Bara Alexander Rodriguez, seorang CEO muda, gagah dan tampan. Ia merupakan idaman bagi setiap wanita. Namun, siapa sangka, di balik namanya yang melejit sebagai seorang pengusaha muda berbakat, Bara tak pernah sekali pun menjalin hubungan dengan wanita. Ia dijuluki berhati batu, bahkan Monica yang seorang model pun, tak mampu meluluhkan hatinya. Bara terlalu fokus dengan karirnya, semua waktunya hampir ia gunakan untuk memajukan bisnis konstruksi perusahaan keluarganya, Rodriguez Corporation. Selain itu, Bara juga kesulitan dalam mencari perempuan yang sesuai dengan kriterianya.
Siang ini, Bara berjalan tergesa memasuki Kafe untuk bertemu dengan klien. Namun, ia malah menabrak seseorang hingga jatuh ke lantai.
Bara langsung berjongkok melihat keadaan gadis bersuarai hitam sepunggung itu. Ringisan kecil keluar dari bibirnya.
"Maafkan saya, apa kau baik-baik saja?" tanya Bara sopan.
Gadis itu mendongak lalu mengumbar senyum manis pada Bara. Detak jantung Bara berdebar kuat saat lesung di pipi kanan gadis itu terlihat jelas. Bara terpana dengan kecantikannya.
Bara sadar, ada yang salah dalam dirinya. Gelora pertama yang ia rasa. Inikah yang disebut jatuh cinta pandangan pertama?
Bagaimana dia bisa melakukan ini? batin Bara heran.
"Aku baik-baik saja, aku hanya terkejut," jawab Sheila pelan membenarkan tas slempangnya. Ia berdiri diikuti Bara.
Sheila menatap Bara lekat, seakan terhipnotis dengan penampilan rapi dalam balutan jas hitam itu. Tubuh tinggi dengan badan tegap, rahang tegas, dan tatapan matanya mendebarkan.
Penampilan fisiknya benar-benar mengesankan bagi Sheila. Hingga Sheila sadar, ia sampai tak berkedip saking kagumnya.
"Saya terlalu terburu-buru, hingga saya tidak menyadari keberadaanmu," jelas Bara lembut, rasanya baru kali ini Bara mengucapkan nada sehalus ini.
Sheila mengangguk. "Iya, aku mengerti. Tidak apa-apa kok. Kalau begitu aku pergi, ya." Sheila mulai melangkah meninggalkan Bara.
"Tunggu," sergah Bara ketika Sheila telah berjarak lima langkah darinya.
Sheila berbalik badan dengan cepat. Ia menunggu ucapan Bara selanjutnya. Bara tak kunjung berucap membuat Sheila dilanda kegugupan karena tatapan mata Bara seolah tengah menelanjanginya.
"Ada apa?" tanya Sheila memberanikan diri.
"Siapa namamu?" Rasa penasaran terpancar dari sorot mata Bara.
Sheila tampak berfikir, ide jahil muncul di kepalanya. Lalu Sheila tersenyum simpul, ia mengucapkan namanya tanpa suara.
Bara mengernyit, mencoba mengejanya, ia gemas saat Sheila mengulanginya beberapa kali. Pergerakan bibir mungil itu membuat Bara ingin menarik pinggang ramping itu lalu melumat habis bibir ranumnya.
"She ... ila," gumam Bara. Kebahagiaanya kian membuncah ketika Sheila mengangguk, pertanda mengiyakan.
Sebelumnya, tidak pernah terasa begini. Debaran di dadanya terasa menyenangkan, wajah Sheila yang terlihat polos membuat Bara ingin melindunginya.
Mendekapnya erat dan keduanya menghabiskan waktu bersama. Namun, itu masih sebatas khayalan tapi sudah membuat Bara terlena dalam imajinasi liarnya.
"Dia dengan mudahnya meruntuhkan pertahanan hati ini, apa mungkin dia yang aku cari?" Bara bertanya pada dirinya sendiri. Dari banyaknya wanita yang Bara temui, hanya Sheila yang dengan mudah membuatnya terobsesi untuk memiliki.
Bara menyeringai, "Sheila, aku akan membawamu jatuh dalam pelukanku," tekad Bara penuh ambisi.
Pintu ruangannya terketuk berulang-ulang, membuat bayangan Bara tentang Sheila buyar.
"Masuk," titah Bara dengan suara baritonnya. Pria itu dengan cepat merubah raut wajahnya menjadi datar dan terkesan dingin.
Bryan berdiri di depan meja dengan tumpukan berkas di tangannya.
"Ada beberapa dokumen yang harus anda tanda tangani, Pak," ucap Bryan menaruh berkas bawaannya di meja Bara.
Bara memajukan kursi lalu memeriksanya teliti. Ia lantas membubuhkan tanda tangannya. Bryan yang melihat Bara selesai langsung mengambilnya kembali.
"Kalau begitu, saya permisi," pamit Bryan membungkukan badan dan keluar.
Bara mengangguk, ia berdiri seraya melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. Pikirannya tidak fokus, Bara harus menggali informasi tentang Sheila secepatnya.
Bara berjalan melewati mejanya, ia tidak sengaja menginjak sebuah dompet berwarna coklat tua. Dahi Bara mengernyit lalu mengambilnya.
Kedua mata Bara memandang remeh.
"Jelek sekali seleranya," desis Bara mengamati penampilan dompet itu. Tangan Bara tergerak untuk melihat isinya. Pupil matanya melebar saat foto gadis yang terus membekas di ingatannya ada di sana. Sheila tengah tersenyum manis bersama Bryan. Terasa begitu dekat dan bahagia.
"Ada hubungan apa Bryan dan Sheila?" geram Bara, darahnya seakan mendidih disertai emosi yang bergolak.
"Permisi." Bryan datang lagi mengetuk pintu.
"Masuk!" seru Bara dengan tatapan tajam yang menusuk manik mata Bryan.
Bryan menelan ludahnya kasar merasakan aura gelap yang menguar dari diri Bara. Apalagi pandangan Bara yang seakan ingin membunuhnya.
Tujuan Bryan datang kemari adalah untuk memastikan. Apakah dompet miliknya terjatuh di sini atau tidak. Rupanya memang benar, saat ia melihat Bara memegangnya.
"Maaf Pak, itu dompet saya," ucap Bryan.
"Siapa perempuan ini?" tanya Bara langsung pada inti.
"Dia calon istri saya," jawab Bryan sungguh-sungguh.
Bara syok mendengarnya, ia bagai tersambar petir. Baru saja ia akan mengincar Sheila tapi, kenapa semuanya seperti ini? Apa kali ini takdir tidak akan berpihak padanya? Bara tidak rela jika Sheila bersama dengan Pria selain dirinya. Tidak boleh!
Bryan merogoh sakunya setelah merasakan getaran ponselnya. Bryan mendapati pesan masuk dari adiknya yang mengatakan jika ibunya jatuh di kamar mandi dan sekarang dirawat di rumah sakit. Dokter harus segera melakukan tindakan operasi karena ibunya mengalami stroke.
Bryan menatap ragu pada Bara, ia gugup sekarang. Pria itu menghela napas panjang menenangkan dirinya.
"Pak, bolehkah saya meminjam uang untuk biaya operasi ibu saya? Tolong Pak, saya sangat membutuhkannya," mohon Bryan dengan wajah mengerut cemas.
"Ibumu sakit apa?" tanya Bara sekedar basa-basi.
"Beliau stroke dan harus segera di operasi," jelas Bryan.
"Baiklah, asal ada jaminannya," kata Bara tersenyum sinis. Hal ini akan Bara menfaatkan dengan baik untuk merebut Sheila.
Bryan berfikir keras, ia hanya tinggal di rumah kontrakan. Mobil pun tidak punya, apa yang harus ia jaminkan?
"Saya hanya memiliki motor," ucap Bryan apa adanya.
"Saya tidak mau!" tolak Bara keras.
"Bagaimana … jika tunanganmu sebagai jaminannya," usul Bara bersidekap tangan menampakan aura otoriternya.
Bryan tertohok, seketika hatinya langsung panas mendengar penuturan Bara. Bryan mengepalkan tangan, ia mati-matian menahan dirinya untuk tidak menghajar wajah sombong Bara yang notabene adalah Bossnya.
"Tidak! Apa maksud Bapak berkata begitu? Saya tidak akan melepaskan Sheila! Carilah perempuan lain, Sheila bukan wanita seperti itu!" tegas Bryan menentang keras. Kemarahan menyala di matanya.
"Tau apa kau tentang saya? Saya jatuh cinta padanya saat kami tidak sengaja bertemu. Tapi sialnya kau mengenalnya lebih dulu!" sesal Bara frontal.
"Saya tidak akan menyetujuinya, apapun selain itu saya akan turuti," kata Bryan.
Suasana terasa tegang saat Bara dan Bryan saling melempar sorot permusuhan.
"Tidak ada," ketus Bara memalingkan wajah.
Tak lama terdengar telfon masuk pada ponsel Bryan, ia segera mengambilnya.
"Kak, tindakan operasi harus segera dilakukan, jika tidak ... ibu akan meninggal. Biayanya sekitar 150 juta, Kak," ucap Tiara diiringi isakan melalui sambungan telfon.
Wajah Bryan berubah pias, tangannya gemetar ia tidak ingin kehilangan ibunya secepat ini.
"Katakan iya, Kakak akan segera melunasi biayanya!" perintah Bryan cepat.
Bara menjengitkan sebelah alisnya. "Bagaimana? Apa kau masih bisa bersikap sombong ketika terdesak?" sindir Bara terdengar angkuh dan menyebalkan.
