Wanita Simpanan CEO
Romance
09 Jan 2026

Wanita Simpanan CEO

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (20).jfif

download (20).jfif

09 Jan 2026, 16:58

download (19).jfif

download (19).jfif

09 Jan 2026, 16:58

Semua karyawan kantor berbaris dan menunduk kala sang CEO yang baru saja menggantikan sang Ayah yang pensiun dan mengemban tandu kepemimpinan, dia adalah Reymond Admaja seorang lelaki tampan dan angkuh yang baru saja lulus S2 dan langsung menggantikan ayahnya tuan Riyan Admaja.

Sang CEO baru lewat namun semua karyawan tak ada yang bisa memperhatikan ketampanannya karena semua diharuskan menunduk dan sang pimpinan hanya lewat begitu saja tanpa membalas ataupun tersenyum sedikitpun dan hanya memberikan tatapan datar.

Setelah sang CEO lewat semua karyawan kembali ketempat kerja dan melanjutkan aktifitas masing-masing termasuk Dina yang telah bekerja sebagai resepsionis selama 2 tahun.

Hari-hari ia lalui seperti biasa namun yang membedakan hari ini dengan hari biasanya adalah ia memiliki pemimpin perusahaan baru namun itu tak membuat perbedaan baginya selama ia bisa bekerja dan menerima gajinya seperti biasa.

Terlihat seorang pengantar makanan menitipkan pesanan untuk sang CEO di meja resepsionisnya, ia menerimanya dan sedari tadi menunggu OB yang lewat untuk memberikan makanan bagi CEO baru namun sekalinya lewat malah bilang jika tidak berani karena sedari pagi sang CEO marah-marah karena kondisi kantor yang katanya masih sangat kotor.

"Ini anterin dong pak masak saya sendiri yang anterin kan saya harus jaga". Dina menyodorkan makanan tersebut agar segera diantar namun sang OB malah terlihat ragu.

" Maaf ya mbak bukannya nggak mau tapi saya takut beneran soalnya itu bos killernya minta ampun, tadi pagi aja udah 3 temen saya yang di pecat gara-gara nggak bisa bersihin ruangannya padahal itu ruangan udah bersih banget". tuturnya dan melangkah mundur.

"sekali lagi maaf mbak".

Dina menghembuskan nafas kasar seraya melihati makanan tersebut yang pastinya sudah dingin, " Udah Dina kamu aja yang anterin biar aku yang jaga".

Dina melihat Ikha yang malah cengengesan, ini sama saja menyuruh Dina masuk ke dalam kandang macan.

"Yaudah deh aku anterin dulu ya". Karena tidak ada OB yang mau akhirnya ia memutuskan untuk mengantarkan makanan itu sendiri sebelumnya ia menitipkan pekerjaan ke temannya.

Tentu saja ia memiliki ketakutan tapi CEO juga seorang manusia kan, jadi harusnya tak ada yang perlu di takuti paling nanti hukuman paling berat yang ia dapat adalah di pecat.

Ia menaiki lift ke lantai tertinggi di perusahaan dan terlihat meja sekertaris yang kosong padahal ia ingin menitipkan saja ke sekertarisnya, dengan dengusan ia mengetok pintu sang CEO.

"Masuk" terdengar seseorang mempersilakan masuk dan saat memasuki ruangan itu untuk pertama kali dilihatnya ruangan yang amat luas dengan hanya 1 meja kerja dan sofa yang mungkin untuk menerima tamu.

"ada apa ?" tanyanya membuat kekaguman Dina terhadap ruangan terganggu. "ini makanan yang anda pesan pak" sambil meletakkan makanan dan hendak pergi namun suara dari belakang menghentikan langkahnya.

"Dari tadi saya menunggu makanan itu dan baru sekarang sampai apa kamu tidak tau jika saya sangat menghargai waktu ?!". sambil mengetik di komputer. " maaf pak tapi dari tadi tidak ada OB yang bisa dititipi dan lift penuh".

"Berani kamu menjawab dan membuat alasan saya". sambil melihat Dina.

"maaf pak tapi saya hanya mengatakan yang sebenarnya". mendengar hal itu membuat pak Raymond menjadi naik pitam dan melihat tulisan di name tag yang tertera di blayzer bertuliskan "Resepsionis Dina Puspita" dengan segera Pak Reymond membentak Dina dan menyuruhnya keluar.

Pak Reymond mengambil HP dari mejanya dan menghubungi sekertarisnya untuk meminta CV dari pihak HRD atas nama Dina Puspita bagian Resepsionis. Pak Reymond ingin menyelidiki Dina mengapa dia sangat berani menjawab semua perkataannya.

Sang sekertaris memberikan informasi ke CEO dan langsung keluar ruangan karena ia tidak ingin menjadi pelampiasan bosnya yang sangat ketara sekali sedang marah. Dilihat dan diteliti setiap informasi dari Dina namun tanpa ia sangka ada satu hal yang membuatnya terkejut yaitu nama SMP dan tahun lulusnya yang ternyata sama persis dengan Dina.

Ia mengingat ingat lagi dan terus menyebut nama Dina Puspita di dalam fikirannya dan teringat bahwa Dina Puspita adalah temannya 1 SMP di kelas 3.

Saat Jam kantor sudah selesai Pak Raymond memerintahkan sekertarisnya agar Dina datang keruangannya. Dina yang mendengar itu mendengus kesal namun dalam hati ia berharap agar hanya dimarahi saja dan tidak dipecat. Dina tau jika pimpinannya tadi siang sangat marah juga kesal dengannya tapi tak menyangka jika ia akan dipanggil pada jam pulang.

Dina sudah ada di depan pintu dan setelah masuk ruangan pak Reymond mempersilakan duduk di sofa ruangan begitu juga dengan pak Reymond yang duduk diseberang meja. Mereka berdua masih saling diam dan terlihat pak Reymond sedang menahan tawanya, namun akhirnya ia bersuara juga.

"apa kau tidak ingat aku ?" ucap pak Reymond sambil menahan tawa membuat Dina menyernyit bingung.

" siapa ?". Dina melihati pak Reymond dan mencoba berfikir memangnya ia pernah punya kenalan seorang bos sepertinya tidak.

" aku Rey yang satu sekolah denganmu saat SMP dan sekelas saat kelas 3". ucapnya dengan antusias.

"Oh aku ingat sekarang kau Rey yang waktu itu selalu saja membully dan merebut buku pr-ku lalu menconteknya kan ". Dina dengan lantang mengatakan itu padahal yang saat ini ada di hadapannya adalah bosnya sendiri yang bisa kapan saja memecatnya.

" ternyata kau masih ingat yang itu, apakah sekarang kau akan balas dendam melihat kau yang sekarang sangat berubah dan kau lebih percaya diri, ngomong-ngomong apa yang membuatmu berubah sampai seperti ini ?". Tak menyangka Dina yang terkenal kampungan dan pendiam saat sekolah kini malah berubah drastis.

"yah kau tau sendiri jika aku dulu pendiam dan sering ditindas maka dari itu aku berubah agar tidak ditindas lagi, apakah sangat terlihat perubahanku ?". Dina memang berusaha berubah lebih percaya diri karena ia sudah lelah di tindas dan di bully apalagi hidup mengajarkannya untuk lebih berani.

" yah kau lebih percaya diri dan juga lebih cantik ". ucapnya dengan nada lembut.

