawk?
4-5 tahun, 'kan?
Aku kangen kamu, hawk.
Kamu tetap semangat, hawk.
Hatiku selalu ada nama mu, hawk.
Um ....
Sebelumnya, aku minta maaf sama kamu, hawk.
Kali saja, aku pernah menyakitimu melalui perbuatan dan perkataanku ini padamu, hawk.
Huffttt ....
Dekorasinya sangatlah jelek.
Sampai-sampai, aku bosan melihatnya.
Eh, hawk?
Kamu jangan sampai sepertiku ini, ya.
Aku jahil sekali dengan diriku ini.
Jadi, kamu tidak boleh jahil, hawk.
Huh' ....
Sudah dulu, ya, hawk.
Napasku sudah sampai ubun-ubun, nih.
Kalau kamu mendapatkannya ....
Tandanya, aku sudah berada di langit.
Kalau kangen, lihat ke langit, okay.
Love u, Hawk.
Rumah Sakit, Rena Jayanda.
~~~
Satu minggu, waktuku yang dihabiskan hanya membaca berulang-ulang surat mini dari Rena. Aku tak menyangka kalau di kotak kecil itu terdapat kertas gulungan. Tak lupa, cincin perak bertuliskan namaku dan namanya di sana.
Sebegitu dalamnya dia mencintaiku? Padahal, aku tidak menaruh harapan padanya. Akan tetapi, dirinya? Sungguh, ini membuatku bingung dengan keadaannya yang sudah diambil oleh-Nya.
Sang adiknya juga tidak memberitahu apa-apa selain kotak kecil ini. Apakah adiknya tidak berniat untuk menjelaskan tentangnya padaku? Ataukah, dia ingin merahasiakannya padaku juga, begitu?
Argh! Mengapa alur hidupku seperti ini. Aku masih merindukan sosoknya. Hanya dia ... dia yang memahami ku setelah Ibuku wafat. Lalu, sekarang? Aku melupakan kampusku hanya memikirkannya.
Bukannya aku menyalahkan diriku ataupun adiknya. Tetapi, hatiku merasa bersalah karena tidak mengetahui hal ini.
Aku akan mencintaimu sampai hayatku datang, Rena.
Rumah kayu, Arel Pramana Aksa.
[ E N D ]