Gambar dalam Cerita
Andi dan mobil sportnya segera berlalu. Pak Ji atau Marji memandanginya hingga hilang di tikungan jalan yang menukik ke bawah. Sebenarnya tadi Andi sempat juga menawarinya tumpangan pulang, tapi ia menolak, karena berniat untuk menengok Mak Ramih sebentar.
Saat Andi benar-benar telah pergi, Marji menoleh ke belakang. Rupanya Mak Ramih sudah beringsut masuk. Rahang wajah Marji mengeras, napasnya tersengal sesaat dan matanya berubah menyala seperti marah. Sambil mengepal tangan, Ia pun melangkah menghampiri rumah Mak Ramih.
Langsung saja Ia masuk ke dalam, tampak Mak Ramih duduk di dekat jendela sambil memeluk tongkatnya ke dada. Seketika rasa marah di hati Marji sirna melihat wanita tua itu seolah menyiratkan tatapan sedih. Sepertinya Ia paham sekali Marji, ponakannya yang baik itu akan memarahinya.
'Siapa orang itu, Ji?' tanya Mak Ramih.
'Cucu Pak Darman ... ' jawab Marji. Seketika Mak Ramih tercekat mendengar jawaban itu, 'Hah...!? Cucu Pak Darman? Anak lelaki yang dulu sering diajaknya ke sini ya?' ulangnya.
'Iya! Rupanya Mamak masih ingat dia...'
Ramih terdiam sebentar, bayangan masa lalu terpampang jelas di ingatannya ...
Tampak seorang bocah lelaki bergayut manja pada sosok Pak Darman, lelaki paruh baya bertubuh gempal, dengan rambut sedikit botak.
Kakek dan cucu itu bermain dengan gembira di teras pondok, sementara Ramih muda sepintas melihatnya dari halaman. Ia sibuk menjemur pakaian.
Tak lama terdengar suara wanita memanggilnya dari dalam pondok, 'Ramiiiiiih...! Apa cucianmu sudah selesai!? Tolong kau angkat sampah ini keluar!'
Ramih muda tersentak, Pak Darman terlihat resah memperhatikannya, 'Dipanggil Ibuk, Ramih!' katanya. Pak Darman memandangnya penuh arti di sela-sela bersantai dengan cucunya.
Ramih mengangguk, dan bergegas berjalan ke tangga belakang. Ia agak kagok, malu pada Pak Darman, karena pakaian yang melekat di tubuhnya cukup basah, sehabis mencuci di kali.
'Banyak lalat! Tolong bawa keluar sampah ini Ramih, nanti biar Marji yang membuangnya!' seorang wanita paruh baya menghadangnya begitu langka Ramih muda mencapai dapur.
Tak lama terlihat Marji muda datang ke sana. Keduanya lalu sibuk mengurus sampah itu.
Sampai di situ. Sampai di situ saja pikiran Ramih melanglang buana ke masa lalu, sebab suara Marji tetiba mengagetkannya. 'Kenapa, Mak?'
'Anak itu. Mau apa dia ke sini?" tanya Ramih kemudian. Penuh selidik.
'Mau nginap beberapa hari di pondok sebelah. Dia setres di kota dan ingin menenangkan diri. Makanya Mamak jangan bertingkah. Tidak perlu seperti tadi, memandangnya lama seperti itu tanpa menyapa ... dia bisa ketakutan' tukas Marji. Mak Ramih terdiam mendengar itu. Matanya kembali memandang keluar.
'Dia tak akan lama di sini kan?' tanya Ramih seolah mencemaskan sesuatu. Sampai di titik ini, Marji pun tampak ikut cemas.
'Berapa lama?' kembali terdengar suara parau Ramih memecah kesunyian. Marji tetap enggan menjawab, namun kemudian lirih berkata, 'Itu juga yang aku cemaskan, Mak! Tapi katanya tak akan lama, sampai Ia merasa lebih baik saja.'
Ramih menarik napas berat. Tatapannya kembali beralih ke luar jendela. Karena paham dengan apa yang dipikirkan bibiknya itu, maka Marji pun berkata pelan, 'Apakah iblis itu akan segera datang, Mak...?' nada suara Marji terasa sekali mengandung ketakutan.
Ramih tak menjawab. Tetiba angin berhembus kuat dari jendela, ujung rambut putih Ramih bergerak ritmis sejenak mengikuti liukan angin itu. Dan di halaman, dedaunan kering jatuh menggelepar ke tanah.
Fragmen singkat itu seolah menghadirkan suasana mencekam. Tampak kedua tangan keriput Ramih mengcengkeram tongkat kayu di dadanya. Sorot matanya kosong, ada kehampaan di sana.
