Mafia Obsession
Romance
12 Jan 2026

Mafia Obsession

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (26).jfif

download (26).jfif

12 Jan 2026, 14:59

download (25).jfif

download (25).jfif

12 Jan 2026, 14:59

Gadis bermanik amber mendengus kesal. Pasalnya dia sedang terburu buru pulang, tapi taksi yang di tumpanginya justru mogok. Gadis itu takut di marahi oleh sang paman karna pulang terlalu malam.

Grazella Elnara Wesley itu namanya, gadis dengan wajah penuh jerawat dan berkacamata bundar ini, baru saja pulang dari rumah sakit. Karena menjaga adik tunggalnya, Giorgino Austin Wesley. Sang adik masih berusia 7 tahun.

Gio mengalami kelainan jantung dan harus senang tiasa di rawat di rumah sakit. Kedua orang tua mereka sudah meninggal 5 tahun yang lalu karena kecelakaan.

Grazella nekat mengambil jalur cepat, dan melewati gang sempit yang gelap. Gadis itu sudah tidak tahan menahan nyeri di bagian payudaranya, karna seharian ini dia lupa memompa asi. Alhasil dadanya sangat besar, dan kram.

Yah... Gadis berusia 18 tahun tersebut mengidap 'Galaktorea' kondisi dimana tubuhnya kelebihan hormon, yang membuatnya bisa menghasilkan ASI. Masa bodoh dengan desas desus ada penunggu di sana. Gadis itu terus melangkah masuk.

Baru juga beberapa langkah, sayup sayup Grazella mendengar ada suara erangan, kakinya sudah bergetar tak menentu. Gadis itu ingin berbalik, dan berlari. Namun kakinya justru lancang melangkah maju, mengikuti suara tersebut.

Grazella berusaha mengambil ponselnya, karena gang itu sangat gelap. Di tambah suara rintik hujan menambah kesan horor.

"Aakkhhh!" Gadis itu tersandung sesuatu, dan terjatuh cantik di aspal.

"Sial. Apa'an sih tadi!?" Grazella mencari ponselnya yang terjatuh.

DEG!

"Aarrgggh!!!" Mata Grazella membola sempurna, saat menyinari benda yang membuatnya terjatuh. Di sana seorang pria tergeletak, dengan badan penuh darah. Wajah yang sudah babak belur, tangan gadis itu terlihat bergetar

Grazella mendekati pria itu, dan menjadikan pahanya sebagai bantalan. Dia berucap dengan nada bergetar. "A–aku harus bagaimana?"

Beberapa detik kemudian, mata pria itu perlahan terbuka. Grazella langsung  menyambutnya dengan berbagai pertanyaan.

"Kamu kenapa? Siapa yang melakukan ini?" Gadis itu memegang wajah sang pria, dan meneliti setiap lukanya.

Sementara pria itu hanya diam memperhatikan manik gadis di depannya ini.

"Bellissimo," ucapnya lemah,

(cantik)

Setelah mengatakan itu, sang pria menutup matanya kembali.

"Aku tidak bisa mendengarmu, bisa lebih keras lagi." Grazella menggoyangkan badan sang pria.

Gadis itu terlihat khawatir. "Aduh ... berpikirlah El, kenapa otakmu jadi bodoh begini sih!"

"Aduh om, paman atau siapa pun dirimu, ayo bangun donk! Jangan mati dulu! Nanti aku yang kena imbasnya! Lagian kenapa kamu malah meninggalkan jejak di tubuhnya El!?"

Grazella menoleh kekanan dan kiri. "Tidak ada orang lagi, aduh bagaimana ini? Ah ya nomor darurat!" Gadis itu segera mendial nomor 112 di ponselnya.

• • •

Mobil ambulance melaju dengan cepat, pria itu terlihat membuka matanya kembali. Dia melihat lekat wajah Grazella yang sedang fokus menghadap ke depan.

Drt...

Grazella segera menggeser tanda hijau, "Iya kak Dicky, Kenap– Apa!? Bagaimana bisa kak!? Bukankah tadi Gio baik baik saja? I–iya aku segera ke sana sekarang." Grazella segera mematikan ponsel itu.

"Pak, kit-a mau ke rumah sakit mana ya?" tanyanya dengan suara bergetar.

"Mutiara kasih, dek, " jawab supir ambulan dengan cepat

"Pak, lebih cepat lagi ya pak" Gadis itu sangat khawatir dengan sang adik.



