Gambar dalam Cerita
Perjalanan tertatih-tatih ditempuh mobil sport Andi dengan kokohnya. Kini keempat bannya telah berwarna coklat keseluruhan. Andi dan dan
Pak Ji sedikit terguncang-guncang di dalamnya. Ya, jalan non aspal berlumpur sehabis hujan. becek parah! Sejurus kemudian terlihat ada perkampungan di sisi jalan.
'Nah! Itu rumah saya, terlihat atapnya dari sini!' seru Pak Ji. 'Jika sudi, anak boleh mampir atau menginap,' lanjutnya.
'Ya, nanti saya coba ke sana, sekaligus mengantar bapak pulang!' Kata Andi.
Diam-diam Andi merasa menyukai keadaan desa tersebut. Rapi, asri dan bersih. 'Damai sekali ya rasanya?' Komentar Andi. Tapi Ia merasa heran, mengapa tak banyak warga sekitar yang tampak lalu lalang di sana.
'Ini siang hari, nak! Banyak warga yang kelelahan dari kebun. Mereka sedang istirahat. Sore, baru agak ramai. Tapi jumlah warga di sini memang semakin sedikit, banyak yang pindah ke kota sekarang. Mungkin hanya ada tiga puluh keluarga saja yang menetap di sini, itu pun sudah pada tua seperti saya' jelas Pak Ji.
'Jadi tak ada gadis cantik yang bisa dirayu di sini, Pak?' Canda Andi.
Pak Ji tak membalas candaan Andi dan malah tertawa terbahak-bahak. Sekarang dia paham bahwa Andi adalah seorang anak muda yang ramah dan cukup humoris. Dia menyukainya.
'Belok kiri...! Nah ... itu pondoknya!' Tunjuk Pak Ji. Ya salaaam, akhirnya mereka sampai juga.
Andi memarkir mobilnya di dekat rimbunan pohon bambu. Sambil memutar kemudi mobil, matanya lekat mengamati pondok kecil di
area itu. Ingatannya mendadak kembali ke masa lalu.
Dulu Ia dan kakeknya pernah
duduk bersama di terasnya. Ada
juga neneknya yang wara-wiri mengantar camilan.
PRAK! Ditutupnya pintu mobil, lalu berjalan ke arah pondok. Pak Ji sudah lebih dulu di sana, menyingkirkan dedaunan kering di tangga.
Amazing! Andi takjub memandang pondok mungil itu. Ini pertama kalinya Ia ke sini lagi setelah umurnya dewasa.
'Benar kata Mama, kayunya kuat sekali!' puji Andi. Pak Ji tersenyum kecil menanggapinya.
Semakin dekat, Andi menginjak tanjakan tangga lalu menjejak kaki
di teras. Pak Ji masih saja sibuk menyingkirkan daun-daun kering yang diterbangkan angin ke teras.
Andi mengeluarkan kunci dari
saku celananya, lalu membuka
pintu rumah. Ketika melangkah masuk, seketika serangkaian jaring laba-laba mencaplok wajahnya.
'ADUH...! Kaget saya!' Keluhnya
sambil menyingkirkan jejaring itu. Pemandangan debu bagaikan di area padang pasir pun tergelar di depannya. Spontan Ia mencari masker di saku kemeja dan lalu memasangnya.
' Hasyi! Rumah ini sungguh kotor!' Andi sampai bersin dibuatnya. Ia bersungut-sungut karena sebenarnya Ia punya alergi berat terhadap debu.
Anak muda itu lalu kembali ke teras.
'Tolong bapak bersihkan, ya nanti!' katanya pada Pak Ji.
'Saya mau kembali ke kota sebentar, mengambil beberapa perlengkapan yang tak ada di sini. Saya tertarik menginap di sini beberapa hari.'
ujar Andi.
Pak Ji terbelalak memandangnya. Andi bisa menangkap keresahannya, 'Loh..., kenapa!? Kenapa Pak Ji seperti tak suka, saya nginap...!?' sergapnya.
'Ah, tidak apa-apa, nak!' Saya hanya kaget, karena saya pikir tadi anak sekedar datang saja' jelas Pak Ji.
'Awalnya memang begitu, tapi saya melihat tempat ini cocok buat saya untuk menyepi sementara waktu. Hhhh , saya sedang punya masalah
di kota, Pak. Ada seseorang yang harus saya hindari' keluh Andi.
'Sampai kapan?' tanya Pak Ji.
'Ya, secukupnya!' jawab Andi.
Lagi-lagi Ia merasakan gelagat aneh
dari Pak Ji. Walau tak kentara, namun sangat terasa lelaki tua itu keberatan jika Ia tinggal lama di pondok itu.
'Tapi di sini tak ada listrik, nak! Di bawah ada..., maksud saya, di desa. Tapi kita harus merentangkan kabel yang panjang untuk menyambung aliran listrik ke sini.' lapornya.
'Tapi air ada kan, untuk mandi?'
Andi dan Pak Ji lalu berjalan ke halaman belakang. Di sana tampak toilet dan sebuah sumur.
