MY BABY CEO
Romance
02 Jan 2026

MY BABY CEO

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-02T083537.589.jfif

download - 2026-01-02T083537.589.jfif

02 Jan 2026, 01:35

download - 2026-01-02T083534.856.jfif

download - 2026-01-02T083534.856.jfif

02 Jan 2026, 01:35

Hari ini Millie secara khusus memasak berbagai macam hidangan yang akan ia bawa ke kantor Rey sang pacar pertama sekaligus pria yang merenggut keperawanannya.

Millie Ayuniar, seorang gadis berusia 18 tahun yang saat ini tengah duduk dibangku SMA, gadis polos bertubuh mungil dan manis itu adalah pacar Tuan Muda Rey, Reyhan Alvarez yang saat ini menjabat sebagai CEO di Perusahaan Alverez Corporation.

Keduanya bertemu tanpa sengaja disebuah Cafe, saat itu Millie tengah mengerjakan tugasnya di Cafe karena ia harus menghemat kuota dan uang yang tersisa dari mendiang orangtua Millie.

Ya, Millie seorang yatim piatu tanpa sanak saudara yang mendapatkan beasiswa disekolah ternama, saat ini Millie tinggal menyewa disebuah Apartement sederhana.

Saat itu ketika Millie menunduk membenarkan tali sepatunya, Rey yang sedang bercanda dengan temannya tanpa sengaja menabrak Millie dan menjatuhkan gadis itu ke lantai, awal mula pertemuan mereka yang sebentar lalu hubungan keduanya terjalin begitu saja sampai di titik Millie merelakan keperawanannya untuk Rey yang telah berjanji tanggungjawab untuknya.

Sayangnya, sore ini Millie mendapati kenyataan yang begitu menyakitkan.

Saat itu Millie yang akan memasuki ruangan Rey terhenti karena mendengar percakapan Rey dan para sahabatnya.

"Shit, lo menang taruhan lagi Rey!" ucap sebuah suara yang dikenali Millie, salah satu sahabat Rey bernama Arthur.

"Nih 10 juta, btw kapan lo putusin Millie?" ucap pria lainnya bernama Bayu yang juga sahabat Rey.

"Tapi serius lo nggak punya perasaan sedikitpun buat Millie?" tanya Jerry.

"Yah, gue nggak punya perasaan buat Millie lagian gue udah punya Lussie tipe gue!"jawab sebuah suara yang sangat Millie kenali, suara yang tak lain adalah pacarnya Rey.

Diluar pintu Dimas menatap Millie prihatin, gadis polos yang dijadikan taruhan oleh bos sekaligus sahabatnya itu sangat menyedihkan saat ini meskipun ia tersenyum tapi Dimas melihat jejak air mata yang dengan cepat dihapus Millie.

"Jadi kapan lo putusin?" tanya Bayu.

"Secepatnya, Millie terlalu polos buat gue meskipun udah beberapa kali gue tidurin, cuman Lussie yang bisa muasin gue!" jawab Rey mantap.

"Brengsek lo, anak orang udah diperawanin malah ditinggal kasian kali, gue nggak ikutan taruhan tuh duit 10 juta gue kasih doang tapi kalo ada apa-apa sama Millie gue nggak nggak tanggung resikonya, sialan gue nggak tega sama Millie!" ucap Jerry bersalah.

"Pengecut lo, lagian Rey sendiri yang bilang dia nggak ada perasaan sama Mil--" ucapan Arthur terpotong karena suara ribut didepan pintu Rey.

Perasaan Jerry semakin gelisah entah karena apa namun tak lama pintu terbuka memperlihatkan seorang gadis mungil yang menenteng jaket hitam yang sudah pasti jaket milik Rey.

Mata Rey dan Jerry melotot gusar menatap Millie dan Dimas yang berada tepat dibelakang gadis mungil itu, hanya Arthur dan Bayu yang terlihat santai.

"Yo Millie, lo ngapain kesini?" tanya Bayu tanpa bersalah.

