Istri Kesayangan CEO Dingin
Romance
02 Jan 2026

Istri Kesayangan CEO Dingin

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-02T083918.261.jfif

download - 2026-01-02T083918.261.jfif

02 Jan 2026, 01:39

download - 2026-01-02T083915.775.jfif

download - 2026-01-02T083915.775.jfif

02 Jan 2026, 01:39

"Aku kembali," sapa gadis cantik, berjalan masuk ke dalam restoran sederhana.

"Hmm. Alamat dan pesanannya ada di sana," ucap wanita paruh baya yang sedang duduk di meja kasir, menunjuk kantong plastik putih yang berada di atas meja.

"Aku pergi dulu ya, Bik," pamit gadis cantik, kembali berjalan keluar dari dalam restoran sambil membawa kantong plastik tadi.

"Iya. Hati-hati," jawab wanita paruh baya itu, dia terlihat sedang mencatat sesuatu di buku.

Gadis cantik itu bernama Alya Febrianti Angraini, dia bekerja di sebuah restoran sederhana, bertugas mengatar pesanan.

Alya memasukkan kantong plastik tadi, ke dalam keranjang yang berada di belakang motor. Ia menaiki motornya, menyalakan motornya, lalu menjalankan motornya pergi meninggalkan kawasan restoran sederhana itu.

Dia mulai mulai membelah jalan raya, yang cukup ramai di malam hari. Tidak membutuhkan waktu yang lama, dia kembali menghentikan motornya di depan gedung yang cukup tinggi.

Alya turun dari atas motornya, mengambil kantong plastik tadi, ia melihat kertas yang berisi alamat.

"Teryata orang kaya mau juga pesan makanan beginian," guman Alya sambil berjalan masuk ke dalam gedung, menaiki lift, tak lupa menekan nomor lantai gedungnya. Mata Alya tidak lepas dari layar yang menunjukkan dia berada di lantai berapa.

Kring!

Alya berjalan keluar dari dalam lift, mulai menelusuri koridor sambil matanya menatap ke arah pintu.

"239, 240, 241, 242," ucap Alya sambil menghentikan langkahnya, di depan pintu 242. Dia kembali melihat kertas alamat tadi, memastikan dia tidak salah alamat.

"Tidak salah lagi, ini alamatnya," ucap Alya sambil menekan tombol bel di dekat pintu. Tanpa sadar ia menghela nafas panjangnya.

"Apa aku salah alamat, ya? Tapi ... di kertas ini, memang benar ini alamatnya," guman Alya yang kembali melihat kertas alamat tadi.

"Permisi! Pesanan Anda datang!" ucap Alya, kembali menekan tombol bel, saat pintu masih belum dibuka dari dalam. Saat gadis itu berniat ingin menekan bel untuk ketiga kalinya, pintu tiba-tiba dibuka dari dalam.

Ceklek!

Menampakkan seorang pria tampan, wajahnya dipenuhi dengan keringat dingin, nafasnya terlihat tidak beraturan.

"Tuan baik-baik saja?" tanya Alya khawatir, saat melihat keadaan pria yang terlihat sedang tidak sehat.

Tanpa diduga oleh Alya, tangannya tiba-tiba ditarik masuk ke dalam apartemen. Pria itu menyadarkan tubuh Alya ke pintu.

"Tu ... tuan, apa yang kau lakukan?" tanya Alya yang terlihat begitu ketakutan.

Pria tampan tidak menjawabnya, melainkan ia malah mencium bibir Alya dengan penuh na**u.

Alya refleks menjatuhkan kantong plastik yang berada di genggamannya, ia mencoba mendorong dada bidang pria itu sekuat tenaganya, tapi nihil. Kekuatan pria itu jauh lebih kuat darinya. Pria itu bagaikan sudah dikuasai oleh naf**nya.

Pria itu melepaskan ciumannya, mengedong tubuh Alya bagaikan karung beras, lalu berjalan membawa Alya ke dalam kamar.

"Hei! Apa yang kau lakukan?!" bentak Alya sambil memukul-mukul punggung pria tampan itu, dengan tangannya.

"Tolong ...!" teriak Alya dengan nafas turun-naik.

