The School at Night
Horror
09 Jan 2026

The School at Night

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (7).jfif

download (7).jfif

09 Jan 2026, 16:19

download (6).jfif

download (6).jfif

09 Jan 2026, 16:19

Sekolah di Malam Hari merupakan sebuah urban legend Jepang tentang sekolah yang angker. Biasa disebut juga "Gakkou no Kaidan" atau "School Ghost Stories". Urban legend ini juga kadangkala dikenal dengan nama "Seven Wonders of the School".

Bertahun-tahun yang lalu di Jepang, pernah ada kejadian mendesak tentang pembuatan sekolah baru. Ada desas-desus yang mengatakan bahwa pemerintah memerlukan tanah yang murah sehingga mereka bisa membangun sekolah. Jadi, mereka membangun sekolah itu di tempat bekas pemakaman tua. Hal ini memunculkan rumor dan gosip diantara anak-anak jika sekolah mereka berhantu.

Mereka mengatakan jika kau pergi ke sekolah pada tengah malam, kau akan melihat dan mendengar banyak hal aneh, seperti sebuah lilin yang melayang melewati halaman sekolah, gema suara langkah kaki tanpa tubuh menyusuri aula, dan patung-patung yang matanya bergerak mengikuti langkahmu. Di kelas sains, rangka anatomi menjadi hidup, kau akan mendengar suara bola tak terlihat yang terpelanting di ruang gym, dan bahkan kau juga bisa melihat hantu terpenggal yang kepalanya terbang mengitari kelas.

Jika kau berjalan menyeberangi halaman sekolah, tangan pucat akan muncul dari bawah untuk mencoba menarikmu agar terjatuh. Jika kau menggali halaman sekolah, kau akan menemukan tulang tengkorak dan batu nisan. Jika kau pergi berenang di kolam renang, tangan pucat akan menangkap kakimu dan mencoba untuk menenggelamkanmu. Bangunan-bangunan tua muncul di halaman sekolah dan ada tangga yang akan membimbingmu ke antah berantah. Jika kau berjalan menaikinya, kau akan lenyap. Mereka bilang toilet juga berhantu dan jika kau memasukinya, sebuah tali akan jatuh dari langit-langit dan membentuk sebuah simpul.

Di sebuah kota kecil di Jepang, ada sekelompok remaja laki-laki yang telah mendengar desas-desus tentang sekolah mereka. Menurut legenda, jika kau pergi ke sekolah saat tengah malam pada hari kelima belas dalam sebulan, sesuatu yang aneh akan terjadi.

Ada sebuah patung yang berdiri di jalan setapak yang menuntun kalian ke sekolah. Menurut dugaan, matanya akan mengikuti seiring langkah kakimu. Jika kau berjalan ke tangga utama, jumlah anak tangga akan berubah saat kau menuruninya. Jika kau menghidupkan keran di laboratorium sains, darah akan mengalir keluar, bukannya air. Dan jika ada orang yang berani memasuki bilik toilet terakhir di lantai dasar, orang itu tidak akan terlihat lagi.

Anak-anak lelaki itu memutuskan untuk pergi ke sekolah pada malam hari guna menguji apakah legenda itu benar atau hanya cerita saja. Pada hari kelima belas bulan itu, mereka menyelinap keluar dari rumah dan bertemu tepat saat tengah malam. Mereka semua berempat, Shinichi, Mikio, Takashi, dan Hiro.

Saat mereka berjalan melewati gerbang sekolah dan naik ke jalan setapak, anak-anak itu melihat patung. Mereka menunggu sesuatu terjadi. Mata patung itu melihat ke kiri dan bahkan saat anak-anak itu lewat, mata itu tidak berpindah satu inchi pun.

"Legenda yang bodohnya keterlaluan," salah satu anak tertawa kecil.

Mereka memasuki bangunan sekolah dan berjalan hati-hati menaiki tangga, menghitung langkah demi langkah. Satu, dua, tiga... Totalnya ada tiga belas anak tangga. Saat mereka berjalan turun, anak tangga masih berjumlah tiga belas buah.

"Dongeng tak masuk akal lainnya," kata salah seorang anak.

Mereka berjalan menyusuri koridor ke laboratorium sains dan menghidupkan semua keran. Bukan darah, semua keran itu hanya memancarkan air. Mereka mengeluh dalam kekecewaan.

"Aku tahu," kata salah satu anak. "Kita ke sini hanya sia-sia saja."

