Gambar dalam Cerita
Thailand
"Tungguuuuuuuu~"
Lisa berteriak saat pintu boarding akan ditutup oleh petugas bandara, dengan ransel besar yang ia gendong di punggungnya, ia lari terbirit-birit seperti baru saja di kejar hantu.
"Hah..ini."
Setelah selesai dengan berbagai macam urusan ia kembali berlari untuk masuk kedalam pesawat. Di dalam pesawat Lisa berjalan cepat tanpa peduli ranselnya menyenggol orang lain, ia terus berjalan menuju kelas bisnis untuk mencari tempat duduknya.
Bugh~
"Aww!"
Lisa tercengang saat mendengar jeritan seorang wanita saat dia berbalik untuk mencari nomor tempat duduknya, ia kembali berbalik dan seorang gadis sedang menatapnya tajam seraya mengelus kepalanya.
"Nona, apa kau baik-baik saja?" Lisa bertanya dengan polosnya.
Gadis itu menggeram dan mengangkat tangan seperti kucing hendak mencakar, "rawrr… Ransel sialanmu mengenai kepala ku!" Omelnya.
Lisa tercengang dan reflek mengangkat kedua tangan seolah dia di todong sebuah pistol, "Maaf, maafkan saya. Saya tidak sengaja."
Gadis itu hanya memutar bola matanya, ia menggeser tubuh Lisa secara kasar lalu duduk di tempat duduknya yang ternyata bersebelahan dengan Lisa. Setelah Lisa menaruh ranselnya kedalam bagasi yang ada di atas kepalanya, ia duduk di tempat duduknya.
"Nona, siapa namamu?"
Gadis yang di tanya hanya diam termangu, Lisa menggunakan bahasa Thailand yang tidak di mengerti oleh si gadis. Sadar dirinya salah, Lisa menyengir kuda seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ah, maksudku siapa namamu Nona?" Tanya Lisa menggunakan bahasa inggris.
Lisa adalah seorang mantan atlet, ia sudah berkeliling ke beberapa negara jadi dia tidak kesulitan dalam berbicara bahasa asing karena dia pintar berbahasa Inggris, Korea, China, Prancis dan Thailand tentunya karna dia berasal dari Thailand.
"Tidak.perlu.tau!" Jawab sinis si gadis tersebut lalu ia memakai kacamata hitamnya.
Lisa mengerucutkan bibirnya kedepan namun ia memilih diam dan tidak lagi bertanya, ia memasang sabuk pengaman setelah mendengar pengumuman jika pesawat akan segera take off. 15 menit kemudian, pesawat berhasil mengudara. Lisa melepas sabuk pengamannya lalu memasang headphone nya, mendengarkan lagu K-Pop seraya menggerak-gerakkan tangannya seolah ia sedang menari.
Plak~
Lisa terbelalak karena tanpa sengaja tangannya mengenai bahkan menampar gadis yang duduk disebelah nya tadi, dia menelan ludah secara kasar saat gadis itu membuka kacamatanya dan kembali menatap tajam padanya. Ia tercekikik canggung dan mengangkat kedua jari tangannya ✌️.
"Hihi.. Nona cantik, matamu indah seperti mata kucing, pipimu lucu seperti mandu, hidungmu mancung dan kau sangaaaaaaaaaaat cantik tapi…. Kau akan jauh lebih cantik jika kau tidak marah hihi~“ Rayu Lisa, “Maaf, aku tidak sengaja." Lanjutnya.
"Akkkhhh~"
Lisa berteriak saat poni kesayangannya di tarik oleh gadis di hadapannya karena dia duduk menyamping menghadap pada di gadis, karena kesal jadi tanpa segan dia menggeram lalu mencubit gemas kedua pipi si gadis.
"Don't touch my Bangs!" Geram Lisa.
"Aw.. Aw.. Aw."
Lisa melepas cubitannya secara kasar setelah gadis itu memekik kesakitan, ia mendengus sebal lalu kembali memasang kembali headphone nya.
“Maaf nona.. nona.. Jangan membuat keributan, kalian mengganggu kenyamanan penumpang yang lainnya.“ Tegur pramugari.
Lisa mengangguk dan segera menyalakan kembali musik yang ia dengar sebelumnya, sementara si gadis Kembali memasang kacamata hitamnya dan memilih memejamkan mata.
"Bisnis trip yang memuakkan!" Gumam kesal si gadis.Incheon Internasional Airport, Korea Selatan.
Lisa tersenyum lebar saat ia keluar dari gerbang kedatangan di bandara Incheon, ia senang karena akhirnya bisa merantau ke negeri orang untuk mecoba peruntungan di hobinya yang lain. Orang tua yang selalu mendukung apapun yang ia inginkan, itu yang membuat Lisa berani untuk mencoba mencari peruntungan di negeri orang.
Lisa tersenyum pada orang-orang yang menyapanya, ada beberapa orang yang mengenalinya karena memang dulu dia atlet terkenal top 1 di Thailand. Setelah merasa cukup menikmati udara Korea Selatan, dia bergegas melanjutkan langkahnya untuk memberhentikan taksi yang akan membawanya kesebuah unit apartment yang sudah ia beli sebelumnya.
Saat tiba di tepi jalan Lisa mengerutkan kening, dua mobil mewah berhenti di hadapannya dan tiba-tiba turun dua pria berbadan besar, lengkap dengan setelan seorang bodyguard elit dan beberapa detik kemudian mata Lisa berbinar saat melihat seorang gadis turun dari salah satu mobil mewah tersebut.
"Woahhh.. Bidadari." Seru Lisa tanpa berkedip.
"Permisi, jangan menghalangi jalan nona." Usir seorang pria berbadan besar seraya menyingkirkan tubuh Lisa .
Kekuatan yang Lisa punya membuat tubuh Lisa tidak bergeser sedikit pun, ia tetap diam di tempat dan terus memandang gadis yang diam berdiri di dekat pintu mobil, sedikit berjinjit dan menoleh ke sana kemari seperti mencari kehadiran seseorang.
"Tolong minggir nona." Usir tegas seorang pria berbadan besar.
Lisa tersadar, ia menoleh menatap pria itu lalu mendengus kesal, "Jangan suka mengganggu kebahagiaan orang ahjussi."
"Awas!"
Lisa terhuyung dan hampir jatuh saat ada seorang gadis menggeser tubuhnya dari sisi kiri karena Lisa memang menghalangi jalannya, ia menganga saat tahu gadis yang ada didalam pesawat tadi lah yang menggeser tubuhnya, si gadis bermata kucing yang duduk berdampingan dengannya.
"Nona, kau kasar." Sebal Lisa.
Gadis itu menoleh, "Maaf.. apa kita saling kenal?"
Lisa mencebikkan bibirnya tapi beberapa saat kemudian ia tersenyum lebar, menyodorkan tangan untuk berjabat tangan.
"Hi.. Lisa, Lalisa Manoban." Ucapnya riang.
Gadis yang diajak berkenalan oleh Lisa sedikit menurunkan kacamata hitamnya, ia menatap Lisa dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas lalu ia bersmirk dan menggelengkan kepala.
"Presiden Kim, selamat datang kembali di Korea. Ayo masuk, Tuan sudah menunggu."
Gadis yang di panggil presiden Kim itu mengangguk lalu masuk kedalam mobil, mengabaikan tangan Lisa yang masih terulur untuk berjabat tangan. Gadis yang tadi Lisa tatap tersenyum, ia menjabat tangan Lisa.
"Hi.. Bae Joohyun tapi kau bisa memanggilku Irene, sekertaris presiden Kim."
Lisa tersenyum bodoh, ia mejulurkan sedikit lidahnya. Rasa kesalnya pada presiden Kim hilang karna gadis cantik lainnya menjabat tangannya.
"Lisa, Lalisa Manoban. Senang berkenalan denganmu, jika kau membutuhkan fotografer kau bisa menghubungiku." Ucap Lisa lalu ia memberi wink pada Irene tanpa melepaskan jabat tangan mereka.
Irene tersenyum dan mengangguk, namun saat ia akan membuka mulut untuk meminta kartu nama Lisa, ia memekik kesakitan karena sang presiden tiba-tiba mengeluarkan kepalanya saja dari dalam mobil, tangannya terulur ke arah Irene dan ia menjewer telinga Irene begitu saja.
"Sekertaris genit, ayo!" Tegas presiden Kim.
"Aw.. Aw.. Yak, Jennie Kim... Sakit bodoh!!" Geram Irene seraya mengusap telinganya dan melepas jabat tangannya dengan Lisa.
"Oh namanya Jennie Kim." Gumam Lisa seraya mengangguk-anggukan kepala dan tersenyum.
Tanpa pamit Irene masuk kedalam mobil, tidak berselang lama dua unit mobil mewah itu melaku meninggalkan area bandara. Lisa pun bergegas memberhentikan taksi untuk segera pergi ke unit nya dan beristirahat.
Di dalam mobil Jennie...
Jennie terus diam dan menatap keluar jendela sementara Irene terus tersenyum seperti orang idiot, ia terus terngiang senyum Lisa, beberapa kali ia mencium aroma parfum Lisa yang menepel di tangannya kemudian ia terkikik sendirian.
"Aku hanya meninggalkanmu tiga hari ke Thailand, kenapa saat aku pulang kau jadi gila?"Ledek Jennie.
Irene memutar bola matanya malas, "Lisa.. Lisa.. Lisa.., Jennie, apa kau satu pesawat dengan gadis tadi?" Tanya Irene antusias.