Beberapa saat kemudian, ambulance telah sampai di depan loby rumah sakit. Grazella segera turun, saat akan pergi tangannya di cengkal oleh pria yang ia tolong. Grazella langsung menghempaskan tangan itu, dan segera pergi ke ruang inap adiknya. Pria itu mengeram kesal.

"Kamu tidak bisa lari dariku baby girl! Mulai sekarang, kamu milikku!" batinnya dengan senyum menyeringai.

• • •

Grazella memegang tangan Gio dengan erat, dia merasa bersalah telah meninggalkan adiknya sendirian,

Drt...

Grazella menghela nafas kasar, pasti sang aunty akan marah besar karna dia tidak pulang. Grazella memilih mengabaikan panggilan itu.


Sudah 3 hari Grazella tidak berangkat ke sekolah, dia fokus untuk mengurus Gio, dia juga bolak balik ke rumah dan rumah sakit. Seperti sekarang ini, Grazella sedang menyiapkan makan malam untuk keluarga pamannya.

"Aunty, setelah ini aku akan ke rumah sakit, besok pagi aku datang lagi," ucap Grazella dengan lembah lembut.

"H'm!" jawab sang paruh baya dengan ketus. Grazella melangkah pergi dan akan memakan makanannya di dapur.


Nyatanya selama hampir 5 tahun lalu, pasca kematian kedua orang tuanya, hidup Grazella bagaikan pembantu di rumahnya sendiri. Beruntung pamannya sedikit mempunyai belas kasih. Saat Grazella menerima hukuman karena tidak becus bekerja, pamannya diam diam memberi Grazella makanan.

Perusahaan keluarganya juga di ambil alih oleh pamannya. Gadis itu tidak keberatan, karena dia juga tidak tau menahu masalah perusahaan. Grazella hanya fokus untuk menyembuhkan sang adik.

Saat akan makan suara mutiara kembali menyambut telinganya. "Grazella! Sini kamu! Dasar anak sialan!"

Gadis itu dengan langkah cepat melangkah menuju sang aunty. "Iya aunty. Kenapa?"

PLAK!

"KAMU MAU MERACUNI KAMI HAH?!"

"Maksud aunty, apa?"

"Cicipi udang itu cepat!" bentak sang paruh baya,

"Ma-af aunty, tapi aku ale-rgi udang, makanya aku tidak mencicipinya tadi,"

PLAK!

"Saya tidak perduli kamu mau alergi atau tidak! Bella mau makan udang, dan kamu masaknya asin begini! Kamu mau meracuni anakku, hah! Dasar pembawa sial!!"


Gadis itu menunduk meremas bajunya, dia sangat capek hari ini. Kenapa hidupnya sangat melelahkan, di saat semua gadis menikmati hidup, dan berkutik dengan make up, kenapa dirinya justru hidup melelahkan seperti ini.

Itulah satu alasan wajahnya jelek, Grazella tidak punya waktu untuk mengurus diri.


Jangankan untuk membeli skincare, untuk membeli baju saja dia harus berhemat, mungkin jika Bella sedang baik dia bisa minta baju lengseran.

Dulu hidupnya bak putri ratu, tapi setelah orang tuanya meninggal, Grazella langsung berubah menjadi babu di rumahnya sendiri sungguh tragis.


RUMAH SAKIT MUTIARA KASIH

Pria dengan setelan serba hitam terlihat menghampiri seseorang dan membungkukkan badannya memberi hormat. "Tuan, anda sudah di perbolehkan pulang. Apa kita terbang hari ini saja?"

Pria yang sedang berbaring di brangkar tersebut mendelik tajam. "Dimana gadisku! Jangan pernah berfikir kembali sebelum menemukannya!" Anak buahnya langsung memberikan sebuah map coklat.

Pria itu segera membukanya dan terlihat sebuah lengkungan di bibir manisnya. "Grazella Elnara Wesley... Nama yang cantik. Apa ada lagi yang mau kau sampaikan Wil?" ucapnya dengan membuka berkas itu.

"Nona mempunyai seorang adik, yang juga di rawat di rumah sakit ini Tuan," jawab sang anak buah yang membuat pria itu semakin bersemangat.

Bibirnya langsung tersenyum menyeringai. "Kerja bagus, Wiliam!"

Anak buahnya langsung menanggapi pujian sang tuan. "Nona, juga bekerja di salah satu cafe dekat sini Tuan. Apa anda ingin menemuinya?" Pria dengan pakaian pasien itu langsung tersenyum lebar.

"Tentu! Dan lakukan sesuai arahanku!" Dia tersenyum miring membayangkan rencananya.