Alya semakin ketakutan, saat pria tampan itu mengunci pintu kamarnya, menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk.

"Tolong ...!" teriak Alya lagi.

Dia semakin dibuat ketakutan, saat pria tampan itu membuka pakaian atasnya. Tanpa sadar Alya menelan slivannya dengan susah payah, perlahan ia berinsut mundur. Bukan dia tergoda dengan bentuk tubuh pria tampan itu, melainkan dia sangat ketakutan.

"Tolong ...!" teriak Alya lagi, berharap ada yang mau menolongnya.

Namun, usahanya untuk meminta tolong sia-sia, tubuhnya sudah lebih dahulu dikuasai oleh pria yang sudah dilanda naf*u. Malam itu adalah malam terburuk bagi Alya, di mana kesuciannya direbut oleh pria yang sama sekali tidak dia kenal.

Jika dia tau kejadian akan seperti itu, dia tidak akan pernah mau mengantarkan pesanan itu. Namun, semua itu sudah menjadi bubur, dia bukan lagi wanita yang suci."Eughk ... Ahh ...," lenguh pria tampan itu, ia baru saja terbangun dari tidurnya.

Dia? Brian Ardiansyah, pria yang sudah merenggut kehormatan Alya Febrianti Angraini.

Brian memegang kepalanya yang terasa sakit, matanya menatap langit-langit kamarnya, pandangannya terlihat sedikit buram sebelum menjadi jelas.

"Eughk ...," lenguhan Alya membuat Brian terkejut.

Brian ragu-ragu menoleh ke sampingnya, matanya membulat dengan sempurna saat melihat gadis yang sama sekali tidak ia kenal. Ia sedikit mengakat selimutnya, dan baru menyadari dirinya tanpa busana.

"Apa yang terjadi?" Brian mencoba mengingat-ingat kejadian semalam.

Sebelum kejadian ....

Brian ingat, kalau semalam Kakak tirinya datang ke apartemennya, mereka mengobrol santai. Tiba-tiba Brian ingin pergi ke toilet, saat kembali dia tidak lagi menemukan Kakak-nya di ruang utama.

Brian sama sekali tidak merasa curiga, dia kembali duduk di sofa, melanjutkan menonton film-nya. Lalu dia tiba-tiba mendapatkan pesan dari Kakak-nya, mengatakan bahwa Kakak-nya ada urusan mendesak. Jadi, harus pergi begitu saja.

Brian meminum minuman anggurnya, belum beberapa menit setelah meminumnya, dia tiba-tiba merasakan panas, gerah dan sesuatu yang aneh, dirinya bagaikan sedang ter**ang.

Pada saat itu Alya datang mengantarkan pesanan. Brian yang sudah tidak mampu mengendalikan dirinya, akhirnya melampiaskan hasratnya terhadap gadis yang sama sekali tidak ia kenal, Alya.

"Si*l! Apa semua ini karena, Kak Rai?" guman Brian dengan tertawa miris.

Brian bangun dari tidurnya, matanya beralih menatap Alya yang masih tertidur pulas di sampingnya.

'Apa yang harus aku lakukan terhadap gadis ini? Bertanggung jawab? Apa ... jangan-jangan ini jebakan? Jika, Kakek mengetahui ini, otomatis Kakek akan mencoretku menjadi pewarisnya? Lalu Kak Rai yang akan menjadi pewarisnya,' batin Brian, ia memiliki begitu banyak pertanyaan di dalam otaknya.

Brian lebih memilih untuk tidak memikirkannya, saat ini dia harus menenangkan dirinya. Ia menepiskan selimut dari tubuhnya, memunggut pakaiannya, lalu memakai kembali, dan berjalan menuju kamar mandi.

Brian membiarkan air mengalir mengguyur seluruh tubuhnya. Dia yakin kalau semua ini adalah bagian rencana dari Kakak tirinya, dari awal mereka memang tidak suka Brian menjadi pewarisnya. Namun, mereka masih berpura-pura baik-baik saja di depannya, ternyata dibalik sikap mereka yang tenang, dirinya malah dijebak.

Alya membuka matanya dengan perlahan, menatap langit-langit kamar dengan samar-samar, berharap semua itu adalah mimpi buruk.