Bryan memejamkan matanya erat, meredam emosi. "Baik saya setuju." Seketika rasa sesal memenuhi hati Bryan.
"Pilihan yang tepat Bryan," puji Bara tersenyum puas semakin membuat Bryan meradang.
Bara mengambil selembar kertas yang sudah tertempel materai dan menyodorkannya pada Bryan.
"Tanda tangan di sini," titah Bara. Bryan berjalan mendekat dan mematuhi perintah Bara.
Bara mengambil ponselnya. "Saya sudah transfer uangnya. Silahkan pergi," usir Bara.
"Baik, terima kasih," balas Bryan dengan nada tidak ikhlas. Tangan Bryan mengepal kuat dengan emosi yang menderu.
**
Sheila menghampiri Bryan dengan rasa khawatir dan cemas yang begitu jelas dari wajahnya. Sheila langsung duduk di kursi sebelah Bryan. Sheila mendapat kabar dari Bryan dan ia langsung bergegas ke rumah sakit.
"Bryan bagaimana keadaan ibumu?" tanya Sheila.
"Kondisinya berangsur membaik setelah operasi," jawab Bryan terdengar lelah.
"Syukurlah, aku turut senang mendengarnya," sahut Sheila tenang.
Detik berikut, Bryan menggenggam kedua tangan Sheila dan mengecupnya lembut. Sheila menyadari ada yang berbeda, sorot mata Bryan tampak sendu.
"Sheila, berjanjilah, kamu akan terus mencintaiku," ucap Bryan terdengar memohon.
Sheila tersenyum manis, tanpa ragu dia menjawab. "Iya, aku berjanji."
Ada kelegaan yang Bryan rasakan, sedari tadi seperti ada tali yang mengikatnya kencang dan membuatnya sesak. Namun, sekarang tali itu telah melonggar seiring dengan kecemasan yang perlahan memudar. Berada di dekat Sheila membuat Bryan nyaman. Dan binar kebahagiaan di mata Sheila seolah mengatakan semuanya baik-baik saja.
"Persiapan pernikahan kita sudah selesai kan?" tanya Bryan.
Sheila mengangguk pelan. "Sudah, kita hanya mengundang sahabat dan keluarga saja," jelas Sheila mantap.
"She, aku ingin memajukan tanggal pernikahan kita menjadi minggu depan," ucap Bryan membuat Sheila terkejut.
Inilah solusinya, jika Bryan menikahi Sheila secepatnya Bara tidak akan mengambil Sheila darinya.
Sheila menangkup wajah Bryan, "Apa kamu takut kehilanganku?" goda Sheila mengusap lembut pipi Bryan.
"Ya, aku sangat takut," jawab Bryan yakin dan lugas. Bryan menarik Sheila lalu membawanya ke dalam pelukan. Dari perlakuan Bryan itu, justru menghadirkan perasaan aneh dalam hati Sheila.
Apa yang Bryan sembunyikan?
Tanpa mereka sadari, pria berwajah tampan tapi mematikan itu tengah mengintai mereka dengan senyum dan tatapan bak iblis. Ya, dia Bara Alexander Rodriguez, pria yang memiliki keinginan yang sangat kuat dan harus selalu terpenuhi.
"Lihat saja Bryan, aku tidak akan membiarkan rencanamu berjalan mulus!"Sheila melirik ke arah jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul empat sore. Ia menatap Bryan.
"Yan, sepertinya aku harus pulang. Maaf, tidak bisa menunggu ibumu sadar. Aku ingat, masih ada pesanan yang belum selesai," ungkap Sheila.
"Iya, She," jawab Bryan.
"Semoga ibumu cepat pulih," kata Sheila.
"Amin. Hati-hati, She. Aku minta maaf tidak bisa mengantarmu pulang," balas Bryan. Sheila tersenyum sembari mengusap pundak Bryan.
"Aku tau kondisimu, Bryan. Secepatnya aku akan kembali nanti. Kalau begitu aku pamit, ya," pamit Sheila.
"Iya."
Sheila berada di pintu keluar rumah sakit. Namun, hujan turun dengan lebat. Sheila mengangkat kedua tangan untuk melindungi wajah agar pandangannya bisa melihat jelas ke depan. Terpaksa, Sheila berlari menerobos guyuran hujan deras dari pelataran demi menuju halte.
Napas Sheila memburu, ia mengusap wajahnya.
"Hey, kita bertemu lagi." Suara berat dan rendah itu membuat Sheila menoleh.
Bara menatap Sheila dengan pendar hangat. Bara memang sudah menduga, Sheila pasti akan kemari karena ia membuntuti Sheila dan bergerak cepat mendahului gadis itu.
Sheila tersenyum canggung, "Senang bertemu denganmu," balas Sheila memandang Bara sebentar lalu mengusap lengannya.
"Sepertinya, hujan yang mempertemukan kita," timpal Bara.
Kedua sudut bibir Bara terangkat, senyumannya yang jarang terlihat. Namun, Bara ingin Sheila melihat sisi manisnya. Menginginkan Sheila mengaguminya.
Sheila terpana, ia tidak menyangkal, Bara begitu karismatik di matanya.
Jatuhlah dalam pesonaku, Shei, batin Bara.
Sheila ingat! Kamu sudah punya Bryan! peringat hati kecil Sheila.
"Astaga!" seru Sheila menggeleng, sudah seharusnya ia menjaga pandangan.
"Kau kenapa, Shei?" Kening Bara mengerut karena Sheila berucap dengan nada terkejut.
"Hm, a-aku melamun tadi," jawab Sheila menunduk, melihat ke ujung sepatunya.
"Oh."
"Shei, saya ingin kita berkenalan secara resmi," pinta Bara seraya mengulurkan tangan.
Sheila tersenyum salah tingkah. Gaya bicara Bara terdengar unik.
Semakin sering melihatmu tersenyum, semakin dalam rasa ini padamu.
Entah sudah berapa kali Bara terus memuji Sheila. Seolah gadis itu adalah hal paling indah yang pernah ia temui di sepanjang hidupnya.
Sheila menjabat tangan Bara, kulit tangan Sheila terasa lembut dan begitu pas di genggaman Bara. Perasaan Bara bergejolak, denyut nadinya berpacu cepat. Bara jadi berpikir, apa Sheila merasakan hal sama?
"Sheila Annatasya," ucap Sheila dengan degup jantung menggila. Namun, Sheila pastikan, ini hanyalah debaran biasa karena Sheila gugup di dekat Bara. Ya, Sheila tak menyangkal pesona Bara sekuat itu.
"Bara," balas Bara singkat, kemudian tautan tangan mereka perlahan terlepas.
Sheila memeluk lengannya, angin berhembus dingin menerpa halus kulitnya.
Bara melepas jas hitamnya lalu menyampirkannya di belakang punggung Sheila.
Sheila menatap Bara tidak enak.
"Nanti jaketmu basah." Sheila hendak melepas, tapi tangan Bara menahannya.
"Jangan pedulikan itu, akulebih khawatir jika kau jatuh sakit karena kedinginan," ucap Bara berhasil membuat hati Sheila menghangat.
"Tapi ... bagaimana jika pacarmu melihat kita?" tanya Sheila panik. Ia tidak ingin dicap sebagai perebut kekasih orang.
Bara tergelak mendengarnya. Apa Sheila bilang? Pacar? Yang benar saja, asal Sheila tahu dialah perempuan yang Bara inginkan.
Dahi Sheila mengernyit, apa ada yang lucu dari pertanyaannya?
"Sheila kau ini ada-ada saja, aku belum memiliki pacar," aku Bara membuat Sheila melongo serta mulut yang sedikit menganga.
Sheila bertanya ragu dalam benaknya. Apa iya, pria sebaik dan setampan Bara belum memiliki pendamping?
"Aku sibuk mengurus bisnis, sampai aku masih belum memikirkan untuk memiliki pendamping hidup," jelas Bara seakan mampu membaca pertanyaan yang muncul di benak Sheila.
Sheila mengangguk paham. Di zaman sekarang memiliki uang banyak dan jabatan tinggi adalah keinginan semua orang.
Atensi keduanya teralih pada sebuah mobil hitam mewah yang berhenti tepat di depan halte.
"Sheila, jika kau tidak keberatan, ikutlah denganku. Aku akan mengantarmu pulang," ajak Bara.
"Gak usah repot-repot. Aku naik taksi aja," tolak Sheila pelan.
"Shei," panggil Bara dengan tatapan yang penuh harap.
"Baiklah, aku ikut," jawab Sheila.
Bara menggulung lengan kemejanya sampai siku menampakkan otot-otot yang tercetak jelas di sana. Sheila tersipu merasakan pipinya memanas.
Bara memegang payung putih pemberian sopirnya. Bara memayungi Sheila bahkan tangannya memeluk lengan Sheila dari belakang. Bara membawa tubuh Sheila merapat padanya. Sheila sempat terkejut, ia mendongak melihat payung itu lebih banyak ke arahnya.
Bara melindunginya, kenapa Bara peduli padanya?
Degup jantung Sheila berdebar kencang. Tubuh Bara begitu kuat dan tinggi. Lengan kokoh Bara melingkupi erat tubuhnya.
"Perhatikan jalanmu, Shei! Jika tidak, kau bisa tersandung," peringat Bara padahal keduanya hanya berjalan pelan dan lurus.
Sheila mengalihkan pandangan kikuk, ia tertangkap basah karena terlalu lama mengamati Bara.
"Tapi, tak apa, jika kau jatuh. Saya yang akan menangkapnya," lirih Bara yang tak didengar Sheila karena suara gemercik hujan menyamarkannya.
