Memoria : "Reminiscence"
Teen
06 Jan 2026

Memoria : "Reminiscence"

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-06T093055.970.jfif

download - 2026-01-06T093055.970.jfif

06 Jan 2026, 02:31

download - 2026-01-06T093052.847.jfif

download - 2026-01-06T093052.847.jfif

06 Jan 2026, 02:31

Boston Amerika Serikat 14.39 PM .

Kali ini gerimis turun menggantikan hujan. Kedua telinga yang tersumpal earphone yang volume musiknya disetting penuh, jelas saja membuatnya tuli akan keadaan di sekitarnya sore itu.

Kameja kerja berwarna putih dengan rok span sepanjang setengah lutut tersebut agak sedikit basah akibat terkena air hujan yang turun tak terlalu kentara itu.

Rimma Ernestella, itulah nama yang terpampang jelas di buku bigboss yang berada di genggaman tangannya.

Gadis yang baru memasuki usia 22 tahun tersebut begitu lusuh. Rambut hitam bergelombangnya berkibar ditempur angin sore.

Fuuh... waktu berlalu begitu cepat sehingga membuat cuaca yang tadinya gelap dan dingin malah berubah menjadi hangat akan kehadiran matahari yang tak lagi menyembunyikan diri di balik awan kegelapan.

Rimma mengembuskan napasnya lelah.

Tidakkah orang-orang yang berada nun jauh di seberang sana—yang tengah berlari-lari ria seusai bekerja maupun belajar seharian—lelah?

Ah ... Ia tahu, begitulah dirinya dahulu. Ketika 'dia' dan dirinya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh keempat anak SMA yang baru saja berlari melewatinya itu.

Rimma lantas menoleh, melihat figur keempat siswa dan siswi itu dari belakang. Ingatannya mengalir dalam sekejap, mengingat momen lima tahun yang lalu ketika dirinya masih berada di bangku sekolah menengah atas, persis dengan keempat figur yang kian menjauh itu.

Rimma tersenyum getir. Ia pun membalikkan tubuhnya ke depan dan kembali berjalan. Kenangan itu begitu pahit sehingga membuatnya tak bisa menghapus ingatan itu. Rimma mencoba tuk melupakan segalanya. Melupakan dia.

Dia yang telah membuat garis takdirnya berubah.

***

"We were just kids when we fallin' love..."

Lagu Perfect yang dibawakan oleh Ed Sheeran keluar dari bibir tipis itu. Earphone yang menempel di kedua cuping telinganya tengah memperdengarkan lagu yang barusan dinyanyikan dengan suara pelan itu.

Matanya terpejam, menikmati alunan lagu yang sudah memasuki bagian-bagian akhir itu dengan tenang tanpa menghiraukan hiruk pikuk di sekitarnya.

Diliriknya arloji yang sudah menunjukkan pukul 14.40 PM. Laki-laki itu kemudian beranjak dari bench untuk pulang. Hal tak disangka-sangkanya tiba-tiba terjadi.

Tepat saat ia hendak membelokkan tubuhnya, matanya menangkap seorang berpakaian hitam yang ia duga perampok atau sejenisnya tengah melakukan aksi tarik-tarikan dengan seorang gadis berkameja putih.

Ia, dengan segenap rasa malasnya pun mulai melangkahkan kakinya santai. Sang gadis berteriak kepadanya ketika tubuh mereka sejajar.

"Help me!" ujar sang gadis sembari menarik-narik tasnya.

Langkah kaki laki-laki itu terhenti. Ia pun melepas earphonenya sebelah dengan gerakan malas, lalu memutar bola matanya jengah ke arah sang gadis.

Lama ia terdiam. Sang gadis beserta sang perampok bahkan sudah melakukan beberapa aksi tarik-tarikan atau apalah itu.

"Help me now!" seru sang gadis lagi, tentunya dengan nada yang lebih ditinggikan sekitar satu oktaf.

"Are you deaf, huh?!"

Lagi, sang gadis berteriak.

Laki-laki itu masih pada tempatnya.

"Oh, gosh!" seru sang gadis.

Sang laki-laki tetap diam.

Ia meneleng di balik matanya dengan sebal. Abaikan atau bantu?

Bantu.

Abaikan.

Bantu.

Abaikan.

Baiklah, abaikan saja.

Ia langkahkan kakinya meninggalkan kedua penjahat dan calon korban itu.

Namun belum beberapa langkah, teriakan-teriakan gadis itu membuatnya gagal berkonsentrasi.

"Noooo!!! Don't take my bag!"

"Don'ttt!!! Don't take my bag! Help!! Helpp!!! Hellpppp!!!!!"

"Shit." Alhasil, laki-laki itu mengumpat.

"Don't take my ba—

"Get your dirty hands out of that bag right now!" teriak sang laki-laki seraya memutar tubuhnya ke belakang dan tangan kanannya menodongkan pistol ke arah sang penjahat.

