Jangan Sedih, Cha!
Teen
05 Jan 2026

Jangan Sedih, Cha!

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-05T234020.176.jfif

download - 2026-01-05T234020.176.jfif

05 Jan 2026, 16:40

download - 2026-01-05T234015.961.jfif

download - 2026-01-05T234015.961.jfif

05 Jan 2026, 16:40

"Pokoknya Caca mau yang itu!" bentak Caca sontak membuat Dio geleng-geleng kepala, merasa pusing dengan tingkah Caca tersebut.

"Gabisa Ca, Bunda Rara ga bakal kasih izin lo pelihara kucing," sahut Dio membuat Caca mengkerucutkan bibirnya sebal, seraya berjalan mendekat pada kucing persia bewarna putih itu.

"Mau ini hiks," kata Caca terisak pelan.

Dio tercegang, sedetik kemudian menatap mata Caca tajam.

"Ca, ayo pulang. Jangan ngada-ngada deh, lo nangis begini dikira gw yang nangisin tauk!" tukas Dio agak ketus.

Caca menoleh, kakinya spontan malah menginjak sepatu Dio keras.

"Berisik! Dio jahat banget sih sama Caca," balas Caca menatap Dio tajam, seraya melangkah pergi dengan kaki yang terus-menerus bersuara.

"Buru, katanya mau pulang, gimana sih?" tanya Caca menarik lengan Dio paksa.

Dio terkekeh, jemarinya dengan lihai menoyor kening Caca sekilas.

"Galak," balas Dio mendapat decihan pelan Caca padanya.

Caca dan Dio adalah dua orang yang bersama sedari mereka kecil, Caca adalah seorang anak yatim piatu, yang dititipkan oleh seseorang _enam belas tahun_ lalu pada sebuah panti asuhan.

Sedangkan Dio, keluarganya adalah donatur besar pada panti asuhan yang Caca tinggali tersebut.

"Ca, mau es krim nggak?" tawar Dio sedikit manis.

Caca menggeleng cepat. "Maunya kucing," balas Caca terdengar singkat.

Dio menghela nafasnya gusar, perlahan merangkul Caca spontan. "Nanti gw tanya Mami deh soal itu," kata Dio tersenyum.

Caca menoleh, menatap Dio dengan sangat girangnya. "S-serius?" sahut Caca dengan raut wajahnya yang berbinar.

"Boong deh tapi," kekeh Dio memalingkan wajahnya puas.

"Dio ih!" marah Caca menepuk-nepuk pundak Dio kesal.

*TRING TRING*

Caca dan Dio tercegang, tatkala melihat sebuah mobil bewarna putih tengah mengklakson mereka saat ini dengan sangat kencangnya.

"Siapa sih," gumam Dio menarik Caca ke belakang tubuh miliknya.

"Dio!" panggil seseorang mendekat, Dio mengangkat wajahnya cepat, mendapati seseorang yang memiliki wajah familiar baginya.

"Loh, Arin?" gumam Dio menyipitkan matanya samar.

"Siapa Dio?" tanya Caca amat pelan.

Dio tersenyum, menarik kembali tubuh Caca keluar. "Dia anak sahabatnya Mami, temen kecil gw Ca," sahut Dio nampak senang.

Caca ber oh ria, belum sempat Caca ingin bertanya. Arin sudah lebih dulu memeluk Dio dengan sangat eratnya, menyisakan Caca yang terdiam diri karena tak mengenali seseorang bernama Arin itu.

"Dio, parah! Lo tinggi banget sekarang," tutur Arin memuji.

Dio terkekeh. "Iya dong Rin, btw, lo sama siapa kesini?" tanya Dio nampak bingung.

"Sama Tante Intan, Mami lo." Arin berkata bangga, membuat Caca yang kini berada diantara mereka, merasa terkucilkan dan tidak sepantasnya berada pada situasi tersebut.

"Dio..," panggil Caca pelan.

Dio menoleh, ketika mendapati Caca yang malah menunduk sayu, dirinya mendekat, berusaha menenangkan Caca dengan mengelus lembut punggung gadis tersebut.

"Kenapa Ca? Oh ya—ini Arin, Rin ini Caca sahabat gw," ungkap Dio berniat memperkenalkan satu sama lainnya.

"Oh, ya. Gw Arin, salam kenal," pungkas Arin tersenyum.