**
Sheila telah sampai di rumahnya bahkan Bara sudah kembali masuk ke mobilnya. Namun, detik itu Sheila berbalik.
"Bara, tunggu sebentar," sergah Sheila membuat Bara tidak jadi menaikkan kaca jendelanya.
Sheila berlari masuk ke rumah membuat Bara menunggu kedatangan Sheila.
"Aku mau kasih ini," ucap Sheila.
Bara tersenyum kecut seraya meraihnya. "Undangan, ya," gumam Bara biasa, padahal hatinya panas, terbakar cemburu.
"Aku tunggu kedatanganmu," ucap Sheila dengan wajah berseri.
Aku akan datang, tapi bukan sebagai tamu, melainkan calon suamimu! jawab Bara dalam hati.
"Pasti, aku akan datang," pungkas Bara.
"Hati-hati." Sheila melambaikan tangan ketika mobil Bara mulai melaju.
Bara meremat kuat undangan berwarna pink berpadu warna putih itu. Sangat muak. Sayup-sayup, Bara mendengar suara dari heandsetnya.
"Sheila, kau sudah memiliki Bryan, jangan sampai hatimu berpaling."
"Iya, Ma. Itu tidak akan terjadi, Bryan adalah Lelaki yang baik. Dia satu-satunya lelaki yang aku cintai."
Bara mendengarnya karena ia memasukan penyadap suara ke dalam kantong kecil tas Sheila tanpa sepengetahuan Sheila.
Sontak emosi Bara langsung melesak naik. "Tidak ada Pria yang boleh kau puji selain aku, Sheila! Secepatnya, aku akan mengambilmu dari Bryan!" tekad Bara berapi-api.
**
Waktu terus bergulir, hari yang begitu dinanti Sheila dan Bryan telah tiba. Momen mendebarkan sekaligus bermakna bagi keduanya. Sheila duduk menghadap cermin memandang pantulan dirinya yang memakai kebaya putih dengan model kutu baru serta rambut yang disanggul, memancarkan aura kecantikannya.
Laras memegang pundak Sheila dengan wajah berseri-seri. "Shei, Mama sampai pangling loh," puji Laras, ibu Sheila.
"Ah, Mama," ucap Sheila tersipu malu. "Padahal Mama awet muda, masih cantikkan Mama daripada Sheila," goda Sheila diiringi kekehan geli.
"Kau ini bisa saja," balas Laras mencubit pipi Sheila gemas.
Pintu kamar Sheila kembali terbuka, Sheila dan Laras kompak menoleh. Perempuan dengan tinggi semampai dan senyum merekah berjalan ke arah mereka.
"Ya, ampun Shei. Kau cantik sekali!" puji Kayla histeris.
"Kayla bisa aja," ucap Sheila dengan paras yang merona.
Rasanya masih seperti mimpi bagi Laras, putri kecilnya telah tumbuh dewasa. Dan, kini akan memulai lembaran baru bersama Bryan. Laras menitikan air mata, terharu. Ia menyekanya cepat, tidak ingin Sheila mengetahuinya.
Semoga kau bahagia sayang, putri tercinta Mama dan Papa, batin Laras.
"Kita ke depan, semuanya sudah menunggu," kata Laras pelan.
Sheila menarik napas panjang lalu menghembuskannya pelan.
"Santai, Shei," ucap Kayla terkekeh. Sheila milirik kesal pada Kayla karena terus menertawakannya.
Laras dan Kayla berjalan bersisian menggiring Sheila menuju tempat akad nikah dilangsungkan. Tepatnya di ruang tamu rumah Sheila yang telah didekorasi sederhana tapi, mempesona.
Ketika Sheila menginjakkan kakinya kemari, semua perhatian berpusat padanya. Sheila gugup, ia berusaha mengumbar senyum. Sheila melihat Bryan yang tampak berwibawa dengan jas putih yang membalut tubuhnya.
Laras menarik kursi mempersilahkan Sheila duduk di samping Bryan. Senyum yang terpatri di wajah Bryan membuat Sheila bersemu. Pria itu memuji Sheila dari pancaran matanya. Tak terkecuali para tamu yang menatap Sheila terkesima.
Degup jantung Sheila berdebar kuat. Ada yang aneh, di balik rasa bahagia yang menggebu terselip keresahan di hatinya.
"Baik, mari kita mulai," kata Pak Penghulu.
Ayah Sheila mulai mengulurkan tangan dan Bryan dengan mantap menjabat uluran tangan itu.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Bryan Darmawan bin Hasan Darmawan Almarhum dengan anak saya bernama Sheila Annatasya binti Herman Kurniawan dengan mas kawin senilai delapan juta rupiah dibayar tunai."
"Saya ter──"
"Hentikan!"
Jantung Bryan serasa berhenti berdetak, wajahnya memucat.Semua orang di sana berdiri ketika melihat Bara, pria itu datang mengagetkan semua orang. Nama Bara tengah melejit lantaran masuk jajaran pengusaha muda dan kaya raya.
Bara berjalan gagah menampakan raut wajah sangar, menahan emosi. Pandangannya tak lepas dari Sheila.
Aku datang, Shei. Menepati janjiku, ucapnya dalam hati.
Tersirat keinginan kuat dari sorot matanya untuk memiliki Sheila.
"Bryan, apa kau lupa perjanjian kita?!" sindir Bara.
Hampir semua orang yang mendengarnya mengerutkan kening diiringi tanda tanya besar.
Bryan menelan ludahnya berat. Mulutnya terasa pahit, tenggorokannya tercekat. Darimana Bara tahu jika pernikahannya diadakan sekarang?
"Kau lupa Bryan? Sainganmu ini bukan orang sembarangan!" tegas Bara melipat tangan.
Sheila menatap Bryan kemudian beralih pada Bara. Sesungguhnya apa yang terjadi?
Bara mendekat lalu mencengkeram kerah Bryan membuat tubuh keduanya hanya berjarak satu jengkal.
Seringaian jahat terbit di wajah Bara. "Kau cerdik, tapi saya licik Bryan. Bisa-bisanya kau ingin menikah dengan Sheila, sementara Sheila menjadi jaminan atas hutangmu!" kelakar Bara kesal menghempas tubuh Bryan ke samping hingga membentur meja.
Sheila tercengang, "Hutang?" tanyanya bingung.
Bryan menunduk lemah. Lidahnya terasa kelu untuk menjelaskan.
Herman menatap nyalang Bryan yang diam seperti pengecut.
"Kau ini! Beraninya menjadikan putriku sebagai jaminan! Kau kurang ajar Bryan!" seru Herman kecewa, dadanya naik turun beriringan dengan emosi yang menderu.
Tangan Herman melayang di udara hendak menampar Bryan, tapi Sheila menghentikannya.
Rupanya, perseteruan ini yang membuat kegundahan di hati Sheila.
"Ayah, Bryan pasti memiliki alasan mengapa dia melakukan ini," bela Sheila mengusap lengan ayahnya memberi ketenangan. Meski dirinya juga syok atas tindakan Bryan.
"Bryan, jelaskan sejujurnya," pinta Laras menengahi di atas ketegangan yang menguasai.
Bryan menghembuskan napas berat. "Saya terpaksa melakukan ini. Memang benar, saya meminjam uang pada Bara. Uang itu saya gunakan untuk biaya operasi Ibu saya. Saya berjanji akan membayarnya, tapi Bara bersikeras menginginkan Sheila menjadi jaminannya."
"Saya sudah menolak. Namun, di sisi lain saya butuh uang itu segera. Demi keselamatan ibu saya," jelas Bryan pilu. Sheila trenyuh mendengarnya.
Sedangkan Bara justru berdecak malas, ini terlalu mengulur waktu. Apa susahnya tinggal berkata iya dan memberikan Sheila padanya.
Ibu Bryan yang duduk di kursi roda, merasa bersalah sekaligus benci pada dirinya. Menurutnya, akar dari masalah ini adalah ia.
"Harusnya ibu mati saja Bryan agar tidak menyusahkan kamu!" sesal Santi Ibu Bryan, ia bisa berbicara, tapi kaki dan tangannya masih belum bisa berfungsi normal.
Bryan menggeleng kuat, ia bersimpuh di kaki ibunya. "Jangan katakan itu, Bu. Aku tidak mau kehilangan untuk kedua kali," ucap Bryan membuat Santi terisak. Syifa adiknya, memeluk ibunya erat.
Kedua tangan Bryan mengepal, ia harus mempertahankan Sheila.
"Jangan ambil Sheila dari saya!" seru Bryan.
Alih-alih terpancing, Bara justru memandang remeh. "Mudah saja, kau harus melunasi hutang itu sekarang," balas Bara telak.
"Saya tidak memberi batas waktu dalam perjanjian kita. Jadi, terserah saya mau menagihnya kapan saja," lanjut Bara santai.
Bryan menggeram emosi. "Anda keterlaluan Bara, bahkan saya rasa uang itu tidak ada harganya bagi anda," balas Bryan sengit.
"Karena tujuan saya adalah memiliki dia! Saya mencintainya dan saya ingin Sheila menjadi istri saya!" tegas Bara menunjuk Sheila sementara Sheila ketakutan dan mundur beberapa langkah.
"Saya tidak akan membiarkan Sheila jatuh ke tanganmu!" tolak Bryan keras.
"Kau menantangku?!" Bara mulai tersulut emosi, tangannya mengepal.
Tanpa aba-aba Bara langsung meninju rahang kiri Bryan kuat. Bryan yang tidak siap langsung terhuyung ke samping.
Semuanya berteriak, belum sempat Bryan membalas, Bara menendang keras tepat di ulu hati Bryan.