"Baik, Tuan Gabriel. Saya akan persiapkan semuanya," jawab sekertaris sekaligus sahabat, pria bernama Gabriel Leonard Mattew tersebut.

"Kamu akan segera menjadi milikku sayang." Dengan bibir terangkat Gabriel berucap.Grazella segera menuju Cafe untuk mencari pundi pundi rupiah. Baru juga sampai, gadis itu sudah di sibukkan dengan banyaknya pesanan pelanggan. Dengan semangat Grazella menyiapkan dan membawa pesanan itu ke pelanggan.

Sebenarnya gadis itu sangat risih bekerja menjadi Waiters. Grazella lebih memilih menjadi tukang cuci piring atau OG, tapi karena Cafe ini milik keluarga Veronica sahabatnya, dia di taruh di bagian Waiters.

Bukan tanpa alasan Grazella membencinya. Gadis itu sangat risih dengan seragam kerjanya. Karna dia harus memakai baju ketat dengan rok di atas lutut, tentu saja akan memperlihatkan lekuk tubuhnya, dan dia sangat membenci itu.

Grazella juga harus melepas kacamata bundar atas tuntutan dari sang manager. Karena Gadis itu sudah di ijinkan memakai masker untuk menutupi wajah penuh jerawatnya. Kadang ada pria hidung belang yang sengaja menepuk pantat atau sekedar memegang tangannya.

Seperti saat ini, dengan lancangnya seorang pria menarik tangan Grazella yang mengakibatkan sang gadis harus duduk dipangkuan pria itu, di meja lain seorang pria yang melihat semua itu mengeraskan rahangnya. Dengan tatapan iblis yang ingin memangsa.

"Fuck! Beraninya tangan kotormu menyentuh milikku! Lihat saja, setelah ini hanya aku yang boleh menyentuhmu baby girl."

Pria Itu tersenyum senang saat melihat Grazella menampar dan menendang area junior sang pelanggan dengan kerasnya.

"Good girl," ucapnya dengan bangga

Dengan lancang pelanggan itu justru memeluk erat Grazella, sudah pasti sang gadis memberikan hadiah kepada pelanggan tersebut.

Grazella terlihat mengikuti langkah sang manajer. "Sudah berapa kali aku bilang, tahan saja! Jangan buat keributan! Apa kamu tidak mengerti ucapanku Grazella!" bentak sang manager, yang di hadiahi senyum getir sang gadis. Grazella menatap tajam ke arah manajer tersebut.

"Bapak liat sendiri tadi!? Bagaimana bisa saya menahannya!" jawab gadis itu tak mau kalah.

"Aku tau ... tapi kamu bisa bicara baik baik, Grazella!" Sang manajer memijit pelipisnya, dia tau sangat susah berdebat dengan karyawan yang satu ini.

Dia berusaha kembali memberi saran. "Kamu bukan preman, dan bagaimana pun mereka pelanggan yang menggajimu," ucap sang manajer.

Grazella hanya mengangguk, tanpa memperdulikan wajah sang atasan yang sudah kusut. Grazella kembali melakukan pekerjaannya. Sedangkan di lain meja Gabriel enggan berpaling dari Grazella, pria itu terus menatap lekat sang gadis. Sampai manager pun tidak berani mengganggunya karena sudah pasti uang-lah yang membuatnya diam.

Barulah saat Cafe itu tutup, Gabriel langsung pergi dan masuk ke mobilnya. Beberapa menit kemudian Grazella ikut keluar dari Cafe dan segera pulang. Dia sudah rindu dengan ranjang empuknya.

Baru juga melangkah, matanya menyipit heran, melihat jalanan yang biasa dia gunakan ternyata di tutup, dengan terpaksa dia memilih pulang dengan rute lain.

Gadis itu terpaksa melewati gang sempit waktu itu. Sementara di lain tempat, pria di dalam mobil tersenyum puas mendapatkan kabar dari orang orangnya, "Tuan, nona sudah masuk perangkap anda!" Dengan kecepatan seribu pria itu melajukan mobil menuju tempat eksekusi.

• • •

Baru masuk setengah jalan, Grazella merasa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Dia pun menoleh dan benar saja, seseorang dengan Hoodie hitam dan celana sobek, sedang terlihat berpura pura olahraga.

Bukankah orang itu sangat bodoh? Bagaimana mungkin ada orang yang berolahraga jam 11 malam. Grazella berlari bak kesetanan.

"Arrgh! Aku takut." Gadis itu mencoba mencari persembunyian, dia menemukan sebuah tong.