Reymond dan Dina terus membicarakan mengenai masa lalu membuat mereka asyik dengan dunianya dan melupakan jika hari sudah gelap. Mereka menghentikan obrolannya dan pulang, Rey menawarkan untuk mengantarkan Dina, ia sempat ragu dengan tawaran itu tapi akhirnya ia terima juga karena hari yang sudah gelap dan tentu transportasi umum susah ia dapat.Hari ini Rey sangat jenuh lantaran di kantor ada saja perkejaan untuknya yang seakan menumpuk minta di kerjakan, bahkan sudah jam 8 malam baru ia selesai. Membuatnya kelaparan namun ia tak ingin makan di rumah yang ada nanti papanya menanyakan tentang pekerjaan lagi dan lagi makanya ia ingin makan di luar namun tak ingin pergi sendiri.

namun mengajak siapa ?, ia bahkan tak punya teman yang benar-benar tulus kepadanya dan yang ada nanti saat makan malah membicarakan tentang pekerjaan lagi, ia jadi teringat akan seseorang.

Rey mengambil hp dan menghubungi nomor orang tersebut dan tak lama tersambung.

Rey. : Hallo apa kau sudah pulang ?

Dina :Belum kenapa ?

Rey : Mau makan bersama, aku yang traktir

Dina. : Baiklah

Rey.  :Tunggu ku di depan aku akan ambil mobil dulu

Rey mematikan telfonnya dan segera ke parkiran untuk mengambil mobil. Dan di depan lobi terlihat Dina sudah menunggunya, ia menurunkan kaca mobil dan menghidupkan klakson untuk memanggil Dina.

Dina melihat sekitar terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam milik bosnya itu, tak menyangka jika sang atasan akan mengajaknya makan, atau lebih tepatnya teman yang dulu suka membullynya.

"Apa kau yakin mengajakku makan ? jika karyawan yang lain tau memangnya kau tidak malu ?". Tanyanya ketika sudah di dalam mobil namun terlihat Rey malah tersenyum miring.

" Tidak apa-apa lagi pula yang lain sudah pulang, aku malah yang penasaran kenapa kau mau makan denganku ? kau tidak takut jadi bahan pembicaraan orang ?". Dina tersenyum tipis, tidak menyangka akan mendapat pertanyaan itu.

"Kita tidak bisa membungkam mulut orang kan, padahal kita tidak melakukan suatu kesalahan tapi orang tetap suka membicarakan urusan orang lain". di sela menyetirnya Rey melirik Dina yang tengah melihat jendela.

Ia cukup kagum sekarang cara pemikiran Dina berbeda dengan terakhir mereka bertemu, Dina yang sekarang berani menjawab pertanyaannya bahkan tak takut padanya padahal ia sekarang adalah CEO.

Setelah selesai makan Rey mengantarkan Dina pulang, karena hari juga sudah terlalu larut. Tak lupa ucapan terima kasih Dina berikan karena sudah mentraktir dan mengantarkannya pulang.

*******

Rey sesekali mengajak Dina untuk sekedar jalan berdua karena keduanya merasa nyaman hingga tak sadar ada sekedar perasaan yang lebih dari sekedar teman. Perasaan saling ingin melindungi, menyayangi dan sampai pada mencintai.

" Dina maukah kau jadi pacarku ?". Dina langsung menatap Rey dengan tatapan tak percaya jika ia baru saja di tembak.

"Apa kau tadi menyatakan perasaanmu ?". Terlihat Rey tersenyum dan tak hanya itu Rey bahkan menggenggam tangan Dina dan menciumnya.

" Kau mau apa tidak, kalau tidak kau ku pecat ". Dina menaikkan satu alisnya, tak menyangka jika pernyataan cinta Rey di selingi ancaman tapi itu tak membuatnya terkejut mengingat bagaimana dulu perlakuan Rey padanya.

" Kau sebenarnya suka padaku atau cuma mau aku jadi pacarmu ? yang benar saja jika aku menolak maka kau memecatku kalau begitu pecat saja aku".

Terlihat raut wajah tak senang ketika Dina malah lebih memilih di pecat ketimbang menerima perasaanya, memangnya Rey kurang apa hingga Dina menolaknya.

"Kau wanita pertama yag menolakku apa kau tau itu ?". Dina mengangguk dan itu malah semakin membuat Rey tak faham juga kesal.

Dina sudah mengira Rey tidak pernah di tolak wanita sebelumnya karena caranya menyatakan cinta saja ada ancamannya kalau di tolak, maka ia ingin sedikit bermain-main dengan Rey.

" Jika kau hanya ingin memilikiku dan ingin mendapatkanku karena ancaman maka aku tidak mau tapi jika kau benar-benar mencintaiku maka aku mau jadi pacarmu". Rey tertawa tak mengerti dengan jalan fikiran perempuan.

"Aku ingin memilikimu karena aku mencintaimu jadi aku anggap kita sekarang pacaran". Tak sempat Dina mengatakan apapun untuk membalas perkataan Rey tapi Rey malah terlebih dulu menciumnya hingga membuatnya terdiam sejenak dan menyentuh bibirnya yang di cium Rey.

" Kenapa diam begitu jangan bilang jika kau tidak pernah ciuman sebelumnya ?". Rey melihat bagaimana ekspresi Dina yang nampak menahan malu dan itu membuatnya tau jika memang Dina tak ada pengalaman dalam ciuman.

Dalam hati ia jadi senang karena tak hanya mendapatkan Dina tapi juga kepolosannya, atau lebih tepatnya kepolosan Dina sedikit ternodai olehnya.

*********

Sesekali Rey menyuruh sekertarisnya untuk membelikannya sesuatu atau sengaja menyuruhnya keluar kantor hanya agar Dina bisa leluasa masuk ruangannya untuk ia melepas rindu begitu juga Dina yang kadang alasan ke teman kerjanya ingin ke toilet padahal ingin menemui Rey.

Rey berfikir bagaimana ia agar lebih leluasa bertemu dengan Dina dan agar orang lain tak bisa mengganggu mereka. Terlintas difikiran Rey untuk membelikan sebuah apartemen untuk Dina agar Rey bisa bebas berkunjung dan melepas rindu padahal setiap hari dikantor mereka bertemu walau saat mereka berpapasan mereka akan pura-pura saling tidak kenal.

Saat pulang Rey mengajak Dina kesuatu tempat yang sebelumnya Dina tidak tau dan tidak dikasih tau, hingga tibalah mereka disalah satu apartemen yang cukup mewah.

"Rey ini apartemen siapa ?". tanyanya saat sudah masuk ke apartemen yang mewah.

"bagaimana baguskan sayang, ini adalah tempat tinggalmu sekarang". Dina yang tengah mengagumi keindahan dan kemewahan apartemen itu jadi berbalik ke arah Rey dan melihat Rey dengan rasa tidak percaya.

"apa Rey ini terlalu berlebihan". Dina merasa apa yang di lakukan oleh Rey terlalu berlebihan mengingat mereka hanya pacaran dan belum menikah.

"tidak ada yang berlebihan untuk kekasihku, ini adalah untukmu sayang, dan agar aku bisa leluasa berkunjung". Tuturnya walau begitu Dina masih merasa tidak enak menerima pemberian Rey.