"Akh!" erang Bryan, rasa nyeri menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Jangan ada yang mendekat atau membantu dia! Atau kalian berurusan dengan saya!" ancam Bara ketika beberapa orang ingin melawannya.
"Sebenarnya siapa Bara? Kenapa dia sangat berkuasa?" tanya Sheila pada Kayla.
"Dia itu ...." Kayla menggantung kalimatnya.
"Anak pemilik perusahaan RodriguezCorp yang bergerak di bidang konstruksi. Memiliki beberapa cabang di luar negeri. Bara, pemimpin galak dan terkenal perfeksionis," jelas Kayla membuat Sheila tercengang.
"Shei, kau tidak sadar?" tanya Kayla menoleh pada Sheila.
Sheila menggeleng, Bara di foto dan dunia nyata berbeda. Jika dilihat langsung Bara lebih tampan daripada hanya melaui jepretan kamera.
Bryan menyeka cairan kental di sudut bibirnya. Ia melangkah maju dengan tekad bulat melawan Bara. Namun, nihil tak ada satu pukulan yang berhasil mengenai Bara. Kokohnya pertahanan Bara tidak mampu Bryan runtuhkan. Bara melayangkan tendangan kuat pada wajah Bryan, sontak membuat Bryan terpelanting ke lantai.
Bara menginjak bagian atas tubuh Bryan. "Mengaku kalah dan berikan Sheila pada saya!" seru Bara seraya mengangkat dagu.
Bryan bersikukuh menggeleng membuat Bara menginjaknya kuat.
"Cukup! Berhenti!" Sheila akhirnya bersuara setelah lama bungkam akibat ketakutannya. Melihat Bryan teraniaya membuat Sheila menderita.
Bara tertarik menatap Sheila. "Shei, aku memiliki pilihan untukmu. Menikah dengan saya, maka Bryan aman dan hutangnya lunas. Atau ... menolakku dan Bryan akan dalam bahaya!"
Sheila berfikir keras. Ia tidak mau Bryan terluka lebih, tapi di sisi lain, Sheila tidak ingin menikah dengan sosok pemaksa seperti Bara.
"Jawab Shei! Waktumu tidak banyak!" gertak Bara memukul Bryan brutal dan beringas.
Bryan terbatuk kencang. Dadanya nyeri dan luka lebamnya berdenyut sakit.
Sekali lagi, iris gelap Bara menatap Sheila tajam, seakan memperingatkan sebuah kalimat, jangan pernah menentang perintahku.
"Sudah cukup! Jangan sakiti Bryan, a-aku bersedia," kata Sheila parau.
"Bersedia apa?!" kelakar Bara menuntut kejelasan.
"Menjadi istrimu!" pekik Sheila walau hatinya menjerit menolak keras ucapan itu.
"Pilihan yang bagus, Shei," puji Bara memindahkan kakinya dari tubuh Bryan. Lalu Bara tersenyum tanpa dosa pada Bryan.
"Sheila!" panggil Herman dengan pandangan putus asa. Sheila menoleh pedih.
"Maafkan ayahmu yang tidak bisa membantumu, nak," sesal Herman, ia merasa gagal melindungi putrinya. Mengingat orang seperti Bara sulit untuk dilawan. Mereka punya kuasa sekaligus berbahaya.
"Sheila, apa kau yakin?" tanya Laras menangkup pipi Sheila. Air mata Sheila turun deras.
Bara, tidak peduli. Mau tidaknya Sheila, yang terpenting adalah Sheila berada dalam cengkeramannya.
"Kalian, bawa barang-barang di mobil kemari," titah Bara pada ketujuh bodyguardnya yang memakai setelan jas hitam.
Sheila menggeleng tidak percaya melihat seserahan yang dipersiapkan Bara, ini artinya Bara telah merencanakannya matang-matang.
Tak lama Bara telah kembali dengan mengenakan jas putih.
"Shei, kemarilah," pinta Bara meraih tangan Sheila. Dengan cepat Sheila mundur menghindari sentuhan itu lalu duduk di kursi seperti semula.
Bryan memandang sedih, tatapan kecewanya begitu kentara. Dadanya sesak, sakit sekali, lebih menyakitkan ketimbang pukulan dan tendangan yang Bara berikan.
Harusnya dirinya yang di sana. Hubungan yang terjalin selama tiga tahun bersama Sheila terpaksa kandas. Bryan bangkit dengan luka yang menganga di hatinya. Tidak sanggup menyaksikan pujaan hatinya bersanding dengan pria lain.
Suatu saat nanti saya akan membalas perbuatanmu, Bara. Dasar iblis! batin Bryan, dadanya bergemuruh.
"Bryan," gumam Sheila tidak rela ketika Bryan perlahan menghilang dari penglihatannya.
Bara melirik sinis Sheila lewat ekor matanya membuat Sheila menunduk takut.
"Bisa kita mulai?!" protes Bara membuat semua orang yang semula larut dalam kebingungan kembali fokus.
"Bisa."
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Bara Alexander Rodriguez bin Robert Rodriguez dengan anak saya bernama Sheila Annatasya berupa seperangkat alat Sholat dan mas kawin senilai 888 juta rupiah dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Sheila Annatasya binti Herman Kurniawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Sah!"
Sheila lemas, bahunya merosot ke bawah. Air matanya kembali luruh setelah Bara selesai mengucapkan ijab kabul dengan lancar dan lantang. Dunianya hancur, hatinya berdesir perih.
Apa begini akhir kisahnya dengan Bryan? Sungguh menyedihkan, Sheila berakhir dengan pria yang tidak ia cintai.
Sheila yang awalnya menangis sesenggukan berusaha keras menahan. Ia mencium punggung tangan Bara dengan derai air mata. Bara tersenyum, ia lantas menciun kening Sheila.
Laras memilih untuk berpaling, tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati Sheila.
Bara memasangkan cincin pernikahan pada jari manis Sheila lalu bergantian.
"Aku mencintaimu Shei, sangat," ungkap Bara.
Sheila menatap mata Bara lekat mencari celah kebohongan di sana. Namun, yang Sheila dapatkan justru sorot hangat penuh ketulusan.
"Mulai saat ini kalian berdua resmi menjadi sepasang suami istri," ucap Pak Penghulu.
"Mulai saat ini, kau akan tinggal di rumahku. Ayo kita pergi dari sini," ajak Bara menggandeng tangan Sheila.
"T-tapi acaranya belum selesai," protes Sheila.
"Siapa yang peduli?" balas Bara acuh.
"Aku bisa menggelar pesta lebih mewah dari ini!" tegas Bara.
Sheila mendelik, Bara memiliki ego yang tinggi dan sifat arogan yang mendarah daging.
"Saya mohon, jangan sakiti anak saya," pinta Herman.
"Tidak akan, selama Sheila tidak membantah perintah saya," jawab Bara dengan wajah dingin.
"Sheila ikutlah dengannya," perintah Herman.
**
Sheila termangu menatap suasana luar dari jendela kamar. Putaran memori tentang kegagalannya menikah dengan Bryan memenuhi isi pikirannya. Kejadian 10 jam lalu telah mempora-porandakan hatinya.
Sheila terpelonjak kaget ketika sebuah lengan kekar melingkar di perutnya. Ia tidak bisa menoleh karena dagu Bara bertumpu di pundaknya. Tubuhnya meremang saat napas Bara berhembus lembut di ceruk lehernya. Bara menciumnya sekilas.
"Jangan menyesali apa yang terjadi. Sekarang kau harus menerima takdirmu dan menjalani hidup denganku," ucapan manis Bara yang terdengar begitu menyayat hati Sheila.
Sulit bagi Sheila untuk menerimanya, menimbang kenangan indah yang telah ia lewati bersama Bryan terus terngiang-ngiang di kepala.
Merasa diabaikan, Bara dengan cepat membalikkan tubuh Sheila untuk menghadapnya. "Aku tidak suka melihat istriku bersedih di malam pertama pernikahan ini." Bara ikut memasang raut sedih seolah ia prihatin dengan keadaan Sheila.
"Bagaimana aku bisa tersenyum? Kalau pria di hadapanku ini adalah penghancur kebahagianku?!" balas Sheila tajam dan mampu menyentil hati Bara.
"Shei, aku tidak meminta kau membahas itu," ucap Bara dengan nada rendah tapi, penuh peringatan.
"Tapi itu faktanya, kau egois, jahat dan semena-mena!" cerca Sheila kian emosi. Kedua mata Sheila memanas menahan lapisan bening yang terbendung di pelupuk matanya.
"Shei, harusnya kau merasa beruntung menikah denganku." Bara berusaha mengontrol amarahnya. Seandainya Sheila tahu, sudah ada banyak wanita yang ditolak Bara karena tidak ada yang memenuhi kriterianya.
"Beruntung katamu?" sindir Sheila, ia malah merasa sebaliknya.
"Shei …." panggil Bara serak diiringi geraman. Bara mencengkeram lengan Sheila. Habis sudah batas kesabarannya. Sheila memang tidak bisa diajak bicara baik-baik.
Bara memeluk Sheila erat seraya menciumi leher Sheila. Tangan Bara mengusap punggung Sheila. Gelenyar aneh terasa di sekujur tubuh Sheila. Ia mendorong Bara tapi, percuma.
Bara memiringkan wajahnya, sedangkan Sheila sudah memejam, seolah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Bara terkekeh geli melihat guratan kegugupan yang kentara dari paras Sheila, hal itu sedikit menyurutkan emosinya.
"Kau sangat menginginkan itu, Shei?" goda Bara mengangkat sebelah alisnya.
Sheila membuka mata seraya menipiskan bibir.
