Gambar dalam Cerita
Malam semakin larut, disertai dengan hawa dingin angin malam yang kian menusuk kulit, tak ada bulan dan bintang yang menyinari langit malam hanya ada awan hujan yang sewaktu waktu akan menumpahkan tangisnya kebumi.
"Hujannya sebentar lagi turun," ucapku menatap langit mendung yang banyak menyimpan kenangan disetiap rintik hujannya, jika semua orang banyak membenci hujan tidak dengan Arcel Dirgantara gadis penyuka hujan ini akan selalu menunggu hujan meski dirinya sering mengeluh tapi rasa suka terhadap hujan tak menyurutkan semangatnya. Hingga hujan yang ia tunggu datang membuyarkan lamunanku dan sebaliknya rasa kantukku yang kian memberatkan mata.
"Selamat pagi Anak anak, siapkan kertas dan alat tulis yang diperlukan dan masukkan semua buku kita akan ulangan materi minggu lalu," titah bu Erika. Seketika semua siswa kalang kabut mendengar kata ulangan mendadak dari guru fisikaku.
Sampai ketukan pintu kelas mengalihkan fokus siswa, bu Erika segera melihat siapa gerangan yang mencarinya. Cukup lama Bu Erika berada diluar kelas, entah apa yang mereka bicarakan sepertinya sangat penting, hingga Bu Erika datang bersama seorang siswa yang aku tak tau siapa siswa itu.
"Anak anak kita kedatangan teman baru pindahan dari Bandung, silakan perkenalan diri," ucap Bu Erika. Seisi kelas menjadi riuh, apalagi siswi perempuan, mereka terus saja berbisik bisik membuat kelas semakin tidak kondusif, aku hanya berdecak sebal karena mereka diriku tak fokus pada soal yang ada dihadapanku.
"Seganteng apasih dia, paling kalo emang ganteng, tajir, udah fiks playboy dah lah bodo amat," gumamku acuh.
Selang beberapa detik, "Perkenalan nama saya Yudha Mega pindahan dari Bandung," ucapnya dengan senyum khasnya. Saat itu puka suasana kelas yang sudah tak terkontrol menambah semakin kacau.
"Arcel.. Cel woi coba liat, dia ganteng banget," ujar Anya teman sebangkuku sambil berdecak kagum pada siswa baru itu.
"Terserah kamu," ucapku memberikan sedikit senyum tipis, sambil terus berfokus pada lembar jawaban.
"Arcel liat itu cel nanti kamu nyesel," ujar Melly dengan muka tak sabaran untuk menyampaikan sesuatu, ia merebut paksa lembar jawaban yang tengah ku isi.
"Jangan gini dong, itu ulangan yang harus dikerjain ah, kamu mah," tanpa sengaja manik mataku bertemu dengan manik mata milik siswa itu.
Jam istirahat kehabiskan hanya diperpustakaan meski perutku terus berbunyi tak mengurangi tekadku untuk menghabiskan bacaanku, sampai seorang siswa berdiri dihadapanku, aku mendongkah tuk melihat siapa siswa tersebut dan benar saja itu Yudha dengan senyum ramahnya.
"Boleh duduk disini?" tanyanya.
"Boleh," ucapku canggung. Tak ada obrolan sedikit pun kecanggungan terasa sangat pekat diantara kami. Sampai Yudha-lah yang membuka obrolan.
"Mm btw kamu suka hujan ya?" tanyanya sambil melirik buku novel yang ku baca.
"Iya suka, emang kenapa?"
"Enggak papa, heran aja sih kebanyakan orang suka hal hal yang lagi populer," jelasnya pada ku.
"Karena setiap berbeda, jadi jika kamu nanya kenapa aku suka hujan. Karena hujan bagiku, ia selalu membawa kenangan disetiap hal yang kita alami, selain itu juga hujan sangat penting kalo ga hujan bisa kekeringan jadi menurutku hujan itu penting," ucapku panjang lebar pada Yudha.