"tapi ini__"

"sudahlah terima ya, kalau kau tidak mau berarti kau tidak menghargaiku". Dina menyerah karena tak bisa lagi menolak apalagi Rey bukan lelaki yang akan menerima penolakan.

"baiklah terima kasih aku mencintaimu".

"aku lebih mencintaimu sayang".

Setiap hari Rey sudah tidak pernah lagi bertemu Dina diruangannya karena Dina takut akan ketahuan karyawan kantor yang lain dan sebagai gantinya mereka bertemu di apartemen yang dibelikan Rey dan Rey seringkali menginap disana pada akhir pekan, Dina menyetujui Rey menginap namun dia tidak membiarkan Rey satu ranjang dengannya.

Rey setuju dan tidur dikamar yang lain karena apartemen itu mempunyai dua kamar. Sebenarnya Rey merutuki dirinya sendiri dengan membeli apartemen yang mempunyai dua kamar seharusnya ia membeli apartemen yang hanya mempunyai satu kamar saja, agar ia dan Dina bisa tidur satu ranjang.

Rey membuka pintu kamarnya dan tetlihat Dina yang sedang memasak dengan dres rumahan yang panjanganya sedikit diatas lutut juga celemek yang terpasang ditubuhnya membuat Rey menelan ludah, padahal pakaian yang di kenakan Dina adalah pakaian santai namun terlihat amat seksi dan menggoda di mata Rey.

Dina berbalik melihat Rey dan menyuruhnya agar sarapan bersama. Bukannya ikut sarapan Rey malah berbalik masuk kekamar dan menutup pintu karena merasa sesuatu di bawah sana sudah tegak. sementara Dina yang melihat reaksi Rey saat diajak sarapan bersama malah bingung dan memikirkan ucapannya yang dirasa tidak ada salah.

Rey mengguyur seluruh tubuhnya dibawah shower yang mengalir deras, bersarap adik kecilnya segera tidur kembali karena jika tidak mungkin sekarang Rey akan menerkam Dina dan membuat Dina begitu benci kepadanya juga meminta putus.

Setelah adik kecil Rey tidur kembali, ia langsung bergabung dengan Dina yang sudah ada di meja makan, juga mengatakan kepada Dina agar tidak memakai pakaian yang kekurangan bahan dirumah apalagi diluar.

Dina merasa aneh dengan kata-kata Rey padahal ia tidak merasa menggunakan pakaian yang kekurangan bahan, namun ia menurut ucapan Rey karena tak mau membuat Rey marah padanya apalagi bertengkar.

Hubungan mereka sudah berlangsung selama 5 bulan dan aktifitas mereka masih sama yaitu bekerja dikantor pura-pura tidak saling kenal, berjalan-jalan di akhir pekan ke tempat yang sekiranya jauh dan tak ada orang yang mengenali mereka, tapi bertemu dengan leluasa saat ada di apartemen dan mencurahkan segala rindu yang ada. Walaupun Dina juga iri kepada orang lain yang saling mencinntai dan mempublikasikan kepada orang-orang.

Namun dengan segera ia buang jauh-jauh pemikiran itu karena ia tau kastanya dan kasta Rey yang teramat berbeda jauh bagaikan bumi dan langit, walau begitu pasti suatu hari ia dan Rey bisa bersama, sekarang saja ia sangat bersyukur dengan rasa cinta dan kasih sayang yang Rey berikan.

Tak jarang Rey membelikan barang-barang mewah dan branded dengan stok terbatas. Sebenarnya Dina selalu berusaha menolak tapi Rey selalu bilang jika ia tak menghargai perasaan Rey kalau menolak pemberian Rey jadi mau tak mau Dina terima walau ia sering berbohong teman kerjannya.

Seperti tadi pagi saat Dina memakai sepatu pemberian Rey dan berbohong kepada temannya saat bertanya dan menjawab jika sepatu yang ia pakai adalah sepatu kw super namun bergarga murah, dan temannya yang mendengarnya percaya begitu saja tapi ada juga yang menanyakan tempat Dina membeli sepatu itu sementara Dina tetap berbohong karena tempat Rey membelikannya sepatu saja ia tidak tau.Dina yang lebih dulu pulang karena jam kerjanya telah usai meninggalkan Rey dengan segudang pekerjaan yang membuat lelaki itu lembur, tak lupa Dina mengirim pesan pemberitahuan untuk pulang lebih dulu padahal Rey bilang kalau ia akan menginap di apartemen dan pulang bersama namun apa mau dikata kalau pekerjaannya harus lebih dahulu Rey selesaikan.

Dina sudah berada di apartemen dan langsung memasak karena Rey yang sudah janji untuk menginap dan pastinya akan makan di apartemen, setelah lama didapur membuat badan Dina lengket bahkan aroma masakannya kini beralih ke tubuhnya.

Aliran air shower mengguyur seluruh tubuhnya tak lupa ia menggunakan sabun aroma lavender dan jasmin yang membuat tubuhnya harum dan wangi. Dilain sisi Rey sudah masuk ke apartemen karena ia memegang kunci sendiri jadi tak butuh Dina untuk membukakan pintu.

Rey masuk dan tak melihat Dina dimanapun membuat Rey mencari dan menghubungi nomor Dina. Suara nada dering HP Dina terdengar dan membuat Rey mengikuti sumber suara itu. Ternyata HP Dina terletak di atas meja kamar Dina namun yang punya masih belum ketemu.

Ceklek

Pintu kamar mandi terbuka membuat Rey melihat Dina yang baru saja selesai mandi dengan rambut basah tergerai kebawah juga handuk yang melilit tubuhnya dan mengekspos paha mulus Dina membuat Rey menelan ludahnya dan gairahnya bergejolak tak tertahan lagi bahkan adik kecilnya sudah berdiri tegap.

Sementara Dina yang melihat Rey ada di kamarnya kaget juga merasa gugup dengan tatapan Rey yang melihat Dina dari ujung kaki ke ujung kepala seperti ingin menerkamnya membuat mereka berdua diam dan terasa sekali kecanggungan diantaranya. Dina memutuskan untuk berbalik dan masuk kedalam kamar mandi namun gerakannya terhenti kala kaki Rey lebih cepat menghampiri Dina dan mencegahnya masuk, mereka berdua bertatapan dan terlihat sekali gairah yang berkobar di mata Rey dan langsung mendekatkan bibirnya ke telinga Dina, "aku sudah tak tahan".

Dina terkejut mendengar Rey namun sebelum ia bersuara Rey sudah terlebih dahulu mengecup dan melumat bibir Dina lama kelamaan ciuman Rey menjadi ciuman panas yang menuntut bahkan sekarang Rey memasukkan lidahnya dan menakan tengkuk Dina agar lebih dalam berciuman membuat Dina membetontak namun tenaga yang tak sebanding membuat gadis itu menyerah dan mengikuti ciuman Rey bahkan sekarang ia membalas ciumannya.

Dirasa Dina sudah tak lagi melawan dan tangan Rey mengarahkan kedua tangan Dina agar melingkar di lehernya. Dina merasakan sesuatu seperti perasaan terhanyut bahkan ia tak sadar jika Rey sudah melepaskan handuk yang melilit ditubuhnya. Rey melepaskan ciuman mereka dan tersenyum lalu ia menggendong dan merebahkan tubuh Dina diatas kasur.

