Dicintai OM CEO
Romance
10 Jan 2026

Dicintai OM CEO

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-10T233144.011.jfif

download - 2026-01-10T233144.011.jfif

10 Jan 2026, 16:32

download - 2026-01-10T233140.963.jfif

download - 2026-01-10T233140.963.jfif

10 Jan 2026, 16:32

Di Asrama Aja - Kamar nomor 24


PIYORIN's


"Aku tahu asal muasal dari semua ini, dan bukankah itu artinya kita harus menjauhi Vampix?"


Perkataan Kayaka membuatku mengerjapkan mata.


"Tunggu, itu ada hubungannya dengan manusia congkak, angkuh dan sok penguasa?" tanyaku, yang membuat Ryuko kini mengerutkan keningnya, bingung.


"Bukankah itu karena Vampix berteman dengan spesies kelelawar?" Ryuko mengoreksi jawabanku.


"Oh, seperti itu."


Akan kuceritakan kejadian yang kami alami secara singkat. Mendekati akhir bulan Januari, tiba-tiba dunia gempar dengan keberadaan sebuah virus. Gemparnya ... hm, kira-kira sama seperti dulu ketika Jepang gempar dengan fenomena hilangnya manusia (ya, walau sekarang tidak ada yang mengingatnya sama sekali).


Gempar, gempar sekali sampai akhirnya semua fasilitas umum ditutup. Kuakui, aku cukup kaget dengan ini. Sebab ketika fenomena menghilangnya manusia dulu, sekolah dan kantor bahkan tetap beroperasi. Setelah kupikir-pikir, situasi ini lebih dapat dikendalikan daripada fenomena aneh yang bisa saja melahap siapapun tanpa kenal bulu.


Nah, haruskah kukatakan bahwa aku senang karena sekolahku libur? Ya, tentu saja aku senang, tapi masalahnya ...


" Iya, tapi jangan bermimpi misi kita libur. Dunia sedang bersibuk dengan dunia mereka, kita harus sibuk dengan misi kita. Virus mungkin berbahaya, tapi perlu diingat kalau peri-peri mungil itu bisa lebih mengacaukan dunia."


Kata-kata Vampix di pengumuman terakhir di siaran sekolah minggu lalu masih terngiang-ngiang di pikiranku. Dan sebenarnya sudah seminggu pula aku menghabiskan waktu di asrama, di dalam kamarku dan bertemu dengan beberapa orang sesekali, ketika pergi ke cafeteria.


Semua jadwal dibuat ulang dan karena itu, tidak ada lagi orang yang boleh berlama-lama di sana. Begitu selesai makan, harus langsung naik karena orang-orang sudah menunggu jadwal mereka. Saat cafeteria kosong, mereka akan menyemprotkan antiseptik ke seluruh ruangan, seolah kami semua adalah virusnya.


Malam hari, kami semua menyelinap keluar untuk menangkap para peri yang masih berkeliaran. DAN itupun kami diwajibkan memakai masker. Sebenarnya bisa saja aku mencari mantra pelindung yang membebaskanku dari segala jenis kuman, tapi katanya itu berisiko karena tidak semua kuman bersifat jahat--ini kata Kayaka.


Belakangan, isu tentang kami yang akan dipulangkan ke rumah masing-masing, mulai menghilang. Sepertinya isu itu tidak benar, karena sampai detik ini belum ada pengumuman resmi dari pengurus sekolah. Ya, siapa lagi kalau bukan dua kakak beradik itu. Jangan-jangan mereka berdua tidak diperbolehkan keluar dari rumah mereka sendiri. Membayangkan kalau kami akan menjadi tumpukan manusia di asrama membuatku agak merinding.


"Aku bosan, mau ke kamar kakakku. Mau ikut?" tawar Kayaka padaku.


"Bukankah kita diminta untuk saling berjauhan dulu? Seperti yang kita lakukan sekarang?" tanya Ryuko.


Oh ya, coba tebak apa yang sedang kami lakukan!


Ya, benar, tiduran di kasur masing-masing.


"Rin bisa menggunakan kekuatannya untuk membuat kita memakai pakaian astronot, iya kan, Rin?"


Ryuko menolehkan kepalanya ke arahku yang kebetulan tidur di tengah. Rasanya malu sekali setiap Kayaka membahas soal kostum astronot. Aku yang mengusulkannya awal-awal, tapi aku hanya bercanda. Aku tidak tahu bahwa Kayaka akan mengganggapnya seserius ini.


"Kalau Piyorin menggunakan kekuatannya dan membuat semua orang di sini memakai pakaian astronot, apa kita bisa beraktivitas seperti biasa, ya?" Ryuko bertanya sambil menatap langit-langit kamar.


Kami bertiga menghela napas kami bersamaan.


"Pasti berat," keluhku sambil membayangkan.


"Hmm ..., membosankan, ya."


Dan itulah yang kami lakukan, terus menerus. Sama saja. Tujuh hari berturut tanpa bisa berjalan sesuka hati. Entah mengapa aku jadi merindukan rasa lelah ketika berjalan jauh dari gedung cadangan ke asrama.


"Ayo, kita berkeliling!" Kayaka tiba-tiba mengusulkan sebuah ide.


"Dalam keadaan seperti ini sangat tidak memungkinkan," balasku malas.


"Tinggal pakai pakaian astronot--"


"Itu berat. Beraaat," balasku sambil merenggangkan tubuh.


"Kan tinggal teleport ," ucap Kayaka, berusaha meyakinkan.


"Memangnya kau ingin kemana, sih?" tanyaku.


Ryuko tiba-tiba bersuara di sela perdebatan absrud kami. "Ah, kau rindu dengan kakakmu, ya?"


Wajah Kayaka sontak berubah masam, "Ih! Tidak!"


"Oh~ Jadi begitu ya? Kulaporin ke Kayato ah, nanti," ucapku, ikut menggoda Kayaka. Ya, daripada bosan.


"Rin! Tidak seperti itu, kok!" balas Kayaka makin keras kepala.


"Masak sih? Memangnya kau tidak rindu main game lagi dengannya?" tanyaku.


"Daripada dengan Kak Kayato, lebih baik dengan Light," ucap Kayaka.


Sontak, perkataannya membuat seisi kamar kami menjadi hening.


"Hah? Dengan Light? Kenapa?" Ryuko bertanya dengan agak antusias.


Sedangkan aku, alih-alih mengganggu Kayaka lagi, aku malah merinding ngeri karena secara otomatis membayangkan petir yang menyambar keras dan halilintar di atas awan.


"Soalnya sudah bosan main game dengan Kak Kayato. Strateginya sama saja dari zaman dahulu kala. Sudah bisa ditebak, sangat membosankan," jelas Kayaka.


"Oh, kau membicarakan soal bermain game, rupanya." Mendadak antusiasme Ryuko memadam tanpa sebab.


"Kau bicara begitu, padahal walaupun sudah tahu taktik Kayato, kau tetap kalah setiap bermain dengannya," sahutku.


"Rin kan tidak pernah main game dengan Kak Kayato, mana ngertii." Kayaka berpendapat.


"Aku memang hanya suka melihat orang main game," timpalku pendek.


"Oh ya? Aku juga begitu." Ternyata Ryuko seperjuangan denganku.


"Hm, kalau aku, daripada menonton orang, lebih suka mengerjakannya langsung," sahut Kayaka.


"Ya, karena itulah dia tidak pernah betah di bioskop," sambungku.


"Hmm...."


Kamar kembali hening. Ryuko akhirnya memutuskan untuk memainkan gadgetnya--pilihan paling baik yang sebenarnya hampir kami lupakan keberadaannya.


Jangan lupakan bahwa kami sebagai manusia semi-penyihir mengemban tugas berat di pagi sampai sore hari untuk bersekolah dan malam hari sebagai pemburu peri. Tentu saja aku jadi jarang memainkan ponselku. Hanya saja, belakangan ini semenjak maraknya virus itu, aku dan ponselku seperti tak terpisahkan. Tampaknya yang lain juga signifikan terkena dampak yang serupa.


"Wah. Mai dan Nai sedang memasak bersama." Ryuko memperlihatkan hasil masakan mereka dari salah satu sosial media.


"Eh? Kalian berteman di sosial media?" tanyaku.


"Mai mencari akun Reina, lalu mengikuti yang diikuti Reina satu persatu," jelas Ryuko.


"Rin, kau juga di follow , tuh." Kayaka memperlihatkanku ponselnya. Entah kapan dia mulai membuka ponselnya.


"Hah? Aku tidak menyadarinya." Aku malah ikut-ikutan membuka sosial media untuk mengonfirmasi perkataan Kayaka.


Sugihara Mayaka.


"Ohh! Dia pakai nama aslinya! Pantas saja aku tidak mengenalinya!"


"Memangnya kau berharap dia memakai nama penyihirnya untuk sosial media?" tanya Kayaka dengan tatapan datar.


"Rainna memakai nama penyihirnya, tuh," kataku.


"Itu karena Rainna tidak ingin kita semua kena masalah, kalau dia menggunakan akun selebritinya untuk mengikuti kita semua. Bisa-bisa, semua geger setiap hal yang berhubungan dengan sekolah Rainna," ucap Kayaka.


"Iya, Reina hanya tidak ingin kita kena masalah. Kalian masih ingat dengan nasib papparazi malang yang menyelinap masuk ke dalam Gakuen Sora?" Ryuko bertanya.


Tentu saja aku masih ingat bagaimana nasibnya. Beragam, mulai dari ilusi memutar yang sama dengan kejadian yang kualami ketika menolak mendatangi Gakuen Sora, sampai akhirnya pingsan karena melihat pohon-pohon berlari mengejarnya dengan akar panjang mereka.


Dia datang diwaktu yang sangat tidak tepat, pagi buta ketika Ryuko membangunkan bunga. Dan karena itu, Ryuko harus membangunkan Kayaka untuk membantunya menghilangkan ingatan papparazi itu. Waktu kejadian itu, aku masih tertidur pulas, tak tahu menahu apa yang terjadi di bawah sana.


"Hmm, kurasa keputusan Rainna membuat akun kedua sangat bijaksana," komentar Kayaka.


Aku tidak pernah benar-benar melihat Kayaka berbicara dengan Rainna. Kayaka sebenarnya tidak akan masalah berteman dengan Rainna, begitupun sebaliknya. Tetapi dari yang kulihat selama ini, mereka hanya jarang mengobrol karena minimnya kesamaan mereka. Namun, tanpa kuketahui, rupanya Kayaka dan Rainna sudah saling mengenal.


"Ngomong-ngomong, Mai dan Nai sudah SMP 3. Itu artinya mereka akan ke sini tahun depan," ucap Ryuko.


"Hah? Mereka berdua masih SMP?!" tanyaku tidak percaya.


"Rin, ingat. Kau sendiri juga baru lulus SMP tahun lalu," peringat Kayaka.

"Bukan begitu! Maksudku, Nai sangat dewasa, tahu! Kukira dia lebih tua dariku atau paling tidak seumuranku," jelasku.


"Hm, aku pernah berbicara dengan Nai waktu di Blackmix, tapi tidak terlalu dekat dengannya. Ya, dia cukup dewasa, sih." Kayaka sependapat denganku.


"Wah! Mereka memakai seragam SMP favorit di Tokyo! Mereka pasti sangat pintar," kagum Ryuko.


"Ya, pernah favorit, sampai akhirnya Gakuen Sora muncul dari tanah dan merebut titel itu," balasku. Sampai hari ini, aku tidak pernah setuju dengan hal itu.


"Hmm ...."


Hening kembali.


"Orang-orang jadi pemalas ya, karena kondisi ini," ucapku.


"Tidak juga, banyak kok, yang mencoba produktif dari rumah." Kayaka tiba-tiba menoleh tajam ke arahku, sekolah baru saja mengingat sesuatu. "Eh, Rin, ngomong-ngomong, kita jadi tidak berkeliling dengan pakaian astronot?"

"Hah? Kau masih ingin melakukannya?!" tanyaku tidak percaya.


Ryuko hanya tertawa pelan mendengar percakapan kami.



***


#DiAsramaAja , karena Piya dkk tidak bisa pulang ke rumah masing-masing.


Ini kira-kira 1300-an kata, untuk menutup kerinduan kalian terhadap Piya dkk.


Semoga segera mereda dan membaik. Stay safe and please stay at home!

Kembali ke Beranda