Dengan langkah cepat Grazella berlari ke sana. Sialnya orang itu menemukannya lebih dulu. "Aargggh! Ka-mu siapa?!" Grazella tidak mengenal pria tersebut.

Gabriel mengambil tangan Grazella, dan menariknya.

"Andiamo a casa," ucapnya santai.

[ Ayo kita pulang, ]

Gadis itu hanya diam, karena bingung.

"Can you speak English, please?"

"You are mine, let's go home." Mata gadis itu membola sempurna.

"What?! are you crazy!" Grazella menghempaskan tangan Gabriel dengan kasar.

Pria itu menatap tajam ke arah Grazella yang membuat gadis itu sedikit bergidik. Pria itu kembali mengeluarkan suara baratnya. "Aku tidak perlu persetujuanmu, baby girl." Pria itu tersenyum miring.

[Mereka menggunakan bahasa inggris]

"Ti-dak! Enak saja. Aku tidak mengenalmu paman! Lagi pula, apa salahku!?" ucapan gadis itu membuat sang pria kesal.

Bagaimana mungkin, dia di panggil dengan sebutan paman?

"Kesalahanmu cuma satu, karna kamu membuatku jatuh cinta sayang,"

"Bwuuhaha!"

Grazella tertawa dengan sangat brutalnya. pria itu terlihat kebingungan, apa ada yang salah?

Grazella menatap lekat sang pria dengan masih sedikit tersenyum geli, "Matamu buta ya? Liat wajahku! Apa yang kamu sukai dari wajah buruk ini pama_ aarrghh!" Dengan sigap pria itu menggendong sang gadis bak karung beras.

Grazella langsung mengeluarkan suara emasnya. "Lepasin aku brengsek! Tolong! Tolong!" Gadis itu memukul punggung kekar sang pria, kacamata bundar yang ia pakai pun terlepas jatuh di bawah dengan cantiknya.

"Aku banyak uang sayang, aku akan membuat wajahmu cantik."

"DASAR PSIKOPAT. LEPAS!"

"Apa kamu tidak mau, bertemu dengan adikmu baby?" Gadis itu langsung menghentikan pukulannya.

Dengan cekatan Grazella mengambil benda pipih, dan mendial seseorang. "Halo kak Dicky, Gio ada di rumah sakitkan? Dia la-gi di sana kan kak?!" Suara Grazella sudah sedikit bergetar.

"Tadi ada beberapa orang pake setelan jas hitam, terus bawa Gio pergi, bukannya kamu yang menyuruh mereka Grace?"

PLETAK!

Ponsel gadis itu terjatuh dengan cantiknya di aspal.

"Dimana adikku bangsat!" Gadis itu menegakan tubuhnya dan menatap tajam ke arah sang pria.

Sementara sang empu hanya tersenyum manis dan mengusap lembut wajah sang gadis. "Jangan mengumpat sayang, adik ipar berada di mansionku, kita akan menyusulnya sekarang."

Tanpa menunggu jawaban Grazella pria itu segera menghubungi anak buahnya. "Segera bawa helikopter ke tempatku berada! Dan persiapkan penerbangan ke Italia, sekarang juga!" Gadis itu hanya terdiam dengan banyak pikiran di kepalanya.Gabriel mencengkram dagu Grazella dengan kuat, sehingga mulut mungil itu sedikit terbuka. Di rasa mendapatkan kesempatan pria itu melancarkan aksinya.

"Damn it! Sentuhannya sangat berpengaruh di tubuhku!"  batinnya mengeram kesal.

Setelah melihat Grazella kehabisan nafas, dengan tidak rela Gabriel menghentikan aksinya. Gadis itu langsung menatap tajam dan penuh kebencian pada Gabriel.

"APA KAMU INGIN MEMBUNUHKU HAH!?" Mata Grazella sudah basah penuh air mata, pandangannya nyalang menatap pria di depannya ini, tenggorokannya terasa mati rasa, dadanya pun sangat sesak.

Grazella benar benar merasakan siksaan yang teramat. Dia memilih di siksa bibinya dari pada mendapatkan siksaan seperti ini. Gabriel mengusap sudut bibir Grazella yang terlihat sedikit basah karena ulahnya.

"Kamu hanya milikku sayang, aku ingin sekali memasukimu," ucapnya dengan tersenyum.

Grazella langsung mendongak dan menatap bengis ke arah Gabriel. "Tidak sudi tubuhku menyatu denganmu, brengsek! Lebih baik milikku, di masuki banyak pria di luar sana! Dari pada, di masuki iblis sepertimu!"