Rey melepaskan jasnya juga dasi untuk mengikat tangan Dina. Rey mendekat dan menghirup aroma Dina yang sangat wangi sehabis mandi." emh kau sangat wangi". ucap Rey dikala mencicipi setiap jengkal tubul Dina.

"Rey aku mohon jangan". Dina merasa jika apa yang mereka berdua lakukan sudah melampaui batas, dan jika ia tak menghentikan Rey sekarang yang ada nanti ia yang menyesal.

" Rey aku mohon tidak Rey jangan". pinta Dina namun tak juga digubris, tapi Rey sudah terlanjur bergejolak hingga kini harus ia tuntaskan dari pada harus mencari wanita lain untuk menuntaskannya atau malah bermain solo di kamar mandi.

" Rey hentikan". Pinta Dina

"hentikan ? tapi kau begitu menggemaskan sayang". Rey membuat Dina seolah semakin kehilangan kesadarannya dan memaksanya menerima apa yang Rey lakukan.

"tidak Rey".

" jadi tetap tidak ?". Rey tak habis akal ia inhin Dina menjadi miliknya malam ini dan itu harus terjadi, ia tak ingin hanya mendapatkan cinta dari Dina tapi juga semuanya.

" baiklah". Dina sudah terlihat seperti cacing kepanasan yang menggeliat tak tertahan, semua yang Rey lakukan membuatnya menyerah dengan pertahanan yang selama ini ia lakukan untuk mempertahankan kesuciannya.

" as you wish honey".

"Aaaaargh", tanpa sadar airmata Dina mengalir begitu saja kala pusaka Rey yang besar menembus memasuki tubuhnya membuat rasa sakit juga peris seperti luka yang disiram air jeruk nipis.

Tak ada rasa bersalah di dalam diri Rey kala sudah berhasil menembus pertahanan Dina dan yang ada hanyalah rasa puas. Ia mencintai Dina dan ia rasa ia pantas mendapatkan semua yang Dina miliki termasuk mahkotanya Dina.

Terlihat Dina sudah lebih dulu tertidur sebelum ia juga akhirnya tumbang di sebelah Dina, rasa puas membuatnya tersenyum senang dan memberikan ciuman di kening sebelum ikut terlelap.

Matahari sudah terbit menyaksikan dua insan yang masih terpejam karena kelelahan setelah sama-sama menuntaskan gairah. Dina mengerjapkan mata beberapa kali dan melihat seorang lelaki tidur disampingnya.

Lelaki itu begitu tampan bahkan Dina tak bisa menahan untuk tidak menyentuh wajah pria disampingnya. Terlihat pria itu memiliki alis yang tebal juga hidung mancung, setiap bagian dari wajah pria itu sudah Dina sentuh secara lembut agar tak membangunkannya.

Dina berusaha untuk bangun namun sekujur tubuhnya terasa sangat sakit apalagi bagian bawahnya. Selimut yang melorot memperlihatkan tubuh polosnya mengingatkan tentang kejadian tadi malam dimana Rey sudah__.

"Aaaaaaaaaaaargh dasar kau kurang ajar dasar mesum kau teterlaluan Rey". teriak Dina seraya memukulkan bantal ke tubuh juga wajah Rey membuat Rey bangun kesakitan.

"Aduh aduh hey sayang kenapa kau memukulku". ucapnya Rey sambil berusaha duduk dan menangkis pukulan bantal Dina.

" kenapa ? harusnya aku yang tanya kenapa kau melakukannya padaku ?". ucapnya dengan marah sambil memukul Rey dengan tangannya.

"kau lupa kan kau yang memintanya sayang ". ucapnya seraya tersenyum menggoda Dina.

" itu karena karena argh pokonya kau menyebalkan aku membencimu ". ucap Dina malu saat mengingat kejadian semalam sambil melangkahkan kaki ke kamar mandi. Sedangkan Rey hanya tersenyum melihat Dina yang marah dan malu, iapun melanjutkan tidurnya karena masih lelah dan mengantuk.

Dina memasak sarapan untuk mereka berdua dan sesekali gerakannya terhenti bahkan jalannya terlihat kesulitan. Rey duduk di meja makan setelah sebelumnya mandi dan melihat Dina yang jalannya kesusahan membuatnya penasaran.

" kakimu kenapa ?", tanya Rey saat Dina sudah ikut duduk di meja makan, pertanyaan Rey membuat Dina sebal dibuatnya.

"ini semua kan karena kau, karena it itu itu itumu ". Dina tergagap dan tak mampu melanjutkan kata-kata karena malu untuk menyebutkannya.

" karena ituku apa kamu sedang terkena penyakit gagap ya ?". ucap Rey bingung dengan perkataan Dina yang gagap dan tak jelas membuatnya menaikkan sebelah alisnya.

"karena itumu terlalu besar dan ganas, kau puas sekarang ?" jawab Dina dengan teriak dan marah karena Rey menyebutnya gagap.

Rey yang sedang meminum air terkejut dan menyemburkan air di mulutnya seketika Rey tertawa keras tak tertahankan mendengar ucapan Dina yang amat lucu ditelinganya. Sementara Dina yang melihat Rey tertawa terlihat wajah kekesalannya bahkan kini tangannya bersidekap didada juga memalingkan wajahnya.

"kau tidak bisa jalan karena punyaku yang terlalu besar dan ganas kau bilang ?". Rey sambil berusaha menghentikan tawanya namun bukannya berhenti malah semakin keras membuat Dina beranjak dari duduknya dan meninggalkan Rey yang masih tertawa.

" Hei tunggu sayang". Rey berhenti tertawa dan dan beranjak mengikuti Dina yang merajuk meninggalkanya dimeja makan.

"Hei kau jangan marah oke, aku minta maaf lain kali aku akan melakukannya dengan lembut oke". bujuk Rey lembut setelah berhasil menyusul Dina.

" Tidak ada lain kali, Rey apa kau sadar kalau kita ini belum menikah, tidak sepantasnya kita melakukannya Rey". Jawab Dina yang khawatir.

"Kau tenang saja kita akan menikah aku berjanji sekarang kau jangan marah lagi oke". pinta Rey lembut dan Dina sudah tak marah lagi, mereka kembali ke meja makan dan melanjutkan aktifitas hari libur mereka.


******


Rey dan Dina kembali menjalani pekerjaannya dimana mereka akan berpura-pura tidak saling kenal dan tidak saling sapa. Dina sebagai Resepsionis dilantai paling bawah tidak pernah lagi naik kelantai tertinggi digedung untuk menemui Rey, tetapi jika Rey ada di lantai bawah mereka akan saling tersenyum memandang satu sama lain namun berusaha agar tak membuat curiga yang lain.

Dengan keadaan yang saling mencintai secara sembunyi membuat Dina khawatir jika Rey tidak akan menikahinya dan mereka tidak akan bisa bersatu apalagi setelah Dina dan Rey melakukan hubungan suami istri yang harusnya dijalani ketika sudah ada ikatan resmi.

Dina pulang dan terlebih dahulu mampir ke apotik untuk membeli pil kontrasepsi agar ia tidak mengandung anak Rey. Mempunyai anak dalam sebuah hubungan tanpa ikatan merupakan suatu kesalahan yang akan ditanggung oleh si anak.

Dina sudah sampai di apartemen dan langsung meminum pil kontrasepsi setelah itu segera ia kedapur untuk memasak makanan karena lagi-lagi Rey aka menginap.