"Bahkan duduk berdampingan." Jawab Jennie seraya memeriksa kuku-kuku tangannya.
"Woah.. Jinjja? Apa kau tidak sadar dia sangat cantik tapi dia tampan juga, dia juga wangi Jennie... astaga~" Seru Irene lalu ia kembali mencium tangannnya.
Jennie menoleh pada Irene seraya mengerutkan kening, "sewangi apapun dia, setampan apapun dia, bukankah tetap saja dia seorang wanita? Hell.. Irene apakah kau tidak normal sekarang?" Tanyanya menatap tidak percaya pada Irene.
"Omo.. Omo.. Mulutmu ini jahat sekali, tentu saja aku masih normal tapi jika Lisa mau padaku, aku rela menjadi tidak normal untuknya." Irene memekik kegirangan.
Tuinggg~
Jennie mendorong kepala bagian kanan Irene menggunakan jari telunjuknya hingga kepala bagian kiri Irene terbentur kaca jendela mobil.
"Kau benar-benar tidak waras, Bae Joohyun." Jennie menggelengkan kepala seraya melipat kedua tangannya di bawah dada.
Irene terkekeh sambil mengusap kepalanya, "Aku rela di ledek tidak waras asal Lisa milikku, ya Tuhan.. pertemukan kami kembali." Ucapnya seraya menatap langit-langit mobil dan kedua tangan ia satukan 🙏.
Jennie Kembali menoleh pada sekertarisnya, dia menggerakan jari telunjuk di kening seolah mencoret keningnya setelah melihat tingkah sekertarisnya, tapi setelah itu dia kembali menggeleng dan menoleh keluar jendela tanpa mengatakan apapun lagi.
••
Karena rasa lapar yang luar biasa , sebelum masuk ke kawasan unit apartment nya Lisa memutuskan untuk makan terlebih dahulu, dia memilih makan di resto bintang 3 yang tidak jauh dari unitnya . Soal keadaan ekonomi Lisa , bisa di bilang dia orang kaya. Selain hasil dia menjadi atlet selama ini yang selalu ia tabung, orang tuanya adalah seorang Chef internasional yang memiliki beberapa cabang resto bintang 5 di Asia dan Eropa, tapi dia lebih senang menggunakan hasil kerja sendiri untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari kecuali jika ada keperluan mendadak barulah dia akan lari pada orang tuanya. Seperti unit nya di Seoul, orang tuanya lah yang membelikan unit itu untuk Lisa.
"Lumayan." gumam Lisa seraya mengangguk-anggukan kepala setelah satu suap makanan khas Korea itu masuk ke dalam mulutnya.
Lisa melanjutkan makannya seraya menatap jalanan yang cukup padat malam ini, dia pintar beradaptasi jadi menyesuaikan perbedaan waktu antara Seoul dan Thailand tentu itu bukanlah hal yang sulit untuknya. Mulutnya tidak berhenti mengunyah, bola matanya tidak berhenti bergulir dan sesekali ia tersenyum melihat pemandangan lucu yang ia lihat di luar resto.
15 menit kemudian acara makan malamnya selesai, Lisa memanggil pelayan untuk membayar bill dan setelah semua selesai dia mengeluarkan kameranya lalu ia gantung di lehernya , ia menggendong kembali ranselnya di punggung lalu keluar dari resto tersebut. Selalin menjadi atlet tapi dunia fotografer adalah hobinya.
"Spring day."
Lisa tersenyum saat sadar ini adalah awal musim semi, awal maret memang hawa masih terasa dingin karena musim dingin baru saja berlalu dan musim panas baru akan tiba. Lisa berjalan pelan di trotoar jalan, beberapa kali ia memotret hal yang menurutnya unik dan layak untuk di foto. Ia tersenyum setiap kali melihat hasil fotonya cukup memuaskan, tapi setelah itu ia kembali membidik ke arah seorang pria paruh baya yang hendak menyebrang namun matanya terbelalak karena di belakang pria itu ada seseorang yang memakai pakaian serba hitam, memakai masker juga topi hitam, memegang sebuah pisau yang siap di arahkan ke kepala pria paruh baya yang hendak menyebrang itu.
Tanpa menunda Lisa berlari sekncang yang ia bisa, tepat saat pisau itu akan di tancapkan ke kepala pria paruh baya tersebut Lisa melompat , ia memutar tubuhnya dengan kaki kanan yang ia angkat lalu ia ayunkan ke arah pria berpakaian hitam tadi dan..
Bugh! Prak!!
Side kick berhasil Lisa lakukan, tendangan mendarat sempurna di dada lawan hingga lawan terpental dan pisau yang di genggam pun jatuh di atas trotoar.
"Tuan, anda baik-baik saja? Maaf .. Dia akan menusuk kepala anda dengan pisau." Ucap Lisa pada pria paruh baya yang hendak menyebrang itu, dia menggunakan bahasa korea fasih seolah sudah sangat lama dia di Korea.
"Ah.. Saya baik-baik saja, nak. Terima kasih banyak." Balas si pria paruh baya.
Tepat setelah pria paru baya itu seslai berbicara, sudut mata Lisa kembali menangkap pergerakan, ia menarik kasar tubuh pria paruh baya itu lalu ia sembunyikan di balik tubuhnya dan benar saja, pria berpakaian serba hitam itu kembali memegang pisau dan hendak menusuk si pria paruh baya kembali.
Lisa kembali menendang tangan pria itu hingga pisau kembali terlempar , saat si pria lengah Lisa memberi pukulan mentah di wajah si pria hingga perkelahian terjadi, Lisa terus menepis dan saat lawan lengah ia sedikit melompat lalu memberikan axe kick , kaki Lisa yang berbalut sepatu booth mendarat sempurna di kepala si pria hingga akhirnya pria itu jatuh tidak sadarkan diri.
Pria paruh baya di belakang Lisa tercengang melihat perkelahian yang terjadi sementara Lisa diam berdiri seraya mengatur nafasnya yang terengah-engah, ia menghapus keringat menggunakan punggung tangannya lalu meludah tepat mengenai wajah si pria yang sudah tergeletak tidak sadarkan diri.
"Hah .. Beraninya main belakang." Gerutu Lisa.
"Tuan, anda baik - baik saja?"
Lisa menoleh ke belakang saat mendengar suara pria asing lainnya, dia mengangkat sebelah alis saat melihat ada seorang pria berbadan besar dengan setelan rapih menghampiri pria yang dia tolong, tanpa menunda dia berbalik lalu berjalan menghampiri pria paruh baya itu dan menepuk bahunya karena pria itu hanya diam dan terlihat shock.
"Tuan, anda baik - baik saja kan?"
Pria paruh baya tersadar, ia mengangguk lalu menatap Lisa, " Nak, kau asli korea?"
Lisa menggelengkan kepala dan tersenyum, " tidak, ah bukan maksud saya. Saya dari Thailand dan baru sampai di Korea beberapa jam yang lalu."
"Apa kau kuliah, bekerja atau?"
Lisa kembali tersenyum, "Saya sedang mencari pekerjaan, Tuan."
"Bisakah kau ikut denganku? Sebagai tanda terima kasih, aku akan memberimu pekerjaan." Balas si pria
"Tuan Kim, anda yakin? Kita saja baru bertemu dengannya." Ucap si pria berbadan besar.
"Aku percaya padanya," Jawab si pria paruh baya seraya menoleh pada pria berbadan besar lalu ia kembali menoleh pada Lisa, "kau mau, kan?"
Mata Lisa berbinar , ia mengangguk antusias dan rasa lelahnya hilang begitu saja. Siapa sangka niat menolong tanpa sengaja malah membantu dia untuk mendapat pekerjaan di hari pertama ia tiba di korea? Karena sudah setuju untuk bekerja pada pria yang ia tolong, ia ikut masuk ke dalam sebuah mobil mercedez maybach hitam yang menjemput pria paruh baya itu tanpa pulang ke unit nya terlebih dahulu, tasnya ia peluk di pangkuannya dan sepanjang perjalanan keduanya berbincang. Dari perbincangan itulah si pria paruh baya tau jika Lisa adalah mantan atlet bela diri, tidak heran Lisa bisa bahkan pandai berkelahi.
___
Keesokan harinya...
Karena malam semakin larut dan tidak membawa kendaraan, terpaksa Lisa menginap di sebuah mansion mewah milik pria paruh baya yang ia tolong tadi malam. Saat ini dia baru saja terbangun dari tidurnya, ia menggeliat lalu duduk di atas tempat tidur, tanpa membuka mata dia bergerak merapihkan poni kesayangannya. Di rasa poni nya cukup rapih dan sudah menutupi jidatnya Lisa membuka mata dan tersenyum seraya melihat sekeliling kamar luas itu, furniture mahal jelas mengisi hampir setiap sudut kamar tersebut membuatnya terkagum-kagum.
Puas melihat sekeliling kamar itu dia segera turun dari atas tempat tidur lalu dia berjalan ke arah balkon. View kolam renang juga taman belakang mansion itulah yang menjadi pemandangan yang menyegarkan mata Lisa pagi ini tapi beberapa saat kemudian senyum Lisa luntur saat ia melihat seorang gadis di tepi kolam.
Lisa membeku tanpa berkedip karena melihat gadis itu membuka bathrobenya, apa yang si gadis lakukan sukses membuat mulut Lisa menganga dan matanya terbuka lebar.
"Oh my gosh!" Gumam Lisa, dia menjilat bibirnya seraya berpegangan pada pagar balkon tanpa mengalihkan perhatiannya.
