Me Vs Tukang Ojek
Teen
14 Jan 2026

Me Vs Tukang Ojek

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (59).jfif

download (59).jfif

14 Jan 2026, 15:50

download (58).jfif

download (58).jfif

14 Jan 2026, 15:50

Nanda merasakan terik matahari ditambah debu jalanan aspal tanpa tanaman asri penghias kota. Polusi semakin memperparah. Ia merasa sangat gerah berada di bis yang penuh sesak dengan penumpang. Kondektur tidak peduli keadaan penumpang yang berdesak-desakan. Ia selalu menambah penumpang di setiap pemberhentian.

Alhasil, Nanda harus berjuang melewati beberapa penumpang untuk keluar selamat dan aman. Maklum, keadaan seperti ini selalu dimanfaatkan tangan panjang merajai barang penumpang. Jangan lupakan tangan mesum dapat sewaktu-waktu ambil kesempatan.

“Mbak ngojek? Mbak mau kemana? Mbak sudah dijemput?” beberapa tukang ojek berebut saat Nanda turun dari bis antar kota.

Nanda bingung harus memilih tukang ojek. Ia tidak mau memilih bapak yang menggunakan jaket abu-abu. Bulan lalu hampir sesak napas menahan bau badan pak ojek, melebihi bau amoniak. Ia tidak menyukai bapak berkumis tebal selalu mengajak ngobrol sepanjang jalan. Bapak klimis itu terlihat tak pernah ganti jaket. Hampir seluruh tukang ojek sudah pernah mengantar pulang.

Mata Nanda tertumbuk pada pria duduk di atas motor gedhe, asyik memainkan smartphone. Tanpa ragu gadis berkerudung itu menghampiri.

”Mas, Kandangan Slamet ya?”.

Pria itu menatap Nanda. Terdiam sesaat. Beberapa saat kemudian ia menghidupkan mesin motornya.

“Ayo mbak, naik”.

Nanda merasa ada hal tidak beres. Pria ini tidak melakukan tawar-menawar ongkos seperti biasa.

“ Mungkin nanti di jalan ” mencoba menenangkan diri.

Nanda menurut saat pria itu menyuruh untuk naik.

“ Aneh. Udah gak nanya soal ongkos, trus gak ngasih helm, lo… lo… ini mau kemana? kok lewat gang perumahan gini. Jangan-jangan… ” pikiran Nanda mulai tidak karuan, " Ok… ok… tenang. Kalo ada apa-apa, aku harus siap-siap lompat ”.


Nanda menelan ludah. Mengumpulkan keberanian. “Mas, terminal ke kandangan slamet berapa?”.

“Kira-kira 20 km, mbak”.

“Mas ngajak bercanda?” keluh Nanda dalam hati.

"Maksudnya ongkos” kata gadis berlesung pipi ini sambil mengesekkan ibu jari ke jari tengah dan telunjuk.

“Oh… biasanya berapa mbak?” tanya tukang ojek santai.

Tiba-tiba Nanda berpikir jahil. ”Lima belas ya, mas?”.

“Ok”.

Seketika Nanda melongo. Ini artinya ia hemat 50% dari harga biasanya. Tukang ojek ini benar-benar aneh. Nanda ingin bertanya, apakah hari ini adalah hari perdana tukang ojek ini bekerja. Namun urung, takut harga lima belas ribu akan melayang.

Tiba-tiba motor berhenti.

“Kenapa, Mas?”

“Mogok, mbak” jujur tukang ojek.

”Pantas aja mau dibayar lima belas ribu, ternyata mesinnya mogokkan” gerutu Nanda.

“Mbak, tolong jalan kaki dulu ya?” pinta tukang ojek itu sambil cengengesan.

“Kenapa bisa mogok mas? Mesinnya rusak?” tanya Nanda pura-pura prihatin.

“Bukan mesinnya mbak, bensin saya yang habis” jujur tukang ojek itu malu, “Pom bensin 15 meter lagi kok mbak”.