Caca mendonggakan wajahnya sekilas, mendapati Arin yang tersenyum padanya, dengan sesegera mungkin juga ia membalasnya. "Caca," sahut Caca agak gemetar.

"Caca itu, yang anak yatim piatu ya? Yang pantinya selalu dikasih uang sama Tante Intan setiap bulannya," kata Arin blak-blakan.

Dio menoleh cepat, begitu juga dengan Caca. Ketika mendapati Arin berbicara seperti itu pada Caca, Dio kini merasa sedikit kesal. "Arin, ga seharusnya lo ngomong kaya gitu," timpal Dio tak terima.

"Gapapa," sahut Caca disela-sela pembicaraan mereka. "Caca emang anak yatim piatu, gak punya Ayah dan Ibu kaya Dio dan Arin. Maaf ya, kayanya Caca salah ada diantara kalian sekarang," lanjut Caca menunduk, perlahan berbalik badan untuk segera berlari.

"Ca!" panggil Dio hendak menyusul, namun terhenti karena Arin telah mencekal pergelangan lengan Dio dengan sangat sigap.

"Apaan sih Dio, lo ga seneng ya gw kesini? Kenapa malah ngurusin orang lain sih," ketus Arin mengomel.

Dio menggeleng lemah. "Gw bukan ga seneng Rin, tapi lo—udah keterlaluan sama Caca," balas Dio mendengus sebal.

"Dio, Arin. Ayo pulang Nak," teriak Intan yang berada didalam mobil.

Arin tersenyum, spontan menarik lengan Dio cepat. "Ayo," ajak Arin sontak mendapat tepisan telak Dio padanya.

"Gw harus ngejar Caca sekarang, kita ketemu di rumah gw aja ya Rin, maaf," tutur Dio singkat, sukses membuat Arin yang tertinggal malah menganga lebar tak percaya.

*

"Caca!" teriak Dio memanggil-manggil nama Caca khawatir.

Yang dipanggil selalu tak membalas, membuat Dio kini semakin ketakutan jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Caca.

"S-sakit..," lirih seseorang terdengar parau.

Dio terhenti berusaha fokus mendengarkan suara tersebut, perlahan ia berlari kencang, ketika tau bahwa Caca lah yang tengah kesakitan itu.

"Caca!" teriak Dio lagi terdengar lebih kencang.

Caca menoleh, menatap Dio dengan tatapan sendunya. "Dio, hiks... Caca takut," isak Caca menangis lirih.

Dio mendekat, memeriksa tubuh Caca yang kini terlihat sedikit terluka sekarang. "Ini kenapa Ca, ini juga, lo kenapa?" tanya Dio bertubi-tubi.

Caca tersenyum. "Caca ditabrak sama Mobil tadi," tutur Caca menghela nafas jengah.

"Ha?! Mobil? Terus gimana, mana orangnya?" teriak Dio dengan sangat lantangnya.

"Udah pergi. Caca kabur waktu kejadian itu, Caca gamau ke rumah sakit Dio, takut disuntik sama dokter," sahut Caca malah terkekeh pelan.

Dio agak tercegang, sesaat kemudian dia tersenyum, dengan jemarinya yang mulai memeluk tubuh mungil milik Caca erat.

"Jangan pergi lagi Ca, Dio janji bakal selalu ada buat Caca mulai hari ini," tutur Dio memejamkan matanya tulus.

Caca terkekeh. "Mulai hari ini, berarti kemarin-kemarin Dio kemana aja?"

"Kemaren Cacanya galak, gw gamau berhadapan sama versi lo yang galak, serem soalnya Ca," balas Dio meledek.

"Makasih ya Dio. Caca juga sayang deh sama Dio, cuma kalo Dionya baik, kalo Dionya jahat Caca sukanya liat Dio tersakiti."

Dio mendelik. "Sadis lo Ca!" tutur Dio geleng-geleng kepala.

Keduanya kini tertawa bersama, Dio kembali mengajak Caca pulang bersama dengan cara menggendong tubuh Caca. Sedangkan reaksi Caca, kalian tau sendiri, Caca adalah orang yang selalu menerima rezeki, apalagi itu adalah tumpangan gratis dari Dio, tentu saja Caca mau.

"Jangan sedih, Cha!"

Kata terakhir Dio, sebelum akhirnya mereka kembali melangkah untuk kembali pulang pada kenyataan yang sebenarnya.

[ E N D ]


Kembali ke Beranda