Lisa yakin gadis itu akan berenang karena si gadis hanya memakai bikini saja setelah bathrobe terlepas. Bokong dan payudara sintal si gadis membuat Lisa meneteskan air liur tanpa ia sadari, dia terus memperhatikan si gadis dan matanya masih saja tidak berkedip saat melihat gadis itu sedang melakukan stretching di pinggir kolam.
Di bawah Lisa tepatnya di area kolam renang, gadis itu mengibas-ngibaskan rambutnya yang dia urai begitu saja, tapi saat dia akan menceburkan diri ke kolam dia mengerutkan kening seraya menaruh kedua tangannya di pinggang.
"Kenapa rasanya seperti ada yang memperhatikanku?" Gumam si gadis seraya menoleh ke sembarang arah, tepat saat ia mengangkat kepala dan melihat ke arah balkon yang ada di lantai 2, matanya terbelalak karena melihat kehadiran Lisa disana, "YAK!!" Teriaknya.
Lisa masih diam dan semakin menganga karena gadis itu menghadap padanya, perut rata dan tubuh ideal gadis cantik menjadi pemandangan paginya hari ini. Gadis itu geram melihat wajah mesum Lisa, ia menunduk dan mencari sesuatu hingga akhirnya ia menemukan batu kerikil. Dia menyeringai lalu ia membungkuk dan mengambil kerikil tersebut, setelah berdiari kembali dia melempar kerikil itu sekuat tenaga ke arah Lisa.
Wushh~ Tuk!!
Lisa memekik kesakitan seraya menutup area selangkangan nya, batu itu masuk ke celah pagar balkon dan mendarat sempurna di atas selangkangan Lisa. Lisa menangis karena miliknya sedang ereksi sempurna lalu terkena lemparan batu, rasa sakitnya membuat kaki Lisa lemas bukan main .
"Oh Kintamaku." Lirih Lisa seraya terus mengelus miliknya.
Si gadis menggeram di bawah, ia meraih dan memakai bathrobenya seraya melangkah ke arah pintu untuk masuk ke dalam rumah karena dia berniat menemui Lisa di atas sana.Dengan langkah tergesa gadis itu masuk ke dalam mansion seraya mengikat kembali tali bathrobenya, ia terus menggeram dan mengumpat karena merasa sangat kesal, dia merasa di intip secara diam-diam oleh orang asing yang entahlah kenapa ada di mansionnya.
“Hey, young princess .. Kenapa?”
“Jennie .. Apa yang terjadi?”
Dua pertanyaan itu keluar dari mulut seorang pria paruh baya dan seorang gadis yang sedang bersantai di living room. Jennie tidak menggubris pertanyaan-pertanyaan tersebut, yang ada dia terus langkah tergesa hingga akhirnya ia menaiki tangga membuat dua orang yang bertanya padanya terheran-heran karena Jennie tidak pernah sekali pun menggunakan tangga, meski hanya naik ke lantai 2 biasanya dia selalu memakai lift di mansion tersebut.
Tidak berselang lama Jennie tiba di depan pintu kamar tamu dimana kamar itu memang di isi oleh Lisa, dengan bantuan seorang maid Jennie berhasil membuka pintu tersebut. Ia masuk dan menatap tajam pada Lisa yang sedang menangis, berlutut sedikit membungkuk dan menutup selangkangan nya, bahkan Lisa masih berada di balkon kamar tamu mansion megah keluarga Kim.
“Siapa yang mengizinkan mu tidur di kamar ini?” Tanya Jennie marah seraya melangkah mendekati Lisa, kedua tangannya kembali ia taruh di pinggang.
Lisa mengangkat kepala menatap Jennie, “tuan Kim.” Jawabnya apa adanya.
“Kenapa kau mengintip, hah? Tidak sopan sekali!” Ketus Jennie.
“Hiks .. Aku tidak mengintip nona. jangan salahkan aku, salahkan mataku yang tidak bisa menyianyiakan kesempatan untuk melihat pemandangan indah.” jawab Lisa di sela tangisnya.
Jennie menganga mendengar jawaban Lisa, ia menggeram lalu menjambak rambut Lisa, memukuli bahu Lisa sekencang yang ia bisa, tampang gemas dan kesal terlihat menghiasi raut wajah cantik Jennie.
“Aw .. Aw! Yak! Aduhh~”
Lisa merangkak untuk menghindari Jennie hingga akhirnya dia berhasil masuk ke dalam kamar. Setelah berhasil menghindar Lisa berdiri lalu dia berlari, keduanya berlarian di dalam kamar tamu itu. Jennie terus berlari dan berusaha memukul Lisa, sedangkan Lisa berlari untuk menghindar dari amukan Jennie.
“Tidak kena .. Wlee~”
Lisa sedikit menungging lalu menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan seraya menaruh jempol tangan kanan di telinga kanan dan jempol tangan kiri di telinga kiri, dia menoleh menatap Jennie sambil menjulurkan lidah meledek. Apa yang Lisa lakukan jelas membuat Jennie semakin kesal, ia mengepalkan kedua tangannya sekilas lalu ia meraih guci kecil yang menjadi pajangan di kamar itu. Lisa terbelalak, ia berlari menghindar namun tepat saat Jennie akan melempar guci tersebut pintu kamar terbuka dari luar hingga membuat Jennie menghentikan aksinya.
“Ada apa ini?” Tanya seorang pria paruh baya.
Jennie mendengus kesal lalu memeluk guci yang tadi sudah siap untuk ia lempar, “siapa dia dad? Kenapa makhluk menyebalkan itu ada disini, dia mengintip ku di kolam renang.” Adunya.
“Aku tidak sengaja tuan, aku baru saja bangun tidur lalu melihat pemandangan dari balkon. Balkon mengarah ke kolam renang, tidak salah kan?” Elak Lisa.
“Tapi kenapa kau terus menatapku dengan tampang menjijikanmu itu?” Kesal Jennie.
“Mwo? Menjijikan katamu? Ck .. I'm so hot." Balas Lisa percaya diri.
“Hot? Hot lubang hidungmu." Geram Jennie lalu ia kembali mengangkat guci yang ia peluk untuk ia lempar ke arah Lisa.
Guci terlempar namun karena Lisa memiliki refleks yang bagus, dengan mudah dia menangkap lalu memeluk guci tersebut.
Lisa menyeringai, "mweheheh .. Apa? Mau melempar apalagi? Ayo." Tantangnya
Demi segala dewa di dunia, Jennie merasa sangat kesal pada Lisa. Ia menghentak-hentak kaki kelantai seraya mengepalkan kedua tangannya.
“Sudah, Jennie kau mandi dan daddy tunggu di ruang makan," Ucap si pria paruh baya lalu ia menoleh pada Lisa, "dan kau, mandi .. Saya tunggu di ruang makan.”
Jennie mendengus kesal dan pergi begitu saja dari kamar tamu tersebut di ikuti oleh sang daddy, Lisa pun segera menaruh guci di tempat asalnya, ia berjalan ke arah kamar mandi untuk segera mandi dan memeriksa miliknya.
20 menit kemudian....
“Jadi.. namanya Lisa, Lalisa Manoban. Dia berasal Thailand, semalam dia menolong daddy dari orang suruhan pesaing kita yang berniat menyingkirkan daddy, ia datang ke Korea untuk mencoba peruntungan di negara kita dan dia adalah mantan atlet bela diri yang ingin mencari pekerjaan baru di Seoul, dia sudah bercerita pekerjaan apa yang dia cari tapi karena dia memiliki keahlian lain daddy menyarankan untuk menjadi bodyguard dan asisten pribadi mu saja.”
Uhuk ~ uhuk ~
Jennie tersedak makanan yang sedang ia kunyah setelah mendengar ucapan sang ayah, mereka memang sedang sarapan bersama setelah Lisa dan Jennie turun dari kamar masing-masing. Lisa sigap memberikan air minum pada Jennie, setelah batuk nya mereda, Jennie menatap tidak percaya pada sang ayah.
“Are u sure, dad? Oh C'mon, masih ada Jackson yang menjagaku.” Keluh Jennie.
“Jackson akan menjaga kakakmu Jisoo, karena sebentar lagi dia akan menjadi CEO di perusahaan kita yang bergerak di bidang lain.” Ucap sang daddy.
Jennie dan Jisoo adalah kakak beradik, mereka anak korban brokenhome. Kedua orang tuanya bercerai karena sebuah masalah besar yang keduanya pun tidak tahu apa masalahnya, Jisoo ikut sang ibu di Auckland dan Jennie ikut dengan sang ayah di Korea. Kedua orang tuanya akur meski bercerai jadi hubungan mereka baik-baik saja, namun karena sang ibu menikah lagi dan Jisoo tidak nyaman harus tinggal dengan ayah sambungnya, Jisoo memilih kembali ke Korea dan tinggal bersama adik dan ayah kandungnya.
Jennie hanya bisa mendengus kesal karena ia tau jika sang ayah sudah membuat peraturan dia tidak bisa menolak aturan itu. Meski dia kesal pada Lisa, mau tidak mau dia harus pasrah dengan keputusan sang ayah. Semalam Lisa sudah menyetujui tawaran pekerjaan dari ayah Jennie jadi mulai hari ini dia akan bekerja menjadi bodyguard dan asisten pribadi Jennie, jauh melenceng dari niat awalnya datang ke Seoul, ia ingin menjadi fotografer tapi ujungnya dia malah menjadi bodyguard. Tidak masalah bagi Lisa apapun pekerjaannya, apalagi gaji yang di tawarkan oleh tuan Kim sangat menggiurkan dan terpenting, pekerjaannya Halal.