"I-itu apa? Aku tidak mengerti maksudmu apa!" ketus Sheila berpaling menyembunyikan rona merah di pipinya.
Bara merapatkan tubuhnya pada Sheila. "Biar aku tunjukkan," kata Bara mendaratkan bibirnya lembut di bibir Sheila. Tangan Bara memegang tengkuk Sheila memperdalam ciumannya. Sheila berusaha lepas, tapi tidak bisa, Bara semakin menguasainya. Ciuman Bara sangat lembut bahkan Sheila mulai terlena.
Bara bergerak mendorong Sheila menuju ranjang. Sheila terlentang dengan bibir keduanya yang masih bertautan, Bara semakin gencar untuk menyesapnya dan menggigitnya kecil.
"Manis, Shei." Bara mengusap bibir Sheila dengan ibu jari. Sheila yang diperlakukan begitu gugup. Dadanya berdebar kencang melihat senyuman Bara.
Bara berada di atas Sheila dengan tangan yang mengurung tubuh Sheila sepenuhnya. Bara kembali melumat bibir Sheila, turun ke leher dan pundak Sheila meninggalkan jejak-jejak panas di sana. Sheila menahan mulutnya untuk tidak mengerang ketika tubuhnya terangsang hingga dadanya terasa padat. Sheila tidak mau, ia menolak, tapi tubuhnya bereaksi lain. Setiap sentuhan Bara memanaskan aliran darahnya.
Tangan Bara menyusup ke dalam piyama Sheila, Bara sempat terkejut, rupanya Sheila tidak mengenakan bra, hal itu memudahkan Bara untuk meremas pelan di sana.
"Apa ini caramu menggodaku?" tanya Bara merasakan miliknya menegang.
Sheila menggeleng. Ia tidak memakai bra karena dirinya selalu melepasnya ketika akan tidur.
Tangan Bara masih bermain di sana dengan bibir yang memagut lembut bibir Sheila. Bara begitu menikmatinya. Sheila menggelinjang saat Bara memainkan bagian atasnya.
Rasanya geli membuat Sheila menginginkan lebih. Sheila meremat kuat sprei menahan suara aneh yang ingin keluar dari mulutnya.
"B-berhenti!" pinta Sheila ketika Bara memberi jeda ciumannya.
Napas keduanya sama-sama memburu. Sheila menghirup oksigen dengan cepat, Bara terkekeh.
Ini belum ada apa-apanya, Shei, batin Bara. Ia bahkan bisa lebih buas daripada saat ini.
Bara menyingkirkan helai rambut Sheila ke belakang telinga. Wajah Sheila memerah. Aliran darahnya berdesir.
"Aku tidak akan menuntutmu melakukannya sekarang. Walaupun aku bisa memaksamu dan aku sangat ingin. Tapi, aku masih memiliki rasa iba. Aku ingin kau menyerahkan dirimu padaku."
Sheila menghembuskan napas lega, ia bersyukur Bara telah berubah menjadi pengertian.
"Bagaimana kau bisa secantik ini, Shei?" puji Bara mencium pipi Sheila menggigitnya kecil membuat Sheila meringis dan mengusap bekas gigitan Bara.
"Itu hanya perasaanmu! Di luar sana banyak wan──"
Bara memotong ucapan Sheila dengan mendaratkan kecupan singkat di bibir Sheila. Mata Sheila melebar, tubuhnya mendadak kaku.
"Kau ingin aku mengulangi yang tadi?"
Sheila menggeleng cepat, takut bila Bara berubah liar. Bara berbaring di sebelah Sheila kemudian merengkuh pinggang Sheila menjadikan lengan kekarnya untuk bantalan kepala Sheila.
"Tidurlah dalam pelukanku, jangan berusaha untuk kabur! Atau … aku akan menerkammu!"Bara terkejut mendapati Sheila tidak ada di sisinya. Harusnya ketika ia membuka mata, wajah Sheila yang masih tertidur damai menyambutnya. Bukan malah menghilang yang membuat Bara kalang kabut. Gegas Bara menyingkap selimut, ia lantas mencari Sheila ke seluruh sudut kamar.
Bara menggeram kesal. "Sial! Dia pasti kabur!"
Buru-buru Bara menuruni undakan tangga dengan kemarahan yang memancar dari matanya.
"Di mana Sheila?" tanya Bara pada salah satu pelayan.
"Nyonya sedang ada di dapur, Tuan," jawab Pelayan itu.
Bara melangkah lebar untuk sampai di dapur. Wajah yang semula muram penuh kesal itu berubah cerah. Senyum Bara merekah mendapati Sheila tengah memasak nasi goreng, terlihat dari Sheila yang mulai menuangkan kecap. Dari aromanya saja sudah menggugah selera Bara untuk segera mencicipinya.
Bara melingkarkan tangannya posesif di pinggang Sheila, hidung mancungnya mencium aroma tubuh Sheila. Harum bunga mawar, membuat Bara betah menghirupnya lama-lama.
Sheila merinding, hembusan napas halus Bara terasa menggelitik. "B-bara," panggil Sheila tergagap.
"Iya, Sayang," jawab Bara.
"Aku kira kau melarikan diri," ucap Bara membenamkan wajahnya di ceruk leher Sheila. Sebenarnya Sheila risih. Tapi mau bagaimana lagi, Bara suaminya. Bara berhak atas tubuhnya.
"Apa kau takut jika aku pergi?" tanya Sheila.
"Jelas, karena aku mencintaimu," ungkap Bara mencium pipi Sheila.
Sheila bisa merasakan ketulusan dari Bara tetapi ia tidak bisa membohongi hatinya yang masih mendambakan sosok Bryan. Sheila mematikan kompor saat dirasa makanannya siap disajikan.
"Bara, lepas. Aku mau mengambil piring," perintah Sheila melepas tangan Bara tapi Bara kian mengeratkan pelukannya.
"Aku ikut," rengek Bara.
"Astaga," gumam Sheila menggeleng dengan sikap manja Bara. Alhasil Sheila berjalan mengambil piring dengan Bara yang masih memeluknya dari belakang.
"Kenapa harus dua? Kurasa satu saja cukup," protes Bara membuat Sheila meletakkan satu piringnya.
Sheila memindahkan nasi goreng dari teflon ke piring, sedangkan Bara ikut memperhatikannya.
"Aku lapar, aku mau duduk lalu sarapan," keluh Sheila.
Bara melepas pelukannya lalu duduk manis di kursi meja makan.
"Aku ingin kau menyuapiku," pinta Bara membuka mulutnya.
Sheila berdecak. "Memangnya kau bayi apa?" ejeknya menimbulkan tawa kecil bagi Bara.
Sheila mulai menyendok nasi goreng kemudian mengangkatnya ke arah mulut Bara.
"Enak Shei ... selain cantik, ternyata kau pandai memasak. Aku memang tidak salah memilih istri, " ucap Bara bangga pada dirinya sendiri, ia merapikan helai rambut Sheila.
"Hm, iya-iya," jawab Sheila sekenanya. Bara memberengut ketika raut wajah Sheila terlihat terpaksa.
Bara mencondongkan tubuhnya, ia mengecup bibir Sheila singkat.
Sheila tertegun, matanya terbelalak.
Dasar Bara api! rutuk Sheila, Bara selalu membuatnya terkejut dan itu membuat Sheila kesal.
"Ini baru sarapan sesungguhnya," ucap Bara santai lalu melahap nasi goreng itu lagi, seolah tidak terjadi apa-apa.
Sheila menatap Bara lekat, ada yang mengganjal di benaknya. Ketika mengingat frame berwarna emas besar berisi foto Bara dan keluarganya.
"Bara, apa keluargamu tau kita sudah menikah?" tanya Sheila.
Bara mengangguk pelan. "Aku sudah memberi mereka kabar, tapi sekarang mereka ada di luar negeri. Hawai," terang Bara membuat Sheila mengerti bila keluarga Bara tengah berlibur.
"Kenapa kau tidak ikut?"
Senyum jahil muncul di paras Bara. "Jadi kau sedang memberiku kode? Kau ingin bulan madu, Sayang?" goda Bara bersemangat.
Sheila tersedak ludahnya sendiri.
"A-aku hanya bertanya," kilah Sheila meraih gelas berisi air putih lalu meneguknya.
"Shei, jangan malu. Kita bisa berangkat hari ini juga kalau kau mau. Lagi pula, aku ingin segera memberi cucu untuk, Oma. Dia selalu menagih itu padaku," papar Bara sengaja menekankan kata demi katanya.
"Bara!" pekik Sheila malu, wajahnya merona, tangan Bara terulur mengusapnya membuat rona merah itu makin jelas.
"Blushing! Tapi semakin cantik," ledek Bara.
"Kau ini!" Sheila memukul lengan Bara.
"Hari ini aku mau pergi ke toko kue. Ada pesanan soalnya, boleh, ya?" Sheila meminta izin meski ia ragu, akankah Bara memperbolehkannya.
Seketika raut Bara berubah, ia tampak keberatan. "Kau lupa, sayang? Kau Nyonya di rumah ini. Kau tinggal duduk manis dan merasakan kemewahan yang aku berikan padamu. Mencari nafkah itu kewajibanku."
"Iya, aku tau. Tapi aku butuh kegiatan untuk mengisi waktuku. Usaha kue itu sudah aku kelola sejak SMA, walaupun dari uang Ayah. Dan, aku ingin terus mengelolanya. Aku mohon Mas Bara," pinta Sheila dengan wajah menggemaskan.
Satu alis Bara berjengit. Sheila barusan memanggilnya, Mas? Astaga, Bara menggigit pipi bagian dalamnya. Tersipu, istrinya ini benar-benar pandai merayunya.