"Sialan!" Gabriel langsung berdiri, dan menarik Grazella menuju ranjang.

"Akh!!" Gabriel mendorong gadis itu ke ranjang dan mengungkungnya.

Grazella berusaha beranjak, dan menendang tubuh Gabriel agar menjauh, namun pria itu lebih cepat, ia mendorong tubuh Grazella untuk kembali berbaring.

PLAK!

"Arrghh! Dasar iblis!"

"Diam El!"

"Sakit brengsek!"

PLAK!

Dengan tanpa ampun Gabriel menampar pipi sang gadis, Grazella hanya bisa menangis histeris. "Shit! Milikmu sempit sekali baby,"

"Berhenti brengsek!"

"DIAM! Aku tidak akan berhenti El! Jangan pernah bermimpi untuk melakukan hal ini dengan orang lain! Atau saat itu juga, akan kubunuh adikmu! Hanya milikku, yang boleh berada di dalam sini!"

"Da-sar iblis! hiks ..."

"Fuck!!" Mereka melakukan kegiatan itu dengan nikmatnya.

Grazella benar benar merasa sangat kotor. Mati matian selama ini menjaga tubuhnya agar tidak bertemu dengan pria brengsek, tapi takdir justru lebih kejam terhadapnya.

"Kevin tolong aku! Kamu kemana? Hiks ... tolong kembalilah, bawa aku pergi dari iblis ini," batinnya, teringat dengan orang yang sangat ia sayangi.

VENESIA | ITALIA 01.20 PM (siang)

Setelah hampir 17 jam di pesawat, akhirnya mereka sampai di Italia. Terlihat gadis itu sedang berbaring, Grazella terlihat sudah memakai dress, dan wajahnya sudah sedikit di poles. Gabriel memanggil pramugari, dan menyuruhnya membersihkan tubuh sang gadis.

Gabriel berusaha membangunkan Grazella, dengan mengusap lembut wajah sang gadis. "Baby, bangunlah kita sudah sampai."

Gadis itu perlahan membuka matanya, dia mencoba bangun, dan berdiri untuk melangkah.

"Arrghh!"

"Perhatikan langkahmu, El!" Gabriel mengeram kesal, melihat Grazella hampir saja terjatuh, jika tangannya tidak cekatan menarik tubuh mungil itu.

Bagaimana tidak lemas? Dengan santainya gabriel terus menggempur Grazella di sana. Bahkan baru 1 jam istirahat tubuh Grazella sudah di gempur lagi dan lagi.

"Badanku sakit semua." Pria itu terkekeh mendengar ucapan gadisnya ini.

"Aku gendong mau?" Grazella mengangguk pasrah, karna memang badannya sangat lemas.

"Terima kasih baby, karna kamu memberikan itu untukku, tapi aku tidak menyesal karna mengambilnya darimu!"

Grazella terlihat kesal dengan ucapan pria yang sedang memeluknya ini. "Dari yang ada di film film, aku harus pura pura patuh sama penculiknya, setelah itu kabur! Kamu memang cerdas El!" batin gadis itu tersenyum lebar.

"Ekm. Namamu siapa?" Gabriel terkejut dengan pertanyaan gadis itu. Pria itu tersenyum, dan mengusap kepala Grazella yang membuat gadis itu mendongak.

Grazella sedikit terkesima melihat wajah datar, yang sudah tersenyum lebar ke arahnya.

"Gabriel Leonard Mattew." Grazella mengangguk. Badan pria itu terdiam, saat mendengar apa yang di ucapkan Grazella. Gabriel sangat suka, saat namanya di panggil dengan nada lembut dan halus.

"Baiklah Leon, aku akan menurut padamu. Tapi tolong pertemukan aku dengan Gio." Gabriel tersenyum simpul.

"Aku suka saat kamu memanggilku Leon, terus panggil aku dengan itu."

Mereka segera turun dari pesawat. Mata Grazella melotot, melihat banyaknya mobil van hitam yang berbaris di sana. Grazella juga mobil Mercedes yang terparkir cantik di parkiran pesawat itu. Gabriel membantu gadisnya untuk turun melewati tangga pesawat.

"Bentornato, signore."

(Selamat datang kembali, Tuan)

Mereka mengunakan bahasa italia.

"Bagaimana keadaan markas!"

"Baik Tuan!"

"Mereka siapa?" Dengan berbisik Grazella bertanya.

"Mereka anak buahku." Gadis itu terkejut mendengar ucapan Gabriel.

Grazella kembali bersuara. "Sebanyak itu?" Gabriel menahan senyum, karena masih banyak anak buahnya di sana.

