Sentuhan Sihir
Romance
14 Jan 2026

Sentuhan Sihir

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (69).jfif

download (69).jfif

14 Jan 2026, 16:34

download (68).jfif

download (68).jfif

14 Jan 2026, 16:34

“Hayo… tebak, apa yang akan keluar dari topi ini?” tanya pesulap.

“KELINCI…” teriak anak-anak bersamaan.

Mereka berkerumunan di depan panggung kecil berukuran 4 meter x 2 meter dengan papan yang bertuliskan “Pesulap Ciamik dari Ciamis”.

“Wah… ternyata kalian sudah sering melihat pesulap ya? Tapi jawaban kalian salah”.

Aku tersenyum melihat acara sulap ini. Setiap hari minggu sore, pesulap itu selalu datang menghibur di taman kompleks perumahanku. Menyenangkan menurutku. Setidaknya acara ini bisa mengusir rasa bosanku. Hari ini, aku akan menghadiri pesta ulang tahun teman sekelasku. Aku mengenakan longdress biru dengan cardigan hitam sebagai pengusir hawa dingin. Aku melirik jam tangan, mencoba memastikan sesuatu. Penampilan pesulap telah berakhir. Aku dapat merasakan kekecewaanku, hilanglah hiburanku.

“Sedang menunggu seseorang?” tanya pesulap tampan yang tanpa ku sadari duduk di sampingku.

Aku menggeleng, ”Lebih tepatnya sekawanan tukang ngaret”.

Dia tersenyum mendengar jawabanku.

“Apakah kamu akan ke pesta ulang tahun?”.

“Wah… ternyata selain tukang sulap, kamu juga seorang peramal?” candaku.

“Bukan… aku hanya menebak karena itu” ia menunjuk ke arah tasku yang terbuka dan terlihat kotak yang dilapisi kertas kado bergambar balon dan lilin.

Seketika aku dan dia tertawa.

“TEET… TEET… SARAH AYO KITA TELAT NIIIH” teriak Dea sambil tetap membunyikan klakson mobil.

“Aish… siapa sih yang ngaret” umpatku.

“Tunggu sebentar” pesulap itu berdiri, lalu kedua tangannya mengusap lembut kepalaku.

Perlakuannya membuatku terkejut.

Belum selesai aku terkejut, ia berkata,”Sekarang kamu tampak lebih cantik”.

Reflek tanganku menyentuh rambutku. Aku dapat merasakan bando kecil menghiasi rambutku.

“SARAAAAH…” kali ini suara cempreng Mita memanggilku. Aku segera bergegas berlari ke mobil.

“Ngapain aja lo?” tanya Nuri sebal.

“Gak… gak… gak napa-napa” jawabku gugup.

Mataku kembali melihat ke arah kursi taman tadi. Dia tampak sibuk menata peralatan sulap. Entah mengapa bibirku tertarik simetris ke samping membentuk lengkungan seperti bulan sabit.

*

Tiap minggu sore, aku jadi rajin berkunjung ke taman. 3 minggu ini pesulap tampan itu tak terlihat. Ini adalah minggu ke-4, aku mengunjungi taman ini. Aku sangat senang, karena ia berada di atas panggung dan telah memulai aksi sulapnya. Ia selalu menampilkan trik sulap yang jenaka. Aku menikmati tiap pertunjukan yang ia tampilkan.

“Hai… masih ingat aku?” sapaku saat penonton telah bubar.

“Oh… kamu yang gadis kelinci itu? Aku ingat!!!” serunya.

“Kelinci???” seketika aku ingat, gigiku memang seperti kelinci. Aku dapat merasakan wajahku panas.

“Walaupun seperti itu kamu terlihat cantik” tambahnya sambil tetap menata peralatan sulap, seketika aku mengaruk tengkuknya meskipun tidak gatal.

“Oh ya… aku ingin mengucapkan terima kasih soal bando itu. Ini buat kamu” kataku sedikit gugup.

“Oh… bando itu? Nggak apa-apa kok, nggak usah terima kasih” tanpa melihat ke arahku.

“Kenapa? Kamu nggak suka?” tanyaku sedih.

Seketika ia menoleh ke arahku. Ia tersenyum.

“Baiklah, akan aku terima” katanya membuka bingkisan dariku.

“Bagaimana? Apakah kamu suka?”.

Sejujurnya, aku sangat antusias waktu memilihkan topi hitam ala pesulap untuknya.

“Wow… ini bagus sekali. Aku janji akan selalu memakainya. Terima kasih ya…”.

“Sarah. Kenalkan namaku Sarah” aku mengulurkan tanganku.

“Aku Lucky” ia menyambut tanganku.

Sejak hari itu, aku sering pergi ke taman tiap hari minggu sore. Kita sering menghabiskan waktu bersama setelah ia selesai pertunjukkan. Dia selalu bisa membuatku tersenyum. Bersama dia membuatku melupakan masalahku. Kedua orangtuaku yang selalu memaksakan kehendaknya kepada empat orang anaknya. Hingga detik ini, aku selalu menjadi seperti yang mereka pinta termasuk kuliah di bidang ekonomi bisnis padahal aku sangat ingin menjadi mahasiswa sastra.