"Apakah aku masih bermimpi buruk?" guman Alya dengan suara khas orang baru bangun tidur.

Ceklek!

Alya menoleh ke arah suara, melihat Brian baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai baju handuk, tangan yang mengacak-acak rambutnya dengan handuk kecil.

"Tidak. Ini pasti mimpi. Aku pasti sedang bermimpi ...," lirih Alya disertai buliran bening mengalir di sudut matanya. Dia masih belum bisa menerima kenyataan, bahwa dirinya bukan lagi gadis yang suci.

"Hentikan dramamu itu. Aku tau kalau kamu bekerja sama dengan Kakak-ku, Raihan," ucap Brian dengan dinginnya.

Alya menoleh ke arah Brian, lalu berkata, "Apa katamu? Drama?!"

"Hmm. Kamu pasti sengaja, 'kan? Dibayar berapa kamu sama Raihan, hah?!" tanya Brian dengan nada membentak.

Alya bangun dari tidurnya, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal itu. Berjalan mendekati Brian dengan nafas turun-naik, matanya mengisyaratkan kemarahan teramat dalam.

"Setelah apa yang kau lakukan terhadapku? Lalu sekarang kau bilang aku me-drama? Bekerja sama dengan Kakak-mu? Apa maksudmu, hah?! Siapa, Raihan?! Jelas-jelas di sini aku korbannya!" jawab Alya yang balik membentak.

"Korban? Ha-ha-ha, jelas-jelas aku korbannya! Aku tau kamu pasti orang suruhan Raihan, 'kan? Kamu pasti disuruh untuk menghacurkan aku, bukan?!" tanya Brian.

"Hei! Aku ke sini cuma mengantarkan pesananmu! Dan sekarang lihatlah!" Alya menunjuk noda darah yang berada di atas seprai.

"Kau sudah menghacurkan masa depanku. Jelas-jelas di sini aku korbannya, tapi kenapa kau yang malah bersikap seperti korbannya? Apa salahku? Kenapa kau lakukan ini padaku?" lanjut Alya, tubuhnya mendadak lemas, ia menangis tersedu-sedu di atas lantai, buliran bening tidak henti-hentinya mengalir di pipinya.

Brian mulai berfikir jika Alya juga korbannya, tapi ia juga harus memastikannya terlebih dahulu. Dia tidak boleh percaya begitu saja, dia akan menyelidiki siapa gadis itu sebenarnya.

"Baiklah. Aku akan bertanggung jawab. Jadi, sebaiknya kau hentikan tangisan itu, tidak ada guna juga kau menangis, semuanya sudah terjadi," ucap Brian tanpa menatap ke Alya.

"Apa aku bisa mempercayai kata-katamu?" tanya Alya dengan mendongakkan kepalanya, menatap pria yang sedang berdiri di depannya.

"Kalau kau tidak percaya, kau bisa tinggal di sini mulai sekarang," jawab Brian menatap sekilas ke arah Alya.

Alya tiba-tiba tertawa mendengar perkataan Brian, benar-benar tidak terpikirkan olehnya. Bertemu dengan pria seperti Brian.

"Kau pikir semua ini lucu? Karenamu, mungkin aku akan kehilangan sesuatu yang berharga. Lagian, aku sebenarnya tidak ingin berhubungan denganmu, jika bukan karena seseorang sudah memasukkan sesuatu ke dalam minumanku," ucap Brian tidak terima, padahal dia sudah mau bertanggung jawab.

"Terserahmu!" Alya bangun dari duduknya, berjalan pergi meninggalkan Brian dengan perasaan marah bercampur kecewa.

Alya tidak punya pilihan selain mengikuti perkataan Brian, ada bagusnya kalau Brian mau bertanggung jawab, dia tidak tau apa yang akan terjadi ke depannya.

Alya menutup pintu kamar mandi, menyadarkan punggungnya ke pintu, tanpa sadar tubuhnya merosot ke lantai. Dia masih kecewa terhadap dirinya, kehormatan yang selama ini selalu ia jaga, direnggut begitu saja oleh pria yang sekali tidak ia kenal.