“Dan Lisa .. Namaku Kim Woo Bin, semalam kau hanya tahu dan memanggilku Tuan Kim saja.”
Lisa tersenyum dan mengangguk, “Nde tuan.”
“Kau asli Thailand?” Tanya Jisoo.
Lisa kembali mengangguk, “Nde presiden, saya asli Thailand. Mau berlibur ke sana?” Ajaknya.
Jisoo terkekeh, “kita atur jadwalnya nanti.”
Lisa hanya mengangguk dan tidak mengatakan apapun, mereka kembali melanjutkan sarapan dalam kondisi hening. Sesekali Jennie melirik Lisa dan ia sadar apa yang Irene katakan benar. Lisa cantik dan tampan tapi tingkah Lisa sangat menyebalkan.
___
Kim Company
Mobil mercedez Maybach itu melaju perlahan di pelataran sebuah gedung perusahaan, tidak berselang lama mobil berhenti tepat di depan pintu utama gedung perusahaan itu. Beberapa detik kemudian Lisa turun dari pintu pengemudi, dia berbalik lalu membukakan pintu penumpang dan detik berikutnya Jennie turun dari dalam mobil.
Pekerjaan Lisa benar-benar berbeda dari pekerjaan yang dia harapkan sebelumnya, selain menjadi bodyguard peribadi tapi dia merangkap menjadi sopir dan asisten pribadi Jennie juga, tapi karena itu pilihannya jadi dia menerima semua pekerjaan yang Woo Bin percayakan padanya.
Di dalam lobby ada seseorang yang terlihat berbinar melihat kehadiran Lisa, orang itu tidak lain adalah Irene. Irene sedang menanti kedatangan Jennie di lobby perusahaan karena memang seperti itu biasanya. Setelah turun dari mobil Jennie berjalan anggun namun berwibawa dengan setelan CEO-nya dan masuk ke gedung perusahaan tersebut.
Irene menyambut hangat namun ia terus curi pandang pada Lisa yang berjalan mengikuti Jennie, melihat gelagat Irene membuat Jennie menggelengkan kepala. Lisa membuat Irene tidak fokus bahkan dia lupa menyapa Jennie karena sibuk curi pandang pada Lisa, sementara Lisa hanya tersenyum manis seraya terus berjalan mengikuti Jennie.
Melihat Lisa semakin menjauh membuat Irene tersadar, ia terbelalak dan berlari mengikuti Jennie. Larinya semakin kencang saat melihat Jennie sudah masuk ke dalam lift, Jennie sudah berdiri di dalam lift menunggu Lisa dan Irene masuk, tapi tepat saat Lisa akan masuk Irene yang berlari kesulitan menghentikan larinya, ia menabrak punggung Lisa hingga akhirnya Lisa terhuyung ke depan dan menabrak Jennie yang berdiri di hadapannya.
Dorongan yang Irene lakukan membuat Jennie mundur, punggungnya membentur dinding lift dan tubuh nya terhimpit oleh Lisa yang juga terdorong oleh Irene. Entah itu sebuah kesialan atau justru keberuntungan, bibir Lisa mendarat sempurna di bibir Jennie . Pintu lift tertutup dan kondisi di dalam lift hening, tangan Jennie berada di dada Lisa sedangkan kedua tangan Lisa ada di dinding lift tepat di kedua sisi bahu Jennie dan tangan Irene memeluk pinggang Lisa.
Mata Jennie dan Lisa terus bertemu, keduanya diam dan lift terus hening. Lisa terbawa suasana, kedua payudara Irene menempel di punggungnya dan bibir nya menempel di bibir Jennie, tanpa merasa bersalah ia malah mencoba melumat bibir Jennie, jantung keduanya berdetak kencang seolah tidak ada siapapun lagi di sana. Lisa memejamkan mata menikmati kenyal dan lembutnya bibir Jennie, melihat Lisa memejamkan mata membuat Jennie tersadar, dia mendorong kasar tubuh Lisa hingga Lisa terhuyung ke belakang dan mendorong tubuh Irene.
Plak!
“KURANG AJAR!” Teriak Jennie marah setelah memberi tamparan di pipi Lisa Lisa.
Karena kehilangan keseimbangan Lisa terhuyung ke belakang hingga akhirnya punggung Lisa menghimpit tubuh Irene di pintu lift. Irene memekik kesakitan karena kepala nya terbentur pintu lift, mendengar pekikan Irene akhirnya Lisa tersadar dia segera berdiri tegak, dengan segala kerepotan yang ada di tangannya, ia membantu Irene berdiri.
“Maaf presiden Kim, selamat pagi.” Sapa Irene kikuk.
Jennie mendengus kesal, ia mendelik pada Lisa lalu dia mengangkat tangan dan menunjukan jari tengahnya pada Lisa membuat Lisa tercengang lalu membungkuk berkali-kali.
“Maaf presiden Kim, maaf. Saya terbawa suasana.” Cicit Lisa.
Jennie mendengus sebal, ”Maaf, maaf. Belum ada 24 jam aku bersamamu tapi sudah dua kali kau memancing emosiku, Lalisa!!” Omelnya.
“Ya karena aku tidak boleh memancing nafsu birahi mu, kan?” Celetuk Lisa.
Mendengar jawaban Lisa membuat Jennie menganga, tanpa mengatakan apapun ia kembali memukuli Lisa. Irene hanya menatap bingung kedua orang di hadapan nya, dalam benaknya ia bertanya-tanya; ‘kenapa Jennie bisa bersama Lisa? Dua kali memancing emosi, itu artinya Lisa bersama Jennie sudah dari waktu yang lama. Kapan Jennie bertemu dengan Lisa lagi?’
Ting!
Pintu lift terbuka tepat di lantai 40 gedung perusahaan tersebut tapi karena Irene sedang bersandar di lift hampir saja dia terjengkang ke belakang tapi karena Lisa melihat itu jadi dia refleks memeluk pinggang Irene. Keduanya diam saling bertatapan tanpa peduli ada Jennie di sana.
Apa yang terjadi di hadapannya membuat Jennie semakin kesal, ia menendang kaki Lisa membuat Lisa dan Irene tersadar dan gelagapan. Irene merasa debaran jantungnya berbeda saat dia menatap mata Lisa, sementara Lisa? Entah kenapa dia merasa terpergok berselingkuh oleh Jennie.
“Maaf presiden.” Cicit Lisa dan Irene bersamaan.
Jennie memutar bola matanya jengah, “Maaf .. maaf saja yang bisa kalian ucapkan dari tadi, aku bosan mendengarnya." Ketusnya, selesai berbicara ia segera keluar dari dalam lift seraya menyenggol bahu Lisa.
Melihat kepergian Jennie membuat Irene dan Lisa merasa takut, tanpa menunda mereka bergegas mengikuti Jennie. Tanpa peduli Jennie akan mengamuk lagi Lisa berlari lebih kencang lalu sepatunya berseluncur di lantai hingga tiba di depan sebuah pintu yang memiliki tulisan;
Chief Executive Officer Room
“Silahkan, presiden Kim.” Ucap Lisa sesaat setelah dia membukakn pintu untuk Jennie.
Jennie hanya mengangguk lalu masuk ke dalam, ia memberi kode oleh jari telunjuknya agar Lisa mengikutinya. Lisa mengangguk patuh dan mengikuti Jennie ke dalam, setelah menutup pintu ruangan atasannya dia berjalan ke arah meja kerja Jennie, tiba di samping meja dia menaruh tas dan botol minum Jennie di meja lalu mengaitkan coat di sandaran kursi kebanggaan Jennie. Melihat Jennie hanya berdiri dan diam di sebelahnya dengan tergesa Lisa menarikan kursi untuk Jennie.
“Silahkan duduk, tuan putri.”
Jennie menoleh secara kasar pada Lisa, “what?”
Lisa menyengir kuda, “ah maksud saya .. silahkan duduk, presiden.”
Tanpa berkata apapun Jennie duduk di kursi kerjannya, jari lentiknya menekan tombol on pada iMac yang ada di hadapannya lalu ia memutar kursi kerjanya menghadap pada Lisa yang masih setia berdiri di dekat kursi kerjanya.
“Bisakah kau merubah penampilan? Aku tidak suka kau memakai Jeans seperti ini, tidak rapih sekali.” Ucap Jennie.
Lisa mengangguk, “Tentu saja bisa, bagaimana peraturannya dan penampilan seperti apa yang anda suka, presiden?" Jawabnya.
Jennie mengangkat sebelah alis lalu memutar kursi kerjanya, ia mengetik kata kunci di situs web-nya lalu muncul beberapa foto penampilan bodyguard elit, ia mengangguk-anggukan kepala lalu menoleh pada Lisa.
“Jika kau mengantarku ke acara resmi seperti pergelaran busana, meeting penting atau acara resmi lainnya kau harus memakai pakaian rapih, pakailah kemeja, dasi, jas atau blazer mungkin, yaaa seperti penampilan bodyguard Elite pada umumnya dan pakai selalu interkom yang terhubung denganku." Jawab Jennie.
Lisa mengangguk, “Roger presiden, lalu?”
“Jika sedang mengantarku bekerja di perusahaan seperti sekarang, semi formal pun tidak apa, boleh memakai Jeans tapi jangan berwarna terang seperti ini, tetap pakai kemeja dan intinya harus terlihat rapih, bersih dan wangi." Lanjut Jennie.
