Samuetang dan Jume
Fantasy
15 Jan 2026

Samuetang dan Jume

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (87).jfif

download (87).jfif

15 Jan 2026, 16:24

download (86).jfif

download (86).jfif

15 Jan 2026, 16:24

Samuetang adalah seorang raja dari kerajaan yang terletak sangat jauh di barat, di tanah yang jarang tersentuh oleh makhluk selain manusia. Kerajaannya makmur, tentaranya kuat, dan namanya dikenal luas sebagai raja yang berani. Namun di balik keberaniannya, tersembunyi sifat yang perlahan tumbuh: kesombongan.

Pada suatu hari, Samuetang melakukan perjalanan jauh hingga ke wilayah terlarang—tempat yang menurut legenda dihuni oleh makhluk terkuat di dunia, para naga. Di sanalah ia bertemu dengan Jume, Raja dari segala naga, makhluk kuno yang telah hidup jauh sebelum kerajaan manusia pertama berdiri.

Tanpa rasa takut, Samuetang melangkah maju. Dadanya dibusungkan, wajahnya penuh keyakinan, seolah-olah di hadapannya bukanlah makhluk legendaris, melainkan musuh biasa.

Dengan suara lantang ia menantang Jume.

Kesombongan telah membutakan hatinya. Dalam pikirannya, tidak ada satu pun makhluk yang mampu mengalahkannya, bahkan naga yang dikenal sebagai makhluk terkuat sekalipun.

Jume menundukkan kepalanya, menatap Samuetang dengan mata yang menyimpan ribuan tahun kebijaksanaan. Dengan suara berat namun tenang, ia berkata,

“Wahai makhluk kecil, mengapa engkau begitu sombong hingga berani menantangku?”

Samuetang tertawa kecil. Keberaniannya bukan tanpa alasan. Ia mengangkat tongkat yang digenggamnya erat-erat—sebuah tongkat ajaib yang diberikan oleh teman-temannya.

“Aku telah diberikan kekuatan yang dapat mengalahkan apa pun dan siapa pun,” jawabnya dengan nada penuh keangkuhan.

Raja para naga itu perlahan melangkah mendekat. Setiap langkahnya membuat tanah bergetar, namun wajahnya sama sekali tidak menunjukkan amarah.

“Sebenarnya,” ucap Jume dengan suara rendah, “engkau telah dibodohi oleh teman-temanmu sendiri.”

Ucapan itu menusuk harga diri Samuetang. Dengan emosi meluap, ia membantah keras. Berkali-kali tongkat ajaib itu dihantamkan ke tanah, seolah ingin membuktikan bahwa dirinya benar-benar kuat.

Namun saat itulah Jume menghembuskan napas api dari mulutnya. Api itu bukan semburan amarah, melainkan peringatan—panasnya cukup membuat udara bergetar, cahayanya menyinari wajah Samuetang yang perlahan kehilangan keberanian.

Jume tidak murka. Yang ia rasakan hanyalah rasa iba. Baginya, Samuetang hanyalah seorang raja manusia yang tertipu oleh sesamanya, yang menggantungkan harga dirinya pada sesuatu yang bukan miliknya sendiri.

Melihat kekuatan sejati Jume, tubuh Samuetang gemetar. Kakinya tak lagi mampu menopang tubuhnya. Ia terjatuh, dan pada saat yang sama, tongkat yang selama ini ia banggakan retak, lalu hancur menjadi serpihan tak berarti.

Dengan suara lembut namun tegas, Jume berkata,

“Ingatlah ini, Samuetang. Janganlah mempercayai kekuatan yang kau miliki, karena nyatanya kekuatan itu tidak selamanya menjadi milikmu.”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Jume berbalik dan kembali merebahkan tubuhnya, melanjutkan tidurnya seolah peristiwa itu hanyalah pelajaran kecil bagi dunia.

Samuetang pulang ke kerajaannya bukan sebagai raja yang menang, melainkan sebagai manusia yang sadar. Ia belajar bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari benda, bukan pula dari pujian orang lain, melainkan dari kerendahan hati dan kebijaksanaan.

Makna cerita ini adalah bahwa manusia tidak diciptakan untuk menyombongkan apa yang ia miliki. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Samuetang memiliki tongkat ajaib yang tidak dimiliki oleh Jume.

Namun Jume memiliki napas api yang tidak dimiliki oleh Samuetang.

Tidak ada yang sepenuhnya lebih tinggi, dan tidak ada yang sepenuhnya lebih rendah. Kesombongan hanya akan membuat kita lupa, bahwa apa yang kita banggakan hari ini bisa saja hilang esok hari.

Kembali ke Beranda