"Aku izinkan, asal mereka menemanimu." Bara menunjuk Anton dan Angga yang ia tugasi khusus menjaga Sheila.
"Oke, tidak masalah," jawab Sheila lugas, tersenyum sumringah.
**
Sheila berada di mobil, ia terus meremas jemari tangannya. Rencananya telah tersusun rapi di otak, hanya tinggal mempraktekkannya saja.
"Bisa kita berhenti sebentar? Aku ingin ke toilet," ucap Sheila meremas perutnya. Perlahan laju mobil mulai melambat dan berhenti di tepi jalan.
"Baik, Nyonya. Tapi kami harus mengikuti Nyonya," kata Anton.
"Terserah kalian," ketus Sheila.
Anton keluar kemudian membukakan pintu mobil untuk Sheila. Ketika Sheila keluar, ia langsung mendorong Anton membuat Anton dengan sigap mencekal tangan Sheila.
"Jangan mencoba kabur, Nyonya!' tegas Anton.
"Aku harus pergi," gumam Sheila terpaksa menendang aset pribadi Anton.
"Akh! N-nyonya Sheila!" pekik Anton meraskan nyeri yang tak tertahan.
"Maafkan aku!" jerit Sheila berlari kencang.
Angga turun menghampiri. Ia mengeluarkan ponselnya.
"Jangan beritahu Tuan Bara! Dia bisa marah besar," cegah Anton pada Angga.
Anton bergidik ngeri bila mengingat kemarahan Bara, Pria itu pasti akan mengamuk.
"Apa kau kira dengan kita menyembunyikan ini nyawa kita aman?" tanya Angga.
"Setidaknya, kita cari dulu kemana Nyonya Sheila pergi. Jika memang tidak bisa ditemukan baru kita lapor," usul Anton.
"Cepat kejar dia!" perintah Anton.
Angga berlari menyusul Sheila meninggalkan Anton yang masih berkutat pada rasa sakitnya.
**
Sheila menoleh ke belakang dengan wajah panik. Dari kejauhan, terlihat Angga berlari menuju ke arahnya. Peluh keringat menetes dari dahi Sheila. Ia lelah dan akhirnya Sheila masuk ke dalam toko pakaian dan mengambil jaket, topi juga kacamata hitam menyamar layaknya seorang pembeli.
Jantung Sheila berdebar tak karuan ketika Angga masuk dan menatapnya curiga.
Semoga dia tidak mengenalku! batin Sheila matanya memejam erat.
Sheila menelan ludahnya berat saat derap langkah Angga mendekatinya.
"Maaf, saya hanya ingin memberi tahu. Kaca mata anda terbalik," ucap Angga.
"Oh ini," kata Sheila memegang kaca matanya, suara Sheila terdengar serak.
"Saya memang sengaja, karena zaman sekarang hal seperti ini menjadi tren," kata Sheila asal dengan suara dibuat serak.
"Oh begitu. Apa anda melihat seorang perempuan berlari ke sini?" tanya Angga lalu mengedarkan pandangannya.
"Tidak!"
Sheila bergegas menuju kasir dan membayar pakaian dan aksesoris yang membalut tubuhnya.
Sheila merogoh ponselnya dan mengetik pesan.
Sheila .
Bryan, temui aku di taman Pelangi.
Sheila telah menunggu Bryan sekitar tiga puluh menit. Namun, Bryan tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Taman Pelangi terasa sunyi, jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Namun, tetap saja Sheila khawatir.
"Ada apa, She?" tanya Bryan membuat Sheila berdiri. Menatap prihatin penampilan Bryan yang terlihat kacau dengan mata sayu serta lebam biru keunguan di wajahnya.
"Aku mau kita pergi dari sini Bryan." Sheila memegang erat lengan Bryan.
"Sejauh apapun kita pergi, Bara akan mampu mengetahui keberadaan kita, She." Bryan menatap kosong ke depan.
"Jadi ... kau benar-benar merelakanku, Yan?" tanya Sheila tidak menyangka.
"Kau tidak mau memperjuangkan aku? Aku kecewa padamu!" jerit Sheila.
"Sekarang, aku paham maksud ucapanmu di rumah sakit itu. Kau sendiri yang membuat ku pergi darimu!" jelas Sheila tertawa sumbang.
"She, cukup!" Bryan tidak tahan mendengar kalimat Sheila yang menusuk hatinya.
"Keadaan yang membuatku begini," lirih Bryan.
"Kembalilah ke rumah, sebelum Bara menyadarinya," perintah Bryan membuat Sheila menatapnya tidak percaya.
"Semudah itu kau melupakanku?" Rasa sesak kian menghimpit dadanya.
"Bryan, aku kira kau rela melakukan apapun untukku, tapi aku salah besar! Kau tidak lebih dari pengecut yang hanya memanfaatkanku!" seru Sheila menangis.
"She, berhenti menyalahkanku! Aku benar-benar terdesak! Aku begini demi ibuku, She! Cuma dia orang tuaku sekarang. Aku tidak mau kejadian tiga tahun terulang lagi, ayahku meninggal karena terlambat ditangani. Karena apa? Karena aku tidak memiliki uang!" bentak Bryan menggoyangkan kedua bahu Sheila.
Sheila terisak. Gadis itu berlari, pergi sejauh mungkin. Tidak ada yang bisa diharapkan dari Bryan. Lelaki itu menyerah.
"Aku berjanji akan melepaskanmu dari belenggu Bara. Tapi tidak sekarang. Maaf mungkin tidak bisa menebus kesalahanku, She. Karena aku, kau terperangkap dengan lelaki kasar dan tidak berhati seperti Bara," sesal Bryan.
**
Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas normal, ia menyalip satu per satu kendaraan dengan lihai. Pria itu dipenuhi kabut emosi. Bara sudah berkeliling mencari Sheila. Namun, hingga petang ini, ia belum menemukan Sheila yang membuatnya tidak mempedulikan dirinya sendiri.
Bara menepi, ia memukul setir mobil dengan kondisi buku-buku jari yang penuh akan darah yang mengering.
"Sheila!" erang Bara.
"Aku terjebak denganmu!" geram Bara frustasi.
Sebenarnya mudah saja jika Bara ingin segera menemukan Sheila, ia tinggal menyuruh anak buahnya. Namun, Bara terlanjur marah dan bertekad menemukan Sheila sendiri. Pria itu akan tetap berpegang teguh pada prinsipnya.
**
Sheila melangkah lemas dengan kedua mata merah dan sembab. Langkah kaki menggiringnya ke sebuah gang sempit yang diterangi cahaya temaram. Sheila bahkan bingung ingin kemana. Jika ia pulang, Sheila takut keluarganya akan terseret dalam permasalahannya. Hatinya masih tersayat perih ketika mengingat respon Bryan yang tidak peduli lagi dengannya.
"Cantik," sapa seorang pria memegang pundak Sheila.
Sheila terpelonjak kaget lalu menepis tangan itu kasar.
Sheila mendelik pada pria dengan tato di lengan juga tindik di telinganya.
Pria itu tidak menjawab. Ia justru melayangkan tatapan tertarik dengan memandang Sheila dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sheila risih, ia berbalik ingin pergi tapi, pria itu mencekalnya.
"Jangan harap lo bisa pergi, sebelum gue seneng-seneng sama tubuh lo!" tegas pria itu membuat Sheila gemetar takut.
"Lepaskan!" pinta Sheila menghentakkan tangannya.
"Aaaa!" jerit Sheila ketika pria itu menghantamkan tubuhnya ke dinding pembatas.
Pria itu menjilat bibir bawahnya seraya menatap lapar ke arah Sheila. Otak Sheila mendadak kosong, Sheila ketakutan, untuk kali ini Sheila sangat mengharapkan Bara datang menolongnya meskipun rasanya mustahil.
Bara ... tolong aku, batin Sheila.
"Tolong-tolong!" teriak Sheila matanya memanas dan penglihatannya memburam.
Pria itu tersenyum meremehkan.
"Percuma! Gak akan ada yang bakal bantuin lo di gang sempit dan terpencil ini!"
Pria itu merobek baju atas Sheila membuat Sheila memekik dan menyilangkan tangan menutupi dadanya.
"Gue gak sabar buat rasain itu," kata Pria itu mencoba menyingkirkan tangan Sheila.
"Jangan!"
Sheila menangis sesenggukan, andai ia tidak mencoba kabur, ini pasti tidak akan terjadi. Jika Sheila bisa memutar waktu. Sheila akan memilih benar-benar pergi ke toko kuenya.
"Singkirkan tanganmu dari istriku bangsat!" kelakar Bara menarik pria itu dan menghempasnya ke tanah.
Sejenak, Sheila merasa aman, ia memeluk dirinya sendiri.
Iris mata Bara menggelap menatap pria itu. Bara menghajarnya brutal.
"Kau harus mati!" desis Bara yang menduduki perut pria itu dan memukul wajahnya kuat.
Sheila bergegas menghampiri Bara ketika Bara hilang kendali dan terus mengumpat.
"Bara hentikan!" Sheila berusaha menarik Bara dan memeluk Bara dari belakang melihat preman itu terkapar tak berdaya dalam kondisi mengenaskan. Matanya bengkak, hidung serta sudut bibirnya berdarah.
"Kau melindungi si berengsek ini, Shei?!" murka Bara.
Sheila menggeleng dengan air mata yang terus mengalir.
"T-tidak, aku tidak mau k-kau masuk penjara nanti," kata Sheila bibirnya bergetar.
Emosi Bara mereda, ia berbalik dan memeluk Sheila erat. Mencium puncak kepala Sheila berkali-kali.