Lisa kembali mengangguk, “hanya itu?”
Jennie menggelengkan kepala, “tidak, jika kau sedang mengantarku liburan, shopping atau hang out. Pakailah setelan cassual sesukamu, sesuai usiamu tapi ya harus rapih dan wangi juga, yaa.. Anggap saja sedang mengantar teman, jangan menunjukan kau bodyguardku. Mau memakai dress pun tidak apa.”
Lisa tercengang, “aku tidak mau memakai dress karena tidak leluasa berjalan, nanti dressnya terbang-terbang presiden Kim lalu si Panbes Kintama terlihat orang.”
“Kau wanita Lisa, kenapa tidak mau memakai dress? Dan siapa itu, siapa? Panbes apa?” Tanya Jennie bingung.
“Saya wanita super karena saya punya ini presiden,” Lisa terkikik seraya menunjuk selangkangannya, “saya seorang Intersex.”
Jennie terbelalak dan langsung berdiri, “are u sure?”
“Iya, saya serius. Apa tuan Kim tidak memberitahu?” Tanya Lisa.
“Tidak, aihh daddy~” Gerutu Jennie seraya menepuk keningnya.
“Anda menyakitinya tadi pagi presiden Kim.” Cicit Lisa, ia menunduk seraya memaninkan jari tangannya.
“Menyakiti siapa?” Tanya Jennie bingung.
“Panbes Kintama.” Tunjuk Lisa pada selangkangannya.
Jennie tertawa seraya menampar pelan pipi Lisa, “apa kau tidak memiliki nama lain? Astaga .. Nama apa itu?
“Itu ada artinya, presiden.” Sombong Lisa seraya melipat kedua tangannya di bawah dada.
Jennie mengangguk-anggukan kepala seraya ikut melipat kedua tangannya di bawah dada, “oh benarkah? Apa arti singkatan apa itu?” Jawabnya di sela kekehannya.
“Panbes Kintama = PANjang BESar Kuat Imut daN TAhan laMA.”
Jennie tercengang setelah mendengar jawaban Lisa tapi beberapa saat kemudian ia tertawa terbahak–bahak, ia membungkuk lalu duduk secara kasar di kursi kerjanya seraya memegang perutnya. Lisa ikut terkekeh karena melihat tawa lepas Jennie, ia tidak menyangka di balik sinis, galak dan juteknya Jennie ternyata Jennie wanita baik dan tidak segalak yang dia pikirkan.Jarum jam sudah menunjuk angka 12 yang itu artinya waktu istirahat dan makan siang akhirnya tiba. Di saat orang lain sudah bersiap untuk pergi ke kafetaria atau resto untuk menyantap makan siang mereka tapi Jennie masih sibuk meeting. Meskipun sudah merasa lapar Lisa setia menunggu Jennie di depan pintu ruang meeting, dia duduk bersandar dan bertumpang kaki di sofa yang tidak jauh dengan pintu seraya memainkan ponselnya untuk bertukar kabar dengan sang ibu di Thailand.
Lisa menceritakan pekerjaan apa yang dia dapat, sang ibu merasa tidak enak karena anak tunggalnya harus menjadi seorang asisten tapi Lisa menjelaskan jika menjadi asisten pun bukan asisten rumah tangga, melainkan asisten CEO dari perusahaan terbesar se-Asia, Eropa dan Amerika. Dia juga menjelaskan jika dia merangkap menjadi seorang bodyguard dan gajinya menjanjikan, rencananya nanti Lisa akan membuka studio foto di Thailand dan Korea dari hasil tabungan dia bekerja menjadi asisten saat ini.
25 menit menunggu akhirnya Jennie keluar dari ruangan meeting , Lisa langsung berdiri dan membungkuk hormat pada Jennie. Jennie hanya mengangguk dan memberi kode dengan lambaian tangan agar Lisa mengikutinya karena dia sendiri masih berbincang dengan clientnya . Lisa mengikuti langkah Jennie, ia berjalan tepat di belakang Jennie dan berdampingan dengan Irene, irene terus mencuri pandang pada Lisa sementara Lisa sendiri sedang asyik memperhatikan Jennie dari belakang, wajah Jennie terlihat luar biasa cantik jika ia sedang berbincang serius, sesekali gummy smilenya muncul membuat Lisa memekik gemas dalam hati.
“Oke Mr.Alex, senang bisa bekerja sama dengan anda. Mungkin nanti saya akan turun langsung ke Daegu untuk melihat pabrik di sana.” Ucap Jennie.
Pria bernama Alex yang tidak lain adalah client dari Paris mengangguk, “Oke. Thanks presiden, saya senang bisa bekerja sama dengan anda dan perusahaan sebesar Kim Company. Nice to meet you, presiden.” Ucapnya seraya memeluk pinggang Jennie dan bercipika cipiki membuat Lisa menganga apalagi melihat Jennie memegang bahu pria tersebut dan membalas dengan senang hati.
“Kau terkejut?” Bisik Irene.
Lisa menoleh dan mengangguk, “Yeah, lumayan.” Jawabnya jujur.
“Itu sudah biasa jika bersama client dari luar Lisa, apalagi tuan Alex memang client lama.” Ungkap Irene.
Lisa mengangguk-anggukan kepala tapi dia tidak mengatakan apapun. Setelah mr Alex masuk ke dalam lift umum, Lisa segera menekan tombol up di lift pribadi Jennie. Melihat Jennie seperti sedang membersihkan tangannya, dengan sigap Lisa mengeluarkan kemasan tissue basah kecil dari saku celananya, pintu lift terbuka Lisa , Jennie dan Irene masuk terlebih dahulu ke dalam lift.
“Biar saya bersihkan tangannya, presiden.” Ucap Lisa.
Jennie tersenyum tipis seraya menyodorkan telapak tangannya pada Lisa, dengan senang hati Lisa memegang tangan Jennie lalu membersihkan telapak tangan Jennie menggunakan tissue basah, setelah kedua tangan Jennie dia lap menggunakan tissue basah Lisa memberikan setitik cairan gel antiseptik di tangan Jennie yang langsung Jennie ratakan. Irene mengerucutkan bibirnya melihat pemandangan itu, ia cemburu tapi mau bagaimana lagi?
“Mau makan di luar, di cafetaria perusahaan atau di ruangan anda, presiden?” Tanya Lisa.
Ting!
Jennie keluar dari lift seraya melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, “uhm miss Bae, apa masih ada pekerjaan atau meeting lagi?” Tanyanya.
Sambil melangkah Irene memeriksa jadwal Jennie di iPad-nya, “masih ada meeting tapi nanti sore, client masih dalam penerbangan.”
Jennie mengangguk-anggukan kepala, “baiklah, saya akan pergi makan siang di luar dulu. Anda mau ikut?" Tanyanya di akhir kalimat.
“Tentu, jika gratis mana mungkin menolak?” Jawab Irene.
Jennie memutar bola matanya malas tanpa mengatakan apa pun, karena pintu ruangan sudah di buka oleh Lisa jadi ia segera masuk ke dalam . Irene adalah sahabat Jennie jadi interaksi mereka kadang profesional sebagaimana Bos dan anak buah, kadang seperti sahabat pada umumnya.
Saat masuk ke dalam ruangan, Jennie terbelalak karena melihat kehadiran seseorang. Diaa berseru dan langsung menghampiri orang tersebut di mana memang orang itu sudah berdiri menyambut Jennie, keduanya berpelukan sekilas sebelum akhirnya mereka berdiri berhadapan. Lisa tersenyum kecut dan memilih diam di luar lalu menutup pintu ruangan Jennie.
“Kapan kau pulang, oppa?” Tanya Jennie.
Seseorang yang Jennie panggil oppa itu tersenyum, “aku baru mendarat dan aku merindukanmu, jadi aku langsung kesini saja.”
“Uuu~ i miss you too, lama sekali di Aussie.” Rengek Jennie sebal.
“Maaf sayang, sekarang aku sudah pulang kan? kita akan sering bertemu . Ayo makan siang Bersama” Ajaknya.
Jennie mengangguk lalu berjalan ke arah kursi meja kerjanya, dia mengambil tas dan coat nya lalu dia kembali menghampiri seseorang itu, Jennie menggandeng lengan pria tersebut lalu keduanya keluar dari ruangan. Di luar ruangan, Irene dan Lisa sudah siap untuk pergi. Jennie menyerahkan tas dan coatnya pada Lisa yang langsung Lisa terima.
“Oh iya, oppa .. Ini Lisa, asisten dan bodyguard pribadiku,” Jennie memperkenalkan Lisa pada pria tersebut lalu ia menoleh pada Lisa, “dan Lisa, ini Kim Taehyung ... Kekasihku.”
Lisa menghela nafas dan memaksakan senyumnya, ia mengulurkan tangan yang langsung Tae terima
“Lisa, Lalisa Manoban.” Ucap Lisa.
Tae tersenyum, “Kim Taehyung, Tae atau V.”
Lisa mengangguk dan tersenyum , keduanya melepas jabat tangan lalu Lisa segera berjalan menuju lift pribadi Jennie untuk menekankan tombol pintu lift untuk Jennie. Setelah pintu lift terbuka keempatnya masuk ke dalam lift, Lisa menjadi murung apalagi melihat Jennie dan Tae terus bergandengan tangan, berbincang dan terkikik bersama.