Nanda menggelengkan kepala keheranan.

“Mbak” saat mereka berjalan beberapa langkah.

“Hhmmm…” sahut Nanda jengkel.

“Nanti tolong bayarin bensin” pinta tukang ojek itu lagi.

“Apa?” Nanda tidak percaya dengan telinganya.

“Tolong bayarin mbak, pakek uang bayaran ojek aja” sambil tetap mendorong motor.

Mau tidak mau, Nanda mengangguk. Ia berjanji dalam hati, takkan naik ojek dengan mas ini lagi.

“Mbak darimana?”

Pertanyaan yang selalu ditanyakan oleh tukang ojek. “Dari Malang, mas”

“Mbak kerja? Apa kuliah?” tanyanya lagi.

“Kuliah” jawab Nanda malas.

Motor kehausan segera diisi bensin seharga lima belas ribu. Beruntung tidak antri. Dengan wajah tertekuk, perasaan penuh kecewa dan lelah, Nanda membayar bensin tersebut.

“Wah… Kok yang bayarin bensin ceweknya? Putusin aja mbak” goda petugas pom bensin.

Seketika mata Nanda melotot. Ingin rasanya Nanda membalas namun ia lebih memilih untuk tidak meladeni.

“Mbak….” Panggil tukang ojek setelah sekian lama mereka diam.

“Apa?” jawab Nanda malas.

“Maaf ya mbak?” Nanda melongo.

“Sepertinya ada yang gak beres nih. Harus siap-siap lompat nih” kata Nanda dalam hati. Mulai ambil ancang-ancang.

“Mbak… ini udah masuk ‘Kandangan Slamet’ tapi rumah mbak ‘Kandangan Slamet’ yang nomor berapa?” tanya tukang ojek polos.

“Ooh… gang enam nomor 36, mas” tukang ojek mengangguk.

“Mas, itu warna pagarnya cokelat” tunjuk Nanda.

“Iya Mbak” tukang ojek itu memperlambat laju motornya.

Nanda menghela napas. Ia merasa lega sebentar lagi sampai tujuan.

“Mbak sebenarnya aku ini bukan tukang ojek. Tadi aku habis nganterin sepupuku terus iseng duduk-duduk sebentar di dekat pangkalan ojek. Eh… mbak ngira aku tukang ojek tapi gak apa-apa kok mbak. Terima kasih bensinnya” akunya malu-maku.

“Apa???” tanya Nanda tak percaya bersamaan motor berhenti.

“Maaf ya mbak” tukang ojek gadungan itu masih menghidupkan mesin motornya.

“Iya” Nanda segera turun dari motor.

Pantesan tampangnya terlalu ganteng buat jadi tukang ojek ” keluh Nanda dalam hati.

“Mbak” Nanda batal melangkahkan kakinya.

“Ada apa?”

“Ini tasnya ketinggalan” Tukang ojek gadungan itu menyerahkan tasnya.

“Mbak” membuat Nanda berhenti setelah berhasil berjalan satu langkah.

“Apa lagi?” ketus Nanda.

“Mbak, kenalin nama aku Abi. Boleh gak minta no hape atau nama ig deh mbak”.

“Gak mau mas, thanks ” tolak Nanda.

Bergegas ia mencoba membuka pagar rumahnya.

”Assalamu’alaikum…” teriak Nanda.

“Mbak” panggil tukang ojek gadungan alias Abi lagi.

“Apaan sih?”

“Dada bubay. Salam buat keluarga ya? Lain kali aku main ke sini ya?” segera Abi pergi.

Nanda heran dengan tingkah Abi. Ia menggelengkan kepalanya.

“Mimpi apaan sih aku tadi malem?”.

Setelah memastikan tukang ojek gadungan pergi. Nanda tertawa. Berjalan menuju rumah bercat biru di sebelah rumah kosong tak berpenghuni itu.

Tamat

Kembali ke Beranda