Kedua insan itu—gadis itu dan sang perampok—melotot.

"D-don't shoot me. O-okay, I'll let go," kata si perampok sembari mengangkat tangannya lalu pergi perlahan dan berlari sekencang-kencangnya.

Sang gadis buru-buru merebut tas miliknya dan memeluknya dengan erat.

Sementara sang laki-laki langsung menyatukan pistolnya ke dalam jaket kulitnya seraya memasang kembali earphone yang terlepas.

Iapun kembali melangkah.

"H-hei," panggil sang gadis.

Namun yang dipanggil tak menoleh.

"Thank you. What's your name, Sir?"

"Sir?" tanya laki-laki itu kaget dan membalikkan tubuhnya.

"O-ouh. So... then... I call you—" Kacau, bahasa Inggrisnya benar-benar kacau.

Sang laki-laki mendelik sebal lalu kembali berjalan.

"By the way," kata sang gadis, Rimma, seraya menyejajarkan tubuhnya dengan laki-laki tak diketahui namanya itu.

"Are you... ehm... mahasiswa... apa ya bahasa Inggrisnya mahasiswa," gumamnya seraya mencoba berpikir keras.

"Ya. Gue mahasiswa."

Sang gadis melotot.

"Lo orang Indonesia?!"

Sang laki-laki mengatupkan bibir.

"Seriusan?!"

Muak. Ia hembuskan napasnya pelan dengan penuh kesabaran.

"Iya... Gue. Orang. Indonesia!" Laki-laki itu menyeru, dengan tekanan di setiap katanya.

"Aah... asal mana? Kali aja kita sekota, maybe."

"Jakarta."

"Jakarta? Gue juga di sana. Dari gaya penampilan lo sih, gue tebak lo udah lulus strata satu?"

"Hm."

"Gue juga. Rencananya mau lanjut S2 atau kerja? Kalo gue sih kerja. Ini lagi cari-cari. Makanya tadi gue takut banget tas gue dicuri orang, soalnya di dalem sana ada resume buat daftar kerja hehe. Bukannya apa sih, tapi gue susah editnya. Dan juga... ada benda penting di dalam sini yang nggak boleh ilang."

Rimma mendadak sedih. Ekspresinya berubah suram. "Ada kenang-kenangan yang nggak boleh gue hilangkan. Kenang-kenangan dari orang yang gue sayang."

Sang laki-laki menoleh sembari terhenti. Namun sedetik kemudian ia kembali melengos dan berjalan kembali.

"Hadish."

"Eh?"

Rimma sontak terkejut ketika laki-laki itu mengulurkan tangan ke arahnya.

"R-Rimma."

"Lo LDR-an sama pemilik benda itu?" tanya Hadish.

"Enggak, kok."

Ia coba tuk menatap laki-laki bernama Hadish itu dan menatapnya terang-terangan.

Rimma pun memberhentikan kakinya. Yang sontak membuat Hadish ikut berhenti juga.

"Dia udah nggak ada." Sekilas, Rimma menggigit bibirnya, menahan tangis.

"Sorry."

"Iya nggak papa."

Saat Rimma menoleh dan Hadish menoleh, pandangan mereka bertemu. Dalam sepersekian detik, mata Rimma membelalak.

"A-A... Ajun..." sebutnya, terperangah.

Hadish memiringkan kepalanya.

"Ajun. Lo Ajun, kan?!" seru Rimma sembari memegang lengan Hadish.

Hadish melotot tak kentara

"Ini gue Rimma, pacar lo, Jun!" lanjutnya dengan mata berkunang-kunang.

Kenapa ia lupa? Kenapa ia tak sadar bahwa sedaritadi ia sedang mengobrol dengan Ajun?

Hadish menarik tangannya risih.

"Nggak. Nggak mungkin, Rim. A-Ajun kan udah nggak ada..." gumam Rimma mencoba berpikir jernih.

"Ta-tapi lo persis..."

"Apa?" Laki-laki berwajah tampan dengan lesung pipi di kedua pipinya itu lantas menukikkan alisnya, bingung.

"Nggak, nggak. Sekarang, lo siapa? Lo siapa!!"

***

Hadish datang dengan membawa minuman isotonik lalu diletakkan di atas meja.

Saat ini keduanya tengah berada di depan minimart.

"Dia kecelakaan dulu sama dua sahabat gue yang lain. Ineska sama Bayudha. Kebetulan gue nggak ikut karena lagi marahan sama Ajun." Rimma mulai bercerita.

"Kejadiannya waktu kelas dua SMA. Dia coba bujuk gue dengan segala cara supaya ikut dan maafin dia, tapi gue juga nolak dengan segala cara yang gue bisa." Rimma tersenyum getir.

"Akhirnya mereka berangkat tanpa gue."

"Mau ke mana emang?"

"Ke Amerika, Ajun sama Ineska berhasil lolos olimpiade Matematika. Sementara Bayudha jadi supporter mereka."