___
“Dia itu first love Jennie, mereka sudah menjalin hubungan semenjak masa kuliah dulu. Tapi aku tidak suka pada pria itu.” Ungkap Irene.
Lisa mengangguk-anggukan kepala, “kenapa tidak suka?”
“Sudah berkali-kali aku dan sahabatku yang lain memergoki di sedang bersama wanita lain tapi Jennie di buta kan oleh cinta jadi dia tidak percaya pada kami jika kami memberitahunya dengan alasan karena Jennie tidak pernah memergoki sendiri.” Jawab Irene.
“Cinta memang bisa membuat orang buta, saking butanya tidak bisa melihat mana toyota camry dan mana lamborghini.” Ucap Lisa seraya menggeleng-gelengkan kepala tapi detik berikutnya dia menyuapkan makanan ke mulutnya.
Lisa dan Irene satu meja sedikit berjauhan dengan meja Jennie dan Tae. Lisa terus mencuri pandang pada Jennie, berusaha sigap memperhatikan Jennie .
“Lisa, kau memiliki kekasih?” Tanya Irene.
Lisa tersenyum, “Tidak, aku trauma pacaran.” ia terkekeh begitupun Irene.
“Kenapa trauma? Apa kau di perkosa?”
Lisa tertawa hingga hampir tersedak , ia melambai - lambaikan tangan cepat lalu minum terlebih dahulu, selesai minum Lisa kembali berbicara.
“Tentu saja tidak, aku atlet dulu jadi aku sering pergi keliling beberapa negara. Saat aku pulang pertandingan, aku memergoki dia sedang bercumbu dengan orang lain padahal dia my First Love, sakitnya sampai ke tulang.” Ungkap Lisa dan ia semakin murung.
Irene tersenyum lalu meraih dan menggenggam tangan Lisa yang ada di atas meja, “nanti kau akan menemukan penggantinya, first love memang tidak selalu indah.”
Lisa tersenyum lalu melirik pada Jennie, “aku sudah menemukan penggantinya.” Jawabnya.
“Yaaa semoga kau bahagia setelah itu, jangan terpuruk karena masa lalu.”
Lisa mengangguk, “tentu saja, untuk apa aku terpuruk karena cinta yang menyakitkan? Ck .. Dunia masih berputar, masih banyak cinta yang lebih indah.”
Lisa menarik tangannya dari genggaman tangan Irene, irene hanya bisa menghela nafas dan mengikuti Lisa untuk melanjutkan makan siang mereka.
___
Kim Company - 18.15 pm KST
Jennie baru keluar dari ruang meeting saat matahari sudah tenggelam, karena seperti yang Irene bilang jika sore tadi Jennie ada meeting kembali dan meeting baru selesai saat matahari sudah terbenam. Lisa kembali menyambut Jennie, keduanya berjalan bersama untuk menuju lift yang akan membawa ke lantai 40 dimana ruangan Jennie berada.
“Aku dengar kau hobi fotografi?” Tanya Jennie saat mereka sudah berada di dalam lift.
Lisa mengangguk, “Yeah .. Saya senang mengabadikan momen-momen tertentu lewat hasil jepretan kamera.”
Jennie mengangguk-anggukan kepala, “jika begitu bolehkah saya meminta tolong untuk memotret sebuah produk yang akan launching dari Kim Company? saya akan membayarmu nanti di luar gaji yang daddy berikan untukmu.”
“Dengan senang hati, presiden.”
“Baik, jika begitu besok bawa kameramu ke perusahaan. Akan ada dua sesi, yang pertama parfum dan yang kedua pakaian. Perusahaan kita bergerak di bidang Fashion , kosmetik dan perhiasan jadi ya jika suatu saat nanti ada Job memotret lagi, saya tidak akan sulit mencari fotografer, itu pun jika hasil memotretmu besok memuaskanku.” Ucap Jennie.
“Saya yakin bisa memuaskan anda, presiden. Mau berapa sesi pun saya kuat, Kintama.”
Jennie menoleh, “itu beda konteks Lalisa!” Dia tertawa seraya memukul kepala Lisa, Lisa pun ikut tertawa sedangkan Irene hanya diam dan terlihat bingung karena tidak mengerti dengan pembahasan Jennie dan Lisa.
“Apa itu Kintama?” Tanya Irene tapi Lisa dan Jennie malah saling memandang , bukan menjawab pertanyaan irene keduanya malah tertawa terbahak-bahak terlebih Jennie, “Kalian Gila!” Gerutunya.
Irene sudah tahu kenapa Lisa bisa bekerja dengan Jennie, apa posisi Lisa selain asisten dan sejak kapan Lisa bekerja dengan Jennie. Dia senang karena itu artinya dia akan sering bertemu dengan Lisa.
Tiba di ruangan Jennie , Lisa langsung menyambar Tas , botol minum dan coat milik Jennie sedangkan Jennie sendiri membereskan meja kerja nya. Setelah semua siap, mereka bergegas keluar lagi dari ruangan Jennie untuk pulang karena malam sudah tiba dan pekerjaan sudah selesai.
Tidak berselang lama Lisa dan Jennie sudah tiba di lobby, merasa udara sedikit dingin Lisa segera memasangkan Coat yang ia bawa di bahu Jennie sebelum akhirnya ia membukakan pintu mobil untuk Jennie, setelah Jennie masuk dan duduk nyaman Lisa segera menutup pintu penumpang belakang lalu dia segera menyusul masuk ke dalam mobil. Tidak berselang lama , mercedez maybach yang Lisa kemudikan melaju membelah jalanan kota Seoul.
Sepanjang perjalanan keduanya diam , hanya suara alunan lagu yang Lisa putar yang terdengar di dalam mobil. Tiba di persimpangan Lisa menghentikan mobilnya karena traffic light berubah merah, dia melirik Jennie dari spion yang ada di dalam mobil, tanpa sadar dia tersenyum saat melihat Jennie sedang asyik melihat keluar jendela.
Sedang asyik menunggu lampu berubah hijau tiba-tiba saja ada sebuah bmw berwarna putih berhenti di sebelah mobil mereka, Jennie menegakkan duduknya karena dia mengenali mobil tersebut, beberapa saat kemudian ia menegang karena benar saja , di dalam mobil itu ada Tae dengan seorang wanita , tampak mesra bahkan dengan mata kepalanya sendiri Jennie melihat Tae mencium pipi si wanita yang duduk di sebelah Tae.
“Fuck!” Umpat Jennie.
Lisa mengerutkan kening setselah mendengar umpatan atasannya, dia kembali mengintip Jennie dari spion tapi karena dia melihat Jennie menangis sambil menatap keluar jendela Lisa segera mengikuti arah pandang Jennie, melihat Tae sedang bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil Lisa meremas kencang stir mobil dan merasa marah meski ia tidak tahu apa sebabnya.
“Lisa.” Rengek Jennie.
Lisa tersenyum, “kemarilah, pindah duduk di sampingku.”
Jennie mengangguk lalu ia membuka stilettonya dan pindah ke kursi penumpang depan, masih ada waktu 90 detik sebelum traffic light berubah hijau jadi tidak sulit bagi Jennie untu pindah tempat duduk.
“Gunakan bahuku , kemarilah. Aku siap menjadi teman mu.”
Tanpa menunda atau mengatakan apapun Jennie langsung mencondongkan tubuhnya ke arah Lisa, memeluk pinggang Lisa lalu menangis terisak di bahu Lisa. Lisa diam saat Jennie meremas kemeja bagian depannya, tanpa canggung dia mengelus kepala Jennie dan membiarkan Jennie menangis di bahu nya. Entah kenapa keduanya sama-sama tidak merasa canggung meski pertemuan pertama di dalam pesawat dan pertemuan kedua di mansion mereka memiliki kesan menyebalkan tapi Jennie sama sekali tidak canggung pada Lisa padahal tau jika Lisa bukan wanita seutuhnya, mungkin karena tengil dan easy going nya Lisa atau cara Lisa bekerja membuat Jennie nyaman? Entahlah.
“Sssttt .. Buatlah janji untuk bertemu, aku sudah memotretnya dan minta penjelasan padanya. Jangan asal menuduh, arraseo?”
Jennie mengangguk seperti anak kecil, “malam ini kau akan pulang?”
“Iya, aku harus ke unit ku menyimpan tas dulu.”
“Aku ikut, jika kau tidak lelah.. Ayo pergi ke Bar, aku butuh alkohol.”
“Baiklah presiden Kim yang cantik jelita, kesayangannya Kintama.”
Jennie memukul kencang perut Lisa, dia menegakan duduknya lalu dia tertawa seraya menghapus air matanya seperti anak kecil. Lisa ikut terkekeh dan membantu Jennie menghapus air matanya.
__
Octagon Bar
Lisa , Jennie , Irene dan Jisoo sedang berada di sebuah Bar. Bar itu adalah Bar Elite yang tidak bisa sembarangan kalangan masuk ke sana. Biasanya Bar tersebut di penuhi oleh para pengusaha meski sering kali beberapa idol, aktris atau aktor korea juga datang ke Bar tersebut. Jennie terus minum, dia melampiaskan emosinya pada minuman dan mereka membiarkan itu karena Lisa sudah menceritakan apa yang terjadi , mereka mengerti meski masih tetap saja Jennie menyebut-nyebut nama Tae.
“Babe.”
Semua menoleh ke arah suara, muncul seseorang yang langsung menghampiri meja mereka dan mengecup bibir Jisoo. Dia tidak sendiri karena dia membawa seseorang yang tidak lain adalah sahabatnya.
