FLASHBACK - Just Me and You"Anne, panggil Zeffrey kemari ya." Guru olahraga di sekolah kami yang bernama Pak Suhendra itu lagi-lagi membuatku kesal untuk kesekian kalinya, tadi manggil-manggil dari kelas sampai meminta anak sebelah buat panggil aku di ke
Gambar dalam Cerita
"Anne, panggil Zeffrey kemari ya."
Guru olahraga di sekolah kami yang bernama Pak Suhendra itu lagi-lagi membuatku kesal untuk kesekian kalinya, tadi manggil-manggil dari kelas sampai meminta anak sebelah buat panggil aku di kelas, sekarang, ketika aku sudah sampai di mejanya, eh, malah disuruh panggil si Zeff.
"Kok saya, Pak?" tanyaku yang terdengar sedikit tidak senang. Sebenarnya aku bukan tidak senang karena diminta memanggil Zeff, tapi karena sifat Pak Suhendra yang suka semena-mena itu.
"Bapak mau bicarain soal tour Sudirman Cup , team kita akan melawan team dari sekolah Garuda Putih, kamu tahu kan, betapa unggulnya mereka?"
Dari minggu kemarin juga, kami sudah tahu kalau team basket sekolah kami akan melawan Garuda Putih yang benar-benar terkenal karena permainan basketnya yang ahli, tidak ada siapapun yang tak mengenal Garuda Putih, apalagi katanya captain -nya ganteng.
Eh, eh, salkus-salkus. Tapi William emang keren ya~
Oke, makin ngaco.
Dan ya, aku harus siap diperbudak oleh Pak Suhendra yang kadang suka semena-mena memperlakukan murid layaknya pembawa pesan. Sebagai ketua tim basket putri, aku harus berbangga hati karena tidak ada team dari sekolah manapun yang bisa melawan team kami. Tapi, jadi cewek ya gitu, pertandingannya benar-benar dianggap remeh sama dunia.
Aku memperhatikan Zeff yang sedang latihan sangat serius dengan team -nya. Kali ini mereka benar-benar ambisius untuk memenangkan pertandingan kali ini.
Loncatan, passing, dribble dan shoot .
Zeff seharusnya bisa menyaingi William, baik dari tampang maupun permainan basketnya. Tapi entah mengapa fans William yang bejibun dan seolah dimana-mana itu kadang membuatku ngeri juga. Kadang aku mensyukuri Zeff yang tidak setenar William meskipun dia juga terkenal.
...Zeff keren banget kalau lagi fokus shoot .
"Annely!" seru Zeff yang membuat kesadaranku kembali, aku yang menyadari bayangan sebuah bola mendekat pun refleks memajukan langkahku beberapa langkah, bola basket itu memantul tepat di area yang kupijak tadi.
"Iih, Zeff nggak hati-hati, nih. Tadi kalau kena gue, terus gue amnesia, gimana?"
Zeff menatapku datar, lalu melemparkan bola yang dipungutnya ke arahku, "Jangan lebay, lah. Lagian, lo ngapain di sini? Mending lo belajar bagus-bagus buat try out ."
"Gue kemari juga karena disuruh Pak Hendra, kali. Disuruh ke kantor, mau diskusiin soal pertandingan."
Zeff menghela nafas lelah, "Bakalan sampe maghrib nih, kalo diskusi sama pak Hendra."
Zeff memantulkan bola basketnya ke lapangan, memberi arahan pada anggota-anggotanya untuk latihan tanpanya. Sedangkan aku diam-diam tersenyum juga karena aku menyadari bahwa aku akan menghabiskan waktu dengan Zeff.
Ya, meski ada Pak Suhendra sih, tapi nggak masalah.
*
"Gila, capek banget debat sama Pak Hendra," keluhnya kesal, aku mengangguk setuju, padahal bukan aku yang sedang berdebat, tapi aku ikut kesal karenanya.
Pak Suhendra mengatakan bahwa beliau kurang menyukai susunan formasi yang diterapkan Zeff cs, dan menyarankan mereka untuk mengganti formasi yang lain.
"Lo sih enak ya, cewek, kemana bola pergi, di situ cewek-cewek berkumpul. Tanpa formasi yang jelas pun, kalian bisa menang."