"Jadi kenapa lo marahan?"

"Karena Ajun sama Ineska deket banget."

"Jadi lo orangnya posesif, ya?"

Rimma menunduk.

"Gue juga nggak tahu. Hari itu bakal jadi hari terakhir gue ketemu sama mereka, dan juga Ajun." Rimma terisak.

"Jam 3 sore, gue dikabarin sama Mamanya Ineska kalo pesawat yang ditumpangi Ajun, Ineska sama Bayudha jatuh. Nggak ada yang selamat. Jujur, gue shock."

Kali ini isakan Rimma semakin terdengar jelas. Hadish mencoba tersenyum seraya menepuk punggung Rimma dan berkata, "Nangis aja. Jangan ditahan."

Tangis Rimma semakin menjadi.

"Mereka udah tenang, kok. Sekarang mereka minta doa lo."

Ajun menarik kepala Rima tuk bersandar di dada bidangnya.

"Kalo lo ketemu Ajun, kata apa yang pertama kali lo pengen denger dari dia?"

Rimma terisak, tapi kali ini sudah sedikit mereda.

"Gue pengen dia sebut nama lengkap gue," jawab Rimma sambil terisak.

"Really?"

Rimma mengangguk, tak kentara.

"Rim."

Rima menjauhkan telinganya dari dada bidang itu.

"Rimma Ernestella Frisandira."

"Jun?" panggil Rimma sembari benar-benar menjauhkan kepalanya dari dada bidang Hadish.

Hadish menatapnya dengan tatapan penuh arti.

"I miss you, Rimma."

"Ajun, lo?"

"Yes. This is me."

Rimma masih menunjukkan ekspresi tak percayanya.

"Tunggu... A-Ajun udah..."

"Gue masih hidup, Rim."

Rimma membuka mulutnya, namun tak ada sepatah katapun yang mampu keluar.

"H-harusnya..."

Hadish. Bukan, Ajun—tersenyum tulus.

"Cuma 5 orang yang berhasil selamat, Rim, termasuk gue. Sengaja nggak diberitakan karena—"

Rimma segera memeluk tubuh laki-laki itu. Erat. Ia tenggelamkan wajahnya di balik dada yang terbalut kaos putih tersebut.

Ajun tersenyum lagi.

"Lo ke mana aja, Ajun... Gue kangen sama lo..." lirih Rimma sembari menangis.

"Gue ngejalani terapi psikologis. Waktu itu mental gue nggak stabil banget setelah kecelakaan itu. Gue berada di dalam masa yang sangat terpuruk, Rim."

Rima tak bersuara, hanya ada suara cegukan yang terdengar.

"Gue dibawa ke sini dalam keadaan sekarat. Dokter bilang gue nggak ada harapan lagi, tapi Ayah sama Bunda tetep pertahanin gue. Dan alhasil sekarang." Rimma tak bersuara

"Rim?"

"Gue kangen wanginya Ajun."

Ajun tersenyum. "Padahal lima tahun lalu gue mau bawa lo ke Ayah Bunda."

Rimma masih menenggelamkan wajahnya.

"Udah lima tahun. Gue nggak mau kehilangan lo lagi, Jun."

"Gue juga, Rim."

"Kok lo tadi nggak ngenali gue sih?" tanya Rimma, tiba-tiba menarik wajahnya dari dada Ajun dan menatap laki-laki itu intens.

"Gue nggak kenal."

"Apa?"

"Karena muka lo udah berubah, jadi makin cantik."

"Jun, plis."

"Haha. Serius, Rim. Kalo seandainya lo nggak sebut nama gue juga, gue nggak bakalan inget."

"Terus pas udah tahu, lo pura-pura jutek dan nggak kenal gue?"

Ajun tersenyum manis.

"Parah lo. Oh ya, kok lo tadi bawa pistol?" Dan sekarang, Rimma takut.

"Ini?" tanya Ajun sembari mengeluarka pistol tadi dari dalam saku dalaman jaketnya.

"Iya itu!"

"Ini mainan kok."

"Dari mana gue bisa tahu itu mainan?"

Ajun segera menarik pelatuknya, dan benar, sebuah kelereng kecil keluar. Tapi kalau kena badan juga bakalan sakit.

"Ih, childish."

"Haha."

"Lalu Hadish?"

"Lupa nama gue, Rim?"

"Oh iya. Hadish Rajendra."

"Kan?"

"Iya, Jun, iya. Coba lihat." Rimma merogoh tasnta dan mengangkat sebuah gantungan berbentuk angka 8, infinity.

"Btw, ayo kita keliling Boston."

"Ayo."

Sore itu, Ajun dan Rimma berjalan, menelusuri sudut kota. Langit mulai berubah jingga dan kedua insan yang lama terpisah itupun akhirnya dipertemukan kembali di bawah naungan langit kota Boston.

[ E N D ]


Kembali ke Beranda