Brian masih bisa mendengarkan suara tangisan Alya dari luar. Tanpa sadar ia menghela nafas kasarnya. Dia melihat jaket Alya berada di lantai, ia melihat sesuatu di bahu tersebut.

Brian memunggut jaket tersebut, membuka lebar dan melihat nama restoran, nomor telpon di tempat Alya bekerja.

[Restoran Bibi Caca. +6282386217111.]

Brian berjalan keluar dari dalam kamarnya, TV-nya saja masih menyala, gelas minumannya masih tergeletak di atas meja. Dia menemukan ponselnya di atas meja, mengambil ponselnya, lalu menekan nomor seseorang di layarnya.

"Bagas, bantu aku selidiki seseorang. Aku baru saja dijebak oleh Raihan. Aku mau kamu menyelidiki gadis yang bekerja di Restoran Bibi Caca. Dia bernama, Alya Febrianti Angraini."

Brian mengetahui nama Alya, dari jaket yang digunakan Alya, memiliki tanda pengenal agar memudahkan konsumen mengetahui siapa Alya.Alya baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Kamar yang semulanya berantakan mendadak menjadi rapi dan bersih, ia juga melihat pakaian di atas kasur. Dia tidak punya pilihan selain memakai pakaian yang sudah disiapkan Brian.

Tidak membutuhkan waktu yang lama, Alya selesai mengenakan pakaian Brian. Ya, Brian tidak memiliki pakaian wanita di rumahnya, jadi, dia menyiapkan pakaiannya untuk Alya.

Dreet ... dreet ... dreet!

Alya mendengar deringan ponsel di atas nakas, ia berjalan menghampiri nakas, melihat nama 'Bibi Restoran' di layar ponselnya.

Alya mengambil ponselnya, menggeser tombol hijau di layarnya, mendekatkan ke dekat telinganya.

"Assalamualaikum, Alya!" sapa Bik Mina---pemilik restoran tempat Alya bekerja, sekaligus Ibu angkat bagi Alya.

"Wa'alaikumsalam, Bik," jawab Alya, berusaha menormalkan suaranya.

"Semalam Bibi coba telpon kamu, tapi kok gak diangkat-angkat? Bibi khawatir sekali denganmu. Kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Bik Mina yang terdengar sangat khawatir.

"Aku baik-baik saja, Bik," jawab Alya berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah.

"Eum ... karena semalam kamu belum juga pulang. Bibi minta Noval menyusul kamu ke sana, tapi cuma motor aja yang ada di sana. Sebenarnya, semalam kamu pergi ke mana, Alya?"

"Aku ... aku ...."

"Aku apa, Alya? Kamu baik-baik saja, 'kan?" potong Bik Mina.

"Aku baik-baik saja kok, Bik. Semalam temanku telpon, dia lagi dapat masalah, jadi, aku pergi ke sana menggunakan taksi. Maafkan Alya ya, Bik. Udah buat Bibi khawatir," jelas Alya dengan suara serak.

"Suara kamu kenapa, Alya? Kamu habis nangis?" tanya Bik Mina mulai curiga.

"Enggak kok, Bik. Aku lagi terserang flu," jawab Alya berbohong.

"Syukurlah, kalau kamu baik-baik saja. Kamu jangan lupa minum obatnya, biar cepat sembuh. Motornya jangan khawatir. Noval sudah membawanya pulang. Sebaiknya kamu istirahat."

"Baik, Bik. Beberapa hari ini aku mau nginap di rumah teman dulu ya, Bik. Dia masih butuh aku."

"Baiklah. Kamu baik-baik di sana, ya. Jangan lupa minum obatnya."

"Baik, Bik. Aku tutup dulu telponnya. Assalamualaikum."

Alya menutup telponnya buru-buru, tangisnya kembali pecah. Dia tidak dapat menahan tangisnya, sungguh sulit berbohong kepada orang yang disayangi.

"Raihan!"

Tangisan Alya seketika berhenti saat mendengar suara bentakan dari luar kamarnya, ia bangun dari duduknya, berjalan menuju pintu, lalu membuka pintu kamar, dan melihat Brian sedang menelpon di ruang utama.