Rey sudah pulang kerja dan terlihat wajah kusut juga lelah ia tampilkan. Rey mengecup kening Dina dan langsung kekamar Dina untuk mandi karena setelah kejadian mereka melakukan hubungan suami istri membuat Rey seolah melupakan batasan yang harus dijaga. Rey tidak lagi tidur diruangan terpisah dan akan tidur bersama Dina walaupun hanya sekedar berpelukan sambil tidur.

Rey meletakkan tasnya di meja kamar Dina dan ia terkejut dengan apa yang ia temukan yaitu sebuah tablet obat yang ia fikir adalah tablet kontrasepsi. Segera Rey menuju dapur menghampiri Dina yang sedang memasak sambil memegang tablet tersebut.

"Dina apa ini ?". tanya Rey ketika sudah sampai di depan Dina seraya menunjukkan tablet obat di tangannya.

" oh Itu pil kontrasepsi", jawab Dina dengan polosnya.

"Pil kontrasepsi, apa kau tidak mau punya anak dariku ? apa kau sudah tidak mencintaiku Din ?". ucap Rey seraya menekankan kata kontrasepsi dengan marahnya.

" Rey apa kau sadar kita belum menikah bagaimana bisa seorang anak hadir diantara kita, itu hanya akan menjadi beban untuknya". jawab Dina tak kalah emosi dengan airmata sudah ada diujung mata.

"bukankah aku sudah bilang jika aku akan menikahimu Din, atau apa kau tidak mau mengandung anakku agar suatu saat nanti kau bisa mudah berpaling dariku dan pergi meninggalkanku ?". ucap Rey masih marah.

" ya tapi kapan Rey bahkan tiada satu orangpun yang tau jika kita sekarang pacaran, sadarkah kau Rey kau membuatku sakit dengan ucapanmu". Dina sudah berlinangan airmata, bagaimana bisa Rey berfikir jika ia akan meninggalkan Rey padahal Rey tau Dina sangat mencintainya.

Rey pergi meninggalkan Dina yang berlinangan airmata dengan keadaan marah, bahkan ia membanting pintu apartemen sengan keras. ia marah sepanjang menyetir juga memukul kemudi sesekali saat membayangkan pertengkarannya dengan Dina.

Rey pergi ke club malam dengan tujuan untuk menghilangkan semua beban fikirannya. Rey memesan minuman dan entah sudah berapa banyak gelas yang ia teguk membuatnya setengah sadar.

Wanita yang bekerja di club mendekati Rey satu persatu namun di mata Rey ia melihat pada diri wanita yang menghampiri dan langsung memarahi mereka seperti memarahi Dina, ia melampiaskan kekesalannya ke wanita itu membuat yang ada disekitar tak berani mendekati Rey yang sedang mabuk.

Sementara Dina menangis dan kakinya seperti tak sanggup lagi menumpu badannya hingga ia jatuh terduduk di apartemen, mungkin ini adalah pertengkaran terbesar selama menjalani hubungan dengan Rey, tapi yang tak habis fikir bagaimana Rey menuduhnya akan berpaling dan pergi meninggalkannya.

Dina menangis sesenggukan sepanjang malam dan membuat matanya menjadi sembab. Dilihatnya hp tiada satupun panggilan atau pesan dari Rey membuat Dina khawatir dengan Rey juga hubungan mereka.Rey berangkat kekantor dengan marah apalagi tadi saat ia lewat meja Resepsionis tak terlihat Dina disana, ini sudah dua hari Dina tak berangkat kerja dan dilihat HP-nya tiada satupun panggilan dan juga pesan dari gadis itu. Rey mengangkat telepon menghubungi sekertarisnya.

"Bawakan aku laporan keuangan bulan ini, juga suruh tim marketing untuk merevisi ulang yang kemarin". Dia marah-marah kepada semua karyawan membuat semua yang ada menjadi takut akan kemarahan sang atasan, tak terkecuali para Resepsionis yang diminta lebih disiplin dengan kerjaannya.

Para Resepsionis sangat ketakutan apalagi salah satu dari Resepsionis yaitu Dina teman mereka tidak berangkat, dalam hati semua karyawan kantor berdoa agar kemarahan sang CEO semoga cepat reda.

Rey bekerja dengan marah dan sama sekali tak konsen, dilihatnya HP dan masih sama tak ada kabar dari Dina dan bahkan ia sudah menghubungi Dina sejak pagi namun tak dijawab, akhirnya Rey menghubungi orang IT kepercayaannya.

" Aku punya tugas untukmu, segera cari tau sekarang dimana lokasi seseorang lewat HP, akan kukirimkan nomornya ", Ucap Rey tanpa menunggu balasan dari orang yang ditelepon dan langsung menutup teleponnya juga mengirimkan nomor HP Dina.

" Hallo tuan sudah ketemu dia sekarang ada di panti asuhan kasih sayang ". Rey menerima kabar keberadaan Dina dan langsung menuju parkiran tanpa menghiraukan panggilan dari asistennya, dilajukannya mobil dengan kecepatan tinggi membelah jalanan sambil berfikir untuk apa Dina pergi ketempat itu.

Sampailah Rey di panti asuhan itu, ia disambut pemandangan anak-anak yang berlarian, dan bermain kesana kemari. Diperhatikannya semua tempat namun yang dicari tak ada, tiba-tiba ia ditabrak oleh seorang anak laki-laki yang berlari, tubuh Rey yang tinggi dan besar sama sekali tak bergeser dari tempatnya sementara anak lelaki itu jatuh.

" maafkan aku tuan aku sama sekali tak sengaja, sekali lagi maaf". kata anak itu yang masih terduduk di tanah.

"jangan khawatir aku baik-baik saja, siapa namamu ?". Rey mengulurkan tangan hendak membantu anak itu untuk berdiri.

" namaku Deni" ucapnya saat sudah berdiri tegak.

"mengapa kau bisa ada ditempat ini Deni, apa kau tidak punya orang tua ?" tanya Rey melihat Deni yang terlihat seperti anak berumur 8 tahun tapi sangat kurus.

"kata tante aku sebenarnya masih punya ayah tapi ia tak mau menikahi ibuku juga tak mengakuiku, akhirnya ibukku bunuh diri karena melihat ayahku menikah dengan wanita lain, lalu aku diasuh tante tapi ia sekarang tante sudah meninggal karena sakit, jadi sekarang aku tinggal disini". ucap Deni dengan sedih.

" apa kau sudah pernah bertemu ayahmu ?". tanya Rey

"sudah waktu itu ibu membawaku menemuinya saat aku berumur 6 tahun, ibu bilang jika aku anaknya tapi ayah tetap tidak menikahi ibuku dan bilang jika aku bukan anaknya". ucapnya sambil berusaha menahan air matanya.

" maaf aku tak bermangsud membuatmu sedih". Ucap Rey sambil mengelus kepala Deni.

"tidak apa-apa paman, aku permisi dulu". ucap Deni sambil sedikit membukukkan badannya.

" Hm". Jawab Rey sambil melihat Deni yang sudah pergi menjauh, tak disadari oleh Rey jika percakapannya dilihat oleh seorang wanita paruh baya dan wanita itu mendekat kearah Rey.

"halo tuan saya Yuli panggil saja bu Yuli saya adalah pengurus panti ini, dari tadi saya melihat anda sepertinya akrab dengan Deni, apakah anda ingin mengangkat Deni sebagai anak ?" tanyanya kepada Rey.