“Lisa, ini kekasihku .. Park Chaeyoung atau kau bisa Rosé.”
“Hi .. Lisa, Lalisa Manoban.”
Lisa dan Rosé berjabat tangan seraya berbincang kecil sebelum akhirnya dia mengenalkan seseorang yang dia bawa.
“Guys .. Ini sahabatku, Kang Seulgi.”
“Hi .. Ugi, Kang Seulgi.”
Setelah berkenalan mereka bergabung dan berbincang bersama dalam satu meja, meski Lisa terus memperhatikan dan mengontrol alkohol yang Jennie minum. Dari perbincangan itu Lisa tahu jika Rosé adalah pengacara yang bekerja sebagai kuasa hukum di Kim Ent. Kim Ent adalah bisnis agensi yang di kelola oleh Jisoo. Sementara Seulgi adalah sahabat sekaligus sekertaris Rosé dan dari situ Lisa juga tahu jika Rosé dan Seulgi sama dengannya, sama-sama memiliki makhluk imut.Suara hentakan musik masih menggema membuat jantung terasa berdebar, kerlap-kerlip lampu membuat kepala yang sudah pusing terasa semakin pusing. Suara tawa lepas dan suara musik terdengar menyatu dan berbaur, kepulan asap rokok dan aroma alkohol membuat hidung terasa pengap namun itu tidak membuat orang-orang tidak betah di sana.
Malam semakin larut, jalanan pun sudah terlihat lengang namun di dance floor sebuah bar, orang-orang masih terlihat penuh dan asyik menggoyangkan tubuh mengikuti hentakan irama musik yang seorang dj mainkan. Jennie dan Lisa ada dalamnya, Jennie ingin menari dan karena Lisa khawatir terpaksa dia menemani atasannya.
Milik Lisa terasa sudah sangat sesak karena Jennie terus meliuk-liukan tubuhnya secara sensual di hadapan Lisa, pakaian yang extra sexy bahkan perut rata Jennie pun di biarkan terbuka membuat pikiran Lisa jauh melayang, dia berkhayal hal yang tidak-tidak tentang dirinya dan Jennie. Beberapa kali pria-pria asing mencoba menyentuh Jennie dan berkali-kali juga Lisa setia melindungi Jennie.
“Ayo pulang, sudah malam.” Ucap Lisa.
Jennie mengerucutkan bibirnya, di tengah kesadaran nya yang sudah menipis karena pengaruh alkohol ia menggelengkan kepala, “Masih ramai Lisa, kenapa buru - buru sekali?”
“Besok kau ada meeting presiden, jangan sampai kau terlambat.” Ucap Lisa.
“Jangan memanggilku presiden jika sedang di luar, panggil Jennie saja,” ucapnya membuat Lisa tersenyum dan mengangguk, “soal besok, tenang saja. Aku tidak akan terlambat.”
Lisa hanya bisa menghela nafas dan mengangguk, dia hanya minum sedikit karena dia harus tetap sadar untuk melindungi Jennie. Keduanya kembali menari, Jennie membelakangi Lisa dan menggerak-gerakkan pinggulnya hingga bokong sintalnya mengenai selangkangan Lisa, Lisa mendesis seraya memeluk perut Jennie.
“Dia bangun?” Goda Jennie.
Lisa tersenyum, “ Kau sexy dan kau terus menggodanya.”
Jennie terkekeh dan semakin menekan bokongnya di milik Lisa yang sudah sangat mengeras, terbawa suasana Lisa memeluk erat perut Jennie lalu ikut menekan pinggul nya ke arah bokong Jennie. Jennie kembali terkekeh, tangannya terulur ke belakang lalu memeluk kepala Lisa, meremas dan menjambak pelan tanpa menghentikang tariannya.
“Kau membuat ku gila, Jennie Kim.” Bisik Lisa di telinga Jennie.
Jennie tidak menjawab ucapan Lisa, dia benar-benar sudah tidak sadar karena pengaruh alkohol. Karena semakin terbawa suasana dia menoleh dan mengklaim bibir Lisa begitu saja, keduanya berciuman panas tanpa peduli dengan orang-orang di sana yang menganggap Jennie berciuman dengan sesama wanita.
Lisa mendorong Jennie, keduanya berjalan ke arah lorong gelap menuju VIP room. Tanpa peduli apa yang akan terjadi besok Lisa membalik posisi Jennie agar menghadap padanya, dia menghimpit Jennie di dinding lalu dia kembali mengklaim bibir Jennie. Kepala mereka terus miring ke kiri dan ke kanan, ciuman semakin dalam bahkan air liur mereka menetes ke dagu tapi mereka tidak peduli.
“Enghhhh~”
Jennie melenguh di balik ciuman panasnya dengan Lisa saat Lisa kembali menekan pinggulnya ke arah selangkangannya, tidak jauh dari sana ada Irene yang memperhatikan keduanya bercumbu panas, ia tersenyum lalu menggelengkan kepala dan memilih untuk berlalu tapi tepat saat ia berbalik ada seulgi di sana membuatnya tersentak. Tanpa memberi waktu untuk berontak Seulgi langsung menghimpit Irene di dinding, keduanya bertatapan tanpa canggung Seulgi mengelus pipi Irene membuat Irene menelan ludah secara kasar.
“Miss Bae, kau cantik.”
Belum sempat Irene menjawab, Seulgi langsung mengklaim bibir Irene begitu saja membuat Irene terbelalak, dia tahu Seulgi mabuk begitupu dengannya tapi jelas saja dia masih sadar. Dia bingung harus bagaimana, mau melepas tapi ciuman yang Seulgi berikan terasa lembut dan nikmat alhasil dia membalas ciuman yang Seulgi lakukan.
Di sisi mereka Jennie dan Lisa terus saling mendominasi ciuman mereka, tangan Lisa tidak diam, dia terus mengelus dan meremas bokong sintal Jennie, terus menekan agar selangkangan Jennie menekan dan menggesek miliknya. Tangan Jennie pun tidak diam, tangan kirinya terus meremas rambut Lisa dan tangan kanan mengelus dan kadang meremas punggung Lisa.
“I want you.” Bisik Jennie di depan bibir Lisa.
Meski nafsu sudah di ubun-ubun, tetap saja Lisa tercengang mendengar permintaan Jennie, “are u sure?”
“Yeah .. Ayo ke mobil.” Jawab Jennie.
Dengan langkah sempoyongan Jennie menarik tangan Lisa, dia berjalan tergesa ke arah mobil. Saat melewati table mereka Lisa bisa melihat jika Jisoo sudah ada di pangkuan Rosé, dia tersenyum karena melihat keduasejoli itu pun sedang bercumbu panas tapi dia membiarkan dan tidak berniat untu mengganggu.
Beberapa saat kemudian, Jennie dan Lisa sudah tiba di mobil, saat kunci mobil terbuka Jennie segera membuka pintu penumpang belakang, ia menarik Lisa untuk masuk ke dalam mobil. Lisa duduk di jok dan Jennie duduk di pangkuan Lisa.
“Oh my Gosh.” Erang Jennie seraya menggerakkan pinggulnya membuat milik mereka bergesekan dari luar celana yang mereka pakai, Jennie menelan ludah saat melihat bibir Lisa sedikit terbuka, ia memajukan kepala mengikis jarak wajah mereka, tapi tepat saat Lisa membuka mulutnya untuk menerima lidah Jennie tiba-tiba…
Huekss!
Jennie muntah kedalam mulut Lisa. Cukup banyak dan sangat bau membuat Lisa sangat mual, dengan tergesa dia membuka pintu mobil, keduanya muntah Bersama di samping mobil.
“Sialan!” Umpat Lisa kesal.
Huekss!!
Jennie terus muntah begitupun Lisa, jika Jennie muntah karena alkohol yang dia minum berbeda dengan Lisa, dia muntah karena melihat dan mencium aroma muntahan Jennie.
___
Keesokan paginya …
Jennie meringis saat terbangun dari tidurnya, dia duduk di atas tempat tidur seraya memegang kepalanya yang terasa sangat sakit. Dia duduk bersila lalu dia membungkuk seraya menaruh kedua sikutnya di area lutut, dia menunduk dan menyanggah kepalanya dengan kedua tangan.
“Gila, berapa botol minuman yang aku minum semalam?”
Jennie terus diam namun beberapa menit kemudian ia mengerutkan kening, dia menunduk melihat bajunya. Dia tertegun karena dia sudah memakai piyama, dia mengangkat kepala melihat sekeliling ruangan dan raut wajahnya terlihat sangat kebingungan karena dia sudah berada di kamarnya.
“Shit! Apa asisten mesum itu menelanjangiku?” Gumam Jennie lalu ia menegakan duduknya dan meremas kerah piyamanya menggunakan kedua tangan, lalu dia menekan-nekan selangkangannya menggunakan tumit kaki, “Tapi tidak sakit, orang-orang bilang jika pertama akan sakit. Aman, aku masih perawan tapi .... Jika Lisa yang menelanjangiku? OMG ... Awas saja, Lisa!” Erangnya kesal.
Setelah mengerang kesal Jennie menoleh ke arah meja samping tempat tidurnya, dia menghela nafas lega saat melihat jam masih menunjuk ke angka 6. Tapi dia mengangkat alisnya saat melihat ada 1 gelas air minum dan dua butir obat di atas kertas, ia menggeser duduknya lalu membaca tulisan tangan di atas kertas itu.