"Aku tau semua ini perbuatan kamu, 'kan? Dari awal kamu memang tidak suka, aku menjadi pemimpin di perusahaan Kakek, 'kan? Jadi, kamu sengaja menjebakku dengan memasukkan obat perangsang ke dalam minumanku, lalu memesan makanan atas namaku," ucap Brian terlihat begitu marah.

[Apa maksudmu, Brian? Memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu? Jangan konyol deh. Aku juga tidak pernah menentang kamu menjadi pemimpin di perusahaan Kakek.]

"Jangan pura-pura deh, aku tau semua ini perbuatanmu. Karena ulahmu, aku menghacurkan masa depan gadis yang sama sekali tidak bersalah," ucap Brian dengan menekan setiap perkataannya.

Sedangkan Alya hanya mendengarkan obrolan Brian dari pintu, mencoba menebak-nebak dari ekspresi Brian, menebak apa yang sedang dikatakan lawan bicara Brian.

[Brian, dari tadi aku mencoba untuk bersabar, karena kamu Adikku. Jika kamu melakukan kesalahan, kamu harus bertanggung jawab. Jangan melampiaskannya kepadaku. Kamu memiliki bukti, bahwa aku yang memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu?

Iya. Aku semalam memang berada di apartemenmu, lalu tiba-tiba pergi begitu saja. Bukan berarti aku pelakunya, atau ... jangan-jangan, kamu cuma mengarang cerita, karena terlalu takut untuk bertanggung jawab. Kamu pasti takut Kakek mengetahuinya, ya? Lalu mencoret namamu dari pewaris tunggal. Jangan khawatir, aku tidak akan mengatakannya kepada Kakek. Kamu bisa menjadikan gadis itu sebagai kambing hitam, atau memberi dia uang untuk menutup mulut. Bukankah gadis-gadis suka dengan uang?]

"Kau bisa mengatakannya kepada Kakek, aku tidak takut namaku dicoret dari pewaris tunggal. Lagipula, dari awal aku juga tidak menginginkan itu semua. Apa yang kulakukan terhadap gadis itu, aku akan bertanggung jawab. Aku bukan pria bereng**k sepertimu."

Brian mematikan teleponnya secara sepihak, meleparkan ponsel tersebut ke atas sofa dengan kasar. Nafasnya terlihat tidak beraturan, menahan kemarahan yang teramat dalam.

Alya mulai berfikir jika Brian memang tidak sengaja melakukannya, mungkin karena obat perangsang, membuat Brian tidak dapat mengendalikan dirinya semalam. Dia juga berfikir kalau Brian seorang pria baik, buktinya dia mau bertanggung jawab atas kesalahannya."Huft ...."

Entah berapa kali Brian menghela nafasnya semenjak bangun tidur, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, lalu matanya berhenti tempat di mana Alya berdiri tanpa ekspresi.

"Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Kamu pasti lapar," ucap Brian dengan nada dingin, yang memang sudah menjadi ciri khas dirinya.

Brian berjalan pergi meninggalkan ruang utama. Alya mengikuti Brian dari belakang, lalu mereka berdua berakhir di meja makan. Ternyata Brian sudah menyiapkan sarapan, selama Alya masih berada di dalam kamar tadi.

Alya duduk dengan ragu-ragu di atas kursi, mereka duduk saling berhadapan. Jujur, dia memang merasa sedikit lapar, tapi dia juga dilema dengan rasa takut.

Alya merasa ragu memakan masakkan yang ada di atas meja, khawatir Brian memasukkan racun ke dalam makanannya. Dia kan masih ingin hidup lebih lama.

"Jangan khawatir, makanan itu tidak ada racunnya," ucap Brian seakan tau apa yang dipikirkan Alya.

"Aku tidak mengatakan makanan ini ada racunnya," ujar Alya dengan nada ketus.

Alya menyuap nasi putih hingga membuatnya mulutnya terisi penuh, dia butuh energi untuk menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia tidak boleh merasa lemah, semua itu hanya akan membuatnya semakin terlihat menyedihkan.

Segala sesuatu kesalahan pasti dimaafkan Tuhan, selama dia bersungguh-sungguh ingin memperbaikinya. Apa yang harus dia takutkan? Pria yang sudah merenggut kehormatan, sudah berjanji akan bertanggung jawab. Meskipun ia masih ragu dengan perkataan Brian.