Beruntung Sheila membawa tas kecil yang dulu Bara beri penyadap suara sehingga Bara bisa mendengar suara Sheila. Dan mengetahui keberadaan Sheila yang ternyata tidak jauh dari tempat mobilnya berhenti.
Bara menangkup wajah Sheila, "Coba kau pikirkan Shei, jika aku tidak datang tepat waktu. Dia mungkin telah melecehkanmu! Kau bisa bayangkan, betapa hancurnya aku kalau hal itu sampai terjadi?" ungkap Bara sorot matanya begitu cemas.
Sheila terisak kuat, bahunya bergetar. Apa Bara sepeduli itu padanya? Rasa sesal dengan cepat menggeroti hatinya.
Tak lama, Anton dan Angga tiba di tempat kejadian dengan tergesa.
"Urus sampah meresahkan ini!" perintah Bara dingin.
"Kurang ajar!" umpat Bara ketika baju bagian atas Sheila robek, Bara melepas jasnya lalu menggendong Sheila ke dalam mobil. Sikap Bara yang tenang dan perhatian justru menghadirkan kecurigaan di benak Sheila.
Sheila pikir Bara akan marah, membentaknya ataupun melakukan hal kasar, tapi nyatanya Bara tak seburuk yang Sheila kira.
Bara baru saja duduk di mobil dan membuat degup jantung Sheila berdetak keras. Sheila menunduk melihat jas hitam yang ia pakai. Milik Bara dengan aroma maskulin yang menyeruak ke dalam hidungnya. Wangi khas yang membuat Sheila selalu teringat dengan Bara.
Sheila menoleh saat Bara belum juga melajukan mobilnya. Bara meremat kuat setiran dengan napas memburu.
Sheila baru tahu, ada luka di tangan Bara. Bahkan bercak merah terlihat kontras di lengan kemeja putih Bara. Sheila menyentuhnya membawa tangan Bara ke arahnya.
"I-ini kenapa?" tanya Sheila cemas.
Bara menyentak tangan Sheila.
"Apa pedulimu!" bentak Bara.
Sheila menelan ludahnya berat.
"Maaf," lirih Sheila.
Bara mencengkeram dagu Sheila memaksa Sheila menatapnya.
"Maafmu tidak berguna!"Bara mendekatkan wajahnya membuat Sheila sampai menahan napas ketika jarak mereka begitu dekat. Bara menatap bibir Sheila yang seolah menggodanya. Namun, Bara dengan cepat menjauhkan wajahnya dan duduk dengan posisi semula.
"Tepis jauh pikiranmu untuk pergi dariku, karena aku jamin, kau tidak akan bisa!" tukas Bara.
Sheila menunduk sambil meremas jari-jarinya.
"Bersiaplah, aku akan menghukummu di rumah!" peringat Bara dingin berhasil membuat Sheila membeku.
**
"Mau ke mana?" protes Bara ketika Sheila membuka pintu mobil sendiri dan berlari masuk rumah mendahuluinya.
"Mengambil kotak P3K," jawab Sheila membuat Bara mempercepat langkah untuk menyusulnya.
Sheila membawa kotak P3K dan menggandeng tangan Bara untuk masuk ke dalam kamar.
"Ini harus diobati, takut infeksi," kata Sheila mengambil kapas yang sudah ia beri alkohol untuk membersikan luka itu. Lalu Sheila mengoleskan kapas yang sudah ia beri obat merah.
Bara menatap Sheila, rasa senang mengisi rongga hatinya. Sheila tampak khawatir dan hati-hati dalam mengobatinya. Bara tersenyum tipis.
"Sudah selesai," kata Sheila tersenyum manis namun Bara justru memasang raut datar. Bara menarik tangannya kasar dari Sheila, walau sempat terkejut. Tapi Sheila bisa memakluminya.
Bara keluar dari kamar sementara Sheila masuk ke kamar mandi.
Beberapa menit berlalu. Sheila baru selesai mandi. Pandangan Sheila langsung mendapati Bara yang berdiri seraya membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"Makan! Aku tidak ingin kau lemas nanti!" kata Bara ambigu.
Nanti? Apa yang nanti? tanya Sheila dalam hati.
"Shei, kau tidak dengar? Makan sekarang!" titah Bara melihat Sheila melamun.
Sheila menerimanya lalu duduk, ia mulai menyendok nasi tapi, hanya seujung sendok. Sheila tidak selera makan dan atensinya tertuju pada Bara, pria itu duduk di pinggir ranjang, memunggunginya.
Aneh, Sheila jadi memikirkan, katanya Bara akan menghukumnya. Namun, pria itu masih terdiam. Bukan begitu, Sheila sebenarnya tidak mengharapkan itu. Ia hanya was-was saja.
Sheila meletakkan piring cukup kasar di nakas, menimbulkan dentingan bunyi sendok dan piring cukup keras.
"Seharusnya aku tidak pernah bertemu denganmu, Bara!" sungut Sheila.
Mungkin ini saatnya menanamkan kebencian pada Bara.
Bara berdiri, jantung Sheila berdebar kencang. Tuhan, sepertinya Sheila salah langkah! Tatapan mata Bara menguliti keberaniannya.
"Kau benar-benar membuatku marah, Shei!" gertak Bara, rahangnya mengeras. Sheila harus diberi pelajaran. Sudah cukup Bara bersabar. Percuma Bara berusaha menahan amarahnya, karena Sheila justru memancingnya.
Bara melepas satu per satu kancing kemejanya seraya berjalan mendekati Sheila.
Bara menyeringai. "Aku tarik ucapanku kemarin. Rasanya terlalu lama menunggumu untuk menyerahkan dirimu padaku. Jadi aku percepat saja," kata Bara melepas bajunya memperlihatkan tubuh berototnya.
Sheila terpaku melihat pemandangan itu, Bara memang memikat. Sheila menggeleng, ia tidak boleh tergoda. Sheila berlari menuju pintu.
Bara menutup pintu itu cepat, memutar kunci dan membuang kuncinya ke atas lemari.
"Mau kemana istriku?" Suara bariton Bara membuat tubuh Sheila gemetar. Kedua lengan kokoh dan berotot itu mengurungnya di sisi pintu. Wajah Sheila memucat melihat manik mata hitam Bara yang menggelap.
Baru begini saja kamu sudah menciut takut! Sok-sok'an mau menantangku! geram Bara dalam hati.
Bara tersenyum puas ketika keringat dingin menetes dari dahi Sheila.
"Aku akan mengambil hak ku sekarang!" tekan Bara membuat napas Sheila memburu ketika tubuh mereka saling bersentuhan. Sheila tidak bisa membayangkan betapa perkasanya Bara nanti.
"S-sakit," rintih Sheila saat Bara meremas lengannya, bahkan Bara menancapkan kukunya di kulit Sheila.
"Ini tidak sebanding dengan rasa kecewa saya!" seru Bara.
"Saya bersikap baik, tapi kau malah memilih pergi!" kesal Bara suaranya meninggi.
"Itu salahmu, karena merebut aku dari Bryan!" balas Sheila menatap nyalang Bara.
Bara geram, giginya saling bergemelutuk rapat bahkan dalam keadaan tersudut Sheila masih saja terus menantangnya.
"Tidak ada yang salah Sheila! Karena saya akan membuatnya benar!" pungkas Bara, menyorot kejam, dingin. Membekukan.
"Ceraikan aku!" desak Sheila.
Kedua mata Bara membelalak,
kalimat itu menyulut emosinya. Tangan Bara sudah terangkat, tetapi detik berikutnya, tangan itu terhenti dan terkepal di udara. Bara hampir saja kelepasan ingin menampar Sheila.
"Argh!" erang Bara mengacak rambutnya.
"Kenapa? Kau takut? Di mana Bara yang tidak takut apapun itu?"
Merasa tertantang Bara mencium bibir Sheila keras. Bahkan hingga mengeluarkan setitik darah di bibir pucat itu.
Perih, batin Sheila.
Bara tersenyum sinis melihat bibir Sheila yang membengkak. Air mata Sheila terus mengalir membasahi pipi. Bara mengangkat tubuh Sheila tanpa beban, lebih tepatnya Bara memanggul Sheila di pundaknya
"Turunkan aku!" pekik Sheila memukul punggung Bara.
Bara kemudian menghempas tubuh Sheila ke ranjang dan merangkak naik menindih Sheila.
"Tidak ada kata ampun untuk malam ini! Kau akan menjadi istriku seutuhnya!" seru Bara, matanya berkilat penuh gairah.
Buliran bening terus menetes dari mata Sheila. Bara terus melumat bibirnya hingga bibir Sheila terasa kebas. Sheila tidak bisa lepas karena kedua lengan kokoh Bara menahan tangannya.
Bara melepas ciumannya menatap Sheila dengan hasratnya yang meluap-luap.
"Sudah siap melihat diriku yang sebenarnya, Shei?" tanya Bara bernada rendah.
"B-bara, a-ku belum siap. Aku takut," lirih Sheila dengan wajah yang basah.
"Takut? Di mana Sheila yang menantangku beberapa detik yang lalu? Hahaha!" Bara tertawa.
"A-aku tidak bermaksud," cicit Sheila. Sungguh Sheila benar-benar takut. Bara terlihat menyeramkan di matanya.
"Jangan harap aku akan luluh dengan wajah memelasmu itu!" kelakar Bara.
Dengan satu tarikan Bara merobek piyama Sheila.
"Bara!" pekik Sheila menutupi dadanya. Bara tersenyum miring.
Tubuh atas Sheila yang polos membuat Bara kian bergairah.