Aku memutar bola mataku kesal, "Kalau enak, lo tukaran aja sama gue, lo jadi cewek dan gue jadi cowok. Lo cuman gatau, saking gampangnya sampai terlalu membosankan. Kadang gue ingin bermain bersama team lo, tapi lo-nya ngga ngizinin mulu dengan alasan klasik karena gue cewek."
"Kan lo emang cewek?"
Aku kesal dengan perbedaan itu. Perbedaan yang membuat semuanya menjadi amat jauh berbeda. Kenyataannya kami sama, makan nasi, bernafas dan sama-sama manusia, tapi apa?
"Gue capek sebenarnya jadi captain ," ungkap Zeff.
"Sama, gue juga capek," balasku malas.
"Mau makan nggak? Gue traktir deh."
Aku menggeleng, "Nggak deh, gue lagi diet."
Aku diet bukan karena ada pakaian kesempitan yang sedang ingin kupakai, tapi hanya agar tubuhku lebih ringan dan loncatanku lebih tinggi. Oh, dan sebenarnya juga merasa berat badanku sudah sedikit over dari kebanyakan cewek. Sedikit doang, kok, sumpah.
"Siang tadi emang lo sempat makan?"
Aku tersenyum, "Ihh, Zezef kok tau? Perhatian banget," aku tertawa mengejek, sebenarnya hanya akal-akalan agar Zeff tak membahas apapun yang berhubungan dengan permintaan memintaku makan atau apapun itu.
Padahal sebenarnya tadi siang itu banyak PR dan kami sekelas nggak ada yang keluar dari kelas karena itu. Zeff tentu saja tahu karena itu. Dasar miris.
"Annely...."
"Hm?" Aku membalikkan kepalaku, sedikit terdiam juga dengan perubahan ekspresinya yang begitu cepat itu. Seharusnya aku sudah menyeberang karena rambu lalu lintas masih menunjukan warna hijau, namun aku tak melakukannya.
Zeff serius sekali, sih?
"Lo bakal kuliah di mana?"
Aku terdiam untuk beberapa saat, "Ih, kok Zezef kepo tiba-tiba?" tanyaku iseng, wajah mengerut milik Zeff benar-benar membuatku gemas, ingin memonopoli keberadaannya seorang diri. Bahaya.
"Serius, Anne, lo mau kemana?" tanyanya lagi.
Aku menarik nafas, "Gue mau ke Pulau Jawa, gue denger universitas di sana bagus-bagus semua. Lo sendiri mau kemana?" tanyaku meringis pelan saat menyadari bahwa rambu kembali merah. Tapi nggak masalah, selama ada Zeff di sini, aku siap nunggu lebih lama lagi.
"Kenapa mesti jauh-jauh sih?" tanyanya malas. "Gue stay di provinsi ini, tapi bakal keluar kota. Secara, lo tau kan kalau kota kecil kita nggak punya satu bangunan universitas pun?"
Aku mengangguk mengiyakan.
"Terus , pulangnya kapan?"
"Kalo libur, gue usahain pulang. Tapi tiket pesawat mahal, nih. Doain aja gue-nya cepet sukses."
Keheningan berlangsung selama beberapa menit, hingga akhirnya rambu berubah hijau, membuatku sontak melangkah menuruni trotoar. Di sinilah kami berpisah biasanya setiap pulang, Zeff tetap di sana dan aku diseberang sana.
"Anne!" serunya yang membuatku berbalik lagi ke arahnya, namun yang kulihat bukanlah lambaian tangan yang biasanya ia lakukan. Zeff sudah berada di sampingku.
Di belakang Zeff, aku bisa melihat sebuah truk melaju dengan kecepatan sedang, namun tak bisa kami hindarkan lagi. Truk jelas muncul dari perbelokan tajam dari belakang sana.
Jeritan klakson terdengar begitu tajam.
BRAKKK!!!
...Zeff,
Zeff...
Aku ingin bersama denganmu .
*
Mataku terbuka secara tiba-tiba, cahaya putih terlihat jelas di atasku. Semuanya putih. Ah, apa ini sudah di surga?
Saat menolehkan kepalaku ke samping, aku langsung berusaha menjauhkan diriku, pasalnya Zeff berada sangat dekat denganku. Hanya beberapa centi. Namun tubuhku tertahan, dan tak kunjung menjauh darinya meski aku sudah berupaya keras menarik diri. Aku memperhatikan tubuhku yang tak mau menurut.
...Kakiku.