"aku tidak sedang ingin mengangkat anak, aku tadi berbicara dengan Deni karena penasaran bagaimana ia bisa disini". ucap Rey sambil melihat Deni yang bermain dengan temannya.

" Yah Deni dan lainnya kurang lebih sama, mereka disini karena terlahir diluar pernikahan sehingga para orang tua memberikan anaknya ke sini karena tidak bisa merawat anaknya dengan segala cacian dan makian orang". ucap bu Yuli.

"kalau tidak mau punya anak seharusnya jangan membuat anak, banyak dari para orang tua yang tak tau jika apa yang mereka lakukan akan berdampak pada anak yang tak tau apapun tapi menanggung kesalahan mereka". lanjutnya dengan menatap Rey.

Rey seolah tercubit hatinya mendengar Deni juga bu Yuli yang seakan menyindirnya dan sekarang ia tau apa yang dimangsud Dina dan ia ingin sekali menemui Dina untuk meminta maaf.

" sebenarnya aku kesini sedang mencari kekasihku namanya Dina, aku mendengar kabar jika ia disini". ucap Rey pada bu Yuli.

"oh Dina adalah kekasihmu, ia adalah gadis baik yang kadang menyumbang dana juga tenaga ke panti ini, kami semua sangat senang dengan keberadaan Dina apalagi anak-anak, mari saya antar ke nak Dina". ucap bu Yuli sambil menunjukkan arah jalan.

Rey melihat sepanjang jalan terdapat banyak sekali anak dan juga bayi yang masih belum bisa berjalan terlihat menggemaskan, langkah bu Yuli terhenti dan Rey melihat kearah depan ternyata ia sudah sampai di tempat Dina yang sedang mengajak bermain seorang bayi dan pemandangan itu terlihat begitu teduh di mata Rey sampai tak sadar jika bu Yuli sudah pergi.

" Anak kita pasti akan selucu itu nantinya". suara Rey yang keras menyadarkan Dina dan sepontan mencari keberadaan sumber suara.

"Rey kau disini ?" tanya Dina dengan sedikit takut, sungguh dalam hati Dina belum siap bertemu Rey mengingat kejadian kemarin.

"Aku minta maaf, aku mengerti sekarang apa yang kau mangsud dan tentu saja aku akan menikahimu baru kita punya anak". ucap Rey seraya berjalan mendekat kearah Dina.

Dina meletakkan bayi yang ada digendonganya kedalam box bayi, lalu melihat Rey yang sudah ada di sebelahnya menatapnya dengan tatapan sendu.

" Apakah kau mau memafkanku ?". tanya Rey kala Dina menatapnya.

"tentu saja aku memafkanmu, berarti kita tidak akan melakukannya sebelum menikahkan ?" tanya Dina sambil terus menatap Rey.

"em kalau itu aku tidak bisa menjamin ataupun berjanji, apalagi jika adik kecilku ingin mengunjungi gua kesukaannya". ucap Rey sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal.

" hih kau dasar mesum". ucap Dina sambil memukuli dada Rey dan dengan cepat Rey menarik tangan Dina hingga kini Dina ada dipelukan Rey, kemudian Rey mencium bibir Dina dan disambut baik oleh gadis itu.

Kala itu Dina dan Rey sudah berbaikan, mereka berdua bahkan menghabiskan sepanjang hari di panti asuhan dengan Rey bermain bola bersama para anak lelaki sedangkan Dina dengan beberapa bayi yang menggemaskan. Rey dan Dina pamit tapi sebelumnya Rey sudah mendonasikan dana yang cukup banyak untuk panti asuhan itu bahkan ia sudah menjadi donatur tetap.

.Hubungan Dina dan Rey sudah seperti biasa dan mereka juga menjalani rutinitas biasa dimana mereka bekerja di kantor tanpa memperlihatkan hubungan mereka dan bahkan tak saling sapa ataupun tersenyum.

Dina dan temannya ikha sedang duduk di meja Resepsionis, dan seorang lelaki bernama Fajar sedang menuju ke arah mereka.

"Din ada fajar tuh". tunjuk ika dengan dagu membuat Dina menoleh kearah fajar.

" Hai Din sudah hampir jam istirahat nih kekantin yuk ?" tanya fajar kala sudah ada di depan Dina.

Fajar adalah salah satu karyawan di bagian IT dan telah lama menyukai Dina, namun ia tak langsung mengungkapkan perasaannya, karena takut akan penolakan tapi ia selalu memperlihatkan jika memiliki ketertarikan khusus untuk Dina.

"Jar aku diajak nggak ?" tanya Ikha yang ikut nimbrung dengan omongan Fajar.

"kan Resepsionis kalau istirahat gantian jadi kamu ikut kapan-kapan aja ya ", ucap Fajar kepada ika.

" yah gitu si fajar mah". jawab ika dengan wajah sedih yang dibuat-buat.

"gimana Din mau kan ?" tanya fajar lagi.

"udah din mau aja pasti ntar dibayarin apalagi lo jomblo kan kali aja bentar lagi gak jadi jones" ucap Ika seraya menyenggol tangan Dina.

Beberapa rombongan datang dari luar mereka adalah Reymond dan sekertarisnya juga beberapa orang yang tidak dikenal mungkin adalah clientnya. Reymond melihat Dina dan Fajar yang saling berhadapan dan cepat menunduk kala Reymond dan beberapa orang tersebut lewat. Tatapan mata Rey kepada Dina sangat amat mengerikan dan itu disadari oleh Dina.

"Gila tuh bos matanya kayak laser siap ditembakkan tau nggak" ucap ika kala Reymond sudah pergi menjauh.

"Gimana tadi Din mau kan makan sama aku jangan khawatir ntar aku yang bayar deh". ucap fajar yang ketiga kalinya menawari Dina.

" eh em iya boleh". ucap Dina yang membuat Fajar langsung tersenyum dan mereka ke kantin.

"jangan lupa bawain makanan buat gue". teriak Ika kala keduanya sudah agak jauh.

Dina sebenarnya kurang nyaman jika makan dengan fajar apalagi berdua namun bagaimana lagi karena Dina tak punya alasan untuk menolak apalagi jika dia bilang kalau dia punya pacar dan itu adalah Rey si CEO tempat ia bekerja pasti tidak akan ada yang percaya.

Fajar dan Dina sudah selesai makan dan mereka berdua kembali ke tempat kerja masing-masing, dan tak lupa Dina membungkuskan makanan untuk ikha dan membawanya ke meja Resepsionis.

" nih buat kamu" ucap Dina kala memberikan makanan ke ika.

"thank you, eh ini dibayarin fajar ?". tanya ika sambil menyomot ayam goreng yang dibawa Dina.

" nggak tadi aku bayar sendiri" ucap Dina sambil melihat temannya yang makan dengan belepotan.

"ih sayang banget kan lumayan di bayarin bisa hemat uang kan Din" ucapnya kala membersihkan makanannya yang tersisa di mulutnya dengan tisu.

"udah kamu makan aja, aku ke toilet dulu ya ". sambil melenggang pergi

Dina keluar dari toilet tapi tanpa ia tau seseorang telah menunggunya dan langsung menarik tangannya ke sebuah ruangan, itu adalah tempat meeting yang jarang terpakai di lantai satu, memang banyak tempat meeting di kantor tapi tempat meeting di lantai satu adalah yang paling jarang digunakan tapi selalu bersih karena sering dibersihkan oleh OB.