"I-itu Millie mau ngembaliin jaketnya Kak Rey," ucap suara Millie bergetar menahan tangis yang setiap saat bisa tumpah kapan saja.

"O-oh jaket ya? k-kamu bawa aja aku nggak perly jaketnya," ucap Rey mendatangi Millie yang terpaku didepan pintunya, bermaksud meraih tangan mungil gadis itu namun Millie justru melangkah mundur.

"Kak Rey jaketnya Millie letakin disini, oh iya makasih ya kak jaketnya," ucap Millie berbalik.

Hanya beberapa langkah, Millie kembali membalikkan tubuh mungilnya mengucapkan kata-kata yang menusuk perasaan Rey dan sahabat-sahabatnya.

"Oh iya Kak Rey, Millie terima kok Kak Rey putusin Millie lagipula hubungan kita cuman sekedar taruhan hehe dan semoga Kak Rey langgeng ya sama Lussie!" ucap Millie lirih namun terdengar ditelinga kelima pria itu.

'Deg' Hati Rey berdebar mendengar ucapan Millie, perasaan Rey sangat bersalah ternyata gadis mungil itu sudah mendengar percakapan mereka sedari awal!

Dimas tertegun, Jerry mengumpat bahkan Arthur dan Bayu sedikit merasa bersalah karena menjadikan gadis polos sebagai bahan taruhan mereka!

Kelimanya terdiam sampai punggung bergetar gadis itu menghilang dari pandangan mereka.

"Se-sejak kapan Millie disini?" tanya Rey gusar menghadap ke arah Dimas.

"Sejak awal lo pada bicara dia udah disini bego!" ucap Dimas mengangkat bahunya acuh.

"Shit, gue ngerasa brengsek banget, lo pada liat nggak Millie tadi gimana?!!" kesal Jerry.

"Woy Rey, lo nggak susulin Millie nggak takut terjadi apa-apa sama Millie?" tanya Dimas prihatin.

Reyhan menggeleng sebagai respon.

"Nggak, gue udah punya Lussie. Lebih baik kan dia tau? jadi gue nggak susah mikirin alasan buat mutusin dia haha,"

"Yah terserah lo, gue udah ingetin!" ucap Dimas kecewa pada sahabatnya yang dengan mudah mempermainkan seorang perempuan meski merekapun sama tapi Millie hanya gadis polos yang kesepian!

"Oh iya tuh paper bag dari Millie, dia jatuhin tadi kali aja lo mau ngeliat isinya!" ucap Dimas kembali ke mejanya.

Reyhan menatap paper bag berukuran sedang yang tergeletak dilantai tanpa memperdulikan paper bag itu justru Rey kembali masuk ke kantornya dengan perasaan campur aduk.

Jerry mengambil paper bag Millie menyerahkan pada Dimas untuk disimpan.

Bayu, Arthur dan Jerry saling berpandangan pasrah, Rey terlalu kejam untuk seorang gadis polos seperti Millie miski mereka juga brengsek karena merekalah taruhan sialan itu terjadi.

Di sebuah Apartement sederhana, Millie menangis sesenggukan mengetahui kebenaran yang terjadi, dirinya hanya bahan taruhan yang dipermainkan oleh Rey dan sahabat-sahabatnya.

Seharusnya Millie sadar, Rey adalah pria tampan, Pewaris Alvarez Corp perusahaan raksasa kelas atas dan juga idola banyak wanita sedangkan dirinya hanyalah seorang gadis kampung yang tidak memiliki orang tua dan miskin, sudah beruntung bagi Millie bisa menikmati hubungan mereka meski hanya 1 bulan!

Di tangannya sebuah pena dan selembar kertas diletakkan dimeja, Millie mengemas beberapa pakaiannya kedalam sebuah tas berukuran sedang, telepon Millie dimatikan tepatnya kartunya dipatahkan.

