Ini terjadi saat aku menjadi mahasiswa. Aku sedang berjalan pulang ke rumah saat aku dihentikan oleh seorang gadis kecil. Ia terlihat berumur lima atau enam tahun. Ia menyambar tanganku dan mulai menarikku.
"Tolong datanglah," ia memohon. "Ibuku membutuhkan bantuan..."
Aku tidak tahu mengapa, tapi karena beberapa alasan aku pergi bersamanya.
Gadis cilik itu menyeret tanganku sekitar 4 atau 5 blok sampai kami tiba di sebuah taman. Ada pohon-pohon, bangku, ayunan, dan perosotan. Mungkin karena sudah agak petang, taman itu terlihat sepi.
Gadis itu tidak mau melepaskan tanganku. Ia menyeretku ke arah perosotan. Di dekatnya, aku melihat seorang wanita duduk di bangku di bawah sebuah pohon. Dari tempatku berdiri, aku tidak bisa melihat wajahnya karena cabang-cabang pohon menutupinya.
"Aku membawa seseorang, Bu!" gadis cilik itu memanggilnya dengan ceria.
Si wanita yang duduk di atas bangku tidak bergerak.
Dari belakang cabang-cabang pohon, aku mendengarnya berkata, "Maafkan saya. Itu anak perempuan saya..."
Ada sesuatu tentang suara wanita itu yang membuat bulu kudukku merinding. Aku merasakan sesuatu yang sangat-sangat salah. Aku hanya ingin pergi dari sana secepat mungkin.
Si gadis kecil berkata, "Ayo, bermain denganku." Ia lalu berlari ke arah perosotan.
"Maafkan saya, itu anak saya..." kata wanita itu lagi dalam nada datar.
Aku masih tidak bisa melihat wajahnya. Sesuatu tentang caranya duduk membuatku gelisah. Aku mulai berkeringat dingin. Si gadis cilik bermain di perosotan di belakangku. Sedangkan matahari terbenam sehingga mulai berubah gelap.
"Mengapa Anda memberitahu anak Anda untuk membawa saya ke sini?" tanyaku. "Mengapa saya?"
Saat itu, wanita tersebut tiba-tiba berteriak, "Jenny!"
Ada suara gedebuk. Aku menoleh ke arah perosotan di belakangku. Gadis kecil itu telah terjatuh. Ia berbaring tanpa suara di atas tanah. Wajahnya pucat, sedangkan matanya terbuka lebar. Ia terlihat tidak bernapas. Saat aku melihatnya dengan penuh ketakutan, darah mulai merembes hingga menyebar di sekitar kepalanya.
Aku ingin menelepon polisi, ambulan, atau apa pun itu... tapi aku membeku ketakutan. Aku tidak bisa bergerak.
Aku menoleh kembali ke arah bangku taman. Wanita itu duduk di sana tanpa bergerak. Aku tidak mengerti mengapa ia tidak menolong anak perempuannya.
Aku menggapai dan menarik cabang-cabang pohon yang menutupi wajahnya. Apa yang kulihat membuatku menjerit ketakutan. Itu adalah wajah mayat seorang wanita.
Wajahnya berwarna keunguan. Matanya menonjol keluar, sedangkan lidahnya menjuntai diantara bibirnya. Ada sebuah syal yang membungkus lehernya dengan ketat. Ujungnya terikat di cabang pohon di atasnya. Ia menggantung dirinya sendiri.
Mulut wanita itu terbuka dan ia menggumam, "Maafkan saya, itu anak saya..."
Aku tidak ingat banyak setelah itu. Pikirku, aku pasti pingsan.
Saat aku kembali sadar, aku sedang berbaring di atas tanah. Saat itu sangat gelap, sedangkan taman sudah sepi. Aku bangun dan lari pulang ke rumah.
Setelahnya, aku mendapati kabar bahwa wanita itu melakukan bunuh diri di taman bertahun-tahun yang lalu. Anak gadisnya tewas dalam sebuah kecelakaan, sehingga ia menyalahkan dirinya sendiri. Wanita yang malang tersebut menjadi putus asa hingga ia akhirnya bunuh diri.
Taman bermain lalu ditinggalkan sejak saat itu, tapi aku tidak akan pernah melupakan apa yang aku lihat.