"Btw kamu suka hal yang berbau astronomi?" tanyaku pada Yudha yang membawa buku astonomi dan tata surya.
"Owh ini?, iya aku suka hal yang berbau astonomi apalagi bintang, cahaya pijarnya menyatakan bahwa banyak hal yang terjadi di atas langit sana yang belum diketahui semua orang awam termasuk aku hehe," ucapnya sambil tertawa.
Semenjak kejadian diperpustakaan hubungan pertemanan ku dengan Yudha sudah hampir 6 bulan. Aku dan Yudha semakin akrab, dugaanku tentang dirinya seorang playboy salah besar ternyata dia orang yang humoris, perhatian dan suka melawak terkadang lawakannya terdengar jayus haha lucu sekali dia saat menampilkan tinggkah imutnya, tetapi akhir akhir ini ia terlihat sedikit menjauh entahlah ini perasaanku saja atau bukan.
Dan selama 6 bulan ini pula, Cellina menatapku dengan tatapan membenci, aku tak tau apa ada masalah diantara kami atau tidak, dia seperti muak melihatku tapi aku tak terlalu mananggapinya mungkin saja ia salah paham.
Siang ini adalah persiapan camping yang diadakan pihak Osis, semua siswa dipulangkan lebih awal untuk menyiapkan keperluan camping. Saat aku berjalan dikoridor, tanpa sengaja aku melihat Yudha tengah mengobrol dengan Vio, aku mendengar beberapa percakapan mereka yang seperti menyebutkan namaku hal tersebut membuat ku penasaran.
"Yud, lo kayaknya makin hari makin deket sma cel itu, lo suka sma dia?"
"Hah, mana mungkin gue suka sama dia, gue hanya nganggap dia temen aja ga lebih, lagian dia bukan tipe gue," seperti petir menyambar disiang hari, air mataku langsung jatuh tanpa ijin, sakit memang sangat sakit aku berlari meninggalkan sekolah setelah mendengar hal tersebut.
Camping berjalan dengan penuh canda tawa dan kebahagiaan dari semua siswa tapi tidak denganku, pikiran ku terus berkecamuk mendengar pernyataan Yudha siang itu. Aku duduk didepan tenda sambil menatap langit tanpa sadar air mataku kembali jatuh. Seseorang memberiku saput tangannya dan segera ku ambil tanpa melihat yang memberinya.
"Kamu kenapa nangis?" tanyanya padaku.
"Aku tak papa" alibiku terus menunduk.
"Hey, liat aku kamu kanapa? Cerita sama aku Arcel," ucap Yudha mengguncang bahuku.
"Aku tau kamu denger percakapanku dengan Vio siang tadi tapi itu terjadi secara kebetulan," lanjutnya.
"Ah.. mm a-aku ngga denger apa," alibiku.
"Denger aku dulu Arcel"
"Ngga ada yang perlu dijelaskan lagi kok hehe aku tau semuanya jika kamu butuh bantuan aku akan membantumu," ucapku tersenyum tapi air mataku terus jatuh. Yudha menghapus jejak air mataku.
"Arcel jangan nangis lagi aku sakit liat kamu nangis, kamu salah paham yang aku bicarain itu bukan kamu tapi Cellina, aku tau dia suka aku, tapi aku takut kamu bakalan disakitin sama Cellina makanya aku menjauh untuk sementara agar Cellina tak menyakitimu, dan aku ga suka sama Cellina yang aku suka sekarang ada didepanku," ucapnya tersenyum sambil memelukku dan aku tak menolak pelukan hangatnya.
"Arcel kamu mau jadi pacarku?" Tanyanya padaku yang masih menangis dipelukannya sesekali ia mengusap lembut rambutku untuk menyalurkan sedikit energi, aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
Dibawah Bintang dan Rembulan merekalah yang menjadi saksi bisuku dan Yudha.
[ E N D ]