Gambar dalam Cerita
Aku melihatmu, kamu tengah bermain bola voli bersama teman temanmu, terlihat jelas keringat mengucur dari pelipis mu, aku dapat melihat betapa kau sangat menyukai olahraga itu, setiap sore bahkan kamu dan teman mu tak pernah absen untuk bermain bola voli, begitu pun aku yang tak pernah absen memandangi mu di pinggir lapangan tanpa kamu sadari.
Tanpa kamu tahu aku cemburu pada bola voli yang selalu kamu perhatikan kemanapun dia melambung, sedangkan aku? tak kamu lihat bahkan tak sempat kamu lihat, tapi tak apa aku sadar aku siapa, bukan seseorang yang penting untuk kamu perlakukan spesial.
Tapi tanpa kamu tahu setiap menjelang tidurku, aku selalu berdoa kepada yang Pencipta agar kamu selalu bahagia, agar kamu selalu ada di pandanganku, aku tak pernah berdoa agar kau mencintaiku karena cinta adalah ketulusan, bila kamu di ditakdirkan mencintaiku tanpa ku pinta pun aku yakin kamu akan mencintaiku.
***
Hari ini adalah hari rabu, jadwal kelasmu untuk olahraga, dan sekarang adalah jadwal bagiku untuk ke perpustakaan mengembalikan buku yang telah selesai aku baca.
Aku berjalan di samping lapangan, karena jalan menuju perpustaan berada si samping lapangan, aku tak berani menatap mu, aku tak mau kau tahu, jadi ku tundukan saja wajah ku menatap kedua sepatuku.
Duk
Aku terjatuh, karena tiba tiba sebuah bola voli mengenai kepalaku, ku pegang kepalaku, sebuah tangan mengelus kepalaku aku mendongak kan kepala ku lihat kamu sedang mengelus kepalaku.
Aku bangun dan memberskan buku yang berserakan, "maaf " Ucap mu dengan wajah tak bisa ku artikan, aku hanya tersenyum "Tak apa."
Kamu memperhatikan wajah ku entah apa yang kamu pikirkan saat itu,"Aku tak mengenal mu, nama mu siapa?" Aku mematung ada rasa sakit dalam hatiku, kamu sama sekali tak mengenal ku "Aku Jeanneta."
Kamu kemudian tersenyum membuat hatiku tak karuan,"Nama yang bagus. kamu kelas X Ipa 2 kan?" Aku hanya mengangguk "Perkenalkan namaku Bintang." Ucap mu sambil mengulurkan tangan, aku menerima uluran tangan dan bersalaman dengan mu.
Sebenarnya aku sudah tahu namamu, namun aku berpura pura saja. Suara sorakan dan siulan teman mu dilapangan membuat aku malu dan pergi meninggalkanmu yang entah sedang apa aku tak berani menatap matamu sekarang.
***
Kelas begitu ramai, aku sangat kesal. Jamkos telah membuat mood ku tak karuan, di sampingku Sindi sedang membaca buku novel yang begitu tebal. Sindi adalah teman ku, sahabat dan juga seperti sepupu bagiku. Karena kedua orang tuaku bekerja di luar kota aku di tinggal sendiri, tadi nya aku ingin ikut ke luar kota dan bersekolah di sana, tapi aku tak mau akhirnya aku mengajak Sindi tinggal bersama ku, kedua orang tua nya telah meninggal.
Aku berjalan menuju kantin,"Jean?" Aku berbalik dan melihat Sindi yang berlari mengejarku. "Ke kantin kok gak ajak ajak" ucap Sindi, lalu kami berjalan menuju kantin.
***
Aku tengah memandangimu tanpa berkedip, aku heran bagaimana mungkin kau menyukai olahraga voli? Keringat menetes melewati kening mu,kau tampak lelah. Andai saja aku adalah seseorang yang spesial di hidupmu, mungkin aku akan menghampiri mu dan memberi mu air minum.
Namun aku tahu diri, aku bukanlah seseorang yang pantas untuk itu, kau tampan dan aku tidaklah cantik. Aku selalu berfikir tak mungkin kau mau bersanding dengan ku karena tak mungkin bagiku. Aku tahu banyak gadis yang menyukaimu, bukan hanya aku.aku mungkin hanya sebagian kecil dari mereka.
Setiap malam aku selalu ingat padamu, mesti tak mungkin kau ingat padaku, gila nya aku bahkan sering tidur awal hanya untuk secepatnya melewati waktu malam yang menurutku menyebalkan. Mengapa? itu ku lakukan karena aku terlalu ingin bertemu dengan mu, aku tahu aku bodoh dan berlebihan, aku lupa bercermin siapa aku dan siapa kamu.
Aku sangat ingat hari itu adalah hari selasa, Sindi dan aku berjalan menuju kantin, kamu tiba tiba datang aku seperti merasakan kupu kupu yang beterbangan di perutku.
Rasanya aku bahagia sekali waktu itu, ketika kamu duduk bersama aku dan Sindi, aku tertawa lepas bersamamu sebelumnya tak pernah membayangkan bila hal seperti ini akan terjadi, hari itu adalah hari terindah bagiku. Hingga waktu itu tiba, kau sering menghabiskan waktu bersama. Aku semakin yakin bahwa kau juga mempunyai perasaan yang sama.
Suatu hari saat kau telah selesai olahraga voli, kau menghampiri ku membuat aku salah tingkah "Jeanneta, aku ingin berbicara sesuatu dengan mu, nanti kita bertemu di cafe aku akan menjemput mu" Ucap mu di kemudian tersenyum aku pun mengangguk tanda setuju.
Malam itu kau akan menjemputku untuk membicarakan sesuatu, aku tak tahu apa itu, aku tak sabar. Semua baju di lemari telah aku keluarkan aku mencari baju yang terbaik hanya untuk malam ini, malam pertama pertemuan kita setelah sekian lamanya aku idamkan. Kamu datang dengan motor kebanggaan mu aku naik kemudian sangat sangat menikmati duduk di berboncengan dengan mu, demi apapun saat itu aku sangat bahagia.
***
"Jeanneta aku rasa kita sudah akrab lama ,dan aku sangat mempercayai mu." Ucap mu malam itu, jantungku berdetak tak karuan menahan gejolak rasa. Aku diam dengan senyuman yang tak ku sadari, kamu menghembuskan nafas berat, aku diam menunggu kamu melanjutkan kata kata mu.
"Kau adalah wanita pertama yang mungkin akan terkejut" ucap mu, membuatku semakin penasaran. Aku tertawa mendengarnya,"Katakan saja jangan berteletele seperti ini." Ucap ku.
Kamu tersenyum "Aku sebenarnya sudah lama ingin mengatakan ini namun, dulu aku belum terlalu yakin kamu adalah orang yang tepat, namun setelah aku mengenalmu aku yakin kau adalah orang yang tepat." Aku diam dengan detak jantungku yang tak karuan.
"Kau tahu Jeanneta?" Tanya mu membuat aku bingung, lalu aku menggeleng dengan rasa penasaran yang membucah. "Aku menyukai Sindi." Aku membeku diam dan melihat dirimu yang tersenyum dengan sumriangah, ada rasa sakit dalam hatiku.
"Aku ingin kamu membantuku untuk mendekati Sindi." Ucap mu, aku masih diam perlahan mata ku memanas ingin sekali aku menangis, namun itu tak mungkin. Aku tersenyum meski itu di paksakan,aku berharap ini mimpi, aku harap ini mimpi buruk dan agar aku segera bangun.
Namun semuanya tampak nyata sangat nyata, hatiku sakit kamu yang selama ini aku sukai ternyata telah menyukai seeorang dan ternyata seseorang itu adalah sahabatku sendiri, Sindi.
Aku mungkin hanya daun gugur yang tak di ketahui keberadaannya, mungkin aku tak terlihat tapi sepertinya bukan tak terlihat tapi kau yang tak mau melihat ku, melihat perjuangan ku dengan luka dan sakit, aku tau mungkin bola voli yang kau banggakan akan tergantikan dengan kedatangan Sindi ke hidupmu, padahal aku berahap itu adalah aku ,hahha aku terlalu banyak menghayal.
***
end