Kakiku dimana?
D-dan mengapa tubuhku menyatu dengan tubuh Zeff?
"Zeff...Zeff! Zeffrey, bangun!"
Mata Zeff terbuka, dia langsung menolehkan wajahnya ke arahku. "...Annely?" tanyanya tak percaya, "Kapan datangnya?"
"Apa yang lo maks-"
Tangannya yang terulur ke arah kepalaku, sukses membuat bola mataku membulat sempurna. Mengapa bisa?! Mengapa bisa tangannya melewati kepalaku?!
"Z-Zeff, apa gue kehilangan kepala atas juga?" tanyaku hampir menangis, sudah cukup aku kehilangan kakiku. Basket bukan segalanya dihidupku, kehilangan kaki memang menakutkan, tapi lebih menakutkan lagi tidak punya kepala.
"Kepala lo baik-baik aja, tapi kayaknya jiwa lo keluar dari tubuh lo," balasnya mencoba menjelaskan dengan pelan, Zeff sendiri terlihat tak percaya dengan apa yang terjadi. "Tubuh lo masih di ICU, sudah hampir tiga jam belum ada kabar apa-apa."
"Gue nggak mau mati, Zeff!" seruku frustasi.
Zeff menatapku dalam, "Sama!" serunya yang membuatku terpana beberapa saat, "Gue juga nggak mau lo mati."
Aku terdiam. Di saat seperti ini, kupikir wajar bagi Zeff untuk mengatakan itu. Aku benar-benar menyesali hal yang terjadi, meskipun itu bukanlah kesalahanku. Tapi, aku manusia, setelah mengetahui diriku kemungkinan meninggal, hal yang ingin kulakukan hanyalah meminta maaf sebanyak-banyaknya pada siapapun yang sempat kuminta maaf.
"Boleh lo bawa gue ke Bokap-nyokap gue? Gue pengen lo titipin pesan ke mereka sebelum aku-"
"Nggak! Lo nggak bakal mati, Anne!" gumamnya tegas. "Gue nggak bakal nerima satupun pesan lo kalau lo nggak hidup!"
" Please , Zeff...." sahutku memelas, "Gue masih berantem sama nyokap gue tadi pagi."
"ANNELY! Lo nggak bakal dan nggak boleh mati!" bentaknya yang membuat tubuhku tersentak, air mata yang berada di sudut kelopakku turun dengan sendirinya. " Please, Anne, stay alive ."
Pintu kamar tiba-tiba saja terbuka, menampakan Dokter berpakaian serba putih yang datang terburu-buru bersama streoskopnya. "Ada apa?"
Matanya yang menatap lurus ke arah Zeff membuatku putus asa, aku bisa langsung yakin bahwa sosokku tak bisa terlihat olehnya. Ini benar-benar membuatku ingin menjerit putus asa.
"...Teman saya yang di ICU, bagaimana keadaannya?" tanya Zeff.
"Anda tenang saja ya, nak. Kami akan berusaha semampu kami."
... Mom, maafkan aku .
Ini pasti kutukan buatku karena sudah melawan Mom tadi pagi. Mom memintaku untuk tidak bermain basket lagi sejak dulu. Aku paham, Mom hanya takut sifatku yang kasar itu semakin tak terkendali, dan aku paham benar kekhawatiran setiap orangtua terhadap anaknya.
Aku yang salah.
Zeff turun dari ranjangnya, meraih tongkat yang berada di sisi nakas dan berjalan keluar tanpa berkata apa-apa. Dokter di belakang kami hanya melangkah mengikuti kami, lalu berbalik lagi ke arah lain begitu Zeff sampai di depan yang bertuliskan ICU.
Aku bisa melihat Mom sedang menangis di sana, sedangkan Dad nampak serius berbicara dibalik telepon, dengan air muka yang jelas amat emosi.
"Orang yang menabrak tadi sepertinya mabuk," gumam Zeff yang membuatku menggertakan gigiku.
"Gue pengen bunuh dia!"
Zeff menatapku dalam, lalu menarik nafas panjang. "Gue pengen banget, meluk lo, tau?"
"Huh?" Aku mengerjapkan mataku, "Maksud lo?"
"Jangan sedih, please , Anne. Gue nggak tau gimana caranya nenangin lo."
...jangan baik begini, Zeff. Aku bisa terjatuh makin dalam.