Lucky… Lucky…. Nama itu mulai mengisi hatiku. Taman ini menjadi tempat terindah. Tanpa kata cinta, tanpa ungkapan gombal, kami berdua berikrar berhubungan lebih dari sekedar teman dan lebih hangat dari seorang sahabat.

*

Hari ini sangat istimewa bagiku. Hari ini adalah hari pertamaku mulai menyandang status sarjana dan aku tak sabar ingin segera memperkenalkan Lucky ke ayahku. Ia telah berjanji akan menghadiri acara wisudaku.

“Wah… selamat ya Sarah, papa bangga sama kamu” puji papa.

Pria paruh baya ini mencium keningku. Sementara mama hanya menangis haru. Aku memeluknya, mencoba menenangkannya.

Ibu, walaupun aku tak pernah mengungkapkan perasaanku tapi beliau selalu mengetahuinya. Ibu tahu, aku tidak pernah ingin membuat papa kesal seperti ketiga kakakku. Ibu paham, aku selalu menyimpan kemarahanku dan menggantikannya dengan senyuman. Beliau adalah wanita terhebat yang pernah ku temui.

Saat aku memeluk ibuku, Lucky datang dengan membawa seikat bunga mawar merah, bunga favoritku.

“Ibu, Pa, ada seseorang yang ingin aku kenalkan”.

Aku menggandeng Lucky di depan kedua orangtuaku. Ini adalah pertama kali aku memperkenalkan seorang pria di hadapan mereka.

“Lucky, Om, Tante” Lucky memperkenalkan diri.

Dia mencium tangan ibu dan papa, suatu kesopanan yang jarang ditemukan saat ini.

“Ini pria yang buat anak perawan ibu selalu terlihat bahagia ya?” celetuk ibu membuat pipiku memerah.

“Nak Lucky, kerja sebagai apa?” tanya papa tanpa basa-basi.

“Saya sebagai pesulap, Pak. Terkadang diundang di beberapa acara, terkadang tampil di jalan-jalan” jelas Lucky.

Ia sama sekali tidak malu dengan keadaannya. Hal ini membuat senyuman tak pernah lelah menghiasi wajahku saat ini.

“Oh… orangtua kamu setuju dengan pekerjaan kamu?” tanya papa lagi.

“Sejak lahir saya tinggal di panti asuhan, om. Saat lulus SMP, saya mulai mencari uang sambil sekolah tapi tidak bisa menempuh pendidikan di universitas seperti adek Sarah”.

“Oh… hebat sekali kamu, belajar menjalani hidup. Sarah, kamu harus seperti nak Lucky. Hidup itu harus survive” papa tertawa sambil menepuk bahu Lucky.

“Pasti, pa” aku menatap Lucky.

“Nak Lucky, kami mau pulang, mau istirahat. Bagaimana kalo nanti malam kamu datang ke rumah? Anggap saja datang ke syukuran kelulusan anak emas saya ini”.

“Baik, om. Saya pasti akan datang” Lucky melepaskan tanganku yang sedari tadi menggandengnya.

Papa dan ibu menuju tempat parkir terlebih dulu. Meninggalkanku dengan lucky.

“Lucky… aku sangat senang. Terima kasih sudah datang”.

Ia tersenyum.

“Lucky… Ada apa di sebelah sana” aku menunjuk sesuatu ke arah pintu keluar, tanpa ia sadari aku mencium pipinya.

“Sarah???” ia benar-benar terkejut.

“Eh… eh… aku… aku ke parkir dulu. Nanti malam jangan lupa” aku berlari kecil menghindari tatapan Lucky.

*

Aku datang menemuinya. Aku berharap ia tidak curiga dengan mataku yang terlihat seperti menangis semalaman. Walaupun memang seperti itu kenyataannya. Aku tersenyum. Ia membalas senyumanku.

“Lucky…. Aku…” ia meletakkan jari telunjuknya di depan bibirku yang pucat.

“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu tapi matamu harus ditutup dulu” pintanya.

Aku berjalan perlahan bergandengan dengannya. Lucky… apakah hatimu tak bisa terluka? Aku pikir papa benar-benar menyukaimu, tapi ternyata ia sengaja mengundangmu untuk memperkenalkan dengan seorang pria yang tak pernah ku kenal sebelumnya. Lucky… maafkan aku.

“Kita sudah sampai, sekarang kamu boleh membuka mata”.

Aku melepaskan ikatan kain yang menutupi mataku beberapa saat yang lalu. Aku terkejut, kami berdiri tepat di depan bangku yang pertama kali mempertemukanku dengannya. Bangku ini dihiasi balon yang membentuk tulisan “SMILE”.

“Apa ini?” tanyaku keheranan.