"Bagaimana keadaanmu? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Brian, memecah kesunyian.

"Apa aku terlihat baik-baik saja?" Bukan menjawab, Alya malah balik bertanya.

"Sepertinya kamu tidak baik-baik saja," jawab Brian, kembali menundukkan kepalanya.

"Aku berencana ingin mengajakmu ke rumah keluargaku, aku ingin menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin," lanjut Brian tanpa menatap Alya.

"Benarkah kau ingin bertanggung jawab?" tanya Alya yang masih tidak percaya.

Brian menghela nafas kasarnya, menaruh sendoknya, menyadarkan punggungnya ke kursi, lalu berkata, "Berapa kali harus aku katakan? Aku bukan seorang pria pengecut, yang lari dari kesalahan. Aku akan bertanggung jawab atas kesalahanku. Kamu paham?"

Alya hanya membalas dengan anggukan.

"Bagaimana keadaanmu? Apa baik-baik saja? Kalau kamu merasa tidak baik, kita bisa menunda pertemuan keluarga ini," ucap Brian dengan santai menatap Alya.

Alasannya bertanya seperti itu, karena ini pertama kalinya bagi Alya, mungkin akan terasa sakit di bagian tertentu.

"Aku merasa tidak baik-baik saja," jawab Alya dengan ragu-ragu.

"Baiklah. Aku paham, kalau begitu besok saja kita lakukan pertemuan itu, hari ini kamu istirahat saja," ucap Brian, bangun dari duduknya.

"Baiklah," jawab Alya singkat.

"Benar juga, sebaiknya kamu memberitahu keluargamu, jangan sampai mereka khawatir. Aku mau ke kamar dulu, selesai makan kamu bisa menaruh piring kotornya di atas wastafel," lanjut Brian.

"Iya," jawab Alya mengaguk.

Brian berjalan pergi meninggalkan meja makan, menyudahi makannya tanpa menghabiskan makanan yang ada di dalam piring.

Alya menatap punggung Brian, tanpa sadar dia menghela nafas kasarnya. Duduk bersama dengan Brian, membuatnya merasa canggung.

Alya yang merasa lapar, melahap makanan yang berada di atas meja. Meskipun dirinya sedang berada dalam masalah, bukan berarti dia harus mogok makan. Mungkin akan ada kejadian yang tidak terduga, jadi, dia harus mempersiapkan dirinya.

Benar saja dugaan Alya, setelah selesai mencuci piring kotor. Alya menyusul Brian ke ruang utama, berniat ingin menonton film bersama dengan Brian. Akan tetapi, bel tiba-tiba dipencet dari luar.

Brian bangun dari duduknya, berjalan menuju pintu, membuka pintu untuk tamu atau apalah.

Plak!

Alya kaget saat mendengar suara tamparan, ia bangun dari duduknya, berjalan menyusul Brian.

Deg!

Jantung Alya berdetak cukup cepat, saat matanya saling beradu dengan pria tua, wanita paruh baya, dan seorang pria tampan.

"Jadi kamu?! Gadis jal*ng yang sudah membuat cucu saya, Brian, melakukan perbuatan hina itu?!" bentak Gufron---Kakek-nya Brian, terkenal dengan sifat tegas, pemarah dan kepintarannya dalam berbisnis.

Hati Alya bagaikan teriris pisau, sungguh sakit, dirina dituduh tanpa tau keadaan sebenarnya. Dia sama sekali tidak berniat ingin menggoda Brian, padahal dirinyalah korban dari semua ini.Apa yang terjadi? Bagaimana Kakek Brian tau, kalau Brian melakukan kesalahan yang sulit dimaafkan?

Sebelumnya, dikediaman rumah Gufron Mukti Wibowo.

Raihan, Ibunya, lalu kedua Kakak perempuannya, mereka tinggal di rumah megah milik Kakek-nya. Hanya Brian yang memilih untuk tinggal sendirian di apartemen, dibandingkan hidup bersama dengan Ibu tirinya, para Kakak-nya, dan Kakek-nya. Ayah-nya sudah lama meninggal.