Lelaki itu menarik tangan Dina dengan kasar dan langsung menutup juga mengunci tempat itu. Lelaki itu adalah Rey dengan wajah marahnya ia menatap Dina.

Seketika Rey memojokkan Dina ke dinding dan mendaratkan ciuman kasar pada bibir Dina hingga membuat Dina terkejut. " emh" lenguhan Dina kala Rey menekan tengkuknya dan mencium dengan kasar. Dina mendorong Rey karena nafasnya yang hampir habis juga ciuman Rey yang membuat bibir dina memerah dan sedikit bengkak.

"Tuan Rey anda apa-apaan" ucap Dina yang malah membuat Rey semakin marah.

"Kita cuma berdua disini gak jadi gak usah main drama bos dan Karyawan". ucap Rey dengan tangan yang dilipat di dada.

" nanti kalau ada yang lihat gimana ?" tanyanya sambil melihat keatas.

"gak ada cctv jadi kamu tenang aja, aku cuma mau menghukum kamu karena udah berani bermesraan saat aku gak ada" ucapnya dingin dan datar.

"Aku cuma makan siang aja sama Fajar". ucap Dina.

" oh jadi namanya Fajar dari bagian mana dia biar aku pecat sekarang apa kamu gak peduli perasaan aku melihat pacar sendiri dekat dengan lelaki lain kamu harusnya bilang kalau kamu punya pacar". jawabnya tetap dingin.

"Rey kita pacaran tanpa ada satu orang yang tau dan sekarang kamu suruh aku bilang jika aku punya pacar dan itu kamu, tidak ada yang akan percaya". ucap Dina berusaha menjelaskan.

" aku gak peduli aku akan pecat si fajar itu karena udah berani godain pacar orang".ucap Rey ketus.

"kumohon Rey jangan pecat dia, dia gak tau apapun, kamu marah aja sama aku". ucap Dina memohon.

" jadi kamu memohon untuk dia, baik kalau gitu kamu gantikan dia menerima hukuman". ucap Rey yang melonggarkan dasinya dan membuat Dina bingung juga khawatir.

"Rey kamu mau ngapain". ucap Dina yang takut dengan Rey yang sekarang membuka ikat pinggangnya.

" tentu aja menghukum pacar aku yang bandel". ucap Rey yang mendekat ke arah Dina dan Dina memundurkan langkahnya kala Rey semakin dekat.

"nggak Rey, inget ini di kantor, rey kamu udah janji Rey". ucap Dina takut.

" Aku memang udah janji gak akan pacaran apalagi mencumbu kamu di kantor tapi ini sebagai hukuman karena kamu udah berani makan sama lelaki lain" ucapnya yang kemudian mengangkat tubuh Dina ke atas meja.

Rey menciumi bibir Dina membuat gadis itu melenguh kala ciuman Rey turun ke leher Dina dan meninggalkan bekas disana, Dina berkali-kali menolak dan melawan tapi Rey lebih kuat

"Aaaarhg" teriakan Dina kala merasakan sesuatu yang asing di bawah sana, beruntungnya ruang meeting itu kedap suara jadi tak terdengar sampai keluar. Desahan deni desahan keduanya keluar dengan Rey yang terus menjamah tubuh Dina.

Dina yang sekarang sama sekali tak memperlihatkan senyum bahkan merutuki Rey dalam hati. Dina segera memakai bajunya juga merapikan rambutnya dan keluar dengan tergesa-gesa meninggalkan Rey dibelakang.

Rey yang melihat tingkah Dina hanya tersenyum dan melangkah dengan santainya karena berhasil mendapat kepuasan, dan saat keluar dari ruang meeting dilihatnya OB dan memanggilnya.

"bersihkan ruangan ini" tunjuk Rey dengan dagunya seraya menampilkan kembali wajah datar juga juteknya yang berhasil membuat OB tersebut ketakutan dan cepat membersihkan ruangan itu karena terdapat sisa cinta mereka yang berceceran membuat OB tersebut bingung.

.

.Dina kembali ke meja Resepsionis dengan sedikit ngos-ngosan karena bergegas dan takut apa yang dilakukannya tadi diketahui orang lain, apalagi jika sampai ada yang tau kalau ia baru saja memuaskan nafsu sang pimpinan perusahaan, bisa-bisa ia menjadi gosip hangat di kantor.

Dina melihat Ikha memperhatikannya dengan tatapan yang tidak bisa di tebak bahkan Dina sangat gugup di dekat Ikha.

"Ada apa kok lihat aku sampai segitunya ?" tanya Dina saat ia kembali duduk dikursinya.

"Kamu itu abis ngapain aja sih di toilet sampai sejam, goreng bakwan ?" tanyanya dengan muka datar.

"a aku aku tadi habis BAB". jawab Dina dengan gugup yang ketara.

"Kamu diare ?" tanya ikha.

"Iya bener diare, tadi soalnya aku makan sambel banyak banget". Jawab Dina yang beruntung karena ikha memberinya ide untuk menjawab.

" Oalah jawab diare aja sampai gugup gitu makanya jangan makan sambel banyak - banyak" ucap ika.

Untung saja Ikha percaya dengan omongan Dina hingga gadis itu bisa menghembuskan nafas lega. Dan ia kembali kerja walaupun masih nyeri di bagian bawahnya juga agak lengket karena perbuatan Rey tadi, sungguh Dina amat kesal karena Rey melakukannya apalagi di kantor.


*****

Jam pulang telah tiba termasuk Rey yang tidak lembur dan meminta Dina untuk pulang bersamanya, Rey mengirim pesan ke Dina untuk masuk ke mobilnya di parkiran karena suasana parkiran sudah sepi hingga mereka bisa bebas berada di mobil yang sama.

BRAAK

Dina membanting pintu ketika ia masuk kedalam mobil juga menampilkan wajah yang terlihat akan kemarannya dan itu tak terlepas dari penglihatan Rey namun, Rey hanya diam walau hatinya ingin tertawa karena tau sebab dari kemarahan Dina. Rey mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang dan mereka hanya diam sepanjang jalan.

Sebenarnya Dina amat kesal kepada Rey namun lebih kesal lagi saat dia marah malah tidak ditanya apa sebabnya ataupun meminta maaf dan malah mendiamkannnya seperti ini, padahal kan ia sedang ngambek dan butuh dibujuk bukannya di diamkan. "Dasar tidak peka". Gumam Dina dalam hati.

Rey sesekali mencuri pandang Dina yang tak berbicara dan memperlihatkan wajah ngambeknya, dalam hati Rey ingin tertawa terbahak-bahak karena wajah Dina saat ini amat menggemaskan bagi Rey, sebenarnya Rey ingin bicara kepada Dina namun karena biasanya kalau wanita sedang ngambek itu pasti inginnya dibujuk dan dituruti keinginanya.

Namun Rey bukanlah tipe pria yang akan menuruti wanita hingga ia merendahkan dirinya, Rey adalah tipe yang akan mendiamkan wanita jika wanita itu mendiamkannya dan semakin lama wanita itu pasti akan kalah juga.

"Rey". Ucap Dina yang tak tahan dengan sikap Rey yang diam sedari tadi.

"Hem apa ?". Ucap Rey datar dan masih fokus menyetir.