Bara mencium bibir Sheila lembut lalu turun ke leher menghisap kulitnya meninggalkan tanda merah di sana.
Sheila melenguh, Bara dengan ahli melepas tali bra Sheila, detik itu Bara tertegun melihat tubuh indah Sheila. Bara memangkas jarak di antara mereka.
Sheila terkejut ketika bibir Bara turun mencium dadanya, Sheila tidak mampu menolaknya. Apalagi ketika Bara terus memainkan itu dengan ujung lidah, menjilatnya lalu memutarinya. Sheila terbakar gairah.
Bara menghisap bagian atasnya dengan rakus dan tanpa sadar membuat Sheila melengkungkan punggunggnya. Sensasi nikmat menjalar ke seluruh tubuh Sheila. Ia bahkan merasa area bawahnya basah sekarang.
Bara naik memastikan kondisi Sheila. Pria itu menjilat bibir bawahnya sedangkan Sheila berusaha mengatur napasnya.
Perempuan itu terlihat menikmati walau awalnya Sheila menolak sentuhanya.
"Terima setiap gerakanku Shei, agar kamu tidak tersiksa," kata Bara.
Sheila kehilangan konsentrasi, rangsangan ini benar-benar membuatnya lemah. Rambut Bara yang acak-acakan itu justru tampak seksi di matanya.
Bara mempercepat temponya dan Sheila terus menahan rasa sakit akibat gesekan benda asing di dalam tubuhnya. Bara menggeram ketika Sheila menjempit miliknya begitu ketat.
Keduanya sama-sama berada di puncak, saat itu terjadi, Bara dan Sheila merasakan kenikmatan yang luar biasa. Yang belum pernah mereka rasakan selama ini.
Bara menyandarkan kepalanya di pundak Sheila. Napas mereka saling beradu.
"Ini baru permulaan, Shei," bisik Bara. Sheila merinding, dia menoleh kaget pada Bara.
"Cu-kup, ini sakit. Aku mohon pelan-pelan," pinta Sheila parau tapi terlambat, Bara sudah berada di atasnya lagi. Sheila nyaris tak melihatnya bergerak tadi.
Bara mengulum senyum. "Kau berada di bawah kendaliku, Shei!"
Bara kembali menggerakan tubuhnya brutal ia bahkan mencium Sheila tanpa ingin memberi jeda untuk bernapas barang sedetik pun. Pria itu dikuasai kabut gairahnya. Malam ini Bara akan menuntaskan hasratnya yang kian memuncak.
Bara tidak peduli dengan suara isakan, yang berganti desahan dan jeritan yang memintanya untuk berhenti. Sheila merintih dibawah kungkungannya, Sheila tidak berdaya untuk melawannya dan ini yang Bara inginkan. Sheila memang harus tunduk padanya.
**
Hawa panas menjalar ke kulit Bara. Pria itu terusik dan membuka kedua matanya perlahan. Rupanya tubuh Sheila menggigil dan perempuan itu memeluknya begitu erat. Bara menempelkan tangannya ke kening Sheila.
"Shei, kau demam," gumam Bara kaget.
Bara kian panik saat wajah Sheila memucat. Bara melihat ke arah jam, pukul tujuh pagi. Ia hendak menggendong Sheila tapi detik selanjutnya Bara tersadar, dirinya dan Sheila masih dalam keadaan polos.
"Astaga!"
Bara turun dan mengambil pakaiannya di dalam lemari.
"Shei, pakailah," perintah Bara sudah bersiap memakaikan baju untuk Sheila.
"A-aku bisa memakainya sendiri," tolak Sheila merampas bajunya.
Bara berdecak kasar. Padahal kondisi Sheila terlihat lemas dan untuk duduk saja membutuhkan waktu cukup lama.
"Berbaliklah!" perintah Sheila merasa risih dengan Bara yang menatapnya intens bercampur khawatir.
"Untuk apa? Aku sudah melihat semuanya," balas Bara enteng. Sudut bibirnya melengkung mengingat setiap jengkal tubuh Sheila yang sangat menggoda untuk disentuh.
Bara menyesal karena kalah melawan hasratnya dan membuat Sheila kewalahan, dia sadar semalam ia begitu liar. Lihat saja, seluruh tubuh Sheila hampir penuh dengan jejak kemerahan karena ulahnya.
"Bara!" geram Sheila bersemu malu mengingat pergulatan panas itu.
"Iya-iya, Shei," jawab Bara dengan kekehannya dan berbalik menghadap jendela.
"Sudah selesai?" tanya Bara melirik lewat ekor matanya.
"Sudah," kata Sheila.
Bara berbalik dan membungkukkan badannya membuat Sheila mengernyit.
"Ma-mau apa?" tanya Sheila grogi saat wajah Bara sangat dekat dengannya.
"Membawamu ke rumah sakit," balas Bara.
"Tidak perlu, nanti aku juga sembuh," ketus Sheila.
"Kalau begitu aku panggil dokter saja," pungkas Bara meraih ponsel miliknya.
Sheila memperhatikan Bara yang mulai keluar dari ruangan. Tubuhnya terasa kaku dan pegal apalagi di area sensitifnya. Sheila merasa jika Bara akan segera selesai namun ternyata belum, Bara seolah tidak pernah merasa puas. Dan itu benar-benar menguras tenaga Sheila.
"Mari Dok," kata Bara mempersilahkan Dokter Hesti masuk. Dokter Hesti adalah Dokter pribadi keluarganya.
"Ya ampun!" seru Sheila terbelalak.
Bara ini sengaja atau memang bagaimana? Di saat Dokter Hesti masuk, Sheila baru menyadari jika keadaan kamarnya masih berantakan, sprei kusut serta pakaian semalam masih tersebar di lantai. Mau ditaruh dimana wajahnya?
Lelaki ini gila!
Rasanya Sheila ingin menjerit dan mengumpat pada Bara, tapi Sheila sadar. Itu tidak boleh! Nanti ia dosa.
Sheila makin malu, ketika Dokter wanita itu tersenyum padanya. Pasti karena ada tanda merah di lehernya. Ciuman panas semalam masih sangat membekas bagi Sheila. Cepat-cepat Sheila mengenyahkan pikiran itu dan turut mengumbar senyum kecil.
"Dok, cepat periksa istri saya!" pinta Bara.
"Baik." Dokter pun mulai memeriksa detak jantung Sheila lalu mengeluarkan termometer dan melihat suhu tubuh yang muncul di sana.
"Demamnya cukup tinggi, Nyonya Sheila syok dan kelelahan. Apa belakangan ini ada yang membuat anda stres?" tanya Dokter Hesti.
Langsung saja Sheila melirik sinis ke arah Bara sementara Bara pura-pura tidak melihatnya.
Huh! Apa dia mendadak amnesia?! gerutu Sheila dalam hati.
"Saya memang banyak fikiran hari-hari ini Dokter," ungkap Sheila lelah.
Dokter Hesti mengangguk.
"Anda harus istirahat yang cukup Nyonya. Tolong perhatikan pola makan anda, jangan sampai telat makan karena hal itu yang membuat tubuh anda lemas," urai Dokter Hesti.
Beliau mulai mengeluarkan beberapa obat dari dalam tasnya.
"Saya akan memberi obat juga vitamin agar Anda cepat pulih. Anda harus makan makanan yang bergizi dan minum banyak air putih," tutur Dokter Hesti.
"Baik Dok," jawab Sheila.
"Berikan obat yang terbaik Dokter," timpal Bara.
"Tentu saja Tuan. Anda perhatian sekali, anda pasti sangat mencintai istri anda," puji Dokter Hesti membuat Sheila menghembuskan napas panjang.
Jika aku tidak mencintainya, aku tidak akan melakukan hal nekat dengan merebutnya di hari pernikahannya! batin Bara namun ia hanya menampilkan senyum tipis.
Dokter Hesti mulai menjelaskan kapan dan berapa obat yang harus diminum Sheila kepada Bara.
"Kalau begitu saya permisi Tuan. Lekas sembuh Nyonya Sheila," pamit Dokter Hesti.
"Terima kasih, Dok," ucap Sheila.
Bara duduk di pinggir ranjang membelai lembut pipi Sheila. Sementara Sheila memejamkan mata dan memalingkan wajah. Berusaha menghindari kontak mata dengan Bara.
"Shei, kau marah?" tanya Bara mengerut bingung.
Hening.
"Aku harus apa? Supaya kau tidak marah?" bujuk Bara dengan suara lembutnya.
Belum ada jawaban.
"Apa kau sakit karena aku?"
Pertanyaan itu membuat Sheila tertarik membalasnya dan tanpa sadar otaknya kembali memutar kejadian semalam. Dia menoleh ke arah Bara.
"Dasar Barbar!" rutuk Sheila.
"Apa barusan? Kau mengataiku? Suamimu sendiri?!" tanya Bara tidak percaya denga ucapan Sheila, lelaki itu terkejut.
"Iya Barbar!" seru Sheila lebih keras meski dengan suara serak.
Bara tergelak, suara tawanya menggema mengisi ruangan. Alih-alih merasa jengkel, panggilan itu justru membuat Bara senang. Bara menganggap itu panggilan sayang lain untuknya.
"Ya, aku akui. Kau memang benar," pungkas Bara masih dengan tawa yang semakin membuat lelaki itu tampan.
"Badanku rasanya remuk dan pegal karena ulahmu!" omel Sheila memasang raut wajah marah.
"Benarkah?" Sebelah alis Bara berjengit.
"Tengkuraplah, biar aku memijatnya," perintah Bara.
Sheila menggeleng, dia takut Bara justru melakukannya lagi.
"Sejak