Raihan yang baru saja selesai menelpon dengan Brian, berniat akan pergi, tapi dirinya malah kepergok oleh Kakek-nya.

Gufron mendesak Raihan untuk berbicara jujur, walau awalnya Raihan berbohong. Namun, karena desakkan dari Gufron, akhirnya Raihan mengatakan yang sejujurnya tentang apa yang dialami Brian semalam.

Raihan mengatakan kalau Brian dijebak oleh seorang gadis, membuat Brian tidak mampu mengendalikan dirinya, dan akhirnya semua itu terjadi.

Padahal semua itu adalah bagian dari rencana Raihan, dia tau Brian tidak akan membiarkan orang yang tidak bersalah, dituduh tanpa sebab. Raihan memang ingin menghacurkan Brian. Jujur, dia merasa iri terhadap Brian, padahal Brian hanya anak dari selingkuhan Ayah-nya, tapi kenapa Brian yang mendapatkan warisan cukup banyak dari Kakek-nya?

Kini dia bisa tersenyum puas, menatap Brian yang berada di ambang kehacuran, menurutnya.

______

"Jadi kamu?! Gadis jal*ng yang membuat cucu saya, Brian, melakukan perbuatan hina itu?!" bentak Gufron yang terlihat begitu marah.

Alya hanya terdiam membisu sambil menundukkan kepalanya, dia sama sekali tidak berani menjawabnya, bahkan menatap ke arah Gufron, tangannya tidak henti-hentinya memainkan jari-jemarinya, karena rasa takut. Meskipun dia korbannya, tapi dia juga tidak berani membela dirinya.

"Kamu pasti mau uang, 'kan? Sebutkan saja berapa yang kamu mau. Saya pasti akan kasih berapa yang kamu mau, dengan syarat kamu harus menghilang dari kehidupan cucu saya, Brian," ucap Gufron dengan penuh penekanan.

Alya memberanikan dirinya, menatap ke arah Gufron, sudah cukup dirinya direndahkan, dia bukanlah wanita yang bisa dibeli dengan uang, bahkan bukan wanita yang gila harta.

"Maafkan saya, Tuan. Tidak semuanya bisa dibeli dengan uang. Saya memang miskin, tapi bukan berarti saya tidak punya harga diri. Saya juga tidak tau semua ini akan terjadi, tapi yang jelas di sini saya korbannya," ucap Alya dengan berani, meskipun jantungnya terasa ingin copot, tapi ia tidak boleh terlihat lemah di depan musuhnya.

"Ayah, lihatlah gadis jal*ng itu. Dia sama sekali tidak memiliki sopan santun," ucap Sinta---Ibunya tirinya Brian, memiliki sifat yang sulit dijelaskan.

Gufron yang tersulut emosi, berjalan menghampiri Alya. "Bukankah kau melakukan semua ini demi uang, hah?! Lalu berkata, kau masih memiliki harga diri. Dasar wanita jal*ng!"

Plak!

Tamparan mendarat mulus di pipi kiri Alya, membuat tubuhnya terduduk di atas lantai, sudut bibirnya mengeluarkan darah.

"Kakek! Hentikan!" bentak Brian yang sedari tadi hanya diam.

"Kau baru saja membentakku?" tanya Gufron dengan gelagapan.

"Iya. Gadis itu sama sekali tidak bersalah. Semua ini salahku, jadi, aku akan menikahinya," jawab Brian dengan tatapan tajamnya.

"Apa kau bilang? Kau akan menikahinya? Pikirkan, Brian! Kau ini seorang pewaris, jika orang-orang perusahaan tau kau menikahi gadis seperti dia. Apa yang akan mereka katakan? Mau ditaruh di mana wajah Kakek-mu ini?" tanya Gufron dengan nafas turun-naik.

"Kakek bisa mencoretku dari pewaris. Aku sama sekali tidak membutuhkan itu semua. Bukankah Kakek masih memiliki tiga cucu lainnya, mungkin Kakek bisa menjadikan salah satu dari mereka, menjadi pewaris perusahaan," ujar Brian dengan tersenyum, jelas dia sedang menyindir Raihan.

"Beraninya kau, Brian!" ucap Gufron sambil memegang tengkuk lehernya yang mendadak berat.