Millie tersenyum sedih menatap kearah benda berukuran kecil ditangannya, benda yang sama yang seharusnya ia hadiahkan untuk Rey namun ternyata pria itu hanya bermain dengan hidupnya!

Miris, Millie merasa hidupnya tidak adil namun demi dia Millie harus bertahan.

Tangan mungilnya menyeret koper membawa keluar apartemen, sebuah taksi menunggu didepan gedung yang mengantarkan Millie kembali ke desanya.Tanpa memperdulikan seluruh orang di ruangan, Reyhan menarik Millie kedalam pelukannya dan mengecup bibir yang sudah menjadi candu itu berkali-kali didepan Tuan Tua, Nyonya Tua, Ririn dan Reza yang mendengus menatap perilaku tak tau malu Reyhan, namun mereka memahami kebahagiaan Reyhan dan memberikan ruang untuk keduanya bersama.

"Kak Rey!! apa-apaan sih!! Masa cium-cium Millie terus, mana dihadapan Mami, Papi, Oma dan Opa, Millie kan jadi malu!!!" kesal Millie berusaha lepas dari pelukan hangat suaminya itu, didepan para tetua beraninya Reyhan berperilaku terbuka keluh batin Millie.

Memasuki kandungan di 7 bulan terlihat jelas berat badan Millie mulai bertambah, pipinya yang tirus, sekarang terlihat menggembung seperti kelinci kecil yang imut, bibir merahnya mencebik kesal tapi justru semakin lucu, kulitnya seputih salju dan lembut, apalagi aura ibu hamilnya memang tak diragukan membuat seluruh pribadi Millie menjadi begitu lembut, ramah dan hangat, siapapun yang berada didekatnya bisa merasakan aura positif.

"Maaf, maaf, Kakak terlalu bahagia sayang, yah, ternyata Kakak sangat hebat sekali mencetak goal 3 langsung keluarnya, hahaha..." ucap Reyhan sombong sambil tertawa puas.

Millie merasa wajah Reyhan sepertinya lebih baik dikarungi, lihat alisnya yang terangkat, bibir melengkung keatas, tatapan matanya sangat sok, benar-benar minta ditabok keluh Millie dalam hati.

"Huh, tau ah, Kak Rey emang nyebelin!" ucap Millie merajuk yang justru sangat sangat menggemaskan dimata Reyhan.

Reyhan menatap Millie lekat, kedua matanya memancar penuh cinta menarik Millie kepangkuannya dan mencium wanita itu dengan lembut namun menuntut.

Millie juga merindukan Reyhan, keduanya sama-sama saling merindukan sehingga Millie tak segan membalas cium*n sang suami itu.

Setelah belasan menit, cium*n keduanya terlepas. Reyhan menatap bibir wanitanya yang memerah, basah dan sedikit bengkak akibat ulahnya namun dimatanya justru semakin menggoda dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium Millie lagi dan lagi.

Keduanya terbakar gairah, entah sejak kapan tangan Reyhan sudah menelusup kedalam kemeja yang di kenakan Millie menangkup, membelai dan merem*s gunduk*k yang saat ini menjadi semakin berisi dari terakhir kali dia rasakan, yah terasa lembut dan kenyal batin Reyhan puas.

"Enghhh.. Kakhhh aaahhh stopphh inih dirumah sakithhh uhhh..." desah Millie yang membuat Reyhan semakin terbakar gairah.

Reyhan menekan remote, mengunci pintu kamar secepat kilat, karena ruang mereka VIP jadi jarak antara ruang satu dan lainnya cukup jauh.

Reyhan terus mencium istri mungilnya yang sekarang semakin seksi, membuka kancing kemeja Millie satu persatu hingga saat ini keduanya tanpa memakai apapun.

"Kakhhh ahhh.." desah Millie sampai puncak karena permainan tangan Reyhan pada inti miliknya, tubuh mungil itu terangkat dan bergetar dan pada bagian tertentu terasa sangat berair.