Eat me, presiden :)
Jennie mengigit bibir bawahnya lalu tersenyum, tanpa basi-basi dia meraih dan segera meminum dua butir obat yang dia yakini itu obat penghilang pengar dan sakit kepala, dengan bantuan segelas air putih Jennie berhasil menelan dua butir obat tersebut.
Ceklek ~
Tepat setelah obat tertelan pintu kamar terbuka dari luar, Jennie menoleh ke arah pintu, dia mengangkat sebelah alis saat melihat Lisa masuk ke dalam kamarnya dan sudah berpakaian rapih, tapi dia merasa heran karena dia melihat wajah Lisa di tekuk dan ia membawa piring berisi roti panggang di tangannya.
“Isi dulu perut anda baru mandi. Saya tunggu di bawah.” Ucap Lisa ketus seraya menaruh piring itu di atas kasur tepat di hadapan Jennie.
Selesai berbicara Lisa berbalik dan melahkah ke arah pintu, detik berikutnya dia keluar dari kamar atasannya begitu saja membuat Jennie tertegun dan merasa heran dengan gelagat Lisa pagi ini.
“Ada apa dengan manusia mesum itu? Apa aku punya salah?”
Setelah pintu kamar Kembali tertutup dari luar Jennie mengangkat kedua bahunya acuh, dia segera meraih dan memakan roti panggang yang tadi Lisa bawakan seraya memainkan ponsel karena ia sedang bertukar pesan dengan Tae. Tapi setelah selesai mengisi perutnya, dia bergegas pergi ke kamar mandi.
Setelah kurang lebih 1 jam Lisa menunggu akhirnya suara pintu lift terbuka terdengar. Lisa yang sedang duduk santai di ruang tamu segera berdiri dan merapihkan pakaiannya, dia memakai celana jeans biru tua dan kemeja oversize berwarna putih, bagian depan di masukan tapi bagian belakang di biarkan begitu saja, kedua lengan kemeja dia lipat hingga ke lengan dan di bawah ia memakai sepatu boots berwarna coklat tua.
Jennie mengangguk-anggukan kepala saat melihat penampilan Lisa, dia menyerahkan tas dan blazernya pada Lisa lalu dia berlalu menuju ruang makan.
“Morning dad , morning Jisoonie.” Sapa Jennie seraya menyambar segelas susu yang sudah siap di atas meja makan.
“Tidak sarapan dulu?” Tanya Jisoo.
“Sudah, jadi .. Aku berangkat dulu. Bye.” Pamit Jennie sesaat ia setelah menghabiskan segelas susu yang sengaja di siapkan untuknya.
Jennie pergi begitu saja dari ruang makan tanpa mengatakan apapun lagi, melihat itu Lisa segera membungkuk pada Jisoo dan tuan Kim lalu berlalu mengikuti Jennie. Di depan mansion, Lisa bergegas membuka kan pintu mobil untuk Jennie seperti biasanya, merasa Jennie sudah duduk nyaman dia segera menutup pintu mobil lalu dia pun masuk ke dalam mobil.
Beberapa saat kemudian mobil berwarna hitam itu sudah melaju, Lisa masih terus diam membuat Jennie heran, Ia menggeser duduknya ke depan lalu mencondongkan kepalanya ke depan dan menoleh mengintip Lisa.
“Kau yang menggantikan aku baju?”
Lisa menggelengkan kepala, “kepala maid.”
Jennie mengangguk-anggukan kepala, “kau kenapa?”
“Kenapa apanya?” Balas Lisa tanpa menoleh dan terus fokus pada kemudinya.
“Tumben kau berkamuflase menjadi pendiam.” Ledek Jennie.
“Sedang sebal.” Jawab Lisa jujur.
“Apa aku punya salah?” Tanya Jennie ingin tahu.
“Salah besar!” Kesal Lisa penuh penekanan.
Jennie menganga, “mwo? Ada dua pasal yang harus kau tau, pasal pertama : Presiden Kim tidak pernah salah . Pasal kedua : Jika Presiden Kim salah balik ke pasal pertama.”
“Kau muntah di mulutku presiden Kim yang terhormat!” Kesal Lisa seraya menoleh ke belakang secara kasar karena traffic light berubah merah.
“Jinjja?” Tanya Jennie tidak percaya.
“Kau tidak ingat apa yang kita lakukan semalam?” Tanya Lisa tapi Jennie hanya menggeleng sebagai jawban, “sedikitpun?” Lanjutnya dan Jennie mengangguk.
“Kau, kita aaaarrhhh! sudah lah. Intinya kau muntah di mulutku.” Kesal Lisa seraya kembali membetulkan posisi duduknya dan menghadap ke depan.
Jennie mengerucutkan bibirnya ke depan lalu menusuk-nusuk pipi Lisa, “Maaf .. Aku tidak sadar jadi yaa.. itu tidak sengaja, kan?”
“Hmm.”
“Apa yang kita lakukan semalam?” Tanya Jennie.
Lisa menggelengkan kepala dan memilih tidak menjawab pertanyaan Jennie. saat traffic light berubah hijau, Lisa menginjak pedal gas cukup dalam hingga mobil melesat begitu saja dan Jennie terjengkang ke belakang.
“Asisten kurang ajar!" Pekik Jennie seraya mengelus kepala bagian belakangnya namun Lisa tidak peduli dan terus fokus pada kemudinya.
Semalam Lisa sadar meski dia pun meminum alkohol, cumbuan panas mereka membuat Lisa yakin jika dia menyukai Jennie tapi Jennie tidak ingat? Hah .. Dia hanya bisa diam.
___
Jennie dan Tae duduk berhadapan sedangkan Lisa duduk di tempat duduk yang ada di belakang Jennie, dia membelakangi Jennie dan terhalang oleh dua meja. Ini jam makan siang dan Jennie sengaja menggunakan jam makan siang untuk membuat janji bertemu dengan Tae, ia sedang mengintrogasi Tae soal kejadian kemarin bahkan Jennie sudah menunjukan foto saat Tae mengecup pipi wanita di sebelahnya.
“Kau cemburu? Dia sepupuku sayang, astaga.” Ucap Tae seraya menggenggam tangan Jennie yang ada di atas meja.
“Sepupu yang mana? Aku baru melihatnya.” Ketus Jennie tanpa menatap Tae.
Tae tersenyum seraya menghela nafas, “dia sepupuku dari Swiss, kami baru bertemu lagi karena dia baru saja kembali ke Korea, kami dekat jadi ya memang aku dan dia begitu. Mencium pipi sepupu, bukan kah itu hal wajar?”
“Aku cemburu!” Bentak Jennie kesal.
“Apa-apaan itu? Sejak kapan kau berani membentakku?” Kesal Tae.
Jennie menggenggam erat tangan Tae, “maaf .. Aku cemburu, oppa. Mengertilah.” Rengek Jennie.
Tae Kembali menghela nafas, “sayang, kita menjalin hubungan sudah lama. Sudah hampir 5 tahun kita bersama dan kau masih tidak percaya padaku? Kau boleh dan berhak cemburu tapi jangan sampai membentak seperti itu, aku tidak suka. Percayalah Jennie, kau satu - satunya sayang, aku sangat mencintaimu.”
“Sungguh?” Tanya Jennie menatap Tae dan matanya berkaca-kaca.
“Aku serius Jennie, hanya kau kekasihku. Percaya hum?” Rayu Tae lembut.
“Aku percaya oppa, jangan berpaling dariku. I love you.” Balas Jennie.
Tae mengangguk dan tersenyum, ia terus menggenggam tangan Jennie tapi genggaman tangan itu terlepas karena pesanan mereka tiba, jadi keduanya memilih untuk menyantap makan siang bersama. Di belakang Jennie, Lisa tersenyum dan ia menyesap santai kopi nya.
“Sayang, boleh kah aku meminjam uang? Aku berencana memperluas bisnisku, aku ingin menambah cabang studio musicku tapi aku kekurangan modal, kau tahu kan aku juga harus membiayai adikku kuliah dan ibuku yang terkena struk.” Ucap Tae seraya menyodorkan sesendok makanan di depan mulut Jennie.
“Berapa?” Tanya Jennie sebelum ia membuka mulut untuk menerima suapan dari Tae.
“Tidak banyak, hanya 30 juta won. Biaya pembangunan dan membeli tanah cukup mahal, kau tau aku tidak mau menyewa tempat, aku lebih suka jika membangun lebih awal.”
Jennie terbelalak, “30 juta won?”
Tae tersenyum dan menunduk, “iya, tidak apa jika kau tidak mau meminjamkan, aku akan menjual mobil saja.”
“Tidak .. Tidak .. Mobil itu hadiah ulang tahun dariku, enak saja kau mau menjualnya. Nanti aku transfer hum?” Ucap Jennie seraya mengelus tangan Tae yang ada di atas meja.
Tae tersenyum lebar, “Terima kasih sayang, kau selalu menjadi pendukung segala hal yang aku lakukan.”
“Selama itu positif, aku akan selalu mendukung mu.” Jawab Jennie.
keduanya saling melempar senyum, tapi setelah itu mereka menghentikan perbincangan dan memilih menikmati santapan siang mereka .
‘Bodoh!‘ - Batin Tae.
__
Lisa menghela nafas lemah karena di dalam mobil terasa sepi meski ia mendengarkan musik. Setelah makan siang, Jennie pergi Bersama Tae dan menyuruhnya pulang sendiri, itulah yang membuatnya merasa kesepian.
Drrrt~
Getaran ponsel membuat Lisa memilih m