Lilyon
Fantasy
06 Jan 2026

Lilyon

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-06T092312.404.jfif

download - 2026-01-06T092312.404.jfif

06 Jan 2026, 02:23

download - 2026-01-06T092302.045.jfif

download - 2026-01-06T092302.045.jfif

06 Jan 2026, 02:23

"Woi, Lyon! Udah pagi!" seruku sambil memukuli Lyon dengan bantal.

Enak aja dia malah enak-enakan tidur di sini. Berasa dayangnya, tau gak sih. Bangun pagi-pagi harus aku yang lakuin, diberlakuin kayak cowok sama Lyon sialan ini. Masak iya aku disuruh manjat ke jendela kamar dia? Iya, aku emang udah kebiasa manjat-manjat di jendela kamar dia, tapi kalau diperintahin langsung rasanya engga banget.

Namaku Lily, aku udah SMA 3. Namaku cantik banget ya? Sayangnya orangnya nggak secantik namanya. Cowok yang tidur kayak kebo itu namanya Lyon. Dia childhood friend -ku sejak kami kecil, gatau deh dari kapan.

"Lyon! Kalau masih tidur, aku tinggalin nih!"

Tetap aja dia masih tidur.

"Lyon!"

Dan kesabaranku yang memang limit pun habis terkikis oleh ulah Lyon yang tak bergerak sedikitpun. Dia memang bakalan jadi mayat kalau udah tidur.

"AKU PERGI!" seruku sambil membanting pintu kamarnya keras-keras, lalu turun ke lantai bawah untuk menyapa Tante.

"Lho, Lily manjat lagi?" tanya Tante begitu melihatku turun ditangga. "Aduh, padahal kan kalau kamu menekan bel, pasti dibukain," ujarnya tak enak hati.

Aku tidak bilang pada Tante bahwa Putra kedua-nya lah yang memintaku memanjat dan membangunkannya pagi-pagi. Habisnya kalau aku nekan bel, Tante pasti nyuruh aku nunggu di sofa yang ada di ruang keluarga, terus naik ke kamar sendiri buat bangunin Lyon. Kata Lyon, cara Tante bangunin dia itu TSADEST pake banget. Ya, aku mengakuinya, soalnya aku pernah lihat Tante membangunkan Lyon dengan cara berteriak, " KEBAKARAN !" atau " ADA KECOAK TERBANG !" Tapi reaksi Lyon lucu deh, dia ngeloncat dari tidurnya tiba-tiba gitu.

"Lyon-nya belum bangun?" tanya Tante sambil mencoba ngintip-ngintip dari bawah.

Aku cuman ngangkat bahu. Harapannya sih, Tante naik sendiri dan bangun Lyon dengan salah satu jurus TSADESTnya, ini gara-gara aku udah kesal sampai pengen banget loncat-loncatin tubuhnya bak trampoline .

Tapi Lyon sedikit beruntung pagi ini, soalnya pas Tante mau naik, dia udah keluar kamar sambil bawa handuk. Rambut-nya acak-acakan kayak singa, wajah dia kusut bak pakaian kusut. Heran aja akunya, kok banyak sih cewek yang suka sama dia?

Aku dipaksa Tante untuk sarapan bersama keluarganya lagi . Di sana Kak Leo sudah makan roti isi selai kacangnya dengan nikmat, sedangkan Lyon sedang menggosok giginya di depan cermin berwastafel dengan malas-malasan.

"Lily nggak makan?" tegur Kak Leo memergokiku sedang memperhatikan Lyon mengusap wajahnya sendiri dengan mimik wajah yang lucu.

"Eh. Aku udah makan di rumah tadi."

"Makan aja lagi, kamu kurus banget kayak lidi," balas Lyon terdengar mengejek. Aku menatapnya dengan tatapan tajam, bahkan sampai dia duduk bergabung di meja makan bersama. "Lily kurus kayak lidi," ulangnya dengan kening berkerut. "Wah, mirip! Aku memang jenius!"

"Hush, Lyon," tegur Kak Leo dengan bijak.

Omong-omong, kak Leo memang bijak, keren, dan sangat-sangat berbeda dengan Lyon yang pencicilan. Ah, sudahlah, aku lelah membandingkan mereka berdua.

Entah bagaimana ceritanya, selang beberapa menit setelah Lyon bahkan sudah menyelesaikan sarapannya, Tante tiba-tiba saja menjerit histeris. Aku yakin bukan cuma aku yang terkaget saking tiba-tibanya itu. Kak Leo dan Lyon juga ikut tersentak dan menoleh horror ke sang Ibu.

"Iih! Mama kok gitu sih?" tanya Lyon dengan nada tidak senang.

Tante langsung berdiri menghampiriku dan menjabat tanganku dengan gerakan yang amat cepat, "Ya ampun, Lily sayang, Tante hampir lupa! Selamat ulangtahun ya, sayang. Semoga panjang umur, makin sehat, makin cantik, makin manis, makin makin deh, pokoknya!"

Senyumanku melebar saat aku menyadari hal itu, ah, benar juga . Aku sendiri hampir melupakan fakta itu sampai Tante mengingatkannya.

"Terima kasih, Tante," balasku sambil tersenyum lebar.

"Duh ...," Tante mengelus kepalaku, "Kok masih manggil Tante, sih? Manggil Mama kenapa? Lily kan sudah lama bareng Lyon."

Aku tertawa kecil. "Iya deh, iya. Mama sayang."

"Ini kamu sudah tujuh belas kan? Aduh, Mama pengen deh kalian cepat-cepat married !" pekiknya sambil memelukku erat.