Aku termenung untuk pertama kalinya setelah bangun barusan.
Mungkinkah gara-gara itu?
Aku ingin bersama denganmu .
.
.
.
Permintaanku terkabul...?
Apa ini yang namanya permintaan terakhir saat hidup?
"Anne, lo udah tenang?" tanya Zeff dengan hati-hati.
Aku mengangguk dan mencoba tenang, "Duduk di samping bokap nyokap gue, tenangin mereka dulu, please ."
"Anne..."
" Please , Zeff, ini permintaan sekali seumur hidup gue. Please ."
Tubuhku mulai menghilang dan aku menangis semakin keras, Zeff yang tidak tahan langsung menghampiri orangtuaku dan duduk di samping mereka, dia memeluk Dad dan Mom yang kini meratap ke lantai dengan tatapan kosong. Keduanya hanya terdiam. Zeff membisikkan sesuatu di telinga mereka berdua.
Aku mulai mendengar suara yang terdengar makin cepat. Lalu suara dokter dan suster yang terdengar bergerak semakin cepat. Aku memeluk kedua orangtuaku meski mereka berdua tak mampu melihat keberadaanku.
"Mom, Dad, Anne sayang kalian..." bisikku.
Suara mesin tiba-tiba memanjang, aku hanya sempat melihat tanganku menghilang sebelum akhirnya tubuhku terasa tertarik dengan begitu cepat. Aku bisa melihat sekilas seorang dokter menggosokan dua buah alat bersamaan, lalu menekan duanya bersamaan di tubuhku.
Aku semakin merasakan tarikan itu, alat kejut jantung itu sepertinya bisa..., sepertinya bisa menyelamatkanku.
"Coba lagi."
Sekali lagi, aku bisa melihat tubuhku tersentak, mataku masih terpejam erat tak rela terbuka. Aku menangisi keadaanku saat ini. Kuharap Zeff benar-benar menghibur kedua orangtuaku.
Aku bukan anak yang baik, aku hanya menyusahkan kalian selama ini. Tapi aku tahu, kalau mereka kehilanganku, mereka akan sedih.
"...Sekali lagi."
Mom, Dad, maafkan Anne tidak bisa menjadi anak yang baik.
Alat itu kembali menyetrum diriku, tubuhku terasa ditarik oleh sesuatu yang kencang, tubuhku tiba-tiba saja merasa lemah, pelan-pelan aku bisa mendengar suara pelan dari mesin di sampingku. Aku membuka mataku pelan-pelan dan melihat para dokter menatapku sangat lega.
"...Pasien kecelakaan barusan, berhasil diselamatkan," gumam salah satu dokter tadi entah kepada siapa.
*
"Sudah gue bilang kan, lo bakalan selamat..." Zeff mendorong kursi rodaku sambil menghela nafas lelah. "Malah nyuruh gue hibur orangtua lo... Lo beneran bikin orang cemas, tau nggak?"
Aku menunduk dalam, " Sorry , Zeff. Gara-gara lo nyelamatin gue, lo ga bisa ikutan tour ya?"
"Sudahlah, nggak apa-apa. Nanti gue langsung ajak William tanding saja tanpa perlu ada pertandingan resmi. Gue kenal dia kok, gue punya kontaknya."
Aku langsung bersemangat, "Serius? Lo punya kontaknya William? Gue boleh minta tidak?" Asyikk, nambah kontak cogan di hapeku.
Zeff menatapku datar, "Nggak bakal gue kasih," ucapnya jengkel.
"Ih, Zefferey pelit, ih." Aku pura-pura merajuk. Mana mungkin aku merajuk gara-gara Zeff tidak memberikan kontak William. Orang aku sukanya ke Zeff kok, bukan William.
"...Anne,"
"Hm?"
Tubuhnya menunduk, aku bisa merasakan leherku kini tengah dipeluk olehnya, aku benar-benar...benar-benar kaget setengah mati.
"Z-Zeff, lo ngapain?!"
"Meluk lo, lah, masak nggak tau?"
Aku makin tergagap mendengar jawaban santainya, yaampun, selamatkanlah aku dari apapun namanya ini. Jantungku sudah bekerja lebih maksimal dari biasanya. Aku bisa mati, sepertinya.
"Iya, ngapain lo meluk gue?!"
Dan Zeff berbisik amat pelan, "Gue sayang lo, Annely."