"Ayah! Kakek!" ucap Sinta dan Raihan secara bersamaan.

"Mulai hari ini, kamu bukan lagi pewaris dari perusahaan GMW, dan kamu bukan lagi cucu dari Gufron Mukti Wibowo," ucap Gufron dengan penuh penekanan.

"Baik," jawab Brian dengan tenang.

"Percayalah, tanpa diriku kau bukan apa-apa. Aku yakin tidak lama lagi, kau akan mengemis-ngemis meminta bantuanku," ucap Gufron dengan tatapan tajamnya.

Brian hanya diam, bukan dia takut akan ancaman Kakek-nya, melainkan dia malas berdebat.

"Dasar anak tidak tau diri. Kau sama saja dengan Ibumu," ujar Sinta dengan tatapan sinisnya.

"Ayo, Ayah!" ajak Sinta, memapah Gufron berjalan pergi meninggalkan tempat itu.

"Sudah kuduga, kau tidak akan mengecewakan aku," ucap Raihan dengan menunjukkan sisi dirinya sebenarnya, tersenyum penuh kemenangan. Ternyata perjuangannya untuk menjadi pewaris, tidak sia-sia.

Brian memilih untuk diam, membiarkan apa kata Ibu dan Kakak-nya. Selama ini dia juga sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti itu. Mereka hanya terlihat baik di depannya, karena dia seorang cucu kesayangan, tapi kini tidak lagi.

Namun, Brian sama sekali tidak merasa sedih. Meskipun dia bukan lagi seorang pewaris, tapi dia akan memulai dari awal, membuktikan dirinya bisa tanpa mereka.

Brian menghampiri Alya yang masih terduduk lemas di atas lantai. Brian memapah Alya berjalan menuju sofa, dia tau Alya cukup syok setelah kejadian baru saja.

Brian berjalan pergi meninggalkan Alya di sofa, kembali menghampiri Alya dengan kotak P3K. Brian mengeluarkan kapas, menyirami dengan sedikit air alkohol, lalu dengan perlahan membersihkan luka yang berada di sudut bibir Alya.

Alya sama sekali tidak meringis kesakitan. Jujur, kejadian tadi membuat dia cukup syok.

"Maafkan aku. Aku tau kamu cukup syok dengan kejadian tadi, tapi percayalah, aku akan tetap bertanggung jawab apapun yang terjadi," ucap Brian, memecah kesunyian antara mereka berdua.

"Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Alya, menatap bola coklat milik Brian.

"Melakukan apa?" jawab Brian balik bertanya.

"Karena diriku, kamu harus kehilangan sesuatu yang berharga. Kamu tidak lagi seorang pewaris, kamu juga dibuang oleh keluargamu. Kenapa kamu mempertahankan aku? Gadis miskin, yang tidak tau diri," jelas Alya berterus terang, dia sama sekali tidak suka berbasa-basi dalam berkata.

"Mereka bukan keluargaku. Aku sama sekali tidak merasa sedih, melainkan aku merasa sangat bahagia. Kakek menyayangiku, karena aku memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh cucu-cucunya yang lain," ucap Brian dengan tersenyum.

"Apa itu?" tanya Alya, penasaran.

"Kecerdasan," jawab Brian sambil mengetuk kepalanya, dengan jari telunjuknya.

"Alasan Kakek-ku bersikeras ingin menjadikan aku pewarisnya, karena ia yakin aku mampu membuat perusahaannya maju," lanjut Brian dengan percaya diri.

"Oh," balas Alya mengaguk-angguk.

"Kamu tidak percaya? Mungkin saat ini kamu fikir aku seorang pria miskin, tapi kamu jangan khawatir. Aku masih memiliki sedikit saham di suatu tempat," ucap Brian dengan sombongnya.

"Aku sama sekali tidak menginginkan hartamu. Kamu sudah mau bertanggung jawab, itu sudah cukup bagiku," ujar Alya disertai senyuman.

Alya sebenarnya gadis ceria, hanya saja dia akan terlihat pendiam jika di dekat orang baru. Akan tetapi kalau sudah akrab, maka akan muncul sikap yang tidak terduga.

Kembali ke Beranda