"Maa," tegur Lyon saat menyadari sifat over-antusias yang dirasakan Tante saat ini.

"Selamat ulang tahun ya, Lily." Kak Leo menjabat tanganku, melemparkan senyuman khasnya yang membuatku membalas jabatannya dengan salam yang sama.

"Hehe, makasih kak Leo."

Lyon mengintrupsi. "Udah ah, udah. Kami mau ke sekolah, udah telat. Ada try out ."

"Yeeh, kamunya yang bikin telat." Aku memutar bola mataku malas.

"Pergi dulu ya, Kak, Ma."

Usai Lyon memberi salim, aku melakukan hal yang sama dan langsung keluar dari rumah Lyon sebelum Tante over-reacted dan membuat kami makin terlambat hari ini.

"Eh, kita naik itu? Gamau naik angkot aja?" tanyaku sambil menaikkan sebelah alisku.

Lyon menepuk bangku kosong di belakang sepedanya sambil tersenyum lebar. "Naik angkot mulu, mau jadi Nyonya angkot, apa? Sesekali Bang Lyon bonceng, dong. Sini."

Aku pun duduk di bangku itu dalam keadaan menyamping. Meski sebenarnya aku lebih suka duduk dalam keadaan normal, tapi tentu saja aku harus ingat kalau aku sedang memakai rok.

"Nih." Lyon menyerahkan jaket kainnya untuk kuikat di pinggangku. "Oh ya, Selamat ulang tahun Lily, maaf telat, hehe."

Aku memutar bola mataku bosan, "Udah biasa kok, kamu telat kayak gini. Jadi aku sama sekali nggak ngarep kaca jendela kamar dilempari kerikil, terus kamu-nya di bawah main gitar sambil bawa kue."

"Gimana ceritanya, coba?" Lyon tertawa ringan. Bagian ini selalu menjadi favoritku. Selalu.

Saat Lyon mulai menjalankan sepedanya, aku memeluk tasnya yang digantung di bahunya. "...Lyon, kapan kamu mau lurusin masalah ini ke Mama-mu?" tanyaku sambil menghela nafas. "Sudah berapa tahun mereka mengira kita jadian?"

"Boleh nggak usah lurusin, nggak sih? Toh kita sudah nyaman."

Aku lagi-lagi menghela nafas, "Iya, tapi kan-"

...Jadian karena omongan dan perasaan itu, beda kan?

Aku sudah nyaman sama Lyon. Bukan sebagai sahabat .

Ya Tuhan, bangunkan aku jika ini memang hanya keindahan sesaat.

Lyon memang mengumbarkan kepada dunia bahwa aku adalah pacarnya sejak dia telah terlanjur mengatakannya pada Ibunya. Dunia tahu bahwa aku dan Lyon memiliki hubungan. Tapi, hanya aku seorang yang tahu tentang perasaan ini.

Aku memejamkan mataku, memeluk erat tas Lyon yang jelas memiliki aroma khas Lyon. Semoga saja aku bisa melupakanmu saat kamu melepaskanku.

"Lily...."

Aku tak berani membalas, takut pikiranku kacau dan salah mengungkap lagi.

"Apa aku terlihat tak seserius itu?"

Ya. Tapi, suaramu tak terdengar seperti itu.

"Tidak," balasku pada akhirnya. "Bukan begitu."

"Jadi?"

Aku menarik nafas, "Aku hanya terlalu nyaman denganmu, sampai-sampai aku takut terlalu bergantung padamu. Seandainya suatu hari kamu menemukan gadis lain, apa yang harus kulakukan?"

Lyon tertawa pelan, "Waw, sepertinya kita memang berjodoh. Kita punya kekhawatiran yang sama."

"Jangan menganggapnya lelucon, Lyon," balasku malas.

"Tenang saja, Lily, aku belum pernah sekalipun menganggap hubungan kita lelucon. Aku bisa menjamin bahwa dimasa depan sekalipun, aku akan berpikir begitu."

Omongan Lyon manis sekali, ya ampun.

Terlalu manis sampai aku sangat takut.

"Aku sayang kamu."

Tiga kata itu membuat semuanya pergi. Kekhawatiran, kegelisahan, ketakutan. Mengundang hal-hal menyenangkan lain yang membuatku terlupa akan segalanya yang kurasakan kini. Aku lupa segalanya, lupa bernafas adalah salah satunya.

"Lily, bernafaslah!" Lyon memberi arahan sekalipun matanya kni fokus menatap jalanan kota besar, dan ia masih sempat mengingatkanku sebelum aku benar-benar terlupa lebih lama dan kehilangan diriku. "Sudah bernafas?"

"Sudah," balasku jengkel, darimana coba dia tahu kalau aku menahan nafas tadi?

"Kalau kamu?" Aku bisa merasakan Lyon mempercepat laju sepedanya. "Sayang aku, tidak?"

Aku tersenyum dan berhenti memeluk tasnya, beralih menyentuh bahunya.

"Sayang, kok."

Laju sepedanya yang melambat membuatku tahu bahwa dia bisa mendengarkan ucapanku tadi. itu benar-benar membuatku menghela nafas lega.

Lega dengan semua ini.

"Ulangi lagi kata-katamu tadi saat kita pulang ya? Aku tidak bisa mendengarmu."

Aku memukul pelan bahunya, "Aku tahu kau mendengarnya!"

Entahlah, ini hadiah termanis yang pernah diberikan oleh seorang Lyon padaku. Semoga saja semua ini bertahan lama, lebih dari selamanya.

Kembali ke Beranda