Mereka memutuskan untuk menguji satu legenda lagi sebelum mereka pulang. Kemudian, mereka pergi ke toilet di lantai dasar. Namun demikian, saat mereka sampai di depan pintu toilet, beberapa anak lelaki itu kehilangan keberanian. Bukannya berbicara dengan gembira, tidak ada satu pun dari mereka yang mau membuka bilik berhantu itu.

Akhirnya, salah seorang anak yakni Shinichi melangkah ke depan dan memberitahu teman-temannya bahwa ia tidak takut apa pun. Ia mendorong pintu agar membuka dan masuk ke dalam toilet, sedangkan teman-temannya menunggu di luar. Anak-anak itu melihat jam. Saat itu tepat pukul satu pagi.

Beberapa menit kemudian, Shinichi keluar dari toilet dengan seringai lebar di wajahnya.

"Tak ada!" katanya. "Itu hanya sekumpulan cerita dan dongeng untuk anak-anak!"

Anak-anak itu tertawa dan berjalan pergi. Ketika mereka keluar dari sekolah, mereka kembali menyusuri jalan setapak. Sebelum pergi, mereka melihat terakhir kali pada patung, tetapi matanya masih menatap ke kiri.

"Legenda bodoh," bisik salah satu anak dengan sinis dan mereka semua pulang ke rumah.

Pagi berikutnya, setiap anak menerima sebuah telepon bernada khawatir dari ibu Shinichi.

"Apakah tadi malam Shinichi bersamamu?" tuntut ibunya. "Ia tidak di kamarnya saat aku mengeceknya di sana pagi ini. Ia pergi diam-diam dan masih belum pulang ke rumah. Dimana dia?"

Anak-anak itu merasa ada sesuatu yang salah. Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk memberitahu orang tua mereka tentang trip pendek yang mereka lakukan malam sebelumnya. Orang tua mereka menelepon kepala sekolah. Dan segera, kepala sekolah mengumpulkan orang tua dan anak-anak itu di luar sekolah.

"Apa yang kau katakan?" tanya kepala sekolah. "Kau menceritakan patung di luar sekolah? Mata patung itu selalu melihat ke kanan."

"Tapi saat kami ke sana tadi malam, matanya melihat ke kiri!" jelas salah satu anak.

Memasuki gerbang, mereka terkejut melihat mata patung itu sungguh-sungguh melihat ke kanan.

"Tapi bagaimana tentang anak tangga di tangga utama?" teriak salah satu anak.

Mereka dengan cepat berlari ke tangga utama dan mulai menghitung jumlah anak tangganya.

"Satu, dua, tiga... DUA BELAS?!"

"Ya," sahut kepala sekolah. "Tangga utama selalu memiliki dua belas anak tangga. Saat dibangun, arsiteknya membuat kesalahan dengan rancangannya. Itu seharusnya memiliki tiga belas anak tangga."

"Tidak mungkin!" salah satu anak berteriak. "Tapi bagaimana dengan keran-keran di laboratorium?"

Memasuki laboratorium sains, mereka semua melihat ke bak cuci. Setiap keran dilapisi noda merah hitam. Anak-anak itu kaku dengan ketakutan.

"Tapi... Tapi... Bagaimana dengan Shinichi?" salah satu anak berkomat-kamit. "Ia masuk ke toilet..."

"Ayo pergi dan lihat," kata kepala sekolah dengan suara keras.

Mereka semua berkumpul di luar toilet. Anak-anak dan orang tua mereka melihat satu sama lain dengan cemas. Kepala sekolah menarik napas dalam, meraih gagang pintu dan mendorong pintu toilet agar terbuka.

Darah ibu Shinichi serasa membeku. Ia berteriak dan jatuh pingsan, yang lainnya melompat mundur dalam ketakutan. Beberapa dari mereka tidak bisa menahan muntah dan muntah mengotori lantai.

Mayat teman mereka, yaitu Shinichi, tergantung di langit-langit dengan tali yang melilit lehernya. Wajahnya pucat dan matanya terbuka lebar, membeku dalam ketakutan. Tenggorokannya disayat dari telinga ke telinga dan darahnya diperas keluar dari tubuh sehingga memenuhi lantai bak dengan warna hitam gelap. Organ dalam dan ususnya telah diambil. Kemudian, ditumpuk dengan rapi di atas kloset.

Salah satu anak berdiri dalam keadaan linglung. Ia menatap tidak berkedip pada jam tangan Shinichi. Benda itu berhenti tepat pukul satu pagi.

***

Kembali ke Beranda