Reyhan tersenyum mengangkat Millie lebih dekat untuk menyatukan keduanya, beberapa saat suara desahan sahut menyahut di ruangan Reyhan untungnya Keluarga Alvarez pulang setelah memesankan Millie seblak keinginanya.

Reyhan juga tahu batasannya, dia tidak bermain terlalu lama karena istrinya sedang hamil besar cukup beberapa kali Reyhan sudah merasa puas meski dia masih merasa kurang tapi demi kesehatan istri dan calon babynya dia tidak boleh egois.

Sedangkan Millie, tentu saja terlalu lelah untuk memperdulikan keadaannya, dia tertidur setelah Reyhan membersihkan tubuh keduanya dan ikut tertidur juga selama 1 jam.

Pesanan Millie pun baru saja datang karena mengantri namun Millie masih tertidur pulas akibat permainan panas mereka tadi.

Sebenarnya Reyhan merasa bersalah karena melakukan hal itu di siang bolong namun nafsunya tidak bisa ditekan dan harus segera dilampiaskan.

Pintu dibuka, kurir yang mengantar meletakkan seblak di atas meja dengan malu karena menatap Reyhan yang saat ini memeluk Millie dipelukannya, Kurir malu karena dia masih jomblo di umurnya yang menginjak 40 tahun sedangkan pasangan muda mudi didepannya sangat romantis, si kurir sangat iri tapi apalah daya untuk makan saja dia hanya bisa mencukupi dirinya sendiri batin si kurir.

Tentunya karna Reyhan sangat bahagia dan memang orangnya dermawan, pesanan sang istri sudah dibayar tapi dia tetap memberikan tip 1 juta untuk si kurir yang menerima sangat senang, sungguh dia tidak jadi iri justru bersyukur menjadi kurir yang mengantarkan pesanan ibu hamil yang kaya raya, yang dimaksud adalah Millie.

Hidung Millie sangat sensitif mencium aroma seblak yang sangat dia rindukan selama di Jepang, Millie sangat menyukai seblak dan makanan pedas lainnya.

"Ennnggghh.." Millie menggerakan tubuhnya dengan susah payah, pinggangnya terasa encok sambim menatap ruangan dan menemukan paket seblak pesanannya.

"Kakak, Millie pengen makan, ambilin seblaknya!" ucap Millie memerintah Reyhan, dia sangat malas untuk bergerak terlebih masih sedikit lelah karena permainan suami kurang ajarnya itu.

Reyhan tersenyum bergegas mengambil mangkuk dan menuang seblak pesanan istri tercintanya itu.

Reyhan mencicipi seblaknya sebelum memberikan pada Millie, takut jika ada racun atau terlalu pedas untungnya seblak yang dipesan sang istri tidak terlalu pedas jadi tidak apa-apa untuk di makan.

"Kak Rey, ambilin minum juga!" perintah Millie cerewet yang diangguki Reyhan senang hati.

"Suapin." ucap Millie manja.

"Iya sayang, aaaa.." ucap Reyhan mengarahkan sendoknya ke mulut Millie.

Millie makan dengan sangat lahap, sesekali Reyhan juga menyuap seblak kemulutnya sendiri hingga seblak yang mereka makan tandas tak bersisa namun istrinya masih lapar dan menginginkan martabak telor yang langsung dituruti oleh Reyhan.

Lagi-lagi Reyhan memberikan 1 juta untuk tip kurir yang mengantar pesanan, Millie senang karena Reyhan tidak pelit dan mau berbagi.

Keduanya tertawa bahagia sambil sesekali menikmati martabak telor, hanya Millie yang menikmati sedangkan Reyhan dipaksa karena sebenarnya Reyhan sudah kenyang dan tidak terlalu suka Martabak Telor yang berminyak.

Namun apalah daya Reyhan dihadapan perintah Millie, sang istri, dia hanya bisa pasrah memakan martabak telor dan berjanji akan berolahraga nanti untuk menjaga perut kotak-kotaknya.

Kembali ke Beranda