Ia tersenyum. Lucky memberikanku sebuah kotak pink kecil.

“Apa isinya? Bukan bom kan?” Lucky terkekeh mendengar pertanyaanku.

Perlahan-lahan aku membuka kotak tersebut. Aku tak melihat apapun di kotak itu. Kotak itu kosong. Lucky mengambil tangan kiriku dan menutupi kotak yang telah terbuka itu dengan tanganku itu.

“Tadaa…” aku terkejut.

Sepasang anting-anting emas putih mengisi ruang kotak kosong. Lucky mengambilnya dan memasangkannya ke telingaku. Ia menolehkan kepalaku ke kanan ke kiri, mencoba memastikan apakah anting-anting itu cocok denganku. Aku hanya diam, menahan air mata yang ingin keluar.

“Hah… telingamu berdarah!” serunya sambil memegang daun telinga kiriku.

“Apa???” aku ikut memegangnya. Kali ini ia membohongiku, tak ada darah di sana.

Namun di jarinya terlihat ada darah membuatku mengernyit keheranan. Kemudian ia menutupi jarinya dengan tangan kiri, perlahan-lahan keluar kain kecil warna-warni yang panjang. Kain panjang itu dilipatnya, lalu diletakkan ke kepalaku.

“Bando lagi?” Lucky menggeleng.

Saat ia melepaskan kain dari kepalaku. Aku dapat merasakan sesuatu di kepalaku. Kedua tanganku memegang kepalaku, ternyata Lucky memberikanku mahkota yang terbuat dari ranting-ranting dedaunan.

“Kamu kira aku anak kecil, dikasih mahkota-mahkotaan” Aku berusaha bersikap manja seperti biasa, ia mengangkat kedua bahunya.

Kain panjang itu dilemparkan ke udara. Seketika kain itu menghilang dan berganti dengan kelopak bunga mawar merah yang turun dari atas. Aku tertawa bahagia namun air mata tak bisa menahan lagi.

“Wah… kamu membuaku terharu. Darimana kamu belajar trik romantis seperti ini?” godaku.

“Entahlah… tiba-tiba muncul begitu saja di pikiranku” ia menggaruk kepalanya.

Aku mencoba tersenyum. Ia selalu membuatku merasa spesial.

“Sarah… hari ini adalah hari terakhir kita bertemu”.

Aku tahu hal ini akan terjadi. Air mataku mengalir lebih deras.

“Sarah, aku tidak ingin membuat kamu berubah. Selama ini kamu selalu menjadi yang terbaik bagi orangtuamu. Aku tidak ingin kamu bingung memilih antara aku atau orang tuamu”.

“Lucky… kita masih punya kesempatan” aku memeluknya.

“Sarah… kamu yang lebih tau daripada aku bahwa jawaban dari perjuangan kita adalah kegagalan” Lucky tak membalas pelukanku, “Aku tidak pernah bisa menunjukkan rasa baktiku kepada orangtuaku meskipun aku ingin. Aku tidak perlu mengatakan betapa beruntungnya kamu. Apakah kamu mau berbagi merasakan keberuntungan itu?”.

Hari itu aku hanya bisa menangis sesenggukkan di pelukannya. Lucky… aku berjanji takkan pernah mengecewakanmu. Aku janji… aku janji.

*

“Ma, bagaimana dengan rok baruku ini?” tanya anak sulungku centil.

”Maya, anak gadis tidak boleh memakai rok sependek itu. Diintipin orang, baru tau rasa kamu” kataku sambil menata barang di kamar baruku ini.

Sejak suamiku meninggal satu tahun yang lalu, kedua anakku meminta pindah dari rumah yang telah ku tempati lebih dari 20 tahun. Sejak suamiku meninggal, anak-anak menjadi tempat tertinggi perhatianku. Aku ingin mereka juga mendapatkan pendamping hidup seperti ayah mereka.

”Mama gitu deh, aku kan udah gedhe” bantahnya kesal.

“Ini taruh di gudang belakang ya” perintahku, memberikan kardus ukuran sedang padanya. Ia menurut, meskipun dengan wajah yang cemberut.

“Kring… kring…” terdengar bunyi bel sepeda pancal di depan rumahku.

“Sandra, tolong bukakan pintunya” teriakku ke anak keduaku.

“Sandra masih mandi, Ma” teriaknya.

“Kring… kring…”.

“Iya sebentar, siapa ya?” betapa terkejutnya saat aku membuka pintu.

Aku mengenalnya. Bukan… aku sangat mengenalnya. Senyumannya, tatapannya, dan topi hitam itu. Ia tak berubah. Sama sekali tak berubah. Ia tampak lebih cocok menjadi pacar anakku daripada menjadi mantan terindahku.

“Lucky…” panggilku pelan. Aku mencoba meyakinkan diriku.

“Apa kabar Gadis Kelinci?” sapanya ramah.

Ia tak berubah, sama sekali tak pernah berubah.

Kembali ke Beranda