Ada sepasang suami istri yang memiliki satu anak laki-laki. Bahkan sebelum anak mereka lahir, pernikahan pasangan ini telah goyah. Setelah bertahun-tahun berlalu, ayah dan ibu anak itu berkelahi sepanjang waktu. Pertengkaran mereka menjadi lebih sering terjadi. Mereka mulai berbicara tentang perceraian.
Pada akhirnya, mereka tetap bersama demi anak lelaki mereka. Tapi, pertengkaran itu terus berlanjut hingga perkelahian semakin lama menjadi sengit. Saat umur anak mereka menginjak lima tahun, pasangan ini saling membenci satu sama lain.
Suatu malam, setelah mereka menidurkan si bocah, ibu dan ayahnya terlibat dalam pertengkaran yang hebat. Si ayah mulai menggila dan membunuh istrinya sendiri.
Saat ia kembali waras dan menyadari apa yang telah ia lakukan, ia segera menyusun rencana untuk menghilangkan tubuh istrinya. Ia menyeret mayat istrinya ke dalam garasi, lalu menaruhnya di dalam mobil. Kemudian, ia menyetir ke pegunungan. Di bawah langit yang gelap, ia membopong mayat istrinya di pundak. Ia membawa mayat istrinya ke rawa terdekat. Ia menyeret istrinya ke dalam air kotor yang berbau busuk dan melihatnya tenggelam dalam lumpur.
Saat subuh, lelaki itu kembali ke rumah untuk membersihkan diri. Berapa kali pun ia mengosok, bau rawa yang menjijikkan itu tidak bisa hilang.
Ia tidur selama beberapa jam. Saat ia bangun, ia mulai memikirkan apa yang ia lakukan jika anak lelakinya bertanya dimana ibunya. Ia memutuskan untuk memberitahu anaknya bahwa istrinya telah pergi untuk tinggal dengan saudarinya selama beberapa saat. Namun demikian, saat anaknya bangun untuk sarapan, ia tak pernah menyebut ibunya. Ia hanya menatap ayahnya tanpa berkata apa-apa.
Lelaki itu masih bisa mencium bau busuk dari rawa dimana ia mengubur istrinya. Ia mengambil pengharum ruangan dan mulai menyemprotkannya ke sekitar rumah, berharap bisa menghilangkan bau tak sedap. Hal itu membuatnya merasa sakit.
Beberapa jam berlalu. Anak lelakinya sedang menonton TV di ruang keluarga. Ayahnya mulai merasa tidak enak badan, terutama pada bagian perutnya. Setiap kali ia pergi ke ruang keluarga, ia memperhatikan bahwa anak lelakinya menatapnya dengan tatapan ingin tahu di wajahnya. Hal itu membuat ayahnya merasa nervous dan paranoid.
Pikirannya berpacu. Mungkin saja anak itu tahu apa yang terjadi, pikirnya. Mungkin anak itu mendengarnya membunuh ibunya. Jika anak lelakinya tahu apa yang telah ia lakukan, mungkin ia harus membunuh anak itu.
Si ayah berjalan ke dalam ruangan dimana anak lelakinya masih menonton TV.
"Apakah ada sesuatu yang ingin kau tanyakan padaku?" kata ayahnya.
Si anak laki-laki berpikir beberapa detik dan menjawab, "Yeah..."
"Apakah ini tentang ibumu?" tanya ayahnya lagi.
"Ya.." kata si anak laki-laki.
"Aku menduga kau penasaran dimana ibumu," kata si ayah.
"Tidak," kata anaknya. "Aku penasaran kenapa wajah Ibu pucat. Lalu mengapa kalian bermain kuda-kudaan sepanjang hari."