'Mak...!?' tegur Marji penasaran.
'Aku tak tahu, Marji...' akhirnya kembali dengan kesadaran penuh, Ramih menjawabnya. 'Aku semakin tua dan tak mampu mengingat lagi semua hal, termasuk 'berhitung'' ...' lanjutnya.
'Tapi Mamak harus tetap berusaha mengingat dan menghitung hal itu dengan baik! Jika tidak, ...' suara Pak Ji lantas hilang. Lidahnya kelu. Kedua matanya terlihat nanar.
'Rasanya belum, Ji.' sahut Ramih kemudian. 'Asalkan anak muda itu tak tinggal lama, aku pikir aman saja! Atau kau punya ide lain, untuk membawa kami menyingkir sebentar, selama anak muda itu di sini?'
'Kalian mau kubawa ke mana, Mak? Ke tengah hutan untuk diterkam singa!?' keluh Marji. Mak Ramih terkejut mendengar itu.
Marji menghempaskan pantatnya
di sudut ruangan, lalu merebahkan tubuhnya di atas tikar pandan. Matanya dipejamkan, rasanya Ia ingin tidur sejenak. Pikirannya kalut sekali.
'Bagaimana baiknya ya, Mak!? Jika kalian kubawa ke rumahku, istri dan anak-anakku ketakutan pada kalian. Lagi pula, jika ada warga yang melihat kalian kusembunyikan di rumahku, kami bisa diusir! Sedang jika kalian kutaruh di atas bukit ini, masih ada juga warga yang tak setuju...' kata Marji kemudian. 'Aku bingung, Mak! Pusing!'
Maafkan kami, Marji. Kami telah membuat hidupmu susah. Terutama aku ...,' air mata Ramih merembes sedikit dari mata tuanya. Terutama aku ...! Akulah penyebab semua ini.'
'Aku si pendosa! aku mencelakai semua anak cucuku! Hiks, ya Tuhan, mengapa tidak Kau ambil saja nyawaku ini...!?' sesal Ramih sambil menangis. Sangat emosional, hingga dada Marji terasa ikut sesak juga.
'Sudahlah, Mak! Yang penting Mamak hitung lagi dengan baik penanggalan itu. Jangan sampai gegabah!'
'Ya, aku akan mengerahkan ingatanku dengan baik. Aku akan mengingat dan menghitungnya lagi, ' tekad Ramih setelah menyeka air matanya.
Marji menarik napas lega. 'Baiklah, Mak! Ini sudah sore, istriku pasti mencariku. Aku pulang dulu ya...,' katanya. Ia lalu bangkit dan bergegas.
'Oh, iya...! Rampe di mana, Mak?' tanyanya sebelum pergi.
'Di kamar ...' jawab Ramih. 'Tolong kau lepas rantainya, mungkin setannya sudah pergi. Tentu raganya sangat lemah. Aku enggan melepasnya tadi karena Ia masih terus berteriak. Tolong, periksalah Marji!' tambah wanita tua itu.
Seketika Marji teringat sesuatu, oh iya tadi malam bulan bersinar penuh. Ia lupa menengok mereka. Setiap sehari sebelum purnama, Rampe harus diikat dengan rantai besi.
Marji lalu melangkah ke sebuah bilik kecil. Di dalamnya tampak seorang gadis muda, dengan kaki dan tangan terikat rantai besi. Rambut panjangnya kotor dan berantakan, matanya menatap marah pada Marji, pamannya. Terdengar suaranya menggeram seperti suara harimau. Marji balas memandangnya.
Lelaki tua itu lalu mendekat dan menjambak rambut sang gadis, 'Pergi kau, Iblis! Tubuh ini sudah terlalu lemah kau tumpangi sejak semalam!' ' hardiknya. Bibirnya lalu komat-kamit merapal sesuatu. Mungkin doa atau mantra.
Yang terjadi kemudian, gadis itu meronta, seperti binatang liar yang terjebak perangkap, lalu jatuh terkulai. Marji menarik napas lega. Sekarang gadis itu sudah tenang. Langsung saja Marji menggugahnya, 'Rampe ... bangun, sayang! Ini ada paman. Bangun, nak! Bangun ....!' pintanya.
Surampe membuka matanya. Sesaat Ia terkesiap, menyadari dirinya kembali ke keadaan normal. Wajah gadis itu sangat bening, matanya indah membulat seperti purnama.
'Iblisnya sudah pergi..., pulanglah Marji! Biarlah aku yang memberinya makan!' Mendadak Ramih sudah berdiri di pintu kamar sambil memegang sepiring makanan. Marji membalikkan badannya lalu pergi.