"Kok dari tadi kamu diam saja gak minta maaf sama aku ?!". Dina kesal.

"Kenapa aku harus minta maaf sama kamu ?". Tanyanya masih dengan wajah datar, jika masih ada satu piala oskar maka Rey pantas mendapatkannya karena masih bisa menampilkan wajah datarnya padahal hatinya tertawa keras.

"Karena kamu memaksaku melakukan itu dikantor bahkan saat jam kerja, apa kamu gak ngerasa bersalah sama aku ?!". Ucapnya marah karena Rey masih menampilkan muka datarnya bahkan tak melihatnya kala ia bicara. Rey menghentikan mobilnya dan kini ia melihat Dina disampingnya.

"Dengar ya aku gak suka jika ada yang mendekati wanitaku dan aku lebih tidak suka lagi kalau kamu meminta maaf atas namanya, kalau sampai itu terjadi lagi maka fajar atau siapapun lelaki yang mendekati kamu akan menyaksikan siaran langsung betapa panasnya kita tadi di ruang meeting faham kamu !!". Ancam Rey sambil memegang kedua bahu Dina dan menampilkan wajahnya yang sangat serius dan juga mengerikan.

Dina yang mendengar ancaman Rey seketika ngeri dan takut, sungguh sosok Rey kini membuat Dina seperti sedang bersama dengan orang lain karena bukan seperti Rey yang ia cintai. Rey melihat Dina yang takut dengan dirinya dan langsung memeluk tubuh Dina juga menghadiahkan kecupan di puncak kepala Dina.

"Jangat takut kepadaku, aku hanya tidak ingin kau di dambakan oleh lelaki lain, kau mengerti kan mangsudku ?". Tanya Rey yang memeluk dan juga mengelus punggung Dina dan dibalas anggukan oleh Dina.

"Sudahlah jangan takut, aku ingin kita makan diluar kau pasti sudah lelah jadi tidak perlu memasak hari ini". Rey mencium dahi Dina dan dibalas senyuman tipis oleh gadis itu.

Rey mengarahkan mobilnya ke salah satu restoran yang ramai dan terkenal enak, mereka makan berdua dengan suasana hati Dina yang sudah membaik, bahkan mereka makan sambil berbincang hingga membuat keduanya terbawa suasana.

Dari kejauhan Dina melihat Ikha dan temannya sedang menuju ke meja yang Dina duduki, segera Dina bersembunyi dibawah kolong meja dan itu membuat Rey bingung.

"Kenapa kau sembunyi ?". Tanya Rey saat Dina sudah berada dibawah meja.

"Sssstt diam temanku sedang menuju kesini, aku tau dia tadi melihatku". Ucap Dina dengan pelan.

Tak lama Ikha juga temannya ada di hadapan Rey dengan bingungnya karena yang tadi ia lihat adalah Dina sementara yang duduk dimeja adalah bosnya.

"Loh pak Reymond, saya kira teman saya yang tadi duduk disini". Ucap Ika bingung.

Dina dibawah meja meringis sakit pasalnya Ikha tak sengaja menginjak tangannya, bahkan Dina hanya bisa menutup mulutnya agar tak bersuara karena tangannya yang terinjak kini bahkan sudah memerah.

"Tidak dari tadi aku yang duduk disini". Ucap Rey dengan wajah datarnya.

" Bapak sendiri aja makan disini ?". Tanya Ikha lagi.

"Iya memangnya kenapa?". ucap Rey kini menampilkan wajah galak.

" Gak apa-apa pak cuma kok piringnya ada dua". ucap Ikha menunjuk piring yang tadinya milik Dina sehingga Dina yang mendengarnya dibawah meja hanya bisa tepuk jidat.

"Kalau piringnya ada dua kenapa lagipula saya sangat lapar ? masalah buat kamu ?". Tanyanya ketus.

"Gak pak gak apa-apa, kalau gitu saya permisi dulu". Ikha lekas pergi karena wajah Rey yang sangat tak bersahabat juga karena teman Ikha yang sedari tadi melihat keketusan Rey mengajak Ikha cepat pergi, bahkan saking kesalnya teman Ikha mendengar perkataan Rey kala gadis itu pergi.

"Gateng tapi kok galak". Kata teman ikha yang masih bisa didengar oleh Rey padahal jaraknya sudah agak jauh. Dina akhirnya bisa menarik tangannya ketika kaki Ikha sudah bergerak pergi dan mengelus tanganya yang memerah.

"Mereka sudah pergi, kau bisa keluar". Ucap Rey kepada Dina yang ada dibawah. Saat Dina sudah setengah berdiri Rey mengarahkan kepala Dina agar kembali masuk ke dalam meja.

"Eh kenapa ?". Tanya Dina kala Rey memegang kepalanya dan membuatnya kembali sembunyi.

"Ssst diam dulu". Rey cemas karena ada seorang laki-laki paruh baya yang mendekat ke arahnya dan itu tak baik apabila lelaki itu melihatnya bersama Dina.

"Rey dengan siapa kamu disini ?". Tanya tuan Riyan yang tak lain adalah papanya Rey. Dina yang mendengar suara tidak asing itu lalu tau apa maksud Rey menyuruhnya kembali sembunyi karena yang sedang berbicara dengan Rey adalah bosnya dulu sebelum Rey dan sekarang tuan Riyan malah duduk di kursi Dina.

"Aku.......sedang bersama client pa kita sedang membicarakan tender". Rey mencari alasan.

" Lalu dimana clientnya ?". Tanya tuan Riyan.

"Dia sedang ada di toilet pa, papa sendiri sama siapa disini ?". Tanya Rey mencoba mengalihkan perhatian.

"Papa sendiri, tadi mama kamu minta dibelikan makanan, karena papa sedang berada dekat sini jadi mampir untuk membelikan pesanan mama".

" Oh gitu ". jawab Rey seolah mengerti padahal saat ini hatinya tak tenang memikirkan Dina yang berada di bawah meja.

" Oh ya kamu akhir-akhir ini jarang pulang sampai mama kamu pusing mikirin kamu, dan papa dengar kamu beli apartemen baru, benar ?". Tanya tuan Riyan.

"Iya pa......aku kepengin mandiri". Jawab Rey.

" clientnya dari tadi gak balik-balik coba kamu telepon ". Ucap tuan Riyan.

Rey menuruti papanya dan pura-pura menelepon agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi papanya. Setelah selesai pura-pura menelfon Rey mengembalikan hpnya ke saku.

" Dia bilang kalau ada urusan mendesak jadi pulang lebih dulu dan lupa pamitan pa". Ucap Rey bohong.

"Oh gitu". Tak lama pelayan memberikan bungkusan kepada tuan Riyan.

"Pesanan papa sudah dapat, papa pulang dulu, oh ya walaupun kamu mau hidup mandiri setidaknya sesekali pulang kerumah biar mama nggak khawatir". Ucap tuan Riyan seraya berdiri dari tempat duduknya.

" Iya hati-hati pa". Ucap Rey.

Rey menghembuskan nafas lega begitupun Dina, setelah tuan Riyan sudah pergi Rey menyuruh Dina untuk keluar dari persembunyian, dengan kaki yang sudah kesemutan dan juga tangannya yang merah ia keluar dari kolong meja, sementara Rey yang melihat Dina hanya bisa menyuruhnya untuk sabar.

Kembali ke Beranda