'Nah, ini ada airnya. Selama saya pergi, tolong bapak beresin semua
ini. Bersihkan!' Perintahnya sambil mengeluarkan uang di dompetnya.
'Ini ada uang, silakan bapak ambil semua, saya mau pondok ini sudah bersih saat saya ke sini lagi, minggu depan!' kata Andi. 'Mengenai kabel tadi, nanti kita bicarakan lagi.'
Pak Ji tampak menyimak dengan
baik semua yang dikatakan Andi. Mereka berbincang serius selama beberapa menit, sebelum bergegas meninggalkan pondok itu.
'Bapak punya nomor telepon yang bisa saya hubungi?' tanya Andi.
Pak Ji menggeleng, 'Saya tak paham pakai begituan, nak!' jawabnya. Andi pun mengerti. Memang biasanya orang-orang tua di kampung tidak paham dengan teknologi.
'Ini kunci pintu saya tinggal, jangan lupa toilet dan semua ruangan di sini dibersihkan ya, Pak! Sumur tadi juga tolong dikuras!' pesan Andi. Ia masih ingin melanjutkan ucapannya, tapi tercekat saat melihat ternyata ada sebuah pondok lain yang berdiri tak jauh dari pondok warisan kakeknya.
Ya, terlihat di sana berdiri sebuah rumah panggung kecil, mirip punya kakeknya, sekitar beberapa meter
saja di depannya. Letaknya agak serong ke kiri. Seingatnya dulu
tak ada rumah lain di situ.
Yang lebih mengagetkan lagi, ada seorang wanita tua, bungkuk dan bertopang tongkat, sedang beku memandangnya dari tadi, di depan rumah sederhana tersebut.
Andi bergidik menyadarinya. Bulu kuduknya berdiri. Sementara Pak Ji agak gelagapan di sampingnya. Sebenarnya itu yang memberatkan pikirannya dari tadi.
'Siapa orang itu, Pak Ji?' tanya Andi pelan. Sementara wanita itu masih beku memandangnya.
'Masuk, Mak! Di dalam saja!' teriak
Pak Ji tiba-tiba. Ia mengabaikan pertanyaan Andi, dan malah berteriak pada wanita itu.
Wanita tua itu bereaksi dingin saja,
Ia tetap memandang ke arah mereka dengan beku. Wush! Angin tiba-tiba berhembus di tempat itu dan rambut putih si wanita tua pun bergoyang.
Andi takjub memandangnya, walau kali ini Ia tak begitu merasakan keanehan lagi, terlebih setelah mendengar penjelasan Pak Ji.
'Maaf, nak! Jangan kaget! Itu saudara Ibu saya. Dia menumpang tinggal di tanah ini. Maaf sebelumnya jika saya lancang membuatkan mereka rumah di lokasi ini, tanpa minta ijin dulu... Saya bingung, harus mencari alamat Pak Darman di mana.' terang Pak Ji.
'Mereka tak punya siapa-siapa lagi selain saya. Dan rasanya saya tak
tega menelantarkannya' lanjutnya.
'Sebentar!' tahan Andy. 'Pak Ji tadi bilang 'mereka', ada berapa orang yang tinggal di situ memangnya?'
'Cuma dua, nak. Ada seorang gadis
muda juga di dalam rumah ... '
'Gadis?' desis Andi. Hatinya sedikit berbunga mendengarnya. Wauw , di daerah sepi, di atas bukit yang tidak berpenghuni seperti ini ada seorang gadis...? Seperti apakah sosoknya? Ia merasa penasaran ingin melihatnya.
'Iya, cucu bibi saya itu. Tapi kalau anak keberatan, saya segera akan memindahkan mereka berdua ke tempat lain. Minggu depan, kalau
anak ke sini lagi, rumah mereka
pasti sudah saya pindahkan lebih jauh ke dalam hutan.'
'Tidak perlu!' tahan Andi. 'Asalkan mereka tak berisik, tak mengapa. Hanya ada dua orang kan?'
Pak Ji mengangguk.
'Saya malah senang, jika punya
teman di sini.' kata Andi.
Meski begitu, Pak Ji tampak tetap resah memandangnya. 'Maaf ya, nak! Saya sengaja menaruh mereka di sini agar saya mudah mengunjunginya setiap waktu. Membawakan mereka bahan makanan atau apapun dari bawah!' paparnya.
'Iya tak apa-apa! Saya juga kan tak tinggal selamanya di sini. Bapak jangan repot-repot membongkar rumah mereka. Biarkan saja! Kasihan ... ' putus Andi.
'Baiklah, sudah sore. Saya pamit
dulu, Pak! Sampai bertemu lagi!'
'Iya, sama-sama! Hati-hati di jalan
ya, nak!' Balas Pak Ji.
'Terima kasih, mari!' pungkas Andi.
Ia beserta mobilnya segera berlalu dari tempat itu. Tersisa Pak Ji yang tampak shock dan kebingungan.
Apa gerangan yang dipikirkannya?