Mereka segara memasuki mobil Mercedes yang sudah di siapkan anak buahnya. "Apa kau membawa yang kumau, Wil?" tanya Gabriel pada anak buahnya.

"Ini, Tuan." Wiliam memberikan sebuah paper bag ke tuannya, dia duduk di kursi depan.

Gabriel memberikan itu pada Grazella, yang membuat gadis itu kebingungan. Dia pun mengeluarkan suaranya. "Buat apa? Aku bukan musli__"

"Pakai saja El," jawab Gabriel datar. Grazella mendengus kesal, dia pun memakai cadar yang di berikan padanya.

Gabriel kembali bersuara yang membuat gadis itu semakin badmood.

"Ingat! Jangan pernah kamu perlihatkan wajahmu pada siapa pun, saat berada di luar mansion! Mengerti?" Grazella meremas dengan kuat dress yang ia gunakan.

"Kalau malu karena wajahku, kenapa dia membawaku? Dasar menyebalkan!" batinnya, dengan mata sudah berkaca kaca.

• • •

Setelah hampir satu jam mereka sudah sampai di sebuah mansion mewah nan megah, Grazella sedikit takut karena mansion itu berada di tengah hutan. Gabriel dan grazella segera turun dari mobil dan melangkah menuju mansion. Baru juga sampai di ruang tamu, seorang wanita paruh baya menyapa mereka.

"Benveito, signore."

(Selamat datang, Tuan)

Bibi Margaret. Paruh baya itu menjabat menjadi kepala maid di mansion. Di belakangnya terdapat 6 seorang gadis, yang berpakaian ala maid.

Mereka berbaris menjadi dua bagian, dan membungkuk menyapa Gabriel.

"Di antara kalian, siapa yang bisa bahasa Indonesia!?" Gabriel segera mengutarakan keinginannya.

"Saya Tuan." Seorang gadis dengan wajah oriental mengangkat tangannya. Gabriel segera menghampirinya.

"Mulai sekarang, kau jadi maid pribadi untuk gadisku." Gadis itu mengangguk.


Gabriel kembali menggandeng Grazella, untuk naik ke lantai atas. Mereka berhenti di depan lift.

"Baby, aku akan ke perusahaan, kamu istirahat setela__"

"Tidak Leon! Aku mau ketemu Gio! Dimana dia!?" Gabriel mencoba menenangkan gadisnya, ia mengusap lembut wajah Grazella

"Kita bertemu adik ipar besok saja, ya?"

"Dasar pembohong!" Grazella mendorong tubuh Gabriel, terlihat pria itu berusaha sabar.

"Baby, kamu tau aku bukan orang yang penyabar, jangan selalu memancing iblisku keluar!"

"Persetan dengan itu Leon! Kamu pembohong! Dasar bajingan! Dimana adikku, brengsek!" Grazella langsung berlari.

"BERHENTI EL!!" Gabriel mengeluarkan suara emasnya.


Grazella tidak menghiraukan dan terus berlari, para maid pun terlihat tegang, mereka sudah hafal betul tabiat Tuannya, lebih baik mereka diam bagai patung sebelum mendapat perintah.

DOR! DOR!

Tubuh Grazella berhenti di tengah ruang tamu, Gabriel segera menghampiri gadis itu. "Sekali lagi kakimu melangkah, maka salah satu maid di sini akan menjadi mayat El!!"


Gadis itu berbalik dan menatap nyalang ke arah Gabriel. "Hahaha kamu pikir aku percaya!"

"Baiklah. Kamu! Tembak kepalamu jika gadis keras kepala ini tidak mengikuti perintahku!" Gabriel menunjuk salah satu maid, dengan menggunakan bahasa Inggris. Itu adalah bahasa wajib yang harus di kuasai seluruh anak buahnya yang bekerja di mansion.


Grazella membalikan badannya dan melihat bahwa maid itu berjalan dan mengambil salah satu pistol yang ada pada bodyguard di sana, yang membuat mata Grazella membulat sempurna.

"Kamu gila hah!? Untuk apa kamu menuruti ucapan iblis ini!"

"Ke sini El." Grazella masih tidak perduli dan tetap melangkah.

"Tembak kepalamu sialan!" Grazella langsung berbalik dan menatap bengis ke arah Gabriel.

"Atas hak apa kam__"

DOR!

DEG!

Tubuh maid yang berada di belakangnya, sudah terbaring dengan kepala berlumuran darah.


