Gambar dalam Cerita
“Tapi, Ma, kuota Armel sudah habis.”
Mama menyergah pembicaraanku dari seberang telepon, “ Salah kamu sendiri. Siapa suruh kamu nge-kos jauh-jauh? Sudah Mama bilang kan, kemarin? Kuliahnya di tempat yang deket rumah aja. Kamu sih, ngeyel, nggak mau dengerin .”
Aku memutar bola mataku malas. “Ya udah deh.”
Usai Mama menutup telepon, aku menjerit kesal. Mama-ku benar-benar pelit dan tidak mengerti keadaanku sebagai mahasiswi. Aku sudah berulang kali menjelaskan padanya kalau kami—mahasiswa—selalu membuat tugas pada detik-detik terakhir. Besok tugas ini sudah harus dikumpulkan dan kuota midnight -ku baru saja habis saat aku mencari artikel terkait.
Sepertinya Mama tidak percaya kalau aku benar-benar serius kuliah di sini.
Berbekal artikel terakhir yang kubuka barusan, aku mulai membaca setiap katanya dengan hati-hati, agar aku tak melewatkan bagian penting yang ada. Kalau hari ini aku tidak dapat menyelesaikannya, mungkin besok pagi aku harus benar-benar membuatnya dengan cepat.
Dan karena aku mengharapkan kebaikan hati dari jaringan wifi dot id, aku melakukan scanning hingga berkali-kali. Apapun koneksi gratis yang masuk, aku benar-benar ...
TRING.
Sebuah jaringan terkunci dengan nama ‘ Passwordnya KECOAK ’ mulai mencuri perhatianku.
Semula, kupikir itu hanyalah kelakuan orang iseng di samping kamarku, namun saat aku mencobanya, aku benar-benar bisa masuk ke dalam jaringan itu. Passwordnya benar-benar adalah KECOAK.
Dengan keajaiban terakhir itulah, akhirnya aku memanfaatkannya untuk membuat tugasku.
Pagi itu aku mengisi kuotaku dan tidak pernah mengingat soal keberadaan jaringan itu, atau mencoba mencari tahu soal siapapun yang meminjamkannya untukku.
Malam ini, saat aku tengah bermain Facebook, jaringanku dialihkan ke jaringan orang lain. Nama jaringannya adalah ‘hai’.
Belum sempat aku berpikir apapun, nama jaringan itu berganti lagi.
‘ Hai, Armel. Kamu cantik ’.
Aku mulai berpikir bahwa itu adalah perbuatan iseng salah satu penghuni kos di sana. Langsunglah aku beranjak dari dudukku, lalu mengetuk satu persatu kamar yang ada di antara kamarku. Tapi, saat aku ingat bahwa mereka semua tidak berada di sana, aku langsung pucat pasi.
Untuk memastikan bahwa pemikiranku benar, aku mengecek sepatu mereka. Dan yang benar saja, mereka sedang tidak ada di tempat.
Aku kembali ke kamarku dengan wajah pucat.
Nama jaringan itu berganti lagi.
‘ Wajahmu benar-benar cantik saat ini ’.
Tak menunggu lama, aku langsung keluar dari kosan-ku sambil membawa laptop dan ponselku.
Kurasa mendengar saran Mama untuk tidak menetap di kos adalah hal yang tepat.