Gambar dalam Cerita
Selasa, 8 september 2020 tanggal dimana Lora dilahirkan, tepat 17 tahun usianya. _sweet seventeen_ usia yang menurutnya sangat penting. Usia spesial, usia dimana masuk dunia remaja.
Tepat pukul 00.00 banyak sekali yang mengucapkan ucapan untuknya. Yang pertama orang tuannya. Mereka tidak pernah lupa hari istimewa anaknya ini. Papanya memberi kado sebuah gitar, papanya memang tau keinginan Lora. Lora memiliki hobbi berkebun, maka dari itu ibunya membelikannya kado tanaman sukulen 20 pot. Betapa bahagiannya dia.
Kemudian ucapan dari Saudara-sepupunya, tak lupa sahabat terdekatnya, dari teman Paud, SD, SMP sampai SMA nya membanjiri kolom _chat whatsapp_ nya. Oh ya, mantan Lora. Jangan sampai tertinggal, dia pun ikut serta mengucapkan doa-doa yang siap diaminkan Lora.
___
Pukul 05.00 Lora bangun dari tidurnya, mengecek isi hp nya dari mulai _whatsapp, telegram sampai instagram_-nya banyak sekali yang mengucapkan doa. Lora membalas doa mereka dengan kalimat _'aamiin, terimakasih banyak'_ kalimat yang mewakili seluruh perasaannya saat ini. Harapannya semua doa-doa dari mereka terkabul, aamiin.
Kemudian Lora bergegas mandi dan mengerjakan sholat, memanjatkan syukur atas apa yang telah Allah berikan selama 17 tahun ini. Tak lupa menyiapkan seragam sekolahnya karna hari ini jadwal kelas 11 Luring.
Sampai disekolah, Lora langsung disambut oleh guru dan teman-temannya. Mereka semua mengucapkan Selamat Ulang Tahun saat bertemu di jalan menuju kelasnya.
Namun Lora sedikit kecewa, karena ke-3 sahabatnya memang benar-benar lupa hari ulang tahunnya. Mereka benar-benar cuek. Padahal mereka tau semua orang yang bertemu Lora mengucapkan Selamat untuknya.
Dikelas pun mereka acuh, bertanya ketika pelajaran berlangsung, namun tidak peka apa yang Lora mau dari mereka. Sedih? Sangat sedih, apa mereka yang disebut sahabat.
___
Pulang sekolah, Lora pulang dalam keadaan lesu karna hal yang menurutnya sepele tadi. Namun tidak di sangka, ternyata sahabatnya datang kerumah dan membawakan kue dan kado. Lora terharu, mereka menyembunyikan ini semua tadi disekolah. Salsa, Cici, Dini memang sahabat terbaik.
___
Memang hari ini hari bahagia Lora, namun tak berangsur lama, adik dari kakeknya meninggal dunia pada hari itu juga. Astaga, gimana jadi Lora? Dia baru saja merasakan bahagia tapi bahagiannya sementara. Kenapa Allah memberikan ujian seberat ini. Paginya dia bersenang-senang memang, namun sorenya? Oh astaga. Kenapa harus bareng sih?
Malam hari dia langsung ke rumah kakek, melayat, membantu mempersiapkan segala keperluan, tak lupa mendoakannya. Memang itu yang bisa dilakukan Lora. Sedih? Memang. Namun Lora tidak mau berlarut dalam kesedihan itu. Cukup! Hari ini memang hari yang ... Ah ... gak tau gimana jelasinnya.
___
5 hari berlalu, tepat 17 tahun 5 hari umur Lora. Lora berencana akan membuat KTP masal bersama sepupunya. Mereka mempersiapkan dokumen-dokumen untuk dibawa ke Kantor Camat.
Sesampainya di Kantor Camat, Lora segera berantri untuk mendapatkan giliran lebih awal, namun keduluan orang lain. Cowok seumuran Lora, tetapi Lora tidak mengenalnya.
"Ih apaan sih lo? Gua duluan tadi," kesal Lora.
"Siapa cepat dia dapat dong!" jawab cowok itu.
"Tapi gua duluan tadi yang maju, ih nyebelin banget sih lo. Tau ah sebel gua." Lora memutuskan keluar dari antrian dan duduk dikursi tunggu.
"Loh mbak kok duduk doang, ayo buruan antri, ntar kuotanya habis lo! Kurang 1 orang doang katanya si bapak botak itu," ucap Fingkan-adik sepupu Lora.
"Iya iya, kok lo udah selesai duluan sih. Jangan ninggalin gua lo ya!" ucap Lora.
"Tinggal nunggu panggilan buat foto KTP sih, masih rame tuh, mau benerin kerudung dulu di toilet, duluan ya." Fingkan meninggalkan Lora.
Lora memutuskan untuk antri lagi, tepat dibelakang cowok tadi. Antrian cukup cepat, kini giliran cowok di depan Lora yang maju duluan.
"Devanio Adji Wiraganda" Cowok itu maju. Sekarang Lora tahu nama cowo nyebelin tadi. Lora memperhatikan punggung cowok itu, seraya menyumpah serapahnya.
"Kalo gua duluan tadi, ga mungkin gua yang terakhir," dumel Lora. Cowok itu telah selesai dan mundur dari barisan, namun tak sengaja menabrak pundak kiri Lora, alhasil berkas-berkas yang dibawa Lora bejatuhan.
"Ih kalo jalan tuh pake mata dong! Jatuh semua kan!" Marah Lora.
"Ya sorry dong, lu aja yang kurang minggir. Dan 1 lagi, jalan tuh pake Kaki, mata itu buat ngeliat," elak Devan.
"Eh adik-adik jangan berantem, ini tempat umum, jangan lupa jaga jarak," lerai petugas administrasi.
Lora dan Devan balas dengan nyengir doang.
_'Emang gabisa sopan nih 2 bocah,'_ batin petugas tadi.
"Kurang minggir gimana? Jelas-jelas jalan tuh masih lebar tuh, kenapa mepet-mepet gua sih? Modus ya lo?" tuduh Lora.
"Enak aja klo ngomong, yaudahlah terserah lu, gua duluan, bay!" Devan pergi meninggalkan Lora.
"Dasar cowo nyebelin, gak ada akhlak!" teriak Lora membuat semua orang menatap Lora bingung.
"Emilda Putri Fafialora Modista" panggil petugas administrasi. Lora menyerahkan semua dokumennya.
"Oke lengkap, Silahkan tunggu panggilan buat foto ya," ucap petugas tadi, yang dibalas anggukan kepala Lora.
Lora duduk dikursi tunggu, sesuai nomor antrain, dan tak lupa jaga jarak 1 kursi. Dan ya, dia bersebelahan dengan Devan.
Devan melirik Lora, dia berkeinginan untuk berkenalan. Dengan berat hati dan tingkat ke kepoan Devan, akhirnya dia memutuskan untuk mengulurkan tangannya ke arah Lora.
"Gua Devan, sorry buat yang tadi," ucap Devan sedikit gengsi.
"Gua Lora! Ya. Sorry social distancing," jawab Lora tanpa membalas uluran tangan Devan. Devan menepuk jidatnya lupa kalau harus menjaga jarak.
"Lu bikin KTP juga disini?" tanya Devan.
"Enggak, antri sembako! " dusta Lora.
"Ya iyalah bikin KTP, jelas-jelas tadi antri di antrian administrasinya KTP," sinis Lora.
"Ya santuy aja dong jangan ngegas, cuma nanya doang, gua kira antri bpjs." Dibalas tawa Devan. Namun tak dibalas Lora.
Akhirnya mereka pun selesai berfoto dan keluar dari kantor ini. Lora dan Fingkan berencana mampir di warung bakso untuk mengganjar perutnya. Tak disangka ternyata Devan juga mampir di warung itu juga.
"Loh lo kok disini juga, lo buntutin gua ya? Mau apa sih lo?" cerocos Lora.
"Dih, ga usah ge-er gua mau makan disini. Bakso ini kan favorit gua," jawab Devan membuat malu Lora.
Mereka menikmati makanannya. Pandangan tak luput dari Lora yang makan dengan lahabnya, Devan pikir, Lora emang belum makan 1 tahun kayaknya. Wkwk.
Lora sadar kalau Devan menatapnya pun, menegur Devan.
"Kenapa lo liatin gua? Suka?" tanya Lora dengan pede-nya.
"Idih jadi orang tuh jangan ke ge-eran deh, tuh cape nyepil di gigi lo!" Disambut dengan tawa Fingkan. Astaga, Lora jadi malu sendiri.
"Ih apaan sih? Udah diem lo!" tunjuk Lora ke arah Devan. Makanpun selesai. Lora dan Fingkan mampir di minimarker buat beli minyak goreng pesanan mama Fingkan. Dan lagi, Devan juga sama. Mereka bertemu lagi.
"Lo lagi Lo lagi, kenapa sih ketemu terus, lo ngikut mulu? Mau apa? Minta no wa?" Lora sebal, diikuti terus oleh Devan.
"Gua mau beli cemilan ga usah ge-er, boleh deh kalo dikasih!" ucap Devan sambil memberikan hpnya.
"Ya karna gua baik, oke gua kasih! Jangan disebarin, inget lo." Lora mengetikkan no wa nya di hp Devan.
"Tunggu chat dari gua," balas Devan.
Mulai saat itu mereka dekat, malam hari selalu chatan, berangkat sekolah Lora selalu dijemput Devan karena mereka memang satu sekolah. Sering ngecafe berdua. Entah hubungan mereka itu sahabat atau lebih, yang jelas lebih dari teman, biar mereka berdua yang tahu.
Pertemuan mereka memang menyebalkan menurut Lora, tapi siapa sangka mereka malah jadi dekat karena membuat KTP.
[ E N D ]