Grazella segera berbalik, dia menutup mulutnya dengan tangan bergetar, kakinya sudah lemas tak bertenaga.

"Da-dasar gila!"

Gadis itu berbalik dan menatap penuh kebencian ke arah Gabriel.

"Masuk ke kamarmu sekarang!" Grazella masih mematung di sana, dia sangat takut pada pria di depannya ini.

Saat melihat Gabriel melangkah, dengan cepat Grazella berlari menuju Wiliam, dia berdiri di belakang pria itu.

"Tolong aku! Tuanmu itu iblis! Aku takut! Kumohon. Tolong aku hiks ...."Badan gadis dengan mata amber sudah bergetar hebat, dia berusaha meminta bantuan pada pria di sampingnya ini. Grazella meminta pria itu membawanya pergi dari mansion terkutuk ini. Bukannya menurut Wiliam justru menarik Grazella dan memberikan pada Gabriel.

Grazella menangis histeris, bahkan cadarnya sudah terlihat sedikit basah. Gadis itu menahan tarikan Gabriel dan memohon kepada Wiliam, serta para maid di sana untuk menolongnya.

Namun memang dasarnya semua penghuni mansion itu adalah iblis! Mereka hanya melihat, dan tidak perduli dengan Grazella.

Sang gadis terlihat menggigit tangan gabriel yang berusaha menariknya. semua orang yang melihat itu hanya melongo, bagaimana bisa gadis bercadar itu sangat berani menggigit Tuannya.

Gabriel mengeraskan rahang, dan menutup matanya sekilas untuk menahan rasa sakit di tangannya. Para maid melihat dengan tatapan ngeri, karna tangan pria itu terlihat mengeluarkan cairan merah. Grazella menggigitnya dengan penuh tenaga.

Gabriel menarik tangan Grazella dengan kasar menuju lift.

Grazella berjalan terseok seok, karena tidak bisa mengimbangi langkah panjang pria bermanik biru gelap tersebut. Mereka segera masuk dan menuju lantai atas, hingga saat lift terbuka, Grazella yang tidak seimbang pun terjatuh di marmer dingin, hingga lututnya terluka yang membuat Gabriel menghela nafas kasar.

"Kenapa kau sangat lamban!?" ucapnya penuh penekanan.

"Tolong lepasin a-ku Leon, aku takut hiks ...."

Gadis itu memohon dengan memegangi kaki sang pria. Gabriel tersenyum miring melihat hal itu.

"Kamu pikir dengan menangis, bisa membuatku luluh? Jangan harap! Sampai menangis darah sekalipun, kamu akan tetap berada di sini El!" Lagi lagi pria itu mengeluarkan uratnya saat bicara.

Gabriel menarik tangan Grazella dan masuk ke kamar. Sampainya di kamar, pria itu langsung mendorong tubuh Grazella dengan kasar, sehingga tubuh ringkih itu tersungkur di ranjang big size di sana.

Gadis itu menangis dan berusaha menuju pintu untuk kabur, namun dengan mudah Gabriel menangkap tubuh gadisnya kembali. Grazella menyingkirkan dengan kasar lengan kekar itu dari perutnya. "Lepas brengsek! Lepas!! Dasar iblis!"

PLAK!

"Diam! Kamu tau? Usahamu itu sia sia!" Dengan langkah gontai Grazella menjauhi pria itu, dia sangat jijik dan benci pada Gabriel.

Pria itu menatap tajam ke arah sang gadis. "Jadilah gadis yang penurut, maka aku akan menjadi pria yang lembut juga, renungkan kesalahanmu!" Dengan langkah seribu Gabriel menguncinya di kamar itu.

Grazella hanya bisa menggedor dengan putus asa di dalam sana. "Dasar bajingan! Aku membencimu Leon!"

Gadis tersebut terlihat sangat kacau.

Lututnya terasa sakit, bahkan payudaranya sangat nyeri, karena hampir satu hari dia tidak mengeluarkan ASI, alhasil dadanya sangat kram.

"Kevin kamu kemana? Tolong aku hiks ...." Dia teringat dengan seseorang, yang sangat berarti di hidupnya.

Grazella melangkah ke arah balkon, netranya menyipit melihat pemandangan di bawah sana, saat ini dia berada di lantai empat. Terlihat di bawah terdapat kolam ikan, taman mawar, bahkan sungai, serta pohon pohon besar berada mengelilingi mansion yang sangat luas dan besar itu.


Tapi sayang kemewahan mansion ini, tertutupi oleh aura yang menakutkan. Bagaimana tidak? Seluruh penjuru sudut di isi oleh penjaga berseragam serba hitam, terlihat setiap penjaga itu memiliki pistol di setiap saku pinggangnya.

Grazella sedikit berfikir siapa pria itu sebenarnya? Kenapa dia bisa menggunakan senjata dengan sesuka hati. Sementara Gabriel menuju bawah dan memanggil anak buahnya, "Kalian jaga di depan pintu kamar! Jangan sampai gadisku keluar dari sana!"

"Baik, Tuan!" jawab kedua bodyguard tersebut.

Wiliam terlihat menghampiri Gabriel, dan mengatakan laporannya. "Tuan, tim alpa sudah menemukan tikus penghianat itu, dan sekarang dia di markas." Gabriel mengangkat salah satu sudut bibirnya. Akhirnya dia bisa melampiaskan kemarahan dalam dirinya.

"Kita ke markas sekarang!"

"Baik tuan."

• • •

Waktu menunjukan pukul tujuh malam, terlihat pintu kamar terbuka dengan seorang maid masuk kesana.

Ceklek

"Nona apa anda, aakkhh!!" Maid itu melotot sempurna, dia memandang wajah Grazella dengan lekat, yang membuat gadis itu tersenyum getir.

"Apa, sejelek itu?"

"Maaf Nona! Maaf saya lancang memandang Nona maaf Nona!" Gadis itu di buat melongo melihat respon maidnya, dia segera turun dari ranjang dan membantunya berdiri. pasalnya maid tersebut bersujud di lantai.

"Dimana iblis itu?"

"Maksud Nona?" Maid itu terlihat kebingungan.

"Tuanmu itu, dimana dia?"

"Maaf Nona, saya kurang tahu. Karna Tuan tidak memberi tahu kami."

"Nama kamu siapa?" Grazella duduk di pinggiran ranjang.

"Sheryl Nona." Dengan masih menunduk maid itu menjawab.

"Kamu sudah lama bekerja dengan iblis itu,"

"Saya dulu bekerja di salah satu club milik Tuan, lalu beliau menyuruh saya untuk bekerja di mansion Nona." Grazella mengangguk mendengar jawaban itu. Dia kembali melemparkan pertanyaan.

"Umurmu berapa?"

"19 tahun Nona." Maid bernama Sheryl mendongakkan Kepalanya, kala melihat tangan itu terulur.

"Namaku Grazella kamu bisa panggil aku Grace umurku 18 tahun, seharusnya aku memanggilmu kakak bukan?" Grazella tersenyum manis, sedangkan manis itu langsung menggelengkan kepalanya. Wajahnya terlihat pucat.

"Tidak Nona, saya bisa di pecat atau bahkan di hukum Tuan, kalau sampai berani memanggil Nona hanya dengan nama." Grazella makin di buat malas.

"Jangan takut, kamu bisa melakukan itu jika hanya ada kita berdua, kamu maukan jadi temanku?" Maid itu mengangguk.

"Em ... Sheryl apa aku bisa meminta tolong?" Maid tersebut mengangguk yakin.

"Apa kamu bisa membelikanku em ... sesuatu, tapi aku tidak punya uang. Bisa aku pinjam dulu, dan tolong belikan itu untukku?" Grazella sedikit canggung.

"Hahaha Nona lucu. Nona tidak perlu meminjam uang saya, Tuan pasti dengan senang hati menuruti perintah Nona. KM" Maid itu tersenyum manis.

"Apa Nona menginginkan sesuatu?"

"Apa kau bisa membelikanku pom-pa asi?" Maid itu terdiam mendengar ucapan Grazella.

"Mak-sud Nona? Apa Nona sedang menyus__"

"Tidak aku masih vir__ em ... maksudku aku kelebihan hormon, dan secara alamiah aku menghasilkan asi. Sudah hampir 1 hari aku tidak mengeluarkannya, p4yudaraku rasanya sangat sakit, bisakah kau membantuku?" Setelah mengerti maid itu tersenyum dan mengangguk.

"Saya akan membelinya besok Nona, kebetulan besok jadwal belanja mingguan." Gadis itu terlihat berbinar.

"Terima kasih Sheryl." Grazella memeluk Sheryl dengan erat yang membuat maid itu terkejut bukan main.

• • •

Jam sudah menunjukan jam 1 dini hari, terlihat seorang pria dengan langkah pelan masuk ke sebuah kamar, dia menyipitkan matanya kala mendengar suara isakan, dengan cepat pria itu menyalakan lampu di kamar itu.

DEG

